STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Kekristenan dan Kebudayaan (Bagian 1)

    Get PDF
    Topik yang akan kita bahas adalah “Kekristenan dan Kebudayaan.” Topik ini akan dibagi menjadi lima bagian. Bagian pertama akan membahas “Apakah Kebudayaan itu?,” kemudian “Kristus dan Kebudayaan,” yang membahas tentang relasi Kristus dengan semua kebudayaan di dunia. Pada bagian ketiga, “Kristus dan Kebudayaan kita,” saya akan lebih mengkhususkan pada apa yang kita pelajari di kebudayaan Barat di mana manusia hidup. Bagian keempat adalah “Orang Kristen di dalam Kebudayaan Kita,” yaitu pembahasan yang berkaitan dengan manusia: bagaimana seharusnya menanggapi kebudayaan di sekeliling kita? Bagaimana orang Kristen seharusnya berinteraksi dengan kebudayaan masa kini: apakah kita harus lari darinya, memeranginya, membuat alternatif, atau apa? Bagian terakhir, “Kebudayaan di dalam Gereja,” membahas apa yang dapat diperbuat oleh gereja dengan kebudayaan di dalam pelayanannya: dalam penginjilan, penggembalaan pada orang percaya, dan ibadah

    Tinjauan Kritis Terhadap Perdebatan Teologis Antara Open Theism dan Classical Theism Tentang Doktrin Allah

    No full text
    Munculnya open theism telah mengguncangkan para teolog injili klasik di Amerika Serikat, dengan pemahamannya akan hal yang paling esensi dalam diri Allah adalah kasih. Sebagai implikasinya, theism ini, yang menganut metode berteologi Wesleyan quadrilateral, mengajarkan bahwa Allah dapat berubah dalam rencana dan kehendak-Nya, yang disesuaikan dalam relasi-Nya dengan manusia. Theism ini juga mengajarkan bahwa Allah dapat dipengaruhi perasaannya oleh tindakan manusia. Selain itu, open theism juga mengajarkan bahwa Allah tidak mengetahui masa depan secara sempurna. Allah hanya dapat memperkirakan kejadian di masa depan dengan tingkat probabilitas yang tinggi. Doktrin ini muncul karan Allah sangat menghargai kehendak bebas manusia, sehingga Ia tidak mau menetapkan kejadian di masa depan. Implikasi praktisnya dapat terlihat dalam konsep doa syafaat. Open theism meyakini bahwa doa syafaat yang dipanjatkan dapat mengubah rencana dan kehendak Allah. Sedangkan classical theism mempunyai metode berteologi berbentuk tetrahedron piramid, dengan Alkitab sebagai standar berteologi tertinggi dan model Allah yang menekankan pada kedaulatan Allah. Kedaulatan Allah mengimplikasikan bahwa Allah sejak kekekalan telah menetapkan rencana dan kehendaknya, sehingga Allah yang diyakini classical theism ini dikenal sebagai Allah yang tidak berubah. Perasaan Allah juga berbeda dengan perasaan manusia, dimana kehendak Allah tidak dapat dipengaruhi oleh perasaan-Nya seperti yang dialami manusia. Selain itu, classical theism menegakan bahwa Allah mempunyai pengetahuan akan masa depan yang sempurna. Implikasi praktisnya adalah doa syafaat yang dinaikkan merupakan alat untuk memperoleh apa yang sudah Tuhan tetapkan sebelumnya dan juga berfokus pada kehendak Tuhan yang terjadi, bukan kehendak si pendoa itu sendiri. Open theism secara tegas menyatakan bahwa pandangan mereka lebih alkitabiah dibandingkan classical theism. Namun, apakah klaim open theism itu benar? Apakah model Allah yang penuh kasih dan terbuka akan masa depan lebih sesuai dengan kebenaran Alkitab dibandingkan model Allah classical theism yang menekankan kedaulatan Allah? Studi literatur secara alkitabiah dan teologis dilakukan terhadap kedua theism ini, yang meliputi: metode berteologi, model Allah. doktrin Allah dan implikasinya pada konsep doa syafaat. Berdasarkan hasil penyelidikan ini, maka disimpulkan bahwa pandangan classical theism lebih alkitabiah dibandingkan open theism. Tetapi ini tidak berarti bahwa classical theism tidak dapat memetik pelajaran dari perdebatannya dengan open theism. Oleh karena itu, skripsi ini memaparkan perbedaan dan persamaan antara kedua theism, sekaligus juga memberikan evaluasi, baik secara negatif maupun positif, terhadap kedua theism ini

    Tinjauan Kritis Doktrin Keselamatan Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez

    No full text
    Gustavo Gutierrez adalah salah satu teolog pembebasan dari Peru yang membangun sebuah metode teologi baru, yang berpangkal dari praksis hidup umat beriman sebagai standar untuk refleksi teologi. Bertitik tolak dari pengalaman dan konteks hidupnya di tengah-tengah kaum miskin Peru, Gutierrez menempatkan kaum miskin sebagai subyek dari teologinya. Jadi teologi menurut Gutierrez adalah refleksi kritis atas praksis kaum miskin dalam terang sabda Allah. Berdasarkan metode teologi tersebut maka konsep keselamatan teologi pembebasan Gutierrez berfokus pada keselamatan "here and now". Keselamatan bagi Gutierrez adalah keselamatan integral yang mencakup pembebasan manusia dalam berbagai aspek, bukan hanya keselamatan rohani tetapi juga ekonomi, sosial, dan politik. Atau dengan kata lain keselamatan bukan hanya bersifat rohani, tetapi juga bersifat sosial dan politik. Ada beberapa sikap yang muncul dalam meresponi konsep keselamatan teologi pembebasan Gutierrez, baik yang simpati maupun antipati. Kebanyakan para teolog, seperti: J. Ronald Blue, Stanley J. Grenz dan Etta Linneman berpendapat bahwa konsep keselamatan Gutierrez cenderung berciri sosial politik, bukan keselamatan manusia atas dosa (berciri rohani). Oleh karena itu, melalui skripsi ini penulis ingin membuktikan apakah ada ciri-ciri rohani dalam konsep keselamatan Gutierrez, termasuk konsep dosa, pertobatan, iman, gereja dan misinya (kaitan keselamatan dengan penginjilan). Selain itu penulis juga mengkritisi apakah ciri-ciri rohani tersebut sesuai dan tepat seperti yang Alkitab maksudkan. Hasil penelitian penulis menunjukkan bahwa dalam konsep keselamatan Gutierrez ada ciri-ciri rohani meskipun tidak terlalu menonjol ketimbang ciri-ciri sosial politik. Selain itu dalam ciri-ciri rohani yang dikemukakan Gutierrez -- perlu ada penjelasan atau catatan khusus. Namun dengan adanya ciri-ciri rohani tersebut Gutierrez dapat menyangkal tuduhan-tuduhan bahwa teologi pembebasan hanya berciri sosial politik. Dalam skripsi ini penulis berusaha menjembatani konsep keselamatan Gutierrez dengan konsep keselamatan tradisional. Keselamatan "here and now" menjadi tekanan Gutierrez dengan harapan keselamatan Kristus dapat menjawab permasalahan sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia sekarang. Sebenarnya keselamatan yang dipahami Gutierrez tersebut dapat digolongkan dengan keselamatan yang sedang berproses (atau lebih dikenal dengan istilah sanctification -- pengudusan setiap saat) dalam pemahaman tradisional. Keselamatan merupakan anugerah dari penebusan Kristus di masa lalu yang diterima pada saat orang-orang yang percaya bertobat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Pertobatan (conversion) merupakan titik tolak untuk orang-orang percaya melakukan sanctification sampai Tuhan datang kedua kalinya dimana kita akan mengalami keselamatan yang sempurna. Pada jaman sekarang ini adalah kesempatan untuk menjalani sanctification agar keselamatan yang kita terima berdampak bagi dunia ini. Skripsi ini mendorong agar orang-orang yang telah diselamatkan merespons anugerah Allah itu dengan menjalankan tanggung jawab pribadi dan sosial. Tanggung jawab pribadi dalam hal ini merupakan tugas tiap orang percaya dalam menjaga kekudusan hidupnya, bertumbuh secara rohani dan karakter agar menyerupai Kristus dan meminimalkan dosa yang menjadi penyebab terjadinya permasalahan sosial. Sedangkan tanggung jawab sosial adalah upaya orang-orang percaya menjalankan tugasnya untuk mengatasi permasalahan sosial yang terjadi di dunia, termasuk menolong orang miskin (yang menjadi penekanan teologi pembebasan). Gutierrez tidak perlu memfokuskan konsep keselamatannya pada upaya sosial politik guna mewujudkan impian pembebasan bagi orang miskin dan tertindas, sebab keselamatan yang diterima oleh orang percaya memang sudah seharusnya menjadi titik tolak bagi mereka untuk melaksanakan tanggung jawab pribadi dan sosial di masa sanctification

    Studi Motif Kerajaan Allah Dalam Misi Kristen dan Relevansinya Bagi Misi Gereja Injili Pada Masa Kini

    No full text
    Dalam sejarah misi kekristenan, motif misi menjadi hal penting karena mendasari dan menentukan arah dan gerak misi gereja. Setiap motif misi yang benar, yaitu yang dibangun dari pemahaman Alkitab yang benar, akan dapat membawa gereja untuk menjawab setiap tantangan jaman yang ada. Dalam bermisi, gereja tidak hanya memerlukan suatu motif misi yang benar, tetapi juga mampu menganalisis tantangan jaman yang ada sehingga dapat melakukan misinya dengan tepat. Tantangan jaman berubah dari masa ke masa, dan dari hasil analisis yang dilakukan dalam skripsi ini, khususnya dalam bab kedua, ditemukan ada lima tantangan masa kini yang sangat kompleks dan mencakup banyak aspek dalam kehidupan manusia. Itu sebabnya dipandang perlu bagi gereja untuk memahami suatu motif misi yang dapat membawa gereja untuk dapat memahami arti misi dengan lebih luas. Salah satu motif yang telah berkembang saat ini adalah motif Kerajaan Allah. Dapat dikatakan bahwa berbagai aliran dalam kekristenan mengenal motif ini dan memiliki pandangan-pandangan yang cukup berbeda sehingga menghasilkan penekanan misi yang berbeda-beda pula. Dalam beberapa dekade terakhir sejumlah teolog dari kaum injili telah menekuni motif ini sebagai motif yang dilihat dapat memberikan pemahaman misi yang luas bagi gereja untuk menjawab tantangan masa kini. Sebagai bagian dari komunitas injili, dirasa pelu untuk meneliti pemahaman para teolog injili mengenai motif ini untuk menemukan relevansinya bagi misi gereja injili masa kini. Para teolog yang pemahamannya diteliti dalam skripsi ini yaitu yang dipaparkan di dalam bab ketiga, adalah Yohanes Verkuyl, Arthur F. Glasser, Charles R. Padilla, dan Ken Gnanakan. Dari hasil analisis terhadap pemaparan mereka yang kemudian diredefinisi untuk mengetahui dengan lebih jelas konsep motif ini, yaitu yang dilakukan dalam bab keempat, ditemukan bahwa motif ini tidak hanya mampu memberikan implikasi-implikasi misi kepada gereja untuk menjawab lima tantangan yang ada dengam melakukan penginjilan, ibadah, persekutuan, pengajaran, dan ajakan untuk bekerja sama dengan berbagai gereja sebagai satu tubuh Kristus. Lebih dari itu, ditemukan bahwa tema ini juga mengungkapkan tiga implikasi penting lainnya yang selama ini dinilai kurang diperhatikan oleh gereja-gereja injili, yaitu: mengenai kuasa kebangkitan Kristus (Chritus Victor) yang merupakan kuasa kemenangan Kerajaan Allah atas kerajaan maut, adanya the lordship of Christ atau pemerintahan Kristus atas segala sesuatu di dunia ini, dan peran utama gereja sebagai agen kerajaan Allah. Motif ini menjelaskan banyak detil panggilan misi bagi gereja sebagi agen kerajaan, yaitu tidak hanya peduli dengan masalah-masalah sosial, tetapi juga dengan berbagai bidang lain dalam kehidupan manusia yang semuanya telah tunduk di bawah the lordship of Christ. Itu sebabnya gereja Tuhan, khususnya gereja-gereja injili masa kini, perlu melihat kembali dan memahami motif ini sebagai motif yang mengarahkan misi gereja

    Fellow-Workership (Ef. 4:7-16)

    Get PDF
    Naskah khotba

    Perbandingan Konsep Keselamatan Orang Jawa : Golongan Abangan dan Kebatinan Dengan Kekristenan Serta Implikasinya Dalam Penginjilan

    No full text
    Abangan dan kebatinan merupakan dua kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar orang Jawa. Sama seperti di dalam kekristenan, Abangan dan Kebatinan juga mempunyai konsep tentang manusia, konsep tentang Alllah dan konsep tentang keselamatan. Tetapi bedanya, konsep keselamatan mereka bersifat antroposentris, yaitu dilakukan dengan pusatnya pada manusia, objeknya adalah manusia, diusahakan untuk dan oleh manusia. Jadi untuk mendapatkan keselamatan, mereka melakukan usaha-usaha yang dianggap dapat membawa mereka kepada keselamtan, seperti: selamatan, ruwatan, bertapa, semedi, dan lain-lain. Mereka percaya dengan menjalankan usaha-usaha itu mereka akan mendapatkan kelepasan dari kuasa-kuasa yang membelenggunya yang membuat ia tidak dapat memperoleh keselamatan atau bersatu dengan Tuhan. Sementara itu dalam kekristenan, keselamatannya bersifat teosentris, yaitu berpusat pada Allah, dilakukan oleh Allah, dengan objeknya manusia. Jadi manusia tidak perlu bersusah payah dengan usahanya sendiri untuk mendapatkan keselamatan itu, Allah telah menyediakan keselamatan itu bagi manusia. Keselamatan telah dianugerahkan oleh Allah secara cuma-cuma bagi manusia. Dengan melihat perbedaan khusunya pandangan tentang keselamatan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hal yang sangat dibutuhkan oleh Abangan dan Kebatinan yang telah dipunyai oleh kekristenan, yaitu keselamatan kekal. Sebagai umat yang sudah ditebus dan telah merasakan kasih dan pengampunan Allah, kita berkewajiban untuk membagikan berita baik itu kepada mereka yang membutuhkan keselamatan

    Relevansi Konsep Spiritualitas Calvin dalam Konteks Masa Kini

    Get PDF
    Di dalam perjalanan menghadapi berbagai tantangan zaman, gereja masa kini perlu melihat catatan lintasan sejarah gereja sebagai harta yang penting bagi pergumulan kehidupan orang Kristen. Karena itu gereja harus terus memikirkan usaha untuk mempelajari dan menggali makna yang terdalam dari sejarah tersebut, sehingga bisa mendapatkan motivasi yang kuat dalam segala bentuk perjuangannya. Salah satu bidang esensial yang digumulkan oleh gereja dalam sejarahnya adalah berkenaan dengan problematika spiritualitas. Bidang ini jelas bukan hanya sekadar suatu bahan pembicaraan masa lampau, tetapi juga suatu pergumulan yang sangat relevan untuk diperhatikan sampai saat ini. Sayangnya, warisan sejarah tentang spiritualitas Kristen kurang mendapat porsi perhatian yang tepat, bahkan tidak jarang justru diabaikan. Gereja lebih melihat keinginan manusia sebagai hal yang mendesak untuk dipuaskan sehingga atas dasar keinginan itulah konsep spiritualitas gereja dirumuskan. Sementara hal-hal yang esensial dalam warisan sejarah gereja justru ditinggalkan dan tidak dipandang sebagai hal berharga yang harus dipertahankan. Inilah fenomena yang tragis dalam kehidupan gereja, suatu hal yang harus segera disikapi dengan serius. Dalam kalangan injili sendiri sering kali juga dijumpai kurangnya pemahaman tentang warisan spiritual yang ada, padahal sejarah mencatat adanya konsep-konsep spiritualitas yang berharga dan teruji di dalam zamannya masing-masing. Salah satu konsep spiritualitas injili yang penting untuk dipelajari adalah yang diajarkan oleh John Calvin. Ia adalah seorang teolog dan gembala jemaat yang mencoba memikirkan konsep-konsep dasar bagi hidup Kristen atau spiritualitas Kristen pada zamannya, di mana pemikirannya telah menjadi harta yang berharga bagi zaman sesudahnya, termasuk masa kini. Artikel ini akan memperkenalkan salah satu prinsip dari konsep spiritualitas Calvin, juga salah satu dari tantangan spiritualitas kekinian yang ada, dan kemudian mencoba untuk menjawab tantangan itu dengan dasar konsep Calvin tersebut

    Apologetika Kristen : Tanggung Jawab Semua Anak Tuhan

    Get PDF
    Apologetika berasal dari kata Yunani apologia yang berarti berbicara untuk mempertahankan atau memberikan jawaban. Di dalam kitab suci kata ini dipakai dalam konteks 1 Petrus 3:15-16: "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab (apologia) kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu." Jadi, apologetika artinya adalah sebuah studi untuk mempelajari bagaimana melaksanakan pertanggungan jawab, mempertahankan atau memberikan jawaban dari apa yang ia yakini dengan efektif. Lalu apa artinya apabila kata apologetika dikaitkan dengan kata Kristen

    Khotbah Perumpamaan : Suatu Penilaian terhadap Metode Khotbah Perumpamaan David Buttrick

    Get PDF
    Perumpamaan mungkin, oleh kebanyakan pengkhotbah, dianggap sebagai genre Alkitab yang paling mudah dikhotbahkan. Namun bagi pengkhotbah-pengkhotbah yang serius mengkhotbahkan perumpamaan acap kali membingungkan. Sebab meskipun nampak sederhana, perumpamaan mengandung beberapa persoalan yang rumit. Persoalan-persoalan tersebut meliputi: (1) dari sudut manakah berita sebuah perumpamaan harus diambil? Dari sudut para pendengar pertama yang mendengar langsung ketika Yesus menceritakan perumpamaan-perumpaman-Nya atau dari perspektif para pembaca pertama Injil? (2) Dapatkah penafsiran alegori digunakan dalam khotbah perumpamaan? (3) Apakah bentuk atau model khotbah yang paling baik untuk mengkhotbahkan perumpamaan? Bentuk deduktif atau induktif? Satu poin, tiga poin, banyak poin, atau model khotbah narasi? Persoalanpersoalan di atas membuat banyak ketidakpastian dalam diri para pengkhotbah. Thomas G. Long menyimpulkannya dengan tepat, “Seorang pengkhotbah pemula mengkhotbahkan sebuah perumpamaan dengan keyakinan yang tinggi, melangkahkan kakinya dengan berani seolah berjalan pada suatu daerah yang sudah ia kenal. . . . Tetapi semakin kita mengenal perumpamaan, semakin kurang yakin apakah kita sungguh-sungguh memahaminya.” Ada banyak solusi yang ditawarkan oleh para ahli berkenaan dengan metode khotbah perumpamaan dan salah satunya adalah dari David Buttrick, seorang dosen homiletika dan liturgi dari Divinity School, Vanderbilt University. Di dalam bukunya, Speaking Parables: A Homiletic Guide,2 ia menawarkan model khotbah narasi untuk mengkhotbahkan perumpamaan. Tawaran ini sangat menarik dan bermanfaat, namun demikian ada beberapa dari pandangannya yang perlu dicermati secara kritis. Dalam tulisan ini penulis akan memaparkan dan mengevaluasi metode Buttrick tersebut. Tetapi sebelumnya, akan dibahas tentang definisi perumpamaan, kemudian menelusuri sejarah khotbah perumpamaan, dan model-model khotbah perumpamaan yang pada umumnya digunakan dalam sejarah sejak masa Bapa-bapa gereja mula-mula sampai kini. Ketiga hal itu akan menjadi dasar pijakan dalam menilai metode khotbah perumpamaan yang ditawarkan olehnya

    Karakteristik Pendidikan Kristen

    Get PDF
    Tulisan ini merupakan refleksi pengalaman dan pergumulan penulis dalam pelayanan di dunia pendidikan Kristen selama ini. Ada ungkapan kepedihan dan keprihatinan, tetapi juga ada harapan dan keyakinan. Penulis percaya bahwa pelayanan pendidikan Kristen merupakan pelayanan yang sangat efektif untuk melayani Tuhan. Karena itu sangat penting untuk memahami apakah sesungguhnya karakteristik pendidikan Kristen? Supaya setiap hamba Tuhan dan pendidik Kristen dapat sungguh meyakini bahwa yang sedang dikerjakannya adalah benar-benar pendidikan yang Kristen dan bukan pendidikan dengan label Kristen. Karakteristik yang akan dibahas ini dapat menjadi sebuah refleksi (perenungan) untuk melakukan evaluasi diri

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇