STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Sekolah Teologi dan Gerakan Penginjilan

    Get PDF
    Artikel ini membahas kaitan antara sekolah teologi dan penginjilan

    Kejahatan dan Kehendak Bebas Menurut Agustinus serta Kontribusinya Dalam Pergumulan Tentang Teodisi

    No full text
    Realitas kejahatan yang dilakukan oleh banyak orang dan menimpa para korban yang tidak bersalah sering memaksa orang menggugat peran Allah yang Mahatahu dan Mahkuasa. Jawaban yang sementara orang berikan atas masalah di atas dengan merujuk pada kenyataan bahwa manusia memiliki kehendak bebas, sehingga ia mempunyai kemampuan untuk menghendaki segala sesuatu dan memutuskan segala sesuatu termasuk melakukan kejahatan, sering tidak memuaskan dan tidak membebaskan Allah begitu saja dari tuduhan dan tuntutan. Masalahnya adalah kehendak bebas itu anugerah Tuhan, sehingga lahir sebuah pertanyaan lain, yakni mengapa la memberi anugerah seperti itu kepada manusia? Lalu sesungguhnya apakah korelasi antara kehendak bebas, kejahatan dan Allah sendiri? Kajian ini mengangkat pandangan Agustinus karena ia memberi perhatian yang besar kepada masalah kejahatan dan kehendak bebas. Selain itu, pemikiran tentang terhadap kedua topik tersebut mau tidak mau menghubungkan orang dengan problem teodisi yang sampai kini masih menjadi pergumulan banyak orang termasuk orang Kristen. Meskipun istilah teodisi itu sendiri baru diperkenalkan pada awal abad 18, namun secara tidak langsung ia telah diperbincangkan dan digumulkan oleh para pakar filsafat dan teologi sebelum abad 18 seperti Agustinus misalnya. Dalam rangka mengkaji masalah yang telah dikemukakan tadi, maka metode pengumpulan data yang ditempuh ialah studi literatur. Banyak buku dan artikel perihal kejahatan, kehendak bebas dan teodisi menurut Agustinus baik yang ditulis oleh dirinya sendiri maupun orang lain serta pandangan Kekristenan tentang materi di atas mendapat perhatian dan kajian yang serins. Sedangkan metode penulisan yang dilakukan ialah deskripsi analitis. Dengan metode ini, penulis hendak memberikan gambaran yangjelas tentang permasalahan yang terjadi dengan menjelaskan latar belakang dan materi bahasan itu sendiri. Penulis juga melakukan analisa kritis untuk mendapatkan signifikansi serta manfaat bagi realitas saat kini. Kajian ini hendak memaparkan signifikansi kehidupan manusia secara umum dan orang Kristen secara khusus. Signifikansi bahwa setiap orang pada dasarnya tidak dilahirkan sebagai makhluk yang tidak berdaya, sebab ia memiliki kekuatan besar dalam dirinya .sendiri, yakni kehendak bebas. Dengan kehendak bebas, manusia diajak untuk lebih berani bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan tidak mudah mengkambing- hitamkan pihak lain atas sesuatu buruk yang menimpa dirinya. Dengan kata lain, kajian ini bermanfaat bagi orang Kristen yang terus bergumul dengan masalah keadilan Tuhan. Bermanfaat untuk mendorong orang percaya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang kemahatahuan, kemahakuasaan dan keadilan-Nya sehingga ia tidak mudah untuk mengeluh kepada Tuhan maupun terjebak dengan fatalisme, Kajian ini diharapkan memampukan orang Kristen memiliki pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang kehendak bebas sebagai anugerah-Nya, sehingga ia tidak mudah menyalahartikan maupun menyalahgunakannya untuk berbuat kejahatan. Pengharapan lain ialah orang Kristen menjadi semakin terbeban untuk hidup benar dalam kebebasan serta selalu mau taat dan percaya kepada Tuhan terlepas dari segala situasi-kondisi yang dialaminya. Sebagaimana yang diyakini oleh Agustinus, maka memang benar bahwa banyak tindak kejahatan yang berasal dari kehendak bebas manusia. Allah bukan pihak yang menyebabkan kejahatan kecuali menjadikannya sebagai bentuk penghukuman atas kejahatan yang telah diperbuat manusia sebelumnya. Kehendak bebas manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan kejahatan disebabkan oleh dosa asal. Oleh karena itu kebebasan sejati ialah kebebasan yang diwujudkan dengan menundukkan diri kepada ajaran Kristus, sehingga untuk mencapainya ia harus mendapatkan anugerah Allah, supaya kehendak bebasnya mampu diisi dengan kehendak balk. Walaupun demikian uraian Agustinus belum memadai untuk menjawab persoalan orang tidak bersalah yang menjadi korban kejahatan sesamanya. Oleh karena itu orang Kristen sebaiknya memandang dan memberlakukan teodisi seperti dua sisi dari sekeping uang logam. Sisi pertama ialah kehendak bebas manusia. Sisi yang menyadarkan orang akan tanggung jawabnya atas pelbagai tindakan kejahatan yang terjadi, serta yang membahas pengaruh .serta peran yang telah dilakukan seseorang sehingga kejahatan menimpa dirinya. Sisi lainnya ialah campur tangan Tuhan, yaitu sebuah wilayah yang kurang dikaji oleh Agustinus tetapi justru disajikan dengan baik oleh kesaksian firman Tuhan. Sesungguhnya orang Kristen patut bersyukur kepada Tuhan mengingat. la adalah Allah yang terlibat langsung dalam sejarah kehidupan manusia. la bukan sekadar transenden tetapi juga imanen. Dalam Yesus Kristus, la turut berjuang dan menderita bersama dengan manusia. Berdasar kajian di atas, maka bagi seorang Kristen yang sungguh-sungguh menghayati dan memelihara hubungannya dengan Tuhan, teodisi bukanlah sesuatu yang harus digumulkan apalagi sampai diperkarakan. Jika ia sering hadir sebagai masalah besar maka hal itu lebih disebabkan oleh ketidaksiapan spiritualitas dari pihak yang mengalaminya

    Anugerah Tuhan dan Kelemahan Seorang Pemimpin Kristen (2 Korintus 12:1-10)

    Get PDF
    Naskah Khotba

    Kebangkitan Yesus : Titik Kesinambungan Antara Kristus Iman dan Yesus Sejarah

    No full text
    Sejak Zaman Pencerahan {Renaissance) figur Yesus sebagai manusia menjadi objek penelitian ilmu sejarah. Pencarian Yesus Sejarah dimulai oleh Hermann Samuel Reimarus, dan karya-karyanya dipublikasikan oleh Gotthold Ephraim Lessing. Sejak itu pencarian Yesus Sejarah mulai berkembang, kemudian menjadi semarak di dalam dua abad terakhir. Para pencari Yesus Sejarah melihat Alkitab tidak cukup untuk memberikan data- data tentang Yesus Sejarah secara lengkap, karena itu mereka menggunakan sumber- sumber lain di luar Alkitab untuk menemukan kembali figur Yesus Sejarah. Di dalam pencarian Yesus Sejarah dengan berdasarkan Rasionalisme dan kritik Alkitab, kebanyakan dari mereka menolak peristiwa kebangkitan Yesus. Akibatnya, mereka memperoleh gambaran Yesus Sejarah yang berbeda dengan ICristus iman, dan mereka berkesimpulan bahwa Kristus Iman tidak berkesinambungan dengan Yesus Sejarah. Kemudian mereka berpikir ulang mengenai Yesus sebagai Mesias, kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai Anak Manusia, dan pemberitaan-Nya mengenai kedatangan Kerajaari Allah. Para pencari Yesus Sejarah menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias dalam arti politik, dan la mati sebagai pemimpin politik yang gagal untuk membebaskan bangsa Israel dari kekuasaan Romawi dan gagal mewujudkan kerajaan Israel. Bagi mereka. Kerajaan Allah adalah perwujudan pemerintahan barn dan tidak disempumakan pada akhir zaman. Karena itu mereka menolak pandangan mengenai kedatangan Yesus yang kedua kali sebagai Anak Manusia untuk mewujudkan Kerajaan Allah yang sempuma. Sedangkan di dalam Kristus Iman, Yesus diberitakan dan diimani sebagai Mesias dalam arti rohani. Kristus Iman juga menekankan kedatangan Yesus yang kedua kali sebagai Anak Manusia di akhir zaman. Begitu pula dengan Kerajaan Allah sebagai perwujudan pemerintahan Allah akan menjadi sempuma pada saat kedatangan-Nya yang kedua kali. Peristiwa kebangkitan Yesus bagi kekristenan mempakan hal penting yang haras dipertahankan, sebab kebangkitan-Nya menjadi dasar iman Kristen. Kebangkitan Yesus juga sebagai titik Kesinambungan antara Kristus Iman dan Yesus Sejarah. Untuk membuktikan Kristus Iman berkesinambungan dengan Yesus Sejarah, maka perlu membahas terlebih dahulu mengenai kebangkitan Yesus sebagai fakta Sejarah. Karena Alkitab adalah firman Allah dan sebagai sumber utama, maka cerita kubur kosong, penampakan Yesus, dan perubahan para murid menjadi bukti kebangkitan Yesus sebagai peristiwa nyata, kebangkitan tubuh, dan kepercayaan jemaat mula-mula. Dengan demikian peristiwa kebangkitan Yesus bukan hasil karangan cerita para murid-Nya, tetapi kebangkitan Yesus sebagai fakta sejarah. Karena itu kekristenan tidak didirikan di atas dasar kebohongan para murid, melainkan di atas dasar Yesus dari Nazaret. Begitu pula kebangkitan Yesus menjadi kepercayaan jemaat mula-mula karena sesuai dengan keyakinan orang Yahudi mengenai kebangkitan orang saleh yang setia kepada Allah, seperti yang diajarkan dalam PL. Setelah membuktikan kebangkitan Yesus sebagai fakta sejarah, selanjutnya dibahas masalah kesinambungan Kristus Iman dengan Yesus Sejarah. Kebangkitan Yesus membuat orang Kristen mengakui semua mujizat-Nya sebagai peristiwa yang sungguh teijadi, dan mengakui-Nya sebagai Mesias. Karena itu orang Kristen menerima dan meyakini bahwa kematian-Nya adalah untuk menebus dosa manusia, dan kebangkitan-Nya menunjukkan bahwa kuasa dosa sudah dipatahkan atau dikalahkan. Jadi, kebangkitan mensahkan Yesus sebagai Mesias yang bersifat rohani (berkonotasi soteriologi), berarti la sebagai Mesias seperti yang diimani kekristenan (Kristus Iman). Kemudian Yesus dengan menggunakan gelar Anak Manusia mengklaim pra- eksistensi-Nya dan menjadi pribadi yang menyempumakan Kerajaan Allah di akhir zaman. Karena itu Yesus sebagai Anak Manusia hams memiliki kekekalan, dan la melalui kebangkitan-Nya membuktikan diri-Nya yang kekal. Dengan demikian kebangkitan mensahkan Yesus sebagai Anak Manusia, dan menjadi jaminan akan kedatangan-Nya kembali untuk menyempumakan Kerajaan Allah. Keberadaan Yesus sebagai Mesias dan Anak Manusia berkenaan dengan pemberitaan Yesus mengenai kedatangan Kerajaan Allah. Perwujudan Kerajaan Allah tidak berhenti pada kematian-Nya, karena kebangkitan-Nya membuat perwujudan Kerajaan Allah yang sempuma terns berlangsung sampai kedatangan-Nya yang kedua kali di akhir zaman. Jadi, kebangkitan Yesus mensahkan peran Yesus sebagai Mesias dan Anak Manusia, serta perwujudan Kerajaan Allah terns berlanjut sampai kedatangan-Nya yang kedua kali di akhir zaman. Karena itu kebangkitan Yesus menjadi titik kesinambungan antara Kristus Iman dan Yesus Sejarah

    Doa : Ketika Teodisi Tak Berdaya (Wahyu 5:1-5; 8:1-6)

    No full text

    Pelbagai Pandangan Tentang Kristus : Sebuah Diskusi Populer Tentang Kristologi

    Get PDF
    Pandangan tentang Kristus atau kristologi memang ramai dibicarakan di sepanjang sejarah gereja, sejak Yesus yang disebut Kristus itu lahir, mati, dikuburkan, bangkit, dan naik ke sorga pada abad pertama dari suatu era yang disebut era Kristen (CE = Christian Era, dahulu AD = Anno Domini/ tahun Tuhan, untuk membedakan dengan era sebelumnya yang disebut BC = Before Christ/sebelum Kristus). Artikel ini mencoba memaparkan pelbagai pandangan tentang Kristus yang timbul selama ini

    Mencermati Perjalanan Integrasi Psikologi dan Teologi : Lajang, Nikah, Cerai?

    Get PDF
    Mencermati relasi antara psikologi dan teologi, tidak bisa tidak, saya teringat akan relasi suami-istri pada umumnya: ada yang mesra dan penuh perhatian, ada yang berseteru bak musuh bebuyutan, dan ada yang tidak acuh satu sama lain. Ironisnya, sesungguhnya keduanya merupakan “sumber hikmat dan pengertian tentang kehidupan manusia,” yang mempunyai cukup banyak kesamaan. … Sampai pada abad 19, psikologi masih dipandang sebagai ilmu yang berdampingan dengan agama, namun mulai abad 20 sekularisme sudah mendominasi psikologi. Tampaknya ini adalah titik awal ketidakpastian relasi antara dua ilmu ini dan upaya integrasi mengemuka dari relasi yang ambivalen ini

    Hesed : Penggunaan dan Terjemahannya dalam Kitab Hikmat serta Aplikasinya bagi Kita

    Get PDF
    Tema HUT SAAT ke-50 ialah “Grace upon Grace.” Frasa ini tidak terdapat di kitab Hikmat atau di seluruh Perjanjian Lama sekalipun. Frasa ini hanya terdapat di Perjanjian Baru, yaitu dalam Injil Yohanes 1:16, “From his fullness we have all received grace upon grace” (NRSV) atau, “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (LAI TB). Frasa “grace upon grace” atau “kasih karunia demi kasih karunia” berasal dari bahasa Yunani, “kharin ‘anti kharitos.” Akar kata dari frasa Yunani ini ialah kharis. Dalam terjemahan bahasa Yunani dari PL (Septuaginta), kata kharis merupakan terjemahan dari kata Ibrani hen. Menurut pengertian ini, maka dalam bahasa Ibrani, frasa “grace upon grace,” ialah “hen ‘al hen.” Yang menarik ialah, di dalam dua versi Alkitab PB bahasa Ibrani, frasa “grace upon grace” di Yohanes 1:16 diterjemahkan dengan “hesed ‘al hesed” dan bukan “hen ‘al hen.” Untuk penulisan artikel ini, penulis akan memakai key-word hesed dan bukan hen sebagai dasar dari tema “grace upon grace.” Alasan pemilihan ini ialah: pertama, dua versi Alkitab PB bahasa Ibrani memakai hesed untuk menerjemahkan kharis. Kedua, kata Ibrani hen, yang dipergunakan sebanyak 69 kali di PL, kebanyakan diterjemahkan untuk benda, hewan atau pribadi yang menarik karena mempunyai keelokan atau keindahan. Kata hesed mempunyai pengertian yang jauh lebih luas daripada hanya keelokan atau keindahan luar secara fisik. Dalam artikel ini kita akan melihat penggunaan dan terjemahan hesed dalam kitab Hikmat dan aplikasi hesed dalam kehidupan kita. Untuk penjelasan kata hesed dalam kitab Hikmat kita akan melihat perbandingan pemakaian kata tersebut menurut dua versi bahasa Indonesia (LAI TL dan LAI TB) dan dua versi bahasa Inggris (NIV dan NRSV). Kitab Hikmat dalam PL mencakup kitab Ayub, Amsal dan Pengkhotbah. Perbandingan penggunaan kata hesed dalam ketiga kitab tersebut ialah: tiga kali dalam kitab Ayub, sembilan kali dalam kitab Amsal, dan tidak pernah dipakai dalam kitab Pengkhotbah. Karena kata ini tidak pernah dipakai dalam kitab Pengkhotbah, maka penjelasan tentang hesed dalam artikel ini hanya berpusat pada kitab Ayub dan Amsal. Penulis akan memakai bagian Alkitab lain yang mempunyai referensi tentang hesed jika perlu untuk memberikan penjelasan tentang kata tersebut

    Studi Eksegetikal terhadap Makna Misteri Kristus dalam Kolose 4:3 : Tersembunyi atau Dinyatakan?

    Get PDF
    Latar belakang dan makna kata (mysterion) telah diperdebatkan oleh para sarjana Alkitab dari spektrum teologis yang luas. Sebagian orang berpendapat bahwa penggunaan istilah tersebut dalam PB, terutama sekali oleh Paulus, dipengaruhi oleh kultus-kultus misteri di kalangan orang-orang berbahasa Yunani. Pada permulaan abad kedua puluh, misalnya, para sarjana dari Religionsgeschichtliche Schule berusaha menjelaskan adanya latar belakang Hellenistik di balik penggunaan kata (mysterion) oleh Paulus. Sebagian lagi berusaha menelusuri latar belakang istilah ini dari Yudaisme Kuno, seperti dilakukan oleh Raymond E. Brown yang menekankan bahwa kita tidak perlu mencari latar belakang istilah ini di luar Yudaisme Kuno. Banyak sarjana belakangan ini merasa yakin adanya latar belakang Semitik di balik istilah ini, dan tampaknya inilah pandangan umum di kalangan para penafsir saat ini, sekalipun mereka mengakui bahwa kultus misteri sezaman dengan kekristenan. Meskipun perdebatan mengenai latar belakang mysterion mungkin tampaknya telah mencapai konsensus umum (paling tidak, hingga adanya bukti lebih jauh, dan jika ada itu akan melahirkan pertentangan terhadap pandangan mengenai adanya latar belakang Semitik dari kata mysterion), namun pertanyaan mengenai makna dan isinya dalam PB pada umumnya, dan dalam surat-surat Paulus khususnya, tetap menjadi topik diskusi serius. Artikel ini akan difokuskan pada makna (mysterion) dalam Kolose 4:3, secara khusus berusaha menentukan makna (mysterion) yang digunakan rasul Paulus pada ayat ini. Sebelum menyelidikinya lebih dekat, beberapa hal harus dikerjakan lebih dahulu guna mengetahui latar belakangnya. Pertama, akan disajikan survei ringkas kata (mysterion) yang terdapat di bagian lain di PB, untuk melihat sejauh mana penggunaan kata ini dalam PB. Kedua, kita juga perlu melihat penggunaan (mysterion) di Kolose (1:26-27; 2:2), guna menetapkan konteks perikop (4:2-6). Hal ini bukan saja membuat musth,rion berada dalam konteks lebih luas, tetapi juga membantu kita memahami frase (to mysterion tou Christou) di Kolose 4:3. Ketiga, akan dilakukan eksegesis terhadap perikop ini sambil memperhatikan isu-isu kritik teks dan gramatikal dalam prosesnya yang mungkin penting dalam menentukan makna (mysterion)

    Kekeliruan Pengartian Konsep Anugerah dalam Teologi dan Pelayanan Praktis

    Get PDF
    Berkali-kali dalam perjalanan ke luar kota, ketika menghubungi handphone seseorang atau ketika HP saya berdering, lawan bicara di seberang sering kali bertanya: “Pak Daniel, sekarang ada di mana?” atau “Pak Daniel, sekarang sudah sampai di mana?” Pertanyaan yang bunyinya seperti itu sangat berkesan bagi saya, karena di dalamnya, secara sadar atau tidak, terkandung adanya sebuah indikasi yang tersirat dari kecenderungan zaman modern ini, yaitu manusia dengan mobilitasnya yang tinggi nyaris boleh dikatakan berada di mana-mana. Manusia telah menjadi makhluk yang hampir menuju ke arah lingkup yang omnipresent melalui kemajuan telekomunikasi, revolusi teknologi, dan informasi superhighway yang ajaib. Itu baru satu alat, yaitu handphone. Belum lagi segala kelengkapan modern lainnya seperti komputer, internet, video, teleconference system, teknologi laser, genetika dan lain sebagainya yang disebutkan oleh Jacques Ellul sebagai kecenderungan manusia menjadikan teknologi sebagai sebuah kunci atau “decisive factor.” Dalam situasi kehidupan yang seperti itu saya jadi tergoda untuk berpikir: Apakah manusia atau orang percaya masih membutuhkan yang namanya “anugerah”—atau paling sedikit, apakah dalam kehidupan yang serba modern dan seakan-akan segala sesuatu dapat diraih dalam genggaman tangan, manusia (dan sekali lagi, termasuk orang percaya atau mungkin juga para hamba Tuhan) masih menganggap anugerah sebagaimana arti yang sebenarnya? Jikalau manusia semakin hari menjadi semakin autonomous atau mandiri, apakah ia akan terus dapat menghayati makna dan pengertian yang tepat tentang anugerah seperti yang dimaksudkan dalam Alkitab? Sebagai orang beriman, apalagi pelayan Tuhan, kita semua menyadari bahwa yang menjadikan kekristenan berbeda dengan agama lain adalah kepercayaan tentang anugerah. Kehidupan Kristen dimulai dan dilanjutkan dalam anugerah. Tanpa anugerah kekristenan menjadi kehilangan makna dan relevansi. Karena itu tidak ada yang lebih berarti dalam iman Kristen yang sehat selain pengertian orang percaya yang benar, tepat dan menyeluruh mengenai konsep anugerah. Namun demikian saya menjadi sedih dan kuatir akhir-akhir ini karena adanya orang Kristen yang bukan hanya salah mengartikan anugerah Allah secara benar dan tepat, tetapi juga boleh dikatakan “menghina Roh kasih karunia” (Ibr. 10:29). Mungkin pertanyaan yang langsung muncul setelah ini adalah: Apa buktinya kalau dikatakan bahwa konsep anugerah telah disalahmengertikan? Apa tandanya bahwa anugerah itu direndahkan? Apa contoh konkret bahwa anugerah Allah telah didevaluasikan oleh orang Kristen sendiri? Baiklah saya akan mulai penulisan artikel ini dengan definisi yang rinci dan kesimpulan mengenai arti yang alkitabiah dari istilah “anugerah.” Setelah itu artikel ini akan membahas beberapa kekeliruan pengartian konsep tersebut dalam berteologi dan kenyataan praktis. Pada bagian akhir saya akan memberikan kesimpulan untuk konteks pelayanan dan bergereja

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇