STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Tinjauan terhadap Persoalan Human Trafficking dari Perspektif Alkitabiah tentang Hak Asasi Manusia.

    Get PDF
    Permasalahan human trafficking telah mendapatkan perhatian dari masyarakat umum, baik nasional maupun internasional. Kasus yang kompleks ini sering kali membingungkan pihak yang menanggulanginya. Perdagangan manusia dapat mengambil korban dari siapa pun, orang dewasa dan anak-anak, laki-laki maupun perempuan tanpa terkecuali. Modus yang digunakan dalam kejahatan ini sangat beragam dan juga memiliki aspek kerja yang rumit. Tidak ada negara yang kebal terhadap perdagangan manusia. Perdagangan manusia mengambil bentuk: adopsi anak, pekerja jermal, pembantu rumah tangga, pengantin pesanan, industri pornografi, pengedar obat terlarang, dan pemindahan organ tubuh. Tindakan perdagangan manusia membuat para korban tidak lagi memiliki hak asasi dan martabatnya sebagai manusia. Nilai dan tujuan hidupnya tidak lagi menjadi milik pribadinya melainkan menjadi milik sang tuan. Padahal, setiap manusia memiliki Hak Asasi Manusia (HAM) di mana hak-hak yang dimiliki oleh manusia bukan karena diberikan kepadanya, melainkan berdasarkan martabatnya sebagai manusia. Dalam perspektif Kristen, manusia diciptakan sesuai dengan citra Allah (imago Dei, the image of God). Tindakan perdagangan manusia tidak dapat dibenarkan apa pun bentuknya karena melanggar hakikat manusia sebagai gambar dan citra Allah. Natur keilahian manusia sepertinya tidak lagi dianggap sebagai suatu hal yang sepatutnya harus dihormati. Dengan tidak menghormati manusia selayaknya, secara tidak langsung juga merupakan tindakan yang tidak menghormati Sang Pencipta. Pada saat manusia tidak lagi menghargai Sang Pencipta, ingin berkuasa atas citra Allah itu sendiri, maka hal itu sudah termasuk pelanggaran terhadap ketetapan Allah. Allah sendiri menghendaki agar manusia terbebas dari segala macam ikatan yang membelenggunya. Melakukan keadilan dan kebenaran dalam bentuk penghayatan akan nilai-nilai HAM dalam kehidupan sehari-hari adalah cara hidup yang sesuai dengan status sebagai umat perjanjian. Dengan pemahaman yang demikian, orang percaya dituntut untuk mampu bertindak dalam rangka menegakkan HAM. Orang percaya harus melakukan tindakan keadilan sosial dan kasih terhadap sesama agar HAM dapat dilakukan sesuai dengan kehendak Allah sendiri di tengah pelanggaran-pelanggaran HAM yang sedang terjadi

    Konsep Khotbah Penginjilan Billy Graham dan Implikasinya Bagi Khotbah Penginjilan Masa Kini

    No full text
    Salah satu panggilan Tuhan yang ditujukan bagi orang percaya adalah supaya mereka beribadah kepada-Nya. Maka dari itu, ibadah merupakan tema yang sangat penting untuk dimengerti dengan baik oleh orang percaya. Jika ada ibadah yang benar maka ada ibadah yang tidak benar. Jika ada ibadah yang baik maka ada ibadah yang jahat. Alkitab tidak hanya mengajarkan tentang ibadah yang benar, tetapi juga menunjukkan model ibadah yang tidak benar. Karena itu, konsep ibadah yang jahat bukanlah sebuah tema yang aneh untuk dibicarakan. Di dalam Alkitab, konsep ibadah yang jahat dapat ditemukan dalam Amos 5:21-27. Eksposisi Amos 5:21-27 membuktikan bahwa bangsa Israel telah melakukan ibadah yang jahat di mata Allah. Berdasarkan Amos 5:21-27, konsep ibadah yang jahat dapat dijelaskan menjadi dua bagian besar. Pertama, ibadah yang jahat adalah ibadah yang penuh dengan kemunafikan. Kedua, ibadah yang jahat adalah ibadah yang mencampuradukkan kepercayaan-kepercayaan lain sehingga menjadi sinkretisme praktis. Pascamodem mempakan konteks dan cara pandang masyarakat Indonesia masa kini. Sebagai komunitas yang hidup di tengah-tengah masyarakat pascamodem, tidak sedikit orang Kristen pada akhimya dipengaruhi oleh semangat dari pascamodem itu sendiri. Semangat paseamodem tersebut telah merasuk sampai kepada praksis ibadah orang Kristen, sehingga mereka cenderung untuk melakukan vertikalisme ibadah, mengutamakan kesuksesan dan kemewahan ibadah, melakukan ibadah tanpa kesalehan sosial, dan mempraktikkan sinkretisme. Kehidupan ibadah dan sosial bangsa Israel pada zaman Amos dan orang Kristen di Indonesia masa kini menunjukkan adanya persamaan, yakni melakukan ibadah yang jahat. Oleh karena itu, konsep ibadah yang jahat dalam Amos 5:21-27 menjadi relevan bagi praksis ibadah orang Kristen di Indonesia masa kini. Selain itu, konsep ibadah yang jahat juga dapat menjadi peringatan bagi orang percaya sekaligus sebagai sebuah titik tolak untuk kembali melakukan ibadah yang benar di hadapan Tuhan

    Potret Yesus Menurut Injil Yohanes Sebagai Simbol Resistansi Terhadap Imperialisme Roma dan Implikasinya Terhadap Studi Kristologi Injil Yohanes

    Get PDF
    Sejak pendekatan kritisisme literaris dan pengaruh religionsgeschicte (history of religions) yang menghubungkan Injil Yohanes dengan gnostisisme semakin melemah, para sarjana mulai menyelidiki alternatif latar belakang penulisan Injil Yohanes. Beberapa sarjana meyakini konflik antara komunitas Yohanes dan komunitas Yahudi di Asia Kecil sebagai pemicu lahirnya Injil Yohanes. Namun seiring maraknya tren studi biblika yang membaca teks-teks Perjanjian Baru dari kacamata Greco-Roman, para sarjana terdorong untuk mengaitkan penulisan Injil Yohanes dengan isu sosial, politik, dan religius terkait konteks imperialisme Roma pada dekade terakhir abad pertama. Penyelidikan latar belakang Greco-Roman di dalam Injil Yohanes menghasilkan potret Yesus yang resisten terhadap imperialisme Roma. Yesus yang digambarkan di dalam Injil Yohanes merupakan sosok yang melakukan tindakan-tindakan provokatif yang secara aktif mengecam bahkan menentang pemerintah Roma dan para petinggi agama Yahudi yang merupakan bagian integral di dalam konspirasi politik imperialisme Roma. Penulis Injil Yohanes juga mengenakan gelar-gelar mesianik untuk melukiskan Yesus yang anti-imperialisme Roma. Gelar-gelar Yesus seperti Raja, Anak Allah, Tuhan, dan Allah tidak hanya bermuatan teologis, tapi juga bermuatan politik. Gelar-gelar yang sama juga dipakai oleh Kaisar Roma sehingga kelihatannya Yesus dikisahkan sebagai tokoh tandingan Kaisar Roma. Selain itu, dengan menggunakan gelar-gelar ini Yesus dianggap sebagai tokoh pembebasan bangsa Israel dari penjajah Romawi. Penulis Injil Yohanes menghadirkan tokoh Yesus yang resisten terhadap imperialisme Roma untuk menjawab pergumulan komunitas Yohanes yang pada waktu penulisan Injil Yohanes sedang ditekan oleh pemerintah Roma dan komunitas Yahudi. Pemerintah Roma menindas komunitas Yohanes karena mereka tidak mau menyembah Kaisar Roma, sedangkan komunitas Yahudi mengusir mereka selain karena alasan teologis juga karena mereka takut komunitas Yohanes yang adalah musuh kekaisaran Roma menjadi masalah buat mereka. Melalui penyelidikan ini, penulis yakin bahwa bahwa konflik antara komunitas Yohanes dengan pemerintah Romawi dan komunitas Yahudi merupakan pergumulan komunitas Yohanes yang saling terkait dan melatarbelakangi penulisan Injil Yohanes. Implikasi lain dari penyelidikan ini membuktikan bahwa kesamaan potret Yesus anti-imperialisme Roma antara Injil Yohanes dan injil sinoptik merupakan petunjuk bahwa penulis Injil Yohanes memperhatikan keakuratan sejarah dan merupakan langkah maju bagi penggunaan Injil Yohanes di dalam rekonstruksi Yesus Sejara

    The Chronicles of Evangelicalism: Sebuah Pengantar Historis terhadap Gerakan Evangelikal

    Get PDF
    Menurut statistik terkini kira-kira satu dari sepuluh orang di dunia adalah orang Kristen evangelikal; demikian tutur seorang ahli sejarah gereja. Pasalnya, populasi dunia sekarang sudah mencapai angka tujuh milyar jiwa, dan dua milyar di antaranya mengidentifikasi dirinya dengan kekristenan. Dari antara dua milyar orang Kristen ini, lebih dari setengah milyar dideteksi sebagai orang Kristen evangelikal. Mengenai bagaimana para ahli statistik dan lembaga-lembaga survey itu mengidentifikasi seseorang sebagai evangelikal bukanlah perkataan utama penulis di sini. Poin yang penulis mau angkat di sini ialah bahwa evangelikalisme merupakan salah satu kekuatan besar dalam kekristenan, hanya karena ia memiliki jumlah massa yang sangat besar dan menurut banyak pengamat, evangelikalisme akan terus membesar! Fakta di atas mendorong penulis untuk mengkaji gerakan ini secara lebih serius. Apa itu evangelikalisme? Siapa itu yang disebut kaum evangelikal? Apa keunikan dari gerakan evangelikal ini? Ini adalah segelintir pertanyaan-pertanyaan mendasar yang coba penulis jawab dalam artikel ini. Sebab walaupun ada banyak orang Kristen yang mengaku (atau “dicap”) sebagai evangelikal, tidak banyak di antara mereka yang tahu dengan persis apa yang dimaksud dengan evangelikalisme itu sendiri. Hal yang sama juga kerap kali dijumpai oleh banyak orang non-evangelikal (Kristen maupun non-Kristen) yang sering memberi label negatif terhadap orang-orang evangelikal, karena kekurang- atau kesalahpahaman tentang evangelikalisme itu sendiri. Namun secara jujur, fakta bahwa penulis adalah seorang Kristen evangelikal dan banyak berkecimpung dalam dunia pelayanan evangelikal adalah alasan utama mengapa penulis memilih subjek ini. Secara pribadi, tulisan ini adalah sebuah pencarian akademik tentang identitas diri penulis sendiri sebagai seorang evangelikal. Orang Kristen seperti apakah saya ini? Apa narasi tradisi evangelikal yang di dalamnya saya bertobat dan menjadi seorang percaya? Siapa pahlawan-pahlawan iman dalam evangelikalisme yang harusnya menjadi teladan bagi saya? Kredo-kredo apa yang perlu saya percayai sebagai seorang evangelikal? Terlepas dari fakta bahwa saya “dilahirbarukan” dalam tradisi ini, mengapa saya tetap memilih menjadi seorang evangelikal sampai sekarang dan apa artinya menjadi seorang Kristen evangelikal di zaman ini? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang ada di balik kepala dan hati penulis sembari meneliti studi ini. Penulis yakin bahwa ia tidak sendirian dalam pencarian jati diri evangelikal ini

    Penginjilan Paulus di Kisah Para Rasul 17:16-34 dan Implikasinya Bagi Penginjilan Pada Masyarakat Pascamodern Masa Kini

    Get PDF
    Setiap orang percaya dipanggil untuk memberitakan Injil, suatu kabar sukacita yang memberikan pengharapan hidup yang kekal. Namun pada kenyataannya kabar tersebut terkesan begitu sulit dikabarkan. Apa permasalahannya? Orang-orang masa kini adalah masyarakat pascamodern yang menganggap segala sesuatu adalah relatif termasuk di dalamnya tentang kebenaran Injil. Bagi mereka ¡°sayalah Tuhan bagi diri saya sendiri¡± (panteisme), semua agama adalah sama dan bisa memberikan keselamatan (pluralisme). Yang terpenting adalah bagaimana kehidupan manusia saat ini selaras dengan alam, dan sesamanya. Itulah makna keselamatan yang sesungguhnya. Kondisi seperti ini sangat memprihatinkan. Mereka merasa diri sendiri benar padahal mereka tersesat dan binasa. Inilah mengapa menginjili masyarakat pascamodern tidak mudah namun bukan berarti tidak mungkin Paulus seorang hamba Allah yang setia pernah mengalami situasi yang sama. Saat berada di Atena, dia bertemu dengan orang-orang dari golongan Epikuros dan Stoa yang sangat meninggikan filsafat panteisme dan humanisme. Menghadapi orang-orang demikian, Paulus tidak gentar. Dia masuk dalam budaya dan kehidupan mereka untuk memahami apa yang menjadi kebutuhan mereka. Dengan menggunakan konsep pikir mereka, cara mereka berkomunikasi dan budaya mereka, Paulus memaparkan kebenaran Injil secara utuh dan lengkap. Hasilnya, setidaknya ada dua orang terkemuka yaitu Dionisius dan Damaris yang percaya pada Yesus. Apa yang Paulus lakukan dapat dikatakan mengkontekstualisasikan cara penyampaian Injil agar dapat diterima oleh pendengarnya tapi bukan berita Injil itu sendiri. Keberhasilan Paulus dalam memberitakan kebenaran Injil di Atena, seharusnya menjadi semangat bagi orang percaya untuk menerapkan strategi yang dia pakai dalam menginjili masyarakat pascamodern. Didukung dengan doa dan pimpinan Roh Kudus, Allah dapat memakai strategi tersebut untuk memenangkan mereka bagi Kristus. Oleh karena itu, orang percaya harus bangkit dan giat memberitakan kabar sukacita ini pada mereka. Dengan demikian makin banyak jiwa yang dapat dibawa pada Kristus dan memuliakan nama-Nya

    Menikmati Surga: Tradisi Mistik dalam Injil Tomas dan Yohanes

    Get PDF
    Dalam artikel ini, penulis akan menempatkan Injil Tomas dan Yohanes dalam konteks tradisi mistik Yudaisme pada era Bait Suci Kedua. Penulis berpijak pada tesis yang diletakkan oleh B. McGinn dalam karya monumentalnya, The Foundations of Mysticism: Origins to the Fifth Century, bahwa “The mystical element in Christianity is that part of its belief and practices that concerns the preparation for, the consciousness of, and the reaction to what can be described as the immediate or direct presence of God.” Definisi ini sendiri mengindikasikan bahwa di dalam Kristianitas terdapat elemen-elemen mistik, namun hal-hal ini pun dipakai menjadi sarana untuk merespons konteks mistik yang beredar di zamannya. Di satu sisi, penulis mendekat dengan Pagels bahwa kedua injil ditulis dalam tempo yang tidak terlampau berjauhan serta menjawab teka-teki apakah Tomas dan Yohanes merupakan dua injil yang tengah berkonfrontasi. Kendati begitu, di sisi lain, penulis akan lebih menjauh dari Pagels, oleh sebab tidak cukupnya latar belakang yang ia sajikan, terbungkus dengan bias (de)konstruksinya terhadap keyakinan Kristen yang menyejarah. Penulis tidak dapat menerima anjuran Pagels untuk memprioritaskan Tomas ketimbang Yohanes

    Konsep Pelayanan Kasih Menurut Surat 2 Korintus 8-9 dan Implikasinya Terhadap Pelayanan Memberi Dalam Gereja

    Get PDF
    Pelayanan kasih adalah salah satu konsep di dalam Alkitab yang kelihatannya sederhana, tetapi sulit untuk dilakukan oleh umat Kristen. Kesulitan ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman yang benar mengenai pelayanan kasih, sehingga dilakukan ataupun tidak dilakukan tidak akan membawa dampak apapun dalam kehidupan Kristen. Orang-orang yang demikian akan beranggapan bahwa tindakan pelayanan kasih hanya merupakan suatu kegiatan sosial, sehingga ketika memberi bantuan, mereka memberi dengan alakadarnya, selain itu ada orang-orang yang melakukan tindakan pelayanan kasih dengan motivasi yang keliru yalcni, agar mendapat berkat yang melimpah. Semua ini dapat terjadi disebabkan karena memiliki konsep yang keliru mengenai pelayanan kasih. Dalam Perjanjian Lama, Allah berulang-ulang menekanlcan mengenai pelayanan kasih, di mana umat Israel dituntut untuk menolong para janda, anak yatim, orang asing dan menolong orang-orang miskin yang berada di tengah-tengah mereka. Demikian pula dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sendiri melakukan tindakan-tindakan pelayanan kasih dengan cara, memberi makan ribuan orang, mencelikkan mata yang buta, menyembuhkan orang lumpuh, orang kusta, dan segala macam penyakit, bahkan Dia rela menyerahkan nyawa-Nya demi menebus dosa manusia. Paulus, seorang rasul juga menekankan hal ini. Dalam surat 2 Korintus 8 dan 9, Paulus mengingatkan jemaat di Korintus untuk melakukan tindakan pelayanan kasih, yang berupa pengumpulan dana bagi orang-orang Kristen yang miskin di Yerusalem. Melalui surat 2 Korintus 8 dan 9 Paulus menerapkan prinsip-prinsip dasar dalam melakukan tindakan pelayanan kasih yakni dengan sukarela, sukacita, murah hati, dengan antusias, dan penuh pengorbanan. Prinsip-prinsip ini dapat dimiliki apabila yang bersangkutan telah mengalami kasih karunia Allah dalam hidupnya, sehingga kasih karunia Allah menggerakkan orang tersebut untuk melakukan tindakan pelayanan kasih, dan dengan demikian hasil dari tindakan pelayanan kasih akan menimbulkan ucapan syukur kepada Allah. Konsep pelayanan kasih ini seharusnya dimiliki oleh setiap orang-orang percaya pada masa kini. Apabila konsep ini dihidupi dan diterapkan oleh anak-anak Tuhan, maka pelayanan kasih atau pelayanan memberi di dalam gereja akan menciptakan suatu persekutuan yang indah, dan menjadi suatu pelayanan yang membawa keharuman bagi nama Tuhan, dan pengucapan syukur serta kemuliaan bagi nama-Ny

    Hubungan antara Kristologi Paulus dan Ajaran tentang Makanan Persembahan Berhala (Eidolothuta)

    Get PDF
    Ajaran tentang eidolothuta (makanan persembahan berhala) dalam 1 Korintus 8:1-11:1 dapat dikatakan sebagai salah satu bagian paling kompleks dalam diskusi tentang surat-surat Paulus. Para sarjana, khususnya dalam tiga dekade terakhir telah mengemukakan berbagai penafsiran tentang bagian ini dan menantang apa yang telah dikenal selama ini sebagai pandangan tradisional. Adapun dari berbagai kemajuan kesepakatan para sarjana tersebut perihal topik ini, sedikitnya masih ada dua diskusi besar yang tertinggal, yaitu berkenaan dengan kemungkinan-kemungkinan gambaran situasi pada saat itu dan sikap dasar dari ajaran Paulus tentang eidolothuta itu sendiri. Diskusi tentang gambaran situasi yang mungkin terjadi pada waktu itu menyuguhkan empat konteks yang berbeda: pertama, makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala-berhala di kuil mereka (8:7-13, 10:14-22); kedua, makan makanan yang dibeli dari pasar yang tanpa diketahui asal usulnya (10:23-26); ketiga, makan makanan di pesta-pesta atau pertemuan-pertemuan dimana orang Kristen telah diundang, dan yang kemungkinan diadakan di rumah orangorang kafir (10:27-31); atau keempat, makan makanan yang berhubungan dengan kultus kekaisaran Romawi. Jika semua pandangan ini diterima, maka apakah itu berarti bahwa Paulus telah mendasarkan ajarannya secara fleksibel pada berbagai situasi tersebut? Apakah ia menentang eidolothuta adalah karena masalah tempat makan? Apakah ia tidak setuju dengan eidolothuta adalah karena urusan asal-usul makanan tersebut? Paulus jelas mengarahkan ajarannya secara situasional, tetapi adalah penting juga untuk tidak hanya berfokus pada titik tersebut, melainkan untuk melihat apakah ada konsep dasar tertentu yang Paulus pegang dalam menghadapi situasi ini. Karena itu, adalah perlu untuk melihat kemungkinan adanya sebuah konsep yang dapat diterima sebagai pokok dominan dalam teologi Paulus dan yang sekaligus relevan bagi permasalahan terkait di Korintus, dalam hal ini kristologi tentu dapat diusulkan sebagai yang paling cocok dan substansial. Dengan demikian, tujuan dari artikel ini adalah untuk membahas dan menegaskan hubungan antara kristologi Paulus dan ajarannya soal eidolothuta, sehingga solusi alternatif yang tepat terhadap pergumulan memahami 1 Korintus 8:1-11:1 dapat diperoleh. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pembahasan ini perlu dimulai dengan memperhatikan ciriciri yang relevan dari kristologi Paulus dalam pengajarannya, khususnya terkait dengan ide yang terkandung dalam 1 Korintus 8:6 yang sering dianggap sebagai pernyataan terpenting Paulus berkenaan dengan konsep kristologinya. Dengan perhatian itu, pembahasan akan dilanjutkan dengan melihat bagaimana kristologi Paulus tersebut diterapkan dalam usaha memahami ajarannya tentang eidolothuta

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇