STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Konsep Meminta Tanda di Alkitab dan Implikasinya Bagi Orang-Orang Percaya Masa Kini Dalam Mencari Kehendak Allah
Orang-orang percaya sering kali meminta “tanda” kepada Allah dalam usaha mereka memahami kehendak Allah. Seringnya orang-orang percaya masa kini meminta “tanda” kepada Allah dalam usaha mereka memahami kehendak Allah pada umumnya dipengaruhi oleh gaya hidup masa kini yang serba instant, cepat dan tidak mau susah (tidak mau berpikir). Dwight L. Carlson menyatakan bahwa seringnya orang-orang percaya pada masa kini meminta “tanda” dalam usaha mereka memahami kehendak Allah pada dasamya hanya merupakan bagian dari tindakan egois atau pemanjaan diri sendiri yang membuat manusia semakin sulit untuk mengenal kehendak Allah. Usaha orang-orang percaya masa kini memahami kehendak Allah dengan cara meminta “tanda” pada umumnya didasarkan atas tiga peristiwa di Perjanjian Lama dan satu peristiwa di Peqanjian Baru. Tiga peristiwa di Perjanjian Lama yang sering kali orang-orang percaya jadikan dasar Alkitab imtuk mereka meminta “tanda” kepada Allah adalah peristiwa hamba Abraham mencari isteri untuk Ishak di Kejadian 24:1-27, peristiwa bangsa Israel menemukan kehendak Allah dengan menggunakan Urim dan Tumim di Bilangan 27:21 dan 1 Samuel 28:6, dan peristiwa Gideon “membentangkan bulu domba” di Hakim- hakim 6:36-40. Satu peristiwa di Perjanjian Baru yang sering kali dijadikan dasar oleh orang-orang percaya masa kini untuk mereka meminta “tanda” dalam usaha mereka memahami kehendak Allah adalah peristiwa membuang undi di Kisah Para Rasul 1:23- 26. Dalam Kisah Para Rasul 1:23-26 para murid membuang undi dengan tujuan untuk menemukan orang yang tepat untuk menggantikan posisi Yudas Iskariot. Usaha orang-orang percaya masa kini memahami kehendak Allah dengan meminta “tanda” berdasarkan peristiwa-peristiwa di Perjanjian Lama dan peristiwa membuang undi di Perjanjian Baru merupakan masalah yang penting untuk dibahas. Kepentingan masalah ini didasarkan pada alasan bahwa “tanda” hanya merupakan alat pemyataan kehendak Allah di Perjanjian Lama. Sedangkan peristiwa membuang undi di Peijanjian Baru tidak dapat dijadikan dasar bagi orang-orang percaya pada masa kini untuk meminta “tanda” karena peristiwa membuang undi di Perjanjian Baru hanya terjadi satu kali saja yaitu sebelum hari Pentakosta. Setelah hari Pentakosta, kitab-kitab Perjanjian Baru tidak pemah mencatat kembali peristiwa membuang undi untuk memahami kehendak Allah. Setelah hari Pentakosta, Alkitab hanya mencatat peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan pimpinan Roh Kudus kepada orang-orang percaya pada masa itu untuk memahami kehendak Allah. Hal ini menunjukkan bahwa usaha orang-orang percaya pada masa kini memahami kehendak Allah dengan meminta “tanda” merupakan usaha atau cara yang salah. Pada masa kini Allah secara Idiusus menyatalcan kehendak-Nya kepada orang- orang percaya melalui Alkitab dan tuntunan Roh Kudus. Oleh karena itu, hal yang hams orang-orang percaya lakukan pada masa kini agar mereka dapat memahami kehendak Allah adalah taat. Taat kepada hal-hal yang telah Allah nyatakan di Alkitab dan taat pada pimpinan Roh Kudus. Roh Kudus akan membantu orang-orang percaya memahami dan menerapkan kehendak Allah yang telah Allah nyatakan di Alkitab dalam kehidupan sehari-hari
The Matthean Beatitudes : Its Literary Function and Theological Message
This research discusses the literary form and structure of the Matthean Beatitudes in order to delineate its particular literary function and theological message. At the outset, it is submitted that the first discourse of Matthew’s Gospel has a didactic purpose. This argument is supported by the literary characteristics and structure of Matthew and the structure and content of the Sermon on the Mount itself. Next, it examines the prominent literary characteristics of the passage in order to determine its particular literary function. The discussions include the following: first, the poetical features of the passage, such as inclusion, repetitions, parallelism, chiastic pattern, word counts and selective usage of particular words, which function as delimitation signs and highlight the themes and structure of the Beattitudes; second, the formula of blessedness (macarisms) which functions to show that the Matthean Beatitudes have a common element with the Jewish wisdom and apocalyptic literature; and finally, the significance of the passage as the opening unit of Sermon on the Mount appropriately linking the sermon and its immediate context, also serving as the introduction for the literary structure of the sermon. After that, three theological themes are presented and discussed. These include the idea of absolute dependency on God’s grace in his Kingdom, the attitude toward the righteousness of the kingdom and finally the message of hope from the promises of the kingdom. By doing this foundational study for a proper understanding of the Matthean Beatitudes, a deeper appreciation for the passage is achieved and further studies for establishing certain tenets for Christian spiritual formation are proposed
Implementasi Pelayanan Christian Coaching Metode Grow Me Terhadap Anak-anak Usia 10-12 Tahun di Sekolah Minggu Gereja Kebangunan Kalam Allah Indonesia Jemaat Surabaya
Tinjauan Terhadap Konsep Covenantal Nomism dari E. P. Sanders dan Implikasinya Terhadap Doktrin Pembenaran Oleh Iman
Gugatan terhadap doktrin pembenaran oleh iman yang dipercaya oleh kalangan tradisional atau Reformed, telah ada sejak tahun 1800-an. Gugatan tersebut semakin menguat di tahun 1900-an, terutama sejak Sanders menghasilkan karyanya yang berjudul Paul and Palestinian Judaism: A Comparison Pattern of Religion. Dalam karyanya yang meneliti literatur-literatur Yahudi mula-mula, ia sampai pada kesimpulan bahwa covenantal nomism adalah pola dari agama pada Yudaisme Bait Allah kedua. Suatu pola agama yang tidak mengenal legalisme, tidak seperti yang dipercayai oleh kalangan tradisional selama ini. Buku tersebut dengan konsep covenantal nomism-ny?L, mendapatkan dukungan dari para pendukung Perspektif Baru tentang Paulus, terutama James D. G. Dunn dan N. T. Wright. Ketiga tokoh tersebut—Sanders, Dunn, dan Wright—^bisa dikatakan sebagai tokoh utama dalam Perspektif Baru tentang Paulus pada masa kini. Perspektif Baru tentang Paulus termasuk konsep covenantal nomism berbeda dengan pandangan tradisional selama ini, dalam beberapa hal, antara lain: pandangan mengenai iman, pembenaran, perbuatan-perbuatan hukum Taurat, dan inti berita dalam surat-surat Paulus. Sanders, Duim, dan Wright melihat doktrin pembenaran oleh iman bukan merupakan doktrin utama dalam teologi Paulus dan perkataan Paulus mengenai perbuatan-perbuatan hukum Taurat tidak mengacu kepada legalisme di Yudaisme Palestina. Tetapi hukum Taurat itu sebagai badge yang membedakan orang-orang Yahudi dengan orang-orang non-Yahudi. Pendapat tersebut disanggah oleh pandangan tradisional. Menurut pandangan tradisional, seperti yang dinyatakan oleh F. F. Bruce, Douglas J. Moo, dan D. A. Carson, doktrin pembenaran iman merupakan doktrin utama dalam teologi Paulus, juga adanya legalisme yang terjadi di dalam Yudaisme, yaitu yang digugat oleh Paulus. Berdasarkan analisis terhadap data dan fakta yang ada di dalam literatur-literatur Yahudi mula-mula dan dari kitab Roma dan Galatia, penulis berpendapat bahwa konsep covenantal nomism tidak bisa dipertahankan, karena tidak didukung oleh data-data yang ada dalam kitab Roma dan Galatia, bahkan dalam literatur-literatur Yahudi itu sendiri. Dengan demikian, penulis melihat doktrin pembenaran oleh iman tetap bisa menjadi pegangan dari iman Kristen, yaitu pandangan bahwa keselamatan merupakan karya Allah semata tanpa ada sedikitpun campur tangan manusia di dalamnya
Prinsip Pemuridan Paulus Kepada Timotius dan Implikasinya Bagi Peran Hamba Tuhan Dalam Proses Kaderisasi Pemimpin Awam Gereja
Pertumbuhan gereja dan perkembangan pelayanan dalam gereja dipengaruhi oleh peran hamba Tuhan dan keterlibatan kaum awam. Hamba Tuhan sebagai pemimpin jemaat harus dapat memimpin jemaatnya dengan baik, khususnya dalam menggerakkan jemaatnya untuk melayani di gereja. Namun pada kenyataannya, tidak banyak kaum awam yang melibatkan dirinya dalam pelayanan gereja. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu proses kaderisasi terhadap kaum awam, agar muncul pemimpin-pemimpin awam yang melayani dalam gereja. Hamba Tuhan merupakan pemeran utama dalam melakukan proses kaderisasi terhadap kaum awam. Proses kaderisasi tersebut dapat dilakukan dengan efektif dalam bentuk pemuridan. Pemuridan adalah proses untuk menjadikan setiap orang percaya murid Kristus, yang bertumbuh dalam firman Tuhan dan makin serupa dengan Kristus, serta memiliki kerinduan untuk memuridkan orang lain juga.
Berdasarkan pemahaman akan pentingnya proses kaderisasi kaum awam dalam bentuk pemuridan, maka penulis dalam skripsi ini memfokuskan penelitian pada prinsip pemuridan yang dilakukan Paulus kepada Timotius menurut Surat 1 dan 2 Timotius. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implikasi prinsip pemuridan Paulus kepada Timotius bagi peran hamba Tuhan dalam proses kaderisasi pemimpin awam gereja. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode deskriptif dengan penelitian kepustakaan dan metode eksposisi. Selain itu, penulis juga menggunakan pendekatan eksplanatif untuk mencoba memahami prinsip-prinsip pemuridan tersebut agar dapat diterapkan serta menggunakan pendekatan evaluatif untuk menilai bagaimanakah implikasi prinsip-prinsip pemuridan Paulus kepada Timotius tersebut berkaitan dengan peran hamba Tuhan dalam proses kaderisasi pemimpin awam gereja.
Setelah melakukan penelitian terhadap prinsip pemuridan yang dilakukan Paulus kepada Timotius, penulis mendapati ada lima peran yang dapat dilakukan hamba Tuhan dalam proses kaderisasi pemimpin awam gereja yaitu peran sebagai pengasuh, sebagai pengajar, sebagai pembimbing, sebagai pemberi teladan, serta sebagai pelatih dalam pelipatgandaan kaum awam. Apabila hamba Tuhan telah melakukan peran-peran tersebut, maka diharapkan akan muncul pemimpin-pemimpin awam gereja yang memiliki kerinduan yang besar untuk melayani bahkan memuridkan orang awam lainnya untuk menjadi pemimpin juga
Tinjauan Terhadap Konsep "Human Potential" Dalam Buku-Buku Inspirasional Berdasarkan Firman Tuhan
Hal yang mendorong penulis untuk menulis tema ini adalah ketika penulis melihat semakin maraknya dunia literatur dengan resep-resep sukses melalui pengembangan diri di tengah konteks zaman yang sulit ini. Buku-buku yang ditulis dengan begitu menarik ini, baik dalam penampilan maupun ulasannya mampu menarik hati banyak orang bukan hanya khalayak umum tetapi juga orang-orang Kristen. Ajaran dalam buku-buku yang bersifat inspirasional ini dipandang dapat menjawab kebutuhan manusia di tengah krisis yang sedang melanda kehidupan manusia.
Selain menggunakan media literatur, gerakan pengembangan diri atau human potential movement ini juga memakai cara seperti seminar-seminar dan kelompok- kelompok untuk mengembangkan ajarannya. Gerakan ini sebenamya bukanlah sebuah isu yang baru tetapi merupakan salah satu bentuk dari GZB yang telah berkembang sejak tahun 60-an.
Pembahasan yang menitikberatkan pada potensi manusia ini ternyata bukan hanya sebatas pembicaraan tentang bagaimana menggali dan mengembangkan setiap potensi tersebut. Tetapi penekanan pada satu keyakinan bahwa melalui potensinya, manusia mampu untuk menyelesaikan semua masalah dan pergumulan yang dihadapi. Apabila diselidiki lebih jauh maka di sana kita akan menemukan bahwa pengajaran dari human potential movement ini sebenamya sudah mengarah kepada pengajaran yang salah tentang nilai manusia.
Dalam penyelidikannya, penulis menemukan ada dua masalah besar yang ada di dalam ajaran gerakan ini. Yaitu tentang dikaburkannya keberdosaan manusia dan pengertian yang salah tentang image of God. Dengan dua masalah pokok ajaran ini maka konsep manusia yang dihasilkan sangat tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Dengan kondisi ini maka ajaran dari human potential movement layak untuk diwaspadai.
Oleh sebab itu penulis melihat akan pentingnya perhatian gereja Tuhan terhadap isu-isu yang sedang berkembang seperti halnya human potential movement ini. Apalagi di tengah pergumulan dunia yang juga pasti dihadapi oleh jemaat. Gereja perlu memperlengkapi dalam hal ini jemaat supaya dapat menyikapi setiap ajaran-ajaran yang tidak sehat yang dijumpai dengan sikap iman yang tepat
Air Hidup yang Menghilangkan Rasa Malu dan Salah (Yoh 4:6b-7, 15-18, 23-26, 39-42)
Naskah khotba
Historiography of Chronicles as reflected in its account of Solomon's reign
Ph. D. Southern Baptist Theological Seminary 2010This dissertation is a study of "intertextuality" between the books of Chronicles and Kings, focusing on the Solomon narrative. Contrary to the current scholarly conviction that Chronicles is unreliable historiography, this study defends its reliability and argues that the differences between Chronicles and Kings are due to the editorial choices of the respective authors in utilizing their sources. Using literary analysis, this study investigates the discrepancies between the two Solomonic narratives and reveals not only the uniqueness of each book but also the historical reliability of their biblical authors. Chapter 1 states the purpose of this study, its methodology, and its limitations. Chapter 2 reviews the history of interpretation of Chronicles and demonstrates that Chronicles has been treated as "second class" history from the time of the LXX translators until the present. Chapter 3 argues that the Chronicler did not fabricate his materials, but used sources available to him and discusses the possibility of written literature in Israel, despite the lack of epigraphical evidence available today. The internal evidence from Chronicles is evaluated by taking into consideration its canonical and non-canonical, sources focusing on lexical, form critical, textual, and content considerations. Chapter 4 identifies the different purposes of Chronicles and Kings and focuses on their descriptions of Solomon. The current debates on interpreting Solomon in Kings, namely whether or not Solomon was depicted negatively from the beginning of his episode, are investigated. Chapter 5 examines the discrepancies between the Solomon narratives. Applying the reliability of Chronicles, this chapter explains the discrepancies by reading the Solomon narrative of Kings through the lens of Chronicles. This intertextual investigation seeks to understand Kings' presentation of Solomon from the perspective of Chronicles. Chapter 6 is the conclusion of this dissertation. This chapter recapitulates the results of this study from start to finish
Tinjauan Etis Teologis Terhadap Pernikahan Homoseksual dari Perspektif Kristen Injili
Di era atau zaman yang modern ini, banyak peristiwa atau kejadian yang meresahkan seluruh lapisan masyarakat. Salah satu peristiwa yang meresahkan tersebut adalah peristiwa mengenai masalah homoseksualitas. Praktik homoseksual telah dianggap sebagai hal yang biasa dan normal pada saat ini. Terlebih lagi bagi kalangan tertentu, ada beberapa orang yang telah mendukung praktik homoseksual. Dukungan tersebut timbul dari kalangan atau lapisan masyarakat yang berintelektual sampai rohaniawan. Sebagai wujud dukungan terhadap praktik homoseksual, para pendukung praktik homoseksual meminta agar negara-negara menerima keberadaan orang-orang homo di dalam lingkungan masyarakat seperti manusia pada umumnya. Tidak hanya sampai di situ, para pendukung homoseksual pun meminta agar negara dapat mengesahkan/melegalisasikan pernikahan homoseksual seperti halnya dengan pernikahan heteroseksual. Para pendukung homoseksual mengampanyekan fenomena ini sebagai hak seseorang (HAM) di dalam memilih gaya hidup yang mereka inginkan. Hal ini dilakukan dengan tujuan supaya praktik homoseksual disahkan. Bagi para pendukung homoseksual, homoseksual bukanlah sebuah penyakit dan dosa. Tuhan Allah Sang Penciptalah yang telah menciptakan seseorang menjadi homo sehingga homoseksual dianggap dan dipercayai sebagai anugerah dari Tuhan. Dengan diciptakannya homoseksual, manusia tidak memiliki hak untuk menghakimi dan meniadakan homoseksual. Manusia harus menerima keberadaan orang-orang homo sebagai orang- orang yang normal. Tidak ada hal yang salah dengan homoseksual sebab homoseksual itu adalah anugerah. Para pendukung homoseksual mempercayai bahwa tidak ada satu ayat pun di dalam Alkitab yang melarang praktik homoseksual. Mereka berpendapat bahwa perristiwa Sodom dan hukum Imamat pun, tidak menyinggung mengenai masalah homoseksual. Mereka justru berpendapat bahwa Alkitab sendiri mendukung praktik homoseksual melalui penggambaran kisah Daud dan Yonatan di mana kedua orang ini diyakini sebagai orang-orang homo yang dipakai oleh Tuhan dengan luar biasa. Berdasarkan analisis terhadap data dan fakta yang tersedia- serta mempelajari dampak atau pengaruh yang timbul dari pernikahan homoseksual, penulis mendapati bahwa pernikahan homoseksual tidak memberikan sumbangsih yang positif di dalam lingkungan sosial dan agama. Dengan demikian, pembahasan mengenai pernikahan homoseksual seharusnya menjadikan firman Tuhan sebagai sumber utarna untuk menelusuri kebenaran tentang pernikahan yang Allah kehendaki dan tetapkan
Identitas dan fungsi dari Para Nabi di dalam Kitab Tawarikh
Tawarikh adalah sebuah kitab yang ditulis pada zaman pascapembuangan. Walaupun penulis kitab Tawarikh (selanjutnya disingkat Chr) memakai materi sejarah yang sama dengan kitab Samuel dan Raja-raja, penulis melakukan beberapa perubahan untuk menyampaikan pesannya kepada umat Allah yang kembali dari pembuangan. Di satu pihak hal ini memberikan kesempatan kepada kita untuk melihat bagaimana umat Allah di dalam masa pascapembuangan mengerti pesan dari kitab-kitab yang dikutip oleh Chr. Di lain pihak, hal ini juga menimbulkan hal-hal yang perlu dikaji lebih dalam. Salah satu hal yang menarik untuk dibahas adalah apakah Chr memiliki pengertian yang sama dengan kitab Samuel-Raja-raja tentang identitas dan fungsi para nabi, khususnya setelah runtuhnya kerajaan Daud. Tulisan ini berpendapat bahwa Chr memiliki konsep yang sama mengenai fungsi kenabian dengan kitab Samuel-Raja-raja. Fokus dari pembahasan adalah karya dari dua orang ahli yakni Newsome dan Schniedewind, sedangkan metodologi yang dipakai adalah perbandingan antara kitab Samuel-Raja-raja dan Tawarikh