STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Tujuh Langkah Menyusun Khotbah Yang Mengubah Kehidupan : Khotbah Ekspositori
Banyak jemaat masa kini yang merasa gelisah dengan khotbah para pelayan yang dirasakan kurang membangun iman mereka untuk mampu merespons tantangan hidup. Buku ini mengajak para pengkhotbah untuk setia menggali pesan Alkitab dan mengembangkan pesan khotbah yang menyentuh kebutuhan warga jemaat dalam konteksnya yang nyata
Tinjauan Alkitabiah Terhadap Konsep Poligami Aliran Mormon
Mormonisme merupakan aliran yang memperkenalkan diri sebagai gereja yang paling benar. Aliran ini didirikan oleh nabi Joseph Smith pada 1820. Nama resmi dari aliran ini adalah The Church of Jesus Christ of the Latter Day Saints— dalam bahasa Inggris disingkat LDS: Latter-Day Saints.
Namun, aliran ini tidak berdiri di atas Alkitab yang adalah sumber otoritas tertinggi. Aliran ini berdiri di atas kitab-kitab Mormon (Buku Mormon, Doktrin dan perjanjian-perjanjian serta Mutiara yang sangat berharga). Kitab ini ditulis oleh Smith dan diyakini memiliki otoritas yang sejajar dengan Alkitab bahkan melebihi Alkitab.
Di samping itu, aliran Mormon percaya pada “wahyu” atau “penglihatan” yang dinyatakan kepada orang-orang saleh. Bagi Mormonisme, kanon Alkitab masih terbuka, di mana Allah akan terns dan terns memberikan wahyn-wahyn mengenai hal- hal yang penting kepada mannsia melalni para hamba-Nya.
Ajakan nntnk berpoligami menjadl marak sejak 12 Juli 1843 karena seorang nabi yang bemama Smith menyatakan bahwa dia mendapat wahyn dari Tnhan yang memerintahkan mannsia nntnk berpoligami. Tanpa ketaatan terhadap perintah ini mannsia akan dibinasakan, sedangkan bagi mereka yang taat dijanjikan snrga yang tertinggi (kerajaan selestial).
Selanjntnya, ajaran mengenai poligami terns berkembang dan diyakini sebagai satii-satnnya jenis pemikahahan yang dapat berlanjnt sampai kekekalan. Lebih lagi, poligami dianggap sebagai syarat keselamatan dan semakin arif seseorang dalam berpoligami semakin baik kedndnkannya kelak dalam kerajaan Selestial.
Sesnnggnhnya, aliran Mormon telah memsak doktrin-doktrln esensial dari sejarah kekeristenan. Ajaran poligami telah menjadi salah satn bnkti penyimpangan mereka terhadap peratnran snci yang ditetapkan oleh Allah pada waktn penciptaan, yaitn pemikahan yang monogami.
Dengan demikian, kendati aliran Mormon mengakn sebagai satn-satnnya gereja yang benar dalam dnnia ini, namnn bila tidak berdiri di atas Alkitab sebagai snmber otoritas tertinggi dalam pengajaran mereka maka aliran Mormon dinilal sebagai aliran sesat atan bidat.
Orang Kristen hams mengakni Alkitab sebagai kebenaran mntlak, oleh karena itu di luar Alkitab tidak ada kebenaran lagi. Allah mempakan Penulis utama dari Alkitab, oleh karena itu tidak mungkin menginpirasikan hal yang sala
Masalah dalam Masalah Kejahatan
Ada kisah unik yang penulis dapatkan dari sebuah wawancara stasiun televisi CNN dengan sepasang suami-istri yang terhindar dari penawanan teroris di sebuah hotel yang dibajak teroris di kota Mumbai, India 26-29 November 2008. Peristiwa ini sendiri menewaskan 173 orang dan menyebabkan 308 orang luka-luka. Suami-istri ini berhasil bersembunyi di kamar dan melihat para teroris dari celah pintu. Yang terkesan konyol dan menggelikan dari keterangan mereka adalah mereka mengatakan bahwa para teroris tersebut tidak berkumis atau terlihat jahat. Salah seorang saksi mata lain yang lolos dari penyanderaan mengungkapkan kepada CNN sosok teroris yang ia lihat di lokasi dengan mimik yang masih terheran-heran, “Dia mungkin berusia sekitar 22 tahun, berpenampilan bersih, berambut pendek, sepertinya orang yang terdidik, dan menurut saya tidak seperti model teroris . . . [radikal] biasanya.”
Penulis juga tidak lupa tentang sebuah pengalaman yang pernah diceritakan oleh seorang adik Kelompok Tumbuh Bersama, bagaimana ia sangat gugup dan takut ketika di bis kota duduk bersebelahan dengan seorang berpakaian putih-panjang, bersorban, berjanggut lebat dan menenteng sebuah tas besar. Pikiran liarnya mengimajinasikan jangan-jangan tas besar itu berisi “sajam” (senjata-senjata tajam) atau mungkin Uzi, AK-47, M-16, Revolver dan pistol semi-automatic. Memang saat itu sedang hangat-hangatnya berita tentang kerusuhan Ambon dan Poso yang memakan korban ribuan orang
Ide Teologis Calvin tentang Keadilan Sosial
Dalam rangka merayakan 500 tahun John Calvin, aliansi gereja reformed sedunia (World Alliance of Reformed Churches [WARC]) mengajak setiap anggotanya untuk bertindak nyata, misalnya, mengupayakan persatuan gereja, mempromosikan keadilan sosial dan respek terhadap ciptaan, dan melawan perang dan kejahatan. Meskipun bukan bagian dari aliansi ini, saya ingin juga menyambut ajakan tersebut secara positif. Sebagai bagian dari “kaum keturunan Calvin” (“Calvin’s descendants”) dalam warisan teologi dan berteologinya, saya ingin berpartisipasi di dalam momentum yang sangat istimewa ini. Bukan dengan extravaganza, tetapi dengan suatu tulisan reflektif sederhana tentang sang kakek-buyut dan pemikirannya. Menanggapi salah satu ajakan di atas, tulisan ini berupaya untuk mempromosikan keadilan sosial. Tepatnya, mengenalkan ide teologis Calvin tentang topik tersebut. Upaya ini dilakukan dengan cara merancangbangun ulang (reconstructing) pemikirannya tentang keadilan sosial yang terserak di berbagai sumber, baik sumber-sumber primer maupun sekunder. Sebelum melakukan hal ini, fokus akan lebih dahulu diarahkan pada dua konteks berteologi Calvin: kondisi sosial Jenewa pada abad ke enam belas dan pemikiran-pemikiran para bapa gereja. Diharapkan, dengan mengenal ide teologis Calvin ini, kekristenan Calvinis di Indonesia makin serius dan terlihat greget-nya dalam mewujudkan keadilan sosial di negeri yang, katanya, berazas keadilan sosial ini
Calvin dan Lima Pilar Institusi Sosial
Lima pilar institusi sosial yang dimaksud adalah keluarga, gereja, pemerintah, ekonomi, dan pendidikan. Kelima pilar ini bukan kategori yang baku. Kelima pilar institusi sosial tersebut adalah metode pendekatan yang penulis pakai untuk membaca pemikiran John Calvin. Melalui metode tersebut, penulis bermaksud untuk menarik prinsip-prinsip etika sosial dari tulisan-tulisan Calvin. Dengan kata lain, ia sendiri tidak pernah membakukan kelima hal ini sebagai “pilar-pilar kehidupan sosial.” Namun hal itu tidak berarti bahwa ia sama sekali tidak berbicara tentang sektor-sektor kehidupan sosial. Sebaliknya, penulis mendapati aplikasi sosial yang sangat luas dari teologi theocentric (berpusat pada kedaulatan Allah) yang ia pegang dengan setia.
Untuk menggarisbawahi keunikan teologi sosial yang Calvin pegang, penulis akan membandingkan pemikiran Calvin dengan kecenderungan-kecenderungan sekular dari budaya pada zaman sekarang. Tentu saja dalam wadah yang terbatas ini, penulis tidak memiliki ruang yang cukup untuk memaparkan secara rinci seluruh aspek teologis dan moral yang terkandung dalam masing-masing institusi sosial yang akan dibicarakan. Penulis akan selektif dan memfokuskan pembahasan pada aspek “otoritas” yang lahir dari teologi theocentric dalam pemikirannya
Studi Naratif Terhadap Konstruk Paralel Kontras Kejadian Pasal 38 dan 39 serta Implikasinya Bagi Integritas Seksual Hamba Tuhan Masa Kini
Setiap hamba Tuhan dipanggil dan diutus oleh Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya di muka bumi, sehingga banyak orang percaya dan mau menjadi pengikut Kristus. Dalam melayani, hidup berintegritas dalam seluruh aspek kehidupan sangatlah penting, termasuk di dalamnya integritas dalam hal seksual. Dengan integritas, maka seorang hamba Tuhan dapat melakukan pelayanan dengan baik dan efektif, sehingga pengikut Kristus adalah hal yang menarik, bukannya memalukan. Namun faktanya, hingga kini masih banyak hamba Tuhan yang mengalami krisis integritas, termasuk dalam hal seksual. Ada begitu banyak hamba Tuhan yang mengalami kejatuhan dalam dosa seksual. Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan, merugikan dan memalukan, baik bagi hamba Tuhan itu sendiri, keluarga, gereja, bahkan Nama Tuhan dan menjadi pengikut Kristus bukan lagi sesuatu yang menarik.
Kisah Yusuf yang berhasil menjaga integritasnya termasuk dalam hal seksual telah menjadikannya patut untuk dijadikan teladan bagi hamba Tuhan di sepanjang masa termasuk masa kini. Dengan melakukan suatu studi naratif terhadap kisah Yehuda yang terdapat di Kejadian pasal 38 yang merupakan konstruk paralel kontras dengan kisah Yusuf di Kejadian 39, akan sangat menolong. Untuk hidup berintegritas dalam seksual memang biikan hal yang mudah, namun juga bukan sesuatu yang mustahil. Yusuf dapat bertahan dalam pencobaan dosa seksual yang berat, dikarenakan ia merespons penyertaan Tuhan dengan sikap takut akan Tuhan. Dalam penyertaan Tuhan, Yusuf mempunyai kekuatan untuk berhasil dalam pencobaan dosa seksual. Sedangkan Yehuda mengalami kegagalan dalam dosa seksual dikarenakan ia tidak meresponi penyertaan Tuhan dengan sikap takut akan Tuhan. Namun, Tuhan yang menyertai akan memeriksa segala kehidupan umat pilihan-Nya akan memberikan kesempatan kepada Yehuda untuk mengalami pertobatan. Akhirnya, kedua tokoh sama-sama dibenarkan di hadapan Tuhan.
Demikian juga halnya dengan setiap hamba Tuhan masa kini yang rindu melakukan tugas pelayanannya dengan baik dan efektif. Tetap berintegritas dalam hal seksual memang bukan hal yang mudah, namun juga bukan hal yang mustahil. Dengan penyertaan Tuhan, ada kekuatan untuk bisa berhasil menghadapi pencobaan dosa seksual. Dan sikap bertobat dari kejatuhan dosa seksual adalah langkah bijaksana, sebagai cerminan sikap takut akan TUHAN. Sehingga pada akhirnya setiap tugas dan tanggung jawab dalam pelayanan yang dilakukan oleh setiap hamba Tuhan dapat berhasil dan menjadi berkat bagi setiap orang yang dilayani. Dan nama Tuhan di muka bumi ini ditinggikan serta banyak orang akan tertarik untuk mengikuti-Nya
Soteriologi Yudaisme Bait Allah Kedua
Diskusi mengenai soteriologi Yudaisme Bait Allah Kedua (selanjutnya akan disingkat Yudaisme BAK) telah menjadi perdebatan “terpanas” bagi para pakar PB dalam 2-4 dekade ini. Sejak era Reformasi, para pakar PB memandang Yudaisme BAK sebagai agama legalis. Tokoh yang dinilai paling berpengaruh dalam membawa pandangan tersebut adalah Martin Luther dan Rudolf Bultmann. Akan tetapi, sejak E. P. Sanders (1977) menulis buku Paul and Palestinian Judaism, perdebatan mengenai soteriologi Yudaisme BAK mulai menjadi “panas.” Sanders mengatakan Yudaisme BAK bukan agama legalis, sebab mereka tidak pernah menganggap ketaatan pada Taurat dapat membeli keselamatan, ketaatan pada Taurat adalah syarat untuk tetap berada dalam ikatan perjanjian dengan Tuhan. Pandangan Sanders dibenarkan oleh N. T. Wright (1978). James D. G. Dunn (1982) juga meneguhkan pandangan Sanders mengenai Yudaisme BAK dan ia menegaskan juga bahwa pergumulan Paulus dengan Yudaisme BAK harus dilihat dalam konteks sosial dan historis Paulus dan bukan dalam “kaca mata” pergumulan Luther. Disertasi Raisanen (diterbitkan tahun 1983) juga meneguhkan pandangan Sanders, tetapi ia menambahkan bahwa Paulus dalam surat-suratnya sedang menyerang suatu konsep pembenaran melalui perbuatan, namun soteriologi tersebut bukan soteriologi Yudaisme BAK, namun soteriologi yang merupakan bayangan pergumulan Paulus sendiri. Pandangan Sanders kemudian mendapat perlawanan dari Hans Hubner (1984), ia mengatakan dalam Galatia, Paulus jelas-jelas menentang soteriologi Yudaisme BAK. Disertasi Francis Watson (diterbitkan tahun 1986) juga meneguhkan pandangan Sanders mengenai “covenantal nomism,” namun ia melihat polemik Paulus tertuju pada konsep yang salah mengenai hubungan Yahudi-Yunani. Llyod Gaston (1987) memandang soteriologi Yudaisme BAK sama dengan Sanders, namun ia melihat persoalan utama Paulus adalah sikap Yudaisme BAK terhadap orang-orang bukan Yahudi. Pandangan Sanders, kemudian mendapatkan perlawanan dari Stephen Westerholm (1988). Westerholm mengatakan Luther dan para reformator tidak salah, Yudaisme BAK adalah agama legalis sebab soteriologi mereka berasal dari tradisi deuteronomistik yang memang legalis. Akan tetapi, disertasi John M. G Barclay (diterbitkan 1988) kembali meneguhkan Sanders, ia berkata Paulus tidak pernah mengatakan bahwa Yudaisme BAK adalah agama legalis, persoalan utama Paulus adalah ia melihat Yudaisme BAK tidak percaya pada Yesus. Disertasi Walter Hansen (diterbitkan tahun 1989) kembali meneguhkan pandangan Sanders, ia mengatakan, Yudaisme BAK tidaklah legalis dan Paulus tidak sedang menyerang Yudaisme BAK, namun ia sedang menyerang Kristen Yahudi. Disertasi Don Garlington yang dibimbing oleh James D. G. Dunn (diterbitkan tahun 1991), juga meneguhkan pandangan Sanders, Garlington mengatakan ketaatan pada Taurat tidak pernah dimaksudkan untuk membeli keselamatan, namun sebagai konsekuensi seseorang yang telah berada dalam keselamatan. William S. Campbell (1991) meneguhkan pandangan Sanders bahwa persoalan utama Yudaisme BAK di mata Paulus adalah mereka tidak percaya kepada injil. Perlawanan yang keras kemudian diberikan dalam disertasi Timo Laato (diterbitkan tahun 1995), ia memandang aspek kehendak bebas adalah dominan dalam soteriologi Yudaisme BAK, mereka memandang keberadaan seseorang dalam ikatan perjajian dengan Tuhan ditentukan oleh pilihan manusia sendiri. Colin G. Kruse (1997) menyatakan dukungannya atas pandangan Sanders mengenai soteriologi Yudaisme BAK, ia memandang Paulus sedang melawan sebagian kalangan Yahudi yang memandang ketaatan pada Taurat dapat membenarkan mereka. Terence L. Donaldson (1997) mendukung gagasan Sanders, ia melihat persoalan utama Paulus adalah hubungan Yunani dan Yahudi, perubahan sikap Paulus terhadap orang-orang bukan Yahudi, terjadi saat Paulus mengalami pertemuan dengan Kristus di Damsyik. Timo Eskola (1998) melawan pandangan Sanders, ia menemukan bahwa ketidaktaatan pada Taurat akan membuat Israel dibinasakan, oleh sebab itulah Yudaisme BAK (menurut Eskola) adalah “synergism.” Disertasi Kent L. Yinger (1999) menentang Sanders, ia menemukan, dilihat dari aspek penghakiman akhir, Yudaisme BAK tetap memandang ketaatan pada Taurat adalah syarat keselamatan. Carson dan kawan-kawan (2001), juga memberikan perlawanan sengit bagi Sanders, mereka mengatakan Yudaisme BAK meyakini bahwa ketaatan pada hukum adalah syarat untuk tetap berada dalam keselamatan dan dilihat dari konsep tersebut, Yudaisme BAK tetaplah legalis. Andrew Das (2001) melihat dalam konteks keselamatan, Yudaisme BAK menuntut kesempurnaan dalam mentaati Taurat, Yudaisme BAK memandang ketaatan yang sempurna pada Taurat adalah syarat anugerah Allah dan ia juga membuktikan bahwa Paulus sama sekali bukan penganut “covenantal nomism.” Disertasi Simon Gathercole (diterbitkan tahun 2002) meneguhkan pandangan Yinger dan melawan Sanders, ia menegaskan (dalam konteks penghakiman) aspek ketaatan pada Taurat adalah ukuran untuk keselamatan. Chris VanLandingham (2006) menulis hal yang sama dengan Gathercole, namun ia memberikan penekanan yang berbeda, ia melihat konsep penghakiman berdasarkan perbuatan memang dinyatakan dengan kuat dalam Yudaisme BAK, namun hal yang sama juga dinyatakan dalam surat-surat Paulus. Michael F. Bird (2007) menyatakan bahwa Yudaisme BAK memang tidak selegalis yang dituduhkan sebelumnya, namun konsep ketaatan yang menentukan keselamatan memang ada dalam soteriologi mereka, selain itu, Bird (secara tidak langsung) menyanggah pandangan Gathercole dan VanLandingham mengenai konsep “judgment by work” dalam Yudaisme BAK yang dianggap sama dengan yang terdapat dalam PB. James D. G. Dunn (2008) dalam bukunya New Perspective on Paul, ia seorang diri merespons semua kritik yang dilontarkan lawan-lawan “New Perspective.”
Jadi, perdebatan mengenai soteriologi Yudaisme BAK belum berakhir. Para pakar PB tidak sepakat dalam menjawab pertanyaan apakah Yudaisme BAK adalah agama yang legalis ataukah tidak. Dalam artikel ini, penulis akan memperlihatkan aspek-aspek yang menjadi perdebatan antara Sanders (dan pengikutnya) dan pakar-pakar yang menjadi lawan-lawannya, tujuannya adalah pembaca dapat melihat kelemahan dari perdebatan yang telah berlangsung sehingga dapat mencari dan meneliti aspek lain/berbeda yang dikontribusikan untuk menjawab perdebatan soteriologi Yudaisme BAK
Konsep Alkitabiah Tentang Hamba Tuhan Sebagai Orang Tua dan Implikasinya Bagi Pembentukan Karakter Anak Hamba Tuhan
Sejak berdirinya gereja Tuhan, maka muncullah hamba Tuhan, dan otomatis muncul juga anak-anak hamba Tuhan. Sehubungan dengan standar firman Tuhan bagi hamba Tuhan yang tinggi, jemaat turut menuntut hamba Tuhan untuk mencapai standar tersebut. Lepas dari semua itu hamba Tuhan sendiri juga memmtut hal yang sama atas dirinya. Di antara tuntutan firman Tuhan, jemaat, dan hamba Tuhan sendiri, anak-anak hamba Tuhan menjadi pribadi yang terjebak di antaranya. Sebagai seorang anak, yang tidak memilih untuk menjadi anak hamba Tuhan, anak hamba Tuhan hams menghadapi tuntutan yang dituntut ke atas orang tuanya dan lebih lagi. Kenyataan yang terlihat dalam sikap para hamba Tuhan secara umum adalah hamba Tuhan menomorduakan keluarganya sendiri jika dibanding dengan keluarga Allah yakni jemaat Allah. Umsan jemaat lebih diutamakan sehingga seringkali dibawa pulang ke mmah. Masalah-masalah jemaat, sisi-sisi bumk dari jemaat Allah, dosa-dosa jemaat, belum lagi kelelahan hamba Tuhan semuanya dibawa ke dalam keluarga hamba Tuhan. Dengan membawa kelelahan, hamba Tuhan dan begitu banyak pikiran, fokus hamba Tuhan sudah tidak lagi di atas anak-anaknya walaupun dia sudah pulang ke rumah. Anak hamba Tuhan bagaimanapun hanyalah seorang anak. Dia juga butuh semua yang dibutuhkan seorang anak. Kasih, pengasuhan, disiplin, dan bimbingan. Menghadapi segala tantangan yang anak hamba Tuhan hadapi, anak hamba Tuhan yang tidak dipersiap untuk menghadapi semua itu bergumul antara melakukan kebenaran yang diajarkan kepadanya dan kedagingannya. Dalam kondisi demikian, banyak anak hamba Tuhan yang mendewasa dengan kecacatan karakter yang akhimya menjadi bagian dari diri mereka seumur hidup mereka. Mengikutinya, permasalahan jemaat menghadapi anak-anak hamba Tuhan karena adanya permasalahan karakter di kalangan mereka juga menyusul. Dampak hal ini kepada jemaat Tuhan dan masyarakat belum percaya cukup signifikan. Melihat masalah karakter dalam diri anak-anak hamba Tuhan memicu jemaat dan masyarakat untuk bertanya apakah hamba Tuhan mampu untuk mengurus jemaat Tuhan apabila mengurus keluarganya sendiri pun dia tidak mampu. Menghadapi tekanan ini, para hamba Tuhan berusaha agar anak-anaknya terlihat terurus. Anak hamba Tuhan yang kemudian menyadari bahwa sikapnya membawa dampak kepada karier orang tuanya dan dengan keinginan untuk melindungi orang tuanya anak hamba Tuhan berusaha untuk tampak baik dengan hanya menampilkan yang baik. Semua yang jelek tapi nyata tetap disembunyikan dan ditekan. Dari itu, muncullah kecacatan yang lebih dari sebelumnya dalam diri anak hamba Tuhan. Ada hal yang dapat dilakukan untuk memulihkan masalah karakter atau menghindari masalah karakter dalam anak hamba Tuhan. Agar itu dapat tercapai, orang tua memainkan peran utama. Pertama-tama orang tua perlu sadar perannya lalu memainkannya. Sadar tantangan yang dihadapi anak mereka dan memperlengkapi, menolong, dan bersama-sama mereka menghadapinya. Selanjutnya, jemaat perlu memahami peran mereka dalam pembentukan karakter anak-anak hamba Tuhan dan memainkannya.Diharapkan melalui skripsi ini para hamba Tuhan dapat memainkan peran mereka dengan lebih baik lagi, masalah karakter anak hamba Tuhan tertangani, dan jemaat Tuhan mendukung usaha ini sehingga anak-anak hamba Tuhan yang ada membawa kemuliaan bagi nama Tuhan
Kecanduan Berinternet dan Prinsip-Prinsip untuk Menolong Pecandu Internet
Jumlah pengguna internet di berbagai belahan dunia terus berlipat ganda dengan angka yang menakjubkan. Di Indonesia, perkiraan jumlah pengguna internet oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 1998 adalah 512.000 orang, dan terus bertambah hingga kira-kira 25.000.000 orang pada tahun 2007. Dengan jumlah sebanyak ini, Indonesia sudah termasuk ke dalam 20 negara pengguna internet terbanyak di dunia. Dapat dipastikan bahwa jumlah pengguna internet ini akan terus bertambah seiring dengan semakin murah dan mudahnya koneksi internet, tersebarnya jaringan, serta juga semakin tersedianya peralatan komputer, handphone, hingga iPhone, dan BlackBerry.
Internet yang semula dirancang untuk menjadi sistem komunikasi militer telah berkembang menjadi penghubung banyak komputer sekaligus ke dalam sebuah jaringan. Namun perkembangan internet saat ini bukan hanya sebagai alat pengiriman, pertukaran, dan pengambilan data. Internet memenuhi banyak fungsi lain, meliputi kemudahan berbisnis, berkarier, berkomunikasi, menjalankan proses belajar-mengajar, menjalin relasi, menyiarkan berita, berkampanye, melakukan propaganda, hingga mewartakan injil. Semakin tidak terhindarkannya internet sebagai perlengkapan studi dan alat bantu pekerjaan membuat internet turut berperan dalam cara kita berpikir, berkomunikasi, berelasi, berekreasi, bertingkah laku, dan mengambil keputusan. Ironisnya, alat yang begitu berguna ini juga menimbulkan cukup banyak persoalan pada penggunanya. Sebagai contoh, hasil sebuah survei memperlihatkan bahwa penggunaan internet memberi sumbangsih pada hampir 50% persoalan keluarga dan relasi.
Ada banyak segi dari internet yang menarik untuk diamati. Banyak literatur Kristen yang menyarankan dan mengajarkan pemanfaatan internet untuk mengembangkan gereja, pelayanan, dan literatur Kristen. Namun sisi negatif internet, terutama terhadap perilaku individu, belum tuntas dibahas. Padahal internet memiliki potensi untuk membelenggu dan melumpuhkan individu dalam bentuk perilaku mencandu. Artikel ini secara khusus hendak menyoroti materi internet yang memicu perilaku mencandu, khususnya masalah pornografi, online game, dan jejaring sosial, gejala kecanduan internet dan proses mencandu, serta sumbang saran mengenai cara menyikapi dan mengatasi persoalan kecanduan internet
Bahasa Roh menurut Calvin dan Implikasinya bagi Gereja Masa Kini
Beberapa tahun lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah seminar teologi yang dipimpin oleh seorang pendeta terkenal dari Amerika Serikat. Sebelum seminar dimulai, sekitar 2000 peserta yang hadir diajak terlebih dahulu mengikuti acara Praise and Worship. Setelah menyanyi beberapa pujian, tiba-tiba musik diperlambat dan pembawa acara mengangkat tangan, menutup mata, dan mulutnya mengeluarkan “komat-kamit” suku kata-suku kata yang tidak dimengerti oleh seorang pun. Kontan, sebagian besar peserta mulai mengikuti apa yang dilakukan oleh pembawa acara tersebut. Akibatnya, suasana jadi ribut dengan bahasa-bahasa aneh, teriakan-teriakan yang liar, serta sebagian peserta terlihat menangis atau ketawa tidak terkendali. Setelah “pertunjukan” tersebut berlangsung sekitar 20 menit, pembawa acara mengumumkan bahwa tiba saatnya para peserta mengusir segala kuasa gelap dan gangguan lainnya dari dalam ruang pertemuan, dan untuk itu semua yang hadir harus melakukannya dengan “berbahasa roh.” Di bawah komando sang pembawa acara, kembali ruangan kebaktian menjadi ribut dan kacau, masing-masing mengeluarkan bunyi-bunyian aneh yang bagi mereka adalah “bahasa roh” yang dipakai untuk mengusir Setan dan para pengikutnya dari ruangan tersebut. Menyaksikan fenomena seperti itu, perasaan saya bercampur baur, ada rasa takut sehingga bulu kuduk berdiri, ada rasa canggung karena menjadi orang “aneh” di tengah-tengah mereka, dan ada rasa ingin tahu apa yang selanjutnya akan terjadi. Dalam kondisi itu muncul dalam pikiran saya sebuah seri pertanyaan: “Seandainya John Calvin masih hidup dan hadir dalam kebaktian ini, bagaimana reaksinya? Apakah dia akan menerima dan mempraktikkan hal yang sama? Atau dia akan menentang, bahkan mengajarkan fenomena tersebut sebagai tindakan yang tidak alkitabiah?” Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, tulisan ini disajikan dengan harapan agar kita semua memiliki pandangan yang tepat tentang natur dari karunia bahasa roh serta implikasinya bagi kehidupan bergereja masa kini