STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Pro dan Kontra mengenai Roh Samuel dalam 1 Samuel 28:1-25

    Get PDF
    Belakangan ini, banyak ajaran sesat atau bidat yang mengatasnamakan ajaran Kristen, namun pada hakikatnya ajaran-ajaran tersebut tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Salah satu contohnya, sebut saja ajaran pemanggilan arwah orang mati dengan tujuan untuk menginjil seperti cerita di atas. Gerakan pemanggilan dan penginjilan arwah orang mati di Indonesia dipopulerkan oleh Andereas Samudera di Bandung sekitar tahun 1996 dan sudah berhasil menarik banyak pengikut. Dengan demikian, banyak jiwa sedang disesatkan dari kebenaran dan berpaling kepada penyembahan kepada Iblis. Itu sebabnya ajaran ini perlu direspons dengan segera melalui pengajaran yang alkitabiah kepada jemaat, agar mereka dapat membedakan mana ajaran yang benar dan yang salah, sehingga mereka tidak disesatkan lagi oleh para guru palsu yang mengaku “diutus” oleh Allah padahal tidak demikian. Ajaran dan praktik pemanggilan roh orang mati berawal dari pemahaman bahwa antara orang hidup dan roh-roh orang mati masih dapat saling berkomunikasi sehingga roh-roh orang mati yang belum percaya Yesus layak untuk diinjili demi keadilan Allah karena mereka belum sempat mendengarkan berita injil. Teks Alkitab yang dijadikan acuan dalam mengembangkan ajaran di atas adalah 1 Samuel 28:1-25 dan 1 Petrus 3:19-20. Pertanyaannya adalah: apakah bagian Alkitab yang dijadikan acuan bagi pengajaran tersebut memang benar mengajarkan dan membenarkan praktik pemanggilan dan penginjilan arwah orang mati? Untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu diadakan penelitian secara mendalam terhadap bagian Alkitab yang menjadi kontroversial tersebut. Berdasarkan penguraian di atas, maka penulis hendak memahami kasus pemanggilan roh Samuel dalam 1 Samuel 28:1-25 secara lebih mendalam. Tujuan penulis dalam studi ini adalah selain untuk menemukan esensi kebenaran dari teks tersebut dan untuk meluruskan ajaran yang salah tentang pemanggilan dan penginjilan roh-roh orang mati, tetapi juga untuk mengungkap strategi pekerjaan Setan dalam menyesatkan umat percaya melalui “para hamba Tuhan” pada akhir zaman ini. Untuk mencapai tujuan yang dimaksud, maka pertama-tama penulis akan memaparkan secara singkat terminologi kata tentang pemanggilan roh orang mati; selanjutnya penulis akan mengeksegesis 1 Samuel 28:1-25 yang diklaim sebagai dasar dari ajaran tentang pemanggilan roh orang mati. Pada bagian terakhir, penulis akan memberikan kesimpulan dan implikasi bagi kehidupan orang-orang Kristen zaman sekarang. Dalam makalah ini, penulis tidak membahas sejarah pemanggilan arwah secara detail, dan juga tidak memahami 1 Petrus 3:19-20 secara mendalam

    Kerajaan Imam : Teologi Kerajaan Allah dan Implikasinya bagi Pemuridan Kristen Masa Kini

    Get PDF
    Tidak dapat disangkal lagi, kerajaan Allah merupakan salah satu topik terpenting dalam kitab-kitab injil dan Perjanjian Baru dan pada umumnya para sarjana dari berbagai aliran teologi yang berbeda setuju bahwa berita utama yang disampaikan Yesus adalah tentang kerajaan Allah. Sayangnya, kesepakatan tersebut tidak diiringi dengan kesepakatan yang sama terhadap definisi dan intensi kerajaan Allah yang disampaikan Yesus. Pemahaman yang berbeda tentang makna kerajaan Allah menurut Yesus tampaknya didasari oleh adanya motif tertentu untuk mendukung suatu sistem teologi yang dipegang atau diyakini agar tampak konsisten dan koheren. Akibatnya, terjadi pengabaian pada penelusuran makna kerajaan Allah secara historis-biblikal dari Kitab Suci. ... Meskipun, pada dasarnya, para teolog setuju bahwa konsep kerajaan Allah harus kembali dilihat dari perspektif Yudaisme, tampaknya terlalu banyak godaan untuk mengusung motif teologi (atau agenda) tertentu, yang hasilnya justru sering menjerumuskan dan bukan memperjelas makna kerajaan Allah. N. T. Wright, seorang teolog PB injili yang sangat terkenal saat ini, mengeritik kecenderungan ini dengan menyatakan, “Again, attempts have often been made to align kingdom-language with church-language, as though ‘the church’ is the real meaning of the kingdom.

    Penderitaan Dipandang dari Kitab Ayub dan Implikasinya Bagi Pengenalan Orang Kristen Akan Allah Dalam Pergumulan Hidup

    No full text
    Tidak dapat disangkal bahwa penderitaan memang ada yang disebabkan oleh karena dosa atau kesalahan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Namun ini tidak berarti bahwa semua penderitaan pasti akibat dari dosa. Belajar dari penderitaan yang dialami oleh Ayub, salah seorang tokoh saleh dalam Alkitab, juga lebih jelas lagi menyatakan hal ini. Penderitaannya tidak disebabkan oleh karena dosa tetapi karena makhluk jahat yaitu si Iblis. Selain karena si Iblis, penderitaan itu juga terjadi atas seizin Allah sendiri. Atau dengan kata lain penderitaan sebetulnya berasal dari kedua sumber tersebut yaitu Iblis dan Allah. Namun hal ini tidak berarti bahwa Allah juga turut merancangkan hal-hal yang jahat kepada umat manusia. Dalam kitab Ayub jelas dinyatakan bahwa sebetulnya ide dan pikiran untuk memberikan penderitaan itu berasal dari si Iblis, bukan Allah. Hanya sebatas Allah berkenan dan seizin-Nya saja, maka penderitaan itu dapat terjadi. Karena itu, penderitaan manusia tetap ada di bawah kontrol atau kendali Allah. Pertanyaannya, mengapa Allah mau mengizinkan penderitaan itu? Jawabannya tetap adalah sebuah misted. Dalam kitab Ayub, Allah juga sama sekali tidak memberikan alasan atas penderitaan itu. Satu-satunya hal yang diketahui adalah Allah memiliki hikmat atas izin penderitaan tersebut. Dengan hikmat-Nya itulah, maka manusia tidak akan mampu menyelami rancangan pikiran-Nya yang sungguh sempurna di balik penderitaan itu. Namun jika dilihat dari hasil akhir yang diperoleh Ayub dalam penderitaannya, maka penderitaan itu memiliki tujuan yang sangat bemilai karena memberikan hasil yang sempurna sesuai dengan hikmat Allah sendiri. Ayub semakin mengenal lebih dalam siapa sesungguhnya Allah yang dipercayainya selama ini justru melalui penderitaannya. Jadi dengan demikian, sama dengan Ayub, penderitaan orang- orang percaya juga sudah tentu memiliki tujuan dan rancangan dari hikmat Allah sendiri yaitu supaya umat-Nya dapat semakin lebih dalam mengenal-Nya secara pribadi. Dengan mengetahui bahwa berdasarkan hikmat dan tujuan Allah yang ada di dalam penderitaan Ayub, maka penderitaan orang-orang percaya juga bukan dirancangkan atau diizinkan Allah untuk sesuatu yang buruk, melainkan untuk mendatangkan suatu maksud yang sempurna dari Allah itu sendiri. Karena itu, meskipun pada awalnya penderitaan dirancangkan Iblis untuk menghancurkan kehidupan orang- orang percaya, namun karena Allah yang mengontrol batas kekuasaan Iblis, maka rancangan Iblis tersebut diubah Allah untuk mendatangkan kebaikan bagi kehidupan anak-anak-Nya. Jadi dalam menghadapi pergumulan atau penderitaan hidupnya, orang Kristen sudah seharusnya memiliki sikap yang benar sehingga segala rancangan Allah yang sempurna dapat terjadi dalam kehidupan anak-anak-Nya

    Dikubur atau Dikremasi? : Tanggapan Atas Artikel "Analisis Pola Hermeneutik Jusuf B. S., H. L. Senduk dan Herlianto Tentang Pandangan Alkitab Terhadap Kremasi"

    Get PDF
    Menarik membaca artikel berjudul “Analisis Pola Hermeneutik Jusuf B. S., H. L. Senduk dan Herlianto Tentang Pandangan Alkitab terhadap Kremasi” dalam Veritas 8/2 (Oktober 2007) halaman 231-241, yang ditulis oleh Wahyu Pramudya (yang dalam blognya menamakan dirinya Wepe). Menarik karena ini menunjukkan bahwa keluarga SAAT sudah menunjukkan keinginan untuk makin dewasa dalam berdiskusi dan lebih terbuka. Namun, di balik itu, ternyata artikel itu kelihatannya ditulis dengan kurang teliti dan didasarkan data yang kurang lengkap sehingga kurang memahami isi yang dikritiknya, dan menghasilkan kesimpulan yang tergesa-gesa yang menunjukkan lemahnya metodologi penulisan yang dikemukakan

    Konsep Kepemimpinan dalam 1 Petrus 5:1-4 dan Implikasinya bagi Kepemimpinan Gereja Masa Kini.

    No full text
    Latar belakang penulisan skripsi ini adalah pengamatan penulis terhadap krisis kepemimpinan yang sedang melanda gereja pada masa kini. Dari pengamatan tersebut setidaknya ada tiga masalah, yaitu masalah sikap, motivasi, dan cara. Menanggapi ketiga masalah di atas, penulis mencoba melakukan eksegesis terhadap surat 1 Petrus 5:1-4. Tindakan ini dilakukan guna memahami konsep kepemimpinan gereja yang benar. Hasil dari eksegesis tersebut penulis implikasikan dengan ketiga permasalahan yang sedang terjadi pada kepemimpinan gereja masa kini dengan konsep kepemimpinan gembala yang diajarkan oleh Petrus. Kepemimpinan gembala merupakan suatu konsep kepemimpinan yang telah diajarkan oleh Alkitab. Dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru konsep tentang kepemimpinan gembala merupakan konsep yang sering dipakai oleh Tuhan bagi setiap pemimpin pada waktu itu baik dalam kepemimpinan raja-raja bangsa Israel atau kepemimpinan gereja pada jemaat mula-mula. Dengan demikian dapat dikatakan konsep kepemimpinan gembala adalah konsep yang alkitabiah. Sebagai pemimpin gereja penggembalaan merupakan tugas utama yang harus dijalankan. Dalam menjalankannya ada tiga prinsip yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin gereja. Yaitu memimpin dengan sukarela yang digerakkan oleh kehendak Allah, memimpin dengan motivasi yang benar yaitu memimpin berdasarkan kesetiaan kepada Tuhan Yesus, dan memimpin dengan cara yang benar yaitu memimpin dengan prinsip seorang hamba

    Praktik Tumbang dalam Roh oleh Benny Hinn

    Get PDF
    Tidak dapat disangkal bahwa Benny Hinn adalah salah satu pengkhotbah yang paling fenomenal bagi dunia kekristenan dalam beberapa tahun ini, khususnya di kalangan gereja karismatik di Indonesia. Kehadirannya di Jakarta pada tanggal 24-26 Juni 2006 silam dilaporkan telah menyedot lebih dari satu setengah juta pengunjung. Panitia penyelenggara mengklaim pelayanannya di Jakarta menuai kesuksesan besar berdasarkan pengakuan bahwa selama tiga hari ia telah mengantar hampir semua pengunjung menerima Yesus Kristus dalam hati mereka dan menyembuhkan banyak orang sakit. Kesuksesan di atas telah menginspirasi panitia untuk menyelenggarakan “KKR Benny Hinn Jilid II” di Pantai Carnaval, Ancol, Jakarta pada tanggal 5-8 Juni 2008. Meskipun ada kemungkinan KKR tersebut batal diselenggarakan, kehadiran pengkhotbah tersohor ini memang telah menciptakan sebuah kontroversi di kalangan orang Kristen di Indonesia. Di satu pihak terdapat kelompok yang menyambutnya sebagai pahlawan iman yang memberkati Indonesia; di pihak yang berseberangan terdapat sekelompok orang Kristen yang dengan tegas menolak kehadirannya dengan alasan pengajaran dan praktik teologinya bertentangan dengan pengajaran Alkitab. Tampaknya perbedaan pendapat kedua kubu di atas sulit dijembatani. Akibatnya, orang Kristen menjadi bingung dalam meresponsnya, khususnya menyikapi rencana kehadirannya di Jakarta nanti. Untuk itu, makalah ini mencoba memberikan sebuah sumbangsih pemikiran atas kontroversi seputar pengajaran dan pelayanannya. Mengingat keterbatasan tempat, tulisan ini hanya memfokuskan penyelidikan atas salah satu praktik pelayanan yang menjadi ciri khasnya, yakni “slain in the Spirit” atau tumbang dalam Roh. Tulisan ini akan menyajikan dua materi utama, yakni sebuah deskripsi tentang fenomena tumbang dalam Roh yang dipraktikkannya dan sebuah evaluasi atas fenomena tersebut berdasarkan pandangan teologi injili yang sehat. Diharapkan, artikel ini dapat menjadi sebuah panduan bagi para pembaca untuk lebih mengenal sosok Hinn sehingga dapat memberikan respons yang wajar terhadapnya

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇