STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Studi Terhadap Metode Pengajaran Yesus Melalui Perumpamaan di Dalam Injil Sinoptik dan Aplikasinya di Dalam Pengajaran yang Efektif di Sekolah Minggu

    No full text
    Guru merupakan ujung tombak dari sebuah Sekolah Minggu. Sebab itu seorang guru Sekolah Minggu hams memperhatikan dan mempersiapkan diri sebaik mungkin di dalam pengajarannya. Fokus utamanya adalah murid-muridnya, hal-hal apa yang dapat membuat mereka bertumbuh di dalam kerohanian. la hams belajar dan terns belajar untuk memperlengkapi diri di dalam mengajar dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan mengevaluasi metode pengajaran yang selama ini dipakai, apakah efektif atau tidak bagi murid-muridnya. Jikalau tidak, maka ia hams memperbaikinya dengan belajar metode yang bam dan mengkontekstualisasikan dengan kondisi Sekolah Minggunya. Sebuah metode pengajaran yang efektif di sebuah Sekolah Minggu belum tentu efektif bagi Sekolah Minggu lairmya karena ada banyak faktor yang hams diperhatikan. Seorang guru Sekolah Minggu dapat belajar dari banyak sumber untuk menambah keefektifan pengajarannya, yang terutama adalah dari Yesus sang Guru Agung. Mempelajari cara Yesus mengajar merupakan hal yang sangat menarik karena pengajaran-Nya sangat bervariasi dan fleksibel. Dari Injil Sinoptik, dapat dipelajari metode-metode yang dipakai Yesus di dalam mengajar, salah satunya adalah melalui perumpamaan. Pemmpamaan mempakan suatu metode pengajaran yang menarik dan banyak dipakai pada zaman itu oleh para rabi, namun ada perbedaan yang kontras antara Yesus dan para rabi. Yesus menggunakan perumpamaan untuk mengajarkan kebenaran- kebenaran bam. la menggunakannya dengan berbagai bentuk pemmpamaan, tidak berpatok pada satu bentuk misalnya dengan bentuk cerita, metafora, atau simile. Pemmpamaan-perumpamaan-Nya kadang singkat hanya beberapa kalimat, kadang panjang dengan bentuk suatu cerita yang utuh. Sebagai storyteller, la dapat menarik perhatian banyak orang dengan pemmpamaan-Nya. Ia menggunakan hal-hal yang biasa terjadi di dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang banyak dapat mengerti pemmpamaan-Nya dengan mudah, akan tetapi untuk makna yang lebih dalam yang menjadi inti pengajaran-Nya hams direnungkan dan diterima dengan iman. Bukan hanya orang-orang yang percaya kepada-Nya mengakui-Nya sebagai “gum” tetapi juga para musuh seperti para ahli Taurat, imam-iman dan orang Farisi. Metode yang dipakai Yesus tidak akan pemah ketinggalan zaman bahkan akan tetap signifikan dan relevan bagi zaman ini. Karena itu sudah sepatutnya bagi seorang guru Sekolah Minggu belajar dari- Nya sehingga dapat menjadi guru yang efektif bagi murid-murid Sekolah Minggu

    Signifikansi Kontekstualisasi Injil Dalam Praktik Misi Rasul Paulus di Gereja Methodist Sarawak

    No full text

    Pemahaman Teologis Kepemimpinan Yosafat dan Relevansinya Bagi Kepemimpinan Kristen Dalam Mengupayakan Good Governance di Indonesia

    No full text
    Krisis multidimensi yang melanda Indonesia hingga saat ini tidak dapat dilepaskan dari persoalan kepemimpinan. Bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan yang berkepanjangan, di mana pada masa kini begitu sulitnya untuk menemukan pemimpin yang dapat dipereaya. Berbagai kasus para pejabat yang mengemuka, menunjukkan betapa terpuruknya wajah kepemimpinan bangsa. Kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme seakan sudah menjadi trade mark yang identik dengan birokrasi, pejabat negara, bahkan di semua jajaran pemerintahan. Sektor swasta pun tidak ketinggalan turut mengambil bagian dalam berkolaborasi dengan oknum aparat pemerintah dalam mengeruk keuntungan, kekayaan, dan materi yang sebesar- besarnya. Padahal, di sisi yang lain sebagian rakyat Indonesia masih hidup dalam kemiskinan, pendidikan rendah, tidak mendapatkan keadilan, dan berbagai persoalan lainnya. Belum lagi, kasus moral yang juga tidak jauh dari kehidupan para pemimpin- pemimpin, semakin menambah daftar keterpurukan kepemimpinan di Indonesia. Semuanya ini pun akibatnya berdampak kepada kinerja dan kualitas pengelolaan negara. Yosafat sebagai seorang raja yang berkuasa di Yehuda, adalah salah seorang raja yang berhasil dalam memimpin bangsanya. la berhasil membawa Yehuda kepada puncak kejayaan, hal ini tampak melalui kemakmuran ekonomi, ditegakkannya keadilan dan keamanan, perhatiarmya terhadap pendidikan, pemerintahan yang bersih, dan spiritualitas bangsanya yang baik. Kunci dari semua keberhasilan kepemimpinannya adalah adanya pengenalan dan rasa hormat kepada Allah yang disembahnya dan juga kecintaannya kepada Taurat Tuhan sebagai penuntun hidup; serta melalui sebuah proses yang panjang dalam pembentukannya sebagai seorang raja. Kepemimpinan Yosafat adalah sebuah model yang sangat pantas untuk dapat dijadikan teladan bagi kepemimpinan Kristen di Indonesia dalam kontribusinya mengupayakan terciptanya sebuah pemerintahan yang baik {good governance). Sebuah pemerintahan yang akan membawa rakyat Indonesia kepada kejayaan, kehidupan adil dan makmur. Di tengah-tengah terpuruknya kepemimpinan di Indonesia, maka orang Kristen sebagai umat yang telah ditebus, diharapkan mampu untuk turut memberikan warna dan pengaruh kepada kepemimpinan yang ada. Melalui tulisan ini, penulis akan meninjau pemahaman teologis kepemimpinan Yosafat yang berdampak kepada kebijakan-kebijakan pemerintahannya, kemudian merelevansikannya terhadap kepemimpinan Kristen di Indonesia dalam perannya sebagai garam dan terang dunia

    Evaluasi terhadap Teologi Pluralisme Agama Stanley Samartha

    No full text
    Teologi pluralisme agama menjadi sebuah pilihan yang menarik di era globalisasi. Di era ini, orang-orang Kristen hidup di dalam masyarakat yang majemuk. Seiring dengan ramainya migrasi penduduk dari Selatan ke Utara dan dari Timur ke Barat, kemajemukan agama ditemukan bahkan di negara-negara Barat yang dulu dianggap homogen. Sejalan dengan ini, teologi pluralisme agama yang menganggap bahwa semua agama membawa orang-orang kepada satu realitas ilahi menjadi pilihan yang menarik karena dianggap demokratis dan toleran. Karena itu, penulis mencoba menganalisis teologi pluralisme agama, khususnya pada diri teolog Samartha dan akan mengevaluasi apakah teologinya sampai pada tujuannya yaitu toleran terhadap agama-agama itu sendiri dan cukup kokoh secara intelektual. Penulis akan membagi artikel ini ke dalam tiga bagian besar: pemaparan tentang latar belakang Samartha, pemaparan tentang teologinya, dan evaluasi terhadap teologi pluralisme agama Samartha

    Pandangan Apologetika Presaposisional Kristen Terhadap Problem Penderitaan Orang Kristen

    No full text
    Penderitaan adalah suatu pergumulan yang umum dan nyata bagi semua orang baik orang percaya maupun orang tidak percaya. Penderitaan menimbulkan pertanyaan- pertanyaan yang ditujukan kepada Allah dan manusia. Banyak tokoh Kristen dan non- Kristen yang mempertanyakan dan mempresaposisikan tentang penderitaan. Pertanyaan- pertanyaan yang biasanya muncul adalah mengapa Allah mengizinkan adanya penderitaan?; apakah Allah kontradiksi terhadap dirinya sendiri?; mengapa penderitaan itu dapat terjadi pada dirinya?; dan apa yang Allah kehendaki manusia lakukan dalam penderitaan? Dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul dapat dikategorikan menjadi dua sudut pandang yaitu manusia melihat Allah dan manusia melihat dirinya sendiri. Namun, tidak menutup kemungkinan ada pertanyaan yang ambiguitas atau membingungkan yang sulit untuk dipresaposisikan. Karena itu, diperlukan suatu apologetika dan dalam hal ini penulis menggunakan apologetika Kristen dengan presaposisionalis. Apologetika Kristen adalah tugas dari teologi yang member! pembelaan atau pertanggungan jawab dan penantangan yang mempertanyakan kejadian-kejadian dalam dunia ini. Apologetika Kristen ditujukan bagi setiap orang Kristen. Tugas apologetika adalah tugas dari teologia yang hadir dalam setiap budaya berdasarkan mandat dalam 1 Petrus 3:15-16. Presaposisionalis adalah suatu istilah yang digunakan oleh Cornelius Van Til untuk mengindikasikan peran yang seharusnya dimainkan oleh wahyu ilahi dalam pemikiran manusia. Wahyu ilahi terdapat dalam Alkitab sebagai firman Tuhan sebagai fondasi setiap orang percaya dalam berapologetika yang dinyatakan dalam 2 Timotius 3:16-17 dan Roma 1:16-17. Melalui dasar ini, penulis akan memaparkan dan meninjau secara kritis tentang presaposisi yang berkaitan dengan problem penderitaan Presaposisi penderitaan dapat didasarkan pada tiga sudut pandang: pertama manusia melihat penderitaan dari sudut pandang Allah, dapat bersifat positif dan negatif. Sisi positif, di mana bagi setiap orang yang menderita akan ada pengharapan karena Allah yang akan mengakhiri penderitaan dan ada nilai eskatologis. Namun dari sisi negatif, mereka yang menderita melihat Allah sebagai penyebab penderitaan. Kedua, manusia melihat penderitaan dari sudut pandang diri sendiri, dengan menyadari bahwa adanya penderitaan dikarenakan adanya realita dosa asal dari Adam dan Hawa (Kej. 3). Manusia menderita karena telah berdosa dan penderitaan sebagai akibat dari dosa. Ketiga, adanya penderitaan yang sangat berat menimbulkan pertanyaan dan kebingungan dalam mempresaposisikan. Presaposisi penderitaan yang mungkin telah menimbulkan ambiguitas atau inkonsistensi ini, sesungguhnya jika didasarkan di dalam keseluruhan ajaran firman Tuhan maka tidak akan menimbulkan ambiguitas atau inkonsistensi

    Kegagalan Imam Dalam Menjalani Imamat Dalam Kitab Maleakhi dan Implikasinya Bagi Hamba Tuhan Dalam Menjalankan Imamat Pada Masa Kini

    No full text
    Kitab Maleakhi merupakan kitab yang memiliki keunikan dalam gaya penulisan, yang berbeda dengan kitab nabi kecil lainnya. Kitab ini disusun oleh Maleakhi dengan gaya penulisan yang berisi enam macam perbantahan. Enam macam perbantahan ini berisi teguran atas dosa Israel dan juga disertai dengan janji dari Allah bagi mereka yang bertobat. Dosa Israel mencakup 4 macam, yaitu kelalaian imam dalam melakukan pengajaran, pemikahan campur, kelalaian dalam pemberian perpuluhan dan persembahan serta ibadah yang diselewengkan. Keempat dosa tersebut ditemukan juga di dalam zaman sekarang ini. Ada beberapa kasus terjadi yang memaparkan bagaimana seorang hamba Tuhan mengajarkan ajaran sesat kepada para jemaatnya. Selain itu, tidak sedikit hamba Tuhan yang ditemukan melakukan kasus-kasus yang berat seperti perselingkuhan dengan wanita lain, kelalaian dalam mengusahakan ibadah yang sakral dan pencurian uang persembahan gereja. Tentunya kasus-kasus tersebut menjadi batu sandungan bagi setiap jemaat yang mengamati dan mengetahuinya. Agar kasus-kasus tersebut tidak terjadi lebih banyak lagi, maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh hamba Tuhan sebagai langkah preventif. Pertama, setiap hamba Tuhan hams menjaga relasi pribadinya dengan Tuhan baik itu melalui doa, persekutuan dan pembacaan firman Tuhan. Kedua, setiap hamba Tuhan tidak boleh melalaikan pengajaran baik itu bersifat doktrinal maupun praktis yang relevan bagi kehidupan jemaat dan beribadah. Terakhir adalah hamba Tuhan dituntut memiliki kesaksian hidup dan menjadi teladan yang baik dalam pemikahan dan pengelolaan keuangan

    Teologi Pemuridan dan Implikasinya Terhadap Pemuridan Masa Kini : Menyimak Perintah-Perintah Yesus di Dalam Injil Markus

    No full text
    Stagnasi multiplikasi pemuridan masa kini ditandai dengan banyaknya kelompok yang macet, gugumya beberapa nama anggota KTB di tengah jalan dan masalah adanya anggota kelompok yang tidak bertumbuh dan tidak memiliki kerinduan untuk memuridkan, sehingga kurang terjadi kontinuitas dalam pelipatgandaan proses pemuridan. Kondisi stagnasi ini perlu mandapat perhatian yang besar. Solusi bagi stagnasi ini adalah pemimpin masa kini hams belajar dari Sang Gum Agung dan bergantung sepenuhnya kepada Dia. Pemimpin masa kini hams memiliki hati Kristus dan meneladani bagaimana la membentuk murid-murid-Nya. Keteladanan Yesus membentuk murid-murid-Nya tampak di dalam teologi pemuridan Injil Markus. Teologi pemuridan yang berpijak dari menyimak perintah-perintah Yesus di dalam Injil Markus, menjadi sorotan dalam penulisan ini. Implikasi teologi pemuridan di dalam pemuridan masa kini akan menghasilkan murid-murid yang setia mengerjakan misi Kristus. Dengan demikian, pemuridan akan terns dikerjakan dalam generasi ini dan kepada generasi-generasi berikutnya

    Pengaruh Pascamodernisme terhadap Hermeneutika Biblika

    Get PDF
    “There is a spectre haunting classical Christianity, that of postmodernism,” demikian R. Albert Mohler, Jr. mengawali artikelnya yang dimuat dalam sebuah antologi yang bertemakan “tantangan pascamodernisme bagi kekristenan injili.” Pendapat Mohler tersebut adalah sebuah fakta yang tidak dapat disangkal bahwa pengaruh (negatif) pascamodernisme merupakan ancaman bagi kekristenan, termasuk di dalam ranah hermeneutika. Menurut Roy B. Zuck, hermeneutika adalah “sains sekaligus seni” dalam menafsir Alkitab. Hermeneutika, di satu sisi adalah sains karena ia adalah teknik menafsir Alkitab dengan mengikuti kaidah-kaidah tertentu, di sisi lain ia juga adalah seni karena melibatkan imajinasi dan perasaan penafsir, serta membutuhkan keterampilan penafsir untuk menerapkan kaidah-kaidah penafsiran tersebut. Namun, herme-neutika tidak berhenti pada teknik menafsir Alkitab; hermeneutika juga harus mengaplikasikan hasil penafsiran tersebut pada situasi kontemporer. Selain sains dan seni, Osborne menambahkan satu unsur lagi dalam hermeneutika, yaitu tindakan spiritual (spiritual act karena menurutnya, penafsiran Alkitab dilakukan di bawah pimpinan Roh Kudus). Sehubungan dengan adanya pengaruh pascamodernisme terhadap hermeneutika biblika, artikel ini akan menjawab beberapa pertanyaan berikut ini: (1) Apa saja dan sejauh mana pengaruh (negatif) pascamodernisme terhadap hermeneutika? (2) Bagaimana seharusnya kita menghadapi pengaruh-pengaruh tersebut? (3) Apakah pascamodernisme hanya berdampak negatif? Adakah sumbangsih positif dari pascamodernisme bagi hermeneutika biblika

    Peran Kekristenan dalam Pendamaian : Refleksi dari Surat Filemon tentang Kekerasan Tersistem

    Get PDF
    Dalam artikel ini, saya ingin menguraikan peran kekristenan dalam menciptakan kedamaian dalam suatu kekerasan yang tersistem. Peran kekristenan dalam situasi ini tampak melalui usaha Paulus mendamaikan Onesimus dengan Filemon (lapisan luar), di mana keduanya ada dalam suatu hubungan kekerasan tersistem yaitu: perbudakan (lapisan dalam). Oleh sebab itu, saya akan membuktikan bahwa pendamaian yang dilakukan Paulus adalah pendamaian yang bukan saja dalam konteks hubungan pribadi antara Filemon dengan Onesimus, tetapi juga pendamaian dalam konteks perbudakan masyarakat Greco-Roman waktu itu. Karena itu, tugas pertama adalah memperlihatkan bahwa perbudakan adalah sebuah kekerasan tersistem. Untuk ini metode yang dipakai adalah dengan menganalisis data di luar Alkitab mengenai perbudakan. Ini disebabkan karnea minimnya data dari Paulus tentang perbudakan selain dari surat Filemon, sedangkan data dari para penulis PB lainnya tidak relevan dalam bahasan ini karena tidak memberitahu apa pandangan Paulus tentang itu. Lebih lanjut, dalam surat Filemon, Paulus tidak memberikan satu pernyataan pun tentang apakah ia menerima, mendiamkan atau menolak perbudakan. Data di luar Alkitab yang paling diperhatikan adalah sosial ekonomi masyarakat Greco-Roman pada awal kekristenan dalam hubungannya dengan perbudakan. Lalu, tugas kedua yang perlu ialah memperlihatkan bahwa usaha pendamaian Paulus itu dimulai dari sistemnya, lalu keluar—ditransformasi—yang tampak dalam retorika Paulus untuk akhirnya Filemon dapat berbaik kembali dengan Onesimus. Karena itu, saya akan menggunakan analisis sastra-retoris terhadap surat Filemon. Dari analisis ini pula, saya akan menyediakan hal-hal praktis yang dapat dilakukan dalam proses pendamaian masa kini. Saya berharap melalui uraian ini, kita bisa menemukan identitas keinjilian kita sebagai “pembawa damai” (pada lapisan dalam dan luar) sebagaimana yang dikehendaki Tuhan Yesus terjadi pada anak-anak Kerajaan Allah

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇