STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Analisis Pola Hermeneutik Jusuf B. S., H. L. Senduk dan Herlianto tentang Pandangan Alkitab terhadap Kremasi
Webster’s Unabridged Dictionary menyebutkan bahwa kata “kremasi” berasal dari bahasa Latin crematio. Kata tersebut berasal dari cremo yang mempunyai arti membakar, secara khusus pembakaran orang mati menurut adat istiadat bangsa-bangsa kuno. Pada masa kini, kremasi tampaknya menjadi salah satu alternatif yang mulai dipertimbangkan, termasuk oleh orang-orang Kristen. Menariknya, tidak semua denominasi dalam kekristenan menyetujui praktik kremasi. Lebih lagi, sepertinya jauh lebih banyak denominasi yang menolak praktik kremasi daripada menerimanya. Beberapa tokoh di dalam denominasi tertentu atau interdenominasi yang menyatakan penolakannya terhadap kremasi atas orang Kristen adalah: Jusuf B. S., H. L. Senduk, dan Herlianto. Tulisan ini akan memaparkan pandangan Jusuf, Senduk, dan Herlianto tentang kremasi. Lebih dari sekadar pemaparan pandangan mereka, penulis juga akan mencoba menggali lebih dalam bagaimana mereka menghasilkan pandangan tersebut dari teks-teks Alkitab. Analisis akan difokuskan pada proses hermeneutik yang ditempuh ketiga tokoh tersebut. Perlu ditambahkan bahwa tulisan ini adalah kajian akademis yang dilakukan tanpa mengurangi rasa hormat penulis terhadap dedikasi pelayanan yang telah ditunjukkan tokoh-tokoh tersebut
Introduksi pada Iman Reformed
Tulisan ini hanyalah suatu “introduksi” kepada iman reformed, jadi bukan merupakan suatu analisis yang mendalam. Namun jelas tetap bermanfaat untuk mengetahui gambaran sekilas di saat awal studi saudara. Bersama-sama dengan tulisan ini, saya mengharapkan saudara membaca Pengakuan Iman Westminster, Larger dan Shorter Catechism, serta “tiga bentuk kesatuan” dari gereja-gereja reformed di benua Eropa: Pengakuan Iman Belgia, Katekismus Heidelberg, serta Kanon-kanon Dordt. Semua itu merupakan ringkasan yang indah dari posisi doktrin reformed, yang disajikan secara utuh, ringkas, dan tepat. Heidelberg adalah salah satu karya devosional yang agung di sepanjang masa. Saya juga percaya ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari pembukaan ringkasan teologi reformed karya Cornelius Van Til, The Defense of the Faith
Studi Tentang Misi Yesus Terhadap Orang-Orang Miskin Dalam Injil Lukas Serta Implikasinya Bagi Pelayanan Misi Gereja Terhadap Orang-Orang Miskin di Indonesia
Yesus Sebagai Guru : Studi Injil Yohanes
Banyak buku atau artikel telah diterbitkan berbicara tentang siapakah Yesus dan karya-Nya. Namun sayang, kebanyakan sarjana kurang memperhatikan atau telah mengabaikan potret Yesus sebagai guru dalam Injil Yohanes. Padahal, dalam Injil Yohanes rasul Yohanes secara eksplisit menunjukkan Yesus sebagai guru. William Barclay menulis sebuah buku berisi empat puluh dua bab; masing-masing mengenai gelar Yesus dalam Perjanjian Baru. Namun tidak satu bab pun membahas Yesus sebagai guru (rabi). Demikian juga halnya Frank J. Matera ketika membahas kristologi Injil Yohanes dalam bukunya New Testament Christology, telah mendaftarkan sejumlah identitas dan gelar Yesus, tetapi tidak memasukkan Yesus sebagai guru, apalagi membahasnya. Pengecualian mungkin R. H. Fuller dalam bukunya The Foundations of New Testament Christology, telah memasukkan Yesus adalah rabi dalam pembahasannya. Namun, pembahasannya tentang Yesus sebagai rabi juga terlalu singkat hanya sekitar dua halaman penuh. Bahkan M. Hengel mengatakan bahwa sebutan rabi bagi Yesus tidak seharusnya membawa konotasi guru, tetapi mungkin hanya mempunyai fungsi sebagai satu istilah penghormatan saja. Karena itu, ia mengatakan bahwa kita harus berhenti secara bersama-sama melukiskan Yesus sebagai seorang rabi.
Kurangnya sarjana-sarjana dalam melihat Yesus sebagai guru, khususnya dalam Injil Yohanes tentu sangat disayangkan. Semua kenyataan ini mendorong penulis untuk menunjukkan bahwa Yesus sebagai guru harus diperhatikan dan dibahas oleh para sarjana dalam pemberitaan, pengajaran, maupun dalam buku-buku teologi. Di samping itu, gambaran Yesus sebagai guru, selain sebagai Tuhan dan Juruselamat, harus diteladani oleh para hamba Tuhan, para penatua, para diaken atau majelis gereja, guru-guru sekolah minggu, orang-orang Kristen secara umum, bahkan para dosen, guru agama Kristen, dan guru Kristen.
Dalam artikel ini, penulis akan menunjukkan Yesus sebagai Guru, persamaan dan perbedaan Yesus dengan para rabi Yahudi, profil Yesus sebagai guru, dan metode-metode pengajaran Yesus. Setelah itu, penulis akan menghubungkan Yesus sebagai guru dalam konteks pembaca pertama (suatu rekonstruksi) dan para guru masa kini
Penderitaan dan Penebusan Orang Percaya : Suatu Tinjauan Teologis dan Implikasinya Bagi Pelayanan Pastoral
Ruwatan dan Pandangan Dunia yang Melatarbelakanginya
Berbagai krisis dan bencana yang silih berganti melanda negeri Indonesia direspons dengan beragam cara; salah satunya yang dilakukan oleh seorang astrolog Jawa yang bernama K. R. H. Darmodipuro. Pada tanggal 16 Juni 2005, Darmodipuro menggelar upacara ruwatan untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Museum Radyapustaka, Solo. Ruwatan, merupakan tradisi yang telah berkembang di dalam masyarakat Jawa selama berabad-abad. Ruwatan dipraktikkan oleh berbagai lapisan masyarakat: baik orang kaya maupun miskin, kalangan kurang terpelajar atau terpelajar. Pada awalnya ruwatan, menurut tradisi Hindu, dikaitkan dengan penyucian atau pembebasan para dewa yang terkutuk karena mereka melakukan kesalahan. Mereka dikutuk menjadi makhluk lain (manusia atau binatang). Agar kembali menjadi dewa mereka harus diruwat. Namun, dalam perkembangannya ruwatan menjadi “sebuah upacara untuk membebaskan orang dari nasib buruk yang akan menimpa.” Orang-orang ini dianggap perlu dibebaskan dari terkaman Batara Kala karena mereka “ternoda.” Mengingat mengakarnya tradisi ruwatan di dalam masyarakat Jawa dan pengaruhnya yang luas, artikel ini bermaksud membahasnya secara khusus. Pembahasan mengenai tradisi ruwatan dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama berisi penjelasan khusus mengenai hal ikhwal ritual ruwatan antara lain: mitos Batara Kala, orang-orang yang harus diruwat, dan tata cara ruwatan. Kedua, akan dieksplorasi pandangan dunia seperti apa yang melatarbelakangi ritual ruwatan. Ketiga, penulis akan menanggapi tradisi ruwatan, tentunya dari terang firman Tuhan
Konsep Pemuridan yang Berdimensi Kerajaan Allah Berdasarkan Injil Matius dan Signifikansinya Bagi Pemuridan Masa Kini
Aquinas, Konsili Trent, dan Luther Tentang Pembenaran oleh Iman : Sebuah Isu tentang Kontinuitas dan Diskontinuitas
Dialog akhir-akhir ini yang terus-menerus digalakkan di antara kalangan Protestan dan Katolik mengenai doktrin pembenaran telah menghasilkan pemulihan-pemulihan teologis yang tidak kecil antara kedua kelompok tersebut. Salah satu kesinambungan yang menjanjikan yang muncul dari doktrin pembenaran dan perlu digarisbawahi adalah relasi antara Luther dan teologi pembenaran Konsili Trent melalui ajaran Thomas Aquinas tentang doktrin yang sama. Sebagaimana pernah dikatakan oleh Otto H. Pesch, jika kita membaca kanon-kanon Konsili Trent dari perspektif teologi Thomistik, sebuah persetujuan dengan teologi Luther akan nampak. Pendapat ini dan studi-studi historis lain menyingkapkan fakta bahwa meski Luther mengeritik dengan tajam Thomas Aquinas sebagai “sumber dan akar semua ajaran sesat dan pemalsuan berita Injil (sebagaimana yang ditunjukkan oleh tulisan-tulisannya),” ia sesungguhnya tidak banyak menyediakan waktu untuk membaca secara langsung karya-karya tulis Aquinas. Dengan kata lain, Luther menolak ajaran Aquinas tentang doktrin pembenaran bukan karena ia menolak pandangan Aquinas tetapi karena ia salah memahami ajaran Aquinas. Atau, sikap Luther terhadap pandangan pembenaran Aquinas lebih mencerminkan kesalahpahaman terhadap Aquinas oleh pendahulu-pendahulu Luther, yang mana melalui mereka ia mengenal Aquinas. Berangkat dari penemuan-penemuan baru dalam studi sejarah Reformasi belakangan ini, topik tentang kesinambungan antara Thomas Aquinas, Konsili Trent, dan Luther tentang doktrin pembenaran adalah sesuatu yang patut untuk dipelajari. Menurut saya upaya semacam ini bukan semata-mata cerminan keinginan ekumenis akan kesatuan yang cenderung mengabaikan dan mengurangi perbedaan-perbedaan substansial ke dalam perbedaan-perbedaan minor saja. Sebaliknya, pembacaan yang cermat terhadap konteks historis Konsili Trent dan Luther akan menghasilkan suatu pemahaman bahwa, meski fakta pertentangan tidak dapat disingkirkan, ada suatu kontinuitas yang jelas antara teologi Trent dan Luther tentang pembenaran khususnya jika kita membaca perbedaan di antara keduanya dari perspektif teologi Thomas Aquinas. Sebab itu, dari perspektif sejarah, karya kontemporer seperti “The Lutheran-Roman Catholic Joint Decalaration on the Doctrine of Justification,” jauh dari mewakili harmonisasi yang palsu, telah menjanjikan harmonisasi yang sejati.
Dengan demikian, artikel ini merupakan suatu upaya untuk menyingkapkan arah Thomistik di dalam pemikiran teologis imam-imam dari Konsili Trent dan beberapa kontinuitas serta diskontinuitas antara Luther dan Aquinas. Saya akan mulai dengan meluruskan relasi Luther-Aquinas berdasarkan studi-studi historis belakangan ini. Setelah itu, saya akan mengkaji teologi Thomistik di dalam Konsili Trent. Bagian terakhir merupakan penjelasan tentang hakikat kesinambungan antara Luther dan teologi Trent tentang pembenaran dengan mengamati beberapa kanon yang diputuskan dalam Konsili Trent, di mana teologi Luther dilibatkan