STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Sebuah Tinjauan mengenai Konsep Reinkarnasi menurut Ajaran Buddha Berdasarkan Pengajaran Alkitab tentang Kehidupan Setelah Kematian
Antara Identitas dan Relevansi : Evangelikalisme di Muka Postmodernisme dan Implikasinya pada Pelayanan Kaum Muda Masa Kini
Pergumulan antara identitas dan relevansi merupakan pergumulan gereja di sepanjang abad dan tempat. Pergumulan inilah yang pada akhirnya menentukan kehidupan dan peranan sebuah gereja di dalam dunia. Gereja-gereja yang menyandang status "injili" pun, tidak lepas dari pergumulan ini. Pertanyaannya, apakah identitas injili--yang merupakan warisan teologi Barat--relevan di dalam konteks gereja di Indonesia? Lalu, apakah identitas injili--dengan nilai-nilai ortodoks yang dipegangnya--masih dapat menjawab pergumulan dunia yang berkembang ke arah postmodernisme ini ? Secara khusus bagi kaum muda Kristen Indonesia, apakah identitas injili masih tetap memiliki makna yang relevan bagi kehidupan mereka? Artikel ini berusaha meninjau pertanyaan-pertanyaan ini dengan melihat kepada esensi dari identitas injili itu sendiri, sebelum akhirnya meninjau pergerakan post-conservative evangelicalism dan implikasinya kepada pelayanan kaum muda Indonesia masa kini
Kerohanian dan Pelayanan Seorang Hamba Tuhan
Kerohanian Kristen adalah hidup menurut dan dipimpin oleh Roh Kudus dan merupakan proses yang berlangsung terus-menerus seumur hidup. Kerohanian Kristen tidak dapat dilepaskan dari disiplin rohani, baik melalui pembacaan/perenungan firman Tuhan dan melalui doa atau berteduh di hadapan Tuhan. Karena itu, seorang Kristen atau seorang hamba Tuhan yang menyebut diri "seorang yang rohani" haruslah orang yang hidup di dalam Roh, serta taat dan tunduk di bawah otoritas firman Tuhan
Sebuah Analisis Eksegetikal mengenai Konsep Hukum Taurat menurut Rasul Paulus dalam Surat Galatia
Tubuh adalah Bagi Tuhan: Sebuah Tinjauan Eksegesis 1 Korintus 6:12-20
Artikel ini menyajikan tinjauan eksegesis atas I Korintus 6:12-20. Di dalam perikop tersebut Paulus membantah slogan-slogan sebagian jemaat Korintus yang membenarkan tindakan percabulan mereka dengan para pelacur. Di dalam penyampaikan bantahan tersebut, Paulus menggunakan tiga argumen yang semuanya diawali dengan formula ouk oidate oti (6:15, 16, 19). Argumen-argumen tersebut adalah: (1) Tubuh orang Kristen adalah anggota Kristus (6:15); (2) Tubuh orang Kristen telah dipersatukan dengan Kristus (6:16-18); (3) Tubuh orang Kristen adalah milik Allah (6:19-20). Di akhir artikel ini, penulis menyajikan aplikasi singkat dari hasil eksegesis tersebut
Studi Perbandingan Konsep Kasih Buddha Tzu Chi dan Kristen
Buddha Tzu Chi yang didirikan oleh Master Cheng Yen merupakan salah satu organisasi Buddha yang begitu kuat di dalam pengajaran dan praktik kasih. Semboyan yang mereka miliki adalah "Setiap detik berjuang untuk kebajikan." Semboyan ini terwujud dengan nyata dalam setiap tindakan dan semangat yang mereka kerjakan di dalam memberikan bantuan dan pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan. Sedangkan di pihak lain, agama Kristen sangat menekankan pengajaran kasih. Namun tidak sedikit ada pertanyaan-pertanyaan yang menyatakan bahwa orang Kristen kurang di dalam mempraktikkan kasih di dalam kehidupannya. Lalu dengan demikian apa bedanya konsep kasih antara Buddha Tzu Chi dan Kristen, kenapa kasih Buddha Tzu Chi lebih dapat dirasakan daripada kasihnya orang Kristen. Penelitian ini difokuskan kepada sebuah studi perbandingan mengenai konsep kasih Buddha Tzu Chi dan Kristen. Pengajaran kasih Buddha Tzu Chi menyatakan bahwa sumber kasih berasal dari diri manusia sebagai pribadi Bodhisatwa. Tujuan kasihnya adalah untuk keluar dari penderitaan dan memperoleh kehidupan yang bahagia. Dalam praktik kasihnya, Buddha Tzu Chi sangat menekankan bahwa kasih itu harus dipraktikkan dan bukan sekadar teori saja. Di bawah terang prinsip-prinsip dan pengajaran Alkitab mengenai konsep kasih Kristen, ditemukan dalam penelitian ini bahwa ada banyak perbedaan konsep kasih antara kedua agama ini. Pertama, sumber kasih Buddha Tzu Chi berasal dari diri manusia, sedangkan menurut kekristenan, kasih yang dimiliki oleh manusia pada umumnya adalah anugerah umum, tetapi jelas kasih itu bukan berasal dari diri manusia sendiri tetapi berasal dari kasih Allah yang agape. Kedua, dari tujuan kasih. Kasih Buddha Tzu Chi sekadat untuk meraih kebahagiaan, sedangkan dalam kekristenan hal itu merupakan respon dari kebaikan yang telah diterima dari Allah. Ketiga, praktik kasih. Kedua agama ini sama-sama menekankan praktik kasih yang nyata, namun perbedaannya adalah terletak pada standar. Buddha Tzu Chi mengatakan sebaik-baiknya dan kekristenan mengatakan harus serupa dengan apa yang dilakukan oleh Kristus
Peran Doktrin Trinitas dalam Membuat Aplikasi Khotbah bagi Transformasi Hidup Pendengar Masa Kini
Tinjauan Kritis Terhadap Pemikiran Resolutif Eddie Gibbs dan Relevansinnya Bagi Persoalan Orang Kristen Nominal di Gereja-Gereja Protestan di Indonesia
Masalah orang kristen nominal merupakan isu yang sangat menonjol dalam gereja-gereja Tuhan di seluruh dunia, khususnya di gereja-gereja protestan baik di Barat maupun di Indonesia. Pemikiran Eddie Gibbs tentang orang kristen nominal dan resolusi yang di ajukannya sangat menarik karena riset gibbs tentang persoalan orang kristen nominal di gereja-gereja protestan di Barat tampaknya "share a common ground" dengan orang kristen nominal yang berasal dari gereja-gereja protestan di Indonesia. Berdasarkan tinjauan kritis atas hasil riset Gibbs di temukan bahwa pemikiran resolutifnya relevan dengan konteks Indonesia dan dapat juga di gunakan sebagai resolusipersoalan orang kristen nominal di gereja-gereja protestan di Indonesia