STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Konsep Keadilan Sosial dalam Kitab Mikha dan Relevansinya bagi Tugas dan Panggilan Sosial Gereja
Menjawab Persoalan Teologis Tentang Konsep dan Praktik Kesembuhan Ilahi
Kesembuhan ilahi adalah salah satu dari sekian banyak isu dalam kekristenan yang tetap hangat untuk dibicarakan. Isu ini masih tetap relevan, populer dan “tidak ada matinya.” Dalam menanggapinya, orang-orang Kristen telah terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang bersikap acuh tak acuh terhadap praktik kesembuhan ilahi, mungkin karena ketidaktahuan tentang konsep dan praktik terhadap hal tersebut atau memang tidak mau terlibat di dalam polemik yang berkepanjangan. Ada sebagian yang pro terhadap praktik ini dan begitu bersemangat menerima dan mempromosikannya. Mereka percaya bahwa praktik ini masih berlangsung dan harus terjadi sampai saat ini. Di pihak lain, ada juga sebagian yang bersikap kontra. Mereka menolak bahkan melarang praktik tersebut dilakukan di dalam lingkup jemaat dengan alasan “karunia” untuk menyembuhkan dan fenomena penyembuhan ilahi sudah berhenti sejak zaman para rasul. Yang menarik, berbagai gereja dalam lingkungan injili pun telah terbagi-bagi dalam ketiga posisi di atas Realita yang demikian telah menimbulkan persoalan teologis di dalam kekristenan, dengan pertanyaan utama, manakah posisi yang paling benar? Tulisan ini tidak sedang menempatkan diri dalam salah satu posisi di atas, tetapi mencoba menjawab persoalan tersebut dengan berefleksi secara lebih kritis terhadap berbagai posisi tersebut. Tulisan ini akan menjawab pertanyaan di atas dengan cara menguji setiap pandangan dalam dua aspek utama: prasuposisi di balik konsep dan praktik kesembuhan ilahi serta metode penafsiran (prinsip-prinsip pemahaman Alkitab) terhadap teks-teks kesembuhan
Epistemologi Reformed : Sebuah Upaya Filsuf-Filsuf Kristen Membela Status Epistemologi Kepercayaan Kristen
Sejak pertengahan tahun 1980-an berkembang suatu gerakan di dalam filsafat analitik yang disebut epistemologi Reformed. Para filsuf yang tergabung dalam gerakan ini berupaya untuk menunjukkan bahwa kepercayaan kepada Allah (belief in God) dan khususnya kepercayaankepercayaan Kristen adalah rasional, terjustifikasi (justified) dan terjamin (warranted). Singkatnya, mereka berupaya untuk memperlihatkan bahwa secara epistemologis kepercayaan religius (religious belief), khususnya kepercayaan Kristen, memiliki status epistemik yang positif. Tokoh-tokoh yang menjadi arsitek dan pendiri gerakan ini adalah William P. Alston (1921– 2009), Nicholas Wolterstorff (1932– ), dan Alvin Plantinga (1932– ). Plantinga menyebut gerakan ini sebagai epistemologi Reformed karena para pendirinya, seperti Plantinga sendiri dan Wolterstorff, mengajar di Calvin College, Amerika Serikat, dan mereka banyak mendapatkan inspirasi dari John Calvin serta para teolog lain di dalam tradisi teologi Reformed. Sebagai sebuah gerakan yang ingin menunjukkan bahwa kepercayaan religius memiliki status epistemik yang positif, epistemologi Reformed menolak pandangan fondasionalisme klasik dan evidensialisme bahwa kepercayaan religius tidak rasional dan tidak terjustifikasi. Mereka juga mengklaim bahwa kepercayaan religius memiliki status epistemik yang positif di dalam konteks epistemologi yang lebih memadai. Artikel ini ingin memperkenalkan epistemologi Reformed dengan cara mempelajari kedua proyek epistemologi di atas dan melihat implikasinya bagi apologetika. Sebab itu, penulis pertama-tama akan membahas dua proyek epistemologi tersebut, dilanjutkan dengan membahas implikasinya bagi apologetika Kristen
Signifikansi Teologis Pembangunan Kembali Bait Suci dalam Kitab Hagai bagi Pengembangan Pelayanan Gereja di Masa Kini
Masturbasi Ditinjau dari Perspektif Etika Kristen
Topik ini telah menjadi bahan perdebatan yang tiada habis hingga kini. Walau Alkitab memang tidak membicarakan masalah ini secara jelas, bukan berarti kita tidak dapat menjadikannya sebagai narasumber dan tolak ukur kita dalam memecahkan masalah ini. Sebagai umat Tuhan kita wajib menjadikan Alkitab sebagai standar utama dalam setiap aspek kehidupan kita. Dalam membahas topik ini kita juga tak boleh mengenyampingkan kenyataan bahwa manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk seksual.5 Sebagai makhluk seksual berarti manusia diperlengkapi dengan gairah seksual yang harus tersalurkan. Bagi sebagian orang melakukan masturbasi bukan masalah karena dipandang sebagai salah satu sarana yang aman dalam menyalurkan hasrat seksual seseorang, apalagi bagi mereka yang berada di luar pernikahan. Tetapi kita juga perlu menyadari bahwa selain sebagai makhluk seksual, manusia juga diciptakan Tuhan sebagai makhluk spiritual. Oleh sebab itu setiap aktivitas dalam hidup kita harus sesuai dengan kehendak Tuhan. Ini yang menjadi pertanyaan utama yang hendak dijawab dalam artikel ini: apakah masturbasi tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan dan natur manusia, baik sebagai makhluk seksual maupun makhluk spiritual. Bila memang tidak bertentangan, tentunya kita tidak dapat menyatakannya sebagai dosa, namun bila ternyata bertentangan, sudah jelas itu merupakan dosa yang tidak boleh kita lakukan. Dalam memecahkan masalah ini, selain menjadikan Alkitab sebagai tolak ukur utama, penulis juga akan melihat dari sudut pandang psikologi dan kesehatan agar memperoleh pandangan yang komprehensif sehingga dapat menghasilkan jawaban yang objektif. Selain itu ruang lingkup pembahasan dipersempit dengan hanya membahas topik ini sebagai aktivitas seksual yang dilakukan sebelum atau di luar pernikahan
Tinjauan Kritis terhadap Open Theism dari Perspektif Teologi Reformed
Salah satu bait dari lagu yang terkenal berjudul “God and God Alone” adalah: God and God alone reveals the truth of all we call unknown, And all the best and worst of man won’t change the Master’s plan, It’s God’s and God’s alone Jelas sekali terlihat nada dasar teologis dari syair ini adalah kedaulatan Allah yang nampak dalam pengetahuan-Nya tentang apa yang manusia tidak ketahui (the foreknowledge of God) dan ketidakberubahan Allah (the immutability of God). Para teolog menyebutnya dengan istilah teisme klasik (classical theism). Pandangan ini telah mendapat banyak serangan baik dari para teolog kontemporer maupun dari Injili. Dari kalangan Injili, Bloesch secara khusus membahas lima sarjana teologi dan filsafat agama yang sangat dihargai yang mengajukan sebuah alternatif terhadap teisme klasik. Mereka menyebut dirinya sebagai open view theists atau freewill theists; konsep mereka ini kemudian dikenal sebagai open theism. Buku mereka, The Openness of God, menjadi buku yang provokatif karena berbicara langsung kepada para sarjana Injili muda yang tidak “bahagia” dengan gambaran tradisional tentang Allah. Bahkan tulisan mereka ini juga mendapatkan tempat di gereja secara luas, karena sejak holocaust, memang sulit untuk mengafirmasi tentang Allah yang menggenggam dunia dalam tangan-Nya. Bagaimana mungkin Allah yang berdaulat dan Mahatahu itu memelihara manusia dengan membiarkan kejahatan dan penderitaan merajalela di bumi? Di mana letak kebebasan manusia di dalam kedaulatan Allah yang Mahatahu itu telah mengatur semuanya itu terjadi demikian? Lalu, bagaimana mungkin Allah yang tidak berubah itu dapat membuat doa menjadi ada artinya di dalam pergumulan yang kita alami? Mereka melihat teisme klasik mencoba melarikan diri dari permasalahan bagaimana membuat misteri dari Allah yang berdaulat dengan providensia-Nya itu bisa sejalan dengan afirmasi Alkitab tentang tanggung jawab dan kebebasan manusia. Sebaliknya, open theism dengan berani mencoba menjawab permasalahan ketegangan antara kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia. Bagi mereka, open theism adalah paradigma baru yang superior secara biblika, historis, teologis, filosofis dan praktis. Dari apa yang sudah dipaparkan, penulis melihat permasalahan ini perlu untuk dibahas lebih dalam mengingat hal ini menyangkut pemahaman mengenai natur Allah dan relasi-Nya dengan manusia. Melalui pembahasan ini, penulis berharap dapat memiliki pemahaman yang lebih komprehensif dalam memberi jawab terhadap permasalahan ketegangan antara kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia. Lebih lanjut, pemahaman ini akan sangat berguna dalam usaha memberi jawaban terhadap masalah kejahatan atau penderitaan dan fungsi doa. Untuk mencapai tujuan ini, maka pada bagian kedua, penulis akan memaparkan pandangan open theism, kemudian pada bagian ketiga akan memberikan tanggapan dari beberapa teolog Kristen lainnya sehingga pada akhirnya nanti kita dapat mengambil kesimpulan apakah pandangan ini merupakan sebuah jawaban mengenai realitas kejahatan/penderitaan dan fungsi doa