STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Konsep Paulus Tentang Jabatan dan Peran Penatua Dalam Surat-Surat Pastoral dan Relevansinya Bagi Pemberdayaan Kepemimpinan Kaum Awam di Dalam Gereja Lokal
Khotbah Situasional : Mengenal Metode Khotbah Harry Emerson Fosdick
Harry Emerson Fosdick (1878-1969) diakui oleh banyak orang sebagai satu dari pengkhotbah Amerika yang paling berpengaruh pada paruh pertama abad kedua puluh. Ia dilahirkan di Buffalo, New York, anak dan cucu dari seorang guru sekolah Baptis. Pada masa kuliah di Colgate University ia sudah menggumulkan hubungan antara iman Kristen dan kebenaran sains modern. Akhirnya, pada tahun 1896 ia meninggalkan iman injili masa kecilnya dan mengadaptasi teologi liberal setelah membaca buku A History of the Warfare of Science with Theology in Christendom karya Andrew Dickson White. Para profesor pengajar di Colgate University dan Union Theological Seminary (New York), tempat ia meraih gelar B. A. (1900) dan B. D. (1904), meyakinkannya bahwa ia tetap dapat melayani Tuhan tanpa harus memegang teologi injilinya. Hasilnya, Fosdick belajar teologi di bawah William Newton Clarke yang membawanya kepada Neo-liberalisme dengan penekanannya pada evolusi wahyu ilahi dan kebaikan manusia
Peran Roh Kudus Menurut Pengajaran Yesus Dalam Injil dan Implikasinya Bagi Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Kristen di Gereja
Tinjauan Kritis Terhadap Konsep Peperangan Rohani Tingkat Strategis Charles Peter Wagner
Tinjauan Terhadap Kontradiksi Antara Iman dan Perbuatan Menurut Pandangan Martin Luther dan Yakobus (Berdasarkan Eksposisi Surat Yakobus 2:14-26)
Menolong Praremaja Kristen Bersikap Benar Ketika Menghadapi Nabi dan Ajaran Palsu
Alkitab dengan jelas dan tegas mengingatkan adanya dan betapa berbahayanya nabi palsu. Ironisnya, tema tentang nabi palsu ini jarang dikotbahkan atau diajarkan pada jemaat. Sejujurnya, saya tersentak ketika mengikuti mata kuliah “Demonologi” di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), yang mengarahkan kepada fakta bahwa semakin maraknya nabi-nabi palsu pada zaman akhir ini. Ada satu pertanyaan serius bagi saya sebagai pelayan Tuhan di Seminari Anak Pelangi Kristus, “Apa yang sudah kamu lakukan untuk membentengi anak-anakmu dari bahaya dan ancaman nabi palsu?” Jika saya sungguh memercayai peringatan Alkitab tentang nabi palsu, mengapa tidak memasukkan isu ini sebagai materi yang sangat penting untuk diajarkan kepada murid-murid saya? Saya bersyukur kepada Tuhan karena Ia mengingatkan bahwa, dalam mengupayakan hal ini, tidak ada kata “terlambat.” Sementara domba-domba yang Tuhan percayakan kepada saya sedang diintai oleh serigala yang siap menerkam mereka, maka memikirkan program khusus bagi mereka yang ada pada tahap usia praremaja tidak boleh ditunda, agar mereka sudah mempunyai pengertian, kepekaan dan kewaspadaan terhadap bahaya nabi palsu dan ajaran palsu sejak di usia dini. Mereka perlu dilatih agar memiliki ketrampilan untuk dapat mendeteksi nabi palsu dan kemampuan untuk membedakan antara ajaran palsu dan ajaran yang benar menurut Alkitab. Alasan utama mengusahakan hal ini adalah bahwa para praremaja sedang memasuki keadaan yang sensitif. Mereka sedang memasuki fase di mana terjadi perkembangan iman, kebutuhan menjalin persahabatan, dan menghadapi lingkungan pergaulan dengan nilai yang berbeda. Karena itu, betapa penting membekali anak-anak di usia ini dengan ketrampilan rohani untuk dapat membedakan mana ajaran yang benar dan mana yang palsu.
Bila hal ini dilakukan dengan bijaksana, diharapkan, ketika beranjak remaja, mereka sudah mantap dalam mengambil keputusan berkaitan dengan iman Kristen; mereka dapat bersikap tegas dan berani menolak yang salah serta setia melakukan yang benar sesuai ajaran Alkitab. Menurut saya, gereja dipanggil untuk menjawab tantangan zaman ini, dengan cara membekali praremaja Kristen agar dapat bertumbuh menjadi orang Kristen yang kuat dalam ajaran Alkitab dan pemahaman iman Kristen yang benar, dan, pada akhirnya, siap melayani generasinya dalam kekudusan hidup bagi kemuliaan Tuhan Yesus Kristus
Kuasa Setan di Balik Kesembuhan Ilahi? : Suatu Telaah terhadap Mukjizat Kesembuhan Ilahi yang Kontroversial
Lagu “Mukjizat Itu Nyata” karangan Jonathan Prawira banyak digandrungi oleh orang Kristen dari berbagai denominasi. Sepertinya, penulis lagu tersebut ingin “mengklaim” bahwa mukjizat harus terjadi setiap hari. Klaim semacam ini didukung juga oleh maraknya Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang disertai kesembuhan ilahi, misalnya yang dipimpin oleh T. B. Joshua, yang diselenggarakan di Graha Bethany dengan memakai tema “Kuasa Tuhan: Datang dan Alami Kesembuhan Ilahi!” Atau, acara serupa yang digelar oleh GBI Tiberias Surabaya yang dipimpin oleh Yesaya Pariadji. Meskipun secara umum kalangan Protestan injili percaya adanya mukjizat, namun realitas ini harus diterima secara lebih kritis dengan menanyakan apakah mukjizat tersebut benar-benar bersifat aktif dan permanen. Walau demikian, di kalangan ini, masih ada anggota jemaat yang sakit yang tetap berharap ingin mengalami mukjizat kesembuhan dalam acara serupa. Beberapa dari mereka bertanya, “Pak apakah kami boleh menghadiri KKR yang disertai kesembuhan ilahi?” Sebab, “Bukankah mukjizat kesembuhan itu berasal dari Tuhan?” Jika tidak boleh, “Mengapa tidak boleh? Di mana salahnya?”
Sebelum menanggapi pertanyaan-pertanyaan semacam ini, menurut hemat penulis, perlu adanya verifikasi teologis yang jelas dan objektif berkenaan dengan praktik-praktik kesembuhan ilahi. Apakah semua praktik tersebut alkitabiah? Bila tidak, mana yang alkitabiah, dan mana yang tidak? Tulisan ini akan mengangkat isu-isu kesembuhan ilahi dan permasalahan teologisnya, seperti: Apakah kuasa Setan bisa bekerja di balik macam-macam praktik mukjizat kesembuhan ilahi? Apakah agama-agama lain juga mempraktikkan kesembuhan ilahi? Apakah kesembuhan ilahi disebabkan gejala psikologis belaka? Jika pada masa kini Tuhan masih melakukan mukjizat kesembuhan, bagaimanakah mukjizat yang alkitabiah