STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Kutukan Yahwe Dan Spiritual Warfare Serta Dampaknya Bagi Pertumbuhan Gereja
Berbagai pandangan mengenai Pertumbuhan Gereja telah diberikan oleh banyak ahli, tetapi sejauh ini penulis belum menemukan adanya pembahasan yang secara khusus mengaitkan masalah Pertumbuhan Gereja dengan persoalan Spiritual Warfare. Warren maupun MacNair dan Meek, misalnya, menyimpulkan hal yang sama bahwa persoalan utama Pertumbuhan Gereja ada pada faktor “sehat – tidak”-nya Gereja itu, tetapi tidak ada diskusi khusus mengenai peranan Spiritual Warfare di dalamnya. Memang Halim, dalam tulisannya, sudah menyoroti hubungan Gereja dengan Spiritual Warfare, tetapi sekali lagi tidak dalam proporsi disiplin Pertumbuhan Gereja yang lengkap. Meski demikian, bukan berarti bahwa makalah ini akan secara lengkap membahas persoalan Pertumbuhan Gereja terhadap masalah Spiritual Warfare. Makalah ini tidak lain merupakan “pemicu kecil” untuk penelitian ke arah itu
Penerapan Konsep Kebenaran Cornelius Van Til untuk Menghadapi Tantangan Pascamodernisme
Para filsuf pascamodernisme telah memberikan tantangan kepada konsep tentang kebenaran dan klaim kebenaran injili. Tantangan ini adalah tantangan mengenai bias, kebenaran yang membenarkan kekuasaan, dan kemajemukan. Tantangan masalah bias berkenaan dengan suatu kenyataan bahwa manusia dipengaruhi oleh perspektifnya masing-masing. Tantangan masalah kuasa berkaitan dengan kebenaran sebagai alat pembenaran kekuasaan. Tantangan masalah kemajemukan berkenaan dengan kenyataan kemajemukan klaim-klaim kebenaran. Menghadapi tantangan ini penulis menyelidiki konsep kebenaran Cornelius Van Til dan penerapannya di dalam menghadapi tantangan pascamodernisme tersebut. Cornelius Van Til membangun epistemologinya dari Alkitab. Hal yang mendasar di dalam konsep kebenaran Van Til adalah korespondensi. Korespondensi antara pikiran manusia dengan dunia luar serta korespondensi antara pikiran manusia dengan pikiran Allah. Bagi Van Til, kebenaran adalah korespondensi pikiran manusia denga pikiran Allah. Korespondensi pikiran manusia dengan pikiran Allah didapatkan melalui kesesuaian pikiran manusia dengan penyataan Allah yang tertulis yaitu Alkitab. Dengan demikian Alkitab menjadi kriterian kebenaran manusia percaya yang tertinggi. Konsep kebenaran Vn Til mengakui adanya obyektivitas. Obyektivitas didapatkan ketika manusia mengambil perspektif Allah di dalam memandang realitas. Epistemologi harus bersesuaian dengan ontologi. Problem bias diatasi dengan mengambil prasuposisi atau perspektif yang tepat. Prasuposisi ini tentu saja ada pada prasuposisi Allah yang dinyatakan dalam Alkitab. Konsep kebenaran Van Til mengakui bahwa kebenaran bukan berakhir pada dirinya sendiri. Kebenaran bersifat personal dalam pengertian digunakan untuk kemuliaan Allah dan mendat membangun kerajaan Allah di muka bumi ini. Kebenaran dipakai untuk Allah. Manusia memang memiliki kuasa sebagai raja wakil Allah di bumi ini, namun kuasa ini dipertanggungjawabkan kepada Allah sebagai raja pemilik kuasa ultima. Konsep kebenaran Van Til mengakui kekayaan relaitas dan kebenaran, karena realitas merupakan temporal one and many sekaligus tunggal dan jamak yang masing-masing bersifat ultima. Tidak ada yang lebih ultima dari yang lain. Kekayaan realitas dan kebenaran memungkinkan adanya kemajemukan perspektif di dalam memandang realitas dan kebenaran. Namun bagi Van Til, kemajemukan juga disebabkan oleh dosa dan prasuposisi yang salah, adanya dosa, dan juga (kita juga dapat menambahkan) adanya perspektif yang berbeda di dalam memandang kebenaran. Di dalam diri orang-orang tidak percaya, Van Til mengakui masih ada kebenaran di antara mereka. Meski kebenaran bercampur dengan kesalahan
Perbandingan Metode Berteologi F. D. Schleiermacher Dan Alister McGrath
Di dalam sosiologi agama kita mengetahui bahwa agama memiliki tiga aspek dasar. Tiga aspek itu adalah mitos, ritus, dan etika. Mitos adalah suatu kumpulan kepercayaan (a set of beliefs) yang merupakan ekspresi kognitif dari suatu sistem agama. Mitos ini berfungsi memenuhi kebutuhan kognitif dari penganut agama tersebut. Ritus merupakan dimensi ekspresif dari suatu sistem agama. Ia merupakan ekspresi dari apa yang dipercayai oleh penganut agama tersebut. Ritus memenuhi kebutuhan emosional penganut agama tersebut. Sedangkan etika merupakan dimensi praktis dari suatu sistem agama. Ia merupakan praktek dari apa yang dipercayai di dalam bentuk tingkah laku sehari-hari. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh penganut agama tersebut. Etika berfungsi memenuhi kebutuhan fungsional manusia. Menjadi pertanyaan bagi kita adalah darimana datangnya doktrin ini? Apa sumber doktrin? Pertanyaan ini berkenaan dengan metode berteologi. Mengenai bagaimana berteologi. Aliran-aliran besar di dalam Protestanisme memiliki metode berteologi yang berbeda-beda. Aliran liberalisme, ekumenikalisme, evangelikalisme, dan fundamentalisme berbeda di dalam metode berteologi mereka. Di dalam makalah ini penulis akan membandingkan metode berteologi dari Friedrich Schleiermacher yang merupakan bapak teologi liberal dan Alister McGrath dari kalangan evangelikal (injili)
Kepemimpinan Biblika: Musa dan Ezra Sebagai Pelayan Firman
Setiap generasi memiliki pemimpin yang dibangkitkan Allah untuk memimpin umat-Nya. Kelihatannya tidak pernah terjadi dalam sejarah di mana, umat Allah tidak memiliki pemimpin. Setiap generasi umat Allah membutuhkan pemimpin yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan konteks historis. Artinya, pemimpin bersifat unik. Keunikan masing-masing pemimpin menyebabkan perbandingan kepemimpinan harus dilakukan dengan memperhatikan konteks historis masing-masing. Ringkasnya, seorang pemimpin muncul dalam konteks dan kurun waktu sejarah tertentu. Kegagalan dan keberhasilan pemimpin terikat secara unik kepada konteks dan periode kepemimpinan. Keberhasilan seorang pemimpin mungkin dianggap sebagai kegagalan oleh generasi berikutnya. Sehingga perbandingan evaluatif kepemimpinan seseorang sebenarnya sulit dilakukan. Perbandingan evaluatif yang dilakukan tanpa memperhatikan konteks historis akan memberikan penilaian bernuansa penghakiman. Meski demikian tidak berarti kontinuitas sejarah kepemimpinan tidak dapat ditelusuri di dalam gereja. Gereja terus hadir di dalam sejarah di bawah kepemimpinan Kristus kepala gereja dan para pemimpin yang adalah hamba-hamba-Nya. Terjadinya diskontinuitas okasional kepemimpinan gereja terutama disebabkan oleh situasi dinamis konteks di mana gereja berada. Dengan demikian setiap diskusi mengenai kepemimpinan gereja harus memperhatikan baik unsur kontinuitas juga unsur diskontinuitas. Beragam pemimpin diutus Allah untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat di mana gereja berada. Para pemimpin melayani-Nya dengan menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang bersumber dari kitab suci. Sebagaimana kebutuhan masyarakat berubah dan berbeda setiap zaman, demikian juga bentuk dan model kepemimpinan. Meski aspek diskontinuitas perlu diperhatikan, namun tulisan ini hanya akan membahas aspek kontinuitasnya. Pembahasan dimulai dengan merumuskan pemimpin sebagai pelayan Allah. Sebagai pelayan Allah pemimpin menyampaikan kehendak Allah kepada komunitas yang dipimpinnya. Hakikat utama kepemimpinan adalah pengungkapan atau penyataan kehendak Allah bagi masyarakat. Ringkasnya, pemimpin adalah pelayan firman Allah (the word of God). Pelayanan dan firman Allah merupakan dua unsur yang tidak terpisahkan dalam kepemimpinan. Keduanya membentuk aspek kontinuitas suatu kepemimpinan. Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang memperhatikan dimensi pelayanan dan firman Allah. Esensi fundamental suatu kepemimpinan berjalan dalam jalur kedua dimensi ini. Apakah memang demikian model pemimpin dalam Alkitab? Bagian berikut berusaha menguraikannya secara ringkas
Theology From Below: Sebuah Evaluasi Metode Berteologi Stanley Grenz
Di dalam usaha mendalami teologi, maka kita tidak dapat mengabaikan topik prolegomena yang mana di dalamnya kita menemukan sebuah pendekatan berteologi. Benarlah apa yang dikatakan oleh Millard J. Erickson, bahwa: “Understanding a theology begins with understanding its conception of its task and how it goes about accomplishing that task—in other words, theological prolegomena and methodology.” Singkatnya, prolegomena adalah fondasi yang mempengaruhi kelanjutan bangunan teologi. Kesadaran akan pentingnya untuk memikirkan fondasi berteologi ini makin jelas ketika metode berteologi menjadi sebuah topik yang integral dalam perhelatan diskusi teologi dalam dekade terakhir ini. Hal ini diperlihatkan dengan adanya para teolog yang hendak menawarkan rumusan metode berteologinya. Misalnya saja, Bernard Ramm, Clark Pinnock, James McClendon, dan masih banyak teolog yang lainnya. Namun pada kesempatan ini, penulis hendak memaparkan dan memberikan evaluasi atas rumusan metode berteologi dari seorang teolog injili yang juga masih relevan dengan masa sekarang, yakni Stanley Grenz—seorang profesor teologi di Carey Theological College, Vancouver, British Columbia. Diharapkan melalui artikel sederhana ini, kita mampu melihat sebuah wacana unik dari pemikiran Stanley Grenz—dengan segala kelebihan dan keterbatasannya—sebagai pertimbangan merumuskan metode berteologi kita. Untuk mencapai apa yang sedang diharapkan, maka penulis akan terlebih dahulu memaparkan pokok-pokok pikiran metode berteologi Grenz lalu memberikan beberapa evaluasi yang positif dan negatif dari metode semacam ini
Analisa Tekstual Markus 1:1
Teks Markus 1:1 sudah lama menjadi salah satu pokok diskusi para ahli PB. Teks-teks kuno yang ada menyodorkan bacaan yang berbeda satu sama lain. Persoalan bertambah rumit setelah diketahui bahwa perbedaan-perbedaan teks itu sama-sama didukung oleh dokumen-dokumen yang kuat, dalam hal ini kodeks Sinaitikus. Lalu timbulah pertanyaan penting yaitu, teks mana yang asli? Hal itulah yang ingin dijawab dalam paper ini
Karakteristik Pelayanan dalam Idealisme Kesempurnaan (Wahyu 7:9-17)
Naskah khotbah : Gambaran-gambaran mengenai kesempurnaan keselamatan dan kesempurnaan kemuliaan seperti yang dituliskan di dalam kitab Wahyu adalah suatu idealisme yang akan terjadi ketika kesempurnaan itu tiba. Saat ini kesempurnaan itu belum tiba. Kesempurnaan kemuliaan dan kesempurnaan keselamatan yang ada di depan kita akan menjadi gambaran seperti yang tertulis misalnya: Wahyu 7, 21, 22. Tetapi walaupun saat ini bukan saat kesempurnaan, tetapi kita tahu bahwa apa yang sempurna itu sekarang mulai kita alami. Apa yang mulia itu, keselamatan yang ada di depan, pelayanan yang sesungguhnya di dalam idealisme Allah, itu sudah mulai terrgambarkan/tercerminkan dalam kehidupan kita pada hari-hari ini, pada saat-saat ini. Karena keselamatan itu sudah datang, kemuliaan Allah itu sudah masuk dalam kehidupan kita, pelayanan yang ideal itu sudah mulai masuk dan hendak dicerminkan dalam kehidupan kita.. Karean itulah kalau kita ingin belajar mengenai apa yang menjadi keinginan hati Allah mengenai pelayanan, kita juga mencoba melihat bagaimana pelayanan dan ibadah di dalam kesempurnaan itu. Dan dengan demikian kita bisa mulai belajar mencerminkan di dalam pelayanan kita saat ini, walaupun kita belum menerima seluruh kesempurnaan kemuliaan dan keselamatan sebelum kedatangan Yesus yang kedua kalinya.
Dari ayat-ayat ini kita akan melihat apa sesungguhnya gambaran pelayanan yang dikehendaki oleh Alla
Naskah Khotbah : Pengakuan dan Pengampunan
Naskah Khotbah : Kekristenan mempunyai suatu cara yang unik untuk menghadapi masalah manusia. Dosa adalah suatu masalah yang harus dihadapi oleh umat manusia. Tuhan sudah memberikan kepada kita dua cara untuk menghadapi masalah dosa, yaitu pengakuan dan pengampunan. Umat Tuhan harus memberikan pengakuan kepada Tuhan dan orang lain dan menerima pengakuan dari orang-orang lain. Umat Tuhan harus memberikan pengampunan kepada orang lain dan menerima pengampunan dari Tuhan dan orang-orang lain. Pengakuan dan pengampunan adalah saling bergandengan. Jadi memisahkannya maka itu hanya kulit saja, adalah artificial. Sesi ini secara khisis akan membicarakan tentang pengakuan. Sesi berikunnya tentang pengampunan
Misiologi Regnosentris Paul Knitter : Sebuah Kritik dan Koreksi
Tujuan artikel ini adalah untuk meneliti teologi misi (misiologi regnosentris atau misiologi yang berpusatkan pada kerajaan Allah) dari Paul Knitter dan untuk mengajukan kritik dan koreksi terhadap misiologi regnosentris dari perspektif seorang ekslusivis. Untuk melakukan hal ini, sebuah gambaran tentang Kristologi Knitter (dengan acuan utama tentang keselamatan) akan secara singkat diutarakan untuk menyediakan latar belakang yang dibutuhkan bagi misiologinya. Unsur utama atau unsur-unsur utama dari misiologi regnosentris Knitter akan diidentifikasi dan dibahas, kemudian pengungkapan arti teologis dan implikasi praktisnya akan menjadi dasar untuk kritik dan koreksi. Yang terutama, interaksi saya didasarkan pada karya-karya tulisnya, terutama buku Jesus and the Other Names karena buku ini berisi tentang pandangan pluralisnya yang paling mutakhir dan yang telah direvisi. Tentu saja, karena keterbatasan tempat, tidak mungkin untuk membahas semua isu-isu tentang pluralisme keagamaan atau misi
Analisa Kritis terhadap Kristologi John Hick
Tulisan ini berbicara mengenai analisa kritis terhadap kristologi John Hick. Penelitian dilakukan melalui studi kepustakaan dengan uraian pembahasan yang bersifat deskriptif-argumentatif. Fokus pertama pembahasan adalah perkembangan pemikiran teologis Hick, secara khusus berkaitan dengan epistemologinya, pendekatannya terhadap agama-agama lain dan juga pengaruh penelitian PB terhadap teologinya. Pembahasan berikutnya berkaitan dengan konsep kristologi Hick, khususnya mengenai inkarnasi, posisi Yesus Kristus dan juga soteriologinya. Pembahasan dilanjutkan dengan analisa kritis terhadap kristologi Hick. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran teologis Hick sangat dipengaruhi oleh epistemologi yang didasarkan pada pengalaman agamawi manusia, yang diperolehnya melalui pengamatan induktif dalam konteks masyarakat yang majemuk. Epistemologi ini membawanya pada satu kesimpulan bahwa semua agama besar dunia merupakan respon yang sah terhadap Realitas tertinggi yang sama, sehingga valid sebagai wahana keselamatan. Dengan demikian ia mengusulkan pendekatan yang tepat terhadap agama-agama lain adalah dialog dalam kesetaraan agama-agama, yang mengharuskannya menafsir ulang doktrin-doktrin penting Kristen, dan membuatnya memakai penelitian PB liberal sebagai alat bantu untuk membenarkan konsepnya. Konsep-konsep yang diusulkannya untuk ditafsir ulang, secara khusus, adalah kristologi, baik berkaitan dengan natur Yesus Kristus, posisi Yesus Kristus dan juga karya Yesus Kristus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hick menganggap natur Yesus adalah manusia biasa, Ia bukan Allah yang menjadi manusia, melainkan manusia yang sangat terbuka dengan Allah. Karena itu ia menolak dengan tegas rumusan kristologis konsili Chalcedon. Alasan utamanya terletak pada keyakinannya bahwa Yesus tidak menyadari diri-Nya adalah Allah dan konsep inkarnasi tidak koheren serta telah menimbulkan akibat-akibat buruk dalam sejarah dunia. Penolakannya atas inkarnasi menempatkan Yesus dalam posisi yang sangat reduktif dalam teologinya. Yesus bukan Allah yang harus disembah dan dipercayai sebagai Juruslamat yang normatif, melainkan hanya sebagai model manusia sejati, yang menjadi inspirasi bagi manusia lain untuk hidup dalam keterbukaan penuh terhadap Allah. Hasil analisa kritis membuktikan bahwa konsep kristologi Hick berbeda dari konsep kristologi tradisional. Epistemologi yang didasarkan pada Alkitab, sebagai sumber dan standar semua teologi, membuktikan bahwa konsep kristologinya, baik itu mengenai inkarnasi, posisi Yesus Kristus, maupun soteriologinya sangat keliru dan menyesatkan, sehingga diusulkan untuk ditolak. Epistemologi yang didasarkan pada Alkitab, membuktikan bahwa Yesus bukan hanya model manusia sejati, melainkan juga adalah Allah yang menjadi manusia demi keselamatan manusia, sehingga Dia patut disembah dan diyakini sebagai Tuhan dan Juruslamat yang normatif bagi seluruh manusia. Kajian kritis terhadap kristologi Hick menyimpulkan pentingnya epistemologi yang benar dalam berteologi, khususnya dalam membangun kristologi. Epistemologi yang benar dan valid adalah Alkitab. Dengan demikian, sangat penting membangun teologi, secara khusus kristologi, dengan mendasarkannya pada Alkitab, sebagai sumber dan standar satu-satunya yang valid. Selain itu, hasil peneliitian menunjukkan bahwa perlu adanya kepekaan terhadap konteks, baik dalam ortopraksis gereja, maupun dalam membangun kristologi yang kontekstual. Rumusan Chalcedon tetap dapat menjadi parameter bagi kristologi, secara khusus mengenai adanya dua natur dalam pribadi Yesus. Tetapi dalam konteks masyarakat Indonesia, diusulkan kristologi naratif dan kristologi biblikal sebagai dasar untuk mencapai kristologi yang sifatnya abstrak, karena pola pikir yang terbiasa dengan hal konkret