STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Anugerah dalam Pelayanan Penggembalaan

    Get PDF
    Ada hal yang mungkin sangat mengejutkan kita pada saat Tuhan Yesus bertemu dengan Petrus setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Tuhan Yesus melakukan pendekatan penggembalaan yang sangat jitu ketika berhadapan dengan sosok seorang pengkhianat, yakni Petrus. Tuhan Yesus tahu dengan pasti apa yang terjadi di dalam diri Petrus. Beban dan pergumulan hidup, tekanan dan ketakutan, bahkan pengharapan akan masa depan yang suram, semuanya Ia kenal dengan baik. Tuhan Yesus menyapa Petrus dengan bahasa penggembalaan yang sangat halus, bahasa yang dibutuhkan setiap insan, yang menyentuh hakikat diri dalam relasi antarsesama, yaitu: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” (Yoh. 21:15). Pertanyaan Tuhan Yesus ini bukan saja menyentak seluruh sanubari Petrus, tetapi juga mendongkrak eksistensi relasi antara dirinya dengan Tuhannya. Apa yang telah diperbuat oleh Petrus dan apa yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus, semuanya terjawab melalui penggembalaan-Nya, dengan ungkapan dan tekad, “Benar, Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:15). Dari jawaban itu Tuhan Yesus memberikan wujud konkret bagaimana Petrus mengasihi-Nya, yakni: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yoh. 21:15). Tugas dan perintah ini jelas ada dalam konteks anugerah Allah yang besar yang dialami Petrus secara pribadi, sekalipun itu merupakan wujud konkret bagaimana ia mengasihi Tuhannya melebihi mereka. Ia kemudian menjalani seluruh hidupnya dengan mempersembahkan dirinya sebagai rasul pilihan-Nya, hamba Tuhan yang menggembalakan dengan anugerah-Nya, yang belajar bersama dengan Tuhannya. Pada akhirnya ia mampu memberikan nasihat kepada para penatua untuk menggembalakan domba-domba-Nya, “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu” (1Ptr. 5:2-3). Dengan kebenaran firman Tuhan ini, kita akan belajar bersama-sama untuk memahami pelayanan pastoral yang merupakan panggilan kita bersama

    Tinjauan Perjanjian Baru Terhadap Konflik Hamba Tuhan Dalam Relasi Pelayanan

    No full text

    Anugerah Demi Anugerah dalam Spiritualitas Kristen yang Sejati

    Get PDF
    Kehidupan spiritualitas seseorang bukan hanya merupakan topik perbincangan di kalangan orang beragama atau para teolog saja. Pada waktu buku Daniel Goleman—seorang doktor psikologi dari Harvard—yang berjudul Emotional Intelligence terbit pada 1995, para pakar pendidikan dan bidang lain, maupun orang awam mulai ramai membahas dan menulis tentang kepentingan dan peran kecerdasan emosi yang dikaitkan dengan keefektifan kecerdasan intelektual. Beberapa tahun kemudian, yaitu tahun 2000, buku berjudul SQ: Spiritual Intelligence—The Ultimate Intelligence karya Danah Zohar, seorang psikolog, dan fisikawan Ian Marshall, menambah, atau dapat dikatakan, menggeser topik pembahasan dan penulisan mengenai EI. Kecerdasan spiritual dianggap sebagai faktor penentu bagi keefektifan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi. … Pembahasan berikut akan diawali dengan definisi spiritualitas Kristen yang dilanjutkan dengan titik tolak spiritualitas Kristen, dan kriteria serta proses pertumbuhannya. Keseluruhan pembahasan akan mengacu pada kebenaran firman Tuhan yang dibandingkan pula dengan pemikiranpemikiran dari teolog-teolog yang sudah membahas mengenai hal ini

    Track Record Sekolah Teologi : Anugerah Karya Allah Mulai dari Keterbatasan Mendidik Calon Rohaniwan sampai Penerimaan Lulusannya oleh Gereja dan Lembaga Kristen

    Get PDF
    Trinity Evangelical Divinity School (TEDS) yang berdiri sejak tahun 1897 adalah lembaga pendidikan teologi berakreditasi yang bertaraf internasional. Track record untuk lulusan TEDS yang “terpakai” oleh lembaga-lembaga Kristen adalah: 85% dari lulusannya, dalam waktu setengah tahun, telah menduduki posisi pelayanan di gereja dan berbagai lembaga Kristen.1 TEDS yang mempunyai reputasi internasional ini, diinformasikan oleh Rick Kalal,2 mendapat kritikan dari para pendeta “gereja-gereja besar pemakai lulusan TEDS.” Kritikannya adalah: Para lulusan TEDS hanya bisa mengeksegesis Alkitab tetapi kurang mampu mengeksegesis budaya; tahu membaca bahasa Yunani dan Ibrani, tetapi kurang matang dalam spiritual, keterampilan keorganisasian dan penggembalaan untuk dapat menjadi pemimpin rohani yang efektif. Tindakan kritik tersebut dilanjutkan dengan “ancaman”: jika lulusan TEDS berikutnya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, maka mereka akan mendirikan sekolah teologi sendiri, alias tidak akan menerima lagi “pasokan” rohaniwan lulusan TEDS. … Paparan selanjutnya akan menunjukkan catatan pelayanan para rohaniwan di lembaga-lembaga “pemakai,” khususnya gereja, yang kelemahan-kelemahannya selalu dikembalikan pada lembaga yang mendidiknya, yaitu sekolah teologi. Setelah itu akan ditunjukkan catatan keterbatasan-keterbatasan proses pendidikan mulai dari penyaringan peserta didik baru, proses pendidikan, magang, sampai kegiatan evaluasinya

    Doktrin Sola Scriptura

    Get PDF
    “Unless I am convinced by Sacred Scripture or by evident reason, I will not recant. My conscience is held captive by the Word of God and to act against conscience is neither right nor safe.” Kata-kata ini diucapkan oleh Martin Luther pada 18 April 1521 ketika ia diajukan pada sidang kekaisaran di kota Worms di hadapan kaisar Charles V yang menjadi penguasa Jerman (dan beberapa bagian Eropa lainnya) pada saat itu, serta di hadapan para pemimpin gerejawi. Luther dipanggil ke kota ini dengan tujuan supaya ia menarik kembali perkataan dan pengajarannya. Ia diminta mengaku salah di depan publik untuk apa yang ia tuliskan dan ajarkan tentang injil, keselamatan melalui iman, dan hakikat gereja. Tetapi ia tidak bersedia melakukannya. Mengapa Luther tidak bersedia? Sebab hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh firman Tuhan. Ia yakin sepenuhnya bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan kebenaran tentang manusia, jalan keselamatan, dan kehidupan Kristen. Ia melihat bahwa kebenaran-kebenaran yang penting ini sudah dikaburkan dan diselewengkan oleh gereja-gereja pada saat itu, yang seharusnya justru menjadi pembela yang setia. Di mata Luther, dasar penyelewengan gereja pada saat itu adalah pengajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab. Ia tidak dapat tahan lagi melihat kerusakan gereja yang telah melawan Alkitab, yang juga sudah mencemari aspek-aspek kehidupan gereja lainnya. Di sinilah kita melihat sikap Reformasi terhadap Alkitab. Prinsip penting yang ditegakkan dalam gerakan Reformasi adalah Sola Scriptura (hanya percaya kepada apa yang dikatakan oleh Alkitab yang adalah firman Tuhan, karena hanya Alkitab yang memiliki otoritas tertinggi). Kita mengetahui dua ungkapan yang mewakili gerakan Reformasi yaitu Sola Fide dan Sola Scriptura. Sering dikatakan bahwa Sola Fide adalah prinsip material dari pengajaran Reformasi, sedangkan Sola Scriptura adalah prinsip formalnya. Kalau ditelusuri lebih dalam lagi maka jelaslah bahwa prinsip Sola Scriptura ada di balik semua perdebatan mengenai pembenaran melalui iman, karena Luther yakin sekali bahwa kebenaran ini diajarkan di dalam Alkitab

    Doktrin Pilihan dari Perspektif Reformed Kontemporer

    Get PDF
    Doktrin pilihan adalah doktrin utama yang paling kontroversial dalam tradisi Reformed. Sebetulnya doktrin ini mempunyai akar yang jauh mulai dari PL. Konsep mengenai umat Israel sebagai umat pilihan sangat jelas dikemukakan Musa dalam kitab Ulangan 7:6-8, “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya ....” Masalah yang sering diperdebatkan ialah bagaimana umat Israel mengerti peran dan fungsinya tersebut. Namun dalam pembahasan artikel ini saya akan lebih menitikberatkan pada beberapa tokoh yang berpengaruh dalam sejarah gereja, sebelum membahas pandangan Reformed yang lebih kontemporer dalam pendekatan terhadap doktrin pilihan ini

    Kesaksian Internal Roh Kudus menurut John Calvin

    Get PDF
    Doktrin kesaksian internal Roh Kudus merupakan doktrin yang sangat penting bagi kekristenan terutama kalangan Reformed, terutama dalam membentuk epistemologi Kristen. Mengapa kita menerima kekristenan sebagai pengajaran yang benar dari Allah? Mengapa kita menerima Alkitab sebagai firman Allah? Jawabannya ada pada kesaksian internal Roh Kudus. Di dalam artikel ini kita akan membahas doktrin kesaksian internal Roh Kudus menurut salah seorang tokoh Reformator, yaitu John Calvin. Dibandingkan Luther, Calvin mengajarkan doktrin ini lebih jelas. Setiap kali orang berbicara mengenai otoritas Alkitab maka ia juga akan berbicara tentang kesaksian internal Roh Kudus menurut Calvin. Doktrin ini juga penting bagi kita untuk memahami seluruh doktrin pengetahuan akan Allah dan seluruh sistem teologi Calvin. Bagi Calvin sendiri doktrin ini merupakan dasar dari seluruh pengetahuan akan Allah. B. B. Warfield mengatakan demikian, “His doctrine of the testimony of the Holy Spirit is the keystone of his doctrine of the knowledge of God.” Meski demikian doktrin ini bukan tanpa kritikan. David Friedrich Strauss, misalnya, pernah mengatakan bahwa doktrin ini merupakan titik lemah dari teologi Protestan. Karena tidak ada dasar rasional bagi seseorang untuk percaya kepada Alkitab sebagai firman Allah ketika seseorang hanya menunjuk kembali kepada Allah.2 Argumen demikian diangap argumen sirkular dan lemah. Bagaimana sebenarnya doktrin ini menurut Calvin? Apa kaitan antara doktrin ini dan otoritas Alkitab? Apakah doktrin ini mengabaikan “pembuktian rasional”? Artikel ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Untuk itu yang pertama-tama akan dibahas adalah konteks historis doktrin ini dan konteksnya di dalam Institutio. Setelah itu akan dibahas kaitan doktrin ini dengan otoritas Alkitab kemudian kaitannya dengan “pembuktian rasional” menurut Calvin

    Polarisasi Dikotomis Agape dan Eros : Suatu Analisa Kritis terhadap Teologi Kasih Agustinus

    Get PDF
    Dalam kekristenan, kasih adalah salah satu kata yang sering menimbulkan kesalahpahaman. Kata ini oleh sebagian orang Kristen sering dipahami secara dikotomis, sebagai kasih ilahi (agape) dan kasih manusiawi (eros). Keduanya sering dibedakan secara ketat, terpisah dan bertentangan satu dengan yang lain, yang satu dianggap baik, sementara yang lain dianggap buruk. Kasih ilahi atau agape, sering dianggap lebih positif, sebagai kasih yang sejati dan mulia. Sebaliknya, kasih manusiawi atau eros sering dianggap lebih negatif sebagai “nafsu berahi,” “seksualitas yang sensual,” atau “cinta“ tanpa makna rohani apapun. Pemahaman dikotomis seperti ini berakibat sangat buruk bagi orang Kristen, karena pengagungan terhadap yang satu biasanya berakibat pelecehan terhadap yang lain. Konsep kasih yang begitu agung dapat menjadi sesuatu atau tidak berarti sama sekali, seperti dikatakan Mildred B. Wynkoop, “It has lost its mooring and stands for ‘what I want’—a most deceptive concept and despotic tyrant.” Agustinus, salah satu arsitek besar kekristenan, adalah teolog yang sangat berminat terhadap topik kasih. Pemahamannya tentang kasih sangat alkitabiah karena, secara umum, ia selalu berusaha membangun teologi dan hikmatnya dengan referensi Alkitab, yang dipercayainya sebagai firman Allah. Tetapi bukan itu saja, ia juga dianggap sebagai orang yang pertama kali mencetuskan pemahaman dikotomis seperti yang sudah disinggung di atas. Itu sebabnya artikel ini, pertama, berusaha untuk mengkaji ulang teologi kasih Agustinus seobjektif mungkin dengan cara mengeksposisi pandangannya tentang topik ini, khususnya melalui karya-karyanya; kedua, berusaha menganalisa secara kritis pandangannya dalam terang pemikirpemikir Kristen modern yang juga concern dengan topik ini, dan tentu saja dalam terang firman Allah. Melalui paparan singkat dalam artikel ini diharapkan perspektif orang Kristen tentang kasih menjadi lebih baik dan tepat, sehingga kasih tidak lagi menjadi kata yang kontroversial dan sering disalahtafsirkan, tetapi sebaliknya, kasih menjadi kata yang dapat dimengerti secara lebih utuh dan lebih bermakna

    Kepemimpinan Yohanes Pembaptis

    No full text
    Seorang pemimpin biasanya menimbulkan dua hal yang kontradiktif. Ia bisa dikasihi atau sebaliknya, dibenci oleh orang-orang yang dipimpinnya. Ada berbagai alasan atau motivasi yang dapat menimbulkan dua hal kontradiktif sebagai akibat kepemimpinan seseorang. Namun pembahasan mengenai soal ini, meski penting, tidak dapat diuraikan di sini. Artikel ini lebih dititikberatkan pada diri seorang pemimpin ketimbang respons terhadapnya. Relasi benci-kasih terhadap seorang pemimpin akan menimbulkan pertanyaan: “Apa sebenarnya tugas dan fungsi seorang pemimpin?” Dari sekian banyak figur Alkitab, kepemimpinan Yohanes Pembaptis terkesan sangat menonjol dan dramatis. Dengan pendekatan naratif saya berupaya menyusun suatu potret Yohanes Pembaptis. Kompleks dan luasnya masalah menyebabkan data-data dasar hanya bersumber dari injil Yohanes sehingga tentu saja hasilnya bukan merupakan sebuah potret yang utuh. Namun paling sedikit sketsa ini diharapkan dapat mendorong penelitian lanjutan terhadap karakter Yohanes Pembaptis. Penelaahan dimulai dari Yohanes 1:1-18, dilanjutkan dengan bagian lain dari kitab ini. Sudah merupakan kelaziman di kalangan pakar injil Yohanes memberi label Prolog untuk 1:1-18. Melalui artikel ini saya ingin menguji apakah benar Prolog tersebut merupakan miniatur injil Yohanes? Jika bagian ini dinyatakan sebagai injil Yohanes dalam bentuk padat dan ringkas, maka kitab ini tentulah merupakan uraian lanjutan dari Prolog. Kita akan menguji tesis ini dengan melihat karakterisasi Yohanes Pembaptis dalam Prolog dan injil Yohanes. Dengan perkataan lain, pertanyaan yang akan ditelusuri adalah: Apakah Prolog merupakan bagian integral dari injil Yohanes

    Penderitaan dan Kesaksian : Sebuah Perspektif Misiologis dari 1 Petrus

    Get PDF
    Penderitaan yang disebabkan oleh penganiayaan karena agama bukanlah pengalaman yang asing bagi gereja. Sejak abad-abad pertama bahkan pada sepanjang zaman, banyak orang Kristen telah menderita hanya karena mereka adalah orang Kristen. Penganiayaan terhadap orang Kristen berkaitan dengan kesalahpahaman tentang kekristenan. Banyak orang non- Kristen belum melupakan masa lalu ketika kekristenan bertumbuh dan tersebar luas di bawah kolonialisme dan imperialisme. Hingga kini, para misionaris Kristen dianggap sebagai perusak kebudayaan-kebudayaan pribumi. Dalam artikel ini saya tidak bermaksud menguji anggapan-anggapan ini, dan menurut saya juga tidak ada gunanya untuk menyangkalnya. Penganiayaan terhadap orang Kristen saat ini jauh lebih komplikatif dari yang disadari kebanyakan orang. Pemikiran bahwa karena orang Kristen berbagian dalam gerakan-gerakan nasional dan pertumbuhan kekristenan di kalangan penduduk pribumi dunia ketiga yang fenomenal belakangan ini akan serta-merta menyingkirkan ancaman terhadap kekristenan, menurut saya, adalah pemikiran yang naif. Sementara gereja seharusnya berjuang keras untuk menghindari kesalahan pada masa lampau dan ikut serta secara positif dan konstruktif dalam membangun bangsa, harus disadari bahwa penderitaan adalah bagian dari eksistensi gereja, dan penderitaan bukanlah pengalaman yang asing dalam kehidupan gereja (1Ptr. 4:12). … Dalam artikel ini saya mencoba memberikan beberapa refleksi tentang pengalaman penderitaan gereja yang diakibatkan oleh penganiayaan. Saya memilih 1 Petrus karena saya yakin situasi penerima surat ini pada saat itu serupa dengan situasi gereja sekarang. Dalam 1 Petrus firman Allah berbicara tentang perjuangan gereja dalam menjalani kehidupan dan kesaksiannya dalam lingkungan yang bermusuhan. Saya percaya pesan 1 Petrus tidak saja dapat menguatkan gereja saat ini dalam menahan penganiayaan, tetapi juga dapat memperdalam pemahaman gereja tentang dirinya sendiri, hidup dan panggilannya

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇