STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Tinjauan tentang Penyembahan Kontemporer dan Hubungannya dengan Pertumbuhan Gereja
Sepanjang zaman, tata cara ibadah gereja tidak selalu sama. Gereja-gereja tradisional sangat menjunjung tinggi liturgi dan penyembahan yang sesuai dengan pemahaman mereka mengenai ibadah. Sedangkan gereja-gereja dari kalangan Kharismatik cenderung memiliki model penyembahan yang dikenal dengan tren Praise and Worship. Sekarang ini, trend ibadah yang dianut gereja Kharismatik telah banyak diikuti oleh gereja-gereja tradisional walaupun banyak terjadi konfrontasi mengenai model penyembahan ini. Di zaman ini, penyembahan cenderung diidentikkan dengan "restoran siap saji". Artinya, jemaat akan mengunjungi gereja yang dianggapnya dapat dengan segera memuaskan kebutuhan rohaninya. Model penyembahan ini selanjutnya dikenal dengan penyembahan kontemporer yang artinya penyembahan yang direlevankan dengan kebutuhan orang zaman sekarang ini, khususnya dalam bentuk dan gaya musiknya. Akibatnya ada yang berpendapat bahwa model penyembahan kontemporer ini telah banyak menarik perhatian jemaat-jemaat tradisional dan kemudian berpindah ke gereja Kharismatik yang menggunakan model penyembahan yang demikian. Sehingga gereja-gereja tradisional mulai mengikuti model penyembahan ini dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah anggota gerejanya, atau setidaknya untuk memenuhi "selera" jemaatnya, supaya mereka tidak meninggalkan gerejanya, bahkan dapat mendatangkan pertumbuhan. Karena mereka menganggap bahwa model penyembahan kontemporer ini dapat mempengaruhi pertumbuhan gereja. Pertumbuhan gereja adalah upaya untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas gereja sesuai dengan kehendak Allah. Ada banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan gereja, salah satunya adalah penyembahan kontemporer ini. Banyak gereja yang bertumbuh pesat karena menggunakan model penyembahan yang demikian. Hal ini terbukti dari gereja-gereja Kharismatik yang memiliki jumlah jemaat yang terus bertambah setiap minggu. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah penyembahan kontemporer itu bertujuan untuk memuaskan keinginan seseorang dalam beribadah, atau untuk memberi pujian, hormat dan kemuliaan kepada Allah? Apakah pertumbuhan gereja hanya pada jumlah saja, lalu bagaiman dengan pertumbuhan kerohanian mereka secara pribadi? Untuk itu gereja perlu memahami konsep penyembahan yang benar serta pertumbuhan gereja yang utuh. Penyembahan hanya ditujukan kepada Allah, bukan untuk kesenangan diri sendiri. Pertumbuhan gereja jangan hanya melihat jumlah yang terus bertambah, melainkan harus memperhatikan kualitas dari jemaat itu sendiri. Diharapkan melalui skripsi ini gereja-gereja di Indonesia tidak sekedar mengikuti tren penyembahan sesuai dengan budaya masa kini. Tetapi tetap mempertahankan dan menanamkan konsep penyembahan yang benar dengan memodivikasi liturgi penyembahan seperlunya
Implikasi Misiologis Mujizat Penyembuhan dalam Yohanes 9 dan Relasinya dengan Pelayanan Signs and Wonders dalam Gerakan Pertumbuhan Gereja
Tulisan ini mencoba untuk mengeksplorasi pelayanan penyembuhan (healing ministry)–sebagai bagian dari pelayanan signs and wonders—yang merupakan salah satu metode penting gerakan pertumbuhan gereja (Church Growth Movement) yang banyak dicontoh dan dipraktekkan terutama di kalangan gereja-gereja injili termasuk Pentakosta dan Kharismatik. Dengan menggunakan beberapa prinsip yang ditarik melalui studi eksegetikal Yohanes 9:1-41, penulis akan menganalisis pelayanan penyembuhan mujizat ini. Penulis berasumsi bahwa gerakan pertumbuhan gereja telah memberikan pengaruh yang besar dalam kekristenan masa kini, terutama sejak tahun 1970-an, ketika Donald McGavran dan para koleganya memperkenalkan dan mempopulerkan gerakan ini. Signs and wonders sebagai salah satu elemen kunci gerakan ini telah secara luas dipraktekkan di kalangan gereja-gereja injili tersebut yang telah menjadi pendukung utama gerakan ini. Penulis berpendapat bahwa ada korelasi signifikan antara pelayanan signs and wonders yang dipraktekkan di kalangan gereja-gereja injili tersebut dengan pertumbuhan jemaatnya yang amat pesat. Dari sini, ada implikasi misiologis yang dapat ditarik untuk kritik diri sekaligus mencari jalan keluar problem-problem pelambatan pertumbuhan/perkembangan atau bahkan penurunan jumlah anggota yang terjadi di kalangan gereja-gereja non injili (mainline churches) yang merupakan bagian integral gereja Kristus di muka bumi ini
Sebuah Kritik untuk Kritik Alkitab Modern
Fokus utama proyek ini adalah presuposisi dasar metode kritik Alkitab modern, atau dengan kata lain asumsi dasar para sarjana Alkitab modern, yang telah mengarahkan pola pikir mereka sedemikian rupa, sehingga mereka percaya bahwa metode pendekatan terhadap Alkitab yang benar adalah seperti apa yang mereka yakini, sehingga mereka mengabaikan sama sekali proses-proses pendekatan terhadap Alkitab yang sifatnya “tradisional”atau “re-critical.” Dengan demikian, sasaran yang hendak saya capai melalui tulisan ini ada dua: pertama, saya akan menunjukkan bahwa asumsi dasar yang melandasi pola pikir sarjana Alkitab modern pada hakekatnya tidak konsisten pada dirinya sendiri. Kedua, sebagai akibatnya, saya akan mencoba untuk berargumen bahwa pola pendekatan tradisional atau konservatif terhadap Alkitab yang selama ini diterima oleh gereja-gereja mainline di sepanjang sejarah tidak sepenuhnya salah, bahkan sebenarnya tidak ada alasan yang kuat bagi orang-orang Kristen untuk dengan begitu saja mengabaikan pendekatan tradisional dan mengikuti kritik Alkitab modern tanpa pertimbangan yang jeli dan matang. Dengan berkata demikian, saya bukan sedang menegaskan bahwa jika begitu kita lebih baik menolak sepenuhnya segala bentuk modernitas dan tetap berpegang teguh pada pola pendekatan tradisional. Yang saya maksudkan adalah: kita boleh dan harus terbuka terhadap sumbangsih positif penemuan-penemuan studi Alkitab modern tanpa harus mengorbankan dasar iman yang sejati
Restitusi Kontra Reformasi? : Reformasi Zurich Dan Kelahiran Si Anak Tiri
“Sayap Kiri Reformasi,” demikianlah Roland H. Bainton, sejarawan Amerika ternama, menamai gerakan yang memisahkan diri dari Reformasi “resmi” di Zürich, Swiss. Ternyata bukan hanya sebutan di atas yang diberikan, gerakan ini juga disebut sebagai “Reformasi Radikal” (istilah George H. Williams, Profesor Sejarah Gereja dari Universitas Harvard). Gerakan tersebut secara umum dikenal sebagai Anabaptisme. Sejak kelahirannya di kota Zürich, gerakan ini dianggap sebagai bidat, sempalan dari gerakan Reformasi yang benar. Karena itu, tidaklah mengherankan bila gerakan ini sangat dibenci baik oleh gereja Katolik Roma maupun para Reformator. Kebencian itu terwujud dalam bentuk penganiayaan selama sekitar 200 tahun. Inti masalah yang dilupakan ialah latar belakang yang membidani lahirnya gerakan ini. Sitz im Leben yang disajikan dalam literatur-literatur sejarah gereja yang dipakai di sekolah-sekolah tinggi teologi di luar negeri maupun di Indonesia sering kali berat sebelah. Sebagaimana diungkapkan oleh almarhum William R. Estep, Jr., Profesor Sejarah Gereja dari Southwestern Baptist Theological Seminary, “Perhaps there is no group within Christian History that has been judged unfairly as the Anabaptists of the sixteenth century.” Bahkan hingga kini, Anabaptisme masih dipandang sebagai sempalan terhadap ortodoksi, ajaran yang alkitabiah. Kurangnya literatur yang membahas awal mula berdirinya gerakan ini mendorong penulis untuk membuka kembali catatan-catatan sejarah. Membuka kembali catatan sejarah bisa jadi menguak kesalahan pihak lain. Tetapi di sini penulis sama sekali tidak bermaksud memojokkan pihak mana pun. Sumber-sumber utama yang penulis pakai berasal dari para pakar sejarah gereja non-Anabaptis yang telah melakukan riset terhadap gerakan ini secara intensif. Mengingat luasnya permasalahan, maka penulis hanya memfokuskan pemaparan pada peristiwa sekitar Reformasi yang dipelopori oleh Zwingli di Swiss tahun 1519 hingga Januari 1525 dan problem yang terjadi sehingga kaum “radikal” ini memilih untuk memisahkan diri dari garis utama Reformasi. Pertama-tama, label yang dikenakan kepada gerakan ini perlu mendapat penjernihan. Kemudian, penulis akan memaparkan peristiwa Reformasi Zwingli yang dilanjutkan dengan kelahiran “si anak tiri.
Antara Terjemahan Formal Dan Dinamis: Eksegese Pengkhotbah 11:1-2
Kedua versi terjemahan Indonesia memperlihatkan bahwa sesuatu yang belum begitu jelas dalam TB (apa arti melemparkan roti ke air?) dibuat eksplisit dalam BIS (usaha di luar negeri). Kemudian, memberikan bagian kepada tujuh atau delapan orang (TB) diartikan menanam modal di berbagai niaga (BIS). Versi TB dikenal sebagai terjemahan formal yang mengutamakan terjemahan harafiah dan versi BIS merupakan sebuah terjemahan dinamis yang mengutamakan ketepatan maksud ayat secara keseluruhan. Apakah dengan lebih jelasnya sebuah terjemahan juga berarti lebih baik dan tepat
Reinkarnasi : Pandangan Dunia yang Melatarbelakanginya dan Bagaimana Orang Percaya Menyikapinya
Artikel ini bertujuan untuk memahami ajaran reinkarnasi, latar belakang pemikirannya dan apa yang membuatnya begitu populer. Dari situ hendak ditangkap pandangan dunia yang melatarbelakanginya, kuasa kegelapan yang mendorongnya dan pengharapan apa yang sesungguhnya ditawarkannya. Dan pada bagian terakhir secara ringkas akan dibahas bagaimana kita sebagai orang percaya menyikapinya, karena gereja akan banyak berhadapan dan harus menjawab jemaat atau keluarganya yang punya latar belakang kepercayaan ini. Dalam menulis artikel, penulis akan dibahas secara terbatas kasus-kasus yang dianggap “fenomena reinkarnasi” dalam Alkitab yang sering dipakai oleh penganut reinkarnasi untuk “mengesahkan” pernyataan mereka bahwa didalam Kekristenan juga ada, bahkan membenarkan ajaran reinkarnasi. Dengan pembahasan itu diharapkan menjadi jelas bahwa Alkitab sama sekali tidak mengajarkan reinkarnasi. Dalam keseluruhan pembahasan penulis berusaha untuk tetap mengacu kepada Alkitab untuk semua argumentasi yang menyangkut iman Kristen. Namun bagian Alkitab yang akan menjadi acuan pembahasan utama tentang kehidupan sesudah kematian menurut iman Kristen adalah 1 Korintus 15: 1-58. Bagian ini dipilih karena di dalamnya dibahas secara utuh konsep kebangkitan orang mati di dalam Kristus yang menjadi dasar pengharapan orang-orang percaya. Dari pemahaman ini akan ditarik kesimpulan bagaimana sikap kita sebagai orang percaya menanggapi ajaran reinkarnasi, dan lebih jauh bagaimana bersikap bijaksana kepada mereka yang terpikat oleh pengharapan yang ditawarkan ajaran ini tentang masa depan manusia
Studi Kritis terhadap Power Encounter
Konteks pembicaraan dalam kajian ini erat kaitannya dengan kepercayaan animisme. Animisme adalah suatu sistem kepercayaan bahwa keberadaan-keberadaan spiritual (spiritual being) dan kekuatan-kekuatan spiritual (spiritual force) memiliki kuasa atas kehidupan manusia dan sebagai konsekuensinya, manusia harus menemukan keberadaan dan kekuatan apa yang mempengaruhi mereka dalam rangka menentukan tindakan-tindakan masa depan dan secara terus menerus mendayagunakan kuasa itu. Sebagai suatu aliran agama, paham ini mungkin tampak sudah punah, namun sebagai suatu sistem kepercayaan, paham ini meluas secara luar biasa dan “bersanding” dengan agama-agama besar yang ada, karena ada banyak pemeluk agama besar di dunia ini berasal dari latar belakang animistis. Hal ini juga terwujud dalam bentuk-bentuk yang beraneka ragam, seperti mistisisme New Age, horoskop, shintoisme, shio-shio dalam tradisi Tionghoa. Indonesia termasuk lahan subur untuk perkembangan animisme karena latar belakang historis Indonesia yang kuat dalam animisme. ... Artikel ini berupaya untuk merespons power encounter dari sudut pandang Alkitab, sebagai dasar ontologis, dengan mengacu pada beberapa peristiwa yang dianggap sebagai power encounter yang terjadi dalam Alkitab serta mengomentarinya dan membahas tentang konsep “kuasa” dalam Alkitab. Diharapkan artikel ini akan berguna bagi para pelayan Tuhan dalam melayani orang-orang yang terlibat dalam kasus-kasus animistis—baik di dalam budaya suku yang primitif maupun dalam budaya bangsa yang modern—dengan cara yang tepat dan sesuai dengan firman Tuhan
Teologi Kristen-Anonim Karl Rahner Dan Implikasinya Terhadap Tugas Misi Gereja
Karl Rahner (1904-1984) adalah seorang teolog Katolik asal Jerman, yang selama beberapa tahun sebagai profesor di Universitas Innsbruck (1937-1964) Austria. Rahner mengarang buku Foundations of Christian Faith, dan sejumlah essai dalam Theological Investigations. Ia dianggap sebagai teolog Katolik kontemporer yang paling berpengaruh dan ahli teologi (peritus) yang diperhitungkan dalam konsili Vatikan II. Konsepnya tentang Kristen-Anonim telah memberi pengaruh luas dan merupakan konsep inklusivisme Katolik. Keselamatan melampaui batas-batas gereja yang kelihatan dan bukan saja individu-individu non-Kristen dapat diselamatkan, tetapi juga bahwa agama-agama bukan Kristen mempunyai peran menyelamatkan
Christus Victor dan Kemenangan Orang Kristen terhadap Kuasa Kegelapan
Tulisan ini adalah sebuah usaha untuk menjelaskan konsep Christus Victor sebagai salah satu motif dalam karya penebusan Kristus yang berdampak, bukan saja pada kemenangan atas dosa dan maut, tetapi juga atas kuasa-kuasa kegelapan (power of the darkness). Untuk menjelaskan hal ini, pada bagian awal akan dibahas konsep penebusan Kristen berikut masalah-masalahnya; lalu, akan dibahas juga motif “Kristus Pemenang” itu sendiri dan dampak-dampaknya; kemudian, akan diteliti dan dieksposisi nyanyian kemenangan dalam Kitab Wahyu (Why. 12:10-12) sebagai sebuah paradigma nyanyian bermotif kemenangan; dan pada akhirnya, akan didiskusikan implikasi praktis konsep teologis ini dalam peperangan rohani (spiritual warfare) orang Kristen. Melalui tulisan ini, diharapkan bahwa pemahaman orang Kristen terhadap kemenangan penentu (decisive victory) dari karya Kristus atas kuasa kegelapan ini dapat menjadi semakin benar, dan akhirnya akan mempengaruhi kehidupannya secara nyata dalam menghadapi peperangan rohani, sehingga ia dapat hidup bukan sebagai umat pecundang, melainkan sebagai pemenang
Perbedaan Komunikasi Pria dan Wanita dalam Pernikahan Kristen
Banyak permasalahan yang muncul dalam pernikahan yang disebabkan oleh tidak adanya komunikasi di antara suami dan istri. Tidak adanya komunikasi disebabkan kekecewaan yang sering terjadi di dalam berkomunikasi. Suami dan istri saling menyalahkan bahwa pasangan mereja tidak bisa mengerti dan memenuhi akan kebutuhannya, dia sudah memberi dan memberi, namun tidak menerima kembali. Masing-masing merasa cinta mereka tidak diterima dan dihargai. Permasalahan yang terjadi, sebenarnya suami dan istri sama-sama memberi cinta tetapi tidak dengan cara komunikasi yang diinginkan pasangannya, sehingga terjadilah kesalahpahaman di antara mereka. Untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman di antara suami dan istri dalam berkomunikasi, penting bagi kita untuk mengetahui perbedaan yang ada di antara pria dan wanita. Secara garis besar boleh dikatakan pria dan wanita berbeda, baik dalam hal fisik maupun kebutuhan. Dari segi fisik, adanya perbedaan dalam cara kerja otak pria dan wanita dalam memroses informasi, yang tentunya sangat mempengaruhi pola komunikasi yang ada di antara mereka. Selanjutnya, kebutuhan pria dan wanita dibagi atas dua bagian yaitu: perbedaan kebutuhan emosional dan kebutuhan seksual. Secara emosional, wanita lebih menginginkan terciptanya perasaan dekat dan harmonis. Wanita membutuhkan pengakuan, ingin dicintai, dimengerti dan diterima, sedang pria membutuhkan penghormatan, penghargaan dan pengertian dari istrinya. Dalam percakapan dengan suaminya, seringkali istri ingin dapat bercerita secara panjang lebar, dan cukup mendetail. Tetapi suami yang menginginkan hal yang lebih praktis sering kali tidak sabar mendengarkan cerita istrinya sehingga memotong pembicaraan. Sikap seperti ini, ditafsirkan istrinya sebagai suatu penolakan. Begitu pula pada waktu menghadapi persoalan, pria lebih senang untuk menarik diri dan berdiam diri, sedangkan wanita lebih senang membicarakannya. Bagi wanita bercerita dengan orang lain merupakan ekspresi adanya keterikatan, dan mendengarkan merupakan suatu tanda adanya ketertarikan, dan kepedulian, sedangkan bagi pria itu hanya kan menguras energinya. Permasalahan seperti ini akan berdampak dalam hubungan intim mereka. Istri yang merasa kecewa karena kebutuhan emosional tidak terpenuhi, tidak mau berhubungan seks dengan suaminya. Sedangkan suami akan memenuhi kebutuhan emosional istrinya apabila kebutuhan seksnya terpenuhi. Inilah kenyataan yang terjadi bahwa pria dan wanita, memang diciptakan Tuhan berbeda. Perbedaan-perbedaan yang ada sebenarnya untuk membuat pria dan wanita saling melengkapi satu dengan yang lain. Oleh karena itu, mereka perlu belajar menerima perbedaan yang ada dan belajar berkomunikasi dengan bahasa lawan jenisnya supaya keharmonisan keluarga dapat dipertahankan. Hal ini dipertegas oleh firman Tuhan, bagaimana seharusnya berkomunikasi yang baik, yaitu dengan menjaga perkataan yang baik dan menjadi pendengar yang baik. Selanjutnya firman Tuhan juga menjelaskan bagaimana bentuk komunikasi di antara suami istri yang diinginkan oleh Tuhan, yaitu istri harus tunduk kepada suami, sebaliknya suami harus mengasihi istrinya