STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Studi Tentang "Panggilan Untuk Menderita" dalam Kitab Yeremia dan Implikasinya bagi Hamba Tuhan dalam Konteks Pelayanan yang Sulit
Tinjauan Terhadap Praktik Tatung Dalam Kepercayaan Tionghoa di Kalimantan Barat dari Perspektif Demonologi Kristen
Salah satu budaya Tionghoa di Kalimantan Barat yang menarik perhatian banyak orang adalah praktik tatung. Hal ini disebabkan oleh kuasa supranaturalnya. Orang- orang yang menganut kepercayaan demikian meyakini bahwa kuasa itu berasal dari tuhan-tuhan. Hal ini dipengaruhi oleh worldview mereka tentang tuhan. Sebagian orang menilai bahwa praktik tatung merupakan praktik yang berbahaya bagi tubuh dan jiwanya sendiri. Bahkan, praktik ini menyesatkan banyak orang ke jalan kegelapan. Tentu saja penilaian ini tidak bisa diterima oleh mereka. Namun, apakah penilaian tersebut benar? Alkitab merupakan standar kebenaran yang absolut, yang mampu memberi penilaian yang objektif. Karena itu, budaya tersebut perlu ditinjau dengan perspektif demonologi Kristen. Dari hasil peninjauan, temyata praktik tatung memiliki persamaan dengan praktik mediumistik yang terdapat di dalam Alkitab. Praktik demikian memiliki permasalahan teologis dan praktis, terutama berkaitan dengan konsep mereka tentang Tuhan. Bagi mereka, ada banyak tuhan atau dewa yang berasal dari arwah-arwah orang mati atau arwah-arwah leluhur. Kuasa dari tuhan-tuhan mereka adalah terbatas dengan regional dan mereka percaya bahwa tidak ada kuasa dari tuhan yang universal. Konsep demikian sangat bertentangan dengan firman Tuhan, dan konsep demikian yang membuat mereka juga sulit menerima injil. Selain itu, perspektif demonologi Kristen menyatakan bahwa praktik tatung merupakan praktik kekejian bagi Tuhan, karena praktik tersebut mengandalkan kuasa iblis yang disebut okultisme. Kuasa supranatural dari praktik mereka merupakan kebohongan dari Iblis yang membuat orang semakin jauh dari Tuhan yang kudus. Setelah ditinjau lebih jauh lagi, temyata praktik tatung juga mengandung unsur materialisme dan mempakan praktik penyembahan berhala. Penyembahan dalam praktik tatung berfokus pada objek yang tidak tepat, yaitu iblis yang sebenamya sebagai objek penyembahan mereka. Khusus bagi hamba Tuhan dan jemaat gereja di Kalimantan Barat, perlu memahami budaya demikian dari perspektif demonologi Kristen, supaya menjauhi bahaya sinkretisme di tengah jemaat, membantu usaha kontekstualisasi injil dan pelayanan pastoral atau konseling kepada penganut kepercayaan Tionghoa yang bam bertobat
Tinjauan Alkitab terhadap Konsep Kematian dan Kehidupan setelah Kematian dalam Tradisi Tionghoa dan Implikasinya dalam Pelayanan Penginjilan terhadap Orang Tionghoa.
Kebudayaan dan manusia tidak dapat dipisahkan. Manusia menghasilkan budaya dan budaya yang dihasilkan itu mengikat kehidupan manusia. Sebagai bagian dari kebudayaan, tradisi Tionghoa juga mengikat orang-orang Tionghoa dengan berbagai macam kebiasaan dan kepercayaan yang ada di baliknya. Di balik penyembahan leluhur yang menjadi tradisi orang Tionghoa, terbentang konsep kematian dan kehidupan di balik kematian.
Orang Tionghoa percaya bahwa orang yang mati tidak sungguh-sungguh mati (musnah), melainkan terus melanjutkan kehidupannya di dunia lain. Kepercayaan ini memang mirip sekali dengan apa yang diajarkan dalam Alkitab. Namun, kemiripan ini ternyata menghasilkan praksis yang berbeda karena setelah ditelusuri ternyata banyak perbedaan-perbedaan yang tidak dapat diabaikan begitu saja.
Tradisi orang Tionghoa percaya, sama seperti orang yang masih hidup di dunia ini, demikianlah orang yang melanjutkan kehidupannya di dunia lain. Mereka membutuhkan hal-hal duniawi, sama seperti ketika mereka masih hidup di dunia ini. Makan, minum dan pakaian adalah salah-satu kebutuhan dari roh manusia di alam kematian agar mereka tidak mengalami kelaparan. Semua itu harus disediakan oleh keluarga atau keturunannya yang masih hidup di dunia agar roh manusia itu tidak mencelakai atau mendatangkan malapetaka bagi keluarganya.
Kepercayaan ini telah mengikat orang Tionghoa dalam tradisi penyembahan leluhur secara turun-temurun. Semua orang Tionghoa yang belum percaya kepada Tuhan, terikat kepada tradisi pemujaan/penyembahan leluhur sebagai bentuk dari filial piety (bakti kepada orang tua). Penyembahan leluhur ini pula yang menjadi penghalang terbesar bagi orang Tionghoa untuk percaya kepada Tuhan Yesus, karena dalam Alkitab penyembahan leluhur itu dilarang dan merupakan penyembahan berhala.
Tidak dapat disangkali, konsep kematian dan kehidupan setelah kematian memegang peran penting dalam praktik penyembahan leluhur. Mereka yang tidak menyembah leluhur atau mengabaikan kewajiban menyediakan makanan dan minuman bagi roh leluhurnya akan dipandang anak durhaka (tidak berbakti). Namun, di sisi lain, kepercayaan ini juga menarik orang Tionghoa yang masih hidup, agar setelah mati, mereka juga mendapat perlakuan yang sama, supaya tidak menjadi hantu kelaparan.
Siapakah yang harus memutuskan ikatan ini? Orang Kristen yang telah mengalami anugerah keselamatan seharusnya dapat menolong orang Tionghoa untuk terlepas dari konsep yang salah ini. Konsep kematian dan kehidupan setelah kematian yang salah ini harus diluruskan berdasarkan kebenaran firman Tuhan sehingga orang Tionghoa dapat menerima Injil keselamatan yang disediakan bagi segala bangsa, suku bangsa, kaum dan bahasa
Konsep Anak Menurut Child Theology Movement dan Implikasinya Bagi Pelayanan Pastoral Kristen Pasca-Trauma Pada Masa Kana-Kanak
Setiap anak memiliki peluang untuk menjadi anak-anak yang berisiko, khususnya dalam permasalahan child abuse. Peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan child abuse memiliki dampak yang negatif bagi anak-anak baik secara fisik maupun mental. Beberapa contoh dari child abuse antara lain human trafficking, sexual abuse, KDRT dan buruh anak. Beberapa contoh peristiwa tersebut menyebabkan anak-anak mengalami trauma. Dampak-dampak peristiwa trauma tersebut dapat menghambat pertumbuhan diri mereka secara fisik, mental dan kerohanian. Child Theology Movement {CTM) merupakan sebuah teologi Kristen yang hadir dalam kancah organisasi perlindungan anak dunia, berusaha menjawab tantangan dunia mengenai isu child abuse dengan mengembangkan teologi praktis mengenai anak berdasarkan pandangan dan sikap Yesus terhadap anak-anak secara khusus dalam Matius 18:1-5 beserta ayat-ayat paralelnya. Penulis merumuskan empat konsep anak yang terdapat dalam pengajaran CTM antara lain: pertama, anak merupakan sebuah anugerah dari Allah. Kedua, menyadari bahwa anak-anak diciptakan sebagai rekan dalam rancangan misi Allah. Ketiga, anak- anak mempunyai natur berdosa sejak lahir. Keempat, anak merupakan gambaran inkamasi Juruselamat. Berdasarkan keempat konsep anak tersebut, penulis menarik beberapa prinsip dan metode yang dapat digunakan dalam pelayanan pastoral kepada anak-anak pasca trauma. Prinsip dan metode tersebut diharapkan dapat membantu rohaniwan anak untuk melakukan pelayanan pastoral lebih efektif dan secara holistik. Misalnya, penulis membahas di dalam bab empat salah satu metode bermain. Melalui bermain juga, mereka mampu mengungkapkan perasaan-perasaan tersembunyi akibat dampak dari pengalaman trauma yang telah mereka alami. Pelayanan pastoral terhadap anak-anak pasca trauma penting untuk dilakukan oleh rohaniwan anak karena hal tersebut menyangkut pertumbuhan iman dan relasi anak- anak dengan Tuhan. Bukan tidak mungkin, anak-anak yang mengalami peristiwa atau pengalaman trauma mempunyai konsep yang salah mengenai Allah. Oleh karena itu, rohaniwan anak perlu membenahi konsep-konsep yang salah dan membantu memulihkan luka-luka batin yang mereka alami, sehingga anak-anak tersebut dapat merasakan cinta kasih Kristus yang sempuma. Selain itu, diharapkan melalui pelayanan pastoral kepada anak-anak pasca trauma, rohaniwan anak dapat membawa dan memenangkan mereka bagi Kristus
Teologi Biblika mengenai Perpuluhan
Perpuluhan merupakan salah satu aspek penting dalam hal memberi yang tak dapat diabaikan dalam kehidupan material segenap umat Tuhan, yang sangat tertib pelaksanaannya di masa PL. Selain itu, perpuluhan merupakan salah satu sistem pengelolaan keuangan yang ditetapkan oleh Allah sendiri. Akan tetapi perpuluhan ini kemudian berkembang menjadi sesuatu yang dianggap kontroversial. Ada yang menganggap praktik ini sudah tidak berlaku lagi di zaman sekarang, hanya berlaku di zaman PL di bawah hukum Taurat Musa, namun ada pula yang dengan tertib mematuhinya. Itu sebabnya penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut berbagai kontroversi seputar ajaran ini dan bagaimana sesungguhnya pengajaran Alkitab mengenai perpuluhan. Apakah perpuluhan masih relevan dilakukan di zaman sekarang ini? Atau itu hanya berlaku di zaman PL saja? Sebab ada yang beranggapan memberi perpuluhan adalah mekanisme hukum Taurat, sementara Tuhan Yesus sendiri sudah menggenapi hukum Taurat dengan kematian-Nya di kayu salib sehingga segala bentuk mekanisme Taurat tidak membebani kita lagi. Apa dan bagaimana solusi yang tepat seputar kontroversi dan relevansi perpuluhan di masa kini, itulah yang akan dibahas dalam tulisan ini
Konsep Shalom Dalam Yeremia 29:4-14 dan Implikasinya Bagi Peran Gereja Dalam Mewujudkan Kesejahteraan di Indonesia
Kesejahteraan adalah suatu keadaan yang sangat didambakan oleh setiap orang dalam suatu bangsa, khususnya bangsa Indonesia. Kondisi kesehatan, pendapatan, dan pendidikan di Indonesia yang masih berada dalam krisis dan keterpurukan mencerminkan adanya suatu kebutuhan yang besar akan kesejahteraan yang lebih baik sebab dengan hidup yang sejahtera, orang berharap dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik, mampu mengembangkan potensi diri secara maksimal serta dapat membantu orang lain. Untuk mencapai harapan ini tentunya semua pihak dalam bangsa Indonesia, baik pemerintah maupun masyarakat harus saling bekerja sama, termasuk juga di dalamnya gereja Tuhan.
Panggilan gereja, sebagai institusi dan komunitas orang percaya untuk mewujudkan kesejahteraan sesungguhnya telah ada sejak lama. Panggilan ini salah satunya terdapat dalam perintah Allah kepada bangsa Israel dalam pembuangan, yang kisahnya dicatat dalam Yeremia 29:4-14. Dalam perikop ini terdapat konsep shalom yang menurut konteksnya berarti kesejahteraan yang holistik atau utuh. Shalom di sini tidak hanya berbicara mengenai kesejahteraan rohani, dalam arti keselamatan jiwa dalam kekekalan, tetapi juga kesejahteraan jasmani, tubuh, dan kehidupan dalam dunia. Ini berarti bahwa seperti halnya bangsa Israel dipanggil untuk berperan dalam mewujudkan kesejahteraan yang utuh di Babel, maka gereja-gereja di Indonesia pun sekarang dipanggil untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa yang sedang terpuruk.
Dengan berperan aktif dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa, secara khusus melalui aspek kesehatan, pendapatan, dan pendidikan, maka fungsi gereja sebagai garam dan terang dapat dirasakan nyata secara khusus oleh komunitas di mana ia berada, dan oleh bangsa Indonesia secara umumnya. Inilah yang kemudian dapat menjadi jalan efektif di mana Injil dapat dinyatakan secara utuh dan nama Tuhan dimuliakan
Kebahagiaan dan Kebaikan-Kebaikan Eksternal: Sebuah Perbandingan antara STOA dan Kristen
Di dalam artikel ini, penulis akan berargumentasi bahwa pandangan Kristen dan Stoa tentang kebahagiaan memiliki kesamaan signifikan yang membedakannya dengan pandangan popular modern tentang kebahagiaan Sejalan dengan Stoisisme, kekristenan lebih menekankan sisi obyektif dari kebahagiaan sebagai sesuatu yang jauh dari sekadar feeling good namun lebih terkait dengan karakter manusia. Bagi keduanya, kebahagiaan lebih merupakan kondisi etis daripada psikologis manusia. Hal ini secara jelas bertentangan dengan konotasi modern dari kata kebahagiaan yang menekankan sisi subyektif psikologis seperti perasaan senang atau puas dari manusia. Di sisi lain, penulis akan berargumentasi bahwa prasuposisi utama yang menopang konsep kebahagiaan Stoisisme bertentangan dengan wawasan dunia Kristen. Sebagai akibatnya, perilaku dan emosi yang diidolakan oleh Stoisisme menjadi bertentangan dengan Alkitab, secara khusus sebagaimana diajarkan dan dihidupi oleh Tuhan Yesus saat di bumi. Artikel ini akan dimulai dengan deskripsi pandangan Stoa tentang kebahagiaan dan peran dari kebaikan-kebaikan eksternal di dalamnya. Tanpa meninggalkan yang lain, maka tokoh Stoa yang lebih banyak dirujuk dalam tulisan ini adalah Lucius Annaeus Seneca (4 BC – 65 AD) yang hidup sezaman dengan Yesus. Ajaran Seneca sendiri telah dihargai oleh tokoh-tokoh Kristen mula-mula seperti Tertulianus, Jerome dan Agustinus. Selanjutnya, perspektif Stoisisme tersebut akan dibandingkan dengan kekristenan, terutama Sabda Bahagia Yesus dalam Kotbah di Bukit (Matius 5) yang memuat konsep kebahagiaan (makarisme) Kristen. Akhirnya, penulis akan memberikan sebuah analisa persamaan dan perbedaan dari kedua pandangan di atas sambil menunjukkan implikasinya bagi spiritualitas Kristen. Mari kita mulai dengan pandangan Stoisisme tentang kebahagiaan
Peran Kenabian Elia Dalam Memberitakan Kebenaran Firman Tuhan dan Relevansinya Bagi Pelayanan Hamba Tuhan Pada Era Pascamodern
Pascamodemisme merupakan suatu tantangan yang paling utama bagi kekristenan pada masa kini, karena masyarakat pascamodern menolak kebenaran yang bersifat absolut, mutlak dan universal. Bagi mereka, kebenaran itu bersifat relatif. Setiap orang bebas meyakini kebenaran yang disukainya, dan tidak boleh seorang pun memaksakan kebenarannya kepadanya demikian juga sebaliknya. Pemikiran pascamodern telah mengancam iman Kristen. Terutama mengancam kebenaran Alkitab. Menghadapi arus pascamodemisme, hamba-hamba Tuhan hams kembali pada semangat back to the Bible. Hamba Tuhan hams menjadikan firman Tuhan menjadi pedoman di dalam kehidupan dan pelayanannya. Tuhan telah memanggil para hamba- Nya untuk mewartakan kebenaran firman-Nya. Oleh sebab itu hamba Tuhan dituntut untuk menjalankan peran dan panggilannya itu. Pada era pascamodern ini, setiap hamba Tuhan hams lebih berjuang keras dan bersungguh-sungguh dalam memberitakan kebenaran firman Tuhan. Para hamba Tuhan tidak boleh berpangku tangan, atau menunggu di tempat, tetapi harus lebih proaktif dalam menyatakan kebenaran. Untuk mendapatkan seorang model dalam memberitakan firman Tuhan dengan berani, sekalipun tantangan yang dihadapi tidak mudah, maka teladan Elia dapat menjadi salah satu contoh. Elia adalah seorang nabi yang sangat berani dalam menyatakan kebenaran firman Tuhan. Di dalam kesendiriannya, ia tetap setia melayani Tuhan. Dan ia berjuang keras untuk memberitakan kebenaran Tuhan dan firman-Nya. la tidak pandang bulu, penguasa dan umat Israel yang telah meninggalkan TUHAN, Allah mereka dan beribadah kepada Baal ia tegur. Elia dengan tegas menyatakan bahwa TUHAN adalah Allah Israel, Tuhan adalah Allah yang hidup. Elia setia dalam menyatakan kebenaran firman Tuhan dan melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadanya. Dalam penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa keberanian Elia dalam memberitakan kebenaran firman Tuhan didasarkan kepada dua hal; pertama, kepercayaannya kepada Tuhan, bahwa Tuhan adalah Allah yang benar dan hidup. Dia adalah Allah yang layak disembah dan ditaati; kedua, firman Tuhan adalah kebenaran, apa yang Allah telah firmankan pasti terjadi. Dalam kesetiaannya mengikuti Tuhan dan menyatakan kebenaran firman Tuhan, Elia tidak dibiarkan berjuang sendiri. Penyertaan dan pemeliharaan Tuhan nyata dalam kehldupannya. Diharapkan bahwa pembahasan ini dapat memberikan sumbangsih yang menimbulkan semangat, kekuatan, harapan, dan arahan bagi para hamba Tuhan untuk berani memberitakan kebenaran Tuhan dan firman- Nya
Doa Bapa Kami dalam Dua Terjemahan Bahasa Melayu pada Awal Abad Ke-Tujuh Belas
Dalam tulisan ini kita akan melihat salah satu buku pegangan ajaran katekisasi yang memuat terjemahan pertama dari Doa Bapa Kami ke dalam bahasa Melayu. Buku yang penulis pelajari ini adalah buku ke dua yang diterbitkan oleh VOC untuk Hindia Timur, setelah penerbitan Kamus susunan Frederick de Houtman. Kalau buku pertama yang mereka terbitkan adalah sebuah kamus bahasa Melayu, buku yang ke dua adalah sebuah buku katekisasi yang diterbitkan pada tahun 1611. Upaya Belanda untuk menerbitkan buku katekisasi ini menunjukkan bahwa mereka sangat serius untuk menanamkan ajaran Calvinisme kepada penduduk setempat. Yang lebih menarik lagi, para pendeta Belanda tidak segera menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu, tetapi mereka menerbitkan dan mencetak terlebih dahulu kamus, buku katekisasi, dan khotbah-khotbah. Baru pada tahun 1629 Injil Matius diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Albert Ruyl. Dalam tulisan ini kita akan menelaah dua terjemahan paling awal dari Doa Bapa Kami ke dalam bahasa Melayu. Terjemahan pertama adalah Doa Bapa Kami yang dimuat di dalam buku katekisasi yang berjudul Sovrat ABC dan buku ini kemungkinan besar ditulis oleh Albert Ruyl. Walaupun nama Ruyl tidak ditulis dalam buku ini sebagai penulisnya, berbagai kesaksian orang-orang pada zamannya menyatakan bahwa Ruyl adalah penulis dari buku katekisasi ini. Terjemahan ke dua dari Doa Bapa Kami yang akan kita pelajari adalah terjemahan dari Sebastian Danckaerts yang dicantumkan dalam khotbah-khotbahnya yang kemungkinan besar dibawakan pada tahun 1619. Khotbah-khotbah ini tidak diterbitkan, tetapi masih disimpan dalam bentuk manuskrip. Kedua terjemahan Doa Bapa Kami ini memiliki beberapa perbedaan yang sangat penting untuk dikaji. Dengan mempelajari kedua terjemahan ini kita bisa melihat upaya-upaya para pendeta Belanda untuk mengajarkan ajaran agama Kristen yang benar kepada penduduk asli Hindia Timur. Dari penelitian ini kita akan melihat bahwa penekanan pemahaman doktrinal merupakan hal yang sangat penting dalam pandangan para pendeta Belanda. Walaupun pada masa itu mereka belum menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu, mereka terlebih dahulu mengajarkan agar orang Kristen di Hindia bisa berdoa dan bisa mengerti arti dari doa yang mereka panjatkan kepada Tuhan. Hal ini sangat penting, mengingat pada saat itu mereka berhadapan dengan pengikut ajaran gereja Katolik Roma yang masih tidak diizinkan berdoa dalam bahasa asli mereka. Orang-orang Katolik Roma berdoa dan menghafalkan Doa Bapa Kami dalam bahasa Latin. Hanya dengan melihat bagaimana Doa Bapa Kami diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu kita dapat memahami betapa para pendeta Calvinis dari Belanda itu menginginkan pengetahuan dan pemahaman yang benar dari ajaran kekristenan. Bagi orang Kristen di Indonesia pada masa kini penelitian ini juga berharga untuk melihat bagaimana iman Kristen ditanamkan di tanah air 400 tahun yang lalu. Walau nampaknya sederhana, penelitian bagaimana Doa Bapa Kami diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, yang kemudian menjadi bahasa Indonesia memberikan kepada kita pemahaman mengenai identitas kita sebagai orang Kristen. Dari penelitian ini penulis berharap agar orang Kristen di Indonesia juga bisa melihat benang merah yang mengikat kita pada masa kini dengan orang-orang percaya pada masa lalu yang telah memperkenalkan pengajaran iman Kristen di bumi Nusantara