STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Tinjauan Alkitabiah Terhadap Konsep Pendidikan Anak Usia Dini dan Relevansinya Bagi Pembentukan PAUD di dalam Gereja
Kesadaran akan kebutuhan pendidikan pada dewasa ini cenderung meningkat. Pendidikan yang konon dimulai ketika seorang manusia dilahirkan ke dalam dunia, telah menjadi isu hangat dalam dunia pendidikan dan telah marak diperbincangkan oleh berbagai pihak. Kesadaran pemerintah Indonesia akan pentingnya pendidikan pada saat seorang anak masih berusia dini “menelurkan” satu program yaitu dengan penyediaan wadah pendidikan bagi anak usia dini atau lebih dikenal dengan pos PAUD. Program PAUD telah diatur sedemikian rupa oleh pemerintah Indonesia sehingga dibuat suatu perundang-undangan mengenai PAUD. Namun dalam realitas yang “tertangkap” oleh pemerintah dan praktisi beserta pemerhati PAUD didapati bahwa program yang dicanangkan tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya animo masyarakatkhususnya para orang tuadalam memahami signifikansi pendidikan bagi anak usia dini.
Penulis memaparkan sebuah tinjauan Alkitabiah mengenai pendidikan terhadap anak usia dini. Melalui contoh pendidikan yang diberikan dari para orang tua kepada diri anak-anak mereka, yaitu: Musa, Samuel, dan Timotius, menunjukkan bahwa pendidikan yang diberikan pada saat anak masih berusia dini memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan anak di masa yang akan datang. Kenyataan bahwa anak usia dini merupakan anugerah dari Allah dan juga merupakan bagian dari manusia yang berdosa, menyadarkan para orang tua dan pendidik untuk sungguh-sungguh memberikan pendidikan yang baik dan tepat. Melalui keberadaannya PAUD diharapkan dapat menjadi partner bagi orang tua untuk menjalankan pendidikan yang dibutuhkan oleh anak usia dini.
Dalam mewujudkan hal tersebut di atas peran dari gereja sesungguhnya sangat penting. Penawaran yang diberikan oleh pemerintah dalam bekerja sama dengan gereja untuk mengembangkan program PAUD telah dilaksanakan oleh beberapa gereja meski penyelenggaraannya terkesan sekular dan belum semua gereja membentuk PAUD. Program PAUD di dalam gereja dapat diintegrasikan dengan pelayanan anak. Sehingga pengajaran iman kepada Kristus menjadi visi dan misi yang utama. Selain dapat memberikan pelajaran iman, pembentukan PAUD di dalam gereja juga dapat turut serta dalam pertumbuhan gereja
Menggagas Signifikansi Gestur Tubuh dalam Ibadah Korporat Gereja-Gereja Protestan
Penulis akan mengkaji pemahaman yang biblikal tentang arti gestur penyembahan. Penulis akan mulai dengan survei ringkas tentang teologi tubuh di mana penulis menggali apa pandangan Alkitab terhadap tubuh. Saat mengupas teologi tubuh, penulis memperlihatkan implikasi-implikasi praktisnya terhadap penyembahan. Teologi tubuh penting untuk ditegakkan karena ini menjadi dasar bagi penulis untuk selanjutnya merumuskan tiga signifikansi dari gestur liturgikal yaitu sebagai pengungkapan, pelibatan, dan pembelajaran. Tentu saja keseluruhan artikel ini hendak menegaskan betapa pentingnya bagi kita untuk merangkul tindakan liturgikal sebagai salah satu sarana penting bagi pertumbuhan rohani setiap kita melalui konteks ibadah korporat
Analisis Perzinaan dalam Amsal 1-9 dan Implikasinya bagi Pasangan Dewasa Muda Kristen Masa Kini
Eksklusivisme, Inklusivisme, Pluralisme, dan Dialog Antar Agama
... cukup banyak gereja atau sinode di zaman pascamodern ini yang mengutamakan pentingnya relasi antar-agama atau antar-iman. Mereka agaknya tidak mementingkan apa ajaran yang dipegang seseorang, sebuah lembaga, atau sebuah aliran. Memang, mau tidak mau pada masa kini kita hidup di dalam dunia yang secara religius bersifat plural atau majemuk, dan kebanyakan orang akan setuju bila dikatakan bahwa kekristenan pun, siap atau tidak, dipandang hanyalah sebagai salah satu agama dunia di antara agama-agama lainnya. Teolog modern atau pascamodern pada umumnya memilih posisi “aman” dan dapat diterima semua pihak, yaitu bahwa setiap agama memiliki warisan historis dan jalan keselamatannya sendiri-sendiri.3 Secara khusus, di Indonesia, kita hidup di tengah beragamnya suku, ras, tradisi, latar belakang sosial dan agama. Bagi kekristenan, pluralitas budaya dan agama ini dapat memperlihatkan aspek-aspek positif maupun negatif. Dari perspektif positif, kita harus mengakui bahwa pluralitas kepercayaan dapat memperkaya dan sekaligus menantang pemahaman Kristen secara lebih perseptif dan realistis tentang keberagaman ini; hasilnya, pelayanan Kristen akan jadi lebih relevan dan kontekstual bagi kebutuhan manusia. Dari perspektif negatif, kita juga harus mengakui bahwa pluralitas kepercayaan ini dalam keadaan-keadaan tertentu telah menjadi penyebab timbulnya ketegangan dan konflik-konflik di antara keyakinan-keyakinan tersebut. Lalu, bagaimana seharusnya orang Kristen mendekati topik pluralisme? Melalui artikel ini saya pertama-tama akan menguji fakta pluralisme dalam dunia kita saat ini. Kita akan mengamati pluralisme sosiokultural modern dan dampaknya terhadap teologi Kristen. Kemudian kita akan menyelidiki bagaimana pluralisme telah dimanfaatkan untuk membenarkan agenda teologis belakangan ini yang dikenal sebagai “teologi agama-agama dunia” atau “teologi pluralistik.” Di sini tampaknya, oleh mereka, iman Kristen harus diletakkan sebagai dikotomi atau alternatif antara partikularisme dan inklusivisme. Yang pertama berarti orang Kristen sebaiknya tidak menyajikan iman mereka dengan cara sedemikian rupa seakan-akan mereka adalah “mayoritas,” “pemimpin,” “anak tunggal yang terkasih” di antara agama-agama lainnya. Yang belakangan berarti orang Kristen seharusnya mengadakan atau ikut serta dalam dialog dengan anggota iman atau agama lain sehingga kekristenan itu sendiri dapat diperkaya, atau bahkan diubahkan melalui interaksi serta menyerap kebenarankebenaran yang terdapat dalam tradisi lain. Itu sebabnya sebelum kita tiba pada implikasi di bagian akhir, saya akan mengajukan sebuah kerangka alternatif sebagai suatu usaha untuk melangkah melampaui kontroversi, yakni mengajukan sebuah kerangka yang bisa dikerjakan di mana perbedaanperbedaan pemikiran adalah sah dan tidak direlatifkan atau diabsolutkan
Tinjauan Kritis terhadap Doktrin Intermediate State Saksi Yehova Berdasarkan Perspektif Firman Tuhan
Tinjauan Terhadap Human Cloning Berdasarkan Bioetika Kristen.
Cloning adalah salah satu bentuk teknologi rekayasa genetika yang dapat “menciptakan” duplikat atau kembar melalui teknik asexual reproduction. Teknologi ini sudah dipraktikkan sejak tahun 1952 oleh dua orang ilmuwan yang bernama Robert Briggs dan Thomas King pada hewan kecebong. Akan tetapi, teknologi cloning memiliki progesifitas yang tinggi, sehingga pada tahun 1997, seorang periset di Edinburgh’s Roslin Institute yang bernama Ian Wilmut dari Skotlandia berhasil memecahkan pekerjaan rekayasa genetika yang pada akhirnya dilahirkannya si domba cloning yang diberi nama Dolly. Wilmut telah menjadi seorang ilmuwan pertama yang berhasil mengklon seekor mamalia dewasa dengan cara mengeluarkan inti dari sel dewasa dan memasukkannya ke dalam sebuah sel telur yang telah diambil nukleusnya.
Rupanya progresifitas teknologi cloning tidak hanya berhenti di situ. Para periset yang melihat keberhasilan Wilmut terpacu adrenalinnya untuk terus melakukan pengembangan yang pada akhirnya merambah pada manusia sebagai obyek rekayasanya. Rekayasa genetika yang mulai menyentuh manusia itulah yang kemudian menggemakan human cloning ke hampir seluruh belahan bumi.
Menariknya, tidak sedikit dari manusia di dunia ini yang memberikan respons positif terhadap human cloning. Pasalnya, human cloning dipandang sebagai sumber jawaban bagi pasangan suami-istri dan pasangan homoseksual yang menginginkan keturunan atau anak biologis. Lebih dari itu, human cloning dilihat sebagai sumber jawaban atau kesembuhan bagi orang-orang yang mengalami penyakit-penyait serius termasuk terminal illness.
Akan tetapi, tidak sedikit—dapat dikatakan mayoritas—orang yang memberikan reaksi penolakan terhadap human cloning. Reaksi ini disebabkan oleh banyaknya pelanggaran etis-teologis yang ditemukan dalam praktiknya. Secara teologis, human cloning telah melanggar ketetapan-ketetapan Allah, di mana manusia telah memposisikan diri sebagai pencipta bukan ciptaan, tidak menghormati kedaulatan Allah, mandat prokreasi telah diabaikan, dan masih banyak pelanggaran lainnya. Kemudian, secara etis, human cloning telah memperlakukan manusia tidak pada tempatnya, yaitu manusia yang adalah gambar Allah telah dijadikan sebagai obyek eksperimen. Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa human cloning dipandang sebagai praktik yang tidak melayani Allah melainkan mempermainkan Allah.
Dengan demikian, kendati pun human cloning dipandang sebagai salah satu ciri dari kemajuan teknologi dan sumber jawaban atas pergumulan manusia, namun human cloning ini tetap sebagai sebuah ketidakbenaran. Oleh karena itu, setiap orang percaya tidak diperkenankan mempraktikkan atau mempergunakan teknologi human cloning ini untuk tujuan apa pun. Akan tetapi, teknologi ini boleh dilakukan dan tidak akan bertentangan dengan firman Allah dan etika Kristen, jika teknologi ini diterpakan pada hewan dan tumbuhan—bukan pada manusia—karena hewan dan tumbuhan bukan gambar Allah (image of God) yang memiliki ikatan kovenan. Lebih dari itu, setiap orang percaya harus terus mengingat bahwa Allah adalah Allah yang berkuasa dan berdaulat penuh atas hidup manusia yang dikasihi-Nya, dan Dia sanggup melakukan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi manusia, tanpa melalui human cloning
Peran Yesus sebagai Pemimpin-Pelayan dalam Yohanes 13:1-20 dan Implikasinya bagi Kepemimpinan Gembala Sidang Masa Kini
Konsumerisme dan Teologi Moral: Kajian Kritis dan Responsibilitas Moral Kristiani terhadap Konsumerisme
Pertanyaan pokok kajian ini adalah apakah korelasi konsumerisme dan teologi moral? Kajian ini mempunyai dua bagian yaitu: pertama, mengupas prasuposisi moral yang melatarbelakangi konsumerisme; kedua, mengerangkakan tanggung jawab moral terhadap konsumerisme dari perspektif kristiani. Tesis makalah ini mengemukakan bahwa konsumerisme mendorong konsumen untuk memilih memaksimalkan jati dirinya melalui tindakan konsumtif, baik terhadap tujuannya (telos) maupun motivasinya. Hal ini menyirikan bahwa falsafah konsumerisme cenderung mengantar seseorang menyangkal jati dirinya sebagai ciptaan Allah yang bermoral dengan menjadi tamak sehingga hidupnya tidak tergantung pada Allah melainkan kepada hal-hal material
Yesus Kristus menurut Scientology dan Sanggahan Kekristenan
Scientology adalah suatu gerakan yang sedang mengalami masa jaya didunia barat. Hal ini ditandai dengan pesatnya pembangunan dan penyebaran gereja-gereja Scientology dan pusat-pusat "pelayanan" gerakan tersebut di berbagai belahan dunia. Hingga tahun 2007 menurut badan resmi gereja Scientology jumlah pengikut gerakan ini telah mencapai angka 3,5 juta anggota di seluruh Amerika Serikat. Bahkan di beberapa negara Scientologi telah diakui sebagai agama resmi, di antaranya di Australia, Portugal, Spanyol, dan Swedia. Bahkan di Afrika Selatan Scientology telah memenangkan hak untuk mengesahkan hubungan pernikahan. Dalam praktik "keagamaan'-nya, gerakan Scientology ini menggunakn istilah "gereja" sebagai tempat persekutuan mereka dan memakai lambang salib sebagai salah satu simbol keagamaan mereka. Meski menggunakan istilah dan lambang yang telah menjadi "milik" kekristenan, gerakan ini sesungguhnya bukahlan salah satu cabang ataupun bidat dari kekristenan. Berbeda dengann Christian Science yang merupakan bidat dari kekristenan, Scientology berawal dari impian penggagas gerakan ini dalam menciptakan kehidupan yang sempurna melalui rekayasa sains maupun program-program rehabilitasi, dan juga membuat "agama" yang dapat menghasilkan kekayaan. Meskipun bukan berakar dari kekristenan, dan tidak ada sangkut pautnya dengan ajaran Kristen, Scientology mengakui kekristenan sebagai sebuah aliran pengajaran yang baik, yang memberikan konsep-konsep maupun teladan-teldan kehidupan yang baik pula. Scientology juga memiliki pandangan tersendiri mengenai Yesus Kristus yang merupakan Tuhan dan Allah dalam ajaran kekristenan, sebagai seorang yang telah mencapai tingkat kesempurnaan dan menjadi panutan bagi kaum Scientology. Berbeda dengan beberapa bidat Kristen yang justru menyangkal keotentikan pribadi Yesus maupun keilahian Yesus, Scientology mengakui keberadaan Yesus dan "kesempurnaan"-Nya sebagai guru religius. Dalam makalah ini penulis akan memaparkan latar belakang dan inti pengajaran Scientology secara singkat, pemahaman Scientology terhadap Yesus Kristus yakni sebagai tokoh agama yang besar dan mencapai tingkat kesempurnaan menurut Scientology, dan sanggahan terhadap pandangan tersebut menurut pengajaran yang benar tentang Kristus dari Alkitab