STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Konsep Keselamatan Dalam Agama Kong Hu Cu dan Implikasinya Terhadap Penginjilan Bagi Umat Kong Hu Cu di Indonesia
Agama Kong Hu Cu, yang ada di Indonesia, merupakan salah satu dari kepercayaan orang Tionghoa. Sebelum agama Kong Hu Cu diakui, penganut dari agama tersebut “masuk” ke dalam agama Kristen dengan tujuan agar dapat memiliki identitas sebuah agama yang diakui di Indonesia. Namun, agama Kong Hu Cu sekarang telah diakui secara resmi oleh pemerintah Indonesia sehingga agama tersebut dapat dianut oleh masyarakat Indonesia. Dalam pengajaran agama Kong Hu Cu, terdapat konsep keselamatan yang tidak memerlukan seorang “pengantara” untuk masuk ke dalam surga. Hal ini disebabkan karena dalam ajaran tersebut terdapat konsep manusia yang lahir tanpa natur dosa sehingga manusia diyakini dapat mencapai surga dengan usaha dari diri sendiri. Melihat keadaan tersebut, maka diperlukan penginjilan sebagai sarana untuk membuat penganut agama Kong Hu Cu memiliki pengertian yang benar mengenai konsep keselamatan yang sesungguhnya.
Penginjilan kepada orang lain merupakan perintah dari Tuhan Yesus sendiri sebelum Dia terangkat ke surga. Penginjilan tersebut dapat dilakukan kepada pengaut agama Kong Hu Cu dengan memakai pengajaran dan tradisi dari agama tersebut yang dikontekstualisasikan dan diberikan pemaknaan sesuai dengan ajaran Kristen. Misalnya, hari raya Imlek yang dirayakan oleh orang Tionghoa. Dalam kisah tersebut terdapat kesamaan dengan hari raya Paskah orang Yahudi yang diceritakan di dalam Alkitab. Dari kesamaan ini dapat dicari titik celah untuk melakukan penginjilan kepada penganut agama Kong Hu Cu. Selain itu, umat Kong Hu Cu yang mayoritas orang Tionghoa sangat menghargai sesama etnis mereka sehingga orang percaya yang keturunan Tionghoa memiliki potensi yang besar untuk memenangkan jiwa bagi Allah. Setelah penganut agama Kong Hu Cu menjadi orang percaya, pemuridan atau tindak lanjut penginjilan perlu dilakukan sebagai langkah berikut dalam usaha mendewasakan iman petobat baru yang telah diinjili. Dengan melakukan pemuridan diharapkan penganut agama Kong Hu Cu yang baru bertobat dapat bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus bahkan bersaksi untuk kemuliaan nama Allah
Signifikansi Inkarnasi Kristus Dalam Aspek Kekinian Kerajaan Allah Dalam Injil Markus Terhadap Pelayanan Holistik Gereja
Inkamasi Kristus bertujuan utama untuk menebus manusia. Namun selain itu juga merupakan sarana di mana Allah memberikan teladan hidup benar bagi umat manusia. Inkamasi Allah dalam diri Yesus Kristus berhubungan erat dengan pemerintahan kerajaan Allah. Kerajaan Allah yang mempakan pemyataan pemerintahan Allah atas manusia dan selurah dunia kini telah hadir melalui inkamasi Yesus Kristus. Inkamasi Allah dalam pribadi Yesus Kristus mempakan pemyataan hadimya kerajaan Allah kini. Kerajaan Allah telah hadir dan berkarya melalui pribadi dan pelayanan Yesus Kristus. Proklamasi Yesus Kristus dalam Injil Markus serta pelayanan-Nya, secara khusus pengusiran setan mempakan pemyataan langsung kehadiran kerajaan Allah.
Injil Markus mencatat dan mendeskripsikan pribadi Yesus Kristus dalam narasi yang mengalir sebagai pengajaran bagi pengikut-Nya. Pengajaran Yesus dalam Injil Markus adalah melalui hidup-Nya. Selain sebagai Anak Allah, Anak Manusia dan Mesias, Yesus juga dilukiskan sebagai seorang Hamba. Sebagai Hamba Dia memberitakan injil dan dan mengajar dengan kuasa, juga melayani orang-orang yang dijumpai-Nya. Markus juga menyatakan sikap Yesus ketika melayani. Dia taat dan setia serta penuh kasih ketika melayani orang-orang yang ditemuinya. Dan ini adalah nilai dari kehidupan kerajaan Allah. Selain itu, Injil Markus juga mendeskripsikan aspek pelayanan yang Yesus lakukan. Dia melayani manusia pada semua aspek kehidupan. Yesus memenuhi kebutuhan rohani dengan mengabarkan injil dan mengajar, namun Dia juga memenuhi kebutuhan jasmani dan sosial melalui penyembuhan dan pengusiran setan. Inilah aspek penting yang hams mendapat perhatian serius dari gereja sebagai milik Allah. Gereja hams mengikuti teladan Yesus Kristus yang mempakan representasi kehadiran kerajaan Allah. Sikap serta nilai-nilai yang diinginkan Allah serta bentuk pelayanan atau aspek-aspek pelayanan yang menyelumh hams ada dalam gereja ketika melayani.
Gereja didirikan oleh Yesus Kristus. Dengan demikian berarti bahwa gereja adalah milik Allah. Dalam statusnya ini, gereja mempimyai panggilan ganda. Gereja adalah umat yang dipanggil untuk masuk dalam persekutuan kudus dengan Tuhan, tapi juga gereja dipanggil untuk masuk ke dalam dunia menjadi garam dan terang. Karena itu gereja harus mengikuti apa yang menjadi kehendak pemiliknya, dan itu jelas terdeskripsi dalam pribadi dan pelayanan Yesus Kristus, Allah yang berinkamasi. Seperti yang Yesus nyatakan, gereja hams setia mengabarkan injil, mengajar, beribadah dan hidup dalam persekutuan kasih yang secara personal maupim komunal peduli pada orang lain. Semuanya ini adalah suatu kesatuan yang mempakan kehendak Allah. Di atas semuanya itu, gereja hams melakukannya dengan dasar kasih dan taat pada Allah. Sikap tunduk pada otoritas Allah merupakan syarat mutlak yang hams dimiliki gereja
Spiritualitas Daniel dan Implikasinya Bagi Pelayanan Hamba Tuhan Masa Kini
Hamba Tuhan merupakan seorang pemimpin rohani bagi jemaat dan ia juga sebagai pemimpin agama di mata masyarakat. Peranan seorang hamba Tuhan sangat penting, baik di gereja maupun di lingkungan sekelilingnya karena ia mengemban tugas mulia dari Tuhan untuk memberitakan injil keselamatan Kristus pada dunia ini. la hams dapat menjadi garam dan terang dunia. Peranan ini membuat ia hams dapat menjadi teladan bagi semua orang, baik di dalam perbuatan, tutur kata, sikap, pikiran, maupun dalam kehidupan spiritualitasnya. Tak dapat dipungkiri bahwa apa yang dipancarkan dalam kehidupan seseorang itu berasal dari apa yang terdapat di dalam dirinya. Kesaksian hidup yang baik hanya dapat dipancarkan dari kehidupan spiritualitas yang baik dan benar. Dengan demikian, seorang hamba Tuhan hams memiliki kehidupan spiritualitas yang sesuai dengan kebenaran Tuhan supaya ia dapat memberikan teladan bagi jemaat dalam menjadi terang dan garam dunia. Kehidupan spiritualitas yang baik, benar dan kokoh ini tentu tidak dapat diperoleh begitu saja, perlu ada disiplin rohani yang baik dan tentunya perlu terns dijaga dan dievaluasi untuk terns bertumbuh kokoh dalam Tuhan.
Hamba Tuhan masa kini hidup di tengah zaman yang menawarkan berbagai paradigma yang tidak sesuai dengan konsep kebenaran firman Tuhan. Ada banyak godaan, tantangan, dan masalah yang dapat menggerogoti kehidupan spiritualitasnya sehingga ia bisa terjatuh dalam disintegritas dan gagal menjalankan tugas panggilannya. Hal ini hams diperhatikan dengan baik karena perlu diakui, sebagai manusia yang lemah dan terbatas, ia juga sangat rentan terhadap setiap godaan dan tantangan. Sebagai seorang pemimpin rohani, ketika ia gagal mempertahankan integritasnya di hadapan Tuhan, maka ia dapat menjadi batu sandungan bagi orang lain dan dapat menyeret banyak orang untuk turut serta dalam kejatuhannya. Oleh karena itu, ia perlu belajar dari firman Tuhan bagaimana memiliki kehidupan spiritualitas yang baik dan dapat tetap berintegritas di tengah segala tantangan dan masalah. Alkitab telah memberikan contoh seorang yang memiliki kehidupan spiritual yang baik, ia adalah Daniel. Kondisi yang tidak ideal dan kondusif tidak menjadi alasan baginya untuk tidak lagi hidup berintegritas di hadapan Tuhan. Kunci spiritualitas Daniel adalah relasinya yang intim dengan Allah. Keintiman inilah yang mendasari selumh manifestasi spiritualitasnya, seperti doa, puasa, kecintaan pada firman, iman, integritas, kesaksian hidup, dan lainnya. Hal ini patut diteladani oleh setiap hamba Tuhan masa kini yang juga mengalami berbagai tantangan dan godaan. Dari penelitian ini, maka setiap hamba Tuhan juga hams memiliki relasi yang intim dengan Allah sebagai dasar dari spiritualitasnya. Dengan demikian, ia dapat terns mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidup dan pelayanannya, sehingga ia dapat berintegritas dan senantiasa memuliakan Tuhan
Tinjauan Kritis Terhadap Pandangan C. S. Lewis Mengenai Karya Penyelamatan Yesus dari Perspektif Eksklusivisme Injili
Gereja di tengah kemajemukan memiliki beberapa macam hubungan antaragama, yaitu eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme. Salah satu tokoh inklusivisme adalah C. S. Lewis. Adapun, pandangan Lewis berbeda dengan perspektif eksklusivisme injili. Ini perlu dibahas dengan beberapa alasan, yaitu: Lewis memiliki perhatian khusus mengenai kristologi; kaum injili perlu merespons mengenai teologi Kristen yang memiliki parameter untuk hubungan dengan agama-agama lain; Lewis memiliki pengaruh yang besar dalam pemikiran Kristen; dan gereja perlu menentukan sikap mempertahankan keunikan Yesus di tengah kemajemukan. Untuk karya penyelamatan Yesus, Lewis menyatakan bahwa Yesus adalah Allah dan Yesus merupakan inkamasi Allah, sehingga Yesus adalah wahyu khusus Allah; Yesus adalah penggenapan kebenaran dari agama-agama yang disempumakan; ada keselamatan di luar kekristenan; dan Yesus menyelamatkan orang-orang yang memiliki iman implisit. Perspektif eksklusivisme injili menyatakan Yesus adalah Allah Allah dan Allah yang berinkamasi menjadi manusia; Yesus adalah penggenapan wahyu khusus; keselamatan hanya ada dalam kekristenan; dan Yesus menyelamatkan orang-orang yang memiliki imam eksplisit. Berdasarkan tinjauan mengenai karya penyelamatan Yesus menumt Lewis dari perspektif eksklusivisme injili maka pemyataan-pemyataan yang sesuai adalah Yesus adalah Anak Allah yang berinkamasi menjadi manusia; dan Yesus adalah penggenapan wahyu khusus. Sedangkan pemyataan-pemyataan Lewis yang tidak sesuai adalah: Yesus adalah penggenapan kebenaran dari agama-agama; ada keselamatan di luar kekristenan; dan Yesus menyelamatkan orang-orang yang memiliki iman implisit. Jadi pemyataan- pemyataan Lewis yang tidak sesuai dengan perspektif eksklusivisme injili tidak dapat diterapkan oleh gereja. Adapun sikap gereja di tengah kemajemukan, adalah: gereja melakukan pembelaan mengenai keilahian Yesus; gereja menyatakan bahwa Yesus adalah wahyu khusus Allah; gereja mempertahankan eksklusivisme dalam berinteraksi dengan agama- agama lain; gereja perlu menjalin hubungan dengan agama-agama lain; dan gereja perlu melakukan penginjilan
Studi Eksegesis Yunus 1:1-17 dan Relevansinya Bagi Hamba Tuhan yang Menghadapi Tantangan dan Pergumulan Pelayanan di Masa Kini
Kehidupan pelayanan hamba Tuhan tidak selalu mudah untuk dijalani. Berbagai macam tantangan dan pergumulan pelayanan sering kali dapat membuat seorang hamba Tuhan meninggalkan pelayanan yang Tuhan percayakan kepadanya. Sekalipun hamba Tuhan mengetahui bahwa pelayanan tersebut adalah bagian dari tugas panggilannya sebagai hamba Tuhan. Bila mereka tidak memiliki kualitas seorang hamba Tuhan yang sejati, maka hal semacam ini dapat terjadi. Hal serupa juga pemah terjadi dalam kehidupan seorang nabi Tuhan, yaitu nabi Yunus. Melalui eksegesis Yunus 1:1-17, penulis berhasil membuat relevansi tantangan dan pergumulan Yunus dengan kehidupan hamba Tuhan masa kini. Pembahasan secara khusus menyoroti tiga dimensi dari hidup manusia, yaitu: dimensi spiritual, dimensi sosial, dan dimensi psikologis. Sebagaimana nabi Yunus, banyak hamba Tuhan memiliki integritas spiritual yang palsu, pemahaman sosial yang salah, dan memiliki masalah kepribadian yang tidak sehat. Kondisi-kondisi yang demikian ini membuat kondisi pelayanan semakin buruk dan membuat hamba Tuhan meninggalkan pelayanannya dan melarikan diri dari panggilan Tuhan. Setiap hamba Tuhan hams mentaati tugas panggilan-Nya dengan setia meskipun dalam pelbagai dimensi ia hams berhadapan dengan tantangan dan pergumulan. Kesetiaan selalu diukur dengan waktu, yaitu sebanyak kesempatan yang Tuhan berikan bagi hamba-Nya untuk melayani Dia secara penuh sampai pada akhirnya. Dengan demikian setiap hamba Tuhan hams memiliki kualitas tertentu agar mampu menghadapi tantangan dan pergumulan hamba Tuhan masa kini. Kualitas tersebut adalah: integritas spiritual, pemahaman sosial yang diterangi dengan firman Tuhan, dan psikologi yang sehat
Relasi Pembenaran-Pengudusan-Kesatuan Dengan Kristus Dalam Soteriologi Yohanes Calvin dan Implikasinya Bagi Soteriologi Protestan Masa Kini
Dalam soteriologi tradisi reformed biasa kita temukan adanya penekanan pada ordo salutis. Beberapa waktu terakhir, penekanan ini cukup banyak mendapatkan tantangan dari penafsiran yang mengatakan bahwa soteriologi Yohanes Calvin, sang bapa tradisi tersebut, tidaklah demikian. Berangkat dari masalah ini, penulis memutuskan untuk menyelidiki langsung tulisan-tulisan Yohanes Calvin untuk memperoleh gambaran utuh mengenai soteriologinya. Dari penyelidikan yang dilakukan penulis terhadap Institutes, traktat-traktat, surat-surat, serta tafsiran-tafsiran Alkitab Calvin yang terkait, temyata bahwa sang reformator menempatkan penekanan soteriologinya pada kesatuan dengan Kristus. Ketika diperbandingkan dengan ragam soteriologi yang melingkunginya, antara lain soteriologi tradisi Lutheran (diwakili Luther dan Formula of Concord), soteriologi reformed di era reformasi extra-Calvin (Zwingli, Oecolampadius, Bullinger, Bucer), soteriologi reformed pasca-reformasi (skolastisisme Protestan, Beza, Dordt), dan soteriologi Trente, semakin jelaslah keunikan soteriologi Calvin ini. Pemahaman tersebut mendorong penulis untuk menarik implikasi penelitian ini bagi soteriologi Protestan masa kini, antara lain dalam diskusi mengenai ordo salutis dan tempat pengudusan dalam soteriologi tradisi Protestan, serta potensi signifikan pemahaman terhadap soteriologi Calvin ini bagi dialog dengan soteriologi tradisi-tradisi teologi lainnya-dalam hal ini penulis memilih dua tradisi besar di luar Protestantisme, yakni gereja Katolik Roma dan Ortodoks Timur-maupun dengan dunia kesarjanaan Peijanjian Barn kontemporer, khususnya perspektif-perspektif mengenai kesatuan dengan Kristus sebagai motif utama soteriologi Paulus
Tinjauan Terhadap Spiritualitas Kristen Masa Kini Berdasarkan Konsep Religious Affections Jonathan Edwards
Signifikansi Model Kelompok Kecil Yesus Dalam Injil Matius Bagi Pembinaan Remaja Masa Kini
Remaja masa kini menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks dan serius. Perkembangan IPTEK, termasuk perkembangan teknologi komunikasi tidak hanya berdampak positif bagi remaja tetapi juga berdampak negatif. Kebebasan dalam mengakses internet memberikan godaan yang besar bagi remaja untuk jatuh dalam dosa-dosa seks, seperti pornografi, penyimpangan seks, dan pelecehen seks. Kemudahan-kemudahan yang dihasilkan IPTEK tidak hanya menghadirkan budaya instan, kemalasan, tetapi juga keterasingan remaja dari lingkungan sosialnya, bahkan kemudahan-kemudahan dalam bidang pekerjaan tidak membuat orang tua memiliki perhatian yang lebih kepada anak remajanya, malahan perhatian orang tua semakin minim. Tantangan yang dihadapi remaja semakin kompleks dengan perubahan-perubahan yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Gereja dan para pelayan remaja dituntut untuk menemukan suatu strategi pembinaan yang dapat menolong remaja menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Strategi pembinaan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan remaja, tetapi juga yang alkitabiah. Alkitab menawarkan suatu strategi yang telah teruji dari masa ke masa, yaitu pemuridan dalam kelompok kecil. Strategi ini telah menjadi prioritas Tuhan Yesus dalam masa pelayanan-Nya yang singkat di dunia. Tuhan Yesus memanggil dan membina dua belas orang yang sederhana untuk menjadi murid-Nya. Selama kira-kira 3,5 tahun, Tuhan Yesus hidup bersama-sama mereka dalam suatu kelompok kecil yang aman, nyaman, dan dapat dipercaya. Kelompok kecil yang mengajarkan saling mengasihi, kepedulian, pembinaan karakter, pelatihan-pelatihan pelayanan, dan menyiapkan para murid untuk pergi menjadikan semua bangsa murid-Nya.
Karakteristik model kelompok kecil Yesus tersebut memiliki arti yang penting bagi strategi pembinaan yang sesuai dengan karakteristik remaja. Di mana dalam perkembangan psikososialnya, remaja membutuhkan kelompok sebaya sebagai pencarian identitas dirinya, menerima informasi-informasi yang baru baginya, wadah untuk mengungkapkan perasaan, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadinya. Melihat hal ini, maka model kelompok kecil Yesus dapat menjadi pilihan yang signifikan bagi strategi pembinaan remaja masa kini
Hukum Pengaruh Dalam Kepemimpinan Yosua dan Implikasinya Bagi Kepemimpinan Kristen Masa Kini
Secara de jure diakui bahwa, dalam abdid future shock ini, realita kepemimpinan yang berpengaruh di Indonesia baik sekuler maupun Kristen berada dalam krisis multidimensi. Ini akibat dari menjamurnya toxic leaders yang terkait dengan cacat karakter. Pada akhirnya, kepemimpinan (termasuk kepemimpinan Kristen) menjadi komoditas yang langka dan paling mahal di dunia ini, akibat perbuatan dari oknum pemimpin yang telah menyalahgunakan elemen-elemen penting sebuah kepemimpinan yaitu, otoritas, kredibilitas, akuntabilitas, dan mengabaikan ketaatan, iman, dan komitmen. Dunia memerlukan potret kepemimpinan Kristen sejati, yaitu kepemimpinan yang dapat memberikan pengaruh yang positif sesuai standar firman Tuhan. Hal ini bukan hanya menjadi bagian dari hamba Tuhan atau pendeta. Tetapi juga majelis, orang- orang Kristen yang menduduki posisi penting dalam perusahaan, lembaga pemerintahan, dan lembaga lainnya. Para pemimpin Kristen perlu mengetahui cara menerapkan pengaruh yang sesuai dengan agenda Allah dan bukan pada agenda pribadinya. Pola yang dimiliki Yosua sebagai salah satu tokoh terkenal dalam Alkitab adalah pemimpin yang memiliki pengaruh, yang dapat dijadikan teladan bagi kepemimpinan Kristen dalam era future shock ini. Karakter berdasarkan standar firman Tuhan yang terintegrasi dalam setiap dimensi kehidupan, menjadi fondasi yang kokoh baginya untuk membangun pengaruh yang lebih besar. Integritas Yosua telah teruji melalui rangkaian metamorfosis kehidupannya. Keberhasilannya adalah karena ia konsisten untuk melakukan dan meneladani hidup yang benar. la taat dan memilih untuk tetap berada di bawah kontrol Tuhan. Karena itu, setiap pemimpin Kristen dapat meneladani Yosua untuk menyelaraskan karakternya berdasarkan standar firman Tuhan. Dalam kondisi krisis kepemimpinan, seharusnya pemimpin Kristen menggunakan peluang untuk tampil menjadi pemimpin yang membawa pembaharuan, baik di dalam gereja maupun di tengah komunitas masyarakat. Dengan demikian, perkembangan dari toxic leaders dapat dihambat secara perlahan-lahan
Konsep Teologis Restorasi Bangsa Menurut Nehemia dan Relevansinya Bagi Peran Serta Orang Kristen Dalam Pembangunan Bangsa di Indonesia
Keterpurukan bangsa Indonesia terns bergulir dari waktu ke waktu, ke arah yang semakin dan semakin menyedihkan. Krisis moneter pada 1997 melahirkan gelombang gerakan Reformasi yang kemudian menggulingkan pemerintahan Soeharto, yang dianggap telah menyengsarakan negara. Nyatanya, titik penting dalam garis sejarah bangsa Indonesia tersebut tidak dapat memperbaiki apa pun. Kemiskinan tetap menjadi tema utama keterpurukan bangsa, korupsi justru makin menjadi, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah pun memudar. Bangsa Yehuda, seperti yang dikisahkan oleh Alkitab, juga pemah mengalami permasalahan yang sama. Pergumulan yang berat dialami bangsa ini pasca peristiwa pembuangan ke Babilonia. Infrastruktur negara ini sudah hancur, ditambah lagi dengan penduduknya yang sedikit, yang adalah orang-orang lemah yang tidak diangkut serta ke dalam pembuangan ke Babilonia. Namun, di tengah-tengah keadaan yang terpuruk tersebut, Tuhan temyata merestorasi kembali bangsa ini. Kitab Nehemia merupakan salah satu kitab yang mengisahkan proses restorasi tersebut. Bangsa Indonesia yang terpuruk ini pun memerlukan sebuah pemulihan, sebuah "restorasi." Restorasi yang diharapkan di sini, berkaitan dengan keterpurukan yang dipergumulkan seluruh rakyat Indonesia, adalah suatu peralihan dari kondisi menyedihkan yang dialami masyarakat, menuju kepada kesejahteraan rohaniah dan jasmaniah. Berbicara mengenai "kesejahteraan rohaniah," maka tidak mungkin tidak ini akan melibatkan konsep-konsep teologis yang menjadi dasar bagi perubahan itu. Adapun dasar teologis yang akan dijadikan landasan bagi perubahan Indonesia ini diangkat dari konsep teologis restorasi bangsa Yehuda, secara khusus seperti yang diuraikan dalam kitab Nehemia. Nehemia adalah tokoh yang dipakai oleh Tuhan untuk secara langsung terlibat dalam proses pemulihan Yehuda, sehingga tulisannya menolong kita untuk bisa melihat pokok-pokok pikiran teologis yang melatarbelakangi pekerjaan Allah dalam bangsa Yehuda. Dari konsep teologis pemulihan bangsa Yehuda ini kemudian akan dapat dilihat kesinambungannya terhadap rencana Allah bagi pemulihan bangsa Indonesia. Setelah memahami konsep teologis tersebut, orang Kristen kemudian diajak untuk secara aktif menyambut dan mengambil bagian dalam rencana besar Allah tersebut, dengan menyatakan imannya secara nyata dalam rupa tindakan dan peran serta membangun bangsa Indonesia. Peran serta dalam pembangunan ini dikerjakan bukan semata-mata atas dasar perasaan senasib sepenanggungan terhadap saudara sebangsa, tetapi juga dikerjakan di dalam kerangka berpikir teologis