STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Metode Apologetika Naratif Imajinatif sebagai Sebuah Model Apologetika terhadap Generasi Muda Masa Kini.
Di tengah peradaban dunia yang terus berkembang, tidak dapat dipungkiri bahwa beragam tantangan yang dibawa oleh arus zaman ini tengah menghantui kehidupan generasi muda masa kini. Beragam kebudayaan yang terbentuk dengan nilai-nilai pengajaran atau wawasan dunia di dalamnya secara perlahan namun pasti telah merasuki dan mengubah pola pikir serta gaya hidup mereka. Terkhusus di dalam ranah kehidupan religiusitas. Relativisme, sekularisme, pragmatis, skeptis mewarnai kehidupan baik pola pikir dan daya hidup generasi muda masa kini di dalam melihat kehenaran iman mereka. Tidak berhenti sampai di sana, secara alamiah di dalam diri generasi muda pun juga sedang terjadi perkembangan secara fisik, sosial termasuk perkembangan intelektual dan moral. Perkembangan intelektual dan moral yang dialami oleh generasi muda ini jugalah memiliki andil yang besar bagi generasi muda di tengah nilai-nilai budaya masa kini yang berkembang, menjadikan mereka sebagai pribadi yang semakin kritis di dalam memandang kebenaran iman mereka. Jika dibiarkan tanpa ada pendekatan yang mampu menjawab dan mengakomodir kekritisan yang melanda sebagai pergumulan mereka, maka dapat dipastikan bahwa generasi muda bisa saja menolak kebenaran yang sesungguhnya karena dianggap tidak sesuai dengan mereka.
Untuk itulah di tengah kondisi yang demikian, dibutuhkan suatu pendekatan pembinaan apologetika bagi generasi muda masa kini yang sesuai dan relevan bagi mereka di tengah konteks zaman saat ini. Melihat metode apologetika yang sudah ada di tengah zaman sekarang ini, dinilai kurang relevan dan kurang mampu memiliki daya dalam berapologetika dengan orang-orang masa kini termasuk generasi muda masa kini, karena terlalu menekankan pada sisi rasionalitas semata tanpa melihat sisi lain dari manusia seperti hasrat dan imajinasi, yang jelas-jelas nyata ada di dalam diri manusia. Dari sinilah suatu metode apologetika yang berpijak pada peran imajinasi perlu untuk dikembangkan di dalam pendekatan terhadap generasi muda masa kini. Apalagi sekarang ini imajinasi mulai mendapat tempat di dalam proses pengetahuan akan kebenaran dan juga sangat dekat dengan kehidupan generasi muda masa kini yang sangat menyukai cerita, games, media interaktif serta sarana lainnya yang sangat memengaruhi imajinasi mereka. Dengan demikian jelas bahwa apologetika yang berbasis imajinasi dalam narasi sangat tepat untuk menjawab kebutuhan apologetika bagi pergumulan generasi muda masa kini terhadap iman mereka
Redemptive-Historical Approach: Suatu Pendekatan Hermeneutis Injili Yang Kristosentris
Di satu sisi, penekanan modernisme pada rasionalitas dan historisitas telah menghasilkan kristologi yang kritis-objektif. Di sisi lain, pascamodernisme yang berepistemologi pluralis menghasilkan kristologi yang subjektif. Menanggapi dan menjembatani dua sisi persoalan ini, pendekatan hermeneutis redemptive-historical diajukan sebagai pendekatan alternatif injili. Pendekatan yang berpusat pada Kristus sebagai kulminasi sejarah penebusan (seperti yang disaksikan Alkitab) ini mengaitkan tiga horizon yaitu: textual, epochal, dan canonical untuk menginterpretasikan teks Kitab Suci secara holistik. Pendekatan ini menganalisis sintaksis, konteks sastra, konteks sejarah dan genre-nya (textual horizon), mengaitkannya dengan sejarah penebusan (epochal horizon), dan melihatnya dalam terang keutuhan kanon (canonical horizon). Penggabungan ketiga unsur tersebut menekankan dinamika pemenuhan janji Allah dalam kulminasi tersebut. Dengan demikian, pendekatan hermeneutis redemptive historical dapat mengarahkan orang Kristen pembacaan dan penafsiran Alkitab yang kristosentris.
Kata-kata kunci: Pendekatan Redemptive-Historical, Epistemologi, Kristologi Modern Kristologi Pascamodern, Hermeneutika Injili Kristosentri
Tinjauan terhadap Konsep Ciptaan Baru menurut N.T. Wright dan Implikasinya bagi Praksis Hidup Kaum Injili dalam Ruang Publik di Indonesia
Indonesia adalah bangsa yang multikultural, terdiri dari berbagai macam suku, etnis, dan agama. Identitas multikultural ini diwadahi oleh Pancasila sebagai agama publik atau ideologi negara yang tidak mengakui sekularisme ataupun fundamentalisme. Dengan kata lain, ideologi ini memungkinkan setiap agama punya kesempatan yang sama untuk tampil dan berkontribusi di ruang publik tanpa tekanan ataupun dominasi tertentu. Namun, sejarah telah menunjukkan goresan kelam dari konflik yang mengatasnamakan agama di negeri ini. Konflik antar agama yang bercampur dengan politik identitas sudah mewarnai ruang publik Indonesia selama beberapa dekade belakangan. Menyikapi hal ini, sebagian orang Kristen di Indonesia ada yang memilih jalan dialog untuk menciptakan kedamaian dan kerukunan. Namun, dialog ini hanya sebatas mencari pengertian bersama dan tidak ada niatan untuk menunjukkan kesaksian Kristen di tengah bangsa. Sebaliknya, kaum injili di Indonesia masih cenderung menarik diri dari ruang publik. Selain itu, belum banyak juga teologi publik yang dikembangkan untuk menjadi dasar praksis orang injili dalam ruang publik di Indonesia.
Penulis melihat konsep ciptaan baru menurut N.T. Wright dapat menjadi dasar praksis kaum injili Indonesia. Wright memandang bahwa narasi kematian dan kebangkitan Kristus adalah narasi publik yang menunjukkan dirinya sebagai metanarasi yang mampu menjawab rintihan-rintihan manusia dan bahkan dunia. Dengan kata lain, orang percaya adalah agen-agen kerajaan Allah yang menghidupi vokasi ciptaan baru untuk menghadirkan surga di bumi. Setiap kehidupan orang percaya sedang memerankan adegan dalam narasi publik Allah ini, sehingga eksistensi orang percaya dalam bentuk apapun sedang menegaskan kerajaan Allah yang sudah datang ke dalam dunia. Penulis melihat setidaknya ada tiga area di mana praksis ini bisa dinyatakan, yakni dimensi multikulturalisme, dimensi politik, dan dimensi sosial. Namun, apa yang orang percaya lakukan bagi kerajaan Allah di dunia tetap bergantung sepenuhnya kepada inisiatif Allah yang sudah terlebih dahulu memberikan kuasa-Nya dalam diri orang percaya melalui Roh Kudus
The Letter and the Spirit: Relasi Antara Makna Literal dan Makna Spiritual dalam Pendekatan Interpretasi Teologis Kitab Suci
Kitab Suci adalah tulisan sakral yang merupakan sarana komunikasi dan penyataan diri Allah bagi gereja-Nya yang Am bahkan hingga hari ini. Meskipun demikian, terbentang jarak dan perbedaan-perbedaan yang besar antara dunia teks dan dunia pembaca kontemporer. Dampaknya, terjadi ketegangan antara menemukan makna teks bagi dunia pembaca masa lampau dengan menemukan signifikansi makna tersebut di tengah kompleksitas dan heterogenitas kehidupan pembaca masa kini.
Di dalam sejarah penafsiran Kitab Suci, terdapat juga pergeseran arus hermeneutis di dalam menemukan makna teks. Penafsiran pra-modern lebih berkeinginan untuk menemukan makna teks yang dapat diterapkan dalam pembangunan iman dan kerohanian jemaat, sehingga yang ditekankan adalah dimensi-dimensi spiritual dari teks. Berbeda dengan itu, penafsiran modern berupaya untuk menemukan justifikasi kebenaran objektif dan rasional dari teks, sehingga yang ditekankan adalah dimensi-dimensi historis dan literaris dari teks. Pergeseran hermeneutis ini menciptakan jurang yang semakin mendalam antara makna literal dan makna spiritual serta eksegesis dan teologi. Dibutuhkan sebuah alternatif pendekatan penafsiran yang dapat merangkul kedua kutub makna, guna menghasilkan pembacaan yang lebih berbuah bagi kehidupan umat masa kini.
Tulisan ini menawarkan pendekatan Interpretasi Teologis Kitab Suci (Theological Interpretation of Scripture/TIS) – yang memiliki semangat utama untuk mengembalikan atau menghidupkan kembali pembacaan Alkitab secara Kristen sebagai Kitab Suci Kristen – sebagai jembatan bagi masalah dikotomi makna dan kebutuhan hermeneutis. Pendekatan TIS mensintesakan eksegesis biblika, pandangan teologi, dan sejarah penafsiran di dalam membaca satu bagian teks. Secara khusus, pendekatan TIS juga berupaya merelasikan makna literal dan makna spiritual dengan menerima ragam makna yang bertanggungjawab dan diikat oleh motif Kristologis di dalam keseluruhan kanon. Perelasian antara makna literal dan makna spiritual ini dapat menghasilkan pembacaan yang lebih kaya dan berbuah bagi edifikasi gereja Tuhan, khususnya dalam hal penekanan kepada sakralitas Kitab Suci, pembacaan Kristologis terhadap setiap bagian teks, dan keterlibatan seluruh bagian tubuh Kristus di dalam membaca dan menafsir teks
Studi tentang Konsep Pemuridan dari Ucapan Bahagia dalam Matius 5:3-12 dan Implikasinya bagi Gerakan Pemuridan Masa Kini
Injil Matius memiliki konsep pemuridan yang sangat kental. Penulis Injil Matius menyusun dengan susunan yang unik yakni berisi pengajaran dan narasi yang saling bergantian. Pengajaran yang menarik dan sangat terkenal adalah Khotbah di Bukit yang dibuka dengan Ucapan Bahagia. Ucapan Bahagia menjadi bagian pembuka yang memiliki konsep pemuridan. Konsep tersebut ialah pola inner life. Pola ini menekankan bukan saja hasil pemuridan yang kasat mata, namun terlebih penting berkutat soal pembentukan hati seorang murid yang sudah mengalami transformasi bersama Allah hanya oleh anugerah-Nya. Sikap hati seorang murid di hadapan Allah menjadi penekanan penting dalam Ucapan Bahagia.
Gereja pada masa kini giat melakukan pemuridan. Namun, tidak jarang hal tersebut hanya berjalan beberapa waktu saja karena beberapa penyebab. Pemuridan tidak dapat dilakukan dengan sembarang atau tanpa persiapan. Sebaiknya, pemuridan perlu dilakukan dengan persiapan yang baik dan sesuai dengan konteks lingkungan setempat. Dengan demikian, pemuridan akan berjalan dengan efektif. Pemuridan menjadi wadah yang efektif untuk proses pertumbuhan rohani orang-orang percaya. Pemuridan seyogianya dilakukan dengan berlandaskan anugerah Allah untuk membangun Kerajaan Allah di dunia. Selain itu, pemuridan juga menjadi wadah pembentukan murid Kristus yang hidup berdasarkan kebenaran Allah dan siap bermisi walau menderita sekalipun
Etika Kristen Dan Teknologi Informasi: Sebuah Tinjauan Menurut Perspektif Alkitab
Indonesia adalah negara dengan pengguna internet yang tidak bisa dianggap remeh. Menurut sebuah survei, pada tahun 2018 Indonesia menduduki peringkat keempat di dunia dalam lamanya penggunaan waktu untuk berinternet dalam sehari, yaitu 8 jam 51 menit. Maraknya penggunaan internet di Indonesia ini masih belum dibarengi dengan kualitas yang baik dalam memanfaatkan teknologi informasi ini. Pemanfaatan internet di Indonesia yang mayoritas digunakan untuk media sosial dan gaya hidup ini juga dibayangi-bayangi dengan tingkat kejahatan dan penyalahgunaan yang mengkhawatirkan. Dengan latar belakang kondisi tersebut, tulisan ini akan menyoroti aspek-aspek nilai yang memengaruhi pola pikir, sikap dan perilaku pengguna internet dari sudut pandang etika Kristen, yaitu dalam hal kesejatian relasi, pengolahan informasi, otoritas kebenaran, serta identitas dan integritas pengguna
Peran Gereja dalam Memperlengkapi Orang Tua Membina Kerohanian Anak
Mewariskan iman kepada generasi penerus agar mengenal Allah yang benar dan mengasihi Allah adalah suatu perintah yang telah Allah berikan sejak dahulu kala. Namun realita yang terjadi hari ini menunjukkan banyak generasi muda justru meninggalkan gereja dan bahkan meninggalkan iman mereka. Gereja dan iman Kristen dirasa tidak lagi relevan dalam kehidupan masa kini. Orang tua pun merasa tidak mampu mendidik dan membina kerohanian anak-anak pada masa kini. Orang tua yang telah diberikan tugas dan tanggung jawab dari Allah pun tidak kuasa membimbing anak-anak dan melepaskan anak-anak kepada gereja. Ketiadaan peran orang tua dalam membina kerohanian anak pun berdampak bagi pertumbuhan spiritualitas anak. Gereja sebagai komunitas orang beriman tentu menerimanya dengan senang hati dan mengambil alih peran orang tua dalam membina kerohanian anak-anak. Gereja tidak melibatkan orang tua dalam pembinaan iman kepada anak-anak sehingga orang tua tidak tahu bagaimana membina iman anak-anak mereka. Pada akhirnya, gereja tidak menjalankan perannya dalam memperlengkapi setiap anggota tubuh Kristus dalam melayani dan bertumbuh kearah Kristus.
Ulangan 6:6-9 kembali mengingatkan orang tua bahwa Allah telah memberikan perintah kepada orang tua melalui Musa untuk mendidik setiap anak untuk mengenal Allah yang benar dan mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Tugas ini diberikan kepada orang tua untuk mendidik setiap anak dengan berulang-ulang menggunakan simbol-simbol yang dapat menolong mereka mengenal Allah. Selain itu, melalui eksposisi Efesus 4:11-16, kembali mengingatkan kepada gereja Tuhan bahwa setiap anggota tubuh Kristus yang telah menerima karunia dari Tuhan dipanggil untuk memperlengkapi setiap tubuh Kristus bagi pertumbuhan dan kesatuan tubuh ke arah Kristus Yesus. Allah memakai gereja untuk memperlengkapi setiap umat-Nya termasuk orang tua dalam membina kerohanian anak-anak pada masa kini. Penting bagi gereja untuk mempersiapkan dan memperlengkapi orang tua dalam menghadapi perkembangan anak pada masa kini. Melalui pelayanan anak atau pun pelayanan keluarga, gereja dapat memperlengkapi setiap orang tua membina kerohanian anak-anak
Pembuktian Kebangkitan Yesus Bukan Halusinasi: Tinjauan Terhadap Keraguan Kebangkitan Yesus Secara Historis
Hubungan antara Pengalaman Kekerasan dan Kelekatan Remaja-Orang Tua dengan Hasrat Menggunakan Pornografi Online pada Remaja (15-19 Tahun) Pusat Pengembangan Anak di Gereja Kristen Injili Nusantara Malang.
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian, yaitu ada tidaknya hubungan antara pengalaman kekerasan masa lalu dan kelekatan remaja-orang tua dengan hasrat menggunakan pomografi online pada remaja (15-19 tahun) Pusat Pengembangan Anak di Gereja Kristen Injili Nusantara Malang. Untuk menjawab pertanyaan tersebut peneliti menyusun hipo tesis bahwa terdapat hubungan antara pengalaman kekerasan masa lalu dengan hasrat menggunakan pomografi online pada remaja, serta terdapat hubungan antara kelekatan remaja-orang tua dengan hasrat menggunakan pomografi online pada remaja. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dengan penyebaran kuesioner. Subjek dalam penelitian ini yaitu 228 remaja usia 15-19 tahun di Pusat Pengembangan Anak yang terdapat di delapan Gereja Kristen Injili Nusantara yang terletak di Kota Malang. Teknik pengambilan sampel menggvmakan convenience sampling, dan teknik analisis data menggunakan Spearman Rank Coefficient.
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara pengalaman kekerasan masa lalu dengan hasrat menggunakan pomografi online pada remaja (r=0,190; p>0,01) yang berarti hipotesis ditolak. Tidak adanya hubimgan dapat dijelaskan melalui beberapa faktor yaitu: masa remaja adalah puncak perkembangan seksualitas, karakteristik di usia remaja yang disebut sebagai masa eksplorasi, budaya media, pomografi sebagai isu sensitif dan orang tua bekerja. Sedangkan kelekatan remaja-orang tua dengan hasrat menggunakan pomografi online pada remaja menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan (r=0,043; p<0,05) yang berarti hipotesis diterima. Hal ini terjadi karena responden memiliki kelekatan yang aman dengan orang tua sehingga remaja yang memiliki kelekatan yang aman dengan orang tua menunjukkan tingkat hasrat menggunakan pomografi yang rendah dan sebaliknya, remaja yang memiliki kelekatan tidak aman dengan orang tua menunjukkan hasrat menggunakan pomografi online yang tinggi. Penelitian ini dapat memberi sumbangsih bagi gereja-gereja injili, pembina rohani di gereja dan Pusat Pengembangan Anak di Gereja Kristen Injili Nusantara Malang. Selain itu, penelitian ini juga menjadi pendorong bagi penelitian selanjutnya terkait hasrat menggunakan pomografi online remaja