STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Kehendak Bebas di Dalam Teologi Martin Luther
Tidak seperti tradisi teologi Gereja Timur yang mempersatukan anugerah dan kehendak bebas secara serentak saat menjelaskan mengenai ajaran keselamatan, tradisi teologi Gereja Barat di bawah pengaruh Agustinus telah memisahkan ajaran mengenai anugerah dan kehendak bebas dalam kaitannya dengan keselamatan. Di dalam tradisi teologi Gereja Barat, ajaran mengenai kehendak bebas tidak dipahami sebagai ikut andil dalam memperoleh keselamatan; malahan hal itu dipertentangkan dengan ajaran anugerah dalam kaitannya memperoleh keselamatan. Anugerah adalah satu-satunya jalan yang melaluinya seseorang dapat diselamatkan oleh Allah. ... Martin Luther, seorang pengikut teologi Agustinus, juga mempertentangkan antara anugerah dan kehendak bebas dalam relasinya dengan keselamatan. ... Sangat disayangkan, beberapa orang yang tidak mengerti teologi Luther secara mendalam telah berprasangka keliru terhadap ajaran teologinya, termasuk ajaran mengenai kehendak bebasnya. ... Apakah prasangka-prasangka di atas mempunyai dasar? Bagaimana ajaran kehendak bebas dari Luther dapat dipahami secara tepat? Bagaimana ajaran-ajaran lainnya dari Luther dapat menolong untuk memahami ajaran kehendak bebasnya? Di dalam tulisan yang singkat ini penulis mencoba untuk menjawab dan menjelaskan persoalan di atas dengan maksud untuk mencapai pengertian yang tepat dan benar terhadap ajaran kehendak bebas di dalam teologi Luther. Berkaitan dengan tujuan tersebut, penulis akan membahas secara singkat pergumulan teologis yang muncul dari pengalaman rohani Luther dan juga menyelidiki karya-karyanya, khususnya yang berkaitan dengan topik pembahasan di atas
Meninjau The Da Vinci Code dari Sudut Teologi yang Sehat
Pada tanggal 15 Mei 2006 Sony Pictures Entertaintment—sebuah perusahaan film di Hollywood, Amerika Serikat—akan mengeluarkan film yang berjudul The Da Vinci Code (selanjutnya disingkat DVC). Film ini dibuat berdasarkan sebuah buku laris, yang terbit tahun 2003, yang sudah terjual 30 juta copy di seluruh dunia dan yang sudah diterjemahkan ke dalam 44 bahasa. Aslinya buku ini adalah sebuah novel yang ditulis oleh Dan Brown, seorang yang berkebangsaan Inggris. Buku ini sedemikian laris dan Brown sendiri menjadi kaya raya karena dari karya ini ia telah memperoleh sekitar 45 juta poundsterling (kira-kira 650 milyar rupiah). Bahkan juga ada orang dari kalangan agama bukan Kristen yang ikut-ikutan menerbitkan atau memperbanyak buku ini dalam berbagai bahasa dengan tujuan, tentu saja, menyerang jantung kekristenan, yaitu berkenaan dengan Yesus Kristus dan juga keabsahan Alkitab, yang adalah firman Allah. Karena akan beredar dan bulan Juni-Juli 2006 akan diputar di seluruh dunia, film ini akan menjadi daya tarik bagi banyak orang, terutama orang-orang yang berkepentingan atau orang-orang yang meragukan iman Kristen. Dalam artikel ini saya akan langsung memaparkan beberapa poin yang disebutkan di dalam buku DVC, sebagai poin yang langsung berkenaan dengan kristologi dan juga bibliologi. Saya akan langsung memberikan tanggapan, tetapi sebelum itu, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu secara singkat apa isi buku tersebut
Sebuah Tinjauan terhadap Teologi dan Praktik Doa Anthony De Mello
Frater Anthony de Mello, S. J. (1931-1987) adalah tokoh yang kontroversial. Di satu pihak ia adalah guru spiritual yang berpengaruh luas. Buku-buku spiritualitasnya yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti: Spanyol, Portugis, Italia, Jepang, Mandarin, Indonesia, Bengali, dan Thailand telah mempengaruhi banyak orang. Tak hanya itu, ia telah berkeliling dunia untuk memimpin seminar-seminar dan latihan-latihan doa bagi ribuan orang. Pada tahun 1972 Mello mendirikan Institute of Pastoral Counselling and Spirituality di de Nobili College, Poona, India yang diberi nama Sadhana. Di tempat inilah banyak orang dari berbagai negara, terutama para Jesuit, telah datang untuk mengikuti retreat-retreat doa yang dipimpin oleh de Mello.
Namun, sebelas tahun selepas kematian de Mello, tepatnya tanggal 24 Juni 1998, dewan kardinal Roma Katolik mengeluarkan notifikasi yang menyatakan tulisan-tulisannya tidak sesuai dengan ajaran Roma Katolik. Dewan tersebut menilai ajarannya: (1) berpandangan apophaticism, yaitu menyatakan bahwa Allah tidak dapat dimengerti dan dijelaskan dengan bahasa manusia. Padahal, menurut notifikasi tersebut, Alkitab berisi pernyataan yang benar dan sah tentang Allah, (2) merendahkan kedudukan Yesus dengan memandang-Nya sebagai guru seperti guru-guru yang lain. Hanya Yesus yang telah mengalami kesadaran dan kemerdekaan penuh, sedang guru-guru lain belum, (3) memandang kejahatan sebagai sebuah ketidaktahuan dan tidak ada hukum moral yang objektif. Notifikasi itu mendapat reaksi keras dari banyak orang terutama kolega de Mello, para Jesuit di India. Mereka amat menyesalkan keluarnya notifikasi tersebut. Menurut mereka dikeluarkannya notifikasi itu lebih didasarkan atas buku-buku posthumous-nya, sehingga tidak mewakili keseluruhan pemikirannya. Francis Stroud, Frater Jesuit yang telah bekerja sama dengannya mengelola pusat spiritualitas di Fordham University di New York, menanggapi notifikasi itu, “It’s extremely hard for me to believe that anyone would find anything de Mello says to be anything other than orthodox. He was a very devout churchman.” Perlu diketahui bahwa meski ia mengaku banyak dipengaruhi oleh tradisi dan agama-agama lain, namun ia tetap menyatakan kesetiaannya pada ajaran Roma Katolik. Penolakan atas notifikasi itu terlihat dengan tidak ditariknya buku-bukunya dari peredaran atau tidak dicantumkannya notifikasi tersebut pada buku-buku Mello kendati dewan kardinal waktu itu memerintahkan hal tersebut. Malahan buku-bukunya terus dicetak dan menjadi best seller. Mengingat besarnya pengaruh dari tulisan-tulisan de Mello dan adanya kontroversi atas tulisan-tulisan tersebut, maka artikel ini akan membahas tulisan-tulisannya tersebut. Namun artikel ini tidak membahas keseluruhan tulisannya, tetapi secara khusus akan memaparkan secara ringkas teologi dan praktik doanya. Kemudian penulis akan meninjau teologi dan praktik doa tersebut, dan diakhiri dengan aplikasi bagi umat Kristen
"Jangan Mengingini Milik Sesamamu" Tinjauan Hukum Kesepuluh Terhadap Gaya Hidup Sederhana di Tengah Semangat Ketamakan Zaman
Ketamakan adalah sesuatu yang jahat. Tetapi inilah dosa yang seringkali kita lakukan tanpa kita sadari. Mengapa? Pertama, karena ketamakan sudah ada benihnya di dalam "keinginan" yang ada dalam diri kita sendiri. Keinginan adalah karunia Tuhan, tetapi dosa telah menjadikannya ketamakan. Kedua, karena kita hidup dalam zaman yang sangat materialistis, relatif dan individual. Zaman ini menjadikan kepemilikan materi menjadi ukuran keberhasilan terpenting dalam masyarakat kita. Ketiga, karena ketamakan sangat mudah ditutupi dengan perbuatan sosial dan amal yang membuatnya tampak baik bagi semua orang. Gereja tidak luput dari pengaruh semangat ketamakan, sebab dalam ajaran gereja ada konsep "hidup berkelimpahan" yang sangat mudah mengadopsi semangat itu. Hari ini banyak gereja menjadi sangat banyak pengikutnya karena penekanan pada gaya hidup berkelimpahan ini. Banyak orang Kristen menganggap keinginan menjadi kaya adalah sesuai dengan kehendak Allah. Itu "harus" bagi anak Raja, agar ia tidak mempermalukan Bapanya. Ia juga bisa memberi lebih banyak bagi gereja. Lagipula menjadi kaya tidak berarti membuat orang lain miskin bukan? Survei membuktikan bahwa sebenarnya Tuhan menciptakan dunia ini dengan sumber-sumber yang cukup untuk mendukung kehidupan semua penghuninya. Tetapi karena beberapa orang dengan tamak mengambil melampaui batas, sangat banyak orang kehilangan haknya. Hukum kesepuluh. "Jangan mengingini..." adalah dasar moral kepemilikan yang benar bagi umat Tuhan. Hukum yang ditulis langsung oleh jari Tuhan ini membawa kepemilikan kepada masalah hati. Inti hukum kesepuluh adalah hati yang puas akan anugerah Allah. Melalui hukum kesepuluh Tuhan mengajarkan bahwa tanah dan harta itu milik Tuhan, dan tiap-tiap orang harus sadar bahwa ia hanya seorang pengelola. Tuhanlah yang menentukan bagiannya, yang terbaik untuk dia. Dia harus menerima dengan hati yang puas dan merawat milik Tuhan dengan bertanggung jawab. Hukum kesepuluh tidak melarang kita untuk kaya, tetapi melarang kita menjadi tamak. Ia tidak melarang kita untuk memperbanyak harta milik, tetapi melarang kita menjadi orang yang tidak tahu batas. Itulah sesungguhnya "gaya hidup sederhana" yang sesuai dengan firman Tuhan. Gereja tidak boleh larut dalam pengaruh ketamakan zaman ini. Gereja harus sadar bahwa ia tidak imun terhadap infiltrasi ketamakan. Karena itu gereja harus mengajarkan kebenaran tentang etika Kristen yang utuh dengan ketat kepada jemaat, termasuk etika kepemilikan. Ia harus membangun komunitas untuk menerapkan gaya hidup sederhana, sebab komitmen individu sangat lemah pengaruhnya. Akhirnya, gereja harus berani mengambil langkah yang tidak populer untuk menentang ketamakan zamannya
Konsep Mesias Menurut Tradisi Eskatologi Yahudi dan Sumbangsihnya Bagi Penafsiran Kristologi
Memanfaatkan Konsep Kejawen Mengenai Tan Kena Kinaya Apa dan Manunggaling Kawula-Gusti Dalam Mengkontekstualisasikan Doktrin Transendensi dan Imanensi Allah Pada Orang Jawa
Tesis ini adalah suatu ide dan usaha dari penulis untuk mengkontekstualisasikan doktrin transendensi dan imanensi Allah pada orang-orang Jawa dengan latar belakang pemahaman/konsep kejawen mereka tentang Tuhan. Ide dan usaha yang didasarkan pada pemahaman tentang adanya konsep kejawen mengenai tan kena kinaya apa dan manunggaling kawula-Gusti yang mencerminkan pemahaman tentang Tuhan yang transenden dan sekaligus imanen pada orang Jawa. Kedua konsep inilah yang menurut penulis merupakan peluang untuk mengajarkan tentang konsep transendendi dan imanensi Allah dan kemudian mentransformasinya (kedua konsep kejawen tentan Tuhan itu) menjadi lebih sesuai dengan iman Kristen. Ide dan usaha untuk mengkontekstualisasikan doktrin transendensi dan imanensi Allah pada orang Jawa ini menurut penulis merupakan salah satu contoh dari suatu usaha untuk memberitakan Injil di kalangan masyarakat yang beragama suku. Proses kontekstualisasi mempertemukan beberapa pandangan dunia yang berbeda, yaitu pandangan dunia: para penulis Alkitab, orang Jawa (pemeluk agama suku), para teolog (dengan prinsip kontekstualisasinya, serta doktrin transendensi dan imanensi Allahnya), dan penulis sendiri. Penulis berharap bahwa usaha kontekstualisasi tidak hanya menyentuh pada kulit budaya saja, melainkan dapat menyentuh inti pemahaman konsep kejawen tentang Tuhan. Usaha kontekstualisasi ini juga diharapkan membuat orang Jawa (pemeluk agama suku) menerima doktrin tentang Allah bukan sebagai sesuatu yang asing, tetapi bisa dipahami dan diterima dengan latar belakang pemahaman kejawen mereka. Melalui proses kontekstualisasi yang menyentuh sampai pada inti yang terdalam dari pemeluk agama suku (dalam hal ini orang Jawa), maka diharapkan bahwa orang-orang Jawa itu akan bisa menghayati kekristenannya secara lebih mendalam. Orang Jawa memiliki pandangan dunia yang sangat terbuka, sehingga mereka menganggap agama seperti baju yang mudah dicopot dan diganti dengan yang lain. Oleh karena itu supaya kekristenan tidak hanya menjadi salah satu baju, maka proses kontekstualisasi yang diterapkan pada orang Jawa harus bisa sampai menyentuh pada konsep kejawen yang telah mereka anut sebelum menerima pengaruh ajaran Kristen. Tentunya proses kontekstualisasi ini tetap menekankan bahwa ajaran firman Tuhan berdasarkan Alkitab harus bisa menerangi dan mentransformasi ajaran-ajaran di dalam konsep kejawen tersebut. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa walaupun mungkin ada kemiripan di dalam ajaran kejawen itu dengan doktrin-doktrin Kristen tetapi manusia yang menyusun ajaran tersebut telah berada di bawah pengaruh kuasa dosa sehingga pasti ajarannya tidak alkitabiah. Pada akhirnya melalui proses kontekstualisasi ini juga diharapkan akan membuat orang Jawa Kristen tidak lagi "mendua hati" atau berpegang pada dua ajaran (ajaran/doktrin-doktrin Kristen dan konsep-konsep kejawen) dalam hidup beragama mereka. Usaha kontekstualsasi ini juga diharapkan akan lebih memudahkan untuk menjangkau orang-orang Jawa terutama yang beragama abangan dalam pelaksanaan penginjilan
Evaluasi Terhadap Pengajaran Bruce Wilkinson tentang Doa Yabes berdasarkan Eksposisi 1 Tawarikh 4:9-10
Artikel ini ditulis sebagai suatu usaha untuk mencari kebenaran tentang janji dan jaminan yang diberikan Wilkinson dalam bukunya. Penulis meyakini otoritas tertinggi dalam pengajaran dan kehidupan orang percaya adalah Alkitab. Oleh sebab itu makalah ini akan mempelajari teks yang disajikan dalam bukunya untuk menilai apakah pengajarannya setia kepada pengajaran Alkitab atau tidak. Seandainya janji dan jaminannya sesuai dengan pengajaran Alkitab, maka buku ini menjadi berkat yang luar biasa bagi orang Kristen pada zaman ini. Sebaliknya, seandainya apa yang diajarkan olehnya tidak diajarkan oleh Alkitab, maka buku ini telah menggiring para pembacanya ke dalam janji dan jaminan yang tidak alkitabiah