STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Tim Kerja Menunjang Pemenuhan Pelayanan Gerejawi

    Get PDF
    Ketika kita memasuki sebuah gereja, sadar atau tidak sadar kita melihat bahwa gereja hadir di tengah kehidupan jemaat dan masyarakat yang kompleks. Gereja sebagai ‘umat Allah,’ kemanusiaan yang baru, mencakup orang Yunani, orang Romawi, hamba dan orang merdeka. Gereja sebagai umat Allah tanpa batas etnis, bahkan tanpa batas nasional, tanpa strata sosial. Gereja sebagai umat Allah bukan produk dari sekelompok orang demi menghormati nama Tuhan. Gereja adalah ciptaan Tuhan sendiri melalui panggilan, kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus dan dalam kuasa Roh Kudus. Dalam kuasa Roh Kudus itulah tembok-tembok etnis dan tembok-tembok pemisah yang lain dirobohkan. Jika gereja dipahami demikian, maka jelas kehadirannya di tengah situasi dan kondisi yang multikompleks menuntut pemenuhan-pemenuhan kebutuhan baik untuk kehidupan berjemaat maupun bermasyarakat. Bagaimana gereja bisa berperan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu agar kehadirannya menjadi berkat? Hal ini berkaitan dengan cara kerja kita dalam mengelola gereja. Dengan cara apa kita menggarap pekerjaan yang sangat kompleks itu? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para pemimpin gereja. “Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mengetahui bahwa tugasnya adalah membangun tim efektif yang akan melestarikan mereka.” Karena itu cara kerja yang individual akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan gereja. Kerja tim jauh lebih efektif ketimbang kerja secara individu

    Mengenal Filsafat Pendidikan Paulo Freire : Antara Banking Concept of Education, Problem Posing Method, dan Pendidikan Kristen di Indonesia

    Get PDF
    Paulo Freire adalah salah seorang dari sembilan pendidik Kristen — baik dari kalangan Protestan maupun Katolik— yang dianggap paling berpengaruh di abad ke-20 ini. Berbeda dengan delapan pendidik lain yang kebanyakan lahir dan berkarya di negara maju, Freire dilahirkan dan berkarya, dalam sebagian besar hidupnya, di dunia ketiga. Latar belakang sosial budaya dari pemikiran Freire yang tidak terlalu berbeda jauh dengan kondisi Indonesia inilah yang menjadi salah satu alasan utama untuk mengenal dan mencoba menggali relevansi pemikirannya bagi pendidikan di Indonesia pada umumnya, dan secara khusus untuk pendidikan Kristen di Indonesia. Tulisan ini akan mencoba memperkenalkan filsafat pendidikan Freire. Untuk itu akan dipaparkan latar belakang kehidupannya dan pandangannya tentang pendidikan. Penulis akan memaparkan secara garis besar alur pemikiran pendidikan Freire untuk menampilkan “gambar besar” bagi pembaca yang belum terlalu mengenalnya. Selanjutnya, secara khusus penulis akan menyoroti dikotomi antara “Banking Concept of Education” dan “Problem Posing Method” yang tampaknya menjadi salah satu pemikirannya yang khas. Berikutnya, penulis akan mencoba berdialog secara kritis dengan pemikiran Freire untuk melihat kemungkinan-kemungkinan sumbangsihnya yang aplikatif dan kontekstual untuk pendidikan Kristen di Indonesia

    Gereja Sebagai Umat Pilihan Allah dalam Pandangan Clemens Romanus

    Get PDF
    Surat 1 Clement yang ditulis oleh Clemens Romanus (Clement of Rome) adalah salah satu naskah gereja abad permulaan yang dianggap memegang peranan penting dalam sejarah gereja mula-mula. Surat ini ditulis pada akhir abad pertama Masehi, sekitar tahun 95-96, dan merupakan tulisan Kristen paling awal sesudah penutupan kanon Perjanjian Baru yang kita miliki. Naskah ini berbentuk surat kiriman dan dicantumkan bersama-sama dengan salinan naskah Perjanjian Baru yang dimuat dalam Codex Alexandrianus, yang selalu dinilai memiliki bobot yang tinggi dalam analisa tekstual untuk salinan kitab-kitab Perjanjian Baru. Kenyataan bahwa surat ini dicantumkan bersama-sama dengan salinan Perjanjian Baru membuktikan bahwa gereja abad mula-mula sangat menghargai surat ini. Selain itu, surat ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Syriac, dan Coptic, sehingga isinya dapat dibaca oleh lebih banyak umat Kristen di wilayah yang lebih luas lagi, yakni di sekitar Yunani, Siria, Palestina dan Mesir pada akhir abad pertama dan awal abad kedua Masehi. …Tujuan penulisan artikel ini ialah untuk menunjukkan bahwa bagi Clement, pemahaman mengenai gereja sebagai umat pilihan Allah yang diikat erat dengan tali kasih satu dengan yang lain, adalah cara terpenting untuk mengatasi dan mencegah perpecahan di antara orang percaya. Menurut Clement gereja sebagai umat pilihan Allah memiliki tanggung jawab yang besar untuk menunjukkan kasih satu kepada yang lain

    Depolarisasi Sikap Kristen Terhadap Agama-Agama Lain : Suatu Analisis Terhadap Inklusivisme Clark H. Pinnock

    Get PDF
    Salah satu dari sepuluh trend baru memasuki milenium ketiga adalah kebangkitan agama-agama/' Ini berarti bahwa gereja tidak dapat eksis dalam kesendirian, sebaliknya ia sedang dan selalu akan berhadapan dan berinteraksi dengan agama-agama lain intens dan dinamis. Kondisi ini mengharuskannya mengambil sikap yang tepat di tengah konteks kemajemukan agama yang demikian. Sayangnya, sikap gereja yang muncul terhadap agama-agama lain justru mengalami polarisasi. Ini disebabkan oleh adanya ketegangan di dalam kepercayaan Kristen, antara kepercayaan bahwa Allah mengasihi seluruh dunia (universalitas) dan kepercayaan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Allah (partikularitas). Penekanan keduanya secara polaris menghasilkan dampak yang negatif. Kutub universalitas sangat menekankan anugerah Allah yang universal, sehingga apapun konsekwensinya, Allah harus menyediakan jalan keselamatan bagi semua orang, termasuk di dalam agama-agama lain. Ini berarti fokus dan muatan iman Kristen •yang bertumpu pada kebenaran fundamental yang normatif menjadi relatif dan cenderung disamakan dengan apa yang ada dalam agama lain. Di sisi lain, kutub partikularitas dengan klaim Kristologi eksklusifnya menimbulkan sikap superior, tertutup dan sangat apriori terhadap agama-agama lain. Di tengah kondisi yang terpolarisasi ini, ada semacam desakan untuk menjawab masalah tersebut, dan salah satu alternatif yang diajukan adalah usaha merekonsiliasi kedua kutub tersebut, atau dengan istilah lain, usaha mendepolarisasi. dan pandangan inklusif Clark H. Pinnock, walaupun bukan yang pertama, juga bertujuan mencari jalan keluar terhadap masalah polarisasi di atas.“ Tulisan ini berusaha menganalisis inklusivisme Pinnock, sebagai salah satu model alternatif yang berusaha merekonsiliasi kedua kutub yang terpolarisasi. Tulisan ini disusun dengan sistematisasi sebagai berikut: menjelaskan secara singkat pandangan universalitas dan partikularitas; kemudian menjelaskan usaha merekonsiliasi kedua kutub tersebut melalui model inklusivisme Pinnock; dan terakhir, mencoba menganalisis model inklusivisme Pinnock. Dari analisis usaha rekonsiliasi ini, akan muncul beberapa kontribusi positif yang dapat disumbangkan, dan sebaliknya ada hal-hal negatif yang perlu dihindari. Melalui analisis ini, diharapkan muncul pikiran-pikiran yang orisinil, bertanggungjawab, dan relevan, paling tidak dari perspektif tradisi teologi injili, sebagai solusi alternatif terhadap masalah polarisasi sikap, baik dalam konteks intern kekristenan (antara pluralis dan eksklusif) maupun dalam konteks ekstern agama-agama (antara kekristenan dan agama-agama lain). Diharapkan juga tulisan ini dapat menolong gereja menempatkan dirinya berdampingan dan berinteraksi dengan baik dengan agama-agama lain, sehingga panggilan dan peranannya sebagai terang dan garam dunia menjadi semakin nyata

    Teologi Pluralisme Agama John Hick : Sebuah Dialog Kritis dari Perspektif Partikularis

    Get PDF
    Salah satu lagu George Harrison, anggota kelompok The Beatles yang terkenal, berjudul “My Sweet Lord.” Salah satu kalimat pada bagian refrainnya berbunyi: “I really want to know you, Lord, but it takes so long.” Kalau kita simak, pada latar belakang lagu ini terdengar paduan suara menyanyikan “Halleluyah.” Jika didengar sepintas lalu, lagu ini memberikan kesan seolah-olah lagu Kristen. Tetapi jangan keliru, karena Halleluyah ini kemudian berubah menjadi “Hare Krishna, Krishna, Krishna,” lalu nama dewa-dewa orang India muncul. Lagu ini menunjukkan ciri khas pemikiran kebanyakan orang pada masa kini. Mereka percaya bahwa agama-agama adalah jalan menuju Allah. Kemajemukan agama adalah fakta yang telah lama kita jumpai. Namun pada masa kini fakta kemajemukan agama bukan hanya sesuatu yang diterima tetapi juga dianggap baik, bahkan perlu dijaga, sebagaimana dikemukakan oleh Lesslie Newbigin: Kita sudah terbiasa mengatakan bahwa kita hidup di dalam masyarakat yang majemuk—bukan hanya masyarakat yang pada kenyataannya majemuk dalam bermacam-macam kebudayaan, agama, dan gaya hidup, tetapi juga majemuk dalam arti bahwa kemajemukan ini dirayakan sebagai perkara yang disepakati dan dihargai. Di sini kita perlu membuat perbedaan antara pluralisme agama sebagai sebuah fakta dan pluralisme agama sebagai suatu ideologi. Pluralisme sebagai suatu ideologi adalah suatu kepercayaan bahwa pluralisme ini didukung serta diinginkan, dan bahwa klaim-klaim normatif yang berbau imperialistik serta bersifat memecah belah perlu dibuang. Salah seorang tokoh pluralisme agama yang cukup terkenal adalah John Hick, yang membangun suatu pluralisme hipotetis yang cukup solid dan komprehensif. Artikel ini adalah sebuah dialog kritis terhadap pandangan Hick, khususnya mengenai metodologi, epistemologi, pandangannya tentang Yang Real (The Real), dan konsep keselamatannya. Sistematika penulisan artikel ini adalah sebagai berikut: Pertama, akan dibahas perjalanan spiritual Hick hingga ia sampai pada teologi pluralisme agamanya, dilanjutkan dengan pemaparan Hick mengenai masalah hubungan antara kekristenan dan agama lain di dalam sejarah agama Kristen. Bagian berikutnya akan mengulas metodologi, epistemologi, Yang Real serta konsep keselamatan menurut Hick. Selanjutnya adalah dialog kritis terhadap metodologi, epistemologi, konsep tentang Yang Real dan konsep keselamatan Hick. Bagian terakhir merupakan pembelaan atas keberatan Hick terhadap pandangan partikularisme

    Peran Roh Kudus di dalam Doa menurut John Calvin

    Get PDF
    B. B. Warfield (1851-1921), seorang teolog Princeton Theological Seminary, pernah menjuluki Calvin (1509-1564) sebagai “teolog Roh Kudus.” Ia mengatakan bahwa doktrin tentang karya Roh Kudus merupakan hadiah dari Calvin kepada Gereja. Mengapa demikian? Karena Calvin adalah orang pertama yang mengaitkan seluruh pengalaman keselamatan orang-orang percaya dengan karya Roh Kudus, dan mengajarkannya secara detail. Ia juga memikirkan tahapan-tahapan karya Roh Kudus dalam menyelamatkan manusia. Namun uniknya, hingga saat ini sangat jarang cendekiawan Calvinisme menulis tentang doktrin Roh Kudus menurut Calvin. I. John Hesselink mengatakan: “Hence it is a conundrum that so little has been written concerning Calvin’s doctrine of the Holy Spirit, especially in the English-speaking world where there has been so much Calvin research over the last forty years.” Hal ini, barangkali, disebabkan oleh dua hal. Pertama, Calvin sendiri hanya menulis satu bab yang pendek mengenai Roh Kudus di dalam Institutes-nya (III.1); dan kedua, karena ia mengaitkan hampir semua doktrin yang ia bahas dengan Roh Kudus. Karena itu, untuk membahas doktrin Roh Kudus menurut Calvin, kita perlu membahas seluruh teologinya. Ini bukan sesuatu yang mudah untuk dikerjakan sehingga tidak heran hanya sedikit pakar yang mampu melakukannya. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk memenuhi kekosongan di atas, namun hanya ingin memperkenalkan sebagian kecil dari ajaran Calvin mengenai Roh Kudus, yaitu peranan Roh Kudus di dalam doa. Sistematika penulisannya adalah, pertama, penulis akan membahas definisi dan perlunya doa menurut Calvin. Kedua, peranan Roh Kudus dalam doa menurut Calvin, yaitu sebagai inisiator dan sebagai guru

    Daging yang Dipersembahkan kepada Berhala-Berhala : Suatu Eksegese terhadap 1 Korintus 8:1-13

    Get PDF
    Tulisan ini merupakan suatu eksegese terhadap 1 Korintus 8:1-13 yang bertujuan untuk melihat bagaimana Paulus secara persuasif mendorong orang-orang percaya di Korintus untuk tidak makan “daging yang dipersembahkan kepada berhala-berhala.” Paulus menggunakan argumentasi yang berdasarkan pada pertimbanganpertimbangan motivasi, teologis dan praktis untuk mendukung pendapatnya. Kebenaran perikop ini tidak hanya dapat diterapkan pada orang-orang Korintus saat itu, tetapi juga bagi orang-orang Kristen di Indonesia pada saat ini yang hidup dalam dunia yang multikultural

    Memahami Ulang Konteks Berteologi John Calvin dalam Doktrin Predestinasi

    Get PDF
    Artikel ini tidak bermaksud secara langsung dan detail menguraikan doktrin predestinasi, atau bahkan menjawab serangkaian pertanyaan rumit yang sering kali muncul seputar doktrin ini. Artikel ini lebih merupakan suatu usaha untuk memahami kembali kerangka dasar atau konteks doktrin predestinasi sebagaimana diajarkan oleh John Calvin. … Artikel ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama membahas konteks pemahaman doktrin predestinasi Calvin dengan mengamati perkembangan tulisan-tulisannya guna melihat kerangka atau pola dasar pemikirannya tentang predestinasi. Bagian kedua merupakan aplikasi pemahaman bagian pertama di dalam membaca tulisan Calvin tentang predestinasi dalam relevansinya dengan konteks yang ia maksud

    Reformasi, Teologi dan Kehidupan Sehari-Hari : Ajaran Calvin dan Konsistori di Geneva tentang Pernikahan

    Get PDF
    Setiap kali kita membicarakan Reformasi yang terjadi pada abad keenam belas, sering kali perhatian kita hanya tertuju pada formulasiformulasi teologis dengan segala pernik-perniknya serta kompleksitas pemahaman dogmatika dari para reformator. Pandangan seperti ini menyebabkan kita lupa bahwa Reformasi itu sendiri terjadi karena para reformator berupaya untuk memaparkan pemikiran teologis mereka dengan tujuan agar jemaat umum bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. … Melalui tulisan ini penulis berupaya untuk memaparkan bagaimana Calvin menerapkan pandangan reformasi mengenai pernikahan, baik dari sudut pandang teologis, aturan tata gereja Geneva dan dalam praktek seharihari. Penelitian ini dipusatkan pada masa dekade pertama sejak Calvin menerbitkan edisi pertama Institutio pada tahun 1536 sampai pada penerbitan Peraturan Tata Cara Pernikahan yang dikeluarkan oleh para pemimpin di Geneva pada tahun 1547. Dekade pertama ini memiliki peran penting dalam sejarah Reformasi di Geneva, sebab pada masa ini ajaran Reformasi dari Calvin berada pada masa ujian untuk meneguhkan dasardasar pemikiran teologisnya; pada saat yang sama juga mengubah cara berpikir jemaat dari cara lama yang berdasarkan ajaran gereja dan kepausan yang berpusat di Roma dengan segala penekanannya tentang sakramen yang dicampur dengan ajaran mistis dan penuh takhyul. Dari hasil penelitian ini penulis berharap agar para pembaca bisa melihat bahwa upaya yang dilakukan oleh Calvin untuk menerapkan teologi Reformasi dalam kehidupan jemaatnya tidaklah mengalami jalan yang mudah. Di satu sisi Calvin harus berdiri di atas ajaran Alkitab dan menyampaikan ajaran Alkitab ini bagi jemaatnya. Di sisi lain, jemaat yang pada umumnya belum terpelajar dan cara berpikirnya sangat dipengaruhi oleh kebudayaan dan adat yang dibentuk oleh gereja di Roma dengan segala pemikiran takhyul dari abad pertengahan, masih sulit berubah apa lagi dalam hal pernikahan. Dari catatan konsistori Geneva yang penulis akan ketengahkan di sini, pembaca dapat melihat bagaimana orang-orang di Geneva menghadapi problema pernikahan mereka, dan bagaimana Calvin serta para pendeta lainnya menerapkan ajaran Reformasi mereka

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇