STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Pregenealogical Coherence dan Teks Awal Markus 1:41
Diskusi teks Markus 1:41 merupakan salah satu diskusi teks yang paling menarik. Mayoritas sarjana menganggap bahwa bacaan σπλαγχνισθεὶς adalah bacaan sekunder, meskipun bacaan ini didukung oleh mayoritas saksi. Dalam tulisan ini, penulis akan menunjukkan bahwa bukti yang didapat dari analisis pregenealogical coherence makin memperkuat validitas bukti eksternal dalam mendukung bacaan σπλαγχνισθεὶς sebagai teks awal. Karena itu, bukti eksternal yang konklusif ini tidak boleh diabaikan begitu saja. Di akhir tulisan, penulis akan mendiskusikan secara singkat kemungkinan transkripsional (transcriptional probability) mengapa penyalin mengubah bacaan σπλαγχνισθεὶς menjadi ὀργισθείς
Hubungan Antara Kelekatan kepada Orang Tua dan Dukungan Iman Orang Tua dengan Religiositas Remaja di GKA Gloria Surabaya.
Peran orang tua dalam religiositas remaja sangat penting. Di tengah masa pubertas dengan berbagai perkembangan yang cukup kompleks dalam aspek kognitif, afektif, moral, sosial, dan iman, remaja membutuhkan orang tua yang dapat menolongnya melewati masa ini sehingga remaja dapat mencapai individuasi, termasuk untuk menentukan identitas imannya. Peran orang tua yang akan disoroti dalam penelitian ini adalah kelekatan dan dukungan iman.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah ada hubungan antara religiositas remaja dengan kelekatan kepada orang tua? Apakah ada hubungan antara religiositas remaja dengan dukungan iman orang tua? Teknik sampling yang akan digunakan adalah purposive sampling dengan asumsi bahwa sampel yang dipilih berdasarkan tujuan penulis untuk meneliti remaja di GKA Gloria di Surabaya.
Subjek penelitian adalah remaja berusia 13-18 tahun yang beribadah di kebaktian remaja di Gereja Kristen Abdiel Gloria di Surabaya, yaitu di GKA Pacar, GKA Satelit, GKA Rungkut, GKA Galaxy, dan GKA Nirwana. Dari 291 angket yang disebarkan di 5 gereja tersebut, ada 44 data yang tidak dapat digunakan sehingga data yang dapat digunakan dalam penelitian ini berjumlah 247 data.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur kelekatan adalah Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA), yang sudah disederhanakan oleh Nada Raja dan kawan-kawan, dan terdiri dari 12 item untuk ayah dan 12 item untuk ibu. Untuk mengukur dukungan iman, instrumen yang digunakan adalah Perceived Faith Support From Parents and Friends (PFS-P dan PFS-F) yang dibuat oleh Kelly Dean Schwartz, dan terdiri dari 8 item untuk ayah dan 8 item untuk ibu. Religiositas intrinsik akan diukur dengan menggunakan Intrinsic/Extrinsic-Revised Scale, yang dikembangkan oleh Richard L. Gorsuch dan Susan E. McPherson, yang terdiri dari 8 item intrinsik dan 6 item ekstrinsik. Data yang dipakai dalam penelitian ini hanya item intrinsik.
Analisis data menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis data menggunakan uji Spearman Rank Correlation untuk mengukur korelasi antara kelekatan kepada orang tua dengan religiositas intrinsik dan antara dukungan iman orang tua dengan religiositas intrinsik. Hipotesis pertama dari penelitian ini adalah semakin tinggi kelekatan kepada orang tua, maka semakin tinggi religiositas remaja. Hipotesis kedua adalah semakin tinggi dukungan iman orang tua, maka semakin tinggi religiositas remaja.
Hasil pengolahan data dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics 24 memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan positif antara kelekatan kepada orang tua dengan religiositas remaja dan adanya hubungan yang signifikan positif antara dukungan iman orang tua dengan religiositas remaja. Dengan demikian, hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua hipotesis dalam penelitian ini diterima.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kelekatan kepada orang tua dan dukungan iman orang tua dengan religiositas remaja di GKA Gloria Surabaya. Semakin tinggi kelekatan kepada orang tua, maka semakin tinggi religiositas remaja dan semakin tinggi dukungan iman orang tua, maka semakin tinggi religiositas remaja
“The Long Journey Home?” Sebuah Analisis Teologis terhadap Metode Berteologi Thomas C. Oden
Teologi ialah disiplin ilmu yang berkembang secara dinamis, majemuk, dan progresif. Metode berteologi pada satu kurun waktu tertentu umumnya menjadi bagian dari dialektika tiada berujung metode berteologi baru yang dihasilkan. Tidak heran berbagai sintesis teologis diformulasikan demi mengarah kepada teologi yang prospektif. Anehnya, alih-alih bersifat prospektif, metode berteologi Oden bersifat retrospektif. Oden kembali kepada masa lalu, tepatnya kepada tulisan para bapa gereja. Yang menjadi masalah ialah apakah proposal Oden yang tertuang dalam metode berteologinya ini adalah proposal yang relevan, khususnya dalam konteks teologi yang majemuk di abad 21? Ini yang menjadi fokus penelitian penulis. Tulisan ini akan memaparkan dan menganalisis tiga metode yang amat kentara dalam metode berteologi Oden, yaitu teologi yang kembali kepada tulisan patristik, berakar pada warisan sejarah kekristenan Afrika awal, dan bermuara kepada penggembalaan. Melaluinya, penulis berharap mendapatkan analisis teologis yang objektif dan kontributif. Ini dikarenakan terlepas dari gerak prospektif metode berteologi pada umumnya, penulis meyakini bahwa metode berteologi Oden yang retrospektif tetap memiliki relevansi signifikan bagi konteks teologi abad 21
Analisis Kritis Terhadap Doktrin Allah Tritunggal Karl Barth dari Perspektif Reformed dan Implikasinya Bagi Perdebatan Unitarian-Trinitarian di Indonesia
Karl Barth telah disalahpahami oleh sebagian orang karena dua hal ini: ia menyatakan Allah sebagai satu pribadi, dan Allah eksis dalam tiga modus keberadaan atau cara berada. Dikarenakan “satu esensi dan tiga pribadi” adalah formula Allah Tritunggal yang telah diterima secara luas oleh gereja-gereja Kristen, maka Barth dianggap mengajarkan modalisme. Untuk menyatakan Barth tidak mengajarkan modalisme, studi ini akan melakukan sebuah penelitian teologi sistematika, teologi sejarah, dan analisis kritis terhadap doktrin Allah Tritunggal Barth. Untuk mencapai tujuan tesis ini, penulis menerapkan penelitian kepustakaan.
Tesis ini akan menunjukkan kepada pembaca bahwa formula Allah Tritunggal Barth bukanlah sebuah ajaran modalisme, melainkan ajaran yang ortodoks. Konsep Barth tentang Allah sebagai satu pribadi dapat dipahami dari arti personal, ontologis, dan dominical (ketuhanan/keallahan/esensi). Sedangkan mengenai istilah “modus keberadaan,” istilah ini sebenarnya identik dengan “relasi-relasi asal-usul” (relations of origin), yaitu paternity, generatio, dan spiratio atau processio. Barth juga tidak menolak formula trinitarian yang klasik: satu esensi dan tiga pribadi. Dari hasil penelitian, ternyata di dalam sejarah gereja sebagian bapa gereja dan teolog reformed pernah menggunakan istilah “modus keberadaan.” Jika istilah ini memiliki pengertian yang sama dengan ajaran modalisme, tentu mereka tidak akan memakainya. Barth menyadari bahwa “modus keberadaan” dapat disalahpahami sebagai modus penampakan, modus penyataan, atau modus aksi seperti yang diajarkan dalam modalisme. Untuk itu, ia memberikan istilah lain, yaitu “cara berada” (way of being) selain “modus keberadaan” (mode of being). Ia menggunakan “modus keberadaan” untuk menunjukkan dirinya tidak sedang merumuskan sebuah formula yang baru tentang Allah Tritunggal, melainkan sebagai penerus ajaran yang ortodoks
Hubungan Antara Kelekatan Pemuda-Orang Tua dan Dukungan Iman Orang Tua dengan Religiositas Intrinsik pada Pemuda di Gereja-gereja Injili di Kota Bandung.
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian yaitu ada atau tidaknya hubungan antara kelekatan pemuda-orang tua dan dukungan iman orang tua dengan religiositas intrinsik pada pemuda di gereja-gereja injili di Kota Bandung. Untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti menyusun hipotesis bahwa terdapat hubungan antara kelekatan pemuda-orang tua, baik ibu maupun ayah, dengan religiositas intrinsik, serta terdapat hubungan antara dukungan iman orang tua, baik ibu maupun ayah, dengan religiositas intrinsik pada pemuda. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan penyebaran kuesioner. Subjek dalam penelitian ini yaitu 226 pemuda-pemudi usia 18-29 tahun dan belum menikah di 8 gereja injili di Kota Bandung. Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling, dan teknik analisis data menggunakan Spearman Rank Coefficient
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kelekatan pemuda-ibu dengan religiositas intrinsik pada pemuda (r = 0,170; p > 0,05) yang berarti hipotesis diterima. Hal ini terjadi karena responden memiliki kelekatan yang aman sehingga memiliki rasa aman dalam mengembangkan identitas religiusnya. Sedangkan kelekatan pemuda-ayah tidak ditemukan berhubungan dengan religiositas intrinsik (r = 0,051; p > 0,05). Dukungan iman orang tua juga tidak berhubungan dengan religiositas intrinsik (r ayah = 0,077; r ibu = 0,064; p > 0,05). Tidak adanya hubungan tersebut dapat dijelaskan dari beberapa faktor yaitu: tidak diketahuinya religiositas ayah dan kesamaan keyakinan pemuda dengan ayahnya, dampak nilai-nilai dalam sistem keluarga Tionghoa pada mayoritas responden, adanya kemungkinan figur kelekatan lain yang lebih berperan daripada ayah seperti hamba Tuhan atau teman-teman di gereja, serta faktor perkembangan iman pemuda itu sendiri. Penelitian ini dapat memberi sumbangsih bagi gereja-gereja injili, pembina rohani pemuda di gereja, dan pemuda Kristen di Kota Bandung. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi pendorong bagi penelitian selanjutnya terkait religiositas pemuda
Konsep Kebenaran Allah Menurut Rasul Paulus di dalam Surat Roma
Bagaimana Allah membenarkan orang-orang percaya di dalam proses keselamatan masih menjadi perdebatan di dalam kekristenan. Ada golongan yang berpandangan tindakan pembenaran Allah bersifat forensik dengan mengimputasikan kebenaran Kristus kepada seorang percaya sehingga ia mendapatkan status benar di hadapan Allah. Ada pula yang berpandangan pembenaran Allah itu bersifat moral dan transformatif dengan mengimpartasikan kebenaran Kristus di dalam diri orang percaya. Dan belakangan ini muncul pandangan New Perspective on Paul (NPP) yang merombak konsep pembenaran Allah tidak lagi bersifat forensik maupun etis, melainkan bersifat eklesiologis dengan memasukkan orang percaya di dalam komunitas umat Allah. Tulisan ini mengupas beberapa perikop kunci dari surat Paulus kepada jemaat di Roma guna memperlihatkan bahwa konsep kebenaran Allah dan karya pembenaran-Nya yang dipahami Paulus bersifat menyeluruh mencakup ketiga aspek tersebut
Gereja Di Rumah: Kontekstualisasi Fungsi-Fungsi Rumah Dalam Masa Perjanjian Baru Untuk Pekabaran Injil
Gereja dalam Perjanjian Baru adalah gereja di rumah. Mengapa murid-murid Yesus dan Paulus menggunakan rumah untuk kegiatan gereja? Mereka menggunakan rumah karena rumah adalah unit sosial, ekonomi dan religius. Ibadah dan pengajaran rohani biasa diadakan dalam rumah-rumah pada waktu itu. Karena fungsi sosial dan ekonominya, rumah juga membuka kontak dan komunikasi bagi para penginjil untuk memberitakan tentang Injil Yesus Kristus kepada jaringan sosial rumah di mana mereka melayani. Dengan demikian murid-murid Yesus dan Paulus telah melakukan upaya kontekstual yang cerdas dengan menggunakan rumah untuk membangun komunitas Kristen sekaligus pekabaran Injil. Terbukti kekristenan diterima secara luas dengan pendekatan gereja di rumah ini di tiga abad pertama sejarah kekristenan.
Kata-kata kunci: Kontekstualisasi, Gereja Rumah, Oikos, Komunitas Kristen, Pekabaran Inji
Hubungan Antara Pengalaman Kekerasan Masa Lalu dan Komunikasi Suami Istri dengan Kepuasan Pernikahan pada Istri
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah terdapat hubungan antara pengalaman kekerasan masa lalu dengan kepuasan pernikahan pada istri? Apakah terdapat hubungan antara komunikasi suami-istri dengan kepuasan pernikahan pada istri? Teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling dan teknik analisis data menggunakan Spearman Rank Coefficient. Subjek penelitian ini yaitu 198 istri yang telah menikah dan berada dalam status pernikahan aktif, artinya bukan janda karena bercerai atau suami telah meninggal. Para istri ini berada dalam batasan usia maksimal 55 tahun dan berjemaat di 6 gereja injili di kota Malang. Instrumen yang digunakan untuk mengukur pengalaman kekerasan masa lalu disusun oleh penulis sendiri yang terdiri dari 36 item valid dengan tingkat reliabilitas sebesar 0.937. Instrumen yang digunakan untuk mengukur komunikasi dalam pernikahan adalah Primary Communication Inventory (PCI) disusun oleh H.J. Locke, F. Sabaght, dan Mary. M. Thomas, dan dimodifikasi oleh L. Navran pada tahun 1967. Pertanyaan yang ada dalam inventori ini sebanyak 25 item. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kepuasan pernikahan ialah Couple Satisfaction Index (CSI) yang disusun oleh Janette L. Funk and Ronald D. Rogge pada tahun 2007, dan terdiri dari 32 item. Kedua instrumen di atas, yakni PCI dan CSI diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan telah divalidasi oleh 10 istri di Persekutuan Priskila. Hasil pengolahan data yang menggunakan program statistik SPSS memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan antara pengalaman kekerasan masa lalu dengan kepuasan pernikahan pada istri. Selain itu, hasil pengolahan data juga memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan antara komunikasi suami-istri dengan kepuasan pernikahan. Dengan demikian, hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua hipotesis penelitian diterima.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengalaman kekerasan masa lalu dengan kepuasan pernikahan. Semakin tinggi pengalaman kekerasan masa lalu semakin rendah tingkat kepuasan pernikahan pada istri, sebaliknya semakin rendah pengalaman kekerasan masa lalu semakin tinggi kepuasan pernikahan pada istri. Demikian juga, terdapat hubungan antara komunikasi suami istri dengan kepuasan pernikahan. Semakin baik komunikasi suami istri semakin tinggi kepuasan pernikahan pada istri, sebaliknya semakin buruk komunikasi suami istri semakin rendah kepuasan pernikahan pada istri