STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Tinjauan Kritis Konsep Blended Worship Bagi Ibadah Kaum Muda Gereja-Gereja Protestan Pada Masa Kini

    No full text
    Blended worship adalah sebuah gaya ibadah yang memiliki empat tahap, yaitu tahap berkumpul, mendengarkan firman, menerima perjamuan, dan pengutusan. Gaya ibadah ini dipopularkan oleh Robert E. Webber, yang diharapkan dapat menjadi sebuah alternatif untuk menjawab tantangan mengenai perbedaan-perbedaan gaya ibadah yang terkenal dengan sebutan worship wars. Saat ini ada dua kubu besar yang saling bertentangan, yaitu kubu konservatif yang mempertahankan tradisi melalui lagu-lagu himne yang menekankan sikap hormat kepada Allah, dengan kubu kontemporer yang menggunakan lagu-lagu kontemporer serta menekankan rasa dekat kepada Allah dalam ibadahnya. Blended worship mencoba untuk menjembatani kedua kubu tersebut. Dalam skripsi ini, penulis melakukan tinjauan terhadap blended worship melalui sudut pandang Alkitab dan liturgi Kristen yang dapat disimpulkan sebagai berikut: pertama, berdasarkan teologi, prinsip, dan karakteristiknya maka blended worship adalah sebuah gaya ibadah yang berakar dan dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran Alkitab. Teologinya dibangun melalui refleksi tentang konsep ibadah dari Kel. 19-24, dan prinsip serta karakteristiknya memberikan penekanan bahwa Allah adalah pusat ibadah, dan ibadah adalah sebuah perayaan untuk memperingati karya Allah bagi manusia yang digenapi melalui Kristus. Kedua, ibadah dalam Alkitab memberikan sebuah penekanan kepada keseimbangan antara rasa dekat dan rasa hormat kepada Allah, dan salah satu tujuan kehadiran blended worship adalah menyeimbangkan hal tersebut. Ketiga, blended worship sangat menghargai tradisi yang sesuai dengan perjalanan sejarah liturgi Kristen. Ini tercermin dari penggunaan lagu-lagu himne dalam liturginya, namun juga mencoba untuk menyesuaikan dengan gaya masa kini agar dapat menjawab tantangan zaman ini. Kaum muda dalam rentang usia 18-30 tahun sedang berada dalam masa transisi dan sedang menuju tingkat kematangan. Pada masa ini ada beberapa kebutuhan yang penting, yaitu kebutuhan untuk merasa berarti, berkreativitas, berprestasi, dan intimasi. Berdasarkan karakteristik dan kebutuhan kaum muda tersebut, maka pada bagian akhir skripsi ini, penulis menyimpulkan bahwa blended worship merupakan sebuah gaya ibadah yang dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kaum muda. Gaya ibadah blended worship memaksimalkan seni dan penggunaan lagu kontemporer yang dapat memenuhi kebutuhan kaum muda untuk berkreativitas, berprestasi, serta menciptakan hubungan yang akrab antar kaum muda

    Konsistensi antara Pengajaran Calvin akan Pernikahan Kristen dan Hidup Pernikahannya

    Get PDF
    John Calvin dikenal sebagai reformator kota Geneva. Ia telah mengubah kota itu menjadi sebuah kota yang sesuai dengan idamannya. ... Salah satu tindakan reformasi yang Calvin lakukan di Geneva adalah mengubah pemikiran teologis Barat mengenai hukum-hukum yang mengatur seks, pernikahan, dan keluarga. ... Tulisan ini dimaksudkan untuk melihat konsistensi Calvin antara pengajarannya tentang pernikahan dengan kehidupan pernikahannya sendiri. Sayangnya, ia belum pernah membuat sebuah tulisan yang khusus dan lengkap membahas tentang pernikahan. Tetapi, ini bukan berarti kita tidak dapat menelusuri pemahamannya tentang pernikahan Kristen. Melalui berbagai tulisannya seperti buku-buku tafsiran dan khotbah-khotbahnya, kita masih dapat memahaminya. Sedangkan untuk mendapatkan informasi tentang kehidupan pernikahannya, kita dapat meneliti surat-surat yang ditulisnya kepada sahabat-sahabatnya. Tentu saja informasi ini memiliki keterbatasan. Namun, walaupun sedikit, kiranya dapat memberikan bayangan yang lebih bersifat personal akan seorang tokoh reformator, antara pemahaman pernikahan Kristennya dan kehidupan pernikahan yang dijalaninya

    500 tahun Yohanes Calvin : Pengetahuan tentang Allah adalah Testing Ground untuk Mengenal Manusia

    Get PDF
    Dalam artikel ini saya berusaha memaparkan sesuatu yang paling dasar dan permulaan sekali dari karya Calvin, yaitu doktrin Allah, atau lebih spesifik lagi, doktrin pengetahuan tentang Allah. Menarik sekali ia memulai pembahasan dalam Institusio-nya dari sudut ini dan bukan dimulai dari doktrin-doktrin penting lainnya (mis. Kristus, penebusan, Alkitab, atau Gereja). Sengaja di bagian awal saya mengutip perkataan Aleksandr Solzhenitsyn (11 Desember 1918–3 Agustus 2008)—seorang novelis pemenang hadiah Nobel bidang kesusasteraan tahun 1970, penulis drama dan sejarawan Rusia ternama—yang di antara berbunyi: “Men have forgotten God; that’s why all this has happened.” Saya berasumsi mirip dengan Solzhenitsyn: Di abad 21 dan era posmodernisme sekarang ini, manusia sebenarnya telah melupakan Allah; itulah sebabnya semakin banyak masalah melanda kehidupan manusia di zaman ini, baik di tingkat nasional maupun internasional. Intinya, manusia tidak mengenal Allah, atau, mengutip perkataan Calvin di awal tadi, manusia berusaha semaksimal mungkin menjauhkan diri dari pengetahuan tentang Allah yang benar itu. Maka melalui artikel ini penulis berusaha menghadirkan kembali pemahaman yang benar tentang doktrin pengetahuan tentang Allah khususnya dari perspektif Calvin, serta melihat pada aplikasinya dalam kehidupan dan pelayanan Kristen dewasa ini

    Tinjauan Kritis Terhadap Pengajaran John Wimber Tentang Tanda-Tanda dan Mukjizat-Mukjizat serta Praktiknya

    No full text

    Tinjauan Terhadap Model Dialog Antaragama yang Pluralis dari Perspektif Injili

    No full text
    Pluralisme merupakan sebuah fenomena yang tidak mungkin dihindari, Manusia hidup dalam pluralisme dan merupakan bagian dari pluralisme itu sendiri, baik secara pasif maupun aktif, tak terkecuali dalam hal keagamaan. Setiap agama muncul dalam lingkungan yang plural dan membentuk dirinya sebagai tanggapan terhadap pluralisme tersebut, Pluralisme keagamaan ini jika tidak dipahami secara benar dan arif oleh pemeluk agama maka akan menimbulkan dampak, tidak hanya berupa konflik antar umat beragama, tetapi juga konflik sosial dan disintegrasi. Karena itu, dialog antaragama bukan lagi sebuah pilihan tetapi menjadi undeniable law for human beings bahkan menjadi world’s compass untuk menciptakan wajah dunia yang lebih damai, adil, beradab, berperikemanusiaan dan religius. Berdasarkan pemahaman akan pentingnya dialog antaragama, maka penulis dalam skripsi ini memfokuskan penelitian pada model dialog yang pluralis. Model dialog ini antara lain: Model Pemenuhan {Fulfdlment model) yaitu model yang mewakili posisi inklusif yang menyatakan bahwa “yang satu menyempumakan yang lain” {the one fulfils the many) namun dalam teologinya tidak berbeda jauh dengan posisi pluralis; MoJe/ Mutualitas {Mutuality model) yaitu model yang mengakui kebenaran dan kesetaraan dari berbagai agama sehingga “banyak agama terpanggil untuk berdialog” {many true religions called to dialogue)', dan model Penerimaan {Acceptance model) yaitu model yang menerima keberagaman dan diversitas agama sehingga model ini mempunyai perspektif bahwa “banyak agama yang benar: biarlah begitu” {many true religions: so be it). Selain itu, penulis juga memaparkan model Penggantian {Replacement model) sebagai model dialog yang injili, yaitu model yang bersifat eksklusif karena mengakui dan menerima bahwa “hanya ada satu agama yang benar” {only one true religion). Setelah melakukan analisis terhadap ortodoksi dan ortopraksi dari model-model dialog yang pluralis, serta mempelajari pemikiran dari tokoh-tokoh utama dari setiap model, penulis mendapati bahwa model dialog yang pluralis merupakan model dialog yang sangat toleran sehingga akhirnya mengkompromikan bahkan mereduksi hampir semua kebenaran iman Kristen sehingga kekristenan kehilangan keunikannya. Namun, model dialog yang injili sebagai model yang seharusnya lebih alkitabiah, justru jatuh ke ekstrem yang lain dengan eksklusivisme yang radikal. Karena itu, penulis mengusulkan model Akomodatif Model ini berusaha untuk tidak jatuh pada salah satu titik ekstrem tetapi berusaha merembeskan injil secara berhikmat dalam masyarakat pluralistik sekarang ini. Selain itu, model ini membuat kekristenan bisa bergerak lebih jauh memasuki ranah sosial, politik, budaya, ekonomi, ekologi, perdamaian dunia, dan berbagai permasalahan kemanusiaan lainnya

    Fenomena Buku The Secret, A New Earth dan Spiritualitas ala Oprah Winfrey : Bagaimanakah Gereja Menyikapinya?

    Get PDF
    Dalam tulisan singkat ini, kita akan menyorot ke dalam filsafat The Secret dan A New Earth, secara khusus konsep tentang realitas tertinggi (Allah) dan kaitannya dengan alam semesta serta manusia. Khusus untuk buku TS, pembicaraan agak diperluas dengan hukum tarik menarik untuk memberikan wawasan sekilas bagi pembaca. Selanjutnya, penulis akan menyampaikan sebuah perspektif perbandingan antara TS dan A New Earth dengan ajaran Alkitab, yang akan dilanjutkan dengan analisa kritis terhadap filsafat dan teologi dalam kedua buku tersebut. Pada bagian penutup, penulis akan memberikan beberapa rekomendasi bagi gereja dalam menyikapi tren spiritualitas ala Oprah Winfrey

    Karakteristik Gembala yang Disukai Tuhan (Yeh. 34:1-16)

    Get PDF
    Naskah khotba

    Pantaulah Sekitarmu Demi Kerajaan Allah (2Raj. 4:8-37, 8:1-6)

    No full text
    Naskah khotbah

    Tinjauan Atas Pembentukan Karakter Daud Dalam Narasi Pelariannya dan Relevansinya Bagi Pelayanan Hamba Tuhan

    No full text
    Berdasarkan panggilan mulia yang diterimanya, setiap hamba Tuhan seharusnya dapat menjadi figur teladan yang memberikan kesaksian positif bagi orang-orang yang dilayaninya. Namun, dalam realita pelayanan, didapati adanya problema-problema pelik dalam kehidupan bergereja yang menjadi suatu batu sandungan bagi jemaat dan menimbulkan keprihatinan mendalam atas sosok hamba Tuhan yang melayani. Salah satu faktor yang menjadi pemicu permasalahan tersebut adalah karakter dan kepribadian yang dimiliki hamba Tuhan. Pemahaman mengenai pentingnya karakter dan kepribadian dalam dinamika pelayanan hamba Tuhan patut mendapatkan perhatian yang serius. Untuk mendapatkan suatu model pembelajaran akan hal karakter dan kepribadian ini, maka kehidupan Daud dapat menjadi salah satu contoh. Daud menerima sebutan sebagai “seseorang yang berkenan di hati Allah.” Sebutan ini mengandung makna positif yang mengindikasikan adanya kualitas-kualitas dalam diri Daud yang patut untuk diperhatikan. Melalui masa-masa pelariannya, baik dari Saul (1 Samuel 20-30) maupun dari Absalom (2 Samuel 15-19) dan dengan peristiwa-peristiwa yang diwamai jatuh bangun dalam iman, Daud mengalami pembelajaran indah bersama Allah yang membentuk karakter dan kepribadiannya, seturut dengan gelar mulia yang diperolehnya. Dalam penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa gelar mulia tersebut diperoleh oleh Daud bukan karena adanya sesuatu yang luar biasa dalam karakternya melainkan semata-mata karena anugerah Allah yang mau membentuk karakter dan kepribadiannya. Menanggapi hal ini, maka dapat timbul secercah harapan dalam diri para hamba Tuhan untuk memperoleh gelar mulia yang dapat dianugerahkan Allah bagi mereka yang melayani-Nya pada zaman ini. Menyadari pentingnya pemahaman yang holistik atas pembahasan karakter ini, maka penelitian ini mengikutsertakan tinjauan dari aspek psikologi, pastoral, dan praktika, yang dapat memperlengkapi berbagai informasi dan pemahaman yang telah diperoleh dari Alkitab. Diharapkan bahwa pembahasan ini dapat memberikan sumbangsih berarti yang menimbulkan semangat, harapan, dan arahan bagi para hamba Tuhan untuk memiliki karakter yang berkenan di hadapan Allah dalam kehidupan mereka sendiri

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇