STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Konsep Iman Dalam Berpikir Positif Menurut Norman Vincent Peale : Suatu Tinjauan Kritis Berdasarkan Markus 11:22-24

    No full text
    Masalah yang dijumpai dalam hidup sehari-hari dapat membuat seseorang merasa putus asa bahkan merasa gagal dalam hidup. Sebagai orang percaya kita dapat menghadapi masalah dengan iman dan hal ini menjadi salah satu solusi yang diberikan Norman Vincent Peale dalam ajarannya tentang berpikir positif. Latar belakang Peale menunjukkan bahwa pemikirannya sangat dipengaruhi oleh bidang psikologi. Ia mengatakan bahwa dengan iman manusia dapat memperoleh keberhasilan dan kebahagiaan. Iman ini dapat dihasilkan dari berpikir positif, yaitu dengan memasukkan pikiran-pikiran positif ke dalam pikiran. Apa atau siapa sebenarnya yang dipercayai dalam iman yang diyakini Peale adalah Allah, kemampuan diri sendiri, dan iman itu sendiri. Peale mengajarkan iman kepada Allah yang tidak didasari oleh relasi pribadi dan menempatkan Allah sebagai alat untuk mewujudkan keinginan pribadi, menempatkan manusia dengan kedudukan yang tinggi dengan mengakui kemampuan yang luar biasa dalam diri manusia, dan mengajarkan bahwa iman memiliki kuasa untuk mewujudkan apa yang diyakininya. Tujuan dari studi ini adalah untuk menilai apakah konsep iman yang dimiliki Peale sesuai dengan konsep iman menurut Markus 11. Studi literatur dan eksposisi yang dilakukan terhadap Markus 11:22-24 menghasilkan kesimpulan yang berbeda dengann konsep iman yang diyakini Peale. Iman yang dimaksud ayat ini adalah iman yang hanya ditujukan kepada Allah yang didasari oleh relasi yang benar melalui kelahiran kembali dalam Kristus Yesus, itu berarti tidak dibenarkan iman yang ditujukan kepada diri sendiri atau kepada iman itu sendiri. Iman mengakui kemahakuasaan Allah, yang dapat "memindahkan gunung", yaitu tindakan yang mustahil bagi manusia, tetapi tidak mustahil bagi Allah. Mempercayai Allah yang Maha Kuasa bukan berarti kita bisa menempatkan Allah sebagai alat untuk mewujudkan keinginan pribadi kita. Hal itu juga bukan berarti bahwa dengan iman kita bisa mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Doa Yesus di Getsemani memberi bukti bahwa dengan iman kita tidak dapat memaksakan kehendak kita kepada Allah. Allah adalah Allah yang berdaulat dan kehendak kita harus tunduk kepada kehendak-Nya. Kitalah yang seharusnya menjadi alat bagi Dia untuk menjalankan rencana-Nya di bumi ini. Iman yang diajarkan ayat ini juga mengajarkan agar kita siap menderita bagi Allah demi terwujudnya rencana Allah di bumi ini. Melihat kenyataan bahwa pandangan berpikir positif ini telah sangat meluas di kalangan orang percaya dan bahkan di dunia sekuler, maka gereja-gereja perlu membekali jemaatnya dengan pemahaman akan konsep iman yang benar menurut Alkitab dan mengajak jemaat untuk bersikap kritis terhadap ajaran ini. Selanjutnya, hasil studi tentang konsep iman dari kitab Markus ini juga mengajak kita sebagai orang percaya untuk mempraktekkan iman dalam kehidupan sehari-hari ketika kita menghadapi masalah kehidupan, sebagaimana konsep iman seperti yang disimpulkan dari hasil studi ini

    Kristologi Kitab Wahyu

    Get PDF
    Kitab Wahyu ditulis adalah untuk menghibur dan menguatkan orang Kristen dan gereja pada waktu itu, yang mengalami banyak kekecewaan, penderitaan dan penganiayaan di bawah pemerintahan Romawi. Kitab ini ditulis agar mereka membaca dan menjadi tabah dan tetap bertahan menghadapi segala penderitaan, tetap setia dan berpegang teguh pada iman mereka, serta selalu berharap dan memandang pada Kristus yang adalah Anak Domba Allah yang menang, sebab orang Kristen dan gereja pada waktu mengalami banyak penganiayaan di bawah pemerintahan Romawi, bahkan banyak yang mati syahid (6:9-11; 7:14.) Oleh sebab itu dalam kitab Wahyu ini ajaran tentang person Kristus sangat ditonjolkan, yang sering kali digambarkan penuh dengan kemenangan dan kemuliaan. Kristus sebagai Anak Domba Allah, sebagai Alfa dan Omega di dalam banyak hal bahkan dikisahkan setara dengan Allah. Rasul Yohanes bisa menulis semuanya ini karena memang Kristus menyatakan diri-Nya dan memberikan visi-Nya kepadanya. Dr. Walvoord mengatakan bahwa tujuan penulisa kitab Wahyu adalah “to reveal Jesus Christ as the glorified One in contrast to the Christ of the Gospels, who was seen in humiliation and suffering.” Oleh sebab itu dalam tulisan ini kami berusaha untuk memaparkan person Kristus yang begitu berkuasa dan mulia, namun yang juga begitu peduli dan memperhatikan gereja-Nya. Dan kemuliaan Kristus itu pada akhirnya akan dinyatakan sepenuhnya dalam parousia, suatu pengharapan yang terakhir dan yang selalu dinantikan oleh setiap orang yang percaya. Bagi kami, gereja dan orang Kristen di Indonesia hari ini perlu sekali banyak membaca dan merenungkan kitab Wahyu

    Jesus as Storyteller

    No full text
    Several literary features of Jesus’ parables are noteworthy. In some respects Matthew’s recorded parables differ from Luke’s in presenting colorless sketches. Luke’s parables, on the other hand, are vivid and full of color. Parables in both Gospels, however, are characterized by contrasts. All the parables demonstrate artistry in their unity, coherence, balance, contrast, recurrence, and symmetry. Jesus’ repetition of similar parables on separate occasions illustrates His goal of giving emphasis by way of repetition. By using open-ended parables, Jesus drew His listeners into real-life situations and presented them with the need for a decision on their parts. Allegory in Jesus’ parables brought people into familiar surroundings and highlighted the mercy of God toward sinners. All in all, the parables of Jesus were in a category all their own and were quite distinct from other parabolic teachings in their timelessness and universality

    Gereja Tionghoa dan Masalah Identitas Ke-Tionghoa-an

    Get PDF
    Beberapa waktu yang lalu, saya menerima sebuah surat dari seorang kawan yang melayani sebuah jemaat Tionghoa di suatu kota di luar pulau Jawa. Surat itu berisi pertanyaan tentang perayaan tahun baru imlek di gereja. Kawan ini rupanya satu dari sekian banyak orang yang tidak setuju imlek dirayakan oleh orang-orang Kristen Tionghoa. Alasan yang dikemukakannya adalah karena perayaan imlek adalah “perayaan tahun baru Cina” dan pada waktu itu “masyarakat Tionghoa pergi ke vihara-vihara untuk bersembahyang kepada ‘dewa-dewa’ untuk meminta berkat.” Masih dalam lingkungan sinode yang sama dengan gereja kawan saya itu, ada gereja-gereja lain yang merayakan tahun baru imlek di gerejanya. Mereka rupanya terbilang di antara yang setuju imlek dirayakan oleh orang Kristen Tionghoa. Bahkan sampai diadakan kebaktian dan perayaan khusus untuk itu, lengkap dengan berbagai pernik dan atribut yang melekat pada imlek tersebut. Waktu ditanya mengapa mereka merayakannya, temanteman yang merayakan ini berpendapat bahwa imlek merupakan bagian integral dari tradisi budaya orang Tionghoa. Jadi entah orang itu Kristen atau bukan, imlek dapat dirayakan oleh setiap orang Tionghoa. Selain itu ada tujuan lain yang lebih utama yaitu untuk penginjilan. Kawan saya di atas mengirimi saya surat dengan maksud meminta pendapat saya soal perayaan ini. Tetapi, dalam tulisan ini saya tidak ingin masuk ke dalam perdebatan setuju atau tidak setuju tentang imlek. Bagi saya, pro-kontra di kalangan orang Kristen Tionghoa tentang perayaan imlek hanyalah puncak kecil dari sebuah gunung es persoalan yang lebih besar yang selama ini tidak ditangani dengan serius oleh Gereja-gereja Tionghoa sendiri. Persoalan ini bukan hanya dihadapi oleh orang-orang Tionghoa yang Kristen saja, tetapi juga dihadapi oleh semua orang Tionghoa lainnya di negeri ini. Persoalan itu adalah masalah identitas diri orang Tionghoa di Indonesia. Apakah yang membuat seseorang mengenal dan dikenal sebagai orang Tionghoa di negeri ini? Persoalan ini menjadi lebih rumit bagi orang Kristen Tionghoa karena tidak hanya berhadapan dengan konstruksi sosial, budaya dan politik masyarakat Indonesia yang sudah dikondisikan sedemikian rupa, khususnya oleh pemerintahan Orde Baru di masa lalu, sehingga menghasilkan suatu pandangan tersendiri terhadap orang Tionghoa; tetapi juga karena sebagai orang Kristen, ada suatu pandangan teologis tertentu yang mempengaruhi pandangan orang Tionghoa Kristen tentang dirinya sendiri dan khususnya tentang kebudayaan yang diakui berperan penting bagi pembentukan identitas suatu kelompok masyarakat. Saya tidak bermaksud memberikan solusi menyeluruh untuk persoalan ini. Apa yang hendak saya angkat di sini lebih untuk membuat kita paham bahwa ada persoalan berkaitan dengan jati diri ke-Tionghoa-an orang-orang Tionghoa di Indonesia, termasuk juga dengan jati diri ke-Tionghoa-an orangorang Kristen Tionghoa. Selain itu, saya hendak kupas juga apa yang selama ini sudah dilakukan oleh orang-orang Tionghoa di Indonesia dalam menghadapi persoalan ini dan bagaimana sebaiknya orang Tionghoa Kristen menghadapinya

    Pergumulan Kehidupan Pengkhotbah Dalam Membangun Integritas Diri

    No full text
    Seorang pengkhotbah merupakan figur integritas yang memiliki karakteristik sesuai dengan kehendak Tuhan dan harapan jemaat. Sebagai figur integritas, ia telah menjadi simbol iman Kristen dan harus memperlihatkan kehidupan yang berintegritas. Makna integritas yang dimilikinya adalah keselarasan, keutuhan, dan kesatuan yang tidak terpisahkan antara perkataan dan perbuatannya berdasarkan standar Allah. Ia berbicara melalui khotbahnya didasarkan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan, sedangkan perbuatan yang dilakukannya didasarkan pada apa yang diucapkannya. Seorang pengkhotbah yang berintegritas harus setia kepada prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan dengan sempurna. Hal ini seperti yang diucapkan oleh Yesus, "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Mat. 5:48). Artinya pengkhotbah yang melakukan firman Tuhan akan menghasilkan integritas yang sempurna. Namun kenyataannya tidaklah mudah untuk mencapai integritas yang sempurna tersebut, karena seorang pengkhotbah menyadari bahwa ia adalah manusia biasa yang terus berusaha dan berjuang untuk mencapai kesempurnaan standar Allah tersebut melalui hidup yang berintegritas. Ia mengalami pergumulan antara mempertahankan dan melepaskan integritas dirinya, antara mengikuti keinginannya yang berdosa dan mengikuti keinginan standar Allah. Hal ini merupakan dilema seorang pengkhotbah yang mau membangun integritas dirinya. Ia mengalami pergumulan yang cukup sulit yang menantang keteguhan integritasnya. Ia menghadapi dua pergumulan yang dapat menjadi hambatan dalam membangun integritas dirinya. Pertama, seorang pengkhotbah akan berhadapan dengan hambatan yang berasal dari dosa. Dosa dalam diri pengkhotbah akan terus menerus bekerja untuk menjatuhkan dan menghambat pertumbuhan integritas dirinya. Kedua, seorang pengkhotbah juga akan berhadapan dengan hambatan yang berkaitan dengan godaan. Godaan menjadi pelengkap dengan dosa untuk bekerja sama menjatuhkan integritas pengkhotbah. Kedua hal ini akan selalu menyerang integritas pengkhotbah dengan berbagai cara dan kekuatan hingga pengkhotbah jatuh dalam dosa. Seorang pengkhotbah yang sedang bergumul dalam membangun integritas dirinya tidak akan sampai jatuh dalam dosa apabila ia menjalankan prinsip-prinsip pengenalan dan penerapan. Prinsip pengenalan dan penerapan perlu diketahui pengkhotbah agar pengkhotbah memenangkan pergumulannya melawan dosa dan godaan. Prinsip-prinsip tersebut merupakan dasar bagaimana seorang pengkhotbah membangun integritas dirinya melalui disiplin, konsistensi, dan komitmen

    Disiplin Gerejawi Menurut Surat-Surat Paulus dan Implikasinya Bagi Kehidupan Bergereja Masa Kini

    No full text
    Disiplin gereja merupakan kuasa dan otoritas yang diberikan Allah, yang adalah Kepala Gereja kepada gereja yang adalah tubuh-Nya untuk dilaksanakan. Tujuannya adalah untuk memelihara kekudusan gereja-Nya karena Ia kudus adanya dan tidak dapat bersekutu dengan dosa. Oleh sebab itu, disiplin gerejawi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bergereja dan tidak dapat disamakan dengan hukum duniawi, harus dilaksanakan dan harus sesuai dengan ajaran Alkitab. Mengingat semakin terabaikannya disiplin gerejawi, maka penulis mengangkat tema ini untuk dipelajari dengan tujuan membawa gereja untuk mengetahui dan memperoleh konsep disiplin gerejawi yang benar menurut ajaran Alkitab. Dengan demikian diharapkan gereja (hamba Tuhan, majelis, aktifis, maupun anggota jemaat biasa) berani melaksanakan pendisiplinan yang sesuai dengan ajran Alkitab. Metode yang digunakan dalam pengkajian ini adalah dengan melakukan eksposisi khususnya pada surat-surat Paulus yang dalam hal ini difokuskan pada 1 Korintus 5:1-13, Galatia 6:1-2, dan 2 Tesalonika 3:10-15, serta studi literatur dengan tidak mengabaikan hasil diskusi dan pengalaman penulis dalam kehidupan berjemaat. Hasil pengkajian ini menunjukkan bahwa disiplin gerejawi berbeda dengan hukum duniawi dan tidak boleh diabaikan dalam kehidupan bergereja. Paulus menegaskan bahwa pengabaian pendisiplinan dalam gereja merupakan dosa kesombongan dan sama dengan meremehkan pengorbanan Kristus sebagai Domba Paskah (1 Kor. 5:7-8). Dampak dari secuil ragi, di mana seluruh bagian adonan dipengaruhinya, menjelaskan bahaya dosa di dalam jemaat. Jemaat seharusnya berduka atas kejatuhan saudara seimannya dan dengan lemah lembut membawanya kembali kepada persekutuan dengan Allah (1 Kor. 5:2; Gal. 6:1-2; 2 Tes. 3:15). Ada 3 hal penting yang harus benar-benar diperhatikan gereja dalam pelaksanaan disiplin gerejawi: (1) harus memiliki pengertian yang benar tentang disiplin gerejawi bahwa disiplin gerejawi merupakan ekspresi kasih Allah yang harus dilakukan gereja untuk membawa jemaat yang "jatuh" kepada pertobatan dan rekonsiliasi dengan Allah, bukan punishment; (2) harus dilaksanakan dalam otoritas Allah dengan sikap yang mengasihi, menerima dan mengampuni. Semua ketidaktaatan kepada Allah harus dibereskan dan tidak boleh pandang bulu; (3) hasil yang ingin dicapai adalah untuk membawa pemulihan bagi jemaat yang "jatuh", mencegah menyebarnya dosa dalam jemaat, dan memelihara kesaksian hidup gereja di tengah dunia. Melihat kebobrokan moral yang semakin merajalela dalam kehidupan bergereja masa kini, maka sudah saatnya gereja kembali serius memikirkan dan berani melaksanakan disiplin gerejawi dengan benar. Hal ini demi terpeliharanya kesaksian dan kekudusan hidup tubuh Kristus. Rebuking sinning believers is not optional but essential

    Nama Ilahi dalam Alkitab: Diskusi mengenai Allah, ‘elôhîm, théos, TUHAN, YHWH, Tuhan, ‘adônaî, kúrios

    Get PDF
    Ada sementara kalangan, baik Kristen maupun non-Kristen, tidak menghendaki dipakainya kata Allah dalam Alkitab. Dari kalangan Kristen ada yang mengusulkan agar kata Allah diganti saja dengan ‘elôhîm dan TUHAN dengan Yahweh. Namun, jika kita bertanya kepada orang banyak, apakah mereka mengenal istilah ‘elôhîm atau Yahweh, maka dapat diperkirakan hanya sebagian kecil saja yang mengenalnya, sekalipun hal itu ditanyakan pada orang Kristen. Sebaliknya, ada banyak orang yang akan mengetahui istilah Allah dan TUHAN (juga Tuhan), walaupun definisi yang diberikan sangat sederhana. Fokus utama pembahasan adalah nama Allah dan ‘elôhîm, kemudian dimana perlu akan dibahas kata TUHAN, Tuhan, Yahweh, théos, kúrios, dlsb. Karena letak permasalahan ada pada kata Allah dan ‘elôhîm, maka bagian berikutnya akan membahas perluasan makna dari nama Allah serta pemakaiannya (Linguistik). Bagian akhir menyoroti dan menilai bagaimana usulan perubahan nama itu dilihat dalam tradisi penerjemahan Alkitab

    Kekristenan dan Kebudayaan (Bagian 2)

    Get PDF
    Pembahasan pada bagian pertama berkisar tentang kebudayaan secara umum dan sedikit banyak bersifat teoritis. Bagian pertama berisi penjelasan tentang pertanyaan “Apa itu Kebudayaan?” dan pembahasan kedua tentang relasi antara Kristus dan semua kebudayaan secara umum. Sekarang, kita harus fokus pada kebudayaan secara aktual dan kebudayaan sebagaimana telah berlangsung selama ini, yaitu kebudayaan sebagaimana yang kita alami

    Sikap Politik Umat Kristen (Studi Eksegesis Terhadap Roma 13:1-7 dan Relevansinya Terhadap Sikap Politik Umat Kristen di Indonesia Pada Era Reformasi)

    No full text
    Umat Kristen memiliki dua kewarganegaraan yaitu, warga negara surga dan warga negara dunia. Dualcitizenship ini menempatkan umat Kristen pada posisi yang dilematis, sekaligus mengakibatkan munculnya krisis identitas. Situasi dan kondisi yang dilematis ini disebabkan umat Kristen harus berhadapan dengan dua otoritas yang sama-sama menuntut adanya sikap takluk dari umat Kristen. Tuntutan yang demikian ini menyebabkan umat Kristen sering kali mengalami hubungan yang disharmony dengan pihak pemerintah. Melalui Roma 13:1-7, Paulus mengemukakan sebuah model sikap politik untuk mengatasi hubungan yang disharmony tersebut. Model sikap politik tersebut merupakan suatu model yang didalamnya terdapat konsep identitas, dan tiga aspek penting yang harus ada dalam diri umat Kristen. Pertama, mengenai konsep identitas. Pada bagian ini Paulus menjelaskan betapa pentingnya umat Kristen memiliki konsep identitas yang berdasarkan pada karya pembenaran Allah; konsep identitas sebagai anak Allah. Kedua, mengenai tiga aspek penting dalam sikap politik umat Kristen. Aspek-aspek tersebut adalah (1) Aspek afektif berupa rasa simpati terhadap pemerintah yang berlandaskan kasih (2) Aspek kognitif berupa pengakuan terhadap otoritas pemerintah, yang didasarkan pada kedaulatan dan legitimasi Allah atas pemerintah, (3) Aspek konatif berupa tindakan melakukan kewajiban-kewajiban yang tidak bertentangan dengan iman Kristen. Model sikap politik yang dikemukakan oleh Paulus ini merupakan suatu model yang relevan bagi umat Kristen di Indonesia, sebab model tersebut dapat menjawab pergumulan-pergumulan yang harus dihadapi ketika mereka berhubungan dengan pemerintah. Model sikap politik Paulus tersebut bermanfaat dalam mengevaluasi sikap politik umat Kristen di Indonesia, dan membawa implikasi yang positif bagi hubungan umat Kristen dengan pihak pemerintah pada era reformasi ini

    Penyembuhan Luka Batin (Inner Healing) : Apakah Merupakan Bagian dari Pengudusan Orang Percaya?

    Get PDF
    Luka batin sering kali dituduhkan sebagai penyebab masalah-masalah yang timbul dalam pribadi orang-orang percaya. Jika ada orang yang sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat tetapi masih mempunyai kebiasaan yang buruk, perilaku yang dianggap “aneh”–khususnya yang tak dapat dikendalikannya, itu adalah karena trauma masa lalunya. Trauma masa lalu itu meninggalkan luka pada batinnya (inner man) baik disadarinya maupun tidak, dan jika tidak disembuhkan, itu akan terus menghalangi dan membelenggunya untuk bisa bertumbuh dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, Tuhan dan sesamanya. Sebaliknya, penyembuhan akan membuat orang itu terlepas dari ikatan trauma masa lalu dan membebaskannya untuk bertumbuh dan melayani Tuhan. Penyembuhan inilah yang sekarang dikenal sebagai inner healing atau penyembuhan luka batin yang sangat banyak dipraktekkan di kalangan gereja-gereja Kharismatik, tetapi masih sangat dicurigai, bahkan ditolak di kalangan gereja-gereja Protestan konservatif. ... Tulisan ini secara terbatas berusaha untuk mengkaji dan menanggapi dengan seimbang ajaran dan praktek inner healing dalam kaitan dengan proses pengudusan orang percaya. Apakah ia termasuk dalam proses pengudusan? Ataukah ia sebenarnya sama sekali bukan, bahkan bertentangan dengan karya pengudusan Roh Kudus. Sebab itu, pertama-tama penulis akan membahas pengudusan (sanctification) orang percaya; apakah maknanya, tujuannya dan bagaimana prosesnya. Berikutnya secara singkat akan ditinjau konsep inner healing dan prakteknya, juga beberapa pandangan yang berkembang tentang penyembuhan luka batin ini. Kemudian penulis akan melakukan analisa dengan memerhatikan ajaran firman Tuhan. Penutup akan merupakan kesimpulan dan pandangan penulis terhadap ajaran dan praktek inner healing dalam kehidupan dan pelayanan gereja Tuhan saat ini

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇