STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Studi Historis terhadap Konsep Keseharian Hidup dan Komunitas Biara Santo Benediktus dan Implikasinya bagi Pembentukan Diri Calon Hamba Allah di Seminari Berasrama

    Get PDF
    Sampai saat ini, seminari berasrama menjadi tempat tujuan bagi mereka yang memiliki panggilan Allah untuk dibentuk menjadi hamba Allah. Mereka akan mempelajari teologi dalam suatu sistem edukasi teologi yang berlaku di seminari berasrama. Selain itu, mereka akan menjalani keseharian hidup yang telah disusun sedemikian rupa dan berinteraksi secara sosial di'dalam komunitas seminari. Baik perkuliahan teologi, keseharian hidup, dan komunitas menjadi elemen-elemeii yang diharapkan dapat membentuk kepribadian para calon hamba Allah. Secara khusus mengenai keseharian hidup dan komunitas, kedua elemen tersebut memiliki peran yang besar di dalam membentuk kepribadian bahkan iman para calon hamba Allah. Sayangnya, kedua elemen tersebut kehilangan signifikansinya dalam edukasi teologi yang berlaku di masa kini. Apakah kedua elemen tersebut kalah pentingnya dengan perkuliahan teologi dalam edukasi teologi masa kini? Ketika melihat sejarah kekristenan, penulis menjumpai suatu gerakan monastisisme yang diprakarsai oleh Santo Benediktus. Melihat kerinduan banyak orang Kristen untuk memiliki relasi yang dalam dengan Allah pada zamannya, Benediktus mendirikan sebuah biara untuk menjadi tempat tinggal bagi orang-orang yang mau memiliki relasi yang dekat dengan Allah, yakni para rahib. Sebagai pedoman hidup bagi mereka, Benediktus menulis suatu aturan hidup yang di dalamnya menunjukkan signifikansi keseharian hidup dan komunitas bagi kehidupan para rahib, terlepas dari pentingnya penggalian kebenaran firman Allah. Baik keseharian hidup maupun interaksi sosial dalam komunitas biara ditujukan imtuk satu tujuan; membentuk hati yang murni di dalam diri para rahib. Dengan begitu, nyatalah b^wa keseharian hidup dan komunitas memiliki peran yang juga penting di dalam membentuk kepribadian bahkan iman para rahib. Melihat hal tersebut, penulis pun bertanya: bagaimana konsep keseharian hidup dan komunitas biara Benediktus memengaruhi pembentukan diri seorang rahib? Bagaimana pengaruh konsep keseharian hidup dan komunitas biara Benediktus memengaruhi pembentukan diri seorang calon hamba Allah di seminari berasrama? Apakah konsep keseharian hidup dan komunitas biara Benediktus selaras dengan kebenaran Alkitab? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kurang lebih menjadi pertanyaan pribadi penulis dan mendasari penelitian ini. Dalam skripsi ini, penulis mengusulkan solusi bagi permasalahan ini. Penulis mendasari idenya dengan konsep keseharian hidup dan komunitas biara Benediktus. Dengan melihat signifikansi dari keseharian hidup dan komunitas biara Benediktus, penulis memberikan usulan paradigma baru bagi edukasi teologi masa kini: pembentukan hati yang murni. Dalam penelitiannya, penulis menggunakan riset kepustakaan dan metode deskriptif, di mana penulis akan riset terhadap kepustakaan dan menguraikan basil risetnya berdasarkan riset kepustakaan tersebut. Dengan demikian, didapatkan paradigma baru bagi edukasi teologi, yang tidak dapat dilepaskan dari signifikansi keseharian hidup dan komunitas di seminari berasrama

    Roman Catholics and Evangelicals : Agreements and Differences

    No full text

    Hubungan Kelekatan pada Allah, Pengampunan pada Diri, dan Penerimaan terhadap Orang Lain pada Mahasiswa Kristen yang Tergabung dalam Persekutuan Mahasiswa Kristen di Dua Universitas Negeri Kota Malang.

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian, yaitu ada atau tidaknya hubungan antara kelekatan pada Allah dan pengampunan pada diri dengan penerimaan terhadap orang lain pada mahasiswa Kristen yang tergabung dalam Persekutuan Mahasiswa Kristen di dua Universitas Negeri Kota Malang. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka peneliti menyusun hipotesis bahwa terdapat hubungan antara kelekatan pada Allah dengan penerimaan terhadap orang lain, serta terdapat hubungan antara pengampunan pada diri dengan penerimaan terhadap orang lain. Metode penelitian yang digunakan, yaitu kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner. Subjek dalam penelitian ini, yaitu 211 mahasiswa Kristen berusia 17-24 tahun di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang. Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling dan teknik analisis data menggunakan Spearman's Rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan bemilai negatif antara kelekatan pada Allah dan penerimaan terhadap orang lain (r = -0,311; p < 0,01). Hubungan negatif yang terbentuk dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: pola kelekatan anak-orang tua yang dimiliki responden dan religiositas yang dibangun atas dasar emosi. Selain itu, hasil penelitian juga memmjukkan adanya hubungan signifikan bemilai negatif antara pengampunan pada diri dengan penerimaan terhadap orang lain (r = -0,178; p < 0,01). Hubungan negatif yang terbentuk juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kecenderungan narsistik dan penerimaan terhadap tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan oleh responden. Penelitian ini dapat memberi sumbangsih bagi mahasiswa itu sendiri, pembina rohani PMK, dan bagi penelitian selanjutnya terkait penerimaan terhadap orang lain

    Hubungan antara Kelekatan dengan Tuhan dan Keterbukaan terhadap Pengalaman dengan Resiliensi pada Mahasiswa Kristen di Kota Malang.

    Get PDF
    Di sepanjang rentang kehidupan, individu dihadapkan pada berbagai tantangan mulai dari taraf ringan sampai pada taraf yang berat. Berbagai tantangan tersebut dapat dianggap sebagai sumber stres yang dapat berdampak banyak hal dalam kehidupan individu. Mahasiswa yang berada di tahap remaja akhir menuju dewasa awal juga tidak terluput dari kondisi tersebut. Tuntutan akademis dan tugas-tugas di tahap perkembangan mereka dapat dianggap sebagai tekanan yang membuat mereka rentan terhadap gangguan psikologis. Agar mampu mengatasi berbagai tekanan tersebut dan dapat pulih dari kondisi yang menekan maka individu perlu memiliki resiliensi. Resiliensi merupakan kapasitas yang berproses secara dinamis dalam diri individu agar mampu bertahan dan pulih dari berbagai situasi yang menekan. Kelekatan dengan Tuhan dan keterbukaan terhadap pengalaman adalah dua variabel yang dikaitkan dengan resiliensi. Kelekatan dengan Tuhan merupakan relasi yang intim antara individu dengan Tuhan yang terlihat dari rasa aman yang dimiliki individu ketika berelasi dengan Tuhan. Kelekatan ini mengakibatkan individu terhindar dari relasi yang penuh dengan kecemasan dan penghindaran. Keterbukaan terhadap pengalaman merupakan ciri kepribadian yang berkaitan dengan keterbukaan individu terhadap berbagai aspek termasuk kekayaan emosional dan fantasi, imajinasi, kreativitas, minat yang luas, dan keinginan mencoba hal-hal baru. Oleh sebab itu, pertanyaan dalam penelitian ini adalah apakah terdapat hubungan antara kelekatan dengan Tuhan dengan resiliensi, serta apakah terdapat hubungan antara keterbukaan terhadap pengalaman dengan resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian, yaitu ada atau tidaknya hubungan antara kelekatan dengan Tuhan dan keterbukaan terhadap pengalaman dengan resiliensi mahasiswa Kristen di Kota Malang. Untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti menyusun hipotesis bahwa terdapat hubungan antara kelekatan dengan Tuhan dengan resiliensi, serta terdapat hubungan antara keterbukaan terhadap pengalaman dengan resiliensi mahasiswa Kristen di Kota Malang. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 197 mahasiswa usia 17-25 tahun di empat universitas di Kota Malang. Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling, dan teknik analisis data menggunakan Spearman's Rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kelekatan dengan Tuhan dengan resiliensi mahasiswa (r = 0.300; p0.05) artinya hipotesis kedua ditolak. Penelitian ini dapat memberikan sumbangsih bagi staf perkantas, bidang kerohanian kampus dan mahasiswa/i di Kota Malang. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat mendorong para peneliti selanjutnya untuk membahas topik resiliensi untuk subjek yang berbeda dan meneliti keterbukaan terhadap pengalaman dengan mempertimbangkan alat ukur yang sesuai dengan tempat penelitian dilakukan

    Analisis Retorika Paulus Di Surat Filemon Dan Implikasi Terhadap Teologi Paulus

    Get PDF

    Konsep “Pengantin Anak Domba” Sebagai Identitas Umat Allah dalam Kitab Wahyu dan Implikasinya bagi Gereja di Indonesia

    No full text
    Ketika seseorang percaya kepada Kristus, ia menerima identitas yang baru di dalam Kristus. Identitas yang baru tersebut hanya dapat diidentifikasi di dalam relasinya dengan Kristus. Alkitab menggambarkan relasi antara orang percaya dengan Kristus melalui begitu banyak penggambaran. Paulus menggambarkan gereja sebagai tubuh Kristus, di mana Kristus sebagai Kepalanya (1 Kor. 6:15). Penulis Injil menggambarkan relasi tersebut dengan imajinasi yang lebih luas, seperti relasi antara gembala dengan domba-dombanya (Yoh. 10:1-8), seperti pokok pohon anggur dengan ranting-rantingnya (Yoh. 15:5), atau seperti seorang ayah dengan anaknya (Luk. 15:11-32). Setiap penggambaran tersebut menggambarkan dimensi yang unik dan berbeda antara penggambaran yang satu dengan yang lain. Setiap penggambaran memiliki aspeknya tersendiri yang kemudian menjelaskan bagaimana sebenarnya relasi antara Kristus dengan umat-Nya. Kitab Wahyu kemudian memiliki caranya tersendiri untuk menggambarkan relasi tersebut. Yohanes sebagai penulis kitab Wahyu menggambarkan relasi antara Allah dengan umat-Nya seperti seorang pengantin dengan Mempelai Prianya. Penggambaran tersebut dibangun Yohanes di atas dasar nabi-nabi Perjanjian Lama. Hal ini menunjukkan bahwa simbol pengantin dalam kitab Wahyu dimaksudkan Yohanes sebagai puncak penggenapan nubuatan para nabi. Simbol pengantin menggambarkan akhir dari penantian umat Allah yang menantikan penggenapan janji Allah, bahwa Allah akan tinggal bersama-sama dengan umat-Nya. Simbol pengantin dalam kitab Wahyu menekankan secara unik dua dimensi dari relasi antara Kristus dengan umat-Nya. Dimensi yang pertama adalah hasrat yang dipuaskan hanya oleh kehadiran Allah. Sementara dimensi yang kedua adalah umat Allah dituntut untuk bertahan setia sampai akhir dalam penderitaan yang harus mereka jalani selama masa penantian tersebut. Pada akhirnya, simbol pengantin memberikan gambaran besar bagi umat Allah mengenai sejarah manusia dan akhir dari dunia ini dari perspektif Allah. Tujuan akhir dari umat Allah adalah menikmati Allah dalam kemuliaan-Nya dan hal tersebut hanya dapat terpenuhi di dalam Kristus.

    Apologetika Prasuposisional Triperspektivalisme John M. Frame dan Aplikasinya terhadap Pemikiran Kristen Pluralis tentang Pluralisme Agama di Indonesia

    No full text
    Pluralisme menjadi kesadaran baru yang menganggap bahwa semua keyakinan memiliki kesamaan secara umum satu dengan yang lain. Implikasinya, tidak ada satu pun agama yang boleh mengklaim bahwa ia adalah satu-satunya keyakinan yang paling benar di antara agama-agama lainnya. Indonesia sebagai negara pluralis juga menghadapi problematika pluralisme agama. Dalam menghadapi ini, muncul pemikiran Kristen pluralis yang menekankan persamaan di antara agama-agama sehingga meniadakan keunikan kekristenan: Kristus dan karya keselamatan-Nya benar sedangkan agama lainnya salah. Tulisan ini akan mengenalkan model berapologetika yang membela keunikan iman Kristen di tengah tantangan pemikiran Kristen yang pluralis tentang pluralisme agama di Indonesia: apologetika prasuposisional triperspektivalisme John M. Frame yang diuraikan melalui apologetika konstruktif (normatif), defensif (eksistensial), dan ofensif (situasional)

    Studi Relasi Paulus-Timotius dan Implikasinya terhadap Relasi Pembimbing-Murid dalam Pemuridan Masa Kini

    Get PDF
    Amanat Agung yang tercantum dalam Matius 28:18-20 menyatakan bahwa orang percaya mengemban mandat untuk menjadi dan menjadikan semua bangsa murid-murid Kristus. Dalam hal ini, Alkitab memberi tahu bahwa konteks dalam membuat murid adalah melalui relasi, seperti yang dicontohkan oleh rasul Paulus. Namun demikian, dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pemuridan sering kali mengalami tantangan. Tantangan tersebut datang dari arus globalisasi dan paham pascamodern yang membawa dampak negatif pada relasi dan spiritualitas orang Kristen. Selain itu, tantangan pemuridan juga dapat datang dari dalam gereja, yaitu ketika gereja memuridkan berdasarkan program dan bukan dengan menciptakan lingkungan pemuridan yang relasional. Sebab itu, para pembuat murid (dalam hal ini pemimpin gereja dan pembimbing) di zaman ini perlu membangun dan mengembangkan relasi-relasi yang alkitabiah dalam melaksanakan pemuridan. Berdasarkan pemahaman akan pentingnya sebuah relasi pemuridan oleh pembimbing bagi murid, maka dalam skripsi ini, penulis memfokuskan penelitian terhadap relasi pemuridan yang dibangun dan dikembangkan Paulus kepada Timotius dalam Alkitab. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implikasi relasi pemuridan Paulus kepada Timotius bagi relasi pembimbing dengan murid. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode deskriptif dengan fokus kepada penelitian kepustakaan. Setelah melakukan penelitian terhadap relasi pemuridan rasul Paulus kepada Timotius, penulis mendapati tiga relasi yang perlu dilakukan seorang pembimbing dalam membangun dan mengembangkan relasi pemuridannya kepada murid. Relasi-relasi tersebut adalah relasi pembimbing sebagai bapa rohani bagi murid, relasi pembimbing sebagai guru bagi murid, dan relasi pembimbing sebagai sahabat bagi murid. Jika ketiga relasi tersebut dibangun dan dikembangkan oleh para pembimbing, maka diharapan akan semakin banyak orang Kristen yang bertumbuh semakin serupa dengan Kristus di tengah tantangan zaman yang ada saat ini

    Tinjauan Kritis Terhadap Konsep Teologi Agama-agama Clark H. Pinnock Berdasarkan Perspektif Reformed

    Get PDF
    Clark H. Pinnock adalah tokoh inklusivisme yang sangat berpengaruh. Pinnock dengan inklusivismenya berusaha mengambil jalan tengah untuk menjawab kerumitan yang terjadi dalam menghadapi pluralitas agama. Mengambil posisi sebagai seorang inklusivis berarti tidak menerima klaim kekristenan sebagai satu-satunya jalan menuju keselamatan dalam Kristus layaknya kalangan eksklusivis namun tidak juga menerima anggapan bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama menuju kepada keselamatan. Namun nyatanya inklusivisme membuka celah bagi manusia untuk dapat memperoleh keselamatan melalui interaksi dengan nilai-nilai kebenaran dalam wahyu umum. Bagi Pinnock, tidak akan ada nilai kebenaran dalam wahyu umum tanpa adanya karya Kristus dan Roh Kudus-Nya yang bekerja terlebih dahulu atas dunia. Maka interaksi yang terjadi antara manusia dengan nilai-nilai kebenaran dalam wahyu umum ini dinilai Pinock sebagai interaksi yang secara tidak langsung membangun dasar iman secara implisit di dalam Kristus. Kesalahpahaman Pinnock ini tentunya juga berakar dari kesalahannya dalam menafsirkan kebenaran firman Tuhan yang dipakainya sebagai dasar berargumen. Pada akhirnya Pinnock juga gagal memahami misi Allah bagi dunia dan mengabaikan mandat Allah di dalam Amanat Agung. Melihat berbahayanya pandangan ini, penulis ingin menyatakan bahwa eksklusivitas karya keselamatan Kristus adalah hal yang mutlak dan lebih sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Penulis memberikan tinjauan kritis berdasarkan perspektif reformed, dengan menggunakan metode penelitian literatur, yang menolong penulis untuk memahami konsep-konsep penting serta memberikan kritik yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Penulis meyakini bahwa pandangan Pinnock telah melenceng dari kebenaran dan perspektif reformed memberikan jawaban atas kegelisahan dalam menghadapi pluralitas agama yang lebih sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Pada akhir penelitian ini disimpulkan bahwa eksklusivitas karya keselamatan Kristus adalah hal yang mutlak dan keselamatan hanya dapat diperoleh melalui Kristus dan iman yang eksplisit kepada Kristus. Melihat pentingnya pribadi Kristus, maka setiap orang percaya wajib melaksanakan mandat yang diberikan oleh Kristus di dalam amanat agung-Nya sebagai bentuk ketaatan kepada sang Juruselamat dan keterlibatan aktif dalam karya keselamatan Kristus bagi umat-Nya di dunia

    Analisis Kritis Terhadap Konsep Kemungkinan Orang Kristen Dirasuki Setan

    Get PDF

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇