STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Perkembangan Doktrin Alkitab Clark Pinnock dan Pengaruhnya terhadap Jangkauan Keselamatan
Perhatian utama artikel ini adalah memperlihatkan bagaimana melalui perjalanan karier Pinnock sebagai seorang teolog, pergeseran doktrin Alkitabnya—khususnya pandangan mengenai ineransi, mempengaruhi pandangannya tentang jangkauan keselamatan. Karena itu doktrin Alkitab Pinnock akan dibahas lebih dahulu kemudian diikuti dengan membahas pandangannya tentang jangkauan keselamatan. Setelah itu saya akan memberikan evaluasi dan konstruksi paralel antara longgarnya doktrin Alkitab Pinnock dan luasnya pandangannya tentang “belas kasihan” Allah serta mengamati bagaimana yang pertama mempengaruhi yang belakangan. Dalam bagian kesimpulan saya akan menyajikan secara ringkas cara pendekatan saya sendiri terhadap isu ini
Konsep Pengampunan menurut Keempat Injil dan Implementasinya dalam Bimbingan Pastoral
Dari pengamatan terhadap banyaknya orang yang mengalami kesulitan melakukan pengampunan dengan benar, didapati bahwa mereka sering kali memiliki luka-luka batin yang berkepanjangan, tubuh yang tidak sehat, bahkan membuat mereka tidak dapat mengalami pertumbuhan rohani dengan baik. Permasalahan ini ditambah dengan didapatinya gembala yang kurang mampu melakukan pembimbingan pastoral kepada mereka. Pengamatan ini mendorong ditulisnya skripsi ini. Skripsi ini membahas mengenai konsep pengampunan menurut Alkitab, khususnya keempat Injil, dan bagaimana seorang gembala dapat membimbing seseorang di dalam melakukan pengampunan. Skripsi ini diharapkan dapat memberi masukan bagi pihak-pihak yang terbeban di dalam pelayanan pastoral. Untuk memperjelas pembahasannya, skripsi ini menggunakan metode penulisan studi literatur untuk memaparkan konsep pengampunan menurut keempat injil dan implementasinya dalam bimbingan pastoral. Dalam hal ini pembahasan juga memperhatikan bagaimana teologi dan psikologi dapat terintegrasi dalam bimbingan pastoral. Pembahasan yang dilakukan menyimpulkan bahwa pengampunan merupakan suatu hal yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Namun demikian, kita tidak dapat mengabaikan pentingnya pengaruh psikologi di dalam proses pengampunan ini. Dengan demikian ketika kita dapat mengerti akan pengaruh psikologi yang timbul maka kita -- sebagai seorang gembala -- dapat lebih efektif memberikan bimbingan pastoral kepada mereka
Tinjauan Eksegetikal terhadap Konsep Penghukuman Kekal menurut Pandangan Annihilasionisme
Konsep neraka sebagai tempat penghukuman kekal bagi setiap orang yang menolak Allah telah diterima secara turun-temurun oleh setiap orang, termasuk orang-orang Kristen. Dalam perkembangannya, konsep ini dianggap terlalu sadis dan mengerikan, serta tidak sepadan dengan gambaran Allah yang penuh kasih. Pemikiran ini melahirkan teori tentang annihilasi yang menyebabkan munculnya pandangan annihilasionisme. Para pendukung pandangan ini berusaha menghapuskan konsep penyiksaan kekal terhadap orang-orang berdosa karena konsep ini dianggap telah sangat menakutkan dan menjijikan. Mereka berusaha menafsirkan kembali bagian-bagian Alkitab yang berbicara tentang penghukuman kekal, serta mengkaji kembali beberapa pemahaman teologis yang berkenaan dengan pandangan ini. Keberadaan pandangan ini semakin diperkuat dengan adanya dukungan dari sejumlah tokoh Injili abad 20, yang berusaha meyakinkan setiap orang akan kebenaran pandangan mereka. Di satu sisi teori ini ditolak karena dianggap tidak cukup menakutkan untuk pemberitaan Injil atau bahkan tidak sesuai dengan firman Tuhan. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah manakah konsep penghukuman kekal yang benar, yang dikatakan oleh Alkitab? Dengan mengeksegetik bagian-bagian Alkitab yang berbicara tentang konsep penghukuman kekal ini, maka skripsi ini meninjau: apakah konsep penghukuman kekal menurut pandangan annihilasionisme ini telah sesuai dengan Alkitab atau tidak? Konsep penghukuman kekal yang benar, yang diajarkan oleh Alkitab adalah penghukuman yang bersifat kekal, berlangsung selama-lamanya, dan dialami secara sadar. Kaum annihilasionisme telah membangun sikap curiga terhadap Alkitab dan meragukan kebenaran Alkitab mengenai ajaran penghukuman kekal, karena dianggap bahwa Alkitab telah mengandung konsep non-biblika. Dengan berbuat demikian maka para penganut pandangan annihilasionisme selanjutnya meragukan otoritas Alkitab sebagai kebenaran yang absolut. Di samping itu, mereka mengabaikan kebenaran utuh yang diajarkan dalam sepanjang Alkitab. Tafsiran eksegetikal yang telah dilakukan menghasilkan kesimpulan bahwa konsep penghukuman kekal yang diajarkan oleh pandangan annihilasionisme bukanlah pandangan yang Alkitabiah, karena pada dasarnya mereka sendiri meragukan otoritas Alkitab yang diaanggap telah dipengaruhi oelh konsep-konsep bangsa kafir
Doktrin Keimaman Semua Orang Percaya dari Sudut Pandang Ekklesiologi
Di era Reformasi Martin Luther dan Yohanes Calvin telah mengupayakan pendekatan soteriologi terhadap doktrin keimaman semua orang percaya yang menekankan kesamaan status dalam hal keselamatan. Akan tetapi mereka tidak berhasil menghapus perbedaan antara pejabat gereja dan anggota gereja. Akibatnya anggota gereja menjadi pasif dalam pelayanan dan tetap berada dalam posisi yang lebih lemah daripada pendeta, meskipun mereka sama-sama berada dalam satu tubuh Kristus. Pada hari ini permasalahan yang dihadapi gereja tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh gereja pada zaman reformasi. Orang awam hanya boleh berpartisipasi secara terbatas dalam pelayanan-pelayanan di gereja. Karena itu terjadi pula perbedaan posisi antara rohaniwan dan jemaat awam. Oleh sebab itu dalam tulisan ini penelitian akan difokuskan pada doktrin keimaman semua orang percaya dengan pendekatan ekklesiologis. Melalui pendekatan ini akan diteliti apakah kesenjangan peranan antara pendeta dan anggota gereja dapat diatasi sehingga upaya para Reformator pada waktu lampau dapat direalisasikan di zaman sekarang. Metode penelitian yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah metode studi literatur yang berupa kajian dan analisa-kritis terhadap buku-buku literatur dan jurnal-jurnal. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pendekatan ekklesiologis terhadap doktrin keimaman semua orang percaya yang menekankan kesetaraan orang percya dalah hal pelayanan dapat menjembatani jurang pemisah antara pendeta dan kaum awam. Sebab sudut pandang ekklesiologis terfokus pada aspek-aspek yang melibatkan semua orang di dalam tubuh Kristus. Penerapan aspek-aspek kharisma, koinonia dan diakonia untuk gereja masa kini dapat diwujudkan melalui kelompok kecil. pemuridan, latihan dan penempatan pelayanan yang sesuai dengan karunia rohani. Jika semua itu diterapkan secara konsekuen, maka aspek persekutuan dan partisipasi pelayanan kaum awam yang telah menjadi "barang" langka di banyak gereja, dapat berkembang kembali sehingga gereja dapat semakin maju dan berkembang karena melaksanakan tugas-tugas yang diamanatkan Tuhan Yesus kepadanya
Anugerah dan Disiplin Gerejawi
Artikel ini merupakan transkripsi materi ceramah yang
disampaikan dalam Retreat Pengerja Gereja pada 17-20 September 2002 di Hotel Kusuma Agrowisata, Batu, yang diadakan dalam rangka HUT ke-50 Seminari Alkitab Asia Tenggara. Ceramah disampaikan dalam bahasa Mandarin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Pdt. Dr. Albert Konaniah; transkripsi dibuat berdasarkan terjemahan bahasa Indonesia. Artikel ini dimuat dengan izin tertulis dari Pdt. Dr. Caleb Soo
Penggalian Tulang-Belulang : Sebuah Kritik Injili terhadap Pembangunan Tugu di Tapanuli Utara
Salah satu isu teologi misi abad kedua puluh adalah masalah perbenturan injil dan kebudayaan. Ada berbagai pandangan mengenai hubungan antara injil dan kebudayaan di sepanjang sejarah gereja yang masih menjadi perdebatan sampai abad dua puluh bahkan sampai abad dua puluh satu. Injil kerap kali tidak berdampak pada kehidupan padahal injil bersifat selalu membaharui dan mengubahkan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk menulis artikel ini, khususnya berkaitan dengan kehidupan orang Batak Toba karena suku ini kerap meninggikan adat mereka. Secara lebih sempit artikel ini akan menyoroti dampak pelayanan gereja yang terjadi di antara orang Batak Toba yang 99% beragama Kristen, yakni pada peristiwa penggalian tulang-belulang leluhur. Penggalian tulang-belulang yang dalam bahasa Batak disebut mangongkal holi, mengandung kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek agamawi yang berhubungan dengan roh-roh nenek moyang yang telah mati. Upacara ini mengandung suatu keyakinan bahwa orang yang telah mati sebenarnya masih hidup dalam bentuk lain dan mempunyai hubungan sosial dengan orang-orang yang masih hidup, serta memiliki sifat ilahi yaitu selalu memperhatikan, memelihara keturunannya dan menerima permohonan dan pelayanan dari keturunannya. Sebagian besar orang Batak Toba Kristen menganggap mereka yang telah mati bisa menolong atau mencelakakan orang-orang yang masih hidup. Dengan melakukan penggalian tulang-belulang mereka menjaga hubungan dengan keluarga yang sudah meninggal. Memang, menurut ilmu agama fenomena hubungan leluhur dengan orang yang masih hidup dianggap sebagai suatu cabang yang besar dari agama manusia, dan merupakan sebuah kenyataan agamawi yang sangat penting. Hal ini tidak hanya ditemukan pada masyarakat Batak yang dianggap terbelakang atau bangsa primitif pada umumnya, tetapi juga ditemukan pada berbagai lapisan masyarakat dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Yang terjadi di antara orang Batak Toba adalah melakukan berbagai hal penyembahan nenek moyang atau iman sinkretis melalui pembangunan tugu bagi tulang-belulang nenek moyang mereka. Secara materi hal ini telah membuat orang Batak Toba menjadi miskin karena pembangunan tugu ini menghabiskan biaya besar. Namun lepas dari masalah miskin atau kaya, pertanyaannya sekarang adalah: apakah penggalian tulang-belulang dan segala yang tersangkut di dalamnya dapat dibenarkan dari sudut pandangan Alkitab? Bagaimanakah seharusnya gereja sebagai agen pembaharu Allah menyikapi keadaan ini? Hal praktis apakah yang dapat dilakukan oleh gereja untuk memulai pembaharuan sehingga iman Kristen menjadi fondasi bagi kehidupan orang Kristen Batak Toba? Hal inilah yang akan disorot dalam artikel ini, secara khusus ditinjau dari sudut pandang teologi injili
Konsep Sorga menurut Alkitab
Akhir-akhir ini ajaran tentang sorga banyak merambah kehidupan orang Kristen. Para pemimpin gereja, juga tak ketinggalan kaum awam, ramai-ramai memberitakan atau menyaksikan pengalaman peijalanan mereka ke sorga. Majalah rohani, buku-buku dan kaset-kaset dipilih sebagai media terbaik untuk "menyuarakan" kesaksian pengalaman subyektif mereka. Ayat-ayat Alkitab pun dikutip untuk melegitimasi kesaksian mereka tentang sorga. Walaupun demikian, tidak sedikit kesaksian dan ajaran. mereka tentang sorga yang menyimpang dari kebenaran firman Tuhan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengadakan penelitian tentang sorga.--Tujuan penelitian ini yaitu untuk menemukan pandangan Alkitab tentang sorga; guna memperlengkapi orang percaya dengan konsep sorga yang benar sehingga tidak mudah diombang-ambingkan dengan doktrin sorga yang tidak alkitabiah. Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, maka penulis mamakai metode eksegesis untuk meneliti ayat-ayat dalam PL dan PB tentang sorga. Selanjutnya, dengan sikap yang kritis dan analitis, tulisan-tulisan dari para teolog Kristen yang membahas tentang sorga, dipakai sebagai pembanding untuk mempertajam kesimpulan yang diambil dalam penelitian ini.--Sebelum masuk kepada pandangan Alkitab tentang sorga, penulis mengawalinya dengan memaparkan pandangan agama-agama non-Kristen tentang sorga. Maksudnya agar para pembaca dapat membandingkannya dengan konsep Alkitab. Selanjutnya, juga dipaparkan pandangan-pandangan tentang sorga yang terdapat dalam tradisi Kristen sejak abad bapa-bapa gereja hingga abad modem. Maksudnya, supaya pembaca dapat mengetahui pandangan-pandangan tersebut, sekaligus membandingkan nya dengan pandangan sorga menumt Alkitab.--Dari penelitian ini ditemukan bahwa pertama, temyata konsep sorga yang ada dalam agama-agama non-Kristen, dalam beberapa hal mirip dengan yang ada dalam agama Kristen. Misalnya, sorga mempakan suatu suasana atau tempat yang sifatnya sangat menyenangkan dan membahagiakan bagi mereka yang beriman dan taat pada ajaran-ajaran dalam agama. Kedua, pengajaran tentang sorga yang ada dalam sepanjang rentangan sejarah kekristenan, tidak sedikit yang lahir dari konteks jemaat setiap zaman, dan pengalaman subyektif pribadi pengajar atau pemimpin gereja tentang sorga. Bukan sepenuhnya lahir dari atau sesuai dengan kebenaran Alkitab. Banyak gambaran tentang sorga yang diajarkan melebihi pengajaran Alkitab; yang semuanya itu hanya demi memenuhi "tuntutan" keadaan zamannya.--Ketiga, Alkitab sendiri tidak banyak berbicara tentang keadaan sorga dan kehidupan manusia di sorga secara mendetail dan jelas. Namun, dari ayat-ayat yang tersebar dalam PL dan PB menjelaskan bahwa sorga sebagai suatu tempat dan keadaan. Sorga adalah tempat kediaman Allah Tritunggal, malaikat dan orang percaya. Sorga juga merupakan suatu keadaan yang penuh damai sejahtera yang dapat dinikmati oleh orang percaya sekarang di dunia. Kerajaan sorga itu telah hadir ke dunia seiring kedatangan Kristus di dunia dan kuasanya yang melahirbamkan orang berdosa menjadi warga Kerajaan Allah. Karena itu ketika seseorang dilahirbarukan oleh Roh Kudus, ia langsung dapat menikmati keindahan dan damai sejahtera sorgawi. Kelak, dia akan menikmati keindahan dan kebahagiaan sorgawi tersebut, secara sempuma tatkala bersekutu dengan Bapa di sorga. Jadi sorga itu juga berdimensi akan datang.--Keempat, di sorga yang penuh dengan kebahagiaan dan damai sejahtera sempuma itu, orang percaya akan bertubuh bam, bukan terdiri dari darah dan daging. Tubuh bam tersebut bukan tanpa wujud dan tidak dapat dikenal. Tubuh bam itu akan seperti tubuh kemuliaan Tuhan Yesus. Oleh karena itu dapat disentuh, bukan seperti tubuh yang tipis, ringan, dan tembus pandang. Tubuh bam bersifat rohani, tidak binasa, kuat, dan penuh kemuliaan. Walaupun dengan tubuh bam, orang percaya dapat saling mengenal. Karena di sorga, identitas setiap orang percaya tidak akan lenyap. Itu sebabnya akan terjadi reuni besar-besaran di sorga