STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Tinjauan Kritis Terhadap Filsafat Pendidikan Pancasila Berdasarkan Perspektif Filsafat Pendidikan Kristen.
Sekolah-sekolah Kristen adalah sekolah-sekolah yang dibangun untuk mewujudkan pendidikan Kristen di tengah kehidupan bermasyarakat. Sekolah-sekolah ini menjadi sarana bagi pendidikan Kristen untuk memperkenalkan dan mengajarkan prinsip-prinsip dasar kekristenan. Oleh karena itu, sistem pendidikan dalam sekolah-sekolah Kristen harus berjalan sesuai dengan suatu arahan yang tepat, arahan yang dibangun atas dasar firman Tuhan, yakni filsafat pendidikan Kristen. Namun, di dalam kenyataannya, tidak semua sekolah Kristen berjalan berdasarkan atas Filsafat Pendidikan Kristen. Banyak di antara sekolah-sekolah Kristen yang menggunakan filsafat-filsafat pendidikan non Kristen, dan salah satu di antaranya adalah menggunakan sistem pendidikan nasional yang berbasis pada filsafat pendidikan Pancasila. Tentunya hal ini menyebabkan pelaksanaan dan pencapaian tujuan pendidikan Kristen menjadi tidak utuh.
Permasalahan ini menghasilkan dua pandangan yang berbeda antar para praktisi Kristen. Pandangan pertama menyatakan bahwa sekolah Kristen boleh menggunakan dasar filsafat pendidikan Pancasila dan menerapkan sistem pendidikan nasional secara utuh. Sementara pandangan kedua memberikan pernyataan yang berbeda. Pandangan ini menyatakan bahwa sekolah Kristen tidak mungkin berdiri di atas dua dasar filsafat yang berbeda, sehingga sekolah Kristen tidak boleh menggunakan filsafat pendidikan Pancasila, dan harus secara utuh menggunakan filsafat pendidikan Kristen. Hasil pemaparan ini menimbulkan berbagai pertanyaan berkaitan dengan bagaimanakah sikap sekolah-sekolah Kristen di Indonesia dalam menyikapi keadaan tersebut, sejauh manakah sekolah Kristen dapat melaksanakan Sistem Pendidikan Nasional yang memiliki filsafat pendidikan yang berbeda, yakni filsafat pendidikan Pancasila? Apa yang menjadi batasan dan persyaratan yang harus dipenuhi?
Berdasarkan permasalahan yang terjadi dalam sekolah-sekolah Kristen dan pemahaman akan pentingnya filsafat pendidikan Kristen, maka penulis dalam skripsi memfokuskan penelitian secara kritis untuk meninjau filsafat pendidikan Pancasila yang merupakan dasar filsafat Sistem Pendidikan Nasional melalui perspektif filsafat pendidikan Kristen. Dengan metodologi penelitian kepustakaan (library research) dan metode perbandingan untuk menelusuri perbedaan-perbedaan yang jelas antara kedua filsafat tersebut, maka penulis mendapati kesimpulan bahwa filsafat pendidikan Pancasila dan filsafat pendidikan Kristen memiliki perbedaan yang cukup jelas, terutama pada bagian pemahaman dasar dalam metafisik-ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Meskipun demikian, pada area unsur-unsur pendidikan seperti guru, murid, kurikulum masih memiliki kesamaan. Penelitian ini menegaskan kepada para praktisi pendidikan Kristen untuk memberikan perhatian penuh kepada dasar filsafat yang menggerakkan setiap sekolah Kristen, terutama untuk mencapai tujuan pendidikan Kristen
Habitus dalam Mengikut Kristus: Kaitan antara Etika Karakter dan Spiritualitas Kristen
Di dalam buku Fabricating Jesus, Craig Evans mengawali tulisannya dengan kisah singkat tentang pergeseran kehidupan rohani dari beberapa pakar Alkitab. Di antaranya adalah James Robinson, seorang ahli Perjanjian Lama, yang pada masa mudanya memiliki iman yang Injili, tetapi, menurut pengakuannya sendiri, imannya dihancurkan setelah ia berkenalan dengan higher criticism atau metode kritis dalam membaca Alkitab. Tokoh yang lain lagi adalah Robert Price, seorang ahli Perjanjian Baru, yang dididik di sekolah Injili yang cukup kuat—Gordon Conwell Theological Seminary. Pada masa mudanya ia bahkan pernah secara aktif terlibat dalam pelayanan kelompok Injili yang dikenal dengan sebutan Intervarsity. Tetapi setelah menyelesaikan studi doktoralnya akhirnya ia justru sekarang menjadi seorang agnostik. Satu contoh lagi adalah Bart Erhman, juga seorang pakar Perjanjian Baru. Di awal jenjang akademiknya ia belajar di sekolah-sekolah Injili (Moody Bible Institute dan Wheaton College), tetapi setelah menyelesaikan studi Ph.D. di Princeton Seminary, ia justru tidak lagi mempercayai Alkitab sebagai firman Tuhan. Menurut kacamata orang-orang Injili, beberapa contoh perjalanan hidup di atas merupakan sebuah kemunduran, bahkan kegagalan rohani. Di lain pihak, contoh-contoh seperti di atas juga sekaligus menyadarkan kita tentang proses perjalanan rohani sebagai bagian dari pertanggungjawaban iman. Saya percaya kita tidak boleh dengan gampang melempar tanggung jawab kehidupan rohani kita kepada Tuhan dengan berkata, misalnya, “Kalau kita ini memang orang pilihan, pertumbuhan rohani kita juga pasti dijamin oleh Tuhan.” Sebagai seorang Calvinis, saya tidak menyangkali sentralitas anugerah keselamatan dari Tuhan dalam perjalanan iman kita. Tetapi saya juga percaya bahwa anugerah keselamatan tidak berarti bahwa Tuhan mengambil alih seluruh proses perjalanan iman kita dan meniadakan tanggung jawab rohani dari diri kita. Justru karena anugerah itulah, maka kita dapat dengan bebas dan merdeka memulai peperangan rohani untuk mematahkan setiap cobaan dan dosa yang ada dalam diri kita dan di sekitar kita. Diogenes Allen dalam bukunya Spiritual Theology mengingatkan dengan tepat bahwa jika kita memberikan penekanan yang berlebihan pada pengalaman pertobatan atau fase awal kehidupan rohani kita, kita cenderung lupa atau beranggapan bahwa dengan sudah lahir baru dan bertobat maka kita telah mencapai tujuan akhir perjalanan hidup rohani. Padahal kelahiran baru dan pertobatan tersebut perlu sungguh-sungguh diwujudkan. Pada waktu kita menjalani kehidupan rohani sehari-hari, baru kita menyadari betapa sulitnya dan betapa banyaknya tantangan yang harus diatasi untuk dapat maju secara rohani, misalnya, tadinya tidak dapat mengasihi sesama menjadi dapat mengasihi sesama dengan tulus; atau tadinya pemarah menjadi seorang yang sabar dan dapat bertekun dalam kesabarannya. Perubahan-perubahan tersebut tidak selalu terjadi secara otomatis. Ada jurang yang lebar dan jalan yang berliku-liku di antara kedua fase tersebut. Di dalam Injil kita membaca ada lebih dari satu kali ketika Tuhan Yesus mengetahui orang berbondong-bondong mengikuti Dia atau mau menjadi murid-Nya, Ia mengambil waktu untuk menguji kesungguhan hati mereka (lihat a.l. Luk. 9:57-62; 14:25-35; Yoh. 6:60-71). Saya percaya bahwa latihan rohani merupakan bagian utama dari pertanggungjawaban iman Kristen di hadapan Tuhan. Di dalam konteks latihan rohani atau pembentukan spiritualitas Kristen itulah penulis melihat adanya manfaat yang dapat dipetik dari kaitan antara spiritualitas Kristen dengan salah satu prinsip utama dalam virtue ethics atau etika karakter. Salah satu prinsip utama dalam etika karakter yang penulis maksud di sini adalah konsep tentang habitus, yang dapat diterjemahkan secara bebas sebagai “kebiasaan.” Prinsip yang kedengarannya polos dan sederhana ini, di dalam konteks iman Kristen dapat memberikan sumbangsih yang tidak sedikit. Karena itu, dalam tulisan yang tidak terlalu panjang ini, penulis ingin mencoba mengaitkan pemahaman tentang habitus dengan teori tentang pembentukan spiritualitas Kristen
Studi Eksposisi terhadap Konsep Sabat “Istirahat” dalam Pentateukh dan Aplikasinya Bagi Rohaniawan Gereja Masa Kini
Istirahat merupakan kebutuhan utama manusia di dalam kehidupan sehari-hari. Bagi manusia yang hidup pada zaman supermodern ini, istirahat merupakan sebuah komoditi yang mahal. Karena manusia cenderung kekurangan waktu, baik waktu untuk bekerja maupun waktu untuk beristirahat. Hal ini juga terjadi pada orang Kristen, baik waktu untuk pelayanan di gereja, maupun waktu untuk istirahat mereka (khususnya para Hamba Tuhan dan aktivis gereja). Tentu saja Tuhan tidak meninggalkan manusia ciptaan-Nya dalam keadaan yang semikian. Sejak penciptaan, Allah telah memberikan perintah bekerja, sekaligus perintah untuk beristirahat (berhenti dari pekerjaan).
Oleh sebab itu penulis rindu melalui skripsi ini dapat memahami Sabat “istirahat” yang diberikan oleh Allah secara khusus kepada manusia. Melalui eksposisi Pentateukh, di mana terdapat asal mula tentang ajaran Sabat, serta penerapan langsung di bawah pengawasan Allah terhadap bangsa Israel, maka diharapkan umat Tuhan hari ini dapat memahami esensi dari ajaran Sabat “istirahat” Tuhan bagi umat-Nya. Secara langsung kitab Pentateukh adalah kelima kitab yang diberikan secara langsung dari Allah kepada bangsa Israel, melalui pembelajaran lewat para pakar-pakar Alkitab, penulis dapat mengerti makna sesungguhnya yang berlaku untuk semua orang percaya di segala tempat, termasuk orang Kristen di zaman sekarang ini. Untuk lebih memahami kebutuhan Hamba Tuhan dan para aktivis di dalam kesibukan mereka, penulis juga mengajukan sebuah angket untuk menampung pendapat mereka mengenai kebutuhan istirahat mereka. Dengan demikian, penulis berharap pembahasan Sabat “istirahat” di dalam skripsi ini dapat secara mendalam dan konkrit untuk kebutuhan kita semua.
Pada akhirnya, dapat dilihat bahwa kebutuhan “istirahat” bukan saja pada level jasmani saja, tetapi termasuk juga di dalam level rohani (jiwa). Ibadah dan pada hari Sabat orang Kristen (hari Minggu) bukan hanya sarana untuk membangun persekutuan vertikal dengan Allah, tetapi juga saran untuk membangun relasi horizontal, baik dengan orang percaya maupun belum percaya. Oleh sebab itu Sabat “istirahat” bagi orang Kristen memiliki makna yang mendalam, bukan hanya sekadar berhenti dengan pasif tidak berbuat apa-apa, atau seperti orang duniawi yang sibuk mencari hiburan untuk menghilangkan stres yang diakibatkan oleh kesibukan mereka. Sabat “istirahat” orang Kristen adalah sebuah “istirahat” di dalam Tuhan, di mana kita juga melakukan kehendak Tuhan pada hari tersebut, sehingga apa pun yang kita kerjakan pada hari tersebut dan seterusnya, merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan melalui kita di dunia ini
Eksposisi Peran Yesus Sebagai Guru Dalam Yohanes 21:1-23 dan Implikasinya Bagi Peran Guru Kristen Masa Kini
Pendidikan merupakan proses penting dalam hidup manusia. Pendidikan Kristen merupakan salah satu upaya memperlengkapi diri untuk mengemban mandat Ilahi dalam mengelola bumi. Pendidikan Kristen juga bertujuan untuk memperkenalkan Kristus kepada peserta didik. Pada kenyataannya, beberapa guru kristen sebagai pelaksana pendidikan tidak menjalankan peran sebagaimana seharusnya. Guru Kristen memandang jabatan sebagai guru sebagai jabatan profesional semata, sehingga kurang memperhatikan peran-peran yang harus dilakukan sebagai seorang yang dipanggil Allah menjadi seorang pendidik.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari perubahan budaya hingga tata nilai. Dampak perkembangan teknologi menyebabkan beberapa akibat dalam diri anak-anak, termasuk anak didik di sekolah antara lain: Pertama, anak tidak dapat mengenali kebutuhannya. Teknologi seakan dapat berperan dalam memenuhi semua kebutuhan dan menjawab banyak pertanyaan. Hal ini menyebabkan anak tidak menyadari kebutuhan mereka yang sesungguhnya akan afeksi dan kasih sayang karena mereka menutupi kebutuhan ini dengan membangun dunia sendiri dalam virtual reality, Kedua, anak mengalami kemerosotan moral dan etika. Perkembangan teknologi membuat anak dengan mudah mengakses berbagai macam informasi. Kekerasan dan penganiayaan merupakan tayangan yang dekat dengan kehidupan anak sehari-hari sehingga anak mulai terbiasa merekam berbagai tindak kekerasan sebagai sesuatu yang wajar. Ketiga, anak kehilangan figur teladan. Dalam masa perkembangan, anak merekam figur teladan. Ketiadaan figur teladan yang disebabkan oleh pengabaian peran atau figur yang tidak berlaku sebagai teladan menyebabkan anak mencari figur teladan dari dunia virtual melalui tokoh-tokoh dengan beragam karakter dan nilai yang dapat memberikan pengaruh negatif pada anak.
Yesus dalam inkamasi-Nya dikenal sebagai seorang rabi atau guru. Oleh karena itu peran Yesus sebagai Guru Agung merupakan teladan bagi guru Kristen masa kini dalam menjalankan perannya. Yesus menunjukkan pemahaman akan keadaan dan kebutuhan murid-Nya, memberikan pengampunan, dan menjadi teladan bagi para murid. Keiga hal ini juga merupakan peran yang perlu dikerjakan oleh guru Kristen masa kini dalam menjawab tantangan pendidikan dengan murid-murid yang hidup dalam kemudahan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi
Paulus Sebagai Guru Dalam Surat 1 dan 2 Timotius dan Implikasinya Bagi Peran Guru Kristen di Era Globalisasi
Globalisasi telah memberikan dampak yang sangat luas dalam kehidupan masyarakat dunia, tidak terkecuali masyarakat di negara Indonesia. Era di mana iptek berkembang dengan pesat ini telah mengubah wajah Indonesia dalam bidang ekonomi, politik, sosial-budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Dampak globalisasi yang paling meneolok terjadi di kalangan kaum muda. Hal ini ditandai dengan munculnya materialisme, sekularisme, konsumerisme, hedonisme, penggunaan kekerasan, dan penyalahgunaan narkoba, yang semuanya dapat mengancam dan merusak moral bangsa, khususnya moral generasi muda. Dalam menghadapi tantangan zaman di era globalisasi, masyarakat semakin disadarkan akan pentingnya mutu pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal menjadi tumpuan masyarakat dalam membimbing generasi muda agar dapat mempersiapkan diri menghadapi tantangan-tantangan zaman di masa depan. Namun yang sangat disayangkan, lembaga pendidikan masa kini pun telah terpengaruh oleh budaya global seperti pola konsumerisme dan cara pandang fragmentaris. Sekolah-sekolah Kristen di Indonesia pada awalnya melangkah dengan misi melayani bidang pendidikan bagi kemuliaan Allah. Tetapi rupanya, sekolah- sekolah Kristen gagal menjalankan misinya. Bahkan di lapangan, sekolah- sekolah Kristen masa kini justru dikenal masyarakat dengan biaya sekolah yang sangat mahal dan sistem pembagian kelas berdasarkan tingkat akademis yang sangat menonjol. Hal ini tentunya menyebabkan munculnya kesenjangan sosial yang semakin lebar antara si kaya dan si miskin, maupun antara para murid yang memiliki kemampuan akademis yang menonjol dan yang kurang mampu. Di tengah kondisi yang rumit demikian, sebenamya masih ada setitik harapan dalam rangka memperjuangkan misi sekolah-sekolah Kristen yang telah bengkok tersebut. Perubahan dalam dunia Kristen di Indonesia hams dimulai dari tiap guru Kristen yang telah dipanggil secara khusus oleh Allah untuk melayani dalam bidang pendidikan. Perjuangan seorang gum di tengah pengamh yang bumk telah diperankan oleh Paulus dalam surat 1 dan 2 Timotius. Di dalamnya terdapat tiga prinsip penting yang hams dimiliki oleh seorang gum Kristen dalam menjalankan panggilannya, yaitu mengajarkan kebenaran, memberitakan injil dan menggembalakan para murid
Studi Eksposisional "Dosa Karena Lidah" dalam Yakobus 3:1-12 dan Implikasinya bagi Penanganan Konflik didalam Gereja
Yang Terlupakan dan Terabaikan: Dimensi Eskatologis Perjamuan Kudus
Patut diakui, penganaktirian dimensi eskatologis Perjamuan Kudus sering kali disebabkan oleh ketidakmengertian kita. Itu sebabnya penulis berkeyakinan bahwa perlu adanya penggalian ulang akan arti penting dimensi eskatologis dari Perjamuan Kudus. Tulisan ini adalah sebuah undangan bagi kita semua untuk kembali merangkul dimensi eskatologis Perjamuan Kudus. Di dalamnya akan dipaparkan fakta bahwa dimensi eskatologis Perjamuan Kudus sejatinya adalah pengajaran dari firman Tuhan sendiri dan betapa melekatnya dimensi eskatologis dalam praktik Perjamuan Kudus gereja mula-mula. Kemudian disambung dengan refleksi untuk praktik Perjamuan Kudus di masa sekarang: Apa signifikansi dimensi eskatologis dalam Perjamuan Kudus kita? Tulisan ini akan ditutup dengan pelbagai tips praktis untuk memasukkan dan menampilkan dimensi eskatologis dalam praktik Perjamuan Kudus masa kini
Tinjauan Terhadap Berbagai Pandangan Tentang Israel dan Gereja Sebagai Umat Allah Berdasarkan Perspektif Paulus Dalam Roma 11:16-32
Iman merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan orang percaya. Karena itu, iman merupakan tema yang penting untuk dimengerti oleh setiap orang percaya, khususnya hamba Tuhan dalam menghadapi tantangan zaman pada masa kini.
Pembiaran, perusakan gereja, hukum yang tidak berjalan sebagaimana adanya, tindakan-tindakan amoral yang dilakukan manusia pada zaman sekarang adalah tantangan fisik yang tengah dihadapi oleh hamba Tuhan pada masa kini. Ditambah dengan marakanya pengaruh paham relativisme dan pluralisme yang hendak menggerogoti iman Kristen juga merupakan tantangan besar bagi hamba Tuhan. Tantangan-tantangan ini tentunya mengakibatkan dampak yang besar dalam kehidupan hamba Tuhan. Di dalam Alkitab, tindakan-tindakan manusia yang demikian terdapat di dalam kitab Habakuk. Karena itu, konsep iman bukan merupakan sesuatu yang baru untuk dibicarakan.
Eksposisi Habakuk 2:4 telah memberikan penjelasan yang baik tentang konsep iman. Berdasarkan Habakuk 2:4 iman dapat dimengerti menjadi dua bagian. Pertama, iman atau faithfulness adalah keteguhan hati, ketabahan dan kesetiaan. Kedua, adalah tentang percaya, bergantung penuh kepada Allah sebagai satu-satunya sumber kekuatan dan berkuasa atas kehidupan manusia. Dengan pengertian lain, faithfulness adalah kepercayaan total kepada Allah dalam segala hal.
Kehidupan sosial, ekonomi, politik, agama, moral bangsa Yehuda pada zaman Habakuk dan orang percaya pada masa kini memiliki kesamaan, yakni adanya ketimpangan hukum, melakukan tindakan sesuai dengan kehendak sendiri, tidak menjadikan hukum Taurat sebagai dasar dalam beretika dan moral. Oleh sebab itu, kehidupan ini menjadi titik tolak hamba Tuhan dalam mengambil sikap iman yang tepat untuk menghadapi tantangan zaman pada masa kini
Tinjauan Kritis terhadap Gerakan Pria Sejati dari Perspektif Reformed
Gerakan Pria Sejati dipelopori oleh Edwin Louis Cole melalui the Christian Men’s Movement yang diawali saat retret kaum pria di Oregon pada Februari 1980, di mana Cole mendengarkan perkataan tentang lima dosa Israel yang masih ada pada kaum pria yang membuatnya tidak mengalami tanah perjanjian. Lalu Cole diteguhkan melalui nubuat dari Campbell McAlpine pada Juli 1980 yang menyatakan bahwa ia akan melayani kaum pria sebagai papan pengirik menurut Yesaya 41:15, dan diingatkan untuk tidak menunda lagi pelayanan kepada kaum pria melalui perkataan George Otis pada suatu pertemuan di California 24 April 1981. Maka pada keesokan harinya Cole memutuskan untuk mengundurkan diri dari semua pelayanannya selama ini, termasuk dari penggembalaan di gereja, dan mengkhususkan diri melayani kaum pria. Cole dijuluki sebagai “the Father of the Christian Men’s Movement ” dengan kepercayaan penuh untuk melayani kaum pria, dan menyatakan: I have been called to speak with a prophetic voice to the men of this generation and commissioned with a ministry majoring in men to declare a standard for manhood, and that standard is that Manhood and Christlikeness are synonymous. Diperkirakan bahwa gerakan pelayanan Cole terhadap kaum pria yang dikenal sebagai CMN ini dimulai tahun 1977 dan telah menyebar ke 220 negara. Gerakan ini masuk ke Indonesia pada tahun 1997 dan diresmikan secara internasional pada tahun 1999 di Texas. Gerakan ini memasuki Indonesia melalui gerakan yang diterima oleh Budi Jonatan untuk menjangkau kaum pria, dan Cole mempercayakan kepada Eddy Leo untuk mengajarkan buku “Kesempurnaan seorang pria” dalam gerakan ini. Gerakan Pria Sejati di Indonesia mengklaim bahwa mereka pada tahun 2008 telah menjangkau banyak kaum pria dari kalangan gereja, baik dari Injili, Protestan, Katolik, Pantekosta dan Kharismatik. Melihat penyebaran gerakan ini yang banyak disambut dengan antusias oleh kalangan gereja, dan tidak ketinggalan pula dari kalangan gereja Injili, maka penulis melihat perlunya penyelidikan yang bertanggungjawab dan kritis terhadap ajaran dalam gerakan ini, khususnya berkaitan dengan doktrin yang dianut oleh Cole dan praktik yang dilaksanakan dalam retret atau camp pria sejati. Dalam tulisan ini secara berurutan akan ditelusuri pemahaman doktrin, metode penafsiran dan penerapan praktis yang dikemukakan oleh Cole, dan semuanya itu akan dinilai dari standar perspektif teologi Reformed