STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Tinjauan Terhadap Konsep Hupokrites Kaum Farisi Menurut Injil Matius dalam Konteks Honor and Shame dan Implikasinya dalam Kepemimpinan Gerejawi Masa Kini.
Kepemimpinan merupakan sebuah isu yang selalu dibicarakan di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Hal itu disebabkan karena di dalam segala aspek kehidupan manusia akan membutuhkan peran seorang pemimpin. Yang menjadi ironi adalah baik dunia maupun gereja saat ini telah mengalami krisis kepemimpinan. Banyak manusia yang ingin menjadi pemimpin, namun pada realitanya tidak banyak manusia yang dapat layak dikatakan sebagai pemimpin.
Salah satu penyebab dunia saat ini mengalami krisis kepemimpinan adalah karena hilangnya integritas di dalam kehidupan pemimpin-pemimpin masa kini baik di dalam dunia maupun di gereja. Berbicara tentang integritas, maka tidak akan bisa dilepaskan dari sifat kemunafikan yang merupakan lawan dari kehidupan yang berintegritas. Kemunafikan adalah kehidupan di dalam kepalsuan dan ketersembunyian sehingga kehilangan autentisitas diri sendiri di hadapan Allah. Jika melihat ke dalam Alkitab, sifat kemunafikan ini selalu menjadi sifat yang tidak disenangi oleh Allah dan bahkan tercatat bahwa Allah menentang orang-orang hidupnya di dalam kemunafikan. Yang menjadi ironi adalah sifat kemunafikan yang dicatat di dalam Alkitab justru dilakukan oleh orang-orang yang disebut sebagai pemimpin-pemimpin agama Yahudi pada waktu itu, salah satunya adalah kaum Farisi. Pemimpin yang seharusnya mengajarkan kebenaran justru hidupnya berada di luar kebenaran. Melihat bahaya kemunafikan ini sangat rentan dilakukan oleh orang-orang yang disebut sebagai pemimpin, maka seharusnya kita mengerti lebih dalam apakah kemunafikan itu sehingga kita mengetahui bagaimana untuk tidak hidup di dalamnya.
Kecenderungan para pemimpin melakukan kemunafikan itu tidak pernah bisa dilepaskan dari konteks budaya yang mengikat konsep pemikiran dan perbuatan dari pemimpin itu. Salah satu budaya yang sangat umum dipahami oleh manusia adalah budaya honor and shame (hormat dan malu). Budaya ini sangat umum dikenal oleh manusia karena pada dasarnya manusia memiliki kedua hal ini, yaitu malu dan hormat. Dengan segala cara, manusia cenderung akan menghindari sesuatu yang memalukan dalam hidupnya dan mengejar kehormatan untuk meningkatkan derajat dirinya. Budaya honor and shame ini juga merupakan budaya collective culture yang berarti penilaian komunitas akan menjadi standar dalam menentukan hal apa saja yang memalukan dan yang terhormat. Atas dasar itulah, karena budaya honor and shame yang dipahami keliru oleh manusia sehingga membuat manusia sangat rentan untuk hidup di dalam kemunafikan supaya menghindarkan diri dari sesuatu yang memalukan bagi komunitasnya.
Yesus memanggil pemimpin-pemimpin Kristen untuk meredefinisikan ulang budaya honor and shame dalam kehidupan ini, yaitu standar penilaian hal yang memalukan dan hal yang terhormat itu bukan lagi ditentukan oleh komunitas manusia lainnya, melainkan ditentukan oleh kebenaran Allah melalui Firman-Nya. Ketika pemimpin-pemimpin Kristen menyadari bahwa tolok ukur kehidupan ini (termasuk malu dan hormat) mengikuti standar kebenaran Allah dan bukan ekspektasi manusia lainnya, maka mereka akan hidup berintegritas di dalam hidupnya. Sebab tidak ada yang bisa disembunyikan oleh manusia dari Tuhan. Apapun yang diperbuat oleh manusia, tidak akan pernah dapat ditutupi dan tersembunyi di hadapan Allah
Konsep Alkitabiah Tentang Manhood dan Implikasinya Terhadap Identitas dan Peran Kepala Keluarga Gereja Kristen Abdiel Gracia Gading Pantai Surabaya.
Figur otoritas yang menonjol dalam kehidupan manusia bergeser dari laki-laki kepada perempuan. Pergeseran yang terjadi sudah nampak di rumah sebagai lembaga terkecil hingga kepada institusi umum seperti rumah sakit. Bahkan dalam dunia sekarang ini, perempuan banyak yang memegang otoritas tertinggi dalam perusahaan dan negara. Isu mengenai pergeseran otoritas ini tidak hanya terjadi di dunia sekuler tetapi juga merambah ke dalam gereja. Ada peningkatan jumlah pemimpin gereja perempuan senior di dalam lingkup gereja. Peningkatan jumlah hamba Tuhan perempuan senior yang menunjukkan bahwa ada banyak laki-laki yang tidak menyukai hal-hal yang bersifat rohani. Di dalam lingkup yang lebih dalam, keluarga sebagai miniatur gereja menunjukkan bahwa peran laki-laki semakin berkurang. Laki-laki tidak memiliki pemahaman yang benar akan konsep manhood dalam diri mereka sebagai seorang laki-laki. Laki-laki tidak memahami konsep manhood yang alkitabiah. Pemahaman yang tidak sempurna memengaruhi laki-laki di dalam menjalani perannya sebagai seorang laki-laki. Akibatnya relasi yang terjadi di dalam keluarga antara laki-laki dan anggota keluarga menjadi tidak harmonis.
Penelitian yang dilakukan menggunakan metode penelitian literatur dan kualitatif dengan mengambil survei di Gereja Kristen Abdiel Gracia Gading Pantai Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep manhood yang alkitabiah adalah konsep yang ada di dalam diri laki-laki dengan memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, pelindung, pemberi nafkah dan pendidik. Implikasi dari pemahaman konsep manhood ini bagi laki-laki adalah membuat laki-laki mengetahui tugas dan tanggung jawab yang dimiliki sebagai seorang laki-laki serta mau melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai sebuah perintah yang Tuhan berikan kepada manusia terkhusus kepada laki-laki
Hubungan antara Penolakan Orang Tua dan School Belonging dengan Shame pada Remaja SMA Charis National Academy di Malang.
Shame merupakan sebuah isu yang jarang terdengar, sementara perannya terhadap kesehatan mental individu cukup besar. Dalam berbagai penelitian empiris, shame dinyatakan berhubungan dengan depresi, kecemasan, bunuh diri, dan gangguan perilaku lainnya. Sering kali shame dikenal sebagai sebuah emosi yang bersifat sementara, namun makna di balik kata ini sesungguhnya lebih dalam. Shame merupakan sebuah emosi yang mengatakan kepada individu bahwa dirinya tidak berharga. Penolakan orang tua dipercaya memberikan kontribusi dalam pembentukan shame ini, sementara school belonging juga dinyatakan berperan dalam fungsi psikologis yang sehat dari siswa. Penulis menduga ada keterkaitan di antara ketiganya yang layak untuk mendapat perhatian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah terdapat hubungan antara penolakan orang tua dengan shame pada remaja SMA? Apakah terdapat hubungan antara school belonging dengan shame pada remaja SMA? Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling yaitu sampel dipilih berdasarkan tujuan penulis untuk meneliti remaja SMA Charis National Academy di Malang dengan karakteristik responden yang telah ditentukan pula. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas 10-12. Dari 161 angket yang disebarkan di sekolah tersebut, ada 16 data yang tidak dapat digunakan sehingga data yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 145 data. Instrumen yang digunakan untuk mengukur shame adalah Compass of Shame Scale (CoSS) yang diadaptasi dari Donald L. Nathanson, terdiri dari 48 item pertanyaan. Penolakan orang tua diukur dengan menggunakan instrumen Parental Acceptance-Rejection Questionnaire (PARQ) yang dikembangkan oleh Ronald P. Rohner dan terdiri dari 24 item untuk ayah dan 24 item untuk ibu. School belonging diukur dengan menggunakan instrumen Psychological Sense of School Membership (PSSM) dari Carol D. Goodenow, yang terdiri dari 18 item pertanyaan. Analisis data menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis data menggunakan uji Spearman Rank Correlation untuk mengukur hubungan antara penolakan orang tua dengan shame dan school belonging dengan shame. Hipotesis pertama dari penelitian ini adalah semakin tinggi tingkat penolakan orang tua, maka semakin tinggi pula tingkat shame. Hipotesis kedua adalah semakin tinggi tingkat school belonging, maka semakin rendah pula tingkat shame. Hasil pengolahan data dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 22 memperlihatkan adanya hubungan positif yang signifikan antara penolakan orang tua dengan shame, dan adanya hubungan negatif yang signifikan antara school belonging dengan shame. Dengan demikian, hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua hipotesis dalam penelitian ini diterima. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara penolakan orang tua dan school belonging dengan shame di kalangan remaja SMA Charis National Academy di Malang. Semakin tinggi tingkat penolakan orang tua maka semakin tinggi pula tingkat shame, dan semakin tinggi tingkat school belonging maka semakin rendah pula tingkat shame
Hubungan Antara Religiositas dan Pengendalian Diri dengan Keintiman Pernikahan pada Istri di Gereja Kristus Tuhan (GKT) di Kota Malang.
Religiositas dan pengendalian diri pada istri berperan terhadap keintiman pernikahan. Di tengah berbagai tantangan pernikahan yang kompleks dalam seluruh aspek kehidupan, pernikahan Kristen membutuhkan faktor-faktor yang dapat berperan penting sehingga keintiman pernikahan berjalan dengan baik. Dua faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah religiositas dan pengendalian diri yang diduga ada hubungan dengan keintiman pernikahan.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah ada hubungan antara religiositas dengan keintiman pernikahan pada istri? Apakah ada hubungan antara pengendalian diri dengan keintiman pernikahan pada istri? Hipotesis pertama dari penelitian ini adalah semakin tinggi religiositas, maka semakin tinggi keintiman pernikahan pada istri. Hipotesis kedua adalah semakin tinggi pengendalian diri, maka semakin tinggi keintiman pernikahan pada istri.
Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan asumsi bahwa sampel yang dipilih berdasarkan tujuan penulis untuk meneliti para istri di GKT di Kota Malang. Subjek penelitian adalah 100 istri yang berusia 22-55 tahun yang berjemaat di GKT (GKT Jemaat I, GKT Jemaat II, GKT Jemaat III, GKT Jemaat Blimbing, GKT Jemaat Tidar, GKT Pos Araya, dan GKT Pos Sawojajar).
Instrumen yang digunakan adalah Centrality of Religiousity Scale (CRS), Self Control Scale (SCC), Personal Assessment of Intimacy in Relationships Scale (PAIR). Penelitian kuantitatif ini menggunakan teknik analisis data Spearman Rank Correlation untuk mengukur korelasi antara religiositas dengan keintiman pernikahan pada istri dan antara pengendalian diri dengan keintiman pernikahan pada istri.
Hasil pengol^an data dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 21 memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan positif antara religiositas dengan keintiman pernikahan pada istri dan hubungan yang signifikan positif antara pengendalian diri dengan keintiman pernikahan pada istri. Dengan demikian, hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua hipotesis dalam penelitian ini diterima.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara religiositas dengan keintiman pernikahan dan pengendalian diri dengan keintiman pernikahan di GKT di Kota Malang. Semakin tinggi religiositas maka semakin tinggi keintiman pernikahan dan semakin tinggi pengendalian diri, maka semakin tinggi keintiman pernikahan
Release from Batara Kala’s Grip: A Biblical Approach to Ruwatan from the Perspective of Paul’s Letter to the Ephesians
Ruwatan is a ritual that has been practiced by the Javanese people (the largest ethnic group in Indonesia) for centuries. The word ruwatan comes from ruwat, which means ‘to free’ or ‘to liberate’. Ruwatan is ‘a ritual to liberate certain people because it is believed that they will experience bad luck.’ These people are considered unclean and firmly under the grip of Batara Kala, an evil god of gigantic proportions in Javanese mythology. The ritual is practised by every stratum of the Javanese society—wealthy and poor, educated and illiterate. Ruwatan is derived from a Hindu tradition and is related to the purification or liberation of gods who had been cursed for making mistakes and changed into other beings (either humans or animals). Because of the widespread practice of ruwatan, a biblical perspective on this ritual would be beneficial to Indonesian Christians, especially those from a Javanese cultural background. Paul’s epistle to the Ephesians provides such a perspective, as it directly addresses the evil powers and their ability to bind people. Ephesus was known as the centre of magic in the Graeco-Roman world
Seni Visual sebagai Simbol Budaya dan Implikasinya dalam Gereja Reformed di Indonesia.
Kebudayaan merupakan hal yang tidak bisa dilepas dari kehidupan manusia. Kebudayaan juga tidak bisa dilepaskan dari pengertian akan Allah, oleh karena itu kebudayaan seharusnya tidak dipisahkan dari gereja. Seni visual adalah simbol budaya yang mencerminkan pengenalan akan Allah. Sejarah mencatat perkembangan seni visual berkaitan erat dengan perkembangan gereja. Penerapan seni visual menimbulkan kontroversi dari masa ke masa. Ada masa di mana gereja menerima, ada masa di mana gereja menolak. Kontroversi yang terjadi membuktikan bahwa seni visual memiliki dampak yang signifikan bagi gereja.
Pada saat reformasi terjadi, gereja sedang tidak berjalan dalam kebenaran firman Tuhan. Seni visual dijadikan sebagai objek penyembahan berhala. Para reformator berdiri dan menyuarakan kebenaran. Berbagai bentuk seni visual dihancurkan dan gereja dibersihkan dari seni visual. Pembersihan ini memberikan pengaruh yang besar bagi gereja dan dunia. Gereja bukan hanya lepas dari perkembangan seni visual, tetapi gereja juga lepas dari kebudayaan.
Penolakan terhadap seni visual terus diturunkan dan menjadi tradisi khususnya di gereja reformed, termasuk di Indonesia. Hal ini tentu berbeda dengan masyarakat Indonesia yang diwarnai dengan berbagai macam kesenian. Akhirnya, gereja reformed di Indonesia pun mengikuti tradisi tersebut dan menjauhkan diri dari seni visual. Di lain pihak, seni visual terus berkembang di luar gereja. Jemaat tidak hanya hidup di gereja, bahkan jemaat lebih banyak hidup di luar gereja. Khususnya di era yang penuh media seperti sekarang, semua orang tidak bisa lepas dari seni visual. Banyak orang belajar, menangkap, dan memahami sesuatu melalui seni visual. Manusia tidak lagi seperti di zaman dahulu yang bisa memahami cukup dengan mendengar. Termasuk di dalam gereja. Jemaat gereja saat ini juga hidup dalam dunia visual. Pemahaman tidak hanya bisa melalui telinga, tetapi juga mata. Oleh karena itu, gereja seharusnya juga berani untuk keluar dari tradisi dan kembali menggunakan seni visual.
Namun, penggunaan seni visual tetap harus dipagari dengan kebenaran firman Tuhan. Tradisi reformed yang tidak boleh hilang adalah membawa gereja kembali kepada ajaran firman Tuhan yang benar. Seni visual bukan hanya soal estetika, tetapi lebih kepada ekspresi akan pemahaman firman yang benar. Seni visual semacam ini yang harusnya diterapkan di dalam gereja
Pembacaan Lectio Divina sebagai Solusi Komplementer terhadap Pembacaan Informatif dalam Mendekati Alkitab untuk Membangun Spiritualitas Kaum Injili Masa Kini.
Isu spiritualitas akhir-akhir ini menjadi topik yang dicari dalam kalangan Kristen injili. Tak pelak kekeringan spiritualitas menjadi salah satu pemicu untuk orang-orang injili mencari solusi penyelesaiannya. Alkitab yang sejatinya membawa kesegaran dan kehidupan namun dalam kenyataannya nampak tidak terjadi. Hal ini begitu ironis, karena orang Kristen injili menjadikan Alkitab sebagai pilar doktrin fondasinya. Penulis mencermati bahwa keadaan ini terjadi oleh karena orang injili menggunakan pembacaan informatif ketika mendekati Alkitab. Pembacaan informatif ini memiliki sifat yang menekankan kepada penggunaan rasio dan analitis. Akibat dari pembacaan informatif mendominasi dalam kaum injili, pembacaan formatif yang sifatnya afektif dan mengubah, menjadi tergeser dan tergantikan. Dengan kata lain, formasi spiritual yang sehat tidak terjadi, oleh karena terdapat kepincangan rohani yang lebih berat kepada pembacaan informatif.
Oleh sebab itu, dalam tesis kali ini, penulis ingin menawarkan sebuah solusi komplemen untuk menciptakan keseimbangan spiritualitas antara pembacaan informatif dengan pembacaan formatif. Solusi komplemen ini adalah pembacaan lectio divina. Pembacaan lectio divina yang adalah pembacaan formatif dan bersifat kontemplatif, diharapkan dapat menjadi solusi komplemen terhadap pembacaan informatif dalam kalangan injili. Penulis meyakini bahwa pembacaan lectio divina yang sejatinya menekankan perjumpaan dengan Tuhan melalui teks firman Tuhan, kebergantungan kepada Roh Kudus, serta sebuah pendekatan yang bersifat kontemplatif, dapat memberikan kontribusi yang positif bagi spiritualitas kaum injili masa kini. Untuk mencapai semua ini, penulis akan melakukan penelusuran historis baik dari pembacaan lectio divina maupun pembacaan informatif. Dari penelusuran ini, penulis akan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan baik dari pembacaan lectio divina maupun pembacaan informatif. Pada akhirnya dari evaluasi ini, penulis berharap bahwa pembacaan lectio divina ini dapat dipraktikkan dalam kalangan injili, yang bersinergi dengan pembacaan informatif untuk membangun spiritualitas yang sehat dalam kalangan injili
Signifikansi Integrasi Budaya Lokal dengan Musik dalam Gereja bagi Efektifitas Pekabaran Injil
Setiap orang percaya dipanggil untuk menjalankan misi Allah, menjadikan segala bangsa murid Kristus. Allah rindu agar segala bangsa dapat mengenal-Nya dan beribadah kepada-Nya. Oleh sebab itu, Injil hams diberitakan dan dimengerti oleh segala bangsa. Ketika memberitakan Injil lintas budaya, pekabar Injil perlu menyadari adanya jurang budaya dan diperlukan kontekstualisasi sehingga berita Injil dapat dimengerti. ''
Musik mempakan salah satu media yang efektif di dalam pekabaran Injil. Musik memiliki kekuatan yang menjadikan pesan Injil dapat dimengerti lebih dalam. Namun sayangnya seringkali para pekabar Injil salah kaprah di dalam memandang penggunaan musik di dalam pekabaran Injil. Musik dianggap sebagai bahasa universal, padahal musik selalu berkaitan dengan budaya tertentu akibatnya musik belum menjadi alat yang efektif bagi pekabaran Injil. Penulis melihat bahwa diperlukan nyanyian jemaat yang kontekstual dan relevan di dalam pekabaran Injil.
Oleh sebab itu, di dalam penelitian ini, penulis mencoba memaparkan nyanyian jemaat seperti apa yang kontekstual dan relevan bagi pekabaran Injil, dan bagaimana cara memperolehnya. Melalui penelitian secara kepustakaan, penulis memmuskan konsep nyanyian jemaat yang kontekstual dan relevan, langkah-langkah mengintegrasikan budaya lokal ke dalam nyanyian jemaat dan contoh-eontoh nyanyian jemaat yang kontekstual bagi pekabaran Injil
Peran Sekolah Kristen dalam Pendidikan Karakter Anak dan Upayanya untuk Meningkatkan Partisipasi Keluarga/Gereja Kristen dalam Proses Pendidikan Karakter.
Sebagai lembaga pendidikan, sekolah tidak hanya mendidik murid dari segi kognitif, tetapi juga dari segi karakter. Sekalipun demikian pendidikan karakter tidaklah menjadi tanggung jawab institusi sekolah sepenuhnya. Dalam konteks pendidikan Kristen, lembaga yang harus ikut bertanggung jawab adalah keluarga dan gereja. Faktanya, ada orang tua yang beranggapan bahwa sekolah merupakan lembaga yang paling bertanggung jawab terhadap pembinaan karakter anak-anak mereka.
Berdasarkan tinjauan teologis dan historis pendidikan Kristen, tampak bahwa sekolah Kristen tidak hanya memiliki peran dalam membekali anak didik dengan berbagai bidang keilmuan, tetapi pada hakikatnya sekolah Kristen merupakan perpanjangan tangan dari keluarga untuk memperkenalkan Allah kepada anak-anak. Tidak hanya itu, keluarga dan gereja juga mempunyai mandat dalam pembentukan karakter anak. Keluarga Kristen harus kembali mengambil peran penting sebagai pendidik utama anak, dan menyadari bahwa peran sekolah hanya melanjutkan pendidikan yang sudah dimulai dari rumah oleh orang tua kepada anak. Dis sisi lain, gereja juga berperan dan bertanggung jawab dalam pendidikan karakter. Gereja menjadi perpanjangan tangan Allah dalam membina dan memperlengkapi jemaat.
' Dengan demikian keluarga, gereja dan sekolah Kristen sudah seharusnya memandang satu degan lainnya sebagai mitra kerja. Sinergi antara sekolah dengan keluarga dan gereja diharapkan dapat memaksimalkan pertumbuhan karakter anak sedini mungkin. Pemahaman sekolah Kristen tentang peran dari keluarga dan gereja. Akan membantu sekolah dalam menginisiasi keterlibatan keluarga dan gereja dalam pendidikan karakter anak. Dalam hal ini, sekolah Kristen perlu mengambil peran secara aktif untuk melibatkan keluarga (orang tua) dan gereja, sehingga mereka juga dapat ikut berkontribusi terhadap pendidikan karakter anak.
Upaya yang dilakukan sekolah dalam melibatkan keluarga adalah dengan memfasilitasi pertemuan antara orang tua dan guru untuk mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan karakter anak. Sekolah juga dapat mengupayakan peningkatan peran gereja dengan melibatkan rohaniwan/aktivis gereja untuk memberikan peminaan-pembinaan kepada orang tua, anak dan guru. Upaya
yang dilakukan sekolah ini diharapkan menumbuhkan kesadaran kepada keluarga dan gereja akan tanggung jawab bersama terhadap pendidikan karakter anak
The Function of Exorcism Stories in Mark's Gospel
This book investigates stories of Jesus’ exorcisms in the Gospel of Mark. The story of Jesus’ first public ministry in the synagogue (Mark 1:21–28) and the Beelzebul controversy story (3:20–30) are examined to understand the other acts of exorcism that Jesus performed (5:1–20; 7:24–30; 9:14–32). Both Mark 1:21–28 and 3:20–30 highlight Jesus as a teacher and as an eschatological exorcist. The latter stresses Jesus’ own understanding of exorcism and relates his identity with that of the Holy Spirit. Therefore, the first two exorcism stories in Mark’s Gospel confirm Jesus as the bearer of the kingdom of God. The motif of discipleship, which is evident in both stories, contributes to delineating Jesus’ christological identity as the Son of God, as indicated by the incipit of Mark’s Gospel (Mark 1:1).
Markan exorcism stories in Mark 5:1–20; 7:24–30; and 9:14–29 further develop the presentation of Jesus’ exorcisms and other primary motifs. The motifs of authority, identity, and mission confirm the christological identity of Jesus within gentile territory, and are an important part of his mission to the gentiles. Jesus’ specific mission in Mark 9:14–29 presents the exorcism that Jesus performed in the context of his role in both death and resurrection. In this way, Jesus as the bearer of the kingdom of God defeats the kingdom of Beelzebul