STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Pengaruh Musik Pada Perkembangan Rohani Anak Usia 3-10 Tahun

    No full text

    Communio, Communicatio, Communitas : Teologi Trinitaris sebagai Acuan Berteologi di Era Pascamodern

    Get PDF
    Bagaimanakah wajah teologi di era pascamodern? Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Teologi—yang adalah perbincangan atau pembicaraan mengenai Allah dan relevansinya bagi keberlangsungan kehidupan seisi dunia—selalu mengalami pergeseran, perenungan ulang bahkan perevisian secara radikal. Munculnya Reformasi di abad enam belas merupakan contoh pergeseran signifikan dari teologi yang diterima secara umum. Merekahnya fajar pascamodern tentu menyebabkan pergeseran yang signifikan dalam teologi. ... Pertama-tama penulis akan meninjau tiga masalah utama dalam pascamodernisme dan dampaknya bagi teologi Kristen. Sebuah titik terang disediakan oleh “teori tindak-wicara” (speech-act theory) yang digagas oleh filsuf bahasa dari Oxford, John L. Austin (1911-1960). Teori-teori ini yang akan mendasari gagasan communio, communicatio dan communitas sebagai acuan berteologi di era pascamodern. Pada bagian terakhir penulis mencoba untuk melihat relevansi teologi trinitaris bagi konteks Indonesia dan praksis-praksis gereja pada umumnya

    Tinjauan Eksegetikal terhadap Keabsahan Klaim Keselamatan Hanya di Dalam Kristus : Analisa terhadap Yohanes 14:6

    No full text
    Di tengah pluralitas agama yang ada pada saat ini, klaim kekristenan tradisional bahwa keselamatan hanya ada di dalam Kristus, dianggap oleh beberapa pemikir Kristen pluralis sebagai suatu sikap yang arogan dan tidak menghargai serta menghormati pemeluk agama lainnya. Menurut mereka, klaim kekristenan yang eksklusif tersebut adalah sumber konflik antara kekristenan dan agama lainnya, sehingga telah menjadi penghambat bagi terciptanya kehidupan bersama yang damai antara para pemeluk agama yang berbeda. Mereka mengusulkan agar kekristenan menanggalkan klaim keunikan Yesus sebagai juru selamat satu-satunya bagi manusia dan mengakui bahwa agama- agama lainjuga memiliki jalan keselamatannya masing-masing. Berdasarkan permasalahan tersebutlah, maka skripsi ini ditulis, yakni untuk meneliti apakah memang benar ucapan Yesus di dalam Yohanes 14:6 tidak berbicara tentang keunikan Yesus sebagai jalan satu-satunya kepada Allah. Dalam membahas permasalahan tersebut, penulis menggunakan metode penulisan studi literatur dan akan mengeksegesis Yohanes 14:6 tersebut guna menilai pemahaman mereka terhadap ucapan Yesus tersebut. Di akhir skripsi ini penulis akan mengkaji apakah memang benar kekristenan yang berpegang kepada keunikan Yesus sebagai Juruselamat satu-satunya tidak dapat hidup bersama dengan pemeluk agama yang lainnya dengan damai. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa jika kekristenan masih tetap berpegang teguh kepada Alkitab sebagai otoritas tertinggi, maka kekristenan harus mengakui akan keunikan Yesus sebagai juru selamat satu-satunya bagi manusia, karena klaim tersebut adalah yang sesuai dengan ajaran Alkitab. Alasan dari para pemikir Kristen pluralis yang menolak klaim Yesus sebagai juru selamat satu-satunya bagi manusia, ternyata kebenaraimya patut dipertanyakan dan diragukan. Pembahasan di dalam skripsi ini juga menunjukkan bahwa percaya kepada keunikan Yesus sebagai juru selamat satu-satunya bukanlah suatu penghalang bagi kehidupan bersama yang damai dengan para pemeluk agama lainnya. Karena percaya kepada keunikan Yesus sebagai satu-satunya juruselamat, tidak dapat dianggap sebagai suatu tindakan yang tidak menghargai dan menghormati pemeluk agama lainnya, sehingga dapat menimbulkan keresahan di dalam kehidupan bersama antar para pemeluk agama yang ada

    Tinjauan Kritis terhadap Buku Bruce H. Wilkinson "The Prayer of Jabez" berdasarkan Eksegesis 1 Tawarikh 4:9-10

    No full text
    Pada awal tahun 2001, masyarakat Kristen di Amerika Serikat dikejutkan dengan terbitnya sebuah buku tentang doa, yaitu The Prayer of Jabez - Breaking Through to the Blessed Life (Doa Yabes -- Menerobos ke Hidup Penuh Berkat) yang ditulis oleh Bruce H. Wilkinson. Buku ini termasuk buku Kristen yang terlaris, di mana penjualannya mencapai belasan juta eksemplar. Buku ini telah tersebat hampir ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Di dalam bukunya ini Wilkinson memperkenalkan sebuah doa yang tercatat di dalam Alkitab yaitu doa Yabes (I Taw. 4:9-10). Penafsirannya terhadap doa Yabes dalam buku ini didasarkan pada pengalaman pribadi Wilkinson selama lebih dari tiga puluh tahun berdoa dengan menggunakan doa Yabes -- kata demi kata -- dan ia merasakan bagaimana Allah menjawab permintaan-permintaannya yang didasarkan pada doa Yabes. Wilkinson berusaha menafsirkan setiap permintaan Yabes dalam doanya untuk memberikan penjelasan yang lebih dalam dari doa Yabes. Melalui pengalamannya dengan doa Yabes, Wilkinson membangun sebuah teologi permintaan berkat. Menurutnya, permintaan berkat yang didasarkan pada doa Yabes merupakan doa yang selalu dijawab oleh Tuhan dan pengalaman Wilkinson dengan doa Yabes tersebut merupakan bukti nyata doa Yabes merupakan doa yang diperkenan oleh Allah untuk meminta berkat. Apa sebenarnya makna yang terkandung di dalam doa Yabes ini? Berdasarkan hasil eksegesis terhadap 1 Taw. 4:9-10, maka disimpulkan dua bagian besar. Pertama, berdasarkan latar belakang historis. Doa Yabes menyentuh isu perluasan wilayah dari masa post-exilic Yehuda (pengharapan dari penulis kitab Tawarikh terhadap perluasan wilayah, lih. 1 Taw. 2:42-55). Penulis kitab Tawarikh juga ingin menunjukkan bahwa Yabes sebagai satu contoh dari sebuah cara untuk melepaskan diri dari masalah-masalah penderitaan dan perluasan wilayah. Berdasarkan analisa konteks maka 1 taw. 4:9-10 merupakan bagian dari 1 Tawarikh 4 yang kemungkinan terdapat kerusakan dalam bahasa aslinya, terutama ayat 1-23. Nama Yabes juga tercatat dalam 1 Tawarikh 2:55, di mana Yabes merupakan nama sebuah kota dan kemungkinan nama kota ini didasarkan pada nama Yabes. Kedua, berdasarkan latar belakang konteks pemberian nama Yabes oleh ibunya dan doa Yabes. Arti nama Yabes diambil dari pengalaman "kesakitan" yang dirasakan ibunya Yabes pada saat melahirkan Yabes. Dapat dikatakan bahwa Yabes menyebabkan "kesakitan". Kesadaran Yabes akan arti namanya, membuat ia datang pada Allah. Ia datang kepada Allah memohon berkat kepada Allah, yaitu berupa perluasan wilayah, penyertaan tangan Allah dan menjauhkan Yabes dari malapetaka. Melalui doanya ini Yabes menginginkan agar Allah sungguh-sungguh memberkati dia karena Yabes merasa takut akan pengaruh "kesakitan" dari arti namanya. Pada akhirnya melalui tinjauan kritis terhadap penafsiran Wilkinson terhadap doa Yabes yang didasarkan pada hasil eksegesis 1 Tawarikh 4:9-10, dapat dilihat kelemahan-kelemahan Wilkinson dalam menafsirkan kedua ayat ini. Wilkinson lebih mendasarkan penafsirannya pada pengalaman pribadinya dengan doa Yabes selama tiga puluh tahun lebih. Penafsirannya ini diwarnai dengan penafsiran alegori dan juga secara harafiah, sehingga dapat dikatakan bahwa penafsiran Wilkinson terhadap 1 Tawarikh 4:9-10 kurang tepat, karena kurang melakukan proses eksegesis, padahal teologinya dibangun dari kedua ayat tersebut. Melalui penulisan skripsi ini diharapkan orang-orang Kristen tidak memiliki pengertian yang salah tentang doa. Orang-orang Kristen harus mengetahui dengan benar bahwa doa bukan hanya sekedar kata-kata yang diungkapkan berulang-ulang tetapi doa mengarah pada kebergantungan manusia kepada Allah, Penciptanya. Doa memperlihatkan bagaimana manusia mengandalkan Penciptanya. Sebuahdoa dijawab bukan bergantung pada doa yang dinaikkan tetapi kembali pada kehendak Allah

    Prinsip Dasar Etika Kristen tentang Perang : Sebuah Tinjauan terhadap Pacifism dan Just War Theory

    Get PDF
    Adakah perang yang dapat dibenarkan (justified)? Pertanyaan ini bukan sedang diarahkan kepada perang tertentu, entah yang pernah atau sedang terjadi, tetapi lebih sebagai pertanyaan yang bersifat prinsip. Artinya, berdasarkan prinsip etika Kristen, adakah dasar-dasar pertimbangan untuk membenarkan perang atau penggunaan kekerasan demi mencapai suatu sasaran kemanusiaan yang lebih mulia? Sebagai orang Kristen yang lekat dengan prinsip kasih, sudah pasti kita bukanlah orang-orang yang terpanggil untuk mengobarkan semangat perang. Namun demikian, di tengah dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa di mana kekerasan merupakan isu moral yang tidak pernah dapat dihindari, sering kali kita harus mengakui bahwa perang atau penggunaan kekerasan demi alasan kemanusiaan dengan segala etika yang terkandung di dalamnya, adalah pilihan yang harus kita pertimbangkan. ... Artikel ini merupakan sebuah usaha untuk memberikan landasan biblika dan teologis dalam mengambil posisi etika antara kedua paham tersebut. Untuk itu pada bagian berikut akan dibahas terlebih dahulu pandangan masing-masing posisi. Selanjutnya, dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dan teologis, kita akan mencoba untuk pada bagian terakhir mengambil kesimpulan tentang posisi etika yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya di hadapan Tuhan. Penulis menyadari bahwa semua kategori pembahasan dalam tulisan ini adalah topik-topik diskusi yang sangat luas, karena itu melalui artikel yang tidak terlalu panjang ini, rasanya berlebihan jika seseorang mengharapkan pembahasan secara detail dan menyeluruh. Penulis hanya berharap artikel ini dapat memberikan sedikit sumbangsih bagi pergumulan etika, khususnya isu tentang perang

    Sebuah Analisis Teologis Terhadap Pemikiran Transformasi Sosial Injili John Stott

    No full text
    Komitmen gereja-gereja injili terhadap masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat sering dipertanyakan. Tampaknya mereka telah menj adi gerej a yang menarik diri dari masalah-masalah dunia daripada yang melibatkan diri di dalamnya. Padahal, gereja sesungguhnya dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia, yang salah satu wujudnya adalah sebagai agen Allah dalam membawa perubahan atau transformasi sosial di tengah- tengah masyarakat. Panggilan ini telah disuarakan kembali oleh John Stott melalui pemikiran transformasi sosialnya yang injili. Karena itu, menurut penulis, pemikiran yang’ digagasnya ini sangat penting dan layak untuk mendapat perhatian dan pertimbangan sebagai sebuah bentuk teologi sosial yang dapat memenuhi tuntutan ortodoksi dan ortopraksi. Penelitian ini bertujuan, pertama, untuk memahami konteks berteologi yang dikerjakan oleh Stott. Pemahaman konteks ini dapat dilihat dari pembahasan bagaimana masalah-masalah sosial itu dapat terjadi—ditafsirkan sebagai akibat proses globalisasi—dan efeknya sedang dialami saat ini; bagaimana sikap kaum injili terhadap masalah-masalah sosial; dan bagaimana hakekat transformasi Kristen dan gereja, sebagai agen transformatif Allah, yang sesungguhnya; kedua, untuk mendeskripsikan pemikiran transformasi sosial Stott. Dalam mendeskripsikannya, ada pemikiran Stott yang perlu mendapat penekanan, seperti eksposisi Alkitab tentang panggilan transfomatif gereja, deskripsi masalah-masalah sosial yang sudah mengglobal, dan gagasan transformasi sosial injili yang utuh sebagaimana yang diajukannya; dan ketiga, untuk melihat keunikan dan menguji relevansi pemikiran transformasi sosialnya pada konteks masa kini. Parameter keunikan pemikiran Stott ini akan ditinjau dari dua perspektif teologi sosial: teologi biblika dan teologi sosial kontemporer. Penelitian ini pada dasamya adalah sebuah penelitian perpustakaan {library! research), di mana semua data diambil dari literatur-literatur yang tersedia di perpustakaan, kemudian dibagi dalam beberapa kategori untuk dianalisis sehingga mencapai tujuan di atas. Untuk mencapai tujuan itu, penelitian ini menggunakan beberapa pendekatan: Pertama, pendekatan deskriptif, di mana masalah-masalah sosial dan sikap kaum injili terhadap masalah-masalah sosial dideskripsikan; kedua, pendekatan induktif, yaitu pendekatan untuk menyimpulkan pemikiran Stott tentang transformasi sosial, yang dirumuskan dari beberapa ide atau konsep yang tersebar dalam beberapa literatur yang ditulisnya. Semua data itu dikumpulkan, disintesiskan, dan direkonstruksikan secara sistematis untuk melihat banguhan pikirannya secara utuh dan koheren; ketiga, pendekatan evaluatif, untuk mengevaluasi pemikiran transformasi sosial secara analitis, maksudnya pemikirannya itu akan dievaluasi berdasarkan dua perspektif teologi lain yang sejajar dalam fokusnya, seperti teologi biblika dan teologi sosial kontemporCr (teologi injil sosial, telogi pembebasan dan teologi transformasi Asia), dengan demikian signifikansi teologis dari pemikiran Stott ini dapat ditemukan; dan keempat, terakhir, pendekatan yang dipakai adalah pendekatan aplikatif, di mana pemikiran transformasi sosial Stott ditinjau signifikansi dan relevansinya dalam konteks masa kini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara masalah-masalah sosial dengan proses globalisasi—khususnya globalisasi ekonomi—yang telah dan sedang berlangsung, di mana proses ini telah menghasilkan kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Proses ini telah menghasilkan monopoli ekonomi oleh pihak-pihak pemegang kapital tanpamemperhatikan pihak-pihak yang lemah. Di tengah-tengah situasi yang sangat memprihatinkan ini, seluruh komponen masyarakat dunia, termasuk gereja yang ada di dalamnya, seharusnya bertanggung jawab dan dapat melibatkan diri dalam masalah-masalah sosial. Walaupun ada masa-masa di mana gereja injili tampaknya tidak terlalu prihatin dengan isu ini, namun dari sejarah gerakan injili, tampak jelas bahwa keterlibatan sosial kaum injili sudah terjadi di sepanjang sejarah gereja. Bahkan, telah sangat kuat disuarakan oleh tokoh-tokoh injili kontemporer, yang salah satunya adalah John R. W. Stott. Menurut Stott, idealnya, gereja ditempatkan Allah di tengah-tengah dunia untuk menjadi “garam dan terang,” yang dapat mengubah lingkungan dan masyarakat yang ada di sekitamya. Pengaruh ini dapat diwujudnyatakan dengan cara mempengaruhi, mengasihi, memperhatikan dan melibatkan diri dengan masyarakat yang ada. Namun, sebelumnya hams ada pemahaman yang jelas dan komprehensif terhadap masalah-masalah sosial yang ada. Disimpulkan bahwa persoalan sosial adalah persoalan yang sudah terstmktur dan tersistem, dan memilki hubungan-hubungan yang sangat kompleks, seperti kesenjangan ekonomi, pengangguran, hak azasi manusia, dan lingkungan hidup yang tereksploitasi. Untuk mentransformasi situasi ini, tidak ada jalan lain bagi gereja selain menghadirkan kerajaan Allah dengan kuasanya yang mengubahkan. Ini berimplikasi bahwa pemberitaan injil kerajaan Allah sehamsnya berdimensi ganda, penginjilan dan tindakan sosial (misi yang holisitik). Dengan demikian keseimbangan antara ortodoksi—dalam hal ini ajaran sosial gereja—dan ortopraksi—keterlibatan sosial gereja—dapat terjaga. Sayangnya, proposal yang diajukan Stott perlu mendapat penyempumaan. Dari analisis yang dilakukan terhadap dua perspektif teologi sosial di atas, ditemukan bahwa dari sudut pandang teologi biblika, konsep transformasi sosial Stott tidak begitu lengkap (utuh), khususnya dalam hampir selumh fondasi PL-nya dan pola transformasi sosial Yesus Kristus dalam PB. Selain itu, dari perbandingan dengan teologi sosial kontemporer, proposal- proposal yang diajukan Stott tampaknya kurang operasional dan belum temji di dalam ruang dan waktu. Membangun fondasi teologi transformasi sosial yang berbasis teologi biblika yang utuh, dan yang bersifat operasional, konkret dan praktis adalah rekomendasi yang dapat diberikan kepada pemikiran Stott. Namun demikian, di balik kekurangan-kekurangan yang ada, usaha Stott perlu dipuji dan dikembangkan di kemudian hari, mengingat isu dan prinsip utama yang telah diangkat oleh Stott dalam pemikirannya menj adi sangat relevan bagi dunia sekarang ini. Usahanya ini setidaknya dapat menggugah kesadaran sosial gereja bahwa dunia—dengan semua orang dan masalah sosial yang ada di dalamnya—adalah milik Tuhan, dan gereja dipanggil dan diutus ke dalamnya sebagai agen Allah untuk membawa transformasi yang sesungguhnya'

    Tinjauan Eksegetis Terhadap Konsep Anak Menurut Tuhan Yesus Dalam Injil Sinoptik

    No full text

    Calvin dan Tuduhan Skisma dari Katolik Roma terhadap para Reformator : Sebuah Studi tentang Kesatuan Gereja

    Get PDF
    Calvin bisa dianggap sebagai seorang pemimpin gereja yang ekumenikal. Namun, dalam kebanyakan studi tentang sikap ekumenikal Calvin, mau tidak mau kita merasakan adanya prasuposisi yang tidak semestinya, yang tidak berhubungan dengan situasi aktual abad keenam belas dan tujuh belas. … Artikel ini berisi sebagai berikut: tuduhan skismatik dari Katolik Roma terhadap para Reformator, pemahaman Katolik Roma tentang kesatuan, respons Calvin atas tuduhan skisma, dan akhirnya, pada bagian kesimpulan, pengertian Calvin tentang kesatuan gereja, yang diintisarikan dari responsnya terhadap tuduhan skisma dan dari Institutes. Yang pertama dari tiga bagian ini akan diambil terutama dari traktat-traktat dan risalah-risalah yang berhubungan langsung dengan polemik-polemik Calvin-Roma Katolik.9 Semua isu yang dipresentasikan dalam artikel ini, tentu saja, terdapat dalam Institutes, dan dengan demikian, saya akan mengutip bagian-bagian Institutes yang paralel dan relevan pada catatan kaki

    Anugerah Demi Anugerah Tuhan sebagai Respons atas Kegagalan Demi Kegagalan Manusia : Suatu Upaya untuk Mengerti Berita Kitab Hakim-Hakim Berdasarkan 2:6 - 3:6

    Get PDF
    Puji syukur kepada Tuhan yang telah memimpin Seminari Alkitab Asia Tenggara selama 50 tahun ini. Dalam rangka peringatan Jubileum ini kita akan mempelajari satu bagian yang mengungkapkan anugerah Tuhan dalam Perjanjian Lama, yaitu kitab Hakim-hakim. Lebih khusus lagi kita akan meneliti Hakim-hakim 2:6-3:6 yang merupakan bagian penting untuk mengerti berita kitab ini. Mark O’Brien menulis, “The abiding issue in the book of Judges seems to be the relationship between the individuality of the stories and the formulaic quality of 2:1-3:6 and the framework passages. Whether one approaches the text from a diachronic or a synchronic perspective, these differences have to be acknowledges and an explanation offered.” Melalui artikel ini saya ingin mengusulkan bahwa berita kitab Hakim-hakim adalah: Anugerah demi anugerah TUHAN sebagai respon atas kegagalan demi kegagalan manusia. Kata “anugerah” dan “kegagalan” memang sengaja diulang. Hal ini menekankan kegagalan yang terus berulang dari bangsa Israel untuk tetap setia kepada TUHAN di tanah perjanjian. Sebaliknya, TUHANpun terus menerus meresponi kegagalan ini dengan anugerahnya. Artikel ini dibagi dalam dua bagian besar. Pertama, kita akan melihat bagaimana kitab Hakim-hakim menggambarkan kegagalan umat Israel. Kedua, barulah kita meneliti Hakim-hakim 2:6-3:6

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇