STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Tinjauan Konsep Kutuk Keturunan : Suatu Analisa Kritis Terhadap Pandangan Karismatik Ditinjau Dari Doktrin Dosa dan Pembenaran
Refleksi Teologis tentang Rekonsiliasi sebagai Tujuan Resolusi Konflik
Ketika saya masih anak-anak, saya selalu diajar untuk berekonsiliasi dengan siapapun saya berkonflik, entah dengan saudara, saudara sepupu, ataupun dengan teman. Orang tua saya, orang-orang yang dituakan, guru-guru, semua mengajarkan untuk berjabat tangan dengan siapapun saya berseteru, sebagai simbol rekonsiliasi, tanpa upaya mengejar kebenaran. Tujuan utamanya adalah untuk menghindari kerusakan yang lebih jauh dan untuk memelihara kedamaian. Di sisi lain, kebenaran hanya dikejar dengan tujuan keadilan, yang berarti yang bersalah dihukum. Akhirnya, saya bertumbuh dengan pengertian bahwa ada dua kemungkinan resolusi konflik: rekonsiliasi atau keadilan. Warisan budaya saya lebih mengetengahkan rekonsiliasi dibanding keadilan. Sebab di dalam rekonsiliasi hubungan dipelihara dan kita menghargai relasi lebih daripada kebenaran. Dalam hal ini, rekonsiliasi dipandang berada di luar keadilan
Blended Worship : Sebuah Alternatif Model Ibadah Kekinian
Belakangan ini, blended worship (BW) mulai digandrungi oleh gereja-gereja injili. Salah satu alasan umum adalah karena BW dapat merangkul ibadah tradisional dan kontemporer sehingga ibadah dapat menjadi lebih inklusif. Artinya, jemaat yang lebih menyukai ibadah tradisional dan jemaat yang lebih menyukai ibadah kontemporer akan dapat bersatu dalam satu atap gereja. Tapi pertanyaannya, aspek apakah yang dirangkul oleh BW? Umumnya, orang akan menjawab bahwa BW adalah ibadah yang mengombinasikan antara musik tradisional dan musik kontemporer. Contohnya, lagu himne yang biasanya diiringi dengan piano atau organ, maka dalam BW lagu tersebut bisa diiringi dengan alat-alat musik modern, seperti drum, gitar elektrik, dan sebagainya. Dari pandangan umum yang demikian, kita melihat bahwa acap kali orang Kristen memahami BW pada gaya (style) musiknya. Pertanyaannya, apakah benar BW memiliki titik berat utama pada sebuah gaya musik? Artikel kali ini akan menjawab pertanyaan tersebut dengan memaparkan informasi-informasi yang memadai seputar BW sehingga kita dapat memahami apa yang menjadi tekanan utama model ibadah tersebut
Konsep "Tunduklah Kepada Suamimu" Dalam 1 Petrus 3:1-7 dan Implikasinya Pada Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Mengenal Nyanyian Gereja dan Tempatnya dalam Liturgi
Konteks bergereja dewasa ini adalah “perang gaya baru,” yaitu perang ibadah. Gereja-gereja kontemporer tampil dengan wajah segar dalam berbagai bidang pelayanan yang market sensitive—peka pasar, peka dengan keinginan orang-orang di zaman ini—termasuk ibadah yang ditata untuk menarik pengunjung gereja. Dampak yang diakibatkan tak dapat dibilang kecil. Kian meruncing tensi antara gereja-gereja kontemporer dengan gereja-gereja tradisional yang formal-liturgical ataupun hymn-based. Tetapi dari sekian area yang menjadi “Padang Kurusetra” perang ibadah itu, musik dan nyanyian gereja merupakan area yang penuh ranjau! ... Makalah ini berusaha menolong jemaat untuk mengambil sikap yang bertanggung jawab dalam memilih nyanyian gereja. Jangkauan tulisan ini yaitu pada teologi nyanyian jemaat, tempat nyanyian jemaat dalam liturgi gereja serta kandungan teologis sebuah himne. Terhadap “perang ibadah” dan khususnya “perang musik,” keputusan kita sering dikendalikan oleh dua hal: (1) menurut selera kita; atau (2) menurut kebiasaan yang selama ini berlaku. Cara pertimbangan seperti ini tentu tidak tepat. Sebagai gereja Kristen, kita seharusnya mempertimbangkan tiga hal untuk bersikap: (1) selaras dengan Kitab Suci, (2) dengan mempertimbangkan tradisi gereja, serta (3) konteks budaya di mana gereja berada