STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Studi Tentang Kredo Israel Menurut Ulangan 6:4-5 dan Implikasinya Bagi Iman Kristen di Zaman Pascamodern.

    Get PDF
    Kredo Israel merupakan suatu pengakuan iman yang sangat penting untuk dipahami karena Kredo Israel merupakan pengakuan iman yang pertama dan diberikan oleh Allah. Kredo Israel tidak hanya berisi pengakuan iman, tapi juga berisi sebuah perintah utama (great commandment) yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Kredo Israel juga menjadi “semboyan” atau “slogan” iman. Oleh sebab itu, studi tentang kredo Israel harus dilakukan untuk memahami iman yang Allah kehendaki untuk dimiliki oleh setiap orang percaya. Sejarah Israel adalah satu unsur penting untuk memahami Kredo Israel secara mendalam dan menyeluruh. Peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir hingga mereka menuju tanah Kanaan merupakan masa di mana mereka mengalami jatuh bangun dalam iman mereka. Ketegartengkukan mereka membuat Allah harus memberikan hukum-Nya dan diulang lagi dalam bentuk khotbah Musa. Karena mereka akan memasuki tanah perjanjian, maka Allah mengingatkan mereka akan Siapa yang harus menjadi pusat penyembahan mereka dan kepada Siapa mereka harus taat melalui pengakuan iman (TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!; Ul. 6:4). Pengakuan iman ini diikuti oleh perintah utama dalam keseluruhan Alkitab, yaitu mengasihi Allah secara utuh (ay. 5). Kedua ayat tersebut tidak dapat dipisahkan karena ketaatan dan kasih adalah hal yang saling berkaitan erat dan sangat penting. Dalam Perjanjian Baru, Kredo Israel memiliki urgensi sehingga dikutip oleh Tuhan Yesus (Mat. 22:37-38; Mrk. 12:29-30) dan seorang ahli Taurat (Luk. 10:27). Kekontinuitasan Kredo Israel dari zaman Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Kredo Israel pun tetap berlaku bagi orang percaya di zaman pascamodern. Hal ini dikarenakan zaman ini tidak lagi mempercayai adanya kebenaran mutlak dan Allah sebagai pribadi yang esa. Kaum pascamodern menganggap bahwa semua kebenaran itu relatif dan dapat berubah sesuai dengan diri manusia. Allah yang esa mulai digantikan oleh diri manusia dan hal-hal lainnya yang memuaskan keinginan manusia. Pascamodernisme berusaha untuk memudarkan esensi dari Kredo Israel ini dan menghancurkan kekristenan dengan terlebih dahulu menyerang iman Kristen. Dengan demikian, Kredo Israel sangat dibutuhkan untuk mengingatkan kembali akan esensi dari iman yang Allah kehendaki. Orang percaya harus bertindak untuk menjunjung iman Kristen yang sejati dengan melakukan tindakan kasih kepada Allah dan sesama di tengah-tengah zaman pascamodern yang semakin membahayakan iman Kristen

    Pelayanan Christian Coaching Metode Grow Me terhadap Anak Usia 10-12 Tahun di Sekolah Minggu

    Get PDF
    Coaching sangat menarik dan semakin ramai dibicarakan pada masa kini. Sebenarnya, coaching bukan merupakan suatu kegiatan baru. Coaching secara alamiah merupakan bagian dari kehidupan seperti yang dilakukan oleh orang tua ataupun guru. Orang tua dari dahulu kala berjuang dan berkorban untuk membesarkan anaknya agar bisa tumbuh menjadi manusia yang matang dan mandiri. Guru mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan pemikiran anak didik mereka agar dapat maju dalam hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa coaching sudah ada sejak dahulu kala. Namun bagi mereka yang mengetahui atau akrab dengan berbagai tools, pendekatan maupun metodologi canggih dalam pengembangan sumber daya manusia, maka coaching merupakan suatu ilmu dan profesi baru. Meskipun istilah coaching sudah sering didengar di dunia sekular (di luar gereja) namun belum dipraktikkan sepenuhnya di gereja (dalam hal ini adalah terhadap anak-anak di Sekolah Minggu). Inilah yang menjadi dorongan bagi penulis untuk mempraktikkan coaching bagi anak-anak di Sekolah Minggu

    Studi Kritis Konsep Realized Eschatology C.H. Dodd

    No full text
    Penggenapan kerajaan Allah adalah inti dari berita kedatangan Yesus di dalam sejarah. Konsep ini sangat jelas berada di dalam Injil. Di dalam dunia akademik, pertanyaan yang masih menjadi isu utama adalah mengenai kedatangan kerajaan Allah itu sendiri. Paling tidak ada tiga pendapat mengenai kedatangan kerajaan Allah di dalam dunia. Pertama, consistent eschatology. Konsep ini menjelaskan bahwa kerajaan Allah adalah realitas yang berada di masa yang akan datang dan bukan pada masa kini. Kedua, realized eschatology. Konsep ini menjelaskan bahwa kerajaan Allah sudah penuh hadir di dalam dunia. Dan yang ketiga, already/notyet eschatology. Konsep ini menjelaskan bahwa kerajaan Allah sudah datang tetapi belum mencapai pemenuhannya. Konsep realized eschatology atau disebut sebagai eskatologi yang telah terwujud, dicetuskan pertama sekali oleh C. H. Dodd sebagai respons akan consistent eschatology yang dipaparkan oleh Schweitzer. Di dalam PL, kerajaan Allah berkaitan erat dengan kedatangan hari Tuhan. Dodd berargumentasi bahwa kedatangan hari Tuhan di dalam PL bersifat mitologis dan tidak dapat ditafsirkan secara literal. Kedatangan hari Tuhan hanya dapat dimengerti dalam terang PB, yaitu rangkaian pelayanan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Melalui rangkaian peristiwa, kerajaan Allah telah datang dan hari Tuhan itu telah terwujud di dalam peristiwa yang historis. Argumentasi secara alkitabiah dapat dilihat di dalam perumpaan-perumpamaan Tuhan Yesus. Berbeda dengan Dodd, penulis di dalam studi akan perumpamaan Tuhan Yesus melihat bahwa kerajaan Allah sudah datang ke dalam dunia tetapi belum mencapai pemenuhannya. Walaupun kerajaan Allah belum mencapai pemenuhannya, kerajaan Allah ini memiliki signifikansi yang sangat besar di dalam dunia. Walaupun banyak orang yang tidak menyadari kehadiran dan signifikansinya di dalam dunia, kerajaan Allah sudah tertanam dan terus bertumbuh dan akan menuju akhir di mana Yesus akan datang kedua kali

    Tinjauan Terhadap Konsep Ibadah yang "Jahat" Dalam Amos 5:21-27 dan Relevansinya Bagi Praksis Ibadah Orang Kristen di Indonesia Masa Kini

    Get PDF
    Salah satu panggilan Tuhan yang ditujukan bagi orang percaya adalah supaya mereka beribadah kepada-Nya. Maka dari itu, ibadah merupakan tema yang sangat penting untuk dimengerti dengan baik oleh orang percaya. Jika ada ibadah yang benar maka ada ibadah yang tidak benar. Jika ada ibadah yang baik maka ada ibadah yang jahat. Alkitab tidak hanya mengajarkan tentang ibadah yang benar, tetapi juga menunjukkan model ibadah yang tidak benar. Karena itu, konsep ibadah yang jahat bukanlah sebuah tema yang aneh untuk dibicarakan. Di dalam Alkitab, konsep ibadah yang jahat dapat ditemukan dalam Amos 5:21-27. Eksposisi Amos 5:21-27 membuktikan bahwa bangsa Israel telah melakukan ibadah yang jahat di mata Allah. Berdasarkan Amos 5:21-27, konsep ibadah yang jahat dapat dijelaskan menjadi dua bagian besar. Pertama, ibadah yang jahat adalah ibadah yang penuh dengan kemunafikan. Kedua, ibadah yang jahat adalah ibadah yang mencampuradukkan kepercayaan-kepercayaan lain sehingga menjadi sinkretisme praktis. Pascamodern merupakan konteks dan cara pandang masyarakat Indonesia masa kini. Sebagai komunitas yang hidup di tengah-tengah masyarakat pascamodern, tidak sedikit orang Kristen pada akhirnya dipengaruhi oleh semangat dari pascamodern itu sendiri. Semangat pascamodern tersebut telah merasuk sampai kepada praksis ibadah orang Kristen, sehingga mereka cenderung untuk melakukan vertikalisme ibadah, mengutamakan kesuksesan dan kemewahan ibadah, melakukan ibadah tanpa kesalehan sosial, dan mempraktikkan sinkretisme. Kehidupan ibadah dan sosial bangsa Israel pada zaman Amos dan orang Kristen di Indonesia masa kini menunjukkan adanya persamaan, yakni melakukan ibadah yang jahat. Oleh karena itu, konsep ibadah yang jahat dalam Amos 5:21-27 menjadi relevan bagi praksis ibadah orang Kristen di Indonesia masa kini. Selain itu, konsep ibadah yang jahat juga dapat menjadi peringatan bagi orang percaya sekaligus sebagai sebuah titik tolak untuk kembali melakukan ibadah yang benar di hadapan Tuhan

    Studi Tentang Konsep Pendidikan Kristen John Calvin dan Relevansinya Terhadap Pendidikan Kristen Pada Masa Kini

    Get PDF
    John Calvin adalah tokoh penting dalam sejarah gereja yang memberikan pengaruh hingga pada masa kini. Pengaruhnya bukan hanya dalam bidang teologi tetapi juga dalam bidang-bidang lain termasuk dalam bidang pendidikan Kristen. Konsepnya tentang pendidikan Kristen dapat disimpulkan dalam tiga aspek. Pertama, dasar pendidikan Kristen harus bersumber dari Alkitab sebagai firman Allah yang berotoritas. Kedua, tujuan pendidikan Kristen adalah perubahan hidup melalui pertobatan dan kelahiran baru di dalam karya penebusan Kristus yang membawa pada pertumbuhan rohani bagi setiap orang percaya ke arah keserupaan dengan Kristus untuk memuliakan Allah. Ketiga, proses pendidikan Kristen adalah interaksi yang terjadi antara orang percaya dengan setiap aspek dari ciptaan Tuhan terutama sesama manusia dalam kasih Kristus dengan intervensi dari Roh Kudus yang diwujudkan dalam kurikulum yang alkitabiah, tranformatif dan integratif dengan diikat disiplin berlandaskan kasih Kristus. Pada zaman modern yang membawa perubahan dunia yang begitu cepat, pendidikan Kristen juga menghadapi permasalahan yang dapat dilihat dari tiga aspek. Pertama, dalam aspek dasar pendidikan Kristen, sudah terjadi kecenderungan penolakan terhadap Alkitab dan Yesus Kristus sebagai wahyu dari Allah yang berotoritas. Hal ini berakibat munculnya berbagai filsafat pendidikan modern yang tidak lagi berpusat pada Allah tetapi kepada manusia dan materi. Kedua, dalam aspek tujuan pendidikan Kristen, berbagai bentuk wawasan dunia sekular yang timbul dari modernisasi dan sekularisasi telah mengaburkan tujuan pendidikan Kristen yang sebenarnya. Ketiga, dalam aspek proses pendidikan Kristen muncul berbagai permasalahan, antara lain: peran Roh Kudus dalam proses belajar-mengajar yang mulai ditinggalkan, pengintegrasian wawasan dunia Kristen yang tidak terjadi terhadap berbagai bidang keilmuan, serta sistem sekolah yang terisolasi dan konflik antara sekolah Kristen dengan gereja. Konsep pendidikan Kristen Calvin tetap relevan dalam menjawab permasalahan pendidikan Kristen pada masa kini. Hal ini dibuktikan dengan pendapat dari para pakar pendidikan Kristen pada zaman modern ini. Pertama, mereka berpendapat bahwa dasar pendidikan Kristen yang alkitabiah dan berpusat adalah Alkitab, firman Allah. Kedua, tujuan pendidikan Kristen yang transformatif dan memuliakan Allah adalah melalui penebusan Kristus dan bertumbuh kepada keserupaan Kristus dalam mewujudkan mandat Injil. Ketiga, proses pendidikan Kristen yang integratif dengan keterlibatan penuh dari Roh Kudus dalam proses belajar-mengajar diperlukan untuk mewujudkan mandat budaya. Dengan demikian, konsep pendidikan Kristen Calvin tetap memiliki relevansi terhadap pendidikan Kristen pada masa kini

    Konsep Kekudusan Moral Menurut Studi Eksposisi Imamat 18-19 dan Implikasinya Terhadap Kekudusan Moral Umat Tuhan Masa Kini.

    Get PDF
    Kitab Imamat sering diabaikan karena dianggap tidak relevan dengan situasi masa kini. Hukum-hukum dan ketetapan-ketetapan yang ada seolah hanya cocok untuk konteks Israel pada saat itu. Bahkan hal itu sudah tidak dilaksanakan lagi. Namun demikian kitab Imamat tetap menjadi kitab yang sangat penting karena model Kristus sebagai Imam Besar dan penebus dosa hanya dapat dipahami dari kitab ini. Selain itu, bagian penting yang dapat dipelajari dari kitab Imamat adalah mengenai tema kekudusan Allah. Tema kekudusan mewarnai hampir seluruh kitab ini. Selama dunia ini ada, kekudusan selalu menjadi pergumulan hidup bagi umat Tuhan. Jika kekudusan adalah sesuatu yang penting maka itu berarti kitab Imamat sangat relevan sampai dengan masa kekinian. Kekudusan moral seksual yang sering menjatuhkan umat Tuhan dan kekudusan moral praktis yang seringkali tidak disadari namun ternyata membawa umat Tuhan untuk jadi semakin jauh dari Tuhan. Dua hal inilah yang secara khusus dibicarakan dalam skripsi ini. Imamat pasal 18-19 menjadi bahasan utama dalam membicarakan pokok-pokok penting dari kekudusan seksual dan moral praktis. Imamat 18 membahas begitu luas cakupan tentang seksualitas. Aturan dan ketetapan tentang hubungan inces dan hubungan seksual yang menyimpang dibicarakan dengan begitu teliti. Begitu juga dengan aturan dan ketetapan tentang moral praktis yang dibicarakan pada Imamat 19 sangat luas cakupannya. Tema ketidakjujuran dan menghormati atau menaati Tuhan dan orang tua menjadi pembicaraan khusus karena dua bagian ini merupakan “roh” dari Imamat 19. Sesuatu yang tidak dapat dipungkiri bahwa kejatuhan umat dalam dosa kekudusan moral seksual dan moral praktis adalah karena umat kehilangan “model” dan tidak adanya tema-tema yang terarah dari gereja untuk membicarakan hal-hal ini sehingga umat Tuhan kurang berpengetahuan. Adalah tugas dan tanggung jawab dari setiap hamba Tuhan pada khususnya untuk mengimplikasi Imamat 18-19 dalam kehidupan nyata dan dalam bergereja dalam konteks kekinian

    Eksposisi Himne Natal dari Kaum Unitarian : "It Came Upon the Midnight Clear" (Pada Tengah Malam itu Terdengarlah Pujian)

    No full text

    Pola Alkitabiah Pendidikan Anak 7 - 12 Tahun yang Efektif untuk Pembentukan Karakter Pemimpin-Hamba di Seminari Anak "Pelangi Kristus"

    No full text
    Orang tua Kristen membutuhkan sebuah pedoman untuk mendidik anak berdasarkan prinsip Alkitab. Apakah ajaran Alkitab mengenai hal ini? Pertama, dalam Ulangan 6:4-9, Allah menyatakan bahwa Ia menghendaki umat-Nya dengan sungguh-sungguh mengajarkan kepada anak-anak mereka, untuk mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan. Kedua, berdasarkan Amsal 22:6, “Train up a child in the way he should go, and when he is old he will not depart from it” (NKJV). Ketiga, berdasarkan Efesus 6:4, Tuhan menyatakan tanggung jawab setiap ayah untuk mendidik anaknya dalam nasihat dan ajaran Tuhan dengan tidak menimbulkan kemarahan dalam hati anak. Keempat, menurut 2 Timotius 3:15-17, Allah Bapa menghendaki anak-anaknya menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus oleh iman, berdasarkan firman Tuhan yang dipelajarinya sejak kecil

    Tinjauan Terhadap Adat Mangongkal Holi Di Suku Batak Toba Dilihat dari Perspektif Alkitab Mengenai Kehidupan Setelah Kematian.

    Get PDF
    Upacara adat mangongkal holi di suku Batak Toba memperlihatkan kepercayaan kuno suku Batak Toba mengenai kematian dan kehidupan orang mati, setelah kematiannya. Dalam kepercayaan kuno suku Batak Toba, kematian dipahami sebagai perpindahan roh orang mati ke alam leluhur. Setelah kematiannya, roh orang mati akan mengembara di dunia dan mendapat perhentian di alam leluhur, apabila tulang belulangnya dipindahkan ke kuburan tugu. Ritual pemindahan tulang belulang ini juga bisa mengangkat roh leluhur menjadi bapa leluhur yang sakti (sumangot ni ompu), yang dipercaya memiliki kesaktian untuk memberkati dan melindungi hidup keturunannya. Keberadaan roh leluhur sangat bergantung pada pemujaan keturunannya. Jika keturunannya tidak melakukan pemujaan kepada rohnya maka ia akan lenyap dan musnah. Selain itu, roh leluhur juga dipercaya dapat berhubungan dengan keturunannya melalui perantaraan sibaso hasandaran atau wanita pemanggil arwah. Kepercayaan kuno suku Batak Toba mengenai kematian dan kehidupan orang mati, setelah kematiannya sangat berbeda dengan ajaran Alkitab. Alkitab menjelaskan manusia mengalami kematian sebagai akibat dan hukuman dosa. Kematian yang dialami manusia bukan sekedar kematian fisik melainkan juga kematian spiritual dan hukuman kekal. Setelah kematian fisik, manusia ada di dunia orang mati sambil menantikan kebangkitan tubuh mereka dan hari penghukuman. Selama itu, orang mati tidak dapat berhubungan dengan orang hidup. Jikalau ada orang hidup yang bisa berhubungan dengan orang mati maka ia terlibat pekerjaan iblis. Keadaan akhir dari jiwa orang percaya, setelah kematiannya adalah kebangkitan tubuh. Kebangkitan tubuh menjadi puncak karya keselamatan Allah atas hidup orang percaya. Orang percaya mengalami kemenangan atas kuasa maut dan hidup di dalam persekutuan dengan Allah di dalam kekekalan. Mayoritas suku Batak Toba adalah penganut agama Kristen. Jika orang Batak Toba yang sudah percaya masih hidup dalam kepercayaan kuno nenek moyang mereka maka iman dan pengharapan mereka akan menjadi sia-sia. Orang Batak Toba yang sudah percaya seharusnya melihat kematian mereka sebagai sebuah perjalanan menuju kepada kekekalan, yang akan membawa mereka kepada Allah atau keterpisahan kekal dengan Allah

    Berkenalan dengan Teori Epistemologi Alvin Plantinga: Jaminan (Warrant) dan Fungsi yang Semestinya (Proper Function)

    Get PDF
    Tidak bisa disangkal lagi bahwa Alvin Plantinga adalah salah seorang filsuf agama yang sangat dihormati pada masa ini. Pada tahun 1980 majalah TIME menyebut Plantinga sebagai “America’s leading orthodox Protestant philosopher of God.” Di dalam komunitas Kristen sendiri, seorang teolog bernama John Stackhouse mengatakan bahwa Plantinga adalah “the greatest philosopher of the last century. [Plantinga] is not just the best Christian philosopher of his time. No, Plantinga is the most important philosopher of any stripe.” Sebagai seorang filsuf Kristen yang bergerak di bidang filsafat agama, Plantinga mendedikasikan karirnya untuk menjelaskan dan membela rasionalitas iman Kristen. Ia berupaya memperlihatkan bahwa kepercayaan teistik (kepercayaan bahwa Allah ada) dapat memiliki jaminan (warrant) di dalam konteks struktur epistemologis yang absah. Dalam dua dekade terakhir, ia telah mengembangkan teori tentang jaminan sebagai struktur epistemologis yang sah untuk menopang kepercayaan teistik. Di dalam struktur ini, iman teistik Kristen memiliki jaminan. Makalah ini akan membahas konsep Alvin Plantinga mengenai jaminan (warrant) yang berkaitan erat dengan konsepnya tentang daya kognitif yang bekerja sebagaimana mestinya (proper function). Untuk memahami teori Plantinga tentang jaminan, pertama-tama, penulis akan membahas konteks epistemologis di mana Plantinga mengembangkan teorinya tentang jaminan. Kedua, penulis akan membahas kritik Plantinga terhadap epistemologi kontemporer yang meratakan jalan untuk teorinya sendiri. Terakhir, penulis akan membahas teorinya tentang jaminan dan daya kognitif yang bekerja sebagaimana mestinya. Teori Plantinga sangat menekankan perlunya daya kognitif manusia untuk bekerja sebagaimana mestinya. Makalah ini hanya bersifat deskriptif dan tujuan saya adalah untuk memperkenalkan konsep epistemologi Plantinga kepada pembaca Indonesia

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇