STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Wanita Bijak sebagai Mediatrix : Peringatan terhadap Penolakan Hikmat; Peran Guru Kristen berdasarkan Eksposisi Amsal 1:20-33
Ketegangan Hubungan Yahudi dan Bukan Yahudi dalam Yudaisme Bait Allah Kedua dan dalam Surat Galatia
Melalui tulisan ini, penulis ingin memperlihatkan bukti-bukti yang meneguhkan hipotesa bahwa kelompok Yahudi (termasuk yang Kristen) tidak dapat menerima kelompok bukan Yahudi, karena mereka memandang kelompok bukan Yahudi bukan sebagai umat Allah jika tidak disunatkan. Dengan membandingkan apa yang kita lihat dalam masyarakat Yahudi Bait Allah Kedua, kita akan dapat melihat alasan utama dan lebih mendasar dari penolakan lawan Paulus di Galatia (kelompok Kristen Yahudi) untuk menerima status kelompok Kristen bukan Yahudi. Selain itu, kita pun akan membahas persyaratan yang dituntut oleh Yudaisme BAK bagi para simpatisan Yudaisme yang ingin menjadi anggota umat Allah. Melalui pembahasan ini, signifikansi sunat sebagai syarat masuk bagi orang bukan Yahudi ke dalam Yudaisme akan nampak lebih jelas lagi
"Dari Kekosongan Kepada Kelimpahan": Fondasi Trinitarian dari Spiritualitas Kristen
Tidak diragukan lagi mengenal Allah adalah tujuan menjadi seorang Kristen. Aquinas dan banyak teolog lain mengatakan bahwa tujuan utama dari keberadaan kita sebagai orang Kristen terletak di dalam momen ketika iman kita diubah menjadi pengetahuan, yakni ketika kita mengetahui Allah secara sempurna dengan melihat Dia muka dengan muka. … Namun, dalam pengertian tertentu, mengenal Allah tidaklah mudah atau, paling tidak, tidak senatural yang kita pikirkan. Proses mengenal Allah memerlukan kondisi tertentu, karena secara umum obyek pengetahuan kita menentukan cara kita mengetahui/mengenalnya (sebagai contoh, kita mengetahui kebenaran-kebenaran ilmu pengetahuan dengan cara belajar; kita tahu bermain alat musik dengan cara mempraktikkannya; dan seterusnya). Karena Allah secara absolut melampui pemahaman kita dan tidak dapat dikontrol oleh kita, tidaklah mengherankan jika cara yang benar untuk mengenal Allah akan mengejutkan dan menggoncang kita. Kekristenan (dan agama-agama lain juga di dalam derajat tertentu) mengajarkan bahwa melihat dan mengenal Allah secara sungguh-sungguh akan mengakibatkan kematian. … Kematian di sini berarti pemusnahan ego atau sikap mementingkan diri sendiri dan mengutamakan kenyamanan pribadi, sebagaimana William James, seorang filsuf dan psikolog Amerika, ungkapkan, pengalaman religius yang sejati selalui diawali dengan penghancuran ego seseorang. Tanpa menyadari dengan mendalam bahwa kita tidak ada apa-apanya, bahwa hati atau kehidupan kita pada dasarnya adalah kosong, kita tidak dapat mengenal Allah dengan benar dan lebih menyeluruh. … Pengalaman kekosongan atau kehampaan ini pada dasarnya adalah sebuah pengalaman akan kematian …. Selain itu, kekosongan atau kehampaan yang kita harus praktikkan bersama Kristus di sini tidak sama dengan konsep agama-agama Timur (misalnya Buddhisme) tentang kehampaan. … Sebab itu, kehampaan atau keputusasaan kita, yang dirasa seperti kematian, bukanlah akhir di dalam dirinya sendiri; ia hanyalah sarana untuk membawa kita kepada Allah. Kita sangat terbiasa dengan kata “Allah” sehingga kita jarang sekali sadar bahwa Allah adalah Keberadaan yang agung dan misterius yang sepenuh-penuhnya melebihi pemahaman kita dan menolak untuk dikontrol oleh keinginan dan hasrat kita. Karena Allah secara total melampaui kita namun menopang kita, mengenal Dia bagi kita tidak terpisahkan dari kematian
Studi Eksegesis Kitab Kejadian 1:1-2 dan Implikasinya Bagi Perdebatan Dalam Konsep Creatio Ex Nihilo
Penciptaan merupakan doktrin yang sangat penting untuk dipahami karena doktrin penciptaan merupakan doktrin yang sangat mendasar. Segala doktrin yang ada dalam pengajaran Kristen tidak dapat lepas dari doktrin penciptaan. Oleh karena itu, sebelum memahami doktrin lainnya, seorang pelajar harus memahami doktrin penciptaan terlebih dahulu.
Salah satu ajaran yang banyak diperdebatkan dalam doktrin penciptaan adalah teori creatio ex nihilo, sebuah pemahaman yang mengajarkan mengenai penciptaan Allah yang dilakukan tanpa menggunakan materi yang sudah ada, atau penciptaan dari ketiadaan. Teori ini bermula dari abad 2 M dan kemudian diikuti oleh beberapa bapa-bapa gereja sebagai respons terhadap filosofi Plato dan ajaran Gnostik yang merebak pada waktu itu. Hal ini dilakukan untuk “melindungi” kedaulatan Allah yang mulai digugat dan dipertanyakan. Pemahaman teori cratio ex nihilo ini terus berkembang dan dipegang sampai zaman reformasi pada abad 16 M.
Namun setelah zaman pencerahan yang sangat menekankan akan kritik teks, teori ini kembali dipertanyakan. Beberapa penafsir beranggapan bahwa teori ini tidak pemah diungkapkan secara eksplisit dalam Alkitab. Kejadian 1:1-2 yang sering kali dijadikan dasar bagi pemegang teori ini dipertanyakan. Beberapa penafsir tersebut mulai memberikan altematif penafsiran yang terdapat di dua ayat pertama dalam Alkitab itu, yang menolak teori creatio ex nihilo. Beberapa penafsir yang masih memegang teori ini melakukan pembelaan dengan memperkuat penafsiran pada Kejadian 1:1-2 tersebut.
Tentu saja masing-masing posisi memiliki Implikasinya tersendiri. Tidak memegang teori ini berarti Allah tidak seutuhnya berdaulat, karena penciptaan-Nya tergantung dengan materi yang terbatas. Namun, dengan memegang teori ini dapat berarti dosa dan kejahatan ada oleh karena Allah, sebab tidak ada sesuatu yang tidak berasal dari Allah. Karena itu masing-masing posisi akan menentukan beberapa penafsiran lainnya.
Dengan demikian studi eksegesis Kejadian 1:1-2 sangat penting untuk dilakukan saat ini. Setiap analisis seperti analisis historis, analisis sastra, dan analisis beberapa kata penting akan menentukan pemahaman mengenai penciptaan. Selain itu melihat dukungan-dukungan dari kitab lain akan semakin memperlengkapi kesimpulan yang dapat ditarik. Hal inilah yang akan diselidiki dalam skripsi ini: studi eksegesis kitab Kejadian 1:1-2 dan implikasinya bagi perdebatan dalam konsep creatio ex nihilo
Apakah Keilahian Yesus merupakan Ciptaan Paulus?: Penyelidikan terhadap Tradisi Gereja Purba dalam Surat Paulus
Hal yang paling kontroversial mengenai isu hubungan Paulus dan Yesus ini adalah konsep keilahian Yesus. Yesus dianggap tidak pernah memandang diri-Nya sedemikian tinggi sehingga setara dengan Allah, melainkan hanya sebagai seorang nabi Yahudi penganut Yudaisme yang mengajak orang Yahudi untuk kembali menyembah YHWH. Paulus dianggap telah mengubah Yesus menjadi Kristus, Tuhan dan Anak Allah yang setara dengan Allah. Ia dituduh telah mengubah agama Yesus menjadi agama tentang Yesus. Ini masalah pokok yang ingin dibahas di dalam artikel ini: Apakah konsep keilahian Yesus dari Paulus merupakan ciptaannya sendiri atau berbasiskan tradisi gereja purba? Kita akan menjawab pertanyaan ini dengan menyelidiki tradisi-tradisi gereja purba yang terdapat di dalam surat-surat Paulus
Oracle against Israel's social injustices: a rhetorical analysis of Amos 2:6-8
This article applied rhetorical analysis to an analysis of Amos’ prophetic oracle against Israel’s social injustices in Amos 2:6–8. The prophet uses a major rhetorical genre, namely judicial rhetoric, and several smaller rhetorical devices including the oracle against the nations, geographical chiasmus, numerical formula (the N+1 formula), the sevenfold structure, rhetorical entrapment, repetition, the war oracle, parallel structure and chiasms. These devices are utilised by Amos to make a persuasive appeal to his audience to respond to divine indictment
Silent Crime: Suatu Ulasan Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan
Beberapa waktu lalu, masyarakat Indonesia dikagetkan dengan sebuah berita: “Manohara Odelia Pinot kabur dari suaminya” yang adalah anggota kesultanan Kelantan, Malaysia pada 31 Mei 2009. Cara Manohara kabur dari penjagaan yang ketat dan pengalaman-pengalaman yang mengerikan yang ia alami di tangan suaminya telah menghebohkan media massa di tanah air. Walaupun sebenarnya ada beberapa selebritis wanita Indonesia lain yang mengalami tindak kekerasan dari suami mereka, cerita Manohara yang diberitakan secara besar-besaran. Ia melarikan diri karena ada “kemungkinan” ia memang benar-benar mengalami kekerasan tersebut. Jika benar demikian, kisah dramatis ini adalah kebalikan dari dongeng-dongeng tentang tuan putri dan pangeran yang selalu diakhiri dengan “and they live happily ever after.” Kekerasan terhadap perempuan dapat mengambil berbagai bentuk, misalnya pelecehan secara fisik, seksual, dan kejiwaan. Karena cakupannya cukup luas, tulisan ini, utamanya, hanya akan meninjau kekerasan secara fisik, dan lebih khusus lagi, akan dibatasi pada “penganiayaan terhadap istri” (“wife battering”). Bagian awal tulisan ini akan menjelaskan pengertian dan penyebab kekerasan terhadap perempuan. Kemudian, akan diulas secara singkat tipe laki-laki (suami) macam apa yang rawan untuk menjadi “penganiaya istri” dan tipe perempuan (istri) macam apa yang biasanya menerima penganiayaan dari suaminya. Selanjutnya, akan dibahas penjelasan efek-efek yang ditimbulkan dari tindak kekerasan terhadap perempuan. Tulisan ini juga akan memberi tuntunan umum dan praktis bagaimana menolong perempuan “korban penganiayaan” dalam setting konseling Kristen. Akhirnya, sebuah refleksi singkat secara alkitabiah akan dipaparkan untuk melihat isu ini dari “kaca mata” firman Tuhan
Pola Alkitabiah Pendidikan Anak Usia Tujuh tahun hingga Duabelas tahun yang Efektif untuk Proses Pembentukan Karakter Pemimpin Hamba di Seminari Anak Pelangi Kristus
Generasi muda Kristen bergumul di tengah era Pascamodernisme yang skeptis terhadap kebenaran yang bersifat obyektif dan mutlak. Hadirnya pemimpin Kristen yang berintegritas dan berkarakter untuk menyuarakan kebenaran Allah melalui hidup yang dapat diteladani, merupakan salah satu jawaban bagi masyarakat posmodern yang skeptis terhadap kebenaran dan menolak standar moralitas. Alkitab mengajarkan bahwa pendidikan iman dan karakter harus dimulai sejak anak masih kecil. Penting bagi orang tua untuk mengetahui desain proses pendidikan anak yang menerapkan ajaran dan prinsip Alkitab seutuhnya dan sepenuhnya. Pertama dengan mempelajari prinsip pendidikan anak menurut Alkitab, berdasarkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru untuk mengetahui prinsip, tujuan, fokus, metode, proses dan landasan pendidikan anak yang dikehendaki Tuhan. Kedua, belajar dan meneladani kekuatan serta keunikan sistem pendidikan anak dalam keluarga Yahudi. Ketiga, merefleksi dan mencontoh proses pendidikan pada masa kanak-kanak beberapa tokoh Alkitab yang hidupnya dapat menjadi teladan, berkarakter, berintegritas, memiliki iman yang teguh serta dipakai Tuhan secara luar biasa. Juga meneladani pola disiplin rohani pada masa kanak-kanak, yang dijalani oleh beberapa pemimpin rohani yang berperan luar biasa dalam sejarah gereja masa lalu, dengan karakter yang mengagumkan dan pelayanannya mendatangkan berkat bagi generasi ke generasi.
Berdasarkan prinsip Alkitab; merefleksi sistem pendidikan anak dalam keluarga Yahudi; meneladani pola disiplin rohani masa kanak-kanak yang dialami beberapa tokoh Alkitab dan pemimpin rohani dalam sejarah kekristenan, sebagai teladan; membuat desain pola alkitabiah pendidikan anak usia tujuh hingga duabelas tahun, yang efektif untuk proses pembentukan karakter pemimpin hamba, bagi murid-murid Seminari Anak Pelangi Kristus di Surabaya. Mereka adalah pemimpin Kristen masa depan yang dapat menyuarakan kebenaran Allah melalui profesi panggilan hidup dan kehidupan mereka yang berkarakter dan berintegritas
Baptisan dan Kepenuhan Roh: Sebuah Perbandingan antara Pandangan Kekinian dengan Data Kisah Para Rasul
Umumnya kalangan Karismatik amat mementingkan baptisan Roh, kepenuhan Roh, dan bahasa roh. Ada opini yang cukup khas di kalangan gereja atau persekutuan Karismatik mengenai topik ini, walaupun di satu sisi ada aspek positif di dalamnya, yaitu tema tentang Roh Kudus dibahas di mana-mana. Hal tersebut tidak lain merupakan pertanda adanya kepekaan di kalangan pimpinan gereja atau kaum awam untuk mengangkat topik ini ke permukaan, sehingga kita menyaksikan bahwa banyak berkat sungguh-sungguh diperoleh, bukan semata-mata karena topik itu dibicarakan, tetapi saya percaya hal ini juga merupakan berkat tersendiri dari Allah Roh Kudus. Selain itu, hal positif lain adalah akhir-akhir ini cukup banyak terdengar orang memberikan kesaksian bahwa mereka telah mengalami kelepasan yang baru, mendapatkan sukacita yang tak terhingga setelah mereka merasakan “pengalaman kedua,” “berkat tambahan” di luar pengalaman kelahiran baru yaitu ketika percaya Kristus sebagai Juruselamat. Tuhan menjadi lebih dekat dan lebih nyata, kedamaian dirasakan datang berlipat ganda, kuasa dan kemenangan selalu menjadi berita yang hangat setelah mendapatkan sentuhan dari Roh Kudus. ... Tetapi, bersamaan dengan itu dari sisi lain, harus pula secepatnya kita bertanya: Apakah dasar pengakuan dan ajaran yang marak belakangan ini dapat dipertanggungjawabkan secara alkitabiah? Apakah pengalaman dan kesaksian berbagai kalangan tersebut sesuai dengan prinsip firman Tuhan? Apakah doktrin yang berkembang di antara mereka solid dan konsisten dengan pengajaran yang sehat? Dari sudut inilah saya mengajak kita melihat pengertian tentang baptisan dan kepenuhan Roh. Secara ringkas saya akan mengetengahkan pandangan yang umum tentang topik ini dari aliran yang mendukung dan selanjutnya akan diberikan tanggapan berupa data utama dari kitab Kisah Para Rasul. Harapan saya ini akan menjadi sebuah perbandingan yang akan membawa semua kembali pada interpretasi yang tepat dari Alkitab