STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Doktrin dan Penggunaan Kitab Suci Menurut C. S. Lewis
C. S. Lewis dalam salah satu bukunya menulis demikian: Bagi saya kitab Ayub nampak bukan kisah historis. Hal ini disebabkan kitab Ayub dimulai dengan kisah tentang seorang laki-laki yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan semua sejarah, bahkan semua legenda. Laki-laki itu tinggal di sebuah negara di mana negara itu tidak pernah disebutkan di bagian lain di Alkitab; kelihatannya, penulis dengan sangat jelas menulis sebagai seorang pendongeng bukan sebagai seorang sejarawan. Selanjutnya ia mengatakan, “Oleh karena itu, saya tidak mengalami kesulitan dalam menerima, misalnya, pandangan dari para sarjana yang mengatakan kepada kita bahwa kisah tentang penciptaan di kitab Kejadian berasal dari cerita-cerita bangsa Semit zaman dahulu yang bersifat politeisme dan mistis.” Ada beberapa pertanyaan yang mungkin muncul dalam pikiran kita sesudah membaca pernyataan-pernyataan di atas, misalnya: Apakah Lewis percaya kepada inspirasi Alkitab, ataukah tidak? Apakah ia berpikir bahwa Alkitab merupakan sebuah mitos dan bukan sebuah fakta historis? Bagaimana dengan kisah Yesus Kristus di dalam Perjanjian Baru, apakah ia juga berpikir bahwa kisah tersebut merupakan sebuah mitos? Lewis sendiri menyatakan bahwa ia dituduh sebagai seorang fundamentalis. Di lain pihak, pemahamannya terhadap Kitab Suci dituduh oleh kaum fundamentalis sebagai pemahaman yang liberal. Jadi, dalam isu kontroversial ini di sisi manakah ia sebenarnya berada? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita harus mengerti terlebih dahulu apa sebenarnya arti semua istilah yang ia gunakan yang berkaitan dengan masalah ini, misalnya wahyu Allah, inspirasi, mitos, otoritas, ineransi dan infalibilitas Alkitab. Sesudah itu penulis akan membandingkannya dengan pengertian yang dianut kaum liberal dan fundamentalis. Artikel ini tidak hanya menjelaskan pandangan Lewis terhadap Kitab Suci dan bagaimana ia telah menggunakannya, tetapi juga bagaimana pandangannya dapat memberikan pencerahan kepada kita dalam melihat ilmu pengetahuan dan pandangan orang lain dalam perspektif yang berbeda dari yang mungkin telah kita miliki sebelumnya. Ini tidak berarti kita harus setuju dengan semua yang ia katakan, namun tidak ada salahnya kita memikirkan dan mempertimbangkannya sebagai bahan evaluasi untuk apa yang kita percaya selama ini. Siapa tahu pandangan tersebut dapat mempertajam apa yang kita percayai selama ini dan bergeser dari “asal percaya” menjadi “aku tahu apa yang kupercaya dan aku tahu mengapa aku percaya.
Di Manakah Orang-Orang yang Telah Meninggal Dunia Berada ? : Sebuah Studi Mengenai Intermediate State
Perjanjian Baru mengajarkan bahwa orang-orang yang telah mati akan dibangkitkan pada waktu kedatangan Kristus kedua kali. Pertanyaan yang segera muncul atas pengajaran Alkitab ini adalah, “Di manakah mereka selama kurun waktu antara kematian mereka dan kedatangan Tuhan Yesus kedua kali?” Dengan perkataan lain, “Di manakah jiwa mereka menunggu selama waktu itu?” Wajar bila kita berpikir bahwa mereka ada di suatu tempat di dalam periode antara kematian dan kebangkitan mereka. Masa atau keadaan itu disebut dengan istilah “intermediate state.” Istilah ini diciptakan oleh para teolog untuk menjelaskan dengan tepat ruang dan waktu yang bersifat sebagai antara dan sementara. Kata sifat “intermediate” mengacu pada suatu kurun waktu tertentu sedangkan kata benda “state” berarti suatu kondisi manusia di bawah keadaan tertentu. Jadi, konsepsi ini secara keseluruhan menyatakan keadaan orang-orang mati dalam masa antara kematian dan kebangkitan mereka, dalam hal ini juga mencakup pertanyaan-pertanyaan yang timbul seperti: Dalam kurun waktu itu, di manakah orang-orang yang sudah meninggal dunia menunggu? Apakah mereka masih hidup? Apakah mereka sadar dan tahu siapa diri mereka? Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka sudah menerima hukuman atau pahala, atau masih dalam keadaan netral: tanpa hukuman atau pahala? Lalu bagaimana dengan roh mereka? Jiwa mereka? Pertanyaan-pertanyaan yang penting ini dapat muncul begitu saja dalam diri kita. Tentu jawaban pertanyaan ini dapat memberikan kepada kita suatu pengharapan yang besar atau sebaliknya, kekecewaan yang mendalam. Sayangnya, kebanyakan kita tidak mempunyai pengertian yang jelas tentang doktrin ini. ... Artikel ini adalah suatu usaha untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya Alkitab katakan tentang pengajaran intermediate state. Tujuannya adalah guna mendapatkan pengertian yang lebih jelas tentang hal tersebut sehingga kita mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan penting yang datang dari mereka yang memerlukan kepastian dan kekuatan di tengah-tengah dukacita mereka. Alur penulisan artikel ini adalah sebagai berikut: Pertama kita akan melihat beberapa pandangan tentang doktrin intermediate state, tanpa memberi komentar apa pun terhadap pandangan-pandangan itu. Kemudian, kita akan mencoba mengerti beberapa bagian Alkitab yang sering disebut-sebut sebagai dasar pengajaran intermediate state. Terakhir, kita akan melihat kesimpulan dan komentar atas beberapa pandangan tentang intermediate state yang akan menutup tulisan ini
Perspektif Alkitab untuk Kehidupan Remaja Kristen
Agustinus, salah seorang bapak gereja, dilahirkan di Tagaste (sekarang di wilayah Algeria) pada tahun 354. Ibunya yang bernama Monika adalah seorang Kristen yang saleh sedangkan Patrik, ayahnya, adalah seorang kafir yang mempunyai sifat pemarah dan pemabuk. Agustinus dipengaruhi oleh kehidupan ayahnya dan menjadi seorang remaja yang hidup menuruti hawa nafsunya. Pada masa mudanya, selain pandai menghafal Agustinus juga pandai berdusta, berkelahi, mencuri dan main perempuan. Ia pernah hidup bersama seorang wanita muda selama 13 tahun di luar nikah, dan dari hubungan asusila ini lahirlah seorang anak laki-laki. Namun syukur kepada Tuhan karena melalui pembacaan surat Roma 13:13-14 yang berkata: “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya,” Agustinus bertobat. Agustinus yang belum bertobat adalah Agustinus yang hidup mengikuti hawa nafsu sendiri, merugikan orang lain, hanyut dalam kenikmatan dunia dan tidak takut Tuhan. Agustinus yang sudah bertobat adalah Agustinus yang hidup dalam kekudusan, menjadi berkat bagi orang lain, meninggalkan kenikmatan dunia dan takut akan Tuhan serta mengasihi firman-Nya. Jika Tuhan sudah menyatakan kemurahan-Nya terhadap Agustinus melalui firman Tuhan yang dibacanya di kitab Roma 13:13-14, biarlah Tuhan juga menyatakan kemurahan-Nya pada kita melalui topik “Perspektif Alkitab untuk Kehidupan Remaja Kristen.” Apakah perspektif Alkitab untuk kehidupan remaja Kristen
Respons terhadap Konsep Inteligensi Spiritual (IS) : Sebuah Pendekatan Alternatif berdasarkan Konsep Calvinisme tentang Kerusakan Total
Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan dalam kehidupan manusia sebagai makhluk spiritual. Setiap orang, pada segala abad dan zaman memiliki kesadaran akan adanya suatu Allah. Hal ini disebabkan karena Allah telah menanamkan benih keagamaan dalam diri setiap manusia yang diciptakan-Nya. Penemuan Danah Zohar dan Ian Marshall akan adanya bentuk kecerdasan ketiga yang disebut dengan istilah kecerdasan spiritual, telah menyadarkan dunia akan pentingnya sisi spiritual dari hidup manusia yang selama ini mungkin telah terabaikan. Namun konsep kecerdasan spiritual yang dipaparkan oleh Zohar dan Marshall telah menimbulkan reaksi pro dan kontra dari berbagai kalangan. Oleh sebab itu skripsi ini ditulis untuk melakukan pengkajian terhadap konsep kecerdasan spiritual yang dipaparkan oleh Zohar dan Marshall. Pengkajian difokuskan pada peninjauan terhadap pemikiran dasar konsep kecerdasan spiritual yang dipopulerkan oleh Zohar dan Marshall dari sudut pemahaman Calvinisme tentang kerusakan total. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah dengan melakukan kajian terhadap beberapa sumber pustaka. Hasil pengkajian ini menunjukkan bahwa konsep kecerdasan spiritual yang dipopulerkan oleh Zohar dan Marshall merupakan pencampuran dari perkembangan dari psikologi transpersonal yang dipopulerkan oleh Victor Frankl dan juga ajaran dari humanisme kosmis yang merupakan akara dari gerakan zaman baru. Ada tiga kesimpulan yang diperoleh dari pengkajian ini yaitu: pertama, kecerdasan spiritual menganut paham humanisme, yang sangat menekankan pada potensi manusia sebagai makhluk ilahi; kedua, kecerdasan spiritual membawa manusia pada pemahaman sinkretisme, yang menganggap semua agama pada dasarnya sama karena menuju pada Yang Satu. Dengan demikian agama hanya dipandang sebagai satu bentuk panduan hidup; ketiga, kecerdasan spiritual membawa manusia pada kepercayaan akan adanya reinkarnasi, sebab harus ada jalan keluar bagi manusia yang tidak dapat mencapai keutuhan diri selama hidupnya di dunia. Mengingat adanya pemahaman yang menyimpang dari konsep kecerdasan spiritual yang cukup populer di tengah masyarakat pada masa kini, maka skripsi ini ditulis untuk memberikan tinjauan ulang terhadap konsep tersebut dari sudut Calvinisme tentang kerusakan total. Dengan demikian diharapkan para hamba Tuhan, aktivis dan setiap orang percaya lainnya dapat memiliki pemahaman yang benar akan konsep kecerdasan spiritual dan tidak disesatkan dengan pemahaman yang menyimpang
Pengaruh Latar Belakang Kehidupan Paulus terhadap Pelayanannya sebagai Pengajar dan Implikasi bagi Pengajar Kristen Masa Kini
Dari pengamatan terhadap pemikiran dan praktek mengajar beberapa tokoh pendidikan Kristen, didapati bahwa latar belakang kehidupan seorang pengajar memiliki pengaruh pada pemikiran dan praktek mengajarnya. Pengamatan ini mendorong ditulisnya skripsi ini. Skripsi ini membahas pengaruh latar belakang kehidupan seoran pengajar Kristen pada pelayanannya sebagai pengajar sehingga dapat memberikan implikasi bagi para pengajar masa kini. Skripsi ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak-pihak yang terbeban pada pelayanan mengajar, para pengajar, perekrut pengajar, dan gereja. Untuk memperjelas pembahasannya, skripsi ini menggunakan metode penulisan studi literatur untuk memaparkan latar belakang kehidupan rasul Paulus dan pelayanannya sebagai pengajar. Selanjutnya, skripsi ini berusaha memaparkan bagaimana latar belakang kehidupan Paulus mempengaruhi perannya sebagai pengajar dalam: konsep diri, tujuan hidup dan pelayanan mengajar, otoritas mengajar, kepentingan mengajar, respons terhadap tantangan, isi pengajaran dan cara mengajarnya serta bagaimana latar belakang tersebut mempengaruhi obyek penerima pengajarannya. Hasil penelitiaan menunjukkan bahwa latar belakang rasul Paulus jelas telah mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang pengajar. Tiap bagian latar belakang yang dibahas mempengaruhi Paulus pada bagiannya masing-masing sehingga tidak satu bagianpun dapat diabaikan. Namun demikian, pertobatan Paulus atau kelahiran barunya merupakan suatu peristiwa yang harus ada dalam garis pengalaman hidupnya. Ini menjadi syarat utama bagi Paulus untuk mengawali pelayanannya sebagai seorang pengajar Kristen dengan pengajaran yang benar. Latar belakang yang lain berperan dalam memperlengkapinya menjadi pengajar Kristen yang kompeten dan latar belakang pertobatannya memberikan pengaruh yang hidup dalam setiap aspek pemikiran dan pelayanan mengajarnya. Pembahasan yang dilakukan menyimpulkan bahwa latar belakang kehidupan memang mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi pribadi pengajar yang bersangkutan sehingga perlu diperhatikan. Latar belakang pertobatan sudah seharusnya dimiliki seorang pengajar Kristen. Selanjutnya keterampilan mengajar yang lain dapat dikembangkan melalui pembinaan-pembinaan khusus
Tinjauan Historis dan Teologis Liturgi Kebaktian Minggu Gereja-Gereja Tionghoa di Indonesia
Saat ini gereja-gereja Protestan Tionghoa di Indonesia sedang melakukan pembaruan liturgi. Mereka mencoba mempertahankan dan membaharui liturgi mereka. Pembaruan ini dilakukan dengan keyakinan bahwa liturgi penting dan relevan bagi ibadah mereka. Namun disayangkan, pembaruan liturgi yang mereka lakukan seringkali hanya menyentuh pada aspek penampilan luar liturgi dan tidak mencapai aspek liturgi yang mendalam. Lagi pula pada umumnya gereja-gereja Protestan Tionghoa kurang memahami arti, asal-usul dan makna liturgi yang mereka pakai. Pembaruan liturgi tanpa dasar pemahaman liturgi yang benar hanya akan membuat pemisikinan makna dan penyimpangan liturgi dari kebenaran Alkitab, serta hilangnya identitas gereja. Oleh sebab itu, pembaruan liturgi seharusnya didasarkan pada studi yang mendalam dan komprehensif terhadp liturgi (secara khusus pada aspek historis dan teologisnya). Pertama-tama perlu dipahami secara jelas arti dari liturgi. Liturgi berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan berkumpulnya jemaat dan dengan ibadahnya atau kebaktiannya. Dari sejarah perkembangan liturgi kita menemukan bahwa liturgi yang sekarang ini dipakai oleh gereja-gereja Tuhan merupakan hasil perjalanan sejarah liturgi yang sangat panjang. Bertahannya liturgi sampai sekarang menunjukkan bahwa liturgi dalam ibadah adalah penting dan relevan bagi gereja-gereja Tuhan. Lagi pula liturgi merupakan medan dan sarana gereja untuk mengungkapkan dan melaksanakan dirinnya, sekaligus sebagai Cermin Injil yang memantulkan dan menyatakan karya Tuhan kepada jemaat serta memperlihatkan jawaban jemaat kepada Allah. Usaha pembaruan liturgi yang dilakukan seharusnya juga memperhatikan faktor-faktor pembentuk liturgi serta arti dan makna dari masing-masing liturgi yang ada. Selanjutnya gereja-gereja Protestan Tionghoa di Indonesia juga perlu mengetahui sejarah terbentuknya liturgi mereka sekarang ini. Dilanjutkan dengan kesediaan dan keterbukaan mereka untuk mengevaluasi liturgi yang mereka pakai sekarang ini dan mengambil langkah-langkah pembaruan yang diperlukan. Diharapkan melalui skripsi ini gereja-gereja Protestan Tionghoa di Indonesia mempunyai acuan dalam melakuikan pembaruan liturgi, sehingga liturgi mereka dapat menjadi liturgi ibadah yang sungguh-sungguh membawa jemaat menyembah Allah
Dasar-Dasar Alkitabiah Pengembangan Kepemimpinan
Alkitab merupakan buku yang mengagumkan. Bukan hanya karena buku ini meliputi rencana keselamatan, tetapi juga menjadi buku pegangan bagi kepemimpinan, terutama kepemimpinan Kristen. Saya berani mengatakan, sekalipun kita telah mempelajari berbagai teori kepemimpinan sekuler, kita tidak akan menjadi pemimpin yang efektif sebelum mempelajari prinsip-prinsip kepemimpinan dari Alkitab,. Alkitab bukan hanya merupakan kisah tentang karya Allah yang luar biasa, melainkan juga kisah para pemimpin pilihan Allah. Dalam Perjanjian Lama kita mengenal lusinan pemimpin besar seperti Abraham, Yusuf, Musa, Yosua, Gideon, Samuel, Elia, Elisa, Daud, Salomo, Daniel, Nehemia dan lain-lain. Jika kita menyelidiki Perjanjian Lama dengan sungguh-sungguh kita akan menemukan pada hampir setiap halamannya menampilkan biografi, karakter, kepribadian, pelayanan, karya dan tulisan para pemimpin tersebut. Kitab-kitab injil tidak kurang menariknya dibandingkan dengan PL sebab kitab-kitab ini menggambarkan kehidupan Sang Pemimpin Agung, yaitu Yesus Kristus. Siapa pun yang ingin berhasil dalam kepemimpinan-hamba, yang sangat dibutuhkan gereja, ia mutlak harus belajar dengan rendah hati dari Tuhan sendiri. Dalam kitab Kisah Para Rasul kita melihat karya-karya para pemimpin gereja mula-mula seperti Petrus dan Paulus yang mengikuti setiap langkah Tuhan kita dalam kepemimpinan. Kemudian dalam kitab-kitab PB selanjutnya, terutama surat-surat, tidak dapat disangkal tulisan para rasul memperlihatkan karakter, kemampuan dan keterampilan mereka sebagai pemimpin gereja dalam mengatasi segala permasalahan yang terjadi pada jemaat mula-mula. Artikel ini akan membahas secara singkat pola pengembangan kepemimpinan dalam Alkitab
Penggembalaan Tuhan Yesus dalam Kitab Wahyu Sebagai ὁ παντοκράτωρ Kepada Jemaat yang Menderita (Sebuah Refleksi Berita Penggembalaan Bagi Gereja-Gereja di Indonesia yang Sedang Menderita)
Kitab Wahyu adalah sebuah kitab penggembalaan dari Tuhan Yesus kepada jemaat-Nya yang sedang mengalami tekanan internal maupun eksternal. Berbagai tekanan tersebut membuat mereka mengalami pergumulan teologis dan praktis. Di dalam situasi dan kondisi seperti ini siapakah yang sebenarnya berkuasa? Tuhan atau para penganiaya jemaat? Dari sudut pandang manusia, memang yang kelihatannya menjadi penguasa adalah mereka yang telah menekan jemaat. Namun, surat penggembalaan Tuhan Yesus yang dimuliakan ini menyatakan sudut pandang ilahi yaitu Sang Penguasa yang sejati adalah Tuhan Yesus Kristus. Dengan mengerti dan mengimani hal ini maka jemaat akan dihiburkan dan dikuatkan untuk tetap setia kepada Tuhan sampai akhir. Berita penggembalaan inilah yang perlu disampaikan kepada jemaat di Indonesia yang juga mengalami situasi dan kondisi mirip dengan jemaat dalam kitab Wahyu. Pada saat ini jemaat di Indonesia mengalami penganiayaan yang terjadi secara sporadis dan parsial, namum nampaknya dilakukan secara sistematis dan cenderung menunjukkan peningkatan dalam hal kuantitas maupun kualitas; tekanan yang kuat dari kelompok-kelompok radikal yang antipati terhadap kekristenan khususnya di Indonesia; adanya infiltrasi ajaran-ajaran sesat di dalam gereja-gereja di Indonesia; dan tantangan untuk berkompromi dengan adat istiadat serta kepercayaan setempat yang tidak sesuai dengan iman Kristen. Dengan mengerti berita penggembalaan ini maka jemaat di Indonesia juga akan dihiburkan dan dikuatkan untuk tetap setia pada Tuhan. Pengertian yang perlu dimiliki oleh jemaat ini berfokus pada penggunaan kata ho pantokrator sebanyak sembilan kali di dalam kitab Wahyu. Masing-masing bagian menggambarkan Tuhan Yesus sebagai Sang Penguasa di dalam dimensi yang berbeda. Dimensi itu adalah Tuhan Sang Penguasa yang memberikan damai sejahtera (Why. 1:4-8), yang mempunyai rencana (Why. 4:1-11), yang memimpin ke "tanah perjanjian" (Why. 11:15-19), yang memberikan kemenangan dalam keadilan dan kuasa-Nya (Why. 15:2-4), yang membalas setiap perbuatan penentang-Nya dengan tuntas (Why. 16:4-7), yang mengumpulkan musuh-musuh-Nya untuk dihancurkan (Why. 16:12-16), yang akan datang sebagai Mempelai Pria dalam Perkawinan Anak Domba (Why. 19:1-8), yang menggenapi janji-Nya (Why. 19:11-16), dan yang hadir bersama umat-Nya (Why. 21:22-27)
Paulus, Hukum Taurat dan Perspektif yang Baru : Sebuah Penelitian dan Respons
Pandangan Paulus tentang hukum Taurat tidak diragukan lagi merupakan salah satu tantangan hermeneutikal yang paling kompleks yang ditemukan dalam semua tulisannya. Tidak sedikit monograf dan artikel mengenai teologi Paulus tentang hukum Taurat secara mengherankan terus muncul di sepanjang zaman. Barangkali, sepantasnyalah demikian mengingat kompleksitas dan sulitnya isu-isu yang terlibat di dalamnya. Salah satu contohnya, apakah Paulus berargumentasi tentang penghapusan hukum Musa ataukah validitas hukum tersebut tetap berkesinambungan namun berada di bawah pelaksanaan ikatan perjanjian yang baru? Dalam pengertian apa dan sampai sejauh mana hukum Taurat tetap berlaku, dan sebaliknya, dalam pengertian apa serta sejauh mana hukum itu tidak lagi valid? Jika hukum itu tidak lagi berlaku, apakah kegunaannya bagi orang percaya zaman Perjanjian Baru, mengingat bahwa hukum tersebut adalah bagian dari firman yang diinspirasikan? Ini hanya beberapa contoh pertanyaan yang dihadapi oleh mereka yang mempelajari teologi biblika dan sistematika. Studi kontemporer belakangan ini juga makin mempertanyakan validitas pandangan injili tentang pembenaran hanya oleh iman melalui Kristus sehubungan dengan “perspektif baru” terhadap Paulus. Apakah perspektif baru ini? Pusat dari pendekatan ini adalah pengakuan bahwa Yudaisme periode Bait Allah kedua bukanlah agama pembenaran-diri yang melaluinya seseorang memperoleh keselamatan dari Allah berdasarkan perbuatan atau jasanya. Perdebatan Paulus dengan penganut Yudaisme bukanlah tentang anugerah Kristen melawan legalisme Yahudi tetapi lebih ke status orang-orang kafir di dalam gereja. Doktrin pembenaran Paulus, karena itu, jauh lebih berkaitan dengan isu-isu Yahudi-kafir daripada dengan pertanyaan-pertanyaan tentang status seseorang di hadapan Allah. Memang “perspektif baru” ini diakui sebagai terobosan revolusioner dalam studi PB, yang tidak terhindarkan lagi telah menghasilkan analisa-analisa baru dan interpretasi-interpretasi yang berbeda secara radikal tentang teologi hukum Taurat Paulus yang, jika diterima, akan memaksa kaum injili untuk merevisi, jika tidak mengabaikan, pengertian tradisional mereka tentang Yudaisme Palestina dan doktrin pembenaran. Artikel ini akan berusaha menguji perspektif baru Paulus berkaitan dengan isu-isu yang dimunculkan di atas dan menawarkan respons injili terhadap pendekatan baru ini. Penelitian akan dilakukan dengan cara berikut: Pertama akan disajikan suatu ulasan pandangan tradisional tentang teologi hukum Taurat Paulus yang diketengahkan oleh para Reformator seperti Martin Luther dan John Calvin. Ini akan berfungsi sebagai latar belakang diskusi tentang perspektif baru. Kedua, perspektif baru terhadap Paulus akan diuji. Bagian ini juga akan memperkenalkan penganjur-penganjur utama serta prinsip-prinsip yang dianut oleh kebanyakan, jika tidak mau dikatakan semua, sarjana perspektif baru. Ketiga, menawarkan respons injili yang akan menyelidiki kemungkinan adanya kesempatan untuk memberikan respons dan memberikan kritik terhadap perspektif baru. Sudah tentu keterbatasan ruang tidak memungkinkan untuk melakukan studi komprehensif atas perspektif baru terhadap studi-studi tentang Paulus ini, khususnya penyelidikan eksegetikal terhadap materi-materi biblikal yang relevan
Tujuan Pengajaran Gereja dan Implikasinya
Penelitian menunjukkan adanya penurunan jumlah kehadiran jemaat dalam kelas-kelas pembinaan seperti Sekolah Minggu. Kurang tertariknya jemaat terhadap kelas-kelas tersebut membawa dampak terhadap kehidupan, pertumbuhan iman dan kesaksian jemaat. Hal yang hampir serupa juga dihadapi oleh gereja-gereja di Indonesia. Paulus Lie, dalam prawacana bukunya, mengatakan banyak guru yang mengeluhkan kurang menariknya acara yang digelar di Sekolah Minggu sehingga minat anak untuk datang ke Sekolah Minggu menurun. Masalah ini coba dijawab oleh banyak gereja dengan menggunakan metode yang kreatif. Oleh karena itu banyak gereja berupaya untuk men-training guru-guru Sekolah Minggu agar dapat mengajar dengan lebih kreatif. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah metode yang kurang kreatif menjadi dasar permasalahannya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel ini mencoba untuk memaparkan apa yang terjadi di dalam kelas, menganalisa apa yang menjadi dasar permasalahannya, serta mengajukan hal-hal yang perlu diperhatikan gereja di dalam mengemban tugas pengajaran