STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Hubungan antara Kekuatan Ego, Sikap Berserah, dan Tingkat Depresi pada Orang Kristen di Gereja-gereja Protestan Kecamatan Batu.
Depresi berhubungan erat dengan peristiwa kehidupan yang penuh tekanan. Individu yang gagal untuk beradaptasi dengan tekanan kehidupan, tingkat depresinya akan meningkat. Kekuatan ego dan sikap berserah kepada Allah dianggap dapat menolong individu untuk meminimalkan tingkat depresi.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah ada hubungan antara depresi dengan kekuatan ego? Apakah ada hubungan antara depresi dengan sikap berserah? Teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling dengan asumsi bahwa sampel yang dipilih berdasarkan tujuan penulis dalam penelitian.
Subjek penelitian adalah orang Kristen Protestan yang berusia 31 -45 tahim dan bergereja di daerah Kecamatan Batu. Dari 112 google form yang masuk, data yang dapat digunakan dalam penelitian ini berjumlah 111 data.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur depresi adalah Beck Depression Inventory-Short Form (BDI-SF) yang terdiri dari 13 item dan sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Henndy Ginting, dkk. dalam sebuah penelitian. Untuk mengukur kekuatan ego, instrumen yang digunakan adalah Psychosocial Inventory of Ego Strength (PIES) yang dibuat oleh Carol A. Marstrom, dkk., versi panjang terdiri dari 64 soal, dan versi pendek terdiri dari 32 item. Sikap berserah diukur dengan menggunakan Surrender Scale, yang dikembangkan oleh Ana Wong-McDonald dan Richard L. Gorsuch, yang terdiri dari 12 item.
Analisis data menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis data menggunakan uji Spearman Rank Correlation tmtuk mengukur korelasi antara depresi dengan kekuatan ego dan antara depresi dengan sikap berserah. Hipotesis pertama dari penelitian ini adalah semakin tinggi kekuatan ego, maka semakin rendah tingkat depresi. Hipotesis kedua adalah semakin tinggi sikap berserah, maka semakin rendah tingkat depresi.
Hasil pengolahan data dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 21 memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan negatif antara kekuatan ego dengan tingkat depresi (p < 0.01); r = - 0.581) dan sikap berserah dengan tingkat depresi (p < 0.05); r = - 0.238). Dengan demikian, hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua hipotesis dalam penelitian ini diterima.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kekuatan ego dengan tingkat depresi dan sikap berserah dengan tingkat depresi. Semakin tinggi kekuatan ego, maka semakin rendah tingkat depresi. Semakin tinggi sikap berserah, maka semakin rendah tingkat depresi
Tinjauan Teologis Terhadap Dampak Dari Dosa Pribadi Akhan Yang Mengakibatkan Kematian Terhadap Anak-Anaknya
Suatu Tinjauan Alkitabiah Mengenai Fenomena Misionaris Meninggalkan Ladang Misi dan Implikasinya bagi Pelayanan Misionaris di Ladang Misi
Allah memiliki misi dalam dunia, yaitu memberikan keselamatan pada umat manusia. Misi keselamatan Allah sudah dikerjakan Allah dalam dunia dan digenapi oleh Yesus Kristus. Misi keselamatan Allah tidak berhenti pada kematian dan kebangkitan Yesus, melainkan misi Allah tetap berlanjut dengan perintah baru yang diberikan oleh Yesus kepada para murid dan semua orang percaya. Tugas misi ini juga dijalankan oleh para misionaris lintas budaya yang ikut mengambil bagian sebagai frontliner dalam pengabaran Injil kepada semua suku bangsa. Tetapi dalam menjalankan tugas misi Allah, pelayanan misi lintas budaya tidak selalu berjalan mulus dan lancar bahkan ada permasalahan yang menyebabkan misionaris memutuskan meninggalkan ladang misi atau disebut sebagai attrition. Ada banyak sekali permasalahan dan hambatan yang dihadapi oleh misionaris di ladang misi yang tidak hanya berkaitan dengan dirinya sendiri saja tetapi juga orang-orang sekitarnya, misalnya saja keluarga dan anak. Dalam penelitian ini penulis akan berfokus pada permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak mereka.
Setelah pembahasan dasar Alkitab mengenai misi Allah dan pembahasan attrition, penulis akan mengaitkan kedua pembahasan ini untuk menunjukkan bahwa pelayanan misi lintas budaya adalah bagian dari misi Allah sehingga perlu mendapatkan perhatian dan penanganan yang tepat dalam mempersiapkan para utusan misionaris dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh misionaris. Karena itu penelitian ini memaparkan langkah penanganan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh para misionaris lintas budaya sehingga mereka bisa menjalankan tugas pelayanan misi yang efektif dan tahan lama di ladang misi
Tinjauan Authoritative Parenting sehagai Parenting Style bagi Orang Tua Generasi Era Digital
Kehidupan seseorang dalam dunia ini sangat dipengamhi oleh lingkungan di mana ia berada, khususnya keluarga. Keluarga menjadi tempat di mana seseorang bertumbuh dan berkembang. Berbicara mengenai pertumbuhan seseorang, pastilah erat kaitannya dengan orang tua dan parenting style yang diterapkan mereka kepada anak-anaknya. Orang tua dipercaya Tuhan sebagai “tangan kanan” Tuhan dalam kehidupan anak di dunia ini. Untuk itu, orang tua memiliki tanggung jawab dalam mendidik anak mereka melalui proses parenting. Dengan kata lain, orang tua hams terlibat secara aktif dalam proses parenting yang dilakukan terhadap anak mereka. Proses parenting menjadi begitu esensial karena akan sangat berpengamh terhadap proses tumbuh kembang seorang anak. Lain, yang temtama adalah parenting style yang manakah yang sesuai dengan peran orang tua secara alkitabiah.
Mengacu pada penelitian Diana Baumrind mengenai empat parenting style yang dapat diterapkan oleh orang tua kepada anak mereka, penulis telah meneliti authoritative parenting sebagai parenting style yang dianjurkan untuk diterapkan secara khusus oleh orang tua Kristen karena parenting style ini sesuai dengan peran orang tua secara alkitabiah. Kesesuaian alkitabiah ini penulis deskripsikan melalui eksposisi kitab PL dan PB. Dalam teks-teks yang telah penulis pilih untuk dieksposisi, jelas terlihat bagaimana kasih dan disiplin yang hams dilakukan secara seimbang oleh orang tua sebagai perintah Allah. Demikian pula, bentuk dukungan dan kontrol yang seimbang yang hams dilakukan oleh orang tua menurut authoritative parenting.
Meskipun demikian, orang tua di zaman ini menemukan kendala lain bempa pesatnya ams perkembangan teknologi ketika akan menerapkan pola authoritative parenting. Generasi ini adalah generasi yang begitu akrab kehidupannya dengan semua hal yang “berbau” teknologi digital. Pada dasarnya, hal tersebut baik adanya, namun di waktu yang sama dapat juga menjadi tantangan baru bagi para orang tua generasi era digital dalam menerapkan authoritative parenting. Untuk itu, orang tua perlu memahami dunia anak era digital secara utuh, kemudian mengaplikasikan dengan baik penerapan authoritative parenting dalam kehidupan anak. Hal tersebut perlu dilakukan agar penerapan authoritative parenting dapat berjalan secara efektif hingga menghasilkan dampak yang maksimal untuk kehidupan anak generasi era digital. Melihat kebutuhan akan hal tersebut, muncullah istilah “digital parenting" di zaman ini yang dapat digunakan untuk membantu para orang tua generasi era digital dalam menerapkan pola authoritative parenting. Namun, keberadaan digital parenting tidak berarti menggantikan pola authoritative parenting secara sepenuhnya, melainkan berfungsi untuk melengkapi penerapan authoritative parenting agar dapat berjalan secara efektif pada anak di era digital ini
Kontekstualisasi Injil yang Transformatif dan Implikasinya bagi Penginjilan Terhadap Komunitas Hakka di Kalimantan Barat.
Tuhan Yesus menghendaki agar Injil diberitakan sampai ke ujung bumi sehingga segala bangsa dapat menjadi murid-Nya. Bangsa-bangsa ini memiliki karakteristik budaya yang unik, yang berbeda satu sama lain. Ketika Injil diberitakan lintas budaya, perbedaan-perbedaan budaya tersebut menciptakan hambatan-hambatan yang menyebabkan Injil tidak diterima. Untuk mengatasi hambatan tersebut, suatu pendekatan budaya yang disebut kontekstualisasi transformatif perlu dilakukan.
Suku Hakka di Kalimantan Barat memerlukan Injil yang dikontekstualisasikan secara transformatif ke dalam budaya mereka. Suku ini hidup dalam kungkungan kuasa kegelapan, tertipu dalam ajaran-ajaran yang tidak memerdekakan, terbelenggu oleh pengejaran hidup yang keliru, dan diperbudak oleh pengalaman traumatis sosial politik yang destruktif. Meskipun Injil sudah menjangkau mereka sejak satu abad lalu, tetapi orang yang percaya kepada Injil jumlahnya masih tidak signifikan.
Penyebab orang Hakka menolak Injil dapat dilihat dari tiga hal berikut ini. Pertama, karena kecurigaan bahwa agama Kristen akan membuang budaya mereka, yang artinya sama dengan membuang identitas mereka sendiri. Kedua, karena mereka tidak dapat memahami Injil yang memiliki asumsi dasar yang berbeda di ranah pandangan dunia. Ketiga, karena komunitas Kristen Hakka belum dapat meyakinkan mereka bahwa menjadi Kristen tidak harus tercabut dari budaya Hakka.
Oleh karena alasan-alasan di atas, maka kontekstualisasi Injil yang bersifat transformatif terhadap budaya Hakka sangat dibutuhkan. Kemestian melakukan kontekstualisasi transformatif merupakan suatu hikmat yang berakar dari pengajaran Alkitab. Usaha ini juga merupakan salah satu pemenuhan tanggung jawab dalam mandat budaya orang percaya, yang menjawab kebutuhan suku Hakka akan Injil dalam suatu pendekatan yang tidak membuat mereka tersandung. Tujuan kontekstualisasi transformatif adalah supaya Injil dimengerti secara utuh dan dihidupi dalam konteks budaya suku Hakka itu sendiri, sehingga mereka dapat menjadi terang dan garam di tengah-tengah komunitasny
Penginjilan Transformatif sebagai Penginjilan yang Kontekstual bagi Orang Marapu di Sumba Timur.
Salah satu budaya yang dihadapi oleh kekristenan di Indonesia adalah budaya orang Marapu di Sumba Timur. Sejak pertama kali masuk dalam kehidupan orang Marapu, kekristenan tidak diterima dengan baik oleh orang Marapu, terutama karena para utusan Injil pada waktu itu membawa Injil yang non-kontekstual dan mereka sendiri tidak diperlengkapi dengan pemahaman mengenai kehidupan sosial budaya dan pandangan dunia orang Marapu dengan baik. Akibatnya Injil yang berunsur budaya Barat tersebut disampaikan dalam bentuk yang asing di telinga mereka dan membuat Injil tersebut ditolak.
Hingga kini, ketegangan antara Injil dan budaya terus terjadi. Budaya menjadi penghambat terbesar dalam menjangkau orang Marapu bagi Kristus. Bahkan orang-orang Marapu yang telah menjadi Kristen masih tetap mempraktikkan tradisi atau kebiasaan lama mereka. Injil seolah tidak memengaruhi bahkan mentransformasi kehidupan orang Marapu secara holistik. Mereka memang telah beralih agama namun dalam praktiknya nilai dan pandangan hidup mereka yang lama lebih dijunjung tinggi dibanding Injil.
Untuk menjawab masalah tersebut, diperlukan sebuah penginjilan yang kontekstual dan transformatif. Penginjilan ini juga perlu didahului oleh observasi yang mendalam untuk menemukan hal-hal yang dapat digunakan sebagai jembatan untuk masuk dalam penginjilan. Tujuannya agar pada waktu Injil tersebut dikontekstualisasikan menggunakan unsur-unsur budaya seperti bahasa dan pandangan dunia mereka, Injil benar-benar relevan dan cocok dengan konteks hidup mereka. Dengan demikian, hal tersebut dapat menolong mereka untuk memberi respons yang tepat kepada Injil. Inti dari penginjilan kontekstual, sejatinya adalah bukan hanya sekadar membuat orang Marapu berpindah kepercayaan, namun Injil tersebut dapat mentransformasi sikap, nilai, dan worldview mereka sesuai dengan firman Tuhan. Bahkan, mereka juga dapat sepenuhnya hidup mengasihi Tuhan Yesus
Prinsip-prinsip Etika yang Muncul dalam Surat 1 Timotius yang Dapat Mengarahkan dalam Pembuatan Kode Etik bagi Para Pemimpin Gereja.
Kejatuhan seorang pemimpin gereja (hamba Tuhan) dapat membawa dampak yakni ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemimpin gereja. Hal ini nampak dari survei yang dilakukan di luar negeri di mana didapati terjadinya penurunan kepercayaan masyarakat berkenaan dengan kejujuran seorang pemimpin gereja dari tahun ke tahun. Penyebabnya adalah kejatuhan dari seorang pemimpin gereja (masalah etika). Kasus kejatuhan ini ternyata tidak hanya menimpa pemimpin gereja yang ada di luar negeri namun juga terjadi pada hamba Tuhan yang ada di dalam negeri. Berdasarkan data yang penulis dapatkan dari hasil wawancara didapati bahwa setidaknya ada lebih dari sepuluh kasus yang menimpa pemimpin gereja di Indonesia. Itulah sebabnya gereja perlu membuat "pagar-pagar" batas untuk menjaga pemimpin gerejanya (hamba Tuhan) agar tidak mengalami kejatuhan. Pagar-pagar batas inilah yang dinamakan dengan kode etik.
Kode etik ini bukanlah etika atau pun juga etiket. Ada perbedaan di antara ketiganya. Jadi apa itu kode etik? Apa perbedaan antara kode etik, etika dan etiket? Sejauh mana kode etik itu dibutuhkan bagi seorang pemimpin gereja? Apa saja penyebab kejatuhan dari seorang pemimpin gereja sampai membutuhkan kode etik? Itulah salah satu hal yang akan dibahas dalam skripsi ini. Disamping itu juga di skripsi ini memberi contoh kasus-kasus kejatuhan hamba Tuhan yang ada di Indonesia yang di dapat dari hasil wawancara dengan beberapa hamba Tuhan senior (termasuk juga di dalamnya hamba Tuhan Konselor). Berdasarkan data dari hasil wawancara itu, penulis dapat menunjukkan seberapa jauh diperlukan oleh sebuah gereja dalam membuat kode etik untuk para pemimpin gerejanya.
Di dalam membuat kode etik untuk para pemimpin gereja tentu haruslah berdasarkan pada alkitab. Dengan demikian kode etik yang dibuat akan menghasilkan kode etik yang alkitabiah. Untuk dapat membuat kode etik yang alkitabiah tentunya dibutuhkan prinsip-prinsip etika yang ada di dalam Alkitab. Prinsip-prinsip etika inilah yang dibahas dalam skripsi ini. Di mana melalui prinsip-prinsip etika yang alkitabiah ini diharapkan dapat mengarahkan pada pembuatan kode etik bagi para pemimpin gereja
Tinjauan Etis Terhadap Praktik Masturbasi Dan Kaitannya Dengan Dorongan Seksual Serta Implikasinya Terhadap Keintiman Relasi Orang Percaya
Hubungan antara Tingkat Pemujaan Selebritas dan Penggunaan Telepon Pintar dengan Spiritualitas pada Remaja Kristen di Kota Malang
Kualitas spiritualitas generasi penerus gereja perlu dipersiapkan guna regenerasi di masa depan. Persiapan regenerasi dapat dilakukan melalui pembinaan pada tahap remaja. Pembinaan spiritualitas pada remaja diperlukan karena tahap remaja merupakan tahap yang krusial dalam pembentukan identitas iman. Agar pembinaan spiritualitas tersebut berjalan tanpa penghalang maka perlu diperhatikan aktivitas pemujaan selebritas dan penggunaan telepon pintar sebagai fenomena yang marak dilakukan remaja pada generasi sekarang yang dekat dengan teknologi digital.
Pemujaan selebritas merupakan hubungan parasosial (hubungan satu arah) yang abnormal antara penggemar dengan selebritas, yang didorong oleh unsur-unsur penyerapan dan adiktif dan yang berpotensi memiliki gejala klinis yang signifikan. Pemujaan selebritas dapat digunakan oleh remaja untuk membentuk identitasnya. Pemujaan selebritas ini dapat mengakibatkan individu lebih mengutamakan nilai-nilai selebritas daripada nilai-nilai dari Alkitab. Telepon pintar merupakan telepon genggam yang memiliki fitur-fitur pintar yang memberikan kemudahan bagi kehidupan dan pekerjaan penggunanya. Penggunaan telepon pintar ini dapat memberi kontribusi yang buruk dalam pertumbuhan spiritualitas.
Oleh sebab itu, pertanyaan dalam penelitian ini adalah: apakah terdapat hubungan antara pemujaan selebritas dengan spiritualitas, serta apakah terdapat hubungan antara penggunaan telepon pintar dengan spiritualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian, yaitu ada atau tidaknya hubungan antara pemujaan selebritas dan penggunaan telepon pintar terhadap spiritualitas remaja Kristen di Kota Malang. Untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti mengajukan hipotesis bahwa terdapat hubungan antara pemujaan selebritas dengan spiritualitas, serta terdapat hubungan antara penggunaan telepon pintar dengan spiritualitas remaja Kristen di Kota Malang. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner secara daring. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 163 siswa usia 15-18 tahun di SMA Kristen Kalam Kudus Malang. Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling, dan teknik analisis data menggunakan Spearman Rank Correlation.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan secara negatif antara pemujaan selebritas dengan spiritualitas mahasiswa (r = -0,203; p<0,05) yang berarti bahwa hipotesis pertama diterima. Sedangkan penggunaan telepon pintar ditemukan berhubungan secara signifikan secara negatif dengan spiritualitas (r = -0, 210; p <0,05) artinya hipotesis kedua juga diterima. Penelitian ini dapat memberikan sumbangsih bagi bagian kerohanian SMA Kristen Kalam Kudus di Kota Malang dalam pembinaan spiritual siswa. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat mendorong para peneliti selanjutnya untuk membahas topik spiritualitas dengan kemungkinan korelasinya dengan identitas serta tingkat kesepian dalam remaja
Menuju Identitas Seksual Yang Autentik: Analisis Naratif Terhadap Perkembangan Hidup Wanita Kristen Yang Bergumul Dengan Orientasi Seksual
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman hidup seseorang dalam pembentukan identitas seksual. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan cara purposive sampling. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dan analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis naratif. Data yang dianalisis adalah episode-episode dari sejak mereka kecil hingga saat ini di mana di dalam setiap episode dilakukan pengidentifikasian pola-pola alur cerita secara umum dari setiap partisipan. Jumlah partisipan yang terlibat di dalam penelitian sebanyak 3 orang dan berusia 18 tahun ke atas. Ketiganya adalah wanita-wanita yang pernah atau masih sedang bergumul dengan ketertarikan terhadap sesama jenis. Mereka berlatar belakang agama Kristen sejak lahir yang sudah bertobat dan mengaku percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa episode hidup wanita Kristen yang bergumul dengan orientasi seksual memiliki empat kerangka waktu yaitu: (a) masa kanak-kanak hingga remaja: ketidakmampuan memahami perasaan suka dengan sesama jenis; (b) masa remaja hingga dewasa: kesadaran tentang ketertarikan dengan sesama jenis sebelum mendapatkan pertolongan; (c) masa dewasa: kesadaran tentang ketertarikan dengan sesama jenis sesaat sebelum hingga sesudah mendapatkan pertolongan; dan (d) masa depan: kesadaran dan harapan menuju identitas seksual yang autentik. Di dalam setiap episode, muncul narasi-narasi (tema) utama yang berperan dalam pembentukan identitas seksual partisipan. Penelitian ini berimplikasi kepada orang tua, gereja, konselor, dan berbagai program-program pemulihan. Penelitian ini juga menjadi pendorong bagi penelitian selanjutnya terkait pembentukan identitas seksual