STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Konsep Allah Berinkarnasi : Implikasi Praktisnya Dalam Pelayanan Pembina Gereja

    No full text

    Implikasi Keunikan Keimaman Kristus dari Surat Ibrani Menghadapi Pandangan Kaum Pluralis

    No full text
    Secara tradisional iman Kristen mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, Pengantara, dan Juru Selamat yang "unik". Keunikan-Nya dipahami dalam pengertian bahwa Ia adalah satu-satunya Tuhan, Pengantara, dan Juru Selamat yang bersifat mutlak, dengan karya serta signifikansi yang bersifat universal, final, dan normatif. Keunikan-Nya itu dimungkinkan oleh karena Ia adalah Allah sekaligus manusia, dengan natur unik dwitunggal ilahi-insani yang tidak terbaurkan sekaligus tidak terceraikan. Menyanggah ajaran tradisional itu kaum Pluralis mengajukan konsep yang "baru" tentang keunikan Yesus Kristus. Dengan memakai istilah yang sama mereka mengajukan konsep yang berbeda, yang mengajarkan bahwa Yesus Kristus hanya merupakan salah seorang di antara banyak tuhan, pengantara, dan juru selamat bagi manusia. Dengan pandangan seperti itu maka mereka telah menghadirkan tantangan atau isu teologis terhadap keyakinan tradisional iman Kristen mengenai keunikan Kristus. Menanggapi pandangan kaum Pluralis itu maka penulis berikhtiar melakukan kajian terhadap konsep Alkitab mengenai keunikan Kristus. Dalam ikhtiar ini penulis memusatkan perhatian pada catatan alkitabiah Surat Ibrani mengenai keunikan keimaman Kristus. Catatan penulis surat ini merupakan suatu upaya alkitabiah dalam menunjukkan keunikan Kristus selaku Imam Besar dibandingkan dengan para imam besar lainnya. Konsep surat Ibrani itu menyaksikan realitas natur diri sejati dari Yesus Kristus sebagai Anak Allah. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah, yang sehakikat dengan Bapa. Ia adalah juga pengantara penciptaan alam semesta, yang setara dalam kekuasaan, kedudukan, dan kemuliaan ilahi-Nya dengan Allah Yang Mahabesar. Konsep surat Ibrani mengenai keunikan Kristus itu juga memperlihatkan realitas kodrat diri yang sejati dari Yesus Kristus sebagai Anak Manusia. Ia adalah Anak Allah yang harus menjadi Anak Manusia agar supaya bisa menjadi Imam Besar atau pengantara pendamaian bagi keselamatan manusia. Ia menjadi Imam Besar Agung bukan karena kesempurnaan ilahi-Nya sebagai Anak Allah, melainkan karena kesempurnaan karakter-Nya sebagai Anak Manusia, melalui ketaatan yang sempurna pada Bapa, tanpa pernah sesaatpun membiarkan diri-Nya berdosa sekalipun harus melewati berbagai pencobaan. Konsep surat Ibrani mengenai keunikan keimaman Yesus Kristus itu membawa satu implikasi bahwa keunikan-Nya itu bersifar mutlak. Ia adalah satu-satunya Tuhan, Pengantara, dan Juru Selamat yang bersifat universal, final, dan normatif. Keunikan mutlak-Nya itu dimungkinkan karena secara ontologis Ia adalah satu-satunya Imam Besar yang bersifart "ilahi-insani-sejarah", yang menerima jabatan keimaman yang kekal, dan yang memiliki karya pendamaian yang sempurna. Keunikan mutlak Kristus ini menantang insan Kristen Injili khususnya untuk tetap mempertegaskan ajaran tradisional mengenai keunikan mutlak Kristus. Juga merangsang umat Kristen pada umumnya untuk tegas mempertanyakan pandangan kristologis kaum Pluralis. Selain itu menggugah semua murid Kristus untuk siap mengkontekstualisasikan keunikan keimaman-Nya di dalam berbagai diskusi kristologis mengenai keunikan-Nya

    Mencoba Mengerti Kesulitan untuk Mengampuni : Perjalanan Menuju Penyembuhan Luka Batin yang Sangat Dalam

    Get PDF
    Pengalaman mengkonseling beberapa orang yang mengalami luka batin, terutama Bu Lely (BL, 38 tahun) membuat saya tertarik untuk belajar lebih banyak tentang kesulitan untuk mengampuni. Sejak kecil BL mengalami berbagai penganiayaan dan pernikahannya dengan Pak Kadir (PK) selama 8 tahun makin membuatnya mengalami berbagai kekerasan fisik, emosi, seksual yang dahsyat dan bertubi-tubi. Setelah 32 bagian dari tubuhnya retak, 8 di antaranya di bagian kepala, dan BL berubah dari orang yang atletis menjadi orang yang perlu bantuan kursi roda, BL menceraikan suaminya. PK harus mendekam di penjara selama 16 tahun. Waktu saya berjumpa dengan BL untuk pertama kalinya, BL sudah dikonseling oleh beberapa konselor lainnya selama dua tahun. Memang dapat dimengerti kalau hati, pikiran dan gerak-gerik BL penuh dengan kemarahan. Dalam beberapa konseling kemudian, saya bertanya apakah BL mau mempertimbangkan pengampunan dalam proses penyembuhan luka batinnya yang sangat dalam. “Tidak mungkin!” Tetapi dua bulan kemudian BL berkata, “Saya sudah mengampuni PK!” Menurut BL, ini pertama kalinya, ia dapat menyebut nama PK dalam tiga tahun terakhir. Keputusan mengampuni PK membuat beban BL terlepas, katanya seperti bayi yang baru lahir saja. Namun dua bulan kemudian BL berubah, “Saya tidak akan mengampuni mama, ia [tidak mau sebut nama PK] dan pemerintah! Saya sudah putus hubungan dengan mereka semua!” Sebulan kemudian BL menunjukkan kepada saya setumpuk karya seni yang baru ia gambar tentang berbagai orang penting dalam hidupnya dan berkata, “Saya sudah mengampuni dan berbaik kembali dengan mama.” Beberapa minggu kemudian BL “berbicara” dengan PK melalui kursi kosong selama beberapa menit, secara simbolis “membakar” kepahitan batinnya di lilin yang saya bantu nyalakan (BL sulit mengkoordinasi jarinya, salah satu dampak dari kekerasan fisik yang diterimanya). Namun beberapa minggu kemudian, BL kembali sulit mengampuni lagi. Dalam proses lebih mengerti kesulitan untuk mengampuni ini membuat saya tertarik untuk menulis artikel ini. Saya membagi artikel ini menjadi lima bagian, yaitu definisi singkat pengampunan, mengurangi “perasaan tidak mengampuni,” manfaat pengampunan, kesulitan mengampuni, dan ringkasan

    Anak Korban Orang Tua Ambisius (Push Parenting) dan Konseling Terhadapnya

    Get PDF
    Manusia selalu berusaha mengikuti segala macam tren yang sedang berkembang di masyarakat sekitarnya. Mulai dari model potongan rambut sampai dengan warna lipstik. Mulai dari gaya arsitektur rumah sampai dengan jenis variasi asesoris handphone. Tidak ketinggalan model pengasuhan anak (parenting) juga mempunyai tren tersendiri. Menciptakan anak yang “sempurna” menjadi salah satu agenda terpenting kebanyakan orang tua zaman sekarang. Anak-anak mereka harus menjadi yang terbaik dan kalau memungkinkan dalam segala hal. Para orang tua berusaha ekstra keras agar anak-anak mereka dapat dikategorikan sebagai anak-anak “kelas atas,” bukan anak-anak “kelas menengah” apalagi “kelas bawah.” Itulah ambisi kebanyakan orang tua zaman sekarang. Dalam upaya membentuk anak seperti itu, mau tidak mau model pengasuhan yang diberlakukan juga harus khusus. Bukan masanya lagi, menurut kebanyakan orang tua, anak-anak dibiarkan untuk terlalu banyak bermain dan menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Kalau anak-anak sekarang diizinkan untuk terlalu santai maka mereka akan ketinggalan jauh di belakang dan masa depan mereka akan suram. ... Dalam artikel ini akan dibahas tentang seluk-beluk push parenting yang sekarang ini sedang menjadi tren. Mengapa banyak orang tua yang menerapkan gaya pengasuhan seperti ini terhadap anak-anak mereka? Apa dampak-dampak pola pengasuhan ini bagi perkembangan anak dalam multi dimensional, dan bagaimana menolong anak-anak yang sedang mengalami kondisi tertekan seperti itu dalam konteks konseling? Diharapkan artikel ini bukan hanya dapat menjadi masukan bagi para konselor anak, tetapi juga dapat menggugah hati para orang tua yang sungguh-sungguh mengasihi anak-anak mereka

    Konsep "Dalam Kristus" Menurut Paulus dan Implikasinya Bagi Spiritualitas Kristen

    No full text

    Mempertanyakan Pertanyaan : Mendalami Makna Pertanyaan dalam Bahasa Yunani Koine

    Get PDF
    Dalam kelas bahasa Yunani yang saya bimbing terjadi diskusi hangat mengenai bagaimana menerjemahkan kalimat “Are we able to do it? ” (Sanggupkah kita untuk melakukan hal ini?). Seorang mahasiswa menerjemahkannya dengan dunametha poiein touto lalu saya mengusulkan untuk menambahkan partikel un atau unti di depan kalimat pertanyaan itu. Hasilnya, kalimat itu akan menjadi un (unti) dunametha poiein touto. Namun, sang mahasiswa tetap pada pendiriannya dengan alasan kalau partikel un atau unti mau ditambahkan maka perlu diubah pertanyaannya menjadi “Are we possible to do it? ” atau “Apakah mungkin kita melakukan hal ini.” Rupanya, dia tidak menyadari bahwa kalimat “Are we able to do it? ” selaras dengan “Are we possible to do it? ” Kita akan kembali ke pokok ini nanti. Jadi, sang mahasiswa mengerti pertanyaan “Are we able to do it? ” sebagai pertanyaan biasa, kalau ditempatkan dalam kategori jenis pertanyaan menurut tata bahasa Yunani. Apa artinya pertanyaan biasa dalam tata bahasa Yunani

    Nafsu Membutakan, Rasa Cukup Mencelikkan (Bil. 11:4-23, 31-35; Flp. 4:12-13)

    Get PDF
    Naskah khotba

    Tinjauan Alkitab Terhadap Etika Global Hans Kung Menurut Roma 1:18-32 dan Kisah Para Rasul 17:22-31

    No full text
    Konflik yang paling tragis dan menyedihkan dalam dunia ini adalah konflik atas nama agama. Agama yang seharusnya menjadi rumah rohani malah berubah menjadi sumber malapetaka bagi manusia. Di Indonesia sendiri akhir-akhir ini telah terjadi begitu banyak konflik dan kekerasan di dalam masyarakat yang sebenarnya bersumber dari masalah ketidakadilan sosial, budaya dan politik. Namun pada akhirnya konflik sosial itu berubah menjadi konflik agama. Persoalan tentang agama itu bukan sekadar memberitakan kebenaran agama yang kita beritakan saja namun juga seharusnya berdampak bagi kehidupan manusia. Jika di dalam dunia ini masing-masing agama itu terus-menerus berkelahi maka makna dan arti agama bagi manusia sebagai rumah rohani menjadi tidak berarti sama sekali bagi manusia. Di tengah-tengah krisis nilai agama bagi kehidupan manusia inilah Kung mengajak semua agama untuk mau duduk bersama memikirkan dan saling bekerja sama mewujudkan perdamaian dunia dan menaikkan taraf hidup manusia. Ajakan ini lebih dikenal dengan teori etika global. Masing-masing agama dihimbau untuk tidak hanya terus mempertahankan eksklusifitas doktrinnya tetapi yang terpenting adalah penerapan ajaran agama bagi perdamaian dunia. Inilah yang diinginkan Kung dari setiap agama. Perubahan dunia ini akan bisa dilakukan bila setiap manusia diajak untuk bersama-sama bekerja: tanpa memandang perbedaan agama, bahkan para ateis pun diminta kerjasama untuk mewujudkan tatanan dunia baru yang lebih baik. Namun, kejelasan teori etika global perlu diuji lebih lanjut oleh Alkitab. Alkitab sebagai ukuran yang tertinggi memiliki otoritas untuk mengatur apa yang ingin dilakukan dan dikerjakan bagi semua orang Kristen. Ada dua bagian Alkitab yang akan meninjau teori etika global Kung ini yaitu Roma 1:18-32 dan KPR. 17:22-31. Ada dua persoalan serius yang ada dalam etika global Hans Kung ini yang perlu dicermati yaitu persoalan penyataan Allah di dalam semua agama dan keinginan Kung untuk kehidupan manusia yang lebih baik. Kung sangat menekankan semua agama benar dengan melihat gejala-gejala yang sama tanpa melihat noumena dari masing-masing agama. Akibatnya kesimpulan Kung itu menyimpang dari apa yang sebenarnya diinginkan Alkitab sendiri. Keinginan untuk mencari kebenaran ajaran itu adalah sesuatu yang sangat penting bagi orang percaya karena kita yakin Allah kita adalah Esa. Jika hanya Allah kita adalah Esa maka di antara yang mengaku agamanya benar itu pasti ada agama yang salah. Selain itu pandangan Kung yang optimis bahwa dunia ini akan semakin baik dengan mengandalkan manusia tanpa menyadari dampak dosa dalam hidup manusia, ini juga perlu dicermati. Manusia itu tidak memiliki dosa asal. Dosa asal itu ada karena teori Agustinus yang bermasalah dengan seks, namun sebenarnya dosa asal itu tidak ada. Konsep dosa asal bukan dicetuskan oleh Agustinus tetapi berasal dari Alkitab. Sejak manusia memberontak dan melawan Allah di taman Eden, maka dosa sudah menjalar kepada semua manusia (Rm. 3:23). Oleh karena itu kita harus kembali kepada Alkitab sebagai sumber otoritas tertinggi dalam mengatur hidup orang Kristen. Jangan karena hanya ingin diterima oleh agama lain maka kita pada akhirnya mengabaikan kebenaran Alkitab yang menjadi sumber kebenaran

    Perspektif Alkitabiah Tentang Kosmos dan Implikasinya Bagi Misi Kristen : Mandat Budaya dan Amanat Agung

    No full text

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇