STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Doktrin Pembenaran Katolik Roma Versi Konsili Trente dan Implikasinya Bagi Relasi Protestan-Katolik Masa Kini

    No full text
    Gereja Katolik mengadakan Konsili Trente untuk merespons gerakan reformasi. Konsili ini dibuka pada 13 Desember 1545 dan seringkali dianggap sebagai bagian dari reformasi Katolik atau kontra-reformasi (gerakan yang membendung meluasnya pengaruh Protestantisme dalam zaman reformasi). Salah satu keputusan yang amat keras diambil oleh gereja Katolik pada masa itu, yaitu penggunaan istilah ^''Anathema Sit,” yang berarti “terkutuklah ia.” Mengacu kepada hal-hal di atas, maka bagi siapa saja (kaum Protestan) yang menilai Konsili Trente maka akan muncul anggapan-anggapan negatif terhadap Konsili Trente dan terhadap gereja Katolik. Namun demikian, pemyataan Francis Beckwith menggugah penulis untuk kembali menyelidiki keputusan-keputusan di dalam Konsili Trente. Beckwith menyatakan bahwa umat Kristen perlu untuk meninjau ulang hasil-hasil di dalam Konsili Trente, khususnya yang berkenaan dengan doktrin pembenaran. Beckwith mempertanyakan dasar kebenaran reformasi, yaitu isu doktrin pembenaran, karena doktrin pembenaran adalah doktrin yang signifikan di dalam relasi Protestan dan Katolik. Secara umum, diyakini ada diskontinuitas antara Luther dan Aquinas atau Luther dan Konsili Trente. Namun, apabila hubungan Luther-Aquinas atau Luther-Trente diletakkan dalam konteks historis yang tepat, maka akan terlihat kontinuitas pemahaman dalam doktrin pembenaran di antara keduanya. Penyelidikan secara teliti terhadap studi historis ini membuktikan bahwa isu diskontinuitas tidaklah sebanyak seperti yang umumnya diyakini. Kesamaan doktrin pembenaran antara Protestan dan Katolik-yang diwakili dalam Konsili Trente oleh Aquinas-menunjukkan adanya pemulihan teologis yang tidak kecil di dalam konteks relasi Protestan dan Katolik. Ide justification by faith yang telah digunakan oleh Luther untuk menghancurkan tembok-tembok gereja Katolik telah membuat mereka mereformasi diri mereka sendiri, yaitu dengan memiliki pemahaman yang sama dengan Luther atau kaum Protestan

    Signifikansi Tanda dan Mukjizat Bagi Jemaat Mula-Mula dan Implikasinya Terhadap Pandangan Cessasionis Tentang Fenomena Kemukjizatan Masa Kini

    No full text
    Salah satu penyataan kuasa Allah kepada umat manusia dari zaman ke zaman dilakukan melalui berbagai tanda dan mukjizat. Sejak zaman PL, Allah berkarya lewat para nabi bahkan Allah secara langsung menyatakannya. Sampai pada zaman PB, kuasa supranatural ilahi dinyatakan di dalam pelayanan Yesus Kristus dan dilanjutkan oleh para murid Kristus. Ini menunjukkan suatu kesinambungan dari pekerjaan Allah di dalam memelihara kehidupan umat-Nya. Penyataan ini hendak menegaskan bahwa Dia adalah Tuhan atas segala ciptaan-Nya, termasuk manusia. Kesinambungan fenomena-fenomena supranatural dalam PL dapat dilihat dalam beberapa periode, yaitu: pertama, periode Keluaran (Musa), yaitu penebusan umat Israel dari tanah Mesir sampai bangsa Israel memasuki tanah Kanaan; kedua, periode Elia dan Elisa, di mana periode ini hendak membuktikan siapakah Allah yang sejati, antara Allah Yahweh dan para Baal; dan ketiga, periode pembuangan, di sini Allah membuktikan bahwa Ia adalah Allah yang berkuasa atas para ilah yang disembah oleh bangsa kafir, khususnya pada zaman Daniel dan kawan-kawannya. Dalam PB, penyataan kuasa tanda dan mukjizat tidak dapat dipisahkan dari pelayanan Kristus. Injil Sinoptik dan Yohanes mencatat perbuatan-perbuatan ajaib dari Tuhan Yesus Kristus untuk menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan. Pola ini terus dipraktikkan oleh murid-murid-Nya dalam pekerjaan pemberitaan injil. Hasilnya, banyak orang yang menjadi percaya dan menjadi pengikut Kristus, sehingga terbentuk suatu komunitas yang beribadah kepada Tuhan, yaitu jemaat mula-mula. Pencurahan Roh Kudus pasca kenaikan Kristus menjadi sebuah titik tolak kebangkitan dan berkembangnya jemaat ini, di tengah tantangan dunia yang melanda umat Tuhan. Berbagai tanda dan mukjizat cukup memiliki peranan dalam mendorong pertumbuhan jemaat mula-mula. Fenomena ini dapat dilihat sebagai sebuah model yang sangat baik dalam penginjilan, yaitu penginjilan plus kuasa. Akan tetapi, ini menjadi akar perdebatan yang bersifat teologis, yaitu menyangkut segala bentuk fenomena kemukjizatan masa kini. Aliran Pentakosta, Karismatik dan Gerakan Gelombang Ketiga mendapat tentangan dari beberapa kaum injili, menyangkut pengejawantahan fenomena kemukjizatan dalam jemaat. Cessasinois mewakili golongan injili yang menolak segala bentuk fenomena yang diklaim sebagai manifestasi karunia Roh Kudus masa kini. Mereka menganggap semuanya telah berakhir sejak zaman para Rasul. Perdebatan ini hanya bisa dijawab dengan kebenaran firman Tuhan, yang merupakan otoritas tertinggi dalam menafsirkan segala bentuk karunia-karunia Roh Kudus

    Mengubah Air Filsafat Menjadi Anggur Teologi

    Get PDF
    Apakah peran filsafat dalam teologi? Pemakaian filsafat dalam disiplin teologi memiliki sejarah yang panjang dan seringkali diterima dengan rasa curiga dan was-was. Kutipan di atas diambil dari salah satu tulisan Thomas Aquinas, seorang tokoh utama dalam sejarah Gereja di Abad Pertengahan, yang terkenal karena tafsirannya terhadap tulisan-tulisan filsuf besar Yunani, Aristoteles, dan karena usahanya untuk memakai filsafat dalam teologi. Pada akhirnya, di mata sebagian besar orang Kristen, Aquinas lebih diingat sebagai seorang filsuf ketimbang seorang teolog, apalagi penafsir Alkitab. Padahal jabatan yang diemban oleh Aquinas semasa hidupnya adalah sebagai baccalaureus biblicus dan magister in theologia. Khususnya di kalangan kaum injili, Aquinas memiliki reputasi yang kurang baik karena dianggap telah mencemari kemurnian injil atau teologi Kristen dengan racun pemikiran manusia atau filsafat. Kebalikan dari kesimpulan Aquinas sendiri sebagaimana yang ia ungkapkan dalam kutipan di atas, Aquinas justru sering dipakai sebagai contoh tentang bentuk penculikan teologi Kristen ke dalam ranah filsafat yang asing bagi injil. ... Di dalam tulisan yang tidak terlalu panjang ini, lewat pengamatan terhadap dua tokoh dalam sejarah Gereja, saya ingin mengajak pembaca untuk mempelajari kaitan dan peran filsafat dalam teologi. Tulisan ini bermaksud untuk membandingkan pemakaian filsafat oleh Thomas Aquinas dan oleh John Calvin. Tulisan ini juga bertujuan untuk menjawab kesalahpahaman umum terhadap kedua tokoh ini. Yang pertama (Aquinas) sering dianggap telah mencemari teologi Kristen dengan filsafat; yang kedua (Calvin) seringkali diabaikan dalam diskusi tentang peran filsafat dalam teologi. Kedua asumsi ini perlu diluruskan dengan tujuan untuk mempelajari dengan benar warisan pemikiran Kristen tentang kaitan antara filsafat dan teologi

    Konsep "Takut Akan Allah" Dalam Pengkhotbah 11:7 - 12:14 dan Relevansinya Dengan Etika Muda-Mudi Kristen Masa Kini

    No full text
    Kehidupan muda-mudi adalah suatu kehidupan yang dipenuhi dengan problematika. Secara khusus di zaman postmodern ini, muda-mudi melakukan segala sesuatu sesuka hati mereka. Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan anak muda secara umum, tapi juga di kalangan muda-mudi Kristen. Realita menunjukkan bahwa muda-mudi Kristen masa kini juga tidak lagi hidup sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Karena itu, muda-mudi Kristen hams dibawa kembali kepada pengertian yang benar akan firman Tuhan dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu kebenaran firman Tuhan yang perlu dipahami dengan benar oleh muda-mudi Kristen adalah konsep "takut akan Allah." Berdasarkan Pengkhotbah 11:7-12:14, maka konsep "takut akan Allah" terkait dengan dua hal. Pertama, terkait dengan hal rohani. "Takut" dapat berarti sebuah penghormatan atau penyembahan. Dengan demikian, manusia yang adalah ciptaan hams hidup dalam penghormatan dan penyembahan kepada Allah Sang Pencipta. Kedua, terkait dengan hal sekular. "Takut akan Allah" berlaku dalam segala aspek kehidupan manusia. Sehingga, dalam kehidupan sekular pun, Allah dengan segala perintah dan larangan- Nya hams diperhitungkan. "Takut akan Allah" adalah sebuah tindakan memperhitungkan Allah. Dalam kehidupan muda-mudi Kristen saat ini, terdapat banyak di antara mereka yang tidak hidup "takut akan Allah." Bagi sebagian mereka, berbicara tentang Allah hanya di gereja saja. Sedangkan dalam kehidupan sekular, Allah tidak perlu diperhitungkan. Dengan demikian, tidak heran jika pergaulan dan gaya hidup muda-mudi Kristen masa kini, tidak ada bedanya dengan muda-mudi non-Kristen. Karena itu, pengajaran, pemahaman dan penanaman konsep "takut akan Allah" bagi muda- mudi Kristen masa kini adalah sesuatu yang relevan. Konsep "takut akan Allah" hams dipraktikkan oleh muda-mudi Kristen masa kini, dalam segala aspek kehidupan mereka, termasuk dalam pergaulan dan gaya hidup. Dengan demikian, maka kehidupan muda-mudi Kristen tidak lagi sama dengan muda-mudi non-Kristen

    Ketimpangan Pengajaran Peranan Allah Tritunggal Dalam Doa Orang Kristen Masa Kini Diperbandingkan Dengan Pengajaran Peranan Allah Tritunggal Pada Doa Yohanes Calvin

    Get PDF
    Doktrin Allah Tritunggal merupakan doktrin esensial dalam kekristenan, sedangkan doa merupakan salah satu bentuk spiritualitas utama bagi orang Kristen. Namun, kedua hal tersebut tidak terintegrasikan satu dengan yang lain, karena orang- orang percaya tidak memahami secara utuh dan komprehensif tentang doktrin tersebut. Padahal, pengetahuan yang benar mutlak diperlukan untuk membangun spiritualitas yang benar. Penyebabnya adalah literatur doa masa kini tidak memberikan pengajaran yang utuh tentang doktrin tersebut, juga adanya ketimpangan pengajaran dalam sejarah teologi. Karena itu, pengajaran Calvin mengenai peranan Allah Tritunggal dalm doa menjadi standar pengajaran yang baik untuk diaplikasikan dalam kehidupan doa orang Kristen. Sejarah teologi menunjukkan penyimpangan pengajaran dari beberapa teolog mengenai Allah Tritunggal yang terlalu berpusat pada salah satu pribadi, sehingga menghasilkan kehidupan doa yang timpang. Demikian juga dari literatur-literatur doa yang hanya memberikan pemahaman tentang kaitan doa dengan Allah secara umum. Teologi Calvin mengenai doa menjabarkan secara utuh peranan dari pribadi Allah Tritunggal. la mendasarkannya pada analisis eksegetikal Alkitab yang cermat sehingga teologi yang dibangun dapat dipertanggungjawabkan. Teologinya juga patut menjadi patokan karena telah dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan doa pribadinya. Setelah melakukan perbandingan antara ketimpangan pengajaran tentang peranan Allah Tritunggal dengan teologi doa Calvin, maka integrasi yang seharusnya terjadi adalah Allah Tritunggal menjadi dasar doa dari orang-orang percaya. Ketiga pribadi itu bekerja bersama untuk memampukan mereka menaikkan doa yang benar dan berkenan kepada Allah yang benar. Doa mereka juga harus ditujukan kepada Allah Tritunggal, bukan hanya berpusat kepada salah satu pribadi saja, karena ketiganya adalah pribadi yang berbeda namun memiliki esensi dan natur ilahi yang sama. Sikap gereja dalam mengatasi ketimpangan tersebut adalah memberikan pengajaran yang utuh dan komprehensif mengenai Allah Tritunggal secara umum, kemudian diintegrasikan dalam kehidupan doa sebagai topik yang lebih spesifik. Hal itu dapat dimulai dengan menyusun dan menjalankan program dalam satu jangka waktu tertentu dengan merujuk kepada tema tersebut

    Hubungan Yesus-Petrus dan Signifikansinya Bagi Integritas dan Akuntabilitas Pemimpin Kristen Masa Kini

    Get PDF
    Setiap pemimpin Kristen sejatinya adalah manusia berdosa yang dipilih dan dipanggil untuk diselamatkan dan mendapat anugerah untuk melayani Tuhan. Transformasi hidup terjadi ketika terjadi peralihan dalam diri seorang pemimpin Kristen yakni dari seorang yang mengandalkan diri sendiri menjadi seorang yang mengandalkan kekuatan dan kuasa Allah dalam menjalani kehidupan. Namun dalam perjalanan mempertahankan integritas diri sebagai orang yang telah diselamatkan dan mendapat anugerah untuk melayani Tuhan, seorang pemimpin Kristen dapat jatuh dalam menghadapi godaan dan dosa. Hilangnya kebergantungan pada Allah dan tidak adanya dorongan, dukungan dan bahkan koreksi untuk selalu melakukan hal yang benar, membuat seorang pemimpin Kristen dengan mudah mengkompromikan etika moral dan kebenaran demi kepentingan dan kenyamanan diri sendiri. Petrus merupakan contoh seorang pemimpin Kristen yang integritas dirinya jatuh karena mengandalkan diri sendiri sehingga lupa bergantung kepada Allah dan tidak memiliki orang lain yang menolongnya untuk hidup berintegritas. Namun, dalam kelemahan Petrus tersebut, Yesus datang untuk menolong Petrus sebagai rekan akuntabilitas bagi Petrus. Melalui akuntabilitas Petrus menyadari kelemahannya, mengakui kemahakuasaan Yesus dan berbalik untuk bergantung penuh pada kekuatan dan kuasa Allah, sehingga Petrus tampil sebagai seorang pemimpin yang berintegritas hingga akhir hidupnya. Para pemimpin Kristen masa kini juga perlu untuk terus bergantung kepada Allah untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang berintegritas. Hal ini sangat diperlukan karena memiliki dan mempertahankan kehidupan yang berintegritas merupakan perjuangan seumur hidup melawan godaan dan dosa yang hanya bisa didapatkan oleh seorang pemimpin Kristen yang memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan. (Hubungan yang dekat dengan Tuhan bisa didapatkan apabila seorang pemimpin Kristen memiliki disiplin doa yang kuat). Selain itu, untuk mencapai kehidupan yang beritegritas seorang pemimpin Kristen perlu menjalankan akuntabilitas. Dalam akuntabilitas seorang pemimpin Kristen akan mendapatkan dorongan dan koreksi yang akan menolongnya menjalani hidup dengan konsisten. Akuntabilitas hanya dapat dilakukan apabila seorang pemimpin Kristen memiliki kerendahan hati untuk terbuka dan dikoreksi, karena koreksi akan mendorong seorang pemimpin Kristen untuk selalu berjaga atas godaan dan dosa yang mengancam integritas dirinya

    Studi Komparatif Teks-Teks Asyur Kuno Dengan Kitab Nahum dan Kontribusinya Bagi Pemahaman Latar Belakang Kitab Nahum

    No full text
    Temuan-temuan arkeologi, termasuk teks-teks Timur Dekat Kuno (TDK), dapat membantu menyediakan latar belakang politik, sosial, budaya, ekonomi dan keagamaan pada masa Alkitab ditulis. Latar belakang ini dapat diperoleh dengan melakukan studi komparatif antara temuan-temuan arkeologi dan Alkitab. Sasaran dari studi komparatif ini adalah untuk menemukan persamaan dan perbedaan antara temuan-temuan arkeologi dan Alkitab. Kajian terhadap persamaan dan perbedaan yang ada akan memberikan gambaran mengenai latar belakang Alkitab tersebut. Dalam skripsi ini, penulis melakukan studi komparatif antara teks-teks Asyur kuno dan kitab Nahum untuk memahami latar belakang kitab Nahum. Penulis memilih meneliti kitab Nahum dan teks-teks Asyur kuno, karena kedua literatur ini memiliki kaitan yang unik. Pertama, kitab Nahum ditulis pada masa kejayaan kerajaan Asyur. Kedua, genre kitab Nahum (genre nubuat) merupakan genre yang umum dalam teks-teks Asyur kuno. Dimensi yang digunakan dalam studi komparatif ini meliputi dimensi peristiwa historis, kosakata, imagery dan ikonografik. Hasil penyelidikan terhadap teks-teks Asyur kuno dan kitab Nahum mengisyaratkan adanya persamaan dan perbedaan antara kedua literatur ini. Penulis merangkum beberapa persamaan dan perbedaan yang ada di antara kedua literatur tersebut. Persamaan teks-teks Asyur kuno dan kitab Nahum adalah, pertama, kesamaan dalam penggunaan kata “orac/e” (ucapan ilahi). Kedua, kesamaan informasi mengenai kota Niniwe. Ketiga, kesamaan dalam penggambaran karakter dan kuasa ilahi. Keempat, kesamaan dalam merujuk adanya pemberontakan. Kelima, kesamaan catatan penaklukan Tebe. Keenam, kesamaan dalam menggambarkan aktivitas militer. Ketujuh, kesamaan dalam penyebutan hewan singa. Kedelapan, kesamaan penggunaan imagery gandar. Selain itu, penulis juga merangkum perbedaan-perbedaan antara keduanya. Perbedaan pertama berkaitan dengan konsep keilahiannya. Teks-teks Asyur kuno berlatar politeisme, sedangkan kitab Nahum berlatar monoteisme. Perbedaan kedua adalah dalam hal kejujuran dalam mengungkapkan fakta keberhasilan dan kegagalan. Literatur Asyur kuno tidak satu pun menampilkan kegagalan atau kekalahan yang dialami oleh raja dan bangsa mereka. Sedangkan kitab Nahum menyatakan kebenaran, keberhasilan maupun kegagalan, dengan jujur. Studi komparatif antara teks-teks Asyur kuno dan kitab Nahum memberikan kontribusi penting bagi pemahaman mengenai latar belakang kitab Nahum. Dalam bidang politik, hasil studi komparatif mengisyaratkan bahwa kitab Nahum ditulis pada masa pemerintahan raja Asyurbanipal. Pada masa ini, secara politik Yehuda berada dalam tekanan, karena setiap kebijakan politik yang diambil Yehuda sangat dipengaruhi oleh kebijakan luar negeri bangsa Asyur. Dalam bidang sosial dan budaya, hasil studi komparatif mengisyaratkan bahwa pada masa penulisan kitab Nahum, bangsa Yehuda memiliki identitas kebangsaan yang lemah, meragukan otoritas dan kedaulatan TUHAN yang telah memilih dan mengkhususkan mereka dari antara bangsa-bangsa lain. Yehuda juga mengalami masalah dengan kepadatan penduduk karena imigrasi, dan masalah trauma akibat perang. Dalam bidang ekonomi, hasil studi komparatif mengisyaratkan bahwa pada masa penulisan kitab Nahum, Yehuda mengalami tekanan ekonomi yang berat. Ekonomi lumpuh atau bertumbuh secara lambat, dan Yehuda mengalami kesengsaraan karena hams membayar upeti yang tinggi dan sulit diperoleh. Dalam bidang keagamaan, hasil studi komparatif mengisyaratkan bahwa Nahum memahami dengan baik latar belakang keagamaan bangsa Asyur. la mengkomunikasikan pesannya dengan cara yang akrab bagi bangsa Asyur dan Yehuda pada masa itu. Selain itu, kitab Nahum pada dasarnya merupakan literatur yang mendukung perlawanan raja Yosia terhadap dominasi keagamaan Asyur. Perlawanan (reformasi) raja Yosia merupakan upaya keluar dari penyembahan dewa-dewa Asyur (politeis) dan kembali menyembah TUHAN, satu-satunya Allah

    Tinjauan Kritis terhadap Film-Film Horor Indonesia dari Perspektif Demonologi Kristen

    No full text
    Sebagai salah satu media komunikasi massa, film telah menjadi salah satu media hiburan yang sangat diminati manusia modern. Maka tidak mengherankan jika insan perfilman—baik lokal maupun internasional—mulai berlomba-lomba memproduksi lebih banyak lagi film. Kenyataan tersebut tidak terlepas dari karakteristik masyarakat modern yang menjadikan film sebagai salah satu budaya hidup mereka. Di tengah arus budaya yang demikian, film horor telah menjadi salah satu genre yang digandrungi oleh para penikmat kisah-kisah yang dapat menegakkan bulu kuduk, tetapi sekaligus mengundang rasa penasaran yang tinggi. ... Tulisan ini bertujuan untuk memberikan tinjauan teologis terhadap ide-ide tentang Iblis (atau disebut juga Setan) dan roh-roh jahat yang beredar di alam pemikiran masyarakat Indonesia, yang dalam hal ini diwakili oleh film-film horor Indonesia yang tayang sejak tahun 2004 hingga awal 2010. Apa yang menjadi concern penulis dalam tulisan ini berkaitan dengan paradoks “takut namun penasaran” di antara jemaat usia remaja hingga usia dewasa yang penulis layani di ibukota negara, sewaktu membicarakan sosok Iblis dan dunia roh. Penulis akan memaparkan, pertama, konsep roh-roh jahat yang ditampilkan dalam film-film horor. Kedua, apa yang Alkitab katakan tentang roh-roh jahat dan pengaruhnya, yaitu seberapa luas cakupan pengaruh roh jahat dalam hidup manusia. Ketiga, memberikan evaluasi terhadap konsep roh jahat dalam film-film horor. Keempat, pada bagian kesimpulan, penulis akan mengusulkan bagaimana sikap orang Kristen dalam menyikapi realitas roh-roh jahat dan pengaruhnya, khusus dalam kaitannya dengan konsep roh-roh jahat yang disampaikan melalui film-film horor

    Membuat Aplikasi Khotbah yang Efektif

    Get PDF
    Artikel ini ditulis dengan ... penekanan pada “mengapa” dan “bagaimana” membuat aplikasi khotbah. Penulis berasumsi bahwa setiap pembaca artikel ini adalah para rohaniwan yang setidaknya pernah mendapatkan pelajaran homiletika dasar tatkala menempuh studi teologi di seminari atau sekolah tinggi teologi. Tulisan ini dibuat sepraktis mungkin tanpa bermaksud meniadakan bobot akademisnya sama sekali, sehingga setidaknya bisa memberikan “solusi pertama” bagi para hamba Tuhan yang rutin berkhotbah di gereja masing-masing dalam membuat aplikasi khotbah

    Formasi Spiritual dalam Gereja-Gereja Injili di Indonesia berdasarkan Sintesa Spiritualitas Martin Luther dan Ignatius dari Loyola.

    No full text
    Dalam gereja-gereja, temasuk gereja-gereja injili, dorongan mencapai kekudusan hidup terbatas hanya kepada pesan-pesan moral. Formasi spiritual tidak mendapat perhatian yang cukup dan serius dalam program pembinaan warga gereja. Karena itu, perlu untuk memikirkan ulang pola formasi spiritual yang selama ini dijalankan. Berdasarkan pengalaman rohani unik masing-masing, Luther dan Ignatius dapat saling melengkapi dalam menyusun pola pembinaan formasi spiritual bagi gereja injili. Luther dengan penekanannya pada pembacaan Alkitab, sedangkan Ignatius mempunyai penekanan pada pengalaman bersama dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pewaris dari gerakan Reformasi, gereja-gereja Protestan mengikuti pola formasi spiritual yang dilakukan oleh Martin Luther. Ia mengalami titik balik spiritualitasnya pada saat ia mempelajari Roma 1:17 dan mendapat pencerahan melaluinya. Dalam pertobatannya terdapat dua dimensi, yakni dimensi kognitif dan dimensi mistik. Dimensi kognitif pengalaman spiritual Luther nampak dalam pengertian "baru" (karena Agustinus pun mempunyai pengertian yang sama dengan apa yang Luther temukan) yang ia dapatkan melalui ayat tersebut, yakni pembenaran melalui iman. Apa yang terjadi dalam pengalaman konversi spiritualitas Luther bukan sekadar penemuan kognitif akan suatu kebenaran. Ada dimensi lain, yakni dimensi mistik dari pengalaman Luther. Dimensi ini merupakan pekerjaan Roh Kudus dalam diri Luther. Bila sebelumnya Luther merasa Allah adalah Allah yang keras, yang siap menghukum orang-orang yang berdosa, kini ia dapat melihat Allah adalah Allah yang maha kasih dan penuh anugerah kepada orang berdosa. Pengertian ini memberi sukacita yang mendalam dan melepaskan Luther dari tekanan berat karena dosa-dosa yang dilakukannya. Sayangnya, dimensi mistik dari pengalaman spiritual Luther seringkali dilalaikan. Seiring berkembangnya mentalisme zaman modern yang menekankan rasionalisme, hanya dimensi kognitif yang dikerjakan dalam formasi spiritual. Dalam hal ini, spiritualitas Ignatius dapat menolong formasi spiritual yang seimbang, baik kognitif maupun mistik. Ignatis mendorong orang untuk mempunyai kesadaran akan pekerjaan Roh Kudus untuk hidup bersama dengan Tuhan dalam keseharian. Melaluinya, orang percaya tertolong untuk selalu memberi tempat bagi pekerjaan Roh Kudus dan kehadiran nyata Kristus dalam hidup orang percya, sehingga firman Tuhan dapat membentuk diri orang percaya menjadi makin serupa dengan Kristus. Dengan memegang kedua unsur formasi spiritual dari kedua tokoh ini, formasi spiritual dapat dikerjakan bagi gereja-gereja, khususnya gereja-gereja injili. Dalam mengerjakan revisi formasi spiritual ini, terdapat dua hal yang perlu diperhatikan terlebih dulu, yakni pembinaan warga jemaat dan ibadah. Keduanya dapat mencapai seluruh jemaat sehingga dampak pembinaan lebih mempunyai jangkauan yang lebih luas. Dalam keduanya, dimensi dalam formasi spiritual dapat diberi tempat yang seimbang

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇