STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Tinjauan Terhadap Mentoring Rohani : Manfaat dan Tantangannya

    No full text

    Sumbangsih Arkeologi Terhadap Kitab Raja-Raja

    No full text

    Penderitaan menurut Agama Buddha : Sebuah Tinjauan Kritis dari Perspektif Kristen

    Get PDF
    Banjir lumpur, gempa bumi, tsunami dan kemiskinan, mungkin itulah yang kita pikirkan ketika berbicara tentang penderitaan di Indonesia. Kita hidup dalam konteks bangsa yang sedang mengalami krisis multidimensi plus tertimpa banyak bencana baik yang alami maupun ”buatan.” Dalam kondisi seperti ini, terkadang kita tergoda untuk berpikir bahwa hidup di Indonesia sungguh tidak mengenakkan. Lalu pikiran kita menerawang dan berimajinasi untuk tinggal di negara-negara maju seperti Amerika Serikat atau Jepang dan berpikir bahwa kondisi di sana akan jauh lebih baik. Tetapi, pikiran demikian tentu tidak benar. Itu adalah mitos dan bukan fakta. Yang terjadi adalah penderitaan merupakan bagian dari umat manusia di manapun ia berada, di negara maju, maupun yang kurang maju, kecil maupun besar, komunis maupun kapitalis, beragama maupun sekuler. Hanya bentuk, tingkatan dan penyebabnya saja yang berbeda-beda. Penderitaan adalah fakta universal! Penderitaan juga melampaui horison waktu, ia ada dulu, sejak zaman dahulu kala sampai sekarang dan juga di masa mendatang. Penderitaan adalah fakta yang tidak hanya universal tetapi juga “seolah-olah” abadi. Justru karena itulah, berbicara mengenai penderitaan merupakan hal yang menarik, paling tidak bagi orang yang punya keprihatinan dan mau berkontemplasi tentang kehidupan. Sidharta Gautama (563-483 SM) adalah jenis orang seperti itu. Sebagai seorang guru, pendiri agama Buddha, ia adalah orang yang dianggap memiliki banyak hikmat dan kebijaksanaan. Akan tetapi jikalau kita memperhatikan pengajarannya yang utama, maka kita akan segera menemukan tema sentral penderitaan dalam pengajarannya. Kebenaran-kebenaran mengenai penderitaan ini terangkum dalam pengajarannya yang disebut Empat Kebenaran Mulia (Four Noble Truths). Dalam tulisan ini, kita akan memberikan tinjauan kritis atas pengajaran Buddha tentang penderitaan yang terdapat dalam Empat Kebenaran Mulia. Oleh karena itu, maka tulisan ini akan mengalir sebagai berikut. Pertama, sejarah singkat kehidupan Buddha sampai dengan masa ia mengalami pencerahan. Hal ini penting untuk menyediakan konteks lahirnya pemikiran Buddha tentang penderitaan. Kedua, pemaparan mengenai konsep penderitaan dalam Empat Kebenaran Mulia. Selanjutnya, tinjauan kritis atas konsep Empat Kebenaran Mulia tersebut dari sudut pandang Kristen. Terakhir, sebuah kesimpulan dan aplikasi

    Ujian Tokoh Bileam (Bilangan 22:7-12; 23:1-6; 31:8)

    Get PDF
    Naskah Khotba

    Suatu Tinjauan terhadap Konsep Misi Lesslie Newbigin dan Implikasinya bagi Misi Kristen di Indonesia

    No full text
    Misi adalah salah satu mandat yang diberikan Tuhan secara langsung kepada umat-Nya. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu". Namun demikian ketika mandat ini dilakukan oleh perorangan atau lembaga, seringkali terdapat perbedaan-perbedaan penekanan yang akhirnya memberi tren atau "warna" tersendiri dalam misi. Hal ini terbukti dengan adanya gereja atau lembaga misi yang menekankan tindakan sosial dalam menjalankan misi dan ada yang menekankan pemberitaan Injil secara verbal. Di sisi lain ada gereja yang mementingkan misi keluar dan ada yang menekankan misi ke dalam berupa pembinaan warga gereja. Hal ini dapat terjadi salah satunya dipengaruhi oleh latar belakang teologi dari pribadi atau lembaga yang melakukan misi dan konteks di mana misi itu diberitakan. Salah satu misiolog yang berpengaruh dan mempunyai penekanan tersendiri dalam misi adalah Lesslie Newbigin. Latar belakang teologi, khususnya doktrin pemilihan dan Kristologi serta konteks pelayanannya, yaitu India dengan masyarakat yang sebagian besat hidup dalam kemiskinan, memberikan warna tersendiri dalam rumusan misiologi yang dihasilkannya. Sebuah rumusan misi yang dihasilkan dari pengalaman panjang di ladang misi dan penguasaan dua budaya (Barat dan Timur) yang mendalam. Salah saru kekhasan misiologi Lesslie Newbigin adalah misiologi yang bersifat Trinitarian. Newbigin memulai penjelasan misi bukan dari sudut pandang tugas atau mandat yang harus dikerjakan, seperti misiologi pada umumnya, melainkan ia menghubungkan misi secara langsung dengan doktrin Allah Tritunggal. Kekhasan lain dalam misiologi Newbigin adalah misiologi yang bersifat holistik, dimana mempunyai penekanan yang menyeluruh baik dimensi sosial maupun spiritual. Misiologi Newbigin berusaha mencari jalan tengah yang benar di antara dua kecenderungan misi yang ada. Dengan demikian dalam misi yang dijalankan memberikan perhatian yang seimbang antara tindakan-tindakan sosial dan keadilan serta pemberitaan Injil secara verbal yang mengutamakan pertobatan. Selain itu dalam misiologinya Newbigin memberi perhatian kepada budaya Timur khususnya dalam hal mempertahankan tatanan masyarakat yang ada serta berusaha menghindarkan bentuk-bentuk konfrontasi guna menjaga keharmonisan. Misi yang dikembangkan oleh Newbigin yang berakar pada budaya Timur inilah menurut penulis dapat diterapkan secara selektif dalam konteks Indonesia, khusunya dalam budaya Jawa. Dengan demikian apabila misiologi Newbigin diterapkan dalam konteks Indonesia maka akan memperhatikan konteks budaya setempat dengan menghindarkan dari konfrontasi dan menjaga keharmonisan dengan kondisi masyarakat yang ada. Akhirnya misi dapat dijalankan dengan baik dan berdampak positif baik bagi konteks maupun mereka yang menjalankan misi

    Suatu Tinjauan terhadap Pandangan Yohanes Calvin mengenai Hubungan Gereja dan Negara

    No full text
    Gereja lahir dan berkembang di tengah-tengah percaturan dunia. Keberadaan gereja tidak dapat dilepaskan dari tatanan-tatanan yang berlaku dalam dunia sekitarnya. Apa yang terjadi dalam masyarakat dapat mempengaruhi kehidupan bergereja, demikian pula sebaliknya, gereja juga punya andil besar untuk mempengaruhi masyarakat. Dalam kaitan yang demikian meka gereja harus mampu bersikap arif dan bijaksana, khususnya dalam relasinya dengan negara. Sejarah hubungan gereja dan negara telah terjalin seiring dengan perkembangan gereja dari abad ke abad. Sejak abad pertama hingga abad pertengahan kualitas hubungan gereja dan negara sangat dipengaruhi oleh situasi politik yaitu pergantian kekaisaran Roma. Kualitas hubungan di antara kedua lembaga ini mengalami pasang surut tergantung siapa yang berkuasa. Ketika gereja mampu memegang kendali negara atau negara dalam gereja maka gereja tergoda untuk bertindak jauh melampaui wewenangnya. Gereja terlibat jauh dalam urusan politik dan sosial kemasyarakatan hingga melalaikan panggilan serta perannya sebagai lembaga rohani yang ditetapkan Allah di dalam dunia. Demikian pula sebaliknya, ketika negara menguasai gereja atau gereja di dalam negara. Negara terlibat jauh mencampuri urusan intern gereja dimana kaisar campur tangan terhadap keputusan-keputusan gereja. Kondisi seperti ini menyebabkan gereja tidak mampu berperan secara maksimal dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Gereja tidak berdaya untuk menyuarakan suara kenabiannya. Puncak perseteruan dalam relasi gereja dan negara terjadi pada abad pertengahan. Pada masa ini kondisi gereja sungguh memprihatinkan karena para pemimpin gereja terutama Paus lebih mengutamakan urusan politik daripada urusan rohani yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Hal ini disebabkan karena klaim gereja yang beranggapan bahwa kuasa gereja atau Paus lebih besar daripada kuasa kaisar. Dalam kondisi yang demikian tampillah para Reformator yang ingin mengoreksi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan gereja sekaligus menyampaikan pemikiran-pemikiran mereka tentang hubungan gereja dan negara. Martin Luther denan ajaran "Dua Kerajaan" membedakan antara pemerintahan "spiritual" dan "duniawi". Gereja dan negara mempunyai wewenang yang berbeda sehingga tidak boleh dicampuradukan. Berbeda dengan Luther, Yohanes Calvin memiliki pandangan positif terhadap negara. Ia menolak gereja sebagai subordinasi (di bawah) negara, atau negara subordinasi gereja, tetapi iuxaposisi (kesetaraan yang berdampingan) dan kooperatif (mitra kerja sama). Menurutnya, pemerintah diperlukan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat, yaitu untuk menegakkan keadilan dan memberantas kejahatan. Meskipun kedua lembaga ini berbeda, Calvin berpendapat bahwa negara dapat bekerja sama dengan gereja dalam melayani masyarakat. Hal ini dibuktikannya pada waktu mereformasi kota Jenewa. Ia bekerja sama dengan pemerintah mengatur kehidupan masyarakat sehingga tercipta kondisi sosial masyarakat yang lbih tertib dan teratur. Keberhasilan reformasi Calvin ini telah menjadi model untuk mereformasi kota-kota lain di Eropa. Ia telah meletakkan landasan yang kuat bagi relasi gereja dan negara. Memperhatikan apa yang telah dicapai Calvin di Jenewa, maka tesis ini disusun untuk melihat sejauh mana pandangan ini dapat diterapkan pad konteks yang berbeda khususnya, di Indonesia

    Pendidikan yang Bergumul untuk Shalom

    Get PDF
    Pendidikan ... memerlukan arah. Sebab jika hal itu tertuju kepada arah yang salah, maka semua persiapannya menjadi sia-sia. Nicholas Wolterstorff menyatakan bahwa pendidikan harus tertuju kepada hidup dan hidup harus tertuju pada shalom. Dasar dari argumentasinya adalah wahyu Allah, karena Allah telah menyingkapkan kebenaran mengenai kisah hidup, kisah kemanusiaan, dan di dalam kisah itu shalom adalah maksud utama dari Allah sang pencipta agar seluruh dunia menikmatinya. Shalom “is more genuinely the content that biblical writers give to destiny appointed to us by God; our appointed destiny incorporates living in human community in the midst of nature.

    Perjanjian Pernikahan Menurut Maleakhi 2:14 dan Efesus 5:21-33: Sebuah Tinjauan Eksegetikal Mengenai Hakekat Pernikahan Kristen

    No full text
    Berangkat dari maraknya perceraian dan pergumulan pernikahan, penulis mempertanyakan nilai pernikahan Kristen pada masa kini. Pada saat ini terdapat banyak konsep pernikahan dan pandangan terhadapa perceraian. Hal ini menuntut pemahaman kritis yang jelas akan konsep pernikahn yang alkitabiah. Penulis percaya bahwa pengertian ini merupakan solusi bagi pernikahan Kristen. Perjanjian pernikahan yang tersurat dalam Maleakhi 2:14 merupakan konfirmasi yang jelas terhadap nilai sebuah pernikahan sebagai sebuah perjanjian dengan Tuhan sebagai saksi. Aspek-aspek perjanjian berupa kesatuan yang permanen, kekudusan, serta penolakan Tuhan terhadap perceraian tertulis dengan jelas dalam bagian ini. Konfirmasi Perjanjian Baru terhdap konsep perjanjian pernikahan dapat dilihat dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus. Paulus di dalam Efesus 5:21-33 menjabarkan tanggung jawab suami istri dalam kehidupan pernikahan. Paulus menggunakan pola relasi Kristus-jemaat sebagai pola relasi suami-istri. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru menyatakan relasi Allah dengan umat-Nya sebagai sebuah relasi perjanjian. Paulus mengungkapkan sebuah rahasia yang besar berkenaan dengan pernikahan, yaitu bahwa pernikahan menyatakan relasi Kristus dan jemaat (Ef. 5:31-32). Ini berarti bahwa pernikahan bukan hanya bercermin kepada relasi Kristus dan jemaat, tetapi pernikahan juga adalah cermin dari relasi Kristus dan jemaat itu sendiri. Studi eksegetikal yang dilakukan terhadap perikop Maleakhi 2:10-16 maupun Surat Efesus 5:21-33, diarahkan untuk membuktikan keabsahan konsep perjanjian pernikahan dalam Perjanjian Lama. Bagian kedua diarahkan untuk menemukan konfirmasi Perjanjian Baru terhadap konsep ini. Pada akhirnya penulis mencoba menarik implikasi logis berkenaan dengan konsep perjanjian pernikahan

    Teologi Pernikahan dan Keluarga

    Get PDF
    Sebuah pengertian alkitabiah tentang pernikahan dan keluarga tidak mungkin didapat tanpa kesadaran tentang keunikan kemanusiaan sebagaimana dirancang oleh Allah. Manusia dalam gambar dan rupa Allah diciptakan sebagai makhluk relasional. Dengan masuknya dosa, gambar ini telah tercemar dan membutuhkan pemulihan melalui Yesus Kristus. Hubungan yang baru antara Allah dan manusia tercermin dalam hubungan suami-istri dan orang tua-anak. Maksud artikel ini adalah untuk menggambarkan fondasi atau dasar yang di atasnya pelayanan terhadap pernikahan dan keluarga berdiri, dan untuk menunjukkan penerapannya dalam konteks umum dan Asia

    Dampak Konsep Kebenaran dalam Pascamodern terhadap Misi Gereja Masa Kini

    No full text
    Pascamodernisme adalah suatu pandangan hidup dan ideologi yang sangat berpengaruh dalam perkembangan jaman ini. Tesis ini memfokuskan kepada konsep kebenaran dalam pascamodernisme, serta dampaknya bagi misi gereja masa kini. Fokus ini membatasi pembahasan pascamodernisme yang akan diuraikan, sekalipun demikian, pembatasan tersebut tidak dapat mempermudah pengertian pascamodernisme. Inreraksi secara menyeluruh dalam pandangan pascamodernisme tidak dapat dihindari untuk dapat memperjelas dampaknya bagi misi gereja masa kini. Permasalahan dasar yang menjadi fokus yang diuraikan adalah mengenai konsep kebenaran dalam pascamodernisme. Konsep kebenaran ini melawan pernyataan kebenaran yang universal. Sebaliknya, penekanan kebenaran pascamodernisme lebih bersifat partisipasi berdasarkan asumsi penyelidik dan latar belakang yang dipengaruhi komunitasnya. Permasalahan konsep kebenaran ini menjadi pembahasan yang menarik karena akan menjadi suatu ancaman dan tantangan tersendiri bagi kekristenan secara umum (teologi, budaya, spiritualitas), dan misi gereja secara khusus. Metodologi penelitian yang diuraikan dalam tesis ini adalah berinteraksi dengan latar belakang pascamodernisme dan tokoh-tokoh yang mempengaruhinya. Perdebatan yang lebih mendetail dari setiap tokohnya tidaklah dimaksudkan dalam penulisan ini, karena tesis membatasi kepada hal-hal yang berhubungan dengan konsep kebenaran dan dampaknya bagi misi gereja masa kini. Analisa kritis dalam merangkum permaslahan pascamodernisme yang difokuskan kepada konsep kebenaran sangatlah penting, hal ini sehubungan dengan pembahasan misi gereja masa kini. Pergeseran dan perubahan misi gereja masa kini akan diperlihatkan sebagai dampak konsep kebenaran pascamodernisme. Selanjutnya usulan praktis pelaksanaan misi gereja masa kini diuraikan secara ringkas, hal ini dimaksudkan sebagai antisipasi terhadap konsep kebenaran pascamodernisme. Gereja dan misi masa kini harus secepat mungkin mengambil tindakan yang riil untuk melawan konsep kebenaran dalam pascamodern. Sebagai tujuan yang diharapkan dari hasil analisa dalam tesis ini adalah membuka wawasan dan ganbaran tentang bahaya dan ancaman konsep kebenaran dalam pascamodern terhadap pandangan misi gereja dewasa ini. Penulis berharap penulisan ini dapat memberikan tantangan bagi para teolog, gembala sidang dan aktivis gereja dalam menyikapi konsep kebenaran dalam pascamodern yang berdampak luas terhadap misi gereja dewasa ini, termasuk pembinaan jemaat. Pada akhirnya penulis berharap pelayanan dan misi gereja akan lebih terarah dan efisien karena gereja tanggap menyikapi konteks yang telah mengalami perubahan

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇