STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Integrasi Spiritualitas dan Kapabilitas Kepemimpian Kristen dan Relevansinya Bagi Gereja-Gereja Tionghoa di Surabaya
Citra kepemimpinan spiritual dalam gereja-gereja Tionghoa menghadapi krisis yang cukup memprihatinkan. Beberapa faktor yang menyebabkan hilangnya kepercayaan jemaat terhadap kepemimpinan gereja Tionghoa mencakup masalah spiritual, kapabilitas, integritas dan penyalahgunaan kuasa kepemimpinan itu sendiri. Masalah spiritual adalah kepemimpinan yang tidak memiliki korelasi dengan kehidupan spiritualitasnya, sehingga pemimpin kehilangan pengaruh spiritualitasnya. Gejala ini timbul karena terjadinya missing link antara aspek spiritual dan kepemimpinan. Dampaknya, para pemimpin mempraktikkan kepemimpinan yang tidak spiritual, yang tidak ada bedanya dengan kepemimpinan sekular. Kapabilitas pemimpin dalam gereja Tionghoa terlihat pada aspek kurang terampilnya seorang pemimpin, baik pada segi kemampuan memimpin maupun kemampuan berorganisasi. Ditemukan adanya pemimpin gereja Tionghoa yang kurang kapabilitasnya namun ditempatkan pada posisi penting dan strategis. Gereja dalam dilema, namun cenderung memilih yang ekonominya mapan daripada kapabilitasnya. Sedangkan masalah integritas kepemimpinan dinodai oleh kasus-kasus ketidakjujuran dalam keuangan, penyalahgunaan kekuasaan, penyimpangan seksual, dan penipuan. Masalah konsep kepemimpinan yang keliru menjurus pada kepemimpinan yang hanya mengejar kekuasaan dan prestise, sehingga melalaikan segi pelayanan. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan dan merugikan gereja Tionghoa.
Tujuan penelitian ini diharapkan dapat menciptakan kepemimpinan Kristen yang alkitabiah, yaitu kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan aspek spiritualitas dan kapabilitas berdasarkan firman Tuhan. Kepemimpinan yang menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan Kristen ini diyakini dapat menghasilkan kepemimpinan yang fungsional, profesional, dinamis, dan efektif.
Untuk mencapai tujuan ini, pertama-tama menggunakan penelitian kepustakaan dari berbagai sumber literatur yang bersifat teologis dan historis, kemudian menggunakan materi-materi pendukung lainnya baik dalam bentuk media cetak maupun elektronik. Melalui penelitian metode kualitatif dan kuantitatif, penulis akan menyajikan data yang seobjektif mungkin melalui observasi langsung ke berbagai gereja dan juga kepada pemimpin-pemimpinnya, baik secara tulisan maupun lisan (angket/kuesioner). Hasil penelitian dari berbagai sumber akan dijadikan disertasi, baik melalui pendekatan secara deskriptif maupun eksplanatif. Diharapkan dalam penelitian tulisan ini dapat diimplementasikan atau direalisasikan secara langsung dalam gereja-gereja Tionghoa di Surabaya dan Indonesia pada umumnya
Orang Tionghoa dalam Negara Indonesia yang Dibayangkan: Analisis Percakapan Para Pendiri Bangsa dalam Sidang-Sidang BPUPKI dan PPKI
Pada 1995, Institut DIAN/Interfidei menerbitkan sebuah buku yang sebagian besar berisi makalah yang didiskusikan dalam seminar bertajuk “Konfusianisme di Indonesia,” yang diadakan pada tahun sebelumnya oleh Institut DIAN/Interfidei juga. Judul buku itu adalah Konfusianisme di Indonesia: Pergulatan Mencari Jati Diri. Buku ini memang khusus bicara soal Konfusianisme di Indonesia. Namun, percakapan tentang Konfusianisme tidak bisa dilepaskan dari percakapan tentang orang-orang Tionghoa, yang sebagian besar memeluk keyakinan ini. Karena itu, bicara tentang pergulatan Konfusianisme yang mencari jati dirinya di bumi Indonesia tidak bisa tidak juga menyentuh para pemeluknya, orang-orang Tionghoa.
Buku itu hanya salah satu dari sekian banyak buku yang pernah ditulis tentang orang-orang Tionghoa. Sejak terbitnya buku itu, persoalan siapa dan di mana orang Tionghoa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia pun tidak pernah selesai dibicarakan. Tiga tahun setelah buku itu diterbitkan, menyusul jatuhnya rezim Orde Baru pada 1998, terjadi kerusuhan hebat di beberapa kota di Indonesia, yang mana salah satu korbannya adalah orang-orang Tionghoa. Terlepas dari pahit-getirnya peristiwa itu, bagi orang-orang Tionghoa, kerusuhan itu hanyalah sekadar letupan di permukaaan dari isu yang sebenarnya belum pernah tuntas diselesaikan, yaitu soal tempat atau posisi orang-orang Tionghoa Indonesia di dalam konfigurasi masyarakat dan negara Indonesia. Siapakah sebenarnya orang Tionghoa ini di mata orang-orang non-Tionghoa di Indonesia? Jauh sebelum negara Indonesia berdiri, siapakah mereka menurut pemahaman Bapak-Bapak Pendiri Bangsa Indonesia? Apakah mereka sungguh bagian integral bangsa ini? Ataukah mereka, memakai ungkapan rasul Paulus dalam Surat Roma, adalah “tunas liar” yang bukan cabang asli dari sebuah pohon yang disebut Indonesia? Kalau jawabannya ya, pertanyaan berikutnya adalah pemahaman-pemahaman macam apakah tentang Indonesia yang telah memberi ruang muncul dan berkembangnya cara pandang semacam itu? Mengapa sampai muncul, setidaknya dalam pemikiran para Bapak Bangsa Indonesia, dikotomi semacam itu?
Arikel ini bermaksud menelusuri persoalan-persoalan di atas dengan menggunakan teori Ben Anderson tentang bangsa sebagai the imagined communities sebagai alat bantu untuk menginterogasi pikiran-pikiran para Bapak Pendiri Bangsa Indonesia, yang terungkap dalam pidato-pidato mereka di dalam sidang-sidang BPUPKI dan PPKI. Pikiran-pikiran yang terungkap selama sidang-sidang ini dijadikan acuan di sini karena, menurut saya, persidangan itu memiliki nilai historis yang amat penting bagi lahirnya negara Indonesia. Ia amat penting karena menjadi landasan bagi generasi bangsa Indonesia selanjutnya memahami dirinya. Meski waktu yang tersedia untuk merenungkan Indonesia tidak banyak, jika dibaca dari sudut pandang durasi waktu mereka bersidang, namun bukan berarti pikiran-pikiran itu muncul saja secara tiba-tiba. Seperti yang diungkapkan Bung Karno dalam pidatonya tentang dasar negara, ia telah sejak lama sekali merenungkan dan memperjuangkan Pancasila. “[S]aya berjuang sejak 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung itu . . . . Pancasila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh tahun.” Kalau demikian, maka apa yang terungkap dalam persidangan itu bisa dipakai sebagai deskripsi yang mendekati kenyataan yang selama ini dipikirkan dan dibayangkan tentang Indonesia saat itu dan kemudian
Analisis Naratif Terhadap Teladan Kepemimpinan Yesus Dalam Injil Markus dan Implikasinya Bagi Strategi Manajemen Konflik Dalam Pelayanan Hamba Tuhan Masa Kini
Analisis terhadap Penerjemahan WAW (Dalam Teks Masoret) Menjadi KAI (Dalam Teks Septuaginta) dalam Kitab Rut
Ketertarikan pada bahasa-bahasa asli Alkitab (Ibrani dan Yunani) dan panggilan pelayanan di bidang penerjemahan Alkitab telah mengarahkan perhatian penulis untuk memilih pokok bahasan yang terkesan “mudah” ini. “Mudah” karena kata waw dalam bahasa Ibrani maupun kai dalam bahasa Yunani memang, secara sederhana, dapat diterjemahkan sebagai “dan” saja. Namun, hal ini tidak sesederhana yang dipikirkan penulis sebelumnya. Bahasan ini menjadi cukup sulit karena ada hal-hal kompleks yang harus dipahami dalam proses penerjemahan kata ini. Khususnya, ketika pertanyaan-pertanyaan kritis diajukan pada topik ini, misalnya, apakah setiap waw pasti diterjemahkan menjadi kai? Jika demikian, bagaimana hasil terjemahannya? Apakah itu menjadi terjemahan literal atau dinamis? Tidak berhenti sampai di sini, ada beberapa hal lain yang selanjutnya perlu ditanyakan, seperti, mengapa sebagian besar kata waw diterjemahkan menjadi kai? Adakah kesejajaran secara tata bahasa antara waw dan kai ini? Mengapa ada beberapa kata waw yang tidak diterjemahkan menjadi kai? Bahkan, perlu juga untuk menanyakan mengapa ada beberapa kata bukan waw yang diterjemahkan menjadi kai? Mengapa di beberapa bagian, terjadi penambahan-penambahan kalimat/frasa sementara di beberapa bagian yang lain terjadi pengurangan kalimat/frasa? Apakah ada penafsiran pribadi dalam hal ini? Pertanyaan terakhir yang penting adalah apakah budaya Yahudi maupun budaya Hellenis telah memengaruhi penerjemah? Untuk menjawab beberapa pertanyaan ini, penulis akan membagi bahasan ini menjadi empat tahap. Pada tahap pertama, akan diuraikan secara singkat, tata bahasa Ibrani (waw dan adverbia) dan Yunani Koine (kai dan kata-kata penghubung lainnya) yang akan menjadi dasar analisis. Di tahap yang kedua, akan dianalisis proses penerjemahan waw menjadi kai. Analisis ini dimulai dari persoalan-persoalan makro hingga mikro. Dua metode menjadi dasar analisis pada tahap ini adalah tata bahasa dan kritik teks. Pada tahap ketiga, penulis akan diperlihatkan pengaruh budaya Hellenis (budaya penerima) dan pengaruh budaya Israel (budaya sumber) terhadap proses penerjemahan ini. Pada tahap terakhir, akan ditarik kesimpulan-kesimpulan dari sudut pandang tata bahasa, budaya dan teologis tentang proses penerjemahan waw menjadi kai dalam kitab Rut
Analisis Kritis terhadap Konsep Kemungkinan Orang Percaya Dirasuk Setan
“Kemungkinan orang percaya dirasuk Setan” merupakan topik yang sering diperdebatkan dalam ruang lingkup peperangan rohani. Sebagian teolog yakin bahwa orang percaya tidak dapat dirasuk oleh Setan sebab ia sudah sepenuhnya menjadi milik Kristus. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang lain, ada “orang Kristen” yang dapat dirasuk oleh roh jahat. Penulis sendiri pernah mendengar dan menjumpai kasus semacam ini. Bahkan, apa yang terjadi di lapangan ini telah membuat beberapa teolog injili beralih haluan, mempercayai bahwa orang Kristen dapat dirasuk Setan. Alkitab, baik PL maupun PB, mencatat bahwa Raja Saul pernah diusik oleh roh jahat, padahal ia adalah raja yang diurapi Allah. Dicatat pula bagaimana Yesus menghardik, “Enyahlah, Iblis!” kepada Petrus, salah seorang murid yang dekat pada-Nya (Mat. 16:23). Yohanes 13:27 juga menceritakan bagaimana Iblis telah merasuki Yudas Iskariot, salah seorang dari dua belas murid yang dipilih sendiri oleh Yesus. Tidak hanya itu, dalam Kisah Para Rasul 5, Petrus mengatakan bahwa hati Ananias dan Safira telah dikuasai Iblis padahal jelas diketahui bahwa Ananias dan Safira adalah anggota-anggota komunitas gereja mula-mula. Pertanyaannya, bagaimana menjelaskan apa yang telah terjadi pada orang-orang ini, jika tetap menolak pernyataan bahwa “ada kemungkinan orang Kristen dapat dirasuk Setan”? Bukankah contoh-contoh di atas terjadi pada “orang-orang percaya”? Perlu digrasibawahi bahwa mereka bukan orang-orang biasa melainkan tokoh-tokoh yang tercatat namanya dalam Alkitab. Karena itu, melalui artikel ini, penulis akan berusaha meneliti topik ini secara lebih dalam untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apakah orang Kristen memang dapat dirasuk Setan, apakah hal ini terjadi dalam kasus-kasus tertentu saja, atau apakah hal ini dapat terjadi dalam beberapa tingkatan tertentu, seperti yang telah diajukan oleh beberapa teolog, di antaranya Ed Murphy, Merrill Unger dan Fred Dickason?
Menurut penulis, topik ini penting untuk dibahas agar pembaca dapat mengetahui ajaran yang sesuai dengan firman Tuhan. Alasannya sederhana, ajaran yang menyimpang dari kebenaran akan menghasilkan kebingungan yang dapat menjurus kepada kesesatan dan hal ini sangat berbahaya. Apalagi, belakangan ini begitu populer ajaran dan praktik pelepasan yang dianggap sebagai cara cepat untuk mengatasi pelanggaran dan dosa manusia, dan untuk memenangi peperangan rohani melawan kuasa jahat. Hal-hal demikian merupakan implikasi dari pengajaran yang meyakini bahwa “orang percaya dapat dirasuk Setan.” Orang Kristen tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa “Iblis masih dapat menggoda dan mempengaruhi orang Kristen,” karena Alkitab memang mengajarkan demikian (Ef. 4:27; 1Pet. 5:8). Namun, apakah pengaruh Setan tersebut dapat menguasai orang percaya sepenuhnya? Ini perlu dipelajari dengan seksama dalam terang firman Tuhan. Dengan demikian, pada akhirnya, dapat dipahami apakah Alkitab setuju dengan pandangan “orang Kristen dapat dirasuk oleh Setan.
Doa Peperangan Rohani Tingkat Strategis dan Biblical Warfare Worldview : Kawan atau Lawan?
Dalam salah satu ceramahnya tentang “The Second Apostolic Age,” Peter Wagner menegaskan bahwa kekristenan sedang berada dalam proses perubahan besar yang dikerjakan oleh Roh Kudus. “Kantong anggur lama” sedang diganti dengan yang “baru.” Perubahan itu menyangkut banyak hal. Salah satunya berhubungan dengan suatu “theological innovation” yang dilakukan oleh para sarjana seperti: Clark Pinnock, Gregory Boyd, John Sanders, dan sebagainya, dengan proposal “open theology” mereka. Menurutnya, Open Theology atau Open Theism ini yang sesuai dengan karakteristik kantong anggur baru. Pertanyaan yang menggoda untuk diajukan adalah apakah Wagner telah menimbang semua landasan teori yang dibangun Boyd sehingga ia dapat memastikan bahwa Open Theology dapat menjadi kerangka teologis yang tepat bagi gerakan Apostolik Baru atau Kedua? Secara khusus, apakah biblical warfare worldview (selanjutnya disingkat BWW) yang dikembangkan Boyd itu mendukung praktik yang umum dilakukan oleh para pelopor gerakan Apostolik Kedua atau Baru, yaitu, Doa Peperangan Rohani Tingkat Strategis (selanjutnya disingkat DPRTS)? Pertanyaan yang kedua ini yang akan digumuli dalam makalah ini sehingga tujuan dari makalah ini adalah untuk menemukan sejauh mana, secara konseptual, BWW a la Boyd mendukung praktik DPRTS. Makalah ini akan diakhiri dengan sebuah refleksi dan evaluasi dari sudut pandang injili yang alkitabiah dan sehat
Bagaimana Kaum Injili Memandang Gereja Katolik?
Ribuan jemaat Katolik berkumpul di Supermall Surabaya Convention Center (SSCC) pada bulan November 2007 yang lalu. Kegiatan KKR yang bernuansa Katolik karismatik ini telah menjadi gerakan yang makin terasa di Indonesia. Sekilas, gerakan ini telah “mendekatkan” Katolik dengan kaum Protestan, khususnya kalangan karismatik. Di sisi lain, usaha pembelaan iman Katolik terhadap keberatan-keberatan teologis kaum Protestan juga makin terasa akhir-akhir ini di Indonesia. Tambah maraknya buku Katolik yang bernada apologetik terhadap Protestan semakin memperlebar jurang antara umat Katolik dan Kristen Protestan. Dalam rangka memikirkan relasi antara kaum Katolik dan Protestan ini, beberapa paradigma relasi muncul dalam benak penulis. Apakah gereja Katolik dapat dipandang sebagai saudara, pesaing, atau musuh? Bagaimana jika pilihan ini diajukan kepada Anda yang berasal dari golongan Protestan khususnya injili dalam memandang gereja Katolik Roma? Sebaliknya juga penting, bagaimanakah perspektif gereja Katolik dalam memandang kaum injili? ... Pembahasan tulisan ini akan mengalir sebagai berikut: Pertama, akan dipaparkan mengenai sekilas pandang pergeseran pandangan gereja Katolik terhadap doktrin kesatuan gereja yang meliputi sikap mereka terhadap gereja-gereja lain di luar gereja Katolik. Kedua, argumentasi biblis dan tradisi untuk mendukung doktrin kesatuan gereja menurut gereja Katolik. Ketiga, penulis akan menyampaikan suatu tinjauan kritis atas pandangan Katolik tersebut. Pada bagian akhir, beberapa pemikiran tentang hubungan antara kaum injili dan Katolik akan diajukan sebagai kesimpulan dan aplikasi
Empat Model Pendekatan Kristen Terhadap Penyembahan Nenek Moyang Dalam Budaya Tionghoa (Suatu Analisis Kritis Berdasarkan Firman Tuhan)
Studi Teologis tentang "Berdoa di dalam Roh Kudus" menurut Perjanjian Baru dan Penerapannya bagi Kehidupan Doa Orang Percaya
Dalam iman Kristen, doa bukan aktivitas rohani yang dilakukan apabila seseorang memiliki waktu untuk melakukannya. Doa juga bukan aktivitas yang dilakukan apabila seseorang memiliki kebutuhan yang urgent, tetapi kemudian ia tidak pernah melakukannya kembali. Doa bukan pula suatu aktivitas rutin tanpa nilai-nilai spiritualitas di dalamnya. Doa adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan iman seseorang. ... Secara umum, arti kata “doa” mudah dimengerti oleh umat Tuhan, tetapi “berdoa di dalam Roh Kudus” tentu saja menimbulkan beberapa pertanyaan. Apakah yang dimaksud Alkitab tentang berdoa di dalam Roh Kudus? Mengapa Alkitab (PB) mengajarkan umat Tuhan untuk berdoa di dalam Roh Kudus? Apakah berdoa di dalam Roh Kudus merupakan suatu cara tertentu untuk berdoa? Atau, benarkah berdoa di dalam Roh Kudus berarti berdoa dengan menggunakan bahasa roh (bahasa lidah; Yun. “glosolalia”)? Untuk mengetahui arti sebenarnya tentang berdoa di dalam Roh Kudus, maka melalui tulisan ini penulis mencoba melakukan sebuah studi teologis terhadap persoalan ini berdasarkan perspektif Perjanjian Baru. Tidak terlepas dari studi ini, penulis juga akan memaparkan dan mengevaluasi pandangan kontemporer tentang arti berdoa di dalam Roh Kudus. Kemudian, pada bagian akhir, penulis akan memberikan penerapannya bagi kehidupan doa orang percaya. Diharapkan, melalui tulisan ini, umat Tuhan dapat lebih mengerti arti dan signifikansi dari berdoa di dalam Roh Kudus