STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
From Disciple to Apostle : Sebuah Studi Eksegesis Markus 6:7-13
Markus pasal 6 mengisahkan sebuah episode unik dari kehidupan para murid. Perikop ini menceritakan bagaimana Tuhan Yesus memanggil para murid suatu ketika dan mengutus mereka berdua-dua ke berbagai tempat. Itu berarti ada enam kelompok yang beranggotakan masing-masing dua orang yang pergi berpencar ke seluruh penjuru. Ketika mengutus mereka, Yesus berpesan agar para murid tidak membawa apapun dalam perjalanan mereka semisal roti, bekal, uang bahkan baju berlebih. Mereka hanya diperbolehkan untuk membawa tongkat dan alas kaki. Itu saja. Dengan demikian, para murid pergi ke berbagai penjuru tanpa persiapan untuk bertahan hidup dalam perjalanan mereka. Tidak hanya berhenti di situ, para murid ini diminta untuk menetap di tempat orang-orang yang menerima mereka dalam perjalanan mereka. Jika orang-orang tersebut tidak menerima mereka dan tidak mendengarkan mereka, maka mereka disuruh untuk mengebaskan debu yang ada di kaki para murid sebagai peringatan. Setelah menerima mandat tersebut, pergilah mereka ke berbagai tempat dan mengabarkan injik, mengusir setan dan menyembuhkan orang. Episode ini termasuk mozaik kisah yang sangat sulit untuk dimengerti dalam rangkaian narasi perjanjian baru. Pembaca modern akan dibingungkan dengan kurangnya detail penjelasan seputar isi perintah Yesus khususnya berkenaan soal barang bawaan para murid yang minim dan cenderung nihil. Maka dari itu pertanyaan yang dapat diajukan untuk menjadi parameter dalam mengerti bagian ini adalah, pertama, apa signifikansi penggunaan tongkat dan alas kaki sehingga hanya dua benda ini saja yang diperbolehkan untuk dibawa. Kedua, apa implikasi teologis yang hendak disampaikan oleh Yesus melalui perintah untuk tidak membawa apa-apa dalam perjalanan mereka. Ketiga, relasi seperti apakah yang dimiliki teks ini dengan dua teks paralel lainnya dalam Matius-Lukas. Keempat, apa yang hendak disampaikan Markus melalui teks ini. Tulisan ini berjuang untuk memberikan penjelasan yang memadai untuk mengerti perikop ini melalui penjawaban pertanyaan-pertanyaan di atas
The Samaritan Pentecost : Sebuah Studi Eksegetical Kisah Para Rasul 8:14-17
Peristiwa turunnya Roh Kudus atas orang Samaria--yang umumnya dikenal dengan istilah the Samaritan Pentecost--dicatat oleh Lukas di dalam bukunya yang kedua, yaitu Kisah para Rasul. Di dalam perikop ini, dikisahkan bagaimana Roh Kudus turun atas orang Samaria melalui doa dan penumpangan tangan oleh rasul Petrus dan Yohanes. Namun demikian, perikop ini menimbulkan berbagai pertanyaan -- karena di perikop yang sama pada bagian narasi sebelumnya, dicatat juga bagaimana orang Samaria telah menerima pemberian Injil yang dilakukan Filipus (8:4-13), tetapi mereka belum menerima Roh Kudus sebagaimana umumnya terjadi pada saat orang menjadi percaya (8:16). Mereka baru menerima Roh Kudus setelah rasul Petrus dan Yohanes berdoa dan menumpangkan tangan atas mereka (8:1-7). Narasi ini menimbulkan beberapa pertanyaan yang membawa kepada berbagai penafsiran dan implikasi yang berbeda mengenai relasi antara conversion-initiation process -- proses pertobatan dan turunnya Roh Kudus. Pertama, apakah narasi turunnya Roh Kudus atas orang Samaria ini dapat ditafsirkan secara normatif atau exceptional (yaitu, tidak sesuai dengan pola yang umum?). Kedua, jikalau peristiwa turunnya Roh Kudus atas orang Samaria ini adalah sesuatu yang exceptional, apa yang menyebabkan penundaan turunnya Roh Kudus atas orang Samaria? Ketiga, apa relasi antara doa, penumpangan tangan dan jabatan rasuli dengan turunnya Roh Kudus atas orang Samaria? Keempat, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Lukas melalui narasi ini? Makalah eksegesis ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam kaitannya dengan apa sesungguhnya yang menjadi maksud teologis di balik narasi Lukas ini
Konsep Rekonsiliasi Berdasar Studi Naratif Kejadian 37-45 Dan Implikasinya Bagi Proses Rekonsiliasi Orang Percaya.
Semenjak kejatuhan manusia ke dalam dosa, hidup manusia dipenuhi dengan berbagai macam konflik. Konflik merusak relasi yang dimiliki manusia, hingga pola relasi yang dimiliki manusia adalah relasi saling menyakiti dan disakiti.Tidak terlewatkan orang-orang Kristen yang juga mempunyai pola relasi saling menyakiti dan disakiti ini. Akibatnya, banyak keluarga-keluarga Kristen yang hancur akibat konflik-konflik yang terjadi antara anggota keluarga, dan parahnya lagi konflik juga telah merusak komunitas gereja, yang tidak lain adalah umat yang ditebus Allah.
Namun Allah tidak meninggalkan umat-Nya di dalam kebingungan dan keterpurukan ketika menghadapi keadaan seperti ini. Pertolongan Allah nyata terwujud di dalam kebenaran firman-Nya, Alkitab, yang menjadi pandu bagi langkah orang percaya. Alkitab acapkali berbicara mengenai konflik-konflik yang terjadi di tengah-tengah umat pilihan Allah, salah satunya terjadi dalam kehidupan Yusuf dan kakak-kakaknya, yang terangkum dalam Kejadian 37-45. Narasi Yusuf memperlihatkan bagaimana suatu konflik dapat merusak relasi antar saudara, namun narasi ini tidak hanya berhenti untuk mengisahkan rusaknya relasi akibat konflik. Musa sebagai penulis kitab Kejadian melanjutkan narasi ini dengan mengisahkan bagaimana Yusuf dan kakak-kakaknya berekonsiliasi, memulihkan kembali relasi mereka. Tetapi ada satu hal yang menarik dari narasi ini, yaitu rekonsiliasi antara Yusuf dan kakak-kakaknya terjadi atas pertolongan Allah. Allah menyertai Yusuf untuk berekonsiliasi dengan kakak-kakaknya, dan Ia memakai rekonsiliasi ini demi memelihara kelangsungan hidup suatu bangsa yang besar (Kej. 50:20).
Narasi Yusuf (Kej. 37-45) inilah yang menjadi dasar untuk merumuskan konsep rekonsiliasi, guna diterapkan di dalam penyelesaian konflik di dalam kehidupan berkeluarga dan bergereja. Rumusan konsep rekonsiliasi tersebut adalah rekonsiliasi dilandaskan pada penyertaan Allah, rekonsiliasi yang melibatkan Allah dan berfokus pada pertumbuhan iman pelakunya, rekonsiliasi yang ditujukan demi kemuliaan Allah. Dengan demikian, rekonsiliasi kini tidak lagi dipandang sebagai tindakan moral belaka, melainkan sebagai suatu tidakan pemulihan relasi yang berpusat pada Allah dan demi kemuliaan Allah
Tinjauan Teologis Formulasi Aromatik dalam Alkitab dan Implikasinya bagi Ibadah Kristen.
Ibadah dan pengajaran merupakan hal yang vital dalam kehidupan Kristen. Ibadah umum di hari Minggu merupakan momen utama orang-orang percaya, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, berkumpul untuk mengenang dan merayakan perbuatan-perbuatan Allah yang besar di masa lampau yang berpusat pada karya penebusan oleh Yesus Kristus. Pertemuan yang bersifat reflektif ke masa lampau itu kemudian dimaksudkan untuk meneguhkan iman orang-orang percaya untuk hidup bagi Allah di momen kekinian—yakni dalam konteks kehidupan umat dalam konteks waktu dan tempat tertentu. Tidak sampai di situ, pertemuan itu juga sekaligus mengantisipasi kedatangan Kristus yang kedua kali (dimensi eskatologis). Oleh karena itu, sebuah aspek utamadari ibadah umum—di samping aspek-aspek utama yang lain, seperti misalnya sebagai bentuk nyata persekutuan antara Allah dengan umat dan umat dengan umat—adalah pengajaran yang menekankan refleksi historis terhadap karya Allah dalam sejarah. Bentuk dan konten dari ibadah sebaiknya menekankan pentingnya sejarah penebusan, mulai dari Kejadian hingga Wahyu, agar dapat mengajarkan kebenaran-kebenaran Kristen secara lebih utuh. Dengan kata lain, ibadah raya Kristen sedapat mungkin bernafaskan redemptive-historical.
Berdasarkan pada penyelidikan terhadap teks-teks (formulasi) yang memuat nuansa elemen bau (aromatika) di dalam Alkitab, secara khusus pada konteks ibadah, didapati suatu penggunaan yang unik kepada indera penciuman, baik secara literal dan simbolis. Berbagai korban persembahan di dalam Perjanjian Lama diterima Allah sebagai “bau yang harum/menyenangkan,” suatu gaya bahasa yang secara teologis disebut sebagai bahasa “antropomorfisme.” Selain itu, Allah sendiri juga menginstruksikan bangsa Israel pada waktu itu untuk membuat dan menggunakan suatu parfum khusus yang terbuat dari kemenyan untuk dipersembahkan (dibakar) kepada-Nya di tabernakel/Bait Suci setiap hari. Penggunaan bahasa semacam ini kepada Allah (yakni Allah “mencium” bau, dan di tempat lain persembahan-persembahan itu dikatakan sebagai “makanan Allah”) memberikan signifikansi bahwa pada dasarnya Allah menghargai peran indera manusia sebagai makhluk ciptaan yang merepresentasikan diri-Nya, di samping untuk menekankan suatu makna simbolis tertentu dari penggunaan elemen-elemen tersebut. Frasa “bau yang menyenangkan” sendiri lebih menekankan penerimaan Allah terhadap suatu korban persembahan yang dibakar, di samping implikasi-implikasi lain yang dapat ditarik (mis., bahasa itu sebagai bentuk pengontrasan antara Yahweh, Allah Israel, dibandingkan dengan ilah-ilah lain yang pada dasarnya mati tidak mampu berespons).
Penelusuran penggunaan termin-termin terkait ke dalam PB menunjukkan progresivitas penggunaan formulasi aromatik dalam konteks persembahan. Yesus Kristus, sebagai Imam Besar Agung, tabernakel/Bait Suci, serta korban persembahan yang sempurna, yang diungkapkan penulis Surat Ibrani sebagai “substansi” dari apa yang “dibayangi” (shadowed) oleh sistem persembahan dalam tabernakel-Bait Suci dalam Perjanjian Lama, telah mentransformasi (yakni, menggenapi) secara radikal institusi agama Israel menjadi tatanan ibadah yang baru bagi siapa saja yang percaya dalam nama-Nya. Secara khusus, Yesus sebagai korban yang sempurna itu disebutkan oleh Paulus sebagai “korban yang harum” (Ef. 5:2), suatu istilah yang lazim dikenakan bagi berbagai korban persembahan dalam sistem tabernakel/Bait Suci. Hidup orang percaya kemudian disebutkan sebagai “persembahan yang hidup” (Rm. 12:1, 2) yang setiap tindakannya yang memuliakan nama Allah disebut sebagai “bau yang harum” (Flp. 4:18). Kemudian, secara spesifik dalam penglihatan di Patmos doa orang-orang percaya digambarkan sebagai persembahan kemenyan yang harum di hadapan takhta Allah (yang merupakan gema dari praktik persembahan kemenyan khusus di tabernakel/Bait Suci Israel). Doa orang percaya selalu diterima Allah dan akan membawa dampak bagi kehidupan di bumi.
Ketika seluruh tradisi Kristen Protestan secara umum (kecuali beberapa denominasi tertentu) tidak menggunakan elemen aromatik dalam ibadah, dua tradisi kekristenan pra-Reformasi (Orthodoks Timur dan Katolik Roma) telah menggunakannya sejak berabad-abad yang lampau (sekitar abad ke-4). Apakah alasan dan dasar biblis dari praktik ini? Dapatkah gereja Protestan mengadopsi praktik ini? Sejauh apa hal itu memungkinkan? Penulis berpendapat bahwa oleh karena penggunaan formulasi aromatik di dalam Alkitab mampu merepresentasikan karya keselamatan yang Allah kerjakan di masa lampau sekaligus menekankan akan aspek kekinian, yaitu bahwa hidup orang percaya adalah persembahan yang berbau harum bagi Allah, dan dengan demikian mengantisipasi kedatangan Kristus yang kedua kali yang akan membawa upah bagi umat-Nya yang telah setia, maka kebenaran yang dapat disampaikan melalui formulasi ini dapat diperkuat dengan penggunaan elemen aromatik secara literal, sebab sejak awal Allah menghargai peran pengalaman indera manusia di dalam ibadah. Hal ini telah disadari oleh banyak ahli, dan nampaknya, asalkan berada dalam batasan tertentu, hal itu tidak bertentangan dengan konsep regulative principle yang dicetuskan Calvin serta norma estetika yang ditekankan Abraham Kuyper
Doktrin Irresistible Grace dan Implikasinya bagi Penginjilan
Konsep Irresistible Grace atau yang biasa dikenal dengan anugerah yang tidak dapat ditolak ini merupakan pokok keempat dari lima pokok ajaran Calvin. Doktrin ini sangat berkaitan erat dengan doktrin pemilihan karena melalui anugerah Allah yang tidak dapat ditolak itulah, maka orang-orang yang dipilih-Nya akan selamat. Tetapi, jika doktrin ini dipahami dengan pemikiran yang dangkal, maka tidak heran jika kemudian muncul sebuah pemikiran bahwa bagaimana kita bisa membawa orang-orang berdosa kepada Kristus sementara doktrin Reformed tentang anugerah yang tidak dapat ditolak itu menyatakan secara tidak langsung bahwa ada orang yang dipilih untuk selamat dan yang lainnya tidak. Dan pemikiran seperti inilah yang kemudian membawa uamt Kristen kepada suatu sikap yang acuh tak acuh terhadap penginjilan. Dengan demikian, doktrin ini nampaknya memiliki signifikansi tersendiri bagi pemahaman umat Kristen mengenai penginjilan. Maka dari itu, paper ini akan membahas tentang doktrin anugerah yang tidak dapat ditolak untuk menunjukkan implikasinya bagi penginjilan. Pertama-tama, penulis akan memaparkan pengertian mengenai anugerah yang tidak dapat ditolak dan beberapa pandangan yang keliru. Kemudian, dilanjutkan dengan pembahasan dukungan alkitabiahnya. Terakhir, penulis akan menunjukkan implikasinya bagi umat percaya, terutama kaitannya dengan penginjilan
Tinjauan teologi Reformed Terhadap Kebudayaan yang Dibangun dan Dipopulerkan Oleh Televisi Dalam Fungsinya Sebagai Media Massa
Tiga istilah penting dalam judul di atas adalah “teologi Reformed,” “kebudayaan,” dan “televisi.” Jika ketiga istilah ini disejajarkan, tentu menimbulkan pertanyaan yang mendasar yaitu, apakah hubungan di antara ketiganya? Apakah satu dengan yang lain saling mempengaruhi, ataukah berdiri sendiri-sendiri? Jika memiliki relasi, relasi apakah yang terjadi di antara ketiganya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab dalam makalah ini. Tulisan ini akan menunjukkan pengaruh televisi sebagai media massa dalam membangun dan mempopulerkan pola pikir, gaya hidup dan nilai-nilai pada zaman ini. Penulis akan memaparkan serangkaian penelitian dan pengamatan yang telah dilakukan dan dipublikasikan di media, lalu memberikan tanggapan berdasarkan pemahaman teologi Reformed
Kebenaran Doktrin Antropologi dan Soteriologi Bagi Kepentingan Etika Lingkungan
Orang-orang sekuler menuduh kekristenan sebagai agama yang paling bertanggung jawab atas kerusakan ekologi. Menurut mereka, ajaran-ajaran kekristenan seperti antropologi dan soteriologi lebih mengutamakan manusia daripada ciptaan yang lain. Kalau memang benar ajaran doktrinal di atas yang menyebabkan terjadinya masalah ekologi, maka ini selaras dengan pernyataan Alister E. McGrath bahwa etika Kristen merupakan hasil yang keluar dari doktrin Kristen. Namun tentu bukan hasil etika seperti ini yang ia maksud. Sebaliknya, doktrin Kristen harus dibangun dan dipahami dengan benar sesuai Alkitab karena itu akan mempengaruhi seluruh etika Kristen. Dari permasalahan di atas, penulis memandang perlu untuk menegakkan kebenaran dari kedua doktrin tersebut supaya: pertama, orangorang Kristen dapat lebih utuh memahami dan mengimplementasikannya sehingga tidak menjadi batu sandungan lagi; dan kedua, golongan sekuler memahami kebenaran dari ayat-ayat yang dituduhkan dan mengerti bahwa kekristenan tidak antiekologi, namun mementingkan lingkungan