STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Menjadi Mahasiswa Teologi yang Berhasil

    No full text
    Dalam buku ini meliputi hal-hal mendasar seperti cara belajar, menghadapi ujian, membaca buku dan membuat laporan, menulis makalah, cara penulisan skripsi dan tesis. Pedoman ini disajikan sebagai perbandingan antara kaidah baru dan lama. Penuntun ini telah mengalami revisi dengan mengacu pada perkembangan cara penulisan secara nasional atau internasional

    Tinjauan Alkitab Atas Pandangan Pragmatisme John Dewey Tentang Anak Didik dan Implikasinya Dalam Pelaksanaan Pendidikan di Sekolah

    No full text
    John Dewey dikenal sebagai figur utama pragmatisme abad ke duapuluh. Jenis pragmatisme Dewey disebut dengan instrumentalisme. Pandangan ini sangat menekankan bahwa seluruh pemikiran manusia adalah senjata atau instrument dalam mengatasi masalah di seputar lingkungan seorang individu. Dewey menolak semua bentuk supernaturalisme dan ia cenderung melihat suatu kebenaran bersifat relatif. Ia meyakini ketidakberdosaan anak-anak dan memandang manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya tidak memiliki kecenderungan kejahatan. Dewey melihat bahwa anak didik seharusnya menjadi pusat dalam pendidikan di sekolah dan sekolah seharusnya menjadi bentuk sederhana dari masyarakat. Dengan demikian anak didik dipersiapkan untuk menjadi anggota masyarakat yang dapat berpartisipasi secara aktif. Pandangan Dewey ini berpengaruh pada teori-teori tentang pendidikan yang dikemukakannya. Ia menekankan peran guru yang lebih sebagai pembimbing atau pendamping anak didik dari pada sebagai seorang figur yang otoritas, mendorong siswa untuk berperan secara aktif, dan mengembangkan metode pemecahan masalah dalam proses belajar mengajar. Pendidikan Kristen mendasari konsep filsafatnya dengan Alkitab yang merupakan sumber kebenaran yang berotoritas. Alkitab menyatakan bahwa manusia telah diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Hal ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhkul yang bermartabat. Dosa pertama yang dilakukan oleh Adam dan Hawa telah membuat gambar dan rupa Allah tersebut menjadi rusak, namun tidak hilang. Manusia tidak lagi bersifat netral, tetapi memiliki kecenderungan melakukan perbuatan dosa. Pendidikan Kristen melihat anak didik tidak hanya dalam sisi biologis atau psikologis saja, tetapi juga melihat anak didik sebagai makhluk religius. Alkitab menyatakan bahaw anak didik adalah pribadi yang harus dihargai namun tidak sempurna, karena itu seorang anak perlu dididik. Tujuan pendidikan adalah untuk memulihkan gambar dan rupa Allah dalam diri anak didik. Pandangan ini mempengaruhi pola pelayanan pendidikan Kristen di sekolah. Sekolah harus melihat anak didik seutuhnya dan mengembangkan aspek dalam diri anak didik tersebut. Guru menjalankan perannya sebagai pengganti orang tua yang dapat menjadi figur yang berotoritas sekaligus sahabat bagi anak-anak didik, Berdasarkan kajian pustaka yang telah dilakukan. diperoleh kesimpulan bahwa ada perbedaan yang mendasar dalam tingkat filsafat pendidikan antara pandangan Dewey dengan pandangan Alkitab. Sedangkan pada tingkat teori, ada persamaan antara pandangan Dewey dengan pandangan Alkitab. Dengan demikian maka praktisi pendidikan Kristen diharapkan tidak bersikap langsung menolak atau langsung menerima terhadap teori-teori yang dikemukakan oleh pemikir non Kristen. Para praktisi pendidikan Kristen perlu melakukan kajian yang dalam sebelum menggunakan teori-teori pendidikan yang dikemukakan oleh mereka

    Globalisasi, Gereja Injili dan Transformasi Sosial

    Get PDF
    Sebuah penelitian terhadap keprihatinan sosial gereja injili, khususnya terhadap masalah kemiskinan di dua kota besar Jakarta dan Bandung, mengungkapkan bahwa sekitar 20-27% dari seluruh responden telah mengalokasi dana untuk urusan sosial dan itu dilakukan 1-4 kali per tahun, dan kemungkinan hal itu dilakukan secara seremonial, maksudnya dilakukan pada saat perayaan-perayaan gerejawi seperti Paskah, Natal atau acara tertentu. Informasi ini mengisyaratkan betapa kurangnya tanggapan komunitas orang percaya terhadap masalah kemiskinan. Tindakan sosial belum menjadi sebuah “gaya hidup.” Di satu sisi, gereja injili memang masih sedang bergumul dengan masalah kekurangpekaan terhadap masalah-masalah sosial, namun, di sisi lain, masalah kemiskinan itu sendiri telah menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Celakanya, kemiskinan ini terjadi karena sebuah proses “alamiah” yang tak terelakkan: globalisasi. ... Tulisan ini akan berusaha menjelaskan apa globalisasi itu dan bagaimana dampak-dampak negatif yang dihasilkannya, khususnya dalam bidang sosioekonomi. Selanjutnya, pembahasan akan ditujukan kepada bagaimana sikap gereja sejauh ini dan apa yang menyebabkan sikap seperti itu terjadi. Akhirnya, tulisan ini akan mengusulkan semacam kerangka konseptual teologis (conceptual theological framework) sederhana, bagaimana gereja injili dapat menjadi agen perubahan (transformasi) sosial di tengah-tengah gelombang globalisasi dengan segala akibatnya yang tak terbendung itu. Sementara banyak orang di Indonesia dan sebagian negara-negara miskin dan berkembang menghadapi dampak sosioekonomis globalisasi, diharapkan melalui tulisan ini, gereja-gereja injili dapat semakin berperan sebagai agen transformasi sosial, yang dapat menyatakan Kristus sebagai Penebus yang membarui dan mentransformasi masyarakat (bdk. paradigma Christ the Transformer of Culture dari Richard Niebuhr)

    Depresi Pada Pelayanan Elia dan Pemulihannya

    No full text
    Depresi adalah gangguan pada tubuh, mental dan emosi, atau pada spiritualitas individu. Ada suatu anggapan yang salah bahwa seorang hamba Tuhan tidak mungkin mengalami gangguan depresi. Anggapan ini muncul karena hamba Tuhan dianggap memiliki iman yang selalu kuat, dan Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya jatuh ke dalam suatu permasalahan tanpa ada jalan keluar. Mrlalui penelitian ini penulis mencoba untuk melihat apakah Elia sebagai seorang hamba Tuhan yang memiliki iman besar, dan pernah mengalami hal-hal yang ajaib yang Allah lakukan dalam hidupnya, dapat mengalami gangguan depresi? Hal-hal apakah yang menjadi penyebab depresi Elia? Bagaimana Allah memulihkan gangguan depresi Elia? Studi literatur yang dilakukan dalam penulisan ini menunjukkan bahwa Elia mengalami gangguan depresi. Gangguan depresi yang dialami Elia disebabkan oleh pola pikir Elia yang negatif. Elia berpikir secara tidak realitis, tidak logis,dan cenderung pesimis. Pola pikir yang negatif inilah yang membuat Elia ketakutan dan khawatir terhadap hal-hal yang tidak seharusnya ditakutkan dan dikhawatirkan. Allah mengasihi dan peduli kepada Elia. Allah memulihkan Elia dari depresinya dengan cara memulihkan keadaan fisik Elia dan mengubah pola pikirnya. Allah memulihkan kepercayaan kepada Allah, kepada dirinya sendiri, dan kepada orang lain. Melalui ketiga hal ini Elia belajar untuk melihat dari perspektif Allah. Elia sadar bahwa rencana Allah untuk membawa Israel kembali kepada-Nya tidak gagal, dan ia kembali melayani dengan semangat. Kelebihan dari penelitian ini adalah, pertama, penelitian ini tidak hanya berdasarkan ilmu psikologi, tetapi juga berdasarkan apa yang Alkitab nyatakan. Kedua, ada kesesuaian antara ilmu psikologi dan apa yang Alkitab katakan. Keterbatasan dari penelitian ini adalah, pertama, penelitian ini hanya memaparkan salah satu sisi depresi, yaitu depresi yang dihadapi oleh Elia. Kedua, Alkitab tidak memberikan data yang lengkap tentang depresi Elia dan pemulihannya. Berdasarkan penelitian ini penulis menyarankan agar, pertama, hamba-hamba Tuhan selalu sadar bahwa Allah adalah Tuhan atas pelayanan kita, Ia adalah Allah yang berkuasa, dan tidak ada rencana-Nya yang gagal. Kedua, hamba-hamba Tuhan harus menyadari bahwa kita adalah seorang hamba yang harus bekerja sesuai peran yang Allah tentukan, tanpa ingin melihat hasil pelayanan kita. Ketiga, di dalam melayani Allah kita butuh, dan harus bekerja sama dengan orang lain

    Seratus Tahun Dietrich Bonhoeffer : Berteologi untuk Menemukan Orang Kristen Sejati

    Get PDF
    Sebuah tulisan yang dipersembahkan untuk mengenang hamba Tuhan yang setia, Pdt. Dr. Eka Darmaputera, yang telah kembali ke rumah Bapa di sorga pada 29 Juni 2005.... apa sebenarnya daya tarik yang utama bagi kita (apalagi bagi kalangan yang berteologi injili) untuk belajar mengenai pikiran dan teologi Bonhoeffer? Bukankah ia termasuk salah seorang teolog yang dapat diklasifikasikan ke dalam kelompok yang memiliki teologi yang berkarakter radikal, kalau tidak mau dikatakan ekstrem? Memang harus diakui bahwa ia termasuk salah seorang teolog abad 20 yang berpikiran radikal, dan itulah sebabnya nanti di bagian evaluasi penulis mencantumkan beberapa kritik terhadap teologinya. Namun demikian, ia juga memiliki suatu pikiran unik yang saya rasa bermanfaat bagi konteks pergumulan kita yang melayani di Indonesia dewasa ini. Apa saja pikirannya sehingga ia seringkali disejajarkan dengan teolog besar seperti Barth, Bultmann, dan Tillich? Itu yang akan pertama-tama diketengahkan dalam artikel ini, yaitu inti pemikirannya yang saya yakin amat berguna bagi kita khususnya jika kita ingin mendalami panggilan sebagai seorang Kristen di bumi Indonesia sekarang ini. Tentu saja hal ini tidak berarti saya akan membahas semua tema yang pernah dituliskannya, karena hal itu adalah sebuah ketidakmungkinan. Yang jelas dalam lingkup tema di atas, saya akan berusaha seobjektif mungkin dalam menilai teologinya dengan memperlihatkan kekuatan dan sekaligus aplikasi pemikirannya bagi pergumulan masa kini

    Makna Teologis Penggunaan Musik Ibadah Zaman Perjanjian Lama Sampai Abad Ke-20 dan Relevansinya Terhadap Musik Ibadah Gereja Masa Kini

    No full text
    Dewasa ini musik ibadah telah menimbulkan masalah yang cukup pelik bagi gereja. Perkembangan musik kontemporer telah memberikan dampak kepada gereja-gereja. Jemaat generasi muda sangat akrab dengan musik kontemporer di dalam setiap aktivitas mereka. Gerakan karismatik beserta gaya musiknya ikut memberikan pengaruh yang cukup luas kepada gereja-gereja yang ada. Faktor-faktor inilah yang ikut memicu timbulnya masalah-masalah sehubungan dengan penggunaan musik dalam ibadah. Pertentangan generasi dan generasi tua akibat perbedaan konsep gaya musik ibadah sudah sering terdengar bahkan menjurus pada perpecahan gereja. Masalah yang timbul memang menjadi perdebatan yang tidak kunjung selesai. Oleh karena itu jemaat hendaknya memahami secara teologis penggunaan musik dalam ibadah sehingga dapat melihat permasalahan yang ada dengan perspektif yang baru dan pada akhirnya mereka dapat lebih bijaksana dalam memberi penilaian terhadap gaya musik ibadah gereja yang ada. Untuk mencapai hal itu, perlu dilakukan suatu studi tentang penggunaan musik dalam ibadah. Pertama-tama perlu dipelajari dan dipahami tentang perkembangan penggunaan musik ibadah dari zaman Perjanjian Lama sampai abad ke-20. Melalui sejarah penggunaan musik ibadah, dapat disimpulkan dan dipahami makna teologis penggunaan musik ibadah. Sejarah membuktikan bahwa peranan musik ibadah harus diperhatikan secara seimbang antara aspek vertikal dan aspek horizontalnya. Penekanan yang tidak seimbang memberikan dampak permasalahan dalam kehidupan beribadah jemaat. Selanjutnya, jemaat perlu memahami berbagai gaya musik yang ada serta latar belakang timbulnya gaya musik tersebut. Gereja juga perlu menyadari bahwa masalah utama dalam penggunaan musik ibadah yaitu masalah teks lagu yang biblikal dan teologis. Setelah masalah teks, gereja perlu untuk menetapkan suatu kriteria penggunaan gaya musik tertentu dalam ibadah. Diharapkan melalui skripsi ini gereja masa kini dapat mempunyai acuan dalam menggunakan musik ibadah dengan tepat dan benar sehingga ibadah yang mereka lakukan menjadi ibadah yang menyenangkan Allah

    Peran dan Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Pendidikan Seks Anak Dalam Konteks Indonesia

    No full text
    Seks! Hal-hal yang berbau sekskual makin marak di dunia ini. Berbagai sarana, media, dan fasilitas telah sarat dengan pesan-pesan seksual. Inilah situasi yang beredar pada zaman sekarang. Sebuah dunia yang rawan. Tidak ada orang yang dapat lolos dari pesan-pesan yang mengandung muatan seksual. Pesan-pesan seksual telah merebak dan siap menggoyahkan orang-orang yang belum mempunyai prinsip yang teguh. Dalam hal ini, anak-anak muda dan anak-anak kecil yang sedang berkembang menuju kedewasaan menjadi terancam. Anak-anak sebagai makhluk seksual membutuhkan informasi yang benar tentang seksulitas. Mereka butuh orang-orang yang tepat untuk memberi bimbingan di dalam bidang ini. Bagaimanakah sikap orang tua? Orang tua, pihak yang dominan dan berpengaruh bagi anak-anak, adalah orang -orang yang tepat untuk memberikan semua jenis pendidikan bagi perkembangan anak-anaknya. Inilah peran orang tua, yaitu sebagai pendidik utama bagi kehidupan anak-anak. Orang tua mempunyai tanggung jawab untuk mendidik anak-anak mereka. Pendidikan dan pengarahan yang diberikan orang tua tidak terbatas pada suatu bidang tertentu, melainkan semua bidang kehidupan dari perkembangan anak, termasuk juga seksualitas. Seksualitas merupakan suatu bidang yang perlu diajarkan oleh orang tua kepada anak-anak. Bagaimana orang tua melakukan hal ini? Orang tua dapat memberikan pendidikan seksual secara tidak langsung kepada anak berusia 0-2 tahun melalui sikap dan perilaku yang mereka terapkan pada anak-anak. Semua yang orang tua berikan kepada anak akan membantu anak untuk menjadi pribadi yang utuh dan memiliki persepsi yang sehat terhadap pertumbuhan tubuhnya. Anak-anak yang berada dalam usia 3-5 tahun akan dipenuhi rasa ingin tahu yang besar. Orang tua dapat menggunakan hal ini untuk memberikan pendidikan seks kepada anak secara alami dan sehat melalui segala jawaban yang diberikan oleh orang tua atas pertanyaan-pertanyaan anak. Sedangkan anak-anak berusia 6-8 tahun sudah dapat diberikan pendidikan seks secara lebih luas seperti fungsi organ-organ tubuh melalui gambar atau buku,ataupun juga mengenai hubungan seksualitas yang benar, sehat, kudus, serta berkenan di hadapan Tuhan. Pendidikan seks anak yang dilakukan sejak dini dan berkesinambungan adalah suatu hal yang penting bagi kehidupan anak. Hal ini akan menjadi suatu bekal yang berharga bagi anak-anak di dalam mengarungi kehidupan mereka. Konsep "tabu" dan "saru" yang dianut oleh kebanyakan orang di Indonesia tidak boleh memadamkan pendidikan seksual. Orang tua harus menyingkirkan pandangan-pandangan yang keliru dan menyadari akan pentingnya pendidikan seks kepada anak. Buku-buku dan para ahli dapat memberikan bantuan kepada orang tua tanpa boleh mengabaikan peran yang utama dan tanggung jawab dari orang tua sendiri

    Pluralitas Agama : Tantangan "Baru" bagi Pendidikan Keagamaan di Indonesia

    Get PDF
    Pluralitas agama sebenarnya bukan fenomena baru bagi bangsa Indonesia. Selama masa orde baru saja, secara de jure diakui oleh pemerintah eksistensi lima agama dan puluhan bahkan mungkin ratusan aliran kepercayaan. Setiap penduduk Indonesia menghadapi kenyataan pluralitas agama ini di dalam kehidupan keseharian. Bertetangga, bekerja, dan bersekolah dengan orang yang berlainan agama adalah suatu kenyataan yang dengan mudah ditemui di dalam kehidupan sehari-hari. Pluralitas agama telah menjadi bagian dari apa artinya menjadi penduduk Indonesia. Menyangkal adanya realita ini adalah sebuah kenaifan. Pluralitas agama menyimpan potensi sekaligus bahaya tersendiri. Kemajemukan agama itu bisa menjadi potensi yang kuat, apabila kemajemukan tersebut dihargai dan diterima dengan bijaksana oleh segenap unsur masyarakat yang ada. Apabila hal ini terjadi, maka akan terbentuk sebuah mozaik kehidupan yang indah dan enak untuk dinikmati. Di sisi lain, kemajukan itu sendiri menyimpan potensi untuk menimbulkan masalah yang besar. Perbedaan-perbedaan ajaran agama, apabila tidak ditanggapi dengan bijaksana, maka dapat memicu sebuah pertikaian yang mendalam dan meluas. Tampaknya itu yang sedang terjadi pada saat ini. Tulisan ini akan mencoba menganalisis praktik pendidikan agama saat ini dan mencoba mencari satu bentuk pendidikan agama yang cocok di tengah pluralitas agama yang ada. Ini bukan tantangan baru, tetapi “baru,” karena toh sebenarnya tantangan ini sudah cukup lama ada, tetapi tampaknya belum ada tanggapan yang cukup memadai. Selain itu tantangan ini disebut “baru” karena dinamika relasi antar agama yang terus berkembang hingga saat ini

    Misi Personal dan Komunal : Perbandingan Yohanes 1:35-51 dan 2:12-25

    Get PDF
    Perkembangan suatu agama dipengaruhi dan dibentuk oleh konsep keselamatan. Demikian juga perkembangan agama Kristen bertumpu pada konsep keselamatan. Dengan perkataan lain, teologi dan praksis misi berdasarkan pada dan mengalir dari konsep keselamatan. Perkembangan agama Kristen ke seluruh dunia didorong oleh konsep keselamatan yang ingin disebarkan agar orang lain mengikutinya. Di samping itu perlu diperhatikan bahwa misi dalam PB tidak mengenal dikotomi pemberitaan injil dan perbuatan sosial. Misi PB selalu holistis. Namun ada masalah lain. Pemberitaan injil memberi penekanan pada individualitas, sedang perbuatan sosial menekankan komunitas. Dikotomi personal-komunal sebenarnya telah melandasi berbagai rumusan konsep misi Kristen, seperti terungkap, misalnya, dalam istilah-istilah penginjilan, penanaman gereja (church planting) ... Bagaimana di Indonesia? Secara umum dapat dikatakan adanya karakter komunal bangsa Indonesia. Sifat komunal ini tercermin dalam bentuk yang dikenal sebagai “gotong royong.” Pada hakikatnya, konsep gotong royong tidak memberikan ruang terhadap semangat individualistis. Konsep keselamatan individualistis yang dibawa oleh bentara Kristus dari Barat tentu saja masuk ke dalam ruang berbeda dengan asalnya. Tetapi apakah konsep keselamatan harus sesuai dengan konteks agar dapat diterima? Pengalaman gereja di Barat masa kini tidak memperlihatkan demikian. Sejatinya, yang diperlukan gereja di Indonesia bukan konsep keselamatan personal atau komunal, tetapi suatu konsep keselamatan personal dan komunal. Jika demikian, bagaimana dengan konsep keselamatan dalam PB? Apakah keselamatan PB bersifat personal atau komunal? Apakah konsep keselamatan PB bersifat holistis? Dengan kata lain, apakah dikotomi personal-komunal dapat dibenarkan? Tulisan berikut berusaha membuktikan bahwa kontur keselamatan PB selalu berdimensi personal dan komunal. Dengan pendekatan naratif (narrative criticism) diupayakan menyusun suatu gambar komprehensif konsep keselamatan dengan sampel teks Injil Yohanes

    Analisis Kritis Etika Dalai Lama XIV dari Perspektif Etika Yesus Kristus Menurut Matius 5:3-12

    No full text
    Etika bukan merupakan sesuatu yang asing di tengah-tengah masyarakat karena berpengaruh erat dengan banyak keputusan yang harus diambil oleh setiap orang dalam menjalani kehidupannya. Munculnya berbagai ragam ajaran etika pada masa kini dapat menimbulkan kebingungan di tengah jemaat gereja karena banyak ajaran etika tersebut yang tampak baik dan efektif untuk diterapkan. Hal ini merupakan suatu tantangan bagi gereja karena hal yang diukur berdasarkan apa yang tampak baik dan efektif dapat bersifat subyektif. Jemaat membutuhkan pengajaran yang benar dan Alkitabiah. Salah satu ajaran etika yang tampak baik dan efektif adalah etika Dalai Lama XIV. Dengan pendekatan historis-deskriptif, didapati bahwa presuposisi Dalai Lama sangan dipengaruhi oleh ajaran Buddha Tibet. Dengan presuposisi ini, Dalai Lama membangun ajaran etikanya, yaitu yang dimulai dengan kesadaran akan adanya penderitaan di dalam dunia ini. Etika yang dikemukakan oleh Dalai Lama merupakan suatu usaha untuk mengatasi penderitaan tersebut sehingga manusia dapat mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Namun ternyata, hasil analisis kritis dari perspektif etika Yesus Kristus menunjukkan bahwa summum bonum etika Dalai Lama ini yaitu kebahagiaan, tidak dapat tercapai. Hal ini disebabkan kerena etika Dalai Lama dibangun dengan paradigma bahwa manusia memiliki potensi di dalam dirinya sendiri untuk mengusahakan kebahagiaannya sendiri. Selain itu, etika Dalai Lama juga mengabaikan keberadaan Allah dalam sejarah kehidupan manusia. Pengabaian ini, bersama dengan keyakinan akan kemampuan manusia, pada akhirnya berakibat bahwa ajaran etika Dalai Lama tidak dapat membawa manusia mencapai kebahagiaan yang sejati, bahkan terjerat di dalam lingkaran penderitaan yang tak habis-habisnya karena manusia sebenarnya telah tercemar oleh dosa dan padanya tidak ada kemampuan untuk mengusahakan kebahagiaan sejati. Eksposisi terhadap Matius 5:3-12 yang merupakan ajaran etika Yesus Kristus, mengungkapkan bahwa manusia dapat mencapai kebahagiaan yang sejati karena kebahagiaan tersebut dianugerahkan oleh Allah. Jadi, tidak sedikitpun mengandalkan kekuatan manusia. Dalam hal tuntutan kesempurnaan etika, manusia yang berdosa dimampukan dan disempurnakan oleh Kristus Yesus. Etika Yesus Kristus adalah penyataan Allah kepada manusia tentang jalan yang benar dalam mencapai kebahagiaan yang sejati. Kedua etika ini memang sangat berbeda dalam presuposisi dan dalam pencapaian kebaikan tertingginya (summum bonum) tetapi, dalam hal tindakan praktis ditemukan banyak kesamaan misalnya dalam sikap anti kekerasan, mencintai perdamaian dan altruisme. Oleh karena itu, dalam skripsi ini juga dipaparkan relevansi-relevansi dari hasil penelitian yang sesuai dengan kondisi gereja pada masa kini yaitu yang melihat kembali kepada the ethics of being orang percaya

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇