STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Konsep Iman dalam Kitab Habakuk dan Implikasinya Terhadap Hamba Tuhan dalam Menghadapi Tantangan Zaman Pada Masa Kini.
Iman merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan orang percaya. Karena itu, iman merupakan tema yang penting untuk dimengerti oleh setiap orang percaya, khususnya hamba Tuhan dalam menghadapi tantangan zaman pada masa kini.
Pembiaran, perusakan gereja, hukum yang tidak berjalan sebagaimana adanya, tindakan-tindakan amoral yang dilakukan manusia pada zaman sekarang adalah tantangan fisik yang tengah dihadapi oleh hamba Tuhan pada masa kini. Ditambah dengan marakanya pengaruh paham relativisme dan pluralisme yang hendak menggerogoti iman Kristen juga merupakan tantangan besar bagi hamba Tuhan. Tantangan-tantangan ini tentunya mengakibatkan dampak yang besar dalam kehidupan hamba Tuhan. Di dalam Alkitab, tindakan-tindakan manusia yang demikian terdapat di dalam kitab Habakuk. Karena itu, konsep iman bukan merupakan sesuatu yang baru untuk dibicarakan.
Eksposisi Habakuk 2:4 telah memberikan penjelasan yang baik tentang konsep iman. Berdasarkan Habakuk 2:4 iman dapat dimengerti menjadi dua bagian. Pertama, iman atau faithfulness adalah keteguhan hati, ketabahan dan kesetiaan. Kedua, adalah tentang percaya, bergantung penuh kepada Allah sebagai satu-satunya sumber kekuatan dan berkuasa atas kehidupan manusia. Dengan pengertian lain, faithfulness adalah kepercayaan total kepada Allah dalam segala hal.
Kehidupan sosial, ekonomi, politik, agama, moral bangsa Yehuda pada zaman Habakuk dan orang percaya pada masa kini memiliki kesamaan, yakni adanya ketimpangan hukum, melakukan tindakan sesuai dengan kehendak sendiri, tidak menjadikan hukum Taurat sebagai dasar dalam beretika dan moral. Oleh sebab itu, kehidupan ini menjadi titik tolak hamba Tuhan dalam mengambil sikap iman yang tepat untuk menghadapi tantangan zaman pada masa kini
Karakteristik dan Berbagai Genre dalam Kitab Mazmur
Kitab Mazmur ditulis dalam bentuk puisi. Bagi orang Yahudi, puisi merupakan jenis literatur yang memegang peranan penting karena melengkapi apa yang tidak dapat diberikan oleh prosa; puisi merupakan ungkapan emosi yang menyatakan kedalaman iman dan ibadah mereka. Oleh sebab itu, kita perlu bukan hanya menganalisa suatu mazmur, tetapi juga mengapresiasinya. Mazmur merupakan ungkapan kata-kata penulis kepada Allah dan tentang Allah. Berbeda dengan kebanyakan bagian Alkitab yang lain, dalam kitab Mazmur Allah memakai pergumulan hidup manusia untuk menguatkan umat percaya lainnya. Mazmur adalah respons keberadaan manusia di hadapan Allah, baik melalui pengalaman (mis. kesulitan hidup, peperangan, sakit penyakit, pernikahan, kelahiran, kematian dan sebagainya) maupun perasaan hatinya (sukacita, ketakutan, kebencian, depresi, dan sebagainya). Perlu dipahami bahwa di dalam sebuah mazmur ada tiga unsur yang perlu diperhatikan. Pertama adalah isi (content) dari mazmur tersebut. Kedua adalah bentuk dari mazmur tersebut. Terakhir adalah efek yang ditimbulkan oleh mazmur tersebut. Isi merupakan ungkapan hati dari pemazmur yang melibatkan emosi, imaginasi, dan pesan yang ingin disampaikan. Bentuk dari mazmur, seperti susunan bait, sanjak, dan genrenya mendukung isi dari puisi tersebut dan menimbulkan keindahannya. Paduan kedua unsur tersebut menimbulkan sebuah efek yang berbeda dengan prosa. Pada waktu menafsir sebuah mazmur, kita bukan hanya memperhatikan arti, tetapi juga keindahannya. P. D. Miller mengingatkan bahwa kita perlu lebih sensitif terhadap karakteristik puitis dari suatu mazmur agar kita dapat mengalami pesan dari pemazmur dalam kehidupan pribadi kita. Artikel ini akan mengajak pembaca untuk mengenai kitab Mazmur dan menafsirkannya
Konsep "Jangan Takut" dalam Injil Lukas dan Kisah para Rasul serta Implikasinya bagi Kehidupan Manusia Masa Kini
Tinjauan Terhadap Etika Imperatif Kategoris Immanuel Kant Berdasarkan Pengajaran Yesus Kristus Dalam Matius 5:17-20 dan 7:12
Etika merupakan hukum moral yang berkaitan dengan kegiatan praktis yang dilakukan manusia sehari-hari. Hukum moral tersebut dipakai untuk menilai mana hal yang baik dan yang tidak baik. Kemampuan untuk membedakan kedua hal tersebut sebenarnya telah diberikan Allah dalam diri manusia, melalui akal budi, sebagai wujud adanya warisan gambar Allah dalam diri manusia. Namun demikian, etika juga dapat dipelajari dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, misalnya agama, adat-istiadat, maupun filsafat. Itulah sebabnya mengapa terdapat perbedaan hukum moral dalam diri tiap-tiap orang atau suku bangsa. Sementara, iman Kristen mengakui bahwa etika yang benar haruslah bersifat universal dan absolut, karena Allah sebagai satu-satunya sumber etika yang benar. Namun demikian, sebagai makhluk yang terbatas, sulit bagi manusia untuk mencapai etika yang demikian.
Immanuel Kant, seorang filsuf besar yang lahir di ujung masa pencerahan, sangat terbeban untuk menjawab kebutuhan etika yang universal dan absolut tersebut. Kant menekankan bahwa satu-satunya prinsip yang mendasari tindakan moralitas adalah kewajiban. Artinya, segala subjektifitas atau kecenderungan dalam diri manusia harus disingkirkan. Satu-satunya sumber untuk menghasilkan hukum moral adalah akal budi atau rasio. Imperatif Kategoris merupakan proses rasional untuk mengetahui kewajiban tersebut. Ini merupakan sebuah formula sederhana yang dapat diolah oleh akal budi siapa saja. Hasil dari formula tersebut disebut sebagai maksim atau hukum moral. Formula Imperatif Kategoris sendiri berbunyi, buatlah sebuah maksim yang memenuhi tiga syarat, pertama, dapat dijadikan sebagai hukum yang universal, kedua, menjadikan manusia sebagai tujuan dan bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan, ketiga, hukum harus berasal dari diri sendiri atau otonom. Semua maksim yang dapat lolos dari ketiga syarat tersebut itulah yang disebut dengan kewajiban, suatu tindakan bermoral yang harus dilakukan.
"Segala kebenaran adalah kebenaran Allah" adalah pernyataan yang berimplikasi, jika etika Kant memuat kebenaran, maka etika ini dapat diadopsi dalam etika Kristen. Namun demikian, sekalipun etika Kant pernah menguasai dunia kekristenan di Jerman, tetap perlu adanya ujian firman Tuhan untuk menilai apakah etika ini dapat diterima atau tidak. Khotbah di Bukit (Mat. 5-7) berisikan pengajaran-pengajaran moral Yesus Kristus yang sangat terkenal. Keunggulan etika dalam khotbah ini diakui di kalangan Kristen maupun non-Kristen. Pengajaran moral Tuhan Yesus tersebut disebut sebagai etika kerajaan Allah. Di dalam Matius 5: 17-20 Yesus membagikan tentang sikap-Nya terhadap hukum Taurat. Melalui pengajaran Yesus tersebut dapat ditarik prinsip-prinsip tentang sumber etika dalam kehidupan orang percaya. Dalam Matius 7:12, didapati bahwa Golden Rule memiliki kesamaan bunyi dengan Imperatif Kategoris. Oleh karena itu, melalui pengajaran Yesus dalam kedua bagian tersebut akan dipakai untuk menganalisa etika Imperatif Immanuel Kant untuk melihat apakah etika Kant memang sungguh-sungguh dapat diterima dan dipakai dalam kekristenan
Tinjauan Kritis Terhadap Pandangan John Dominic Crossan tentang Kebangkitan Yesus dari Perspektif Injili seperti yang diwakili oleh William Lane Craig
Konsep Penyangkalan Diri Dalam Injil Matius dan Relevansinya Terhadap Asketisme Kristen
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di zaman sekarang membawa dampak pada semakin merosotnya moral dan etika masyarakat serta menimbulkan kekeringan dan kemiskinan rohani. Masyarakat dicengkeram paham-paham materialisme, konsumerisme, hedonisme dan lain sebagainya yang sebenamya bersumber dari egosentrisme. Manusia menyadari bahwa kebanyakan masalah lahir karena diri mereka sendiri, oleh karena itu lahirlah praktik-praktik yang berhubungan dengan penguasaan atau pengendalian diri. Dalam sejarah kekristenan dapat ditemukan bentuk-bentuk praktik spiritualitas yang meneoba untuk menjawab permasalahan zaman. Salah satunya adalah asketisme yang diadopsi untuk mempersiapkan orang-orang percaya menghadapi kesulitan- kesulitan, seperti penindasan, hedonisme, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan egosentrisme. Asketisme diharapkan menghasilkan sosok-sosok orang percaya yang tangguh dan menjadi solusi bagi permasalahan di zamannya. Meskipun terjadi distorsi dan perbedaan pemaknaan, inti dari praktik ini adalah membantu orang-orang percaya untuk melatih diri dalam menghadapi tantangan kehidupan. Asketisme mengakar di atas dasar penyangkalan diri. Yesus Kristus memanggil semua pengikut-pengikut-Nya untuk menjalani kehidupan menyangkal diri. Dengan penyangkalan diri, seseorang dimampukan untuk menjadi murid sejati; murid yang meneladani kehidupan gurunya. Kristus merupakan sosok yang sempuma dan orang- orang percaya dipanggil untuk meneladani kehidupan-Nya. Menjadi seperti Kristus merupakan titik final dari kehidupan orang percaya dan untuk mencapainya diperlukan proses dan kerja keras. Asketisme merupakan bentuk usaha melatih diri agar kehidupan praktisinya sesuai dengan kehendak Allah; hidup bagi Allah dan sesama. Asketisme tidak “menghindari” dunia tetapi hadir dan menyatakan karya Kristus di dalam dunia. Asketisme membangun disiplin rohani dan memfokuskan hidup disiplin itu dalam masyarakat agar terang Kristus nyata di dalam dunia dan orang-orang dapat melihat terang itu melalui karakter Kristus yang ada di dalam orang-orang percaya
Tinjauan Biblika Terhadap Konsep "Anak Manusia" Dalam Injil Markus dan Implikasinya Terhadap Doktrin Kristologi Masa Kini
Pembahasan mengenai konsep “Anak Manusia” merupakan sebuah pembahasan yang sangat penting di dalam iman BCristen. Pentingnya konsep ini karena Yesus sendirilah yang menggunakan istilah “Anak Manusia” untuk menunjuk diri-Nya sendiri. Namun, tampaknya banyak kalangan yang salah menafsirkan konsep “Anak Manusia” sehingga ungkapan Yesus mengenai Anak Manusia ini sering disalah mengerti. Permasalahan yang mendasar dari penafsiran terhadap ungkapan Anak Manusia adalah mengenai keotentikan ucapan Yesus atas ketiga kategori ungkapan Anak Manusia dalam injil. Apakah semua ungkapan ini benar-benar ucapan Yesus, atau hanya satu dan dua kategori saja yang benar-benar ucapan Yesus, sedangkan kategori yang lainnya berasal dari gereja mula-mula? Kalangan konservatif (evange//ca/)~diwakili oleh G. E. Ladd dan Leon Morris-menerima ketiga ungkapan Anak Manusia dalam injil sebagai ucapan Yesus yang otentik dan selalu menunjuk kepada keilahian-Nya. Keilahian-Nya ini tampak dalam otoritas-Nya, kehidupan-Nya (pengajaran, penderitaan dan kematian- Nya), serta pada kedatangan-Nya yang kedua kali untuk menghakimi umat manusia dan memerintah bersama-sama dengan Allah. Sedangkan para sarjana dari kalangan non-konservatif-diwakili oleh Rudolf Bultmann dan Joachim Jeremias-hanya mengakui satu atau dua kategori Anak Manusia sebagai ucapan Yesus yang otentik (khususnya kategori Anak Manusia apokaliptik). Bultmann menunjuk Anak Manusia kepada suatu pribadi selain Yesus. Sedangkan, Jeremias menunjuk Anak Manusia kepada Diri Yesus yang akan dimuliakan menjadi Anak Manusia pada akhir zaman. Akibatnya, Yesus tidak lagi dipandang sebagai Anak Manusia ilahi. Dengan demikian, keilahian Yesus semakin diperkecil dan kemanusiaan Yesus semakin diperbesar. Berdasarkan hasil eksegesis terhadap ketiga kategori Anak Manusia dalam Injil Markus dan dengan melakukan analisis terhadap data dan fakta yang tersedia, serta setelah melihat implikasi-implikasi yang muncul terhadap doktrin Kristologi, penulis mendapati bahwa pandangan dari kalangan non-konservatif mengenai Anak Manusia tersebut sangat jauh dari kebenaran firman Tuhan. Alkitab-khususnya Injil Markus- dengan sangat jelas sekali memperlihatkan bahwa Anak Manusia yang diucapkan oleh Yesus selalu mengarah pada diri-Nya sendiri dan menunjuk pada keilahian-Nya. Dengan demikian, Yesus bukan hanya manusia biasa tapi la adalah manusia ilahi. Kedua natur Yesus inilah yang ingin disampaikan melalui ungkapan Anak Manusia
Tinjauan Doktrin Allah dalam Pandangan Paul Tillich dan Signifikansinya bagi Pemberitaan Injil
Pemahaman Menjadi Orang Tua Kristen dan Implikasinya dalam Mendidik Anak
Kebahagiaan yang didambakan pasangan suami istri dari sebuah pemikahan kudus temyata tidak mudah diraih bahkan pada akhimya harapan itu menjadi sima ketika seorang anak atau lebih hadir dalam kehidupan keluarga mereka. Memiliki anak adalah sebuah konsekuensi logis dan natural dari sebuah pemikahan. Namun sering kali pasangan suami istri tidak siap menjadi orang tua bagi anak-anak mereka. Orang tua tidak memiliki bekal yang cukup untuk menjadi orang tua Kristen bagi anak-anak titipan Tuhan. Ketidaksiapan pasangan untuk menjadi orang tua ICristen akhimya memberikan dampak pendidikan dan pengasuhan yang kurang baik yang mengorbankan anak itu sendiri. padahal sehamsnya orang tua Kristen menganggap anak mereka sebagai anugerah Tuhan yang hams mereka pelihara dan jagai sehingga anak ini menjadi seorang pribadi yang utuh dalam pengertian anak bisa mengenal siapa dirinya, siapa Tuhan dan memiliki relasi intim dengan Tuhan. Keutuhan pribadi ini bisa dimiliki oleh seorang anak bila orang tua terns mendidik mereka dengan penuh tanggung jawab di hadapan Tuhan. Orang tua Kristen hams menganggap penting tentang pendidikan anak ini. Sebenamya banyak faktor yang mempengamhi orang tua dalam mendidik anak, misalnya kesiapan mental dan spiritual, finansial, keterlibatan pihak keluarga dalam umsan rumah tangga, pola asuh dan lain-lain. Namun, semua faktor itu tidak bisa dijadikan alasan bagi orang tua Kristen untuk mengabaikan pendidikan anak. Melalui relasi Allah sebagai Bapa dan umat Israel sebagai anak-Nya, Allah mencontohkan lima buah unsur yang diperlukan orang tua untuk menjadi orang tua Kristen bagi anak-anaknya. Kelima unsur tersebut adalah: orang tua Kristen memelihara dan mengasihi anaknya, orang tua Kristen yang selalu hadir dan memberikan rasa aman pada anaknya, orang tua Kristen yang memberi pengajaran tentang kebenaran pada anaknya, orang tua Kristen yang mendisiplin dan membentuk sikap hati anaknya, orang tua Kristen yang mengampuni dan merekonsiliasi diri dengan anaknya. Kelima unsur tersebut hams orang tua Kristen berikan dan berlakukan pada anak-anak mereka secara utuh dan tems-menems. Selain itu, pengenalan orang tua sendiri tentang Allah dan siapa Allah bagi mereka juga kedekatan orang tua dengan Allah sangat diperlukan sebagai modal dasar bagi orang tua Kristen untuk melakukan mandat Allah yaitu mendidik anak-anak yang adalah pusaka Tuhan dengan sepenuh hati karena anak-anak adalah milik pusaka Allah