STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Peran Pemimpin Kelompok Kecil dalam Membangun Persahabatan dalam Kelompok Kecil
Persahabatan adalah harta yang berharga dalam kehidupan manusia. Hampir setiap orang memiliki ratusan teman, namun hanya sedikit yang disebut sahabat. Persahabatan sejati dan sehat merupakan suatu hal yang langka ditemukan saat ini. Kemajuan jaman dan teknologi membuat persaingan semakin ketat, hidup semakin susah, orang-orang cenderung lebih bersifat individualistis dan mementingkan diri sendiri. Itu sebabnya muncul slogan-slogan hidup seperti: EGP atau emang gue pikirin, atau elo-elo gua-gua, atau ini hidup, hidup gue, duit juga duit gue, mau diapain ya terserah gue. Dan segudang sikap mementingkan diri sendiri yang memupus nilai-nilai persahabatan yang sehat. Di tengah perkembangan jaman dan sikap individualistis ini, kelompok kecil pemuridan hadir sebagai wadah pembinaan dan penanaman nilai-nilai persahabatan bagi orang-orang percaya baru. Kelompok kecil juga menjadi motor dalam pertumbuhan gereja. Namun, kelompok kecil yang bermanfaat besar ini sering kali gagal atau bubar di tengah jalan. Adapun faktor-faktor mengapa kelompok kecil gagal atau berhenti di tengah jalan adalah sebagai berikut: pertama, anggota kelompok merasa kelompoknya tidak dapat menjawab dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan dirinya secara pribadi. Kedua, faktor ketidakterbukaan dalam kelompok. Ketidakterbukaan menghasilkan sebuah rasa ketidaknyamanan dan ketidakbebasan untuk menyatakan diri secara utuh dan mengenal diri sendiri. Faktor ketiga adalah tidak adanya hubungan mendalam dan kuat di antara pribadi-pribadi yang terlibat di dalam kelompok kecil. Di tengah realitas yang rumit demikian, sebenarnya masih ada setitik harapan dalam rangka memperjuangkan kelompok kecil sebagai wadah dalam pemuridan dan persahabatan. Perubahan harus dimulai dari pemimpin kelompok kecil yang telah dipanggil secara khusus oleh Allah untuk melayani dalam kelompok-kelompok kecil di mana pun mereka berada. Peran seorang pemimpin dan sahabat di tengah komunitas pemuridan telah diperankan oleh Tuhan Yesus di dalam Yohanes 15:12-17. Di dalamnya terdapat tiga teladan penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin kelompok kecil yaitu kasih, keintiman, dan inisiatif
Eksposisi Wahyu 21:1-8 dan Implikasinya dalam Pelayanan Pastoral terhadap Jemaat yang Berada dalam Masa Krisis
Bejana Tanah Liat dan Semak yang Terbakar: Menerima Berkat-Berkat Jumat Agung dan Paskah
Apakah ada cara-cara yang benar untuk merayakan Jumat Agung dan Paskah? Sebagai orang-orang Kristen yang tidak ingin disebut sebagai “orang-orang Kristen KTP,” kita sudah tentu tidak akan dipuaskan dengan jawaban bahwa karena dua hari tersebut adalah dua peristiwa gerejawi yang penting maka kita harus pergi ke gereja dan mengikuti ibadah dengan khusyuk. Pastilah ada jawaban-jawaban yang lebih dalam lagi. Namun di mana kita menemukan jawaban-jawaban tersebut? Paling tidak kita dapat mengatakan bahwa kita harus bersedih pada hari Jumat Agung dan bersukacita pada hari Paskah. Hal tersebut merupakan jawaban yang normal dan bahkan beberapa orang Kristen mengatakan bahwa tanpa ekspresi emosi yang benar orang-orang Kristen belum melaksanakan even-even kudus tersebut dengan cara yang benar dan sungguh-sungguh.
Akan tetapi, meski respons-respons emosional tersebut dapat menjadi respons yang singkat dan tidak mengubahkan kehidupan, ada yang salah dengan mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk melaksanakan even-even tersebut adalah dengan memusatkan emosi kita kepada Yesus entah sebagai korban yang tragis atau sebagai pemenang yang dibenarkan. ... Sebagaimana yang akan saya perlihatkan dibawah ini, salah satu alasan mengapa perasaan kita terhadap Kristus bersifat mengubahkan kehidupan adalah karena perasaan-perasaan tersebut menenggelamkan kita di dalam Kristus
Etika Paulus tentang Perceraian: Studi I Korintus 7:10-16
Tema mengenai perceraian selalu menjadi tema yang cukup menarik untuk didiskusikan dan penting untuk dibahas. Penulis pernah menyampaikan sebuah khotbah mengenai perceraian dan setelah kebaktian selesai ada beberapa jemaat langsung bertanya mengenai bagaimana mereka harus menilai kasus-kasus perceraian yang mereka lihat baik dalam keluarga dekat mereka ataupun teman atau kerabat mereka. Angka perceraian di Indonesia setiap tahunnya bertambah tidak kurang dari 10%; pada tahun 2009 terjadi 216.286 kasus perceraian, dan di tahun 2010 terjadi peningkatan menjadi 285.184 perkara. Meningkatnya angka perceraian memperlihatkan bahwa kondisi keluarga-keluarga dari masyarakat Indonesia semakin mengalami penurunan dalam hal kualitas sehingga berdampak pada rentannya usia pernikahan keluarga dari masyarakat kita. Di negara-negara Barat pun kondisi yang sama terjadi, jumlah perceraian sangatlah tinggi sebagaimana dijelaskan oleh Gordon J. Wenham bahwa separuh dari pernikahan diakhiri dengan kasus perceraianan …. 1 Korintus 7 adalah teks Alkitab yang penting dalam membahas isu perceraian dan pernikahan kembali. Teks ini telah mempengaruhi penafsiran dan kebijakan dari berbagai denominasi gereja, contohnya Roma Katolik dan The Church of England.12 Meskipun 1 Korintus 7 memang berbicara mengenai isu perceraian dan pernikahan kembali, namun bagian ini bersifat “occasional,” artinya nasihat yang diberikan Paulus terkait dengan situasi dan kondisi tertentu yang terjadi dalam jemaat.13 Perkataan Paulus dalam 1 Korintus 7:1 dan 1 Korintus 7:25 jelas mengindikasikan adanya pertanyaan tertentu yang ditanyakan jemaat Korintus kepada Paulus
Perspektif Dasa Titah dalam Ulangan 5:6-21 dan Korelasinya dengan Hukum Kasih dalam Matius 22:37-40 sebagai Dasar Pembentukan Kehidupan Spiritualitas Jemaat Pascamodern
Etika Dalam Narasi Perjanjian Lama
Proposal-proposal terbaru tentang cara membaca narasi Perjanjian Lama secara etis muncul seperti udara segar di tengah kebuntuan metodologis yang sudah lama di dunia akademis. Namun, teori-teori berbeda tentang cara membaca narasi Perjanjian Lama, yang kadang bertentangan, menunjukkan bahwa ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum mencapai konsensus. Dalam artikel ini kita akan meneliti tiga karya tentang etika narasi Perjanjian Lama yang berpengaruh, membahas kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangannya serta mengusulkan cara yang layak untuk mendekati narasi PL secara etis