STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Konsep Harta Kepemilikan Dalam Perspektif Kerajaan Surga.
Materi atau harta merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan
manusia. Segala kebutuhan dalam hampir segala aspek dapat terpenuhi karena ada harta
atau materi. Namun hal penting yang harus diperhatikan adalah bagaimana juga sisi lain
dari penggunaan harta atau materi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini ketika
seseorang punya pandangan yang salah terhadap harta dan materi maka sisi negatif yang
bisa dialami dari harta dan materi adalah kecenderungan untuk jatuh ke dalam pengaruh
tantangan zaman yang ada pada masa kini yang merupakan tantangan yang nyata
terhadap kehidupan manusia pada zaman ini.
Bahkan dalam kehidupan orang percaya pun telah terjerat dalam tantangan zaman
yang ada. Bukan lagi orang yang menguasai uang atau harta melainkan uang yang
menguasai orang, sehingga berpengaruh pada kehidupan orang percaya dengan
menurunnya tingkat pemberian kepada gereja, bahkan juga kepada orang-orang di sekitar
yang berada dalam kesulitan hidup. Hal ini disebabkan karena orang lebih mengutamakan
kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan menjadikan materi atau uang adalah segalanya
dalam hidup.
Dalam hal yang sama, Yesus pun mengingatkan para murid-Nya untuk tetap
mengfokuskan hidup mereka pada harta surgawi dan bukan pada harta duniawi. Apa dan
siapa yang menjadi prioritas utama bagi setiap murid Tuhan atau orang-orang percaya
dalam menjalani hari-hari hidup, menjadikan perkara-perkara rohani sebagai prioritas
utama dan tetap menjaga hati agar tidak jatuh ke dalam “money oriented” dan
seharusnya pula berani untuk mendedikasikan seluruh hidup dan semua yang dimiliki
untuk dipakai bagi “pelebaran” Kerajaan Allah di tengah dunia ini dan untuk kemuliaan
Allah.
Melalui pengajaran Yesus kepada murid-murid-Nya dalam Matius 6:19-24 telah
memberikan penegasan terhadap masalah materialisme pada masa kini. Pengajaran yang
telah Yesus berikan ini disesuaikan dengan konteks harta pada zaman itu. Orang Yahudi
menganggap bahwa harta sebagai sesuatu yang berkenan kepada Allah. Untuk itulah
mereka berusaha untuk mengumpulkan harta di bumi sesuai dengan yang mereka
kehendaki.
Melalui skripsi ini, penulis ingin menyatakan bahwa pengertian yang utuh tentang
kecintaan terhadap harta berdasarkan kitab Matius, di tengah tantangan zaman yang ada
pada masa kini merupakan hal yang penting untuk dimengerti oleh setiap orang percaya,
sehingga penulis berharap setiap orang percaya dapat taat pada apa yang merupakan
perintah dari Tuhan Yesus Kristus untuk mewujudnyatakan kecintaan akan harta surgawi
dengan terus terfokus kepada Allah dan kerajaan-Nya di tengah dunia masa kini
Social Constructivism, Praktek, dan Evaluasi Teologisnya
Abisha mengajar mata pelajaran fisika di sebuah SMA. Tidak seperti guru SMA umumnya, ia tidak menjadwalkan ulangan harian bagi masing-masing muridnya. Ia membuka tahun ajaran dengan mengajarkan kepada kelas cara berkomunikasi dan bekerja sama dalam kelompok. Seiring berjalannya tahun ajaran, ia mengajarkan setiap materi dengan membagi kelas menjadi kelompok-kelompok berukuran 3-4 orang siswa. Setiap kelompok terdiri dari anggota yang kemampuan dan keahliannya beragam. Mereka diminta berdiskusi menjawab sebuah permasalahan sehari-hari yang berkaitan dengan materi. Permasalahan selalu disertai petunjuk-petunjuk yang mengarahkan pencarian solusi. Sepanjang kelas, Abisha berkeliling kelas mempertajam diskusi tiap kelompok guna mendukung mereka. Evaluasi kelompok tidak hanya dinilai secara komunal namun setiap anggota dievaluasi secara pribadi pekerjaan dan pemahamannya. Inilah gambaran kelas yang menerapkan social constructivism. Social constructivism adalah salah satu aliran di bawah payung teori constructivism. Constructivism adalah sebuah teori pembelajaran yang meyakini bahwa individu belajar dengan merekonstruksi pemahaman personal dalam pikirannya. Social mengandung makna berkaitan dengan masyarakat atau interaksi antar pribadi. Jadi, social constructivism adalah teori pendidikan yang menekankan pentingnya konteks sosial dalam pembelajaran dan keyakinan bahwa pengetahuan dibangun dan dikonstruksi bersama. Walaupun social constructivism dan teori constructivism ;aom naru terdengar di tahun 90-an, teori ini terus berkembang pesat. Buku-buku mengenai constructivism semakin menggunung. Riset mengenai social constructivism pun kian marak. Semakin banyak juga sekolah atau pun kelas yang mengimplementasikan teori social constructivism. Bahkan Paul Eggen menyatakan bahwa kini sosial constructivism adalah pandangan yang paling berpengaruh dalam pemikiran pengajar dan pakar pendidikan. Namun begitu, di manakah sebenarnya letak social constructivism dalam rimba constructivism? Apakah sebenarnya konsep dan prinsip yang mendasari teori ini? Bagaimanakah posisi social constructivism di hadapan terang firman Tuhan? Berkenaan dengan hal-hal di atas, tulisan ini akan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dimulai dari pengenalan constructivism, tulisan ini akan membahas konsep social constructivism dan prinsip social constructivism. Setelah itu, tulisan akan memaparkan evaluasi teologis social constructivism. Di akhir tulisan, penulis akan menambahkan secuplik penerapan social constructivism yang alkitabiah
Magnificat Anak Dara sebagai Nyanyian Revolusioner : Lukas 1:46-55 Di Tengah Perayaan Natal Kontemporer
Bersama-sama, seluruh umat manusia kembali memasuki bulan Desember: lonceng natal telah berdentang, nyanyian kegembiraan bergema memanjang, dekorasi telah terpajang, segala pernak-pernik sekitaran pohon natal telah dipasang. Problemnya, di tengah hingar-bingar perayaan natal dalam dunia yang makin hari makin absurd dan banal ini, adakah kelahiran Kristus dimaknai sesuai semangat mula-mula ketika berita itu hadir? Seringkali penulis gundah karena dunia kontemporer telah menenggelamkan natal pada lautan hedonisme, sekularisme, dan materialisme. Tidakkah natal identik dengan konsumsi yang berlebihan? Yang sesungguhnya, kenyataan itu menimbulkan keresahan tersendiri, apalagi mengingat konteks kemiskinan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, penulis tergugah untuk merefleksikan momen natal kali ini melalui satu madah pujian yang cukup berpengaruh dalam sejarah kekristenan: magnificat anak dara yang dikandung oleh Lukas 1:46-55. Tulisan ini adalah kajian singkat -- yang lebih bersifat deskriptif -- terhadap teks Lukas 1:46-55. Namun, secara khusus penulis hendak mengajukan hipotesis bahwa nyanyian Maria ini adalah sebuah nyanyian revolusioner bagi konteks abad pertama. Usai kajian biblika dikerjakan, penulis akan merefleksikan pesan-pesan teologis yang relevan bagi kekristenan masa kini yang sedang merayakan natal
Eksposisi Amsal 15:1; 18:13 dan 25:11 dan Implikasinya dalam Komunikasi antara Orang Tua dan Remaja
Penyembahan kepada Anak Domba Allah dalam Wahyu 7:9-12 dan Implikasinya dalam Penyembahan Berjemaah
Perbandingan antara Konsep Hikmat dalam Perjanjian Lama dengan Konsep Hikmat Pendidikan Kristen Masa Kini.
Manusia adalah makhluk yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Kondisi tersebut mengantar manusia pada sebuah tanggung jawab yang berat atas pengetahuan dan ketidaktahuan yang mereka telah capai. Hal tersebut berarti, ada konsekuensi yang berat, apabila manusia gagal dalam melakukan “pendidikan.” Oleh karena itu, pendidikan Kristen juga tidak dapat dilepaskan dari pemahaman ini.
Pendidikan Kristen merupakan upaya ilahi dan manusiawi yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan untuk mentransmisikan pengetahuan, nilai-nilai, sikap-sikap dan ketrampilan-ketrampilan dan tingkah laku yang konsisten dengan iman Kristen. Pendidikan mengupayakan perubahan, pembaruan dan reformasi pribadi-pribadi, kelompok dan struktur oleh kuasa Roh Kudus, sehingga anak didik hidup sesuai dengan kehendak Allah, sebagaimana dinyatakan oleh Alkitab. Pendidikan Kristen adalah pelatihan dan pembentukan karakter dan hikmat secara akademis di dalam hati dan kehidupan anak. Hal tersebut berarti, pendidikan di sekolah tidak terbatas hanya pada pemahaman informasi, namun bagaimana informasi tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hikmat dalam pendidikan Kristen membawa pada pemahaman bahwa pengetahuan merupakan lebih dari sekedar intelektual dan moral-rasio. Pengetahuan adalah memahami dan menanggapi sesuai dengan kehendak Sang Sumber Hikmat. Dasar dari pengetahuan adalah “takut akan Tuhan” dan merupakan prinsip dalam memperoleh hikmat. Di dalam “takut akan Tuhan,” nara didik akan terjaga dan tidak tergelincir ke dalam kecerdasan semata sebab “takut akan Tuhan” adalah prinsip yang mengontrol pengetahuan. Lebih dari itu, “takut akan Tuhan” akan mewujudkan sebuah relasi yang benar yaitu sebuah pengenalan akan Allah dan ketaatan untuk menyembah-Nya.
Oleh sebab itu, pendidikan Kristen dalam kurikulumnya harus memperhatikan lebih dari sekadar pengetahuan intelektual. Kurikulum Kristen harus memperhatikan bagaimana pengetahuan tersebut diaplikasikan dalam kehidupan dengan berlandaskan pada nilai-nilai dan mandat-mandat Alkitab