STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Penyembuhan Luka Batin akibat Penganiayaan Emosional
Pada semester ini, penulis bersyukur mendapatkan kesempatan dan kepercayaan mendampingi seorang teman pria berinisial K untuk menghadapi persoalan lukan batinnya. Perjalanan bersama K selama beberapa minggu menghantarkan penulis pada sebuah gambaran besar mengenai penyebab terjadinya luka-luka dalam diri K. Gambaran besar tersebut merupakan rangkuman dari seluruh pengalaman kelam di masa lalu K yang mengarah pada satu titik puncak serupa, yaitu penganiayaan emosioanal. K tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang tidak memberikan ruang bagi perkembangan emosionalnya. Di sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya, K pun tidak berkesempatan mendapatkan ruang yang sama. Lebih dari itu, perjalanan kehidupan K banyak diwarnai perlakuan dan perkataan buruk dari berbagai pihak, terutama orang tua dan teman-teman sekolahnya. Akhirnya, kehidupan emosional K menjadi tidak terarah, perkembangannya seakan terhambat, dan diri K seolah tidak memiliki pilihan lain selain bertahan hidup dalam keadaan emosi teraniaya. Untuk dapat menolong K secara efektif, penulis memutuskan mengangkat topik penganiayaan emosional dalam tulisan paper ini. Besar harapan penulis, selain dapat menjadi berkat bagi K, tulisan sederhana ini kiranya juga dapat menjadi berkat bagi setiap pihak yang membacanya
Perbandingan Konsep Demonologi dalam Agama Islam dan Kristen.
Islam adalah agama yang memengaruhi agama-agama lain di Indonesia, termasuk Kristen. Pengaruh Islam dapat berupa hal praktis dan doktrinal. Salah satu doktrin yang cukup berpengaruh adalah demonologi. Pengaruh secara praktis berupa film-film horor, buku-buku, kesaksian, lagu populer, internet yang berisi tentang setan laki-laki dan perempuan, jin baik dan jahat, dan lain sebagainya. Apabila hal ini tidak ditanggapi oleh kekristenan, maka akan berpengaruh terhadap orang-orang Kristen yang belum mengerti dengan benar ajaran demonologi dalam agamanya sendiri. Karena itu, perlu adanya suatu studi perbandingan konsep demonologi Islam dan Kristen. Studi ini dilakukan dengan pendekatan yang berbasis pada studi literatur melalui sumber-sumber yaitu buku-buku dan data dari internet. Sedangkan metode yang dipakai untuk penulisan adalah metode deskriptif, di mana menulis akan menggambarkan konsep demonologi Islam dan Kristen dengan mengumpulkan sumber-sumber dan menyusunnya untuk memberi pemahaman yang menyeluruh. Kemudian, penelitian ini juga menggunakan metode komparatif yaitu membandingkan antara konsep demonologi Islam dan Kristen. Metode-metode tersebut digunakan untuk menemukan adanya perbedaan dan persamaan antara konsep demonologi Islam dan Kristen.
Studi perbandingan ini sangat bermanfaat bagi pelayanan Kristen. Manfaatnya adalah bahwa orang-orang Kristen dapat mengerti demonologi Kristen yang alkitabiah. Melalui studi ini, mereka juga dapat melakukan apologetika, penginjilan dan pelayanan okultisme terhadap orang-orang Islam. Dengan demikian, orang-orang Kristen tidak hanya mengerti tentang demonologi Kristen tetapi juga dapat bertumbuh dan menjadi berkat bagi orang lain. Hasil dari studi ini adalah ditemukan perbedaan-perbedaan antara konsep demonologi Islam dan Kristen. Beberapa perbedaan yang signifikan antara lain adalah, Islam mengajarkan konsep jin baik dan jahat, sedangkan Kristen tidak memiliki konsep ini, tetapi mengakui eksistensi roh-roh jahat. Selain itu, Islam mengajarkan bahwa setan berasal dari jin. Jin memiliki kehidupan seperti manusia yaitu ia menikah, memiliki anak, bekerja, kuliah, makan, minum dan lain-lain. Berbeda dengan kekristenan, di mana setan berasal dari malaikat. Malaikat adalah makhluk roh sehingga ia tidak menikah, memiliki anak, kuliah dan lain-lain. Selanjutnya, Islam mengajarkan bahwa orang Muslim dapat dirasuk setan. Ini berbeda dengan kekristenan, di mana orang percaya sudah memiliki status menang. Jaminan ini bisa diperoleh karena karya Kristus di atas kayu salib. Orang Kristen tidak dapat dirasuk setan karena ia telah menjadi milik Kristus. Dampak kemenangan Kristus seharusnya membuat orang percaya hidup di dalam kemenangan dan bukan ketakutan. Orang Kristen juga dimampukan untuk memberitakan kabar baik ini bagi mereka yang belum mengetahuinya. Bahkan, orang Kristen dapat melakukan pelayanan pengusiran setan bagi mereka yang masih terbelenggu kuasa si jahat, termasuk kepada orang-orang Islam
Kenali Diri, Kenali Musuh, Gunakan Strategi yang Tepat : Pengajaran Tentang Peperangan Rohani Menurut Surat Efesus
“Apakah Iblis dan kuasa kegelapan lainnya sudah dikalahkan?” Jawabannya adalah, “Ya” dan “Tidak.” Jawaban “Ya” karena di kayu salib Yesus Kristus sudah melucuti segala pemerintah dan penguasa kegelapan serta menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka (Kol. 2:14-15; Ibr. 2:14). Sedangkan jawaban “Tidak” karena Iblis dan para pengikutnya masih memiliki sisa-sisa kuasa untuk memberontak kepada Allah. Natur pemberontakan Iblis kepada Allah adalah sebuah usaha untuk menggagalkan pemerintahan Allah atas dunia ini dengan cara menyerang, menciderai, menipu, bahkan menguasai umat manusia (Yoh. 8:44; 1Ptr. 5:8; Luk. 22:31; 1Kor. 12:7-8; Mat. 17:14-18), sebelum akhirnya ketika masanya genap Iblis dan semua pengikutnya akan selama-lamanya dibuang ke dalam api neraka (Why. 20:1-7). Salah satu karya Iblis pada masa kini adalah menciptakan chaos yang dilakukan atas umat manusia lewat menggelapkan atau membutakan pikiran dan mata hati umat manusia (2Kor. 4:4). Pikiran manusia yang gelap dan mata hati yang buta menghasilkan pandangan dunia yang salah dan tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab, yang pada gilirannya akan menghasilkan pengajaran dan praksis yang salah. Sebagai orang Kristen, kita harus hidup waspada dan memiliki strategi yang tepat dalam menghadapi serangan Iblis dan para pengikutnya dalam kehidupan kita pada masa kini. Untuk itu, makalah ini secara khusus menampilkan pengajaran rasul Paulus dalam surat Efesus yang menyajikan sebuah strategi khusus dalam memenangkan peperangan rohani ini
Hakikat Perempuan Menurut Narasi Penciptaan (Kej. 1-3) dan Implikasinya Bagi Perempuan Kristiani Dalam Menyikapi Tuntutan Kesetaraan Gender.
Kerancuan identitas perempuan membuat kaum perempuan terjebak dalam ketidakberdayaan. Perjuangan untuk melepaskan diri dari ketidakberdayaan menghasilkan pergerakkan berskala internasional yang memperjuangkan kesetaraan gender perempuan dengan laki-laki. Hasil yang diperjuangkan oleh kaum ini adalah pengakuan bahwa perempuan tidak berbeda dengan laki-laki. Perempuan harus dibebaskan dari diskriminasi seksisme, sebagai hasil evolusi konstruksi sosial, yang menganggap bahwa perempuan lebih lemah dan tidak berharga dibandingkan dengan laki-laki. Setiap pembedaan yang didasarkan pada perbedaan jenis kelamin harus dihapuskan. Usaha untuk menghapus diskriminasi seksisme telah dilakukan selama puluhan tahun dan sekarang telah menunjukkan dampak yang signifikan dan telah mempengaruhi konstruksi sosial masyarakat.
Kebenaran firman Tuhan mengenai konsep perempuan dalam Kejadian 1-3 menjadi dasar bagi perempuan Kristen untuk berpijak dan menjalankan perannya dengan benar sekaligus untuk menghadapi tuntutan jaman yang berlawanan dengan kebenaran firman Tuhan. Hakikat perempuan yang sejati, sesuai dengan rancangan Allah yang sempurna yang telah Allah tetapkan sejak awal penciptaan.
Perempuan diciptakan dengan sempurna, menjadi representasi Allah di bumi ini. Gambar Allah dalam diri perempuan diteguhkan dalam segala aspek kehidupan. Perempuan-perempuan Kristen bertanggung jawab untuk mengukuhkan gambar Allah dalam dirinya dengan memaksimalkan semua potensi dan kemampuan yang Allah anugerahkan.
Keberhargaan seorang perempuan didapat ketika hidupnya sesuai dengan rancangan Allah. Menjadi pernolong bukan suatu keadaan buruk, tapi justru membuat seorang perempuan berharga. Hidupnya menjadi berarti bagi orang-orang yang ditolongnya. Allah memperlengkapi perempuan kemampuan untuk menjalani peran sebagai penolong.
Kejadian 1-3 menunjukkan bahwa kepemimpinan laki-laki atas perempuan adalah rancangan Allah yang sempurna atas manusia, bukan akibat dari kejatuhan manusia. Allah telah memperlengkapi perempuan dengan kemampuan untuk tunduk dan dipimpin oleh laki-laki. Keadaan ini adalah baik, sesuai dengan natur dan kebutuhan dasar perempuan yaitu kebutuhan untuk dipimpin. Ketundukan seorang perempuan Kristen kepada suaminya tidak merendahkan dirinya namun sebaliknya justru ia menjadi amat berharga
Partisip dalam Tata Bahasa Yunani dan Ekspresi Fungsi Partisip dalam Tata Bahasa Indonesia
Partisip adalah sebuah istilah yang digunakan dalam ilmu bahasa untuk kelompok kata yang mempunyai bentuk dan fungsi tertentu. Istilah partisip diambil dari bahasa Inggris (participle), yaitu suatu kata yang dibentuk dari kata kerja dan memiliki ciri kata kerja sekaligus ciri kata sifat. Ahli ilmu bahasa sering kali menyebut partisip sebagai verbal adjektiva atau kata sifar verbal. Penyebutan ini dikarenakan partisip memiliki ciri verba sekaligus ciri adjektiva. Tidak semua bahasa memiliki bentuk ataupun konsep partisip. Bahkan konsep partisip di setiap bahasa sering kali berbeda satu sama lain, misalnya bahasa Yunani dan Inggris. Tetapi hal itu tidak berarti partisip tidak bisa diekspresikan dalam bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia yang bahkan tidak memiliki konsep partisip. Dalam bagian ini penulis akan membahas mengenai partisip dalam tata bahasa Yunani dan ekspresi fungsi partisip dalam tata bahasa Indonesia
Penerapan Apologetika Prasuposisionalis untuk Menjawab Serangan Terhadap Otoritas Alkitab yang Disebabkan oleh Problematika Tekstual Yohanes 7:53-8:11
Konsep Penggunaan "Nama Yesus" dalam Pelayanan Pelepasan berdasarkan Kisah para Rasul 16:16-18
Tinjauan Kritis Konsep Pendidikan Menurut Paulo Freire dibandingkan dengan Konsep Pendidikan Menurut Alkitab
Filsafat Judi, Etika Sekuler, dan Erosi Iman
Ada bermacam rupa perjudian, mulai dari judi yang mewah gaya Las Vegas di Amerika atau Macau, sampai judi perorangan di kampungkampung di Indonesia. Bentuknya pun beraneka ragam, mulai dari permainan meja di kasino-kasino seperti poker dan blackjack, mesin-mesin judi (slot machine dan roulette), taruhan uang dalam pertandingan olahraga, sampai judi nomor seperti bingo, keno dan judi buntut, serta judi perorangan. Judi dipraktikkan bukan hanya di kalangan lapisan ekonomi atas, menengah atau bawah saja, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat, mulai dari strata sosial yang paling atas sampai yang paling bawah. Walaupun tidak di semua tempat praktik judi dilegalkan, fakta menunjukkan bahwa permainan adu untung ini terus menarik minat banyak orang. Tetapi pada saat yang sama, banyak orang juga merasa secara naluri di dalam hati nurani mereka bahwa judi adalah praktik yang salah secara moral. Bahkan untuk menganggapnya sebagai sekadar permainan pun, kebanyakan orang tahu bahwa aktivitas ini perlu dibatasi karena judi dianggap berpotensi untuk menyeret seseorang ke dalam berbagai permasalahan moral. Apakah judi dapat dibenarkan secara moral? Atau, secara lebih spesifik, penulis hendak bertanya, apakah judi adalah hal yang salah pada dirinya sendiri? Di dalam tulisan yang tidak terlalu panjang ini, penulis berpendapat bahwa konsep filsafat di balik judi adalah sebuah paham yang pada dirinya sendiri (in itself) mengandung kesalahan secara moral. Penulis akan menunjukkan hal tersebut melalui dua cara: pertama, berdasarkan etika sekuler; kedua, dari sudut pandang dampak judi sebagai sebuah erosi kehidupan iman Kristen