STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Perjamuan Terakhir: Jamuan Paskah atau Bukan?
Perjamuan Kudus adalah sakramen yang dirayakan oleh hampir semua gereja Kristen. Dasar dari sakramen ini adalah titah Yesus sendiri pada waktu Perjamuan Terakhir (Mat. 26:17-25; Mrk. 14:12-21; Luk. 22:7-14, 21-23; Yoh. 13:21-30). Perjamuan Kudus mengingatkan orang percaya pada pengurbanan Yesus di kayu salib. Roti dan anggur yang melambangkan tubuh dan darah Kristus umumnya dikaitkan dengan perjamuan Paskah orang Yahudi yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan murid-muridnya sebelum naik ke atas kayu salib.
Pemahaman bahwa Perjamuan Terakhir yang dimakan oleh Yesus dan murid-muridnya adalah perjamuan Paskah atau bukan sering kali diperdebatkan. Masalah utamanya adalah penggambaran yang kelihatannya saling bertentangan antara injil-injil sinoptik dan Injil Yohanes. Injil-injil sinoptik menuliskan bahwa persiapan makan Paskah tersebut dilaksanakan pada satu hari sebelum Paskah yakni pada bulan Nisan tanggal 14, atau yang dikenal sebagai hari Persiapan. Pada hari Persiapan ini domba Paskah disembelih. Perjamuan Paskah sendiri dimulai malam harinya, yaitu permulaan bulan Nisan tanggal 15. Di dalam Injil Yohanes, Perjamuan Terakhir kelihatannya dilaksanakan satu hari dimuka. Penyaliban Yesus terjadi di hari Persiapan yakni bertepatan dengan disembelihnya anak domba Paskah di Bait Allah. Menurut perhitungan ini Perjamuan Terakhir dilaksanakan pada bulan Nisan tanggal 14, yakni pada waktu hari Persiapan Paskah. Konsekwensinya, Perjamuan Terakhir bukanlah perjamuan Paskah. Pandangan bahwa Perjamuan Terakhir bukan perjamuan Paskah merupakan pandangan yang makin berkembang akhir-akhir ini. Bagi mereka yang setuju dengan pandangan ini, pengkaitan Perjamuan Terakhir dengan perjamuan Paskah adalah suatu tradisi yang dikembangkan setelah kematian Tuhan Yesus oleh orang-orang Kristen. Ini adalah upaya untuk membuat suatu budaya tandingan terhadap adat istiadat Yahudi. Di antara mereka yang berpandangan demikian ada yang tetap percaya bahwa Perjamuan Terakhir benar-benar terjadi di dalam sejarah,4 tetapi banyak pula yang menyangkali kesejarahannya, dengan kata lain Perjamuan Terakhir itu tidak pernah terjadi. 5
Tulisan ini mencoba mempertahankan pandangan bahwa Perjamuan Terakhir merupakan perjamuan Paskah. Untuk mencapai tujuan tersebut, pertama-tama akan dibahas soal reliabilitas dari sumber tradisi ini, yakni Alkitab dan tulisan-tulisan para rabi abad pertama mengenai perayaan Paskah. Kemudian, didiskusikan bagaimana menjelaskan data-data tentang Perjamuan Terakhir yang kelihatannya saling bertentangan dalam Alkitab
Tinjauan Alkitab Terhadap Ajaran Kristen Tauhid
Kristen Tauhid adalah suatu aliran yang kehadirannya telah mendapatkan pengesahan dari Pemerintah Indonesia. Pada saat ini mereka mengadakan ibadah di suatu tempat di kota Semarang, Jawa Tengah. Adapun nama gereja yang mereka pakai adalah Jemaat Allah Global Indonesia (JAGI). Kehadiran kelompok ini tidak terlepas dari ketiga tokohnya, yaitu Tjahjadi Nugroho, Ellen Kristi dan Frans Donald. Sesuai dengan pengakuan para tokoh dari kelompok ini sebagai pengikut paham Unitarian, maka jelaslah bahwa ajaran mereka bersumber dari ajaran sesat, yaitu Arianisme yang diturunkan kepada Unitarianisme, kemudian dilanjutkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Oleh karena itu, ajaran-ajaran yang mereka sebarkan tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya, walau ada sedikit perbedaan dengan penggabungan ajaran Islam di dalamnya. Ajaran-ajaran yang mereka sampaikan, antara lain: Alkitab dan Al-Quran itu sama, yaitu kabar baik. Kemudian Allah yang disembah oleh orang Kristen dan orang Islam adalah sama, yaitu Allah yang esa yang disembah oleh Abraham (Ibrahim). Selanjutnya, mereka menolak keillahian Yesus Kristus, menolak keberadaan Roh Kudus dan menolak doktrin Tritunggal.
Dalam skripsi ini, penulis melakukan tinjauan terhadap ajaran-ajaran Kristen Tauhid ini .melalui sudut pandang Alkitab yang dapat disimpulkan sebagai berikut: pertama, apa yang diajarkan Alkitab dan Al-Quran itu tidak sama, karena pusat pemberitaan Alkitab adalah Yesus Kristus yang adalah Allah, sedang Al-Quran menolak akan keillahian Yesus Kristus. Kedua, Allah yang disembah oleh orang Kristen dan orang Islam itu tidak sama, karena Allah yang dinayatakan dalam Alkitab adalah Allah yang menyatakan diri-Nya baik di dalam Perjanjian Lama yang disebut dengan Malaikat Tuhan, melalui kehadiran Yesus Kristus di dalam dunia ini. Ketiga, Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah Allah dan Satu Pribadi. Keempat, doktrin Tritunggal juga dengan jelas diajarkan di dalam Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Berdasarkan penelitian tersebut, maka pada bagian akhir skripsi ini penulis menyimpulkan bahwa ajaran yang dipegang dan diajarkan oleh kelompok Kristen Tauhid adalah tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Hal ini disebabkan para tokoh Kristen Tauhid tidak sungguh-sungguh mempelajari firman Tuhan dengan baik dan mereka benar. Oleh karena itu, mempelajari segala doktrin yang ada haruslah di bawah terang firman Tuhan. Segala ajaran haruslah dilihat dari sudut pandang Alkitab sebagai kebenaran tertinggi
Teologi dan Praksis Keadilan dalam Kitab Taurat
“Jauh panggang dari api.” Ini adalah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan realitas keadilan sehari-hari di Indonesia. Keadilan sebagai cita-cita bersama bangsa ini, yang tertuang secara sophisticated dalam Pancasila—sebagai konstitusi tertinggi negara, hanya tinggal idealisme yang sangat jauh dari pengejawantahannya. Nilai-nilai utama keadilan dalam Pancasila, seperti persatuan, kebebasan, kesederajatan, dan kekeluargaan, hampir menjadi seperti “sampah,” tak ada arti apa-apa lagi di negara ini. Indikator yang paling jelas dan nyata tentang kesenjangan ini adalah ketika ada (banyak?) warga negara Indonesia, khususnya yang miskin, terpinggirkan dan tertindas, yang masih tak terjamin hak-haknya secara hukum, sosial, politik, dan ekonomi. Celakanya, realitas ketidakadilan ini selalu hanya menjadi bahan tontonan dan obrolan yang nikmat dari masyarakat dari waktu ke waktu.
Namun, bagi TUHAN, masalah ketidakadilan bukan untuk ditonton dan diobrolkan, melainkan untuk dicari jawabannya. Melalui Kitab Taurat, TUHAN menyatakan “keadilan ilahi” kepada umat-Nya, orang-orang Israel, untuk dibaca, dipahami, dan dilakukan dengan setia. Desain awal Allah bagi umat-Nya adalah menjadikan mereka umat yang berkeadilan. Karena itu, Kitab Taurat menyediakan semacam cetakbiru sosial (social blueprint) yang selamanya menjadi acuan (model) bagi tatanan masyarakat yang ideal. Jatuh bangunnya umat Allah (Israel dan Gereja) bergantung pada berapa sesuainya hidup mereka dengan model tersebut. Lalu, apa dan bagaimanakah sesungguhnya teologi dan praksis keadilan di dalam kitab Taurat itu
Perhentian Hari Sabat: Makna dan Aplikasinya bagi Orang Kristen
“Hari Sabat” adalah salah satu tema yang utama dan kontroversial di dalam dunia kekristenan. Dikatakan utama, karena tema ini adalah salah satu perintah dalam Dekalog; kontroversial, karena tema ini memiliki muatan teologis yang kental sehingga dari tema ini muncul pengajaran yang sangat beragam, bahkan cenderung saling bertolak belakang. Di ujung yang satu terdapat kelompok orang Kristen yang mengabaikannya karena menganggap hari Sabat sama sekali tidak ada relevansinya dengan Kristen hari ini. Di ujung yang berbeda terdapat kelompok lain yang menerapkan pendekatan makna literal terhadap tema ini sehingga mengelompokkan orang-orang yang gagal menjalankan perintah tentang hari Sabat ke dalam kumpulan orang yang akan menerima hukuman kekal dalam api neraka. Sedangkan di tengah-tengah kedua kubu terdapat kelompok orang Kristen yang menerapkan perintah ini secara tersirat.
Perbedaan pengertian dan penerapan di atas bermuara pada penafsiran makna dari tema hari Sabat di dalam Alkitab. Untuk itu, makalah ini akan menyorot makna-makna teologis dari tema ini berdasarkan prinsip-prinsip teologia biblika dengan pendekatan tematis. Di akhir makalah ini akan ditampilkan implikasi dari makna biblika tentang hari Sabat sebagai bahan rujukan untuk penerapan perintah keempat Dekalog ini bagi orang Kristen yang hidup di zaman anugerah
Tipe Orang yang Berpotensi Menjadi Ekstrem Teologinya
Pada artikel ini saya akan memetakan beberapa tipe orang yang menurut saya berpotensi mengembangkan sejenis teologi yang ekstrem. Penyebutan tipe tersebut tidak dimaksudkan sebagai stigmatisasi atau labelisasi terhadap pribadi tertentu yang mungkin mempunyai kemiripan pada konteks gereja atau lingkungan masing-masing. Tentu saja saya akan memberikan contoh kasus dari data Alkitab dan contoh kekinian. Harapan penulis adalah kiranya kita sama-sama belajar memeriksa diri atau memeriksa kecenderungan pada pikiran kita sendiri, supaya semakin hari kita menjadi semakin baik sesuai dengan firman Tuhan, bukan sebaliknya
Implementasi Apologetika Prasuposisional Kristen Terhadap Pandangan Agnostisisme Modern Tentang Kebangkitan Yesus Secara Jasmani
Kebangkitan Yesus secara jasmani menjadi satu hal yang sangat mendasar dan hakiki bagi kebenaran iman Kristen. Hal itulah yang dinyatakan Rasul Paulus dalam surat 1 Korintus 15:12-20. Dalam pemahaman Paulus, kebangkitan Yesus secara jasmani berkaitan erat dengan imaimya dan iman orang Kristen. Dia dengan tegas menyatakan bahwa jika Yesus tidak bangkit secara jasmani maka sia-sialah pemberitaannya dan dia berdusta terhadap Allah. Demikian juga bagi kepercayaan orang Kristen, jika Yesus tidak bangkit maka sia-sialah kepercayaan orang Kristen dan orang Kristen masih hidup dalam kuasa dosa serta mengalami kebinasaan, bahkan dikatakan orang Kristen adalah orang yang paling malang dari segala manusia.
Agnostisisme tidak menolak adanya Allah, tetapi Agnostisisme tidak mengakui Allah dapat dirasionalisasikan, diterima oleh rasio. Agnostisisme menolak bahwa pengetahuan tentang ketuhanan dapat diklaim sebagai kebenaran. Kepercayaan agama hanya mempakan estetika jiwa dari kecenderungan masing-masing pribadi. Implikasinya adalah relativisme agama, yang akhimya berkembang menjadi pluralisme agama. Agnostisisme dianggap sebagai sebuah "jalan ketiga" antara Ateisme dan Teisme. Agnostisisme kuat berpendapat bahwa kebangkitan Yesus bukan peristiwa sejarah melainkan atas dasar iman para murid. Sedangkan Agnostisisme lemah berpendapat bahwa peristiwa kebangkitan Yesus adalah sebuah fakta namun apa yang terjadi saat kebangkitan itu tidak dapat diketahui. Banyak teologi modem dibangun atas pengamh Agnostisisme, yang akhimya menyimpang dari ajaran para rasul bahkan menyangkal ajaran para rasul tentang kebangkitan Yesus.
Dalam membahas dan mengatasi pengamh yang diakibatkan oleh pandangan Agnostisisme terhadap gereja, diperlukan suatu sistem apologetika prasuposisional Kristen. Sistem apologetika prasuposisional Kristen menegaskan bahwa setiap orang yang berdialog, memberi tanggapan, berargumentasi maupun berapologetika pasti mempunyai prasuposisi tertentu. Karena setiap orang memiliki prasuposisi tertentu, maka ketika orang percaya beropologetika sebenamya orang percaya itu sudah memiliki prasuposisi juga. Akibatnya, sistem apologetika prasuposisional Kristen menegaskan bahwa orang percaya yang berapologetika tentang apapun juga, termasuk tentang kebangkitan Yesus, harus berapologetika atau membangun sistem apologetika Kristen dengan sudut pandang (prasuposisi) wawasan dunia Kristen, yaitu prasuposisi Alkitab. Orang percaya perlu mengimplementasikan sistem apologetika prasuposisional Kristen terhadap pandangan Agnostisisme modem tentang kebangkitan Yesus
Konsep Menjadi Garam dan Terang Dunia Dalam Matius 5:13-16 dan Implikasinya Bagi Kehidupan Kesaksian Orang Kristen
Sejak dahulu sampai sekarang para pengikut Kristus selalu berhadapan dengan berbagai tantangan. Tantangan yang dihadapi saat ini bahkan kian banyak dan variatif, seiring berkembangnya kemajuan dunia. Walaupun kondisi dunia tidak semakin baik (dalam pergertian mendukung iman Kristen) bagi kekristenan, namun orang Kristen yang berada di dalam dunia ini tetap mengemban misi dari Allah. Kehidupan umat Tuhan selalu bertujuan untuk menyatakan kemuliaan Allah kepada masyarakat dunia di mana mereka berada. Orang Kristen dituntut untuk berbeda dalam seluruh aspek hidupnya karena mereka adalah umat Tuhan, milik kepunyaan Allah. Tuhan menghendaki umat- Nya hidup dalam identitas sebagai umat tebusan. Untuk alasan ini orang Kristen hams berbeda dengan dunia sekitamya, sebuah perbedaan yang menunjukkan bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang hidup dalam kebenaran Tuhan di tengah dunia yang krisis kebenaran. Orang Kristen dituntut untuk hidup dalam identitas sebagai garam dan terang bagi dunia yang berfungsi sebagai proteksi, penetrasi dan desinfektan moral di dalam dunia ini. Untuk itu mereka harus senantiasa menyadari tugas dan tanggung jawab yang Tuhan amanatkan kepada mereka. Dari mereka, Tuhan menghendaki suatu kehidupan kesaksian yang memberikan pengamh ke luar dari pribadi, dan bukan dari luar pribadi. Kehadiran orang Kristen sebagai garahi dan terang, diharapkan akan mempengamhi dunia yang sedang “sakit.” Kebusukan dan kegelapan dunia akibat dosa manusia diharapkan dapat dihambat dengan adanya garam dan terang (orang Kristen) yang ada di tengah-tengah dunia. Orang Kristen tidak boleh ikut terbawa oleh ams dunia yang bersifat memsak, mereka haras tetap dalam identitasnya supaya dunia ini dibawa kembali kepada Allah. Untuk itu orang Kristen yang berada di dalam dunia ini haras tetap dengan identitasnya, menunjukkan kepada dunia ini pola hidup dalam kebenaran dengan kehidupan kesaksian yang mencermin Kristus dan mempengamhi dunia ini bagi kemuliaan Allah
Formasi Spiritual Martin Luther dan Perwujudannya dalam Gereja-Gereja Injili di Indonesia
Tulisan ini mencoba untuk memberi saran bagaimana gereja dapat mengerjakan formasi spiritual. Untuk ini kita akan lebih dahulu menelusuri formasi spiritual Martin Luther sebagai tokoh pencetus Reformasi. Dasar yang diletakkannya menjadi pola pembentukan kerohanian yang dikerjakan oleh gereja-gereja Protestan di kemudian hari, seperti dituliskan oleh F. Richter:
All the important developments that have ever sprung from Protestantism over the centuries can ultimately be traced back to Luther’s thinking. All the tendencies that Protestantism has ever espoused are either explicitly or implicitly present in Luther.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, hal yang Luther ingin wujudkan dalam formasi spiritualnya tereduksi, sehingga apa yang kita jalankan pada saat ini tidak mencakup keseluruhan aspek yang dikembangkan oleh Luther. Hal inilah yang ingin kita kembalikan dalam formasi spiritual yang dikerjakan oleh gereja
Integrasi Spiritualitas dan Kapabilitas Kepemimpinan Gereja Tionghoa
Sejarah perjalanan gereja-gereja Tionghoa di Indonesia hampir mencapai satu abad, namun ditinjau dari aspek spiritualitas dan ke-pemimpinan tampaknya belum terlihat signifikan, baik dari segi kualitas spiritualnya maupun dalam hal kapabilitas kepemimpinan. Citra kepemimpinan spiritual dalam gereja-gereja Tionghoa menghadapi krisis yang cukup memprihatinkan. Beberapa faktor yang menyebabkan hilangnya kepercayaan jemaat terhadap kepemimpinan gereja Tionghoa mencakup masalah spiritual, kapabilitas, integritas dan penyalahgunaan kuasa kepemimpinan itu sendiri. Masalah spiritual adalah kepemimpinan yang tidak memiliki korelasi dengan kehidupan spiritualitasnya, sehingga pemimpin kehilangan pengaruh spiritualitasnya. Gejala ini timbul karena terjadinya missing link antara aspek spiritual dan kepemimpinan. Dampaknya, para pemimpin mempraktikkan kepemimpinan yang tidak spiritual, yang tidak ada bedanya dengan kepemimpinan sekular. Kapabilitas pemimpin dalam gereja lokal terlihat pada aspek kurang terampilnya seorang pemimpin, baik pada segi kemampuan memimpin maupun kemampuan berorganisasi. Ditemukan adanya pemimpin gereja yang kurang kapabilitasnya namun ditempatkan pada posisi penting dan strategis, serta ada yang terpilih bukan karena kapabilitasnya, tetapi karena kapasitas ekonominya yang mapan.
Tujuan penulisan ini diharapkan dapat menciptakan kepemimpinan Kristen yang integratif antara aspek spiritualitas dan kapabilitas, agar dapat menghasilkan kepemimpinan yang alkitabiah; spiritual, fungsional, profesional, dinamis, dan efektif