STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Teologi Kristen-Anonim Karl Rahner dan Implikasinya terhadap Pelayanan Misi Gereja di Indonesia
Tesis ini disusun dalam rangka analisa kritis terhadap karya besar seoranga tokoh Katolik bernama Karl Rahner dengan gagasannya tentang Kristen-Anonim. Penelitian dialakukan melalui studi atas hasil karya asli maupun sumber kedua yang bersifat deskriptif. Fokus utama adalah melihat bagaimana konsep yang mendasari terbentuknya Kristen-Anonim dari beberapa data teologis, yakni tentang manusia, anugerah, dan kehendak Allah. Penelitian ini berlanjut kepada bagaimana konsep-konsep Rahner ini berpengaruh terhadap konsep misi gereja, dalam hal ini dialog antar umat beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran teologi Rahner tentang manusia sepenuhnya didasarkan pada konsep filosofis yang berkembang dari pemikitan Thomas Aquinas, Immanuel Kant, dan Joseph Marechal. Rahner tidak sepenuhnya mengadopso pemikran mereka tetapi ia mencampurkan beberapa pemikiran dan menjadi miliknya sendiri. Baginya, manusia adalah roh dan sebagai manusia roh manusia memiliki kemampuan transendensi diri menuju kepada realitas yang dikenal oleh orang Kristen sebagai Allah. Dinamisme pikiran manusia melampaui benda-benda yang terlihat oleh indera menuju kepada apa yang ia sebut Yang-Ada (being) terjadi pada tingkat yang sangat dalam sehingga manusia tidak mudah menyadarinya. Penelitian terhadap konsep anugerah Rahner menunjukkan adanya perbedaan dengan konsep Kristen Protestan. Bagi Rahner, anugerah adalah komunikasi diri Allah yang secara langsung dapat terjadi pada setiap manusia. Oleh karena itu, di mana dan kapan saja manusia dapat menerima komunikasi diri Allah itu. Melalui Logos yang telah ada di dunia dan melalui Roh Kudus yang keluar dari Bapa dan Anak, maka setiap manusia yang diselamatkan selalu merupakan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Dari konsepnya ini, kita menemukan kesinambungan antara konsep Kristen-Anonim dengan keselamatan yang dapat diperoleh oleh mereka yang sekalipun tidak pernah mendengar berita injil secara eksplisit. Ditambah dengan dukungan bahwa Allah menghendaki untuk semua manusia diselamatkan, akhirnya semua orang dapat dan harus dianggap sebagai Kristen-Anonim. Konsep Kristen-Anonim akhirnya berpengaruh pada misi gereja. Misi tidak lagi dilakukan dalam semangat untuk membawa manusia mengakui keberdosaan dan kebutuhan mereka akan juruselamat secara pribadi. Misi dilakukan dalam rangka dialog untuk menenmukan adanya kesamaan iman pada orang-orang non-Kristen. Misi juga dilakukan untuk menyadarkan orang-orang yang belum percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang telah dianugerahi dan bahwa mereka sebetulnya adalah orang-orang Kristen yang anonim. Hasil studi di atas membawa kita kepada suatu kesadaran akan pentingnya memperoleh wawasan yang tepat melalui penyelidikan akan firman Tuhan sebagai landasan untuk memahami apa dan bagaimana manusia itu di hadapan Allah. Apa yang Alkitab katakan tentang pengetahuan manusia akan Allah, bagaimana misi dilakukan baik oleh Allah sendiri, maupun oleh Yesus dan rasul-rasul, dan bagaimana kita memahami maksud kehendak Allah bagi keselamatan semua manusia. Bagaimanapun juga konsep-konsep tentang manusia dan Allah yang dibangun di atas dasar filosofis terbukti mendatangkan berbagai persolan dan cenderung menyimpang dari kebenaran Alkitab
Martin Luther dan Penginjilan terhadap Orang Yahudi
Jasa Martin Luther baik sebagai seorang teolog maupun sebagai reformator tidak bisa kita pungkiri. Semua orang Kristen yang mempelajari sejarah gereja pasti akan bertemu dengan tokoh Jerman ini yang dilahirkan pada 1483 dan meninggal pada 1546 di Jerman. Sikap Luther terhadap penginjilan dan misi dalam sejarah teologi menjadi perdebatan yang seru. Para sarjana pada abad-abad yang lalu tidak melihat bahwa Luther memiliki sikap positif terhadap penginjilan, namun sejak Karl Holl menulis makalah berjudul Luther und die Mission (Luther dan Misi) pada 1924, tanggapan para teolog dan misiolog tentang Luther dan misi sedunia mulai lebih positif. Sikap Luther terhadap penginjilan kepada orang Yahudi lebih hangat lagi didiskusikan dalam ilmu teologi oleh karena ia mengalami satu perkembangan dalam pemikiran tentang penginjilan terhadap orang Yahudi. Perkembangan itulah yang akan saya selidiki melalui artikel ini. Seumur hidupnya Luther menganggap orang Yahudi sebagai sebuah ladang misi yang hadir di tengah-tengah orang Kristen. Kita tidak boleh lupa bahwa ia dilahirkan dan dibesarkan pada abad pertengahan di Jerman yang hanya mengenal satu agama yaitu agama Kristen Katolik. Seluruh lingkungannya dipengaruhi hanya oleh satu agama yang diikuti dan dihayati oleh rakyat di bawah pimpinan gereja dan raja. Orang Eropa pada zaman itu bertemu dengan penganut agama lain hanya ketika mereka berperang dengan orang Turki yang beragama Islam dan yang mengancam negara-negara Kristen Katolik di Eropa. Itu sebabnya sering kali agama Islam dipandang sebagai agama musuh negara dan agama Kristen di Eropa, serta tidak disukai dan dipahami oleh orang Eropa. Selain orang Turki yang jarang dijumpai rakyat Eropa kecuali waktu perang, mereka bertemu dengan orang Yahudi yang tinggal di tengah-tengah mereka. Biasanya orang Yahudi berkiprah di bidang ekonomi dan perbankan dan banyak di antara mereka yang kaya. Sebelum Luther, orang Yahudi dipandang sebagai “pembunuh” Kristus dan musuh Allah. Gereja Katolik pun sudah merasa berkewajiban untuk mencapai orang Yahudi dengan Injil, apalagi orang “kafir” ini tinggal di tengah-tengah umat Kristiani. Seumur hidup Luther tidak pernah berhenti mendoakan keselamatan abadi orang Yahudi. Walaupun pada akhir hidupnya ia merasa sangat kecewa terhadap orang Yahudi, reformator Jerman ini tidak pernah lupa mendoakan bangsa pilihan Allah tersebut. Tulisannya yang paling tajam melawan orang Yahudi adalah Wider die Juden und ihre Lugen (Melawan Orang Yahudi dan Kebohongan Mereka) dan Von Schem Hamphoras und vom Geschlecht Christi (Tentang Schem Hamphoras dan Tentang Keturunan Kristus), yang diakhiri dengan doa syafaat bagi bangsa Allah
Doa Yabes : Diabaikan dan Dieksploitasi
Akhir-akhir ini doa Yabes dipopulerkan lewat Bruce H. Wilkinson dan pelayanannya. Bukunya, Doa Yabes: Menerobos ke Hidup Penuh Berkat, amat laris, demikian juga bermacam-macam aplikasi dari buku tersebut, seperti doa Yabes untuk remaja, pemuda, untuk bahan renungan setiap hari dalam sebulan. Padahal kisah tentang Yabes di seluruh Alkitab hanya tercatat dalam dua ayat. Selain itu, banyak tokoh lain dalam Alkitab yang doanya dikabulkan. Namun belakangan ini tokoh Yabes diekspos besar-besaran meskipun banyak juga orang beranggapan bahwa doa Yabes terlalu dibesar-besarkan. Ron Gleason bahkan tidak merekomendasikan orang lain untuk membaca buku Wilkinson. Daripada kita masuk ke dalam pro-kontra yang membingungkan tentang doa Yabes, baiklah kita mempelajari teks Alkitabnya
Sebuah Tinjauan terhadap Teologi Feminisme Kristen
Apakah sebenarnya teologi feminis itu? Mengapa teologi ini mendapat banyak kritik di sana-sini? Apakah teologi ini mendapat dukungan yang cukup dari Alkitab sebagai sumber teologi Kristen yang berotoritas? Untuk menjawab pertanyaan ini pada halaman-halaman berikut secara singkat kita akan mencoba mendefinisikan feminisme Kristen kemudian mempelajari bagaimana pandangan feminisme terhadap Alkitab serta metode berteologinya. Mengingatnya luasnya lingkup feminis maka pembahasan difokuskan pada teologi feminis Kristen liberal yang diwakili oleh Rosemary Radford Ruether, Letty M. Russell dan Elizabeth Schüssler Fiorenza. Namun sebelum masuk ke dalam pembahasan tersebut pada bagian berikut akan kita telusuri lebih dahulu latar belakang historisnya guna lebih memahami pandangan ini
Studi tentang Konsep Spiritualitas Yohanes Calvin dan Relevansinya dalam Menjawab Tantangan Spiritualitas Kristen Masa Kini
Sejarah gereja yang telah berusia lebih dari 20 abad meninggalkan berbagai harta berharga yang dapat dipakai untuk mengevaluasi berbagai tantangan zaman ini. Peninggalan tersebut sekaligus dapat juga berfungsi sebagai pendorong dan pembangkit semangat gereja untuk lebih menghargai iman Kristen, sehingga tidak mudah berkompromi dengan segala situasi dan kondisi yang ada. Yohanes Calvin sebagai salah satu tokoh Gerakan Reformasi merupakan bagian dari sejarah gereja yang tidak boleh diabaikan. Pemikiran dan karyanya telah menjadi berkat bagi gereja dan dunia baik pada zamannya dan terus pada zaman-zaman sesudahnya. Hal yang disayangkan adalah ketika ia lebih dikenal sebagai seorang teolog yang memiliki pemikiran rumit, daripada seorang gembala yang sangat memperhatikan kebutuhan praktis jemaatnya. Ia bukan saja mengajarkan tentang hal-hal yang berkenaan dengan hidup Kristen atau spiritualitas Kristen saja, tetapi konsep-konsepnya itu bahkan dapat dilihat jelas memiliki dukungan dari pemikiran teologisnya yang setia pada kebenaran firman Tuhan. Dengan kata lain, ajaran-ajaran Calvin memiliki relevansi yang esensial bagi pergumulan praktis gereja pada masa kini, termasuk juga dalam hal spiritualitas Kristen. Setidaknya konsep spiritual Calvin dapat disarikan dalam tiga pemikiran besar, yaitu spiritualitas yang bersumber mutlak pada Allah, spiritualitas yang merupakan wujud pernyataan hasrat untuk memuliakan Allah dan spiritualitas yang bertumbuh melalui komunitas orang percaya. Dengan memperhatikan konsep spiritualitas Calvin tersebut, maka skripsi ini meninjau: apakah tantangan spiritualitas masa kini merupakan hal yang sesuai dengan iman Kristen? Dan bagaimana konsep spiritualitas Calvin dapat menjadi relevan dan menjawab tantangan tersebut? Tantangan spiritualitas masa kini menawarkan bentuk spiritualitas yang bersumber pada potensi diri sebagai makhluk spiritual. Lebih lagi, spiritualitas yang bersumber dari diri itu juga ditujukan bagi pemenuhan kebutuhan diri, secara khusus yang berkenaan dengan kebutuhan aktualisasi diri. Dan akhirnya, bentuk pertumbuhan yang ditawarkan pun adalah bersifat subyektif. Selain itu, perlu juga dicatat bahwa penawaran dari masing-masing bentuk tersebut memang terkesan begitu toleran, dapat merangkul semua golongan, menjawab kebutuhan nyata manusia modern dan sangat praktis untuk diterapkan. Studi dan analisa yang telah dilakukan menghasilkan gambaran tentang relevansi konsep spiritualitas Calvin dalam menjawab tantangan tersebut, yaitu dalam pembangunan prinsip spiritualitas yang solid, pemberian makna kekal terhadap hidup manusia dan pembinaan spiritual dalam gereja
Mengapa Ajaran Teologi Seseorang Dapat Berubah?
Selesai mengisi tiga kali kebaktian Minggu di sebuah gereja di Surabaya, saya ditemani makan malam oleh dua orang majelis dari gereja tersebut. Di tengah-tengah santap malam tersebut salah seorang majelis bertanya kepada saya, “Pak Daniel, tahu tidak bahwa si anu (ia menyebut nama seorang hamba Tuhan) sekarang ikut ajaran yang aneh-aneh (ia juga menyebut nama ajaran atau lebih tepatnya sebuah aliran yang belakangan ini agak santer)?” Setelah saya menjawab, ya saya tahu, majelis itu bertanya lebih lanjut, “Lho, kok bisa ya? Hamba Tuhan yang studi baik-baik dan setahu saya orang itu punya pengajaran yang cukup baik kok bisa ikut pengajaran yang sumbang seperti itu?” Pertanyaan seperti ini bukan pertama kalinya dialamatkan kepada saya; sudah berkali-kali, di berbagai tempat, oleh segala macam orang, baik yang hamba Tuhan, majelis, mahasiswa teologi bahkan awam. Mereka umumnya menjadi bingung ketika mendengar adanya pendeta atau lulusan teologi yang terbina dengan baik-baik mengalami pergeseran dalam ajarannya. Sekalipun menghebohkan dan membingungkan, sebenarnya perubahan ajaran teologi seseorang bukanlah hal yang baru. Perubahan itu juga bukan disebabkan pendidikan teologi seseorang hanya strata satu atau kurang mendalam. Sebab misalnya orang yang terdidik sampai gelar doktoral seperti Clark H. Pinnock dan yang sudah menulis banyak buku juga mengalami pergeseran dalam pengajarannya. Demikian pula apa yang terjadi pada Donald G. Bloesch, Norman Geisler, Jack Deere dan seterusnya. Walaupun ada juga orang yang berubah dari teologi yang tidak baik (misalnya dari teologi Liberalisme) menjadi teologi yang ortodoks (sebagai contoh apa yang terjadi pada Thomas C. Oden ), namun demikian agaknya orang yang teologinya berubah menjadi ngawur jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang berubah menjadi baik. Karena itu artikel ini mencoba melihat beberapa kemungkinan sebab-sebab seseorang dapat bergeser ajarannya. Saya memakai kata “kemungkinan” dengan pengertian walaupun ada beberapa sebab yang akan ditulis dalam artikel ini tetapi sebab-sebab itu belum tentu persis salah satu saja yang menyebabkan seseorang menjadi berubah. Ada kemungkinan beberapa sebab terjadi sekaligus, atau bisa juga ada sebab yang terselubung yang sulit dianalisis kecuali orang yang mengalaminya menulis buku, artikel, atau paling sedikit dapat dianalisis khotbah atau kesaksiannya. Jadi, istilah “kemungkinan” tidak berarti penulis ragu-ragu mengenai poin yang akan dibahas berikut ini, tetapi lebih kepada adanya kasus variabel yang berbeda-beda pada setiap orang
Tinjauan Filosofis dan Theologis terhadap Konsep Allah dalam Gerakan Zaman Baru
Saat ini kekristenan sedang bersaing dengan wawasan dunia Gerakan Zaman Baru. Sebagai suatu wawasan dunia, GZB merupakan refleksi filosofis dari konsep Allah mereka yang berakar dari pandangan panteisme monistis. Mereka memandang Allah sebagai realitas absolut yang imanen dan impersonal. Pandangan ini bertentangan dengan kekristenan yang memandang Allah sebagai realitas absolut yang transenden, imanen dan personal. Oleh karena proposisi utama dari kedua wawasan dunia ini bertentangan, maka setiap komponen dari kedua wawasan dunia ini juga saling bertentangan. GZB berusaha menunjukkan bahwa wawasan dunia mereka adalah wawasan dunia alternatif yang ditawarkan sebagai solusi bagi problem umat manusia. Untuk membuktikan kesejatiannya, maka wawasan dunia GZB harus diuji secara filosofis dan teologis. Ujian itu meliputi: ujian rasio, ujian pengalaman dan ujian praktis terhadap setiap komponen wawasan dunia GZB. Komponen itu adalah metafisika, epistemologi, pengalaman religius dan etika. Dari pengujian secara filosofis dan teologis ini dapat dibuktikan bahwa secara keseluruhan wawasan dunia GZB menderita ketidakcukupan filosofis dan berkontradiksi dengan kebenaran-kebenaran esensial wawasan dunia Kristen yang alkitabiah. Jadi dapat disimpulkan bahwa GZB telah gagal dalam membuktikan kesejatian wawasan dunianya, dan sebaliknya justru membuktikan kebenaran dan kesejatian wawasan dunia Kristen. Sebagai wawasan dunia, kekristenan memberikan seperangkat sistem konseptual yang konsisten dan koheren. Juga menyediakan pandangan yang komprehensif untuk mengakodasi wilayah pengalaman manusia yang luas serta memberikan tuntunan bagi tindakan manusia. Sepanjang kehadirannya, wawasan dunia Kristen telah menunjukkan kesejatian dirinya, karena itu kekristenan tidak dapat ditolak oleh karena ketidakcukupan secara filosofis atau kurang rasional. Penolakan terhadap kekristenan semata-mata dimotivasi oleh penolakan manusia untuk tunduk kepada otoritas Allah pencipta yang menyatakan diri-Nya dalam Alkitab. Pada akhirnya melalui tinjauan secara filosofis dan teologis terhadap wawasan dunia GZB ini, dapat dipahami perbedaan mendasar antara wawasan dunia GZB dan wawasan dunia Kristen, menemukan kelemahan-kelemahan mereka dan sebaliknya menunjukkan keunggulan wawasan dunia Kristen sebagai wawasan dunia alternatif untuk menyelesaikan problem-problem umat manusia. Diharapkan melalui pemahaman ini, keyakinan orang-orang Kristen terhadap wawasan dunia mereka semakin dikuatkan. Mereka juga dapat menjawab tantangan dari wawasan dunia Gerakan Zaman Baru, bahkan dapat bersaksi tentang pengharapan dalam iman Kristen
Membangun Gereja Secara Integratif-Ilahi-Insani Selaku Umat Allah-Tubuh Kristus-Bait Roh Kudus : Suatu Analisis terhadap Teologi O. E. Costas mengenai Pertumbuhan Holistik Gereja
Seiring dengan merebaknya isu pertumbuhan gereja, salah satu wujud tanggung jawab kita sebagai saksi Kristus dan pelayan injil adalah mengenali, menilai serta menyikapi berbagai konsep pertumbuhan gereja yang ada. Melalui tulisan ini kita akan mencermati konsep pertumbuhan holistik gereja dari Orlando E. Costas yang tertuang dalam buku-bukunya, The Church and Its Mission: A Shattering Critique from the Third World, The Integrity of Mission dan sebuah artikel berjudul “A Wholistic Concept of Church Growth.” Konsep ini menarik, baik dan layak dicermati karena dinilai kritis, kontekstual dan injili-integral-aplikatif. “Kritis” berarti bahwa ia juga mengkritisi atau menyoroti secara tajam isu kekinian pertumbuhan gereja. Yang dimaksud kontekstualk adalah pemikirannya “mengena” bagi gereja Indonesia. Sedangkan “injili-holistik-aplikatif” menunjuk pada jiwa misi injili (pendekatan misiologis yang alkitabiah menurut penekanan Kristen injili), berupaya melihat isu secara utuh-padu-antero, dan bisa diterapkan hingga tingkat lokal. Riwayat Costas akan mendahului penyajian garis besar teologinya. Pada bagian selanjutnya akan dibahas analisis pemikirannya untuk membantu kita lebih menghayati konsep pandangannya
Studi Mengenai Konsep Kekudusan Hidup Menurut John Wesley dan Relevansinya dalam Kehidupan Masa Kini
Melaksanakan dan menerapkan visi kekudusan hidup, yang merupakan panggilan bagi setiap orang Kristen, bukanlah sesuatu yang mudah, khususnya pada kehidupan masa kini dimana perkembangan dan perubahan dunia yang pesat membangkitkan tantangan dan hambatan yang semakin kompleks. Dalam perkembangan sejarah, banyak gerakan yang berusaha untuk memenuhi panggilan ini dan salah satu tokoh yang dianggap berhasil menerapkan dan mengajarkan visi ini pada zamannya adalah John Wesley, seorang tokoh kebangunan rohani (revival) di Inggris. John Wesley membangkitkan visinya bukan hanya di dalam gereja saja tetapi juga dalam kehidupan masyarakat dengan penerapan pengetahuan akan firman Allah dalam kehidupan sehari-hari, yang meliputi kekudusan hidup secara pribadi dan kekudusan hidup sosial. Salah satu kunci keberhasilan John Wesley adalah mengintegrasikan pertobatan dan pembaharuan pribadi menjadi dasar untuk pembaharuan sosial. Konsep ini relevan bagi orang Kristen sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan yang penuh tuntutan dan tantangan masa kini, karena dibangun di atas kebenaran dasar iman Kristiani dalam pelaksanaannya. Walaupun memiliki semangat kerohanian yang amat mendalam yang bersifat piestik namun tetap berwawasan luas dan universal, sehingga mempunyai peranan dan dapat menjadi suatu kekuatan membentuk masyatakat sosial