STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
    1252 research outputs found

    Studi Eksegetikal Interlud dalam Kitab Wahyu (10:1-11:13) dan Implikasinya dalam Berita Panggilan Pekabaran Injil kepada Gereja Tuhan di Indonesia.

    No full text
    Dalam sastra kitab Wahyu, interlud merupakan penundaan dalam plot narasi dan penundaan dari emosi pembaca kitab Wahyu yang akan membangun ketegangan sampai berita utama yang ingin disampaikan penulis, khususnya Tuhan Yesus kepada gereja-Nya tersampaikan. Interlud 10:1-11:13 terdiri dari dua bagian, yaitu: 10:1-11 dan 11:1-13. Kedua bagian interlud tersebut memiliki korelasi yang erat di dalam isi beritanya, di mana penghubung utamanya adalah prophetic action (10:7, 11; 11:3, 6, 10). Di dalam bagian interlud 10:1-11 terdapat sebuah berita bahwa orang-orang kudus di bumi diperintahkan untuk tetap bertekun memberitakan firman Allah kepada orang-orang yang tidak percaya di seluruh dunia, sekalipun kesaksian mereka akan membawa mereka kepada penderitaan. Sedangkan, bagian interlud 11:1-13 melanjutkan bagian interlud pertama, khususnya mengenai frasa gulungan kitab yang terasa manis di mulut, namun terasa pahit di perut. Di bagian interlud ini terdapat dua saksi yang memberitakan Injil keselamatan yang manis itu, namun mereka harus mengalami pengalaman pahit, yaitu: perlawanan, perang dan kematian. Sepertinya mereka kalah, tetapi tidak demikian. Tuhan memimpin mereka dalam kemenangan mutlak yang kemudian memuncak dalam penghakiman para penindas mereka. Kedua berita interlud ini perlu disampaikan kepada jemaat di Indonesia yang juga mengalami situasi dan kondisi yang mirip dengan jemaat di dalam kitab Wahyu. Pada saat ini jemaat di Indonesia sedang mengalami tekanan yang kelihatannya sporadis dan parsial, tetapi dilakukan secara sistematis dan cenderung meningkat dalam hal kuantitas maupun kualitas, khususnya tekanan dari kelompok-kelompok radikal yang antipati terhadap kekristenan; infiltrasi ajaran-ajaran sesat di dalam gereja; dan tekanan untuk berkompromi dengan masyarakat sekitar. Di dalam situasi dan kondisi yang demikian, tentunya tidak mudah bagi jemaat untuk melakukan tugas pekabaran Injil. Setidaknya ada tiga respons yang ditunjukkan jemaat, yaitu: menyatakan iman mereka secara terbuka dengan tetap memberitakan Injil; menyangkali iman mereka; atau memilih zona aman dengan mengambil jalan tengah berbentuk kompromi. Namun, dengan mengerti berita interlud 10:1-11:13 maka jemaat di Indonesia diharapkan untuk dapat merespons tugas pekabaran Injil dengan tepat. Pengertian yang perlu dimiliki oleh jemaat ini berfokus pada berita interlud 10:1-11:13 yang menyatakan bahwa Injil tetap harus diberitakan di tengah-tengah kondisi dan situasi apa pun. Selain itu, Tuhan pun menyatakan bahwa ada jaminan kemenangan, sekalipun mereka harus mengalami tekanan yang berat, bahkan kematian. Mereka akan dibangkitkan dan naik ke surga. Sedangkan bagi setiap orang yang menolak kesaksian mereka dan menganiaya mereka akan mengalami penghukuman dan penghakiman kekal

    Strategi Pelayanan Pastoral Kedukaan yang Holistik

    No full text
    Kematian adalah realitas kehidupan yang tidak mungkin dihindari. Bagi kebanyakan orang, mendengar kata “kematian” saja sudah memunculkan kengerian karena sering kali kehadirannya sangat di luar dugaan, mendadak, tidak memberikan tanda-tanda maupun kesempatan untuk mempersiapkan diri, baik bagi individu yang bersangkutan maupun bagi orang-orang yang mengasihinya. Kematian menyebabkan seseorang mengalami penderitaan fisik dan derita emosional yang menusuk sekalipun kadarnya bisa berbeda pada masing-masing orang. Kematian membawa disintegrasi kehidupan, menyebabkan terputusnya relasi-relasi, baik pribadi, keluarga maupun sosial. Bisa dibayangkan bahwa penderitaan orang yang ditinggalkan sungguh tidak mudah untuk ditanggung. Bahkan, jika pengalaman-pengalaman ini dibiarkan dapat berdampak buruk terhadap kondisi jasmani, mental, rohani maupun social orang tersebut. Bagi mereka yang mengalami peristiwa kematian seorang anggota keluarga, dukacita yang dirasakan tidak serta-merta hilang begitu saja setelah proses pemakaman selesai. Pada umumnya justru setelah seluruh proses pemakaman selesai rasa keterhilangan itu baru sangat terasa. Karena dampak kedukaan itu sangat kompleks maka pelayanan kepada orang berduka juga perlu komprehensif. Sayangnya, fenomena yang justru sering kali terlihat adalah gereja melayani orang yang kedukaan secara parsial. Gereja cenderung lebih berfokus pada pelayanan kepada mereka di rumah duka karena inilah yang terjadi di sini dan sekarang (here and now). Padahal seseorang atau anggota keluarga yang ditinggal justru menghadapi masalah-masalah yang lebih kompleks setelah pemakaman selesai. Namun sayangnya, pelayanan kepada mereka malahan terabaikan oleh gereja

    Naskah Khotbah : Memberi Melampaui Kemampuan 2 Korintus 8:3

    No full text

    Humor in Hebrew Bible : Some Types, Their Linguistic Features and Observations on Some of Their Translation in The Indonesian Context

    Get PDF
    This paper was presented in UBS Triennial Translation Workshop, Brazil 2003 and then published in Noss, Philip A., ed., Current Trends in Scripture Translation: Definitions and Identity, [Reading, UK]: United Bible Societies, 2005.Humor is such a fundamental aspect of human nature. Humor was found in ancient near eastern texts and inevitably it is found too in the Hebrew bible. Humor is dependent upon the cultural conventions of the moment and so while humorous line evokes the intended response in one society, it does not have the same effect in another. However, by paying attention to certain linguistic aspects, it is possible to identify different types of humor in a particular text. The paper will identify the types of humor and their linguistics aspects (pun, irony, satire, etc.) in the Hebrew Bible. The setting of a situation, appearances etc. that contribute to humor will be identified. I will examine too the rendering of some types of humor in the formal Indonesian Version and offer some suggestions for rendering humor in translations into Indonesian languages

    Identitas dan Nasionalisme Komunitas Kristen di Indonesia: Tinjauan Pemikiran Th. Sumartana dan Implikasinya bagi Pelayanan Kaum Muda

    Get PDF
    Kehadiran agama Kristen di Indonesia selalu dibayangi oleh catatan sejarah yang kurang menguntungkan. Berdasarkan catatan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, kekristenan pernah diidentikkan sebagai agama Belanda atau penjajah, apalagi pada awal abad ke-20, agama Islam telah identik dengan pergerakan nasionalisme Indonesia. Akibatnya, secara tidak langsung identitas keindonesiaan dan kadar nasionalisme pemeluk agama Kristen di Indonesia menjadi sering diragukan. Kenyataan ini semakin diperburuk oleh kondisi gereja yang menutup diri dari berbagai persoalan sosial, masyarakat, dan negara. Ferry Y. Mamahit mengungkapkan bahwa kebanyakan gereja, secara khusus kalangan gereja Injili, bersikap apatis terhadap masalah-masalah sosial seperti kemiskinan yang ada di sekitarnya. Gereja melakukan pola hidup dualisme, dunia rohani dan dunia sekuler, sehingga menjadi komunitas yang menghindari dunia (world-denying church), padahal seharusnya gereja menjadi alat bagi Allah untuk melakukan karya-Nya di muka bumi di antara umat manusia (world-engaging church). Selain itu, banyak gereja dikuasai oleh prasangka dan pemikiran diskriminatif yang membuat kekristenan tidak mampu menjalankan komunikasi dan kerja sama antarumat beragama. Padahal pluralitas agama dan pluralisme merupakan topik yang telah merambah ke seluruh aspek kehidupan sehingga menuntut respons yang tepat di dalam menganggapinya.4 Th. Sumartana (alm.) mengagas gerakan untuk membawa kekristenan menjadi relevan di bumi Indonesia dan dapat berperan aktif di dalam konteks pluralitas agama. Tulisan ini akan memaparkan pemikiranpemikiran Sumartana tersebut. Apakah inti pemikiran Sumartana tentang agama-agama, gereja, kristologi, dan dialog antar-umat beragama? Apakah pandangan Sumartana dapat dibenarkan? Apakah implikasi pemikiran Sumartana bagi pelayanan gereja secara umum dan secara khusus di dalam konteks pelayanan kaum muda di Indonesia

    Konsep Kasih Allah Menurut Choan-Seng Song dan Aplikasinya Terhadap Pelaksanaan Misi Gereja-Gereja di Indonesia

    Get PDF
    Dengan penekanan yang sangat besar kepada unsur kasih, maka studi tentang konsep kasih Song ini menjadi penting dalam memahami konsep teologinya, secara khusus konsep keselamatan dan pekerjaan misi, yang merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Alasannya karena konsep keselamatan seseorang akan menentukan teologi dan praksis orang tersebut di dalam bermisi. Selain sebagai sebuah studi teoritis, artikel ini juga merupakan suatu usaha memikirkan ulang teologi yang akan memberikan warna tersendiri di dalam pemahaman teologis dan praktik misi gereja, khususnya di Indonesia, mengingat Song merupakan salah seorang teolog Asia yang mencoba untuk menghadirkan pemahaman teologis yang cocok dengan konteks dunianya. Harapan penulis, tulisan singkat ini dapat memberikan sumbangsih pemikiran, berupa tanggapan positif dan negatif terhadap pandangan Song, yang kemudian bisa diimplementasikan di dalam kehidupan bergereja, agar pekerjaan pelayanan gereja dapat semakin efektif dan tepat sasaran (sesuai konteks), dan nama Tuhan Yesus akan semakin dipermuliakan dan kerajaan-Nya akan semakin nyata di dalam dunia ini

    Semua Manusia dalam Kristus? Universalisme dalam Doktrin Pemilihan Karl Barth

    No full text
    Barth, tidak diragukan lagi, adalah teolog terbesar abad kedua puluh. Pemikirannya, entah diterima atau tidak, memaksa setiap pembacanya, evengelikal. liberal, katolik, atau dari aras manapun, untuk memikirkan, dan kadang, merekonstruksi kembali doktrin-doktrin esensial mereka. Ada banyak doktrin Barth yang dirasa berbenturan dengan prinsip teologi evangelikal yang esensial. Benturan ini memercikkan banyak perdebatan dan dialog, baik yang kritis hingga yang apresiatif. Dari sekian banyak doktrin Barth, salah satu yang paling sulit diterima adalah kecondongannya ke universalisme -- yakni keselamatan semua manusia. Hal ini merupakan implikasi dari doktrin pemilihan Barth yang menjadi pokok pembahasan artikel ini. Artikel ini memulai dengan paparan doktrin pemilihan Barth seperti yang ditemukan dalam korpus Church Dogmatics -- magnum opus Barth yang terutama. Tujuan pemaparan tersebut adalah mencari akar tuduhan bahwa Barth menyandang universalisme. Menyadari bahwa Barth harus ditafsirkan dan dibaca dengan cara yang tepat, saya mengikutkan pembaca-pembaca Barth lainnya sebagai kawan dialog. Setelah doktrin Barth dimengerti dengan jelas, maka tanggapan diajukan. Akhirnya, artikel ditutup dengan kesimpulan dan refleksi singkat

    Naskah Khotbah : Pengajaran Tuhan melalui Berkat - Keluaran 16:1-36

    No full text

    Katekisasi dalam Pembinaan Iman Jemaat

    No full text

    Pandangan Kalvin Tentang Hari Sabat

    Get PDF
    Sabat telah menjadi topik debat yang hangat sejak zaman Reformasi. Pandangan Reformator John Calvin pun sering dikutip baik oleh mereka yang setuju maupun yang tidak setuju dengan pandanganya. Hal ini lebih disebabkan oleh kompleksitas pandangannya dan juga luasnya cakupan penulisan Calvin tentang topik ini. Selain itu, sikapnya dalam menjaga hari Sabat juga turut dipertanyakan. … Dalam tulisan ini saya akan menunjukkan bahwa bagi Calvin, sejauh itu menyangkut “istirahat rohani,” ibadah komunal, dan perbuatan baik, maka hukum ke-4 masih berlaku bagi orang Kristen hari ini dan seharusnya dijalankan dengan penuh ketekunan, namun bukan legalistik ataupun takhayul. Artikel ini akan membahas pengertian Calvin tentang tujuan perintah ke-4, diikuti dengan tiga fungsi hukum tersebut beserta penerapannya. Kemudian, saya akan menarik kesimpulan dari keseluruhan pembahasan

    480

    full texts

    1,252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STT SAAT Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇