STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Tinjauan terhadap Spiritualitas Kristen Masa Kini berdasarkan Konsep Religious Affections Jonathan Edwards

    No full text

    Studi Perbandingan Konsep Eskatologi dalam Agama Islam dan Kristen

    No full text

    Tinjauan Terhadap Konsep Pelayanan Misi yang Terintegrasi Berdasarkan Pelayanan Yesus dalam Matius 9:35-38

    Get PDF
    Setiap anak Allah mengemban tugas misi untuk pergi memberitakan kabar sukacita dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. Pekerjaan pelayanan misi tersebut menjadi tugas pelayanan misi orang-orang Kristen hingga Yesus datang kembali. Dalam melaksanakan tugas pelayanan misi, orang Kristen terus berusaha mempelajari, memahami, dan meniru model misi Yesus Kristus selama di dunia. Selama berabad-abad gereja Kristen telah menafsirkan misi yang Yesus Kristus lakukan dan melaksanakannya dengan paradigma yang berbeda-beda. Masing-masing paradigma mengungkapkan pemahaman secara berbeda tentang iman Kristen sesuai dengan penafsiran masing-masing gereja. Misi mengandung dua mandat yaitu pertama penginjilan yang rohani, mengacu pada pengutusan untuk memberitakan kabar baik keselamatan melalui Yesus Kristus dan kedua tanggung jawab sosial kemanusiaan yang memanggil orang Kristen untuk ikut serta secara bertanggung jawab dalam masyarakat manusia, termasuk berusaha demi kesejahteraan manusia dan keadilan. Namun dua mandat tersebut mengalami pergeseran yang terjadi bersamaan dengan kebangkitan pra milenialisme yang dikenal dengan fundamentalisme dan protes terhadap sifat yang menekankan dunia dari Injil sosial. Kaum Injili menyadari perlunya strategi misi yang terintegrasi, maka pada 1970 untuk pertama kalinya para anggota Latin American Theological Fraternity (FTL, singkatan Spanyol) mencetuskan istilah misi yang terintegrasi. Strategi dan istilah misi yang terintegrasi tersebut dicetuskan oleh Rene Padilla dan Samuel Escobar. Paradigma misi yang terintegrasi berkembang menjadi paradigma pelayanan misi Kristen secara internasional. Konsep dari misi yang terintegrasi sebagian besar didukung oleh komunitas global gereja-gereja Injili. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dipastikan bahwa pelayanan misi seperti itu sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Matius 9:35-38 merupakan salah satu bagian firman Tuhan yang menjelaskan pelayanan Tuhan Yesus di dunia. Pengajaran dan mujizat yang dilakukan dalam pelayanan-Nya menunjukkan bahwa fakta dari kata dan perbuatan-Nya merupakan bukti otoritas-Nya sebagai Mesias. Oleh karena itu teks tersebut dipakai sebagai acuan dalam meninjau pelayanan misi yang terintegrasi. Penelitian ini memperlihatkan bahwa pelayanan misi yang terintegrasi merupakan kebangkitan kembali paradigma misi yang berakar di dalam kitab suci dan merupakan model pelayanan Yesus yang utuh selama di dunia, yaitu mengajar, memproklamasikan injil, dan menyembuhkan. Konsepnya adalah proklamasi kasih Allah dan demonstrasi Injil melalui perbuatan kebaikan kasih dalam setiap aspek kehidupan secara integral. Tujuan dari pelayanan misi yang terintegrasi adalah memberitakan kepada dunia bahwa Yesus adalah Mesias, Raja dan Juru selamat

    Peran Diakonia Gereja dalam Konteks Kemiskinan di Indonesia

    No full text

    Tinjauan Eksegetikal Terhadap Konsep Hubungan Bapa dan Anak Dalam Injil Yohanes dan Implikasinya Bagi Doktrin Tritunggal

    No full text
    Injil Keempat atau sering kali disebut sebagai Injil Yohanes merupakan injil yang cukup unik di dalam menceritakan siapa Yesus dan karya-Nya. Sedikit berbeda dengan injil sinoptik, penulis Injil Yohanes menyajikan kehidupan Yesus dengan nuansa teologis yang cukup kental. Hal tersebut terlihat di mana penulis Injil Yohanes menempatkan ke- Anak-an Yesus jauh melebihi injil sinoptik. Perbedaan yang terlihat cukup kentara adalah banyaknya istilah ’’Bapa” yang muncul lebih dari 120 kali, jauh melebihi injil sinoptik dan penulis Perjanjian Baru lainnya. Yesus menyebut Allah bukan hanya dengan ungkapan ’’Bapa” saja atau ”Bapa-Ku” namun juga dengan ungkapan ’’Bapa yang mengutus Aku.” Terminologi ’’Bapa” yang muncul melalui ucapan Yesus secara pribadi menunjukkan bahwa penggunaan istilah “Bapa-Anak” adalah pusat dari wacana Yesus baik secara pribadi maupun publik. Di dalam menyajikan hubungan Bapa dan Anak antara Yesus dengan Allah, penulis Injil Yohanes mengijinkan adanya paradoks dalam hubungan tersebut. Pertama, penulis Injil Yohanes menyinggung kesetaraan Yesus dengan Bapa, dengan tegas Yesus berkata “Aku dan Bapa adalah satu” (10:30). Kedua, secara seimbang dan berhati-hati penulis Injil Yohanes pun menekankan ketaatan dan kebergantungan Anak sebagai yang diutus terhadap Bapa, “Bapa lebih besar daripada Aku” (14:28). Perdebatan muncul ketika aspek kedua, yakni ketaatan dan kebergantungan Anak secara sepihak terhadap Bapa diindikasikan sebagai pola subordinasi Anak secara peran terhadap Bapa. Berdasarkan serangkaian analisis terhadap teks yang berbicara mengenai hubungan Anak terhadap Bapa khususnya dalam Injil Yohanes, penulis mendapati, Anak sebagai yang diutus Bapa memenuhi panggilan tugas-Nya dalam kesatuan-Nya yang sempuma dengan Bapa. Pada saat yang sama, ketaatan yang dilakukan Anak dan kebergantungan Anak secara sepihak terhadap Bapa mengekspresikan Anak secara peran subordinasi terhadap Bapa. Namun, semua itu dilakukan-Nya karena kasih-Nya terhadap Bapa dan menjadi dasar bahwa Anak ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Anak. Pada akhimya, penulis menyimpulkan bahwa pribadi dan karya Yesus hanya dapat dimengerti dalam terang hubungan yang terjalin antara Anak dengan pribadi yang la sebut sebagai: Bapa

    Style Khotbah Sungsang (The Upside Down Sermon Style) : Khotbah Ekspositori dengan Pembalikan Urutan Ayat

    No full text

    Pandangan Alkitab tentang Peran Ibu di dalam Pembentukan Iman Anak

    No full text

    Tinjauan Terhadap Kurikulum Kambium dan Implikasinya Bagi Kurikulum Pembinaan Kerohanian Remaja di Era Pascamodern

    No full text
    Pembinaan kerohanian bagi kaum remaja di era pascamodern ini merupakan "pekerjaan rumah" yang tidak mudah untuk dikerjakan. Hal ini disebabkan remaja mengalami perkembangan secara alamiah dari masa kanak-kanak ke dewasa yang berakibat terjadinya banyak perubahan dalam diri remaja. Selain itu, dampak perubahan zaman yang demikian kuat telah mempengaruhi pola berpikir bahkan perilaku remaja. Dengan karakteristik remaja yang demikian, maka tidak mengherankan membina kerohanian remaja menjadi tanggung jawab yang tidak mudah untuk dilakukan. Gereja perlu "putar otak" untuk menggumuli kurikulum yang tepat sehingga efektif dengan karakteristik remaja masa kini yang membutuhkan pembinaan kerohanian berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika sudah demikian, gereja tertantang sekaligus terpanggil sebagai "agen" Allah dalam dunia ini untuk membina warga jemaatnya secara khusus remaja guna mengalami pertemuan, pengenalan, dan pertumbuhan secara pribadi dengan Allah. Pembinaan kerohanian dan pengajaran di gereja sudah seharusnya diperlengkapi dengan kurikulum up to date, yang tentunya sesuai dengan kebutuhan remaja dan mengikuti perkembangan zaman. Kehadiran Kambium di antara kurikulum pembinaan kerohanian telah memperkaya kasanah bahan pembinaan yang sudah ada di Indonesia. Harapannya, Kambium dapat menolong gereja atau persekutuan agar secara intensional dan konsisten menjangkau orang-orang yang terhilang. Melalui pembinaan Kambium dapat memuridkan orang-orang yang sudah diselamatkan agar menjadi serupa Kristus. Selanjutnya, murid tersebut pergi dan dapat melipatgandakan murid lainnya sebagai pekerja misi bagi Kristus dan gereja-Nya di tengah dunia. Namun, disadari tidak ada satu bahan pembinaan atau metode pengajaran yang dapat dipergunakan dan sesuai dengan semua gereja, lembaga, atau persekutuan. Demikian pun yang terjadi dengan kurikulum Kambium. Ada beberapa kendala yang dihadapai ketika mengimplementasikan kurikulum tersebut ke dalam kurikulum pembinaan kerohanian remaja. Oleh karena itu, perlu beberapa revisi agar kurikulum Kambium dapat dipergunakan sebagai kurikulum pembinaan kerohanian remaja

    Tinjauan terhadap Pandangan Choan-Seng Song Mengenai Sejarah Keselamatan (Heilsgeschichte)

    Get PDF
    Tidak ada pemikir teologi yang sungguh-sungguh mempelajari tentang misi yang boleh mengabaikan karya Choan-Seng Song, demikian dikatakan oleh Michael S. Moore di dalam artikelnya “A Critical Profile of Choan-Seng Song’s Theology.” Menurut Moore, Song membuat teolog-teolog, khususnya dalam bidang misiologi, memikirkan ulang konsep-konsep yang sangat mendasar mengenai Allah, Kristus, gereja, penciptaan, inkarnasi, dan pembebasan. Oleh sebab pengaruh Song yang besar terhadap dunia teologi, maka artikel ini hanya difokuskan pada teologinya saja dan karena luasnya pemikiran Song serta keterbatasan ruang penulisan, artikel ini hanya akan membahas satu sisi, yaitu pandangannya mengenai sejarah keselamatan (heilsgeschichte). Alasan yang sangat mendasar terhadap pemilihan topik ini adalah karena isu utama dalam teologi Song adalah tanggapannya terhadap sejarah keselamatan, terutama dikaitkan dengan sejarah dan budaya Asia. Menurut Song, pandangan para teolog Kristen bahwa kesinambungan sejarah Israel dan sejarah gereja sebagai bagian yang paling penting dari keselamatan Allah yang berakhir pada akhir zaman, atau yang disebut sebagai sejarah keselamatan (heilsgeschichte) adalah salah. Menurutnya, sejarah Israel dan sejarah gereja hanya merupakan simbol bagaimana Allah menyelamatkan bangsa-bangsa lain. Jadi, bangsa Israel dan gereja bukan satu-satunya pembawa dan saluran penyelamatan Allah. Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian terhadap tulisan-tulisan Choan-Seng Song dan tulisan-tulisan lainnya yang membahas pemikirannya. Artikel ini akan membahas pandangan Song mengenai sejarah keselamatan (heilsgeschichte) dan dasar pemikirannya, tanggapan positif dan negatif terhadap pandangan tersebut dan aplikasinya bagi kekristenan di Indonesia

    Tinjauan Terhadap Strategi Komunikasi Injil “Redemptive Analogy” Berdasarkan Perspektif Teori Komunikasi Lintas Budaya David Hesselgrave.

    Get PDF
    Mengkomunikasikan Injil secara lintas budaya merupakan pergumulan klasik dari zaman ke zaman dalam dunia misiologi. Segala daya dan upaya telah dilakukan demi tercapainya suatu komunikasi yang efektif bebas dari sinkretis. Di tengah-tengah pergumulan ini, seorang misionaris bernama Don Richardson menemukan suatu strategi komunikasi Injil untuk masyarakat kesukuan atau primitif. Strategi ini dikenal dengan nama strategi Redemptive Analogy atau Analogi Penebusan. Strategi ini tidak hanya berbicara mengenai sebuah inovasi baru tetapi sebuah perdebatan di kalangan para misiolog dan misionaris. Sebagian pihak menitikberatkan permasalahan pada teologis dan pihak yang lain pada praksis misi Richardson. Untuk itu, penelitian ini diadakan sebagai cara menemukan sebuah penilaian yang objektif terhadap usaha Richardson di masa lampau. Penelitian ini difokuskan pada pendekatannya, latar belakang pemikiran dan strategi komunikasi Injil yang telah diterapkannya dalam konteks masyarakat suku Sawi. Melalui identifikasi ini, maka jawaban akhir diharapkan tersedia bagi Komunikator Injil atau misionaris sekarang ini yang melayani dalam konteks masyarakat suku. Dalam rangka mencapai penilaian yang objektif, teori komunikasi Injil hasil pemikiran David Hesselgrave menjadi acuan dalam penelitian ini. Teori komunikasi tersebut berisi tujuh dimensi yang dirancang untuk tercapainya suatu komunikasi Injil yang efektif. Tujuh dimensi itu meliputi cara-cara memahami pandangan dunia, cara berpikir, bentuk linguistik atau tata bahasa, pola perilaku, struktur sosial; cara menyalurkan berita dan cara memahami sumber motivasi. Tentu saja tujuh dimensi itu harus diterapkan dalam ketundukkan pada kebenaran Firman Tuhan. Sebagai hasil penelitian, ditemukan bahwa strategi komunikasi Richardson memenuhi syarat pola tujuh dimensi kategori Hesselgrave. Namun demikian, Richardson telah terjebak dengan konteks budaya. Konteks budaya telah melahirkan suatu pemahaman teologi yang kurang tepat bagi Richardson sendiri. Selain itu pendekatannya termasuk dalam kategori religious similarities yang mencari kesamaan dalam suatu kepercayaan dengan Kekristenan. Pendekatan ini terlalu memaksakan dan berisiko jika tidak ada tindak lanjut pengajaran. Dengan bercermin pada sejarah di masa lampau, maka strategi Analogi Penebusan ini sebenarnya dapat dipakai sebagai salah satu metode bagi para komunikator Injil atau misionaris. Hanya saja perlu mendasarkan semua pendekatan di bawah terang kebenaran Firman Tuhan

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇