STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Telaah Kritis terhadap Konsep Doa Peperangan Rohani Tingkat "Strategis" menurut Peter Wagner

    Get PDF
    Prinsip “risiko besar, untung besar” tidak hanya berlaku dalam dunia bisnis, namun juga dalam hal doa, demikian keyakinan C. Peter Wagner. Di sini ia sedang berbicara tentang jenis doa peperangan rohani pada tingkat “strategis” (DPRTS). Menurutnya, doa jenis ini seharusnya menjadi prioritas utama dari umat Tuhan karena doa ini memiliki efektivitas yang tinggi dalam kaitan dengan kegiatan penginjilan. Mengapa bisa demikian? Karena doa ini difokuskan untuk menggempur kekuatan yang berada di balik setiap pemberontakan terhadap Allah dan penolakan terhadap pemberitaan Injil. Di Indonesia, praktik ini mencuat ke permukaan melalui gerakan-gerakan doa yang diadakan baik dalam skup kota, daerah, maupun nasional. Umumnya gerakan-gerakan doa itu dimulai dengan pemetaan rohani untuk wilayah-wilayah yang menjadi fokus doa. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengidentifikasi kekuatan kegelapan yang berkuasa atas daerah tersebut. Setelah selesai dengan fase ini, barulah upaya-upaya doa diarahkan untuk mememerangi kuasa-kuasa tersebut sampai pintu pemberitaan Injil terbuka. Artikel ini akan menyoroti DPRTS dari sudut pandang doa itu sendiri. Dengan kata lain, makalah ini tidak dimaksud untuk menguji secara eksegetikal ayat-ayat pendukung yang dipergunakan oleh Wagner untuk membangun argumentasi tentang roh-roh teritorial dan DPRTS. Makalah ini juga tidak akan memaparkan uraian yang ekstensif tentang ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang peperangan rohani. Ayat-ayat Alkitab akan dibahas secara selektif dalam rangka menempatkan konsep DPRTS dalam kerangka pemahaman doa alkitabiah dan tradisional. Untuk itu, kita akan pertama-tama melihat deskripsi singkat mengenai apa itu DPRTS, lalu dilanjutkan dengan menempatkan DPRTS di dalam peta besar pemahaman dan praktik doa, kemudian tinjauan praktik DPRTS, dan diakhiri dengan sebuah proposal doa peperangan rohani yang lebih alkitabiah

    Problem Terjemahan Nama Tuhan dalam Alkitab

    Get PDF
    Kontroversi tentang nama Allāh dalam Alkitab mulai di Malaysia pada awal tahun 1980-an. Umat Islam di sana keberatan dengan umat Kristen yang memakai dan menyebut Allāh. Mereka menganggap sebutan itu sebagai sebuah sebutan Tuhan yang eksklusif Islam. Mereka tidak mengerti ketika orang Kristen menyebut “Allahku,” “Allah kita.” Mereka juga menuduh nama Allah telah dipakai untuk menunjuk Tuhan yang lain, misalnya, dalam ungkapan “Allah Anak” dan “Allah Roh Kudus.” Dalam pandangan mereka, ungkapan seperti itu melecehkan Tuhan dalam Islam, sebab Isa atau Roh Allah lebih rendah dari Allāh. Maka, umat Islam di Malaysia pernah melakukan kampanye pelarangan bagi umat Kristen untuk memakai dan menyebut nama Allāh. ... Berangkat dari keprihatinan itu, artikel berikut akan meninjau pemakaian nama dan sebutan untuk Tuhan dalam PL. Dalam hal ini tak dapat dihindari sedikit pembahasan tentang pemakaian kata Allāh dalam Islam, dengan kesadaran penuh bahwa penulis memiliki pengetahuan yang amat terbatas tentang hal itu. Namun, pembahasan itu perlu juga dibaca orang Kristen yang masih memiliki pemahaman yang amat kurang tentang pemakaian kata Allāh dalam Islam

    Tinjauan Teologis Terhadap Pelayanan Kepada Para Janda dan Implikasinya Pada Gereja Masa Kini

    No full text

    Konsep Hikmat Menurut Rasul Paulus dan Sikap Orang Kristen Terhadap Hikmat

    No full text

    Bentuk Khotbah Narasi : Mengkhotbahkan Teks-Teks Narasi PL dengan Efektif

    No full text
    Makalah ini bertujuan untuk menyakinkan pembaca bahwa untuk mengkhotbahkan teks-teks naratif PL dengan efektif, kita membutuhkan model khotbah induktif, khususnya dengan bentuk naratif. Untuk itu, pertama, dalam rangka memahami keunikan genre narasi, saya akan memaparkan karakteristik-karakteristik narasi PL. Kedua, berdasarkan pada hal pertama itu lalu mengkombinasikannya dengan beberapa pemikiran para ahli, saya akan memperlihatkan bahwa memang teks-teks naratif PL bila ingin dikhotbahkan dengan efektif membutuhkan bentuk khotbah naratif

    Firdaus yang Terhilang? : Suatu Studi Perbandingan Mengenai Kristologi dan Imaji Penciptaan Baru Dalam Injil Yohanes dan Injil Tomas

    Get PDF
    Firdaus yang terhilang dan Firdaus yang dipulihkan. Satu Pribadi Agung datang memulihkannya. Kapan? Di mana? Apakah Firdaus itu benar-benar ada? Jika benar-benar ada, sudahkah kita menikmati Firdaus baru itu? Keempat Injil kanonik mewartakan kehadiran Kristus sebagai Mesias, Pemimpin Kerajaan Allah; namun kita masih diperhadapkan pada problem apakah Firdaus telah dipulihkan. Masalah semakin pelik sebab di zaman kita membanjir varian-varian kekristenan bercorak eskapisme dualistis. ... Penulis akan memusatkan perhatian pada masalah semula, yakni apakah “Firdaus” telah dipulihkan. Pemulihan Firdaus sangat erat terkait dengan penciptaan baru. Bilamanakah dan bagaimanakah hal itu terjadi? ... Dalam penelitian ini, penulis memilih untuk menyelesaikan masalah bukan dari sudut dogmatika, tetapi meruntut argumentasi Pagels dan Injil Tomas mengenai kosmologi Kejadian 1. Penulis berusaha mengungkapkan kontinuitas maupun diskontinuitas dari tradisi kosmologi Yahudi yang menurun kepada Tomas dan Yohanes, dan dari sini penulis berharap mampu menyajikan kesenjangan-kesenjangan teori Pagels secara “objektif.

    Hamba yang Tak Layak Mendapatkan Upah (Luk. 17:7-10)

    Get PDF
    Naskah Khotba

    Menjadi Jemaat Multikultural : Suatu Visi untuk Gereja-Gereja Tionghoa Injili Indonesia yang Hidup di Tengah Konflik Etnis dan Diskriminasi Rasial

    Get PDF
    Etnis Tionghoa adalah bagian dari keanekaragaman bangsa ini. Meski berkali-kali hal ini coba disangkali dan mungkin hendak dihapuskan dari kenyataan bangsa ini, etnis Tionghoa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari negeri ini. Etnis Tionghoa bukan orang asing di negeri ini. Etnis Tionghoa juga adalah salah satu pemilik sah sekaligus pendiri bangsa ini. Gereja-gereja Kristen Tionghoa harus menyadari benar kenyataan tersebut. Sebagai bagian dari keseluruhan etnis Tionghoa di Indonesia, gereja-gereja Kristen Tionghoa adalah juga pemilik sah dan sekaligus pendiri bangsa ini. Kesadaran ini perlu dipupuk dan diperkuat dalam ingatan orang-orang Kristen Tionghoa agar di tengah-tengah berbagai luka sejarah yang dipikulnya, gereja-gereja Kristen Tionghoa dapat menjadi alat Tuhan menyembuhkan keutuhan hidup bangsa yang terus bergumul dengan keanekaragamannya ini. Di tengah bangsa yang terus berjuang untuk menjadi bangsa yang menerima etnis Tionghoa sebagai pemilik sah dan pendiri bangsa ini, gereja-gereja Tionghoa mendapat kesempatan istimewa untuk menjadi zona rekonsiliasi antar-etnis, khususnya di antara etnis Tionghoa dan non-Tionghoa. Kalau demikian maka pertanyaan selanjutnya yang penting untuk didiskusikan adalah: Bagaimana caranya? Bagaimana caranya supaya gereja-gereja Kristen Tionghoa dapat berperan menjadi alat Tuhan yang membawa kesembuhan kepada hidup bangsa ini? Dalam bagian ini saya akan mendiskusikan apa yang saya sebut jemaat multikultural. Untuk maksud itu, saya akan mengajak kita melihat terlebih dahulu apa yang dikatakan Alkitab mengenai jemaat multikultural, selanjutnya kita akan melihat beberapa gagasan sejenis yang telah diungkapkan oleh beberapa orang. Pertama-tama saya akan mengangkat pemikiran Andrew Sung Park, profesor teologi di United Theological Seminary, Dayton, Ohio, dalam bukunya Racial Conflict & Healing: An Asian-American Theological Perspective. Selanjutnya saya akan mengangkat hasil penelitian gereja-gereja di AS yang dilakukan oleh sebuah tim dari Emory University, yang dipimpin oleh Charles R. Foster dan Theodore Brelsford dan dibukukan dalam buku We Are the Church Together: Cultural Diversity in Congregational Life. Terakhir saya akan membahas sedikit salah satu dokumen penting Presbyterian Church in the United States (PCUSA) tentang visi mereka menjadi gereja multikultural dan dibukukan dalam buklet yang berjudul “Living the Vision: Becoming A Multicultural Church.” Di bagian akhir, berangkat dari diskusi di bagian sebelumnya, saya akan coba tunjukkan bagaimana jemaat multikultural dapat menjadi alat yang sangat efektif membawa kesembuhan kepada luka-luka disintegrasi bangsa ini dan selanjutnya beberapa gagasan tentatif tentang bagaimana jemaat multikultural dapat diwujudkan dalam gereja-gereja Tionghoa masa kini

    Pluralisme Agama dan Paradoks Kasih Karunia : Studi Mengenai Pemakaian Kristologi Donald Baillie oleh John Hick

    No full text
    Karena kesadaran akan adanya pemikiran religius-pluralis zaman sekarang dan buruknya pemutlakan agama-agama termasuk kekristenan, dan juga karena hasil-hasil studi kritis Perjanjian Baru, John Hick beberapa tahun yang lalu menawarkan sebuah pendekatan atau peninjauan baru terhadap kristologi. ... Dalam mengembangkan pendekatan kristologi yang baru ini, ia memakai pemahaman Donald Baillie mengenai paradoks kasih karunia (paradox of grace) sebagai sebuah pemahaman yang bisa menjelaskan signifikansi Yesus dari segi metafora inkarnasi ilahi. ... Tujuan artikel ini adalah untuk memeriksa pemikiran Baillie yang dipakai oleh Hick sehubungan dengan pemikiran kembali kristologi yang diajukan Hick. Lalu kita ingin melihat apakah memang benar kristologi Baillie tentang paradoks kasih karunia secara logika telah menerabas parameter-parameter Chalcedon, dan akhirnya, mengarah ke posisi religius-pluralis. Untuk mencapai tujuan ini, penulis akan menganalisis pemahaman Hick tentang kristologi Baillie dan bagaimana ia sampai pada pandangannya bahwa Baillie gagal dalam menjelaskan inkarnasi sesuai dengan terminologi Chalcedon dan oleh karena itu membuka kemungkinan-kemungkinan bagi kristologi yang pluralis. Saya juga akan menganalisis kristologi Baillie dalam God was in Christ, kemudian membandingkan dan mengontraskan pemahamannya dengan pemahaman Hick. Kesimpulan penulis adalah bahwa Hick telah keliru memahami pandangan Baillie dan sesungguhnya pandangan Baillie masih berdiri dalam parameter-parameter rumusan Chalcedon dan oleh karena itu tidak bisa dipakai menjadi dasar kristologi yang pluralis. Di sepanjang bahasan, penulis mencoba untuk tetap mengacu pada sudut pandang isu religius pluralis, yang tidak diperhatikan secara langsung dalam studi yang berhubungan dengan kristologi Baillie

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇