STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Tinjauan terhadap Spiritualitas Taize dan Telaah atas Kemungkinan Mengadopsinya sebagai Pendorong bagi Spiritualitas Injili
Bertitik tolak dari ... ciri spiritualitas pascamodern, artikel ini akan secara khusus menyelidiki spiritualitas Taizé. Apakah tepat jika Taizé disebut sebagai salah satu perwujudan dari spiritualitas pascamodern? Jika jawabannya “ya,” apakah tepat jika istilah “bricolage spirituality” ini disandangkan kepada komunitas Taizé? Apakah keempat ciri tersebutlah yang mengakibatkan Taizé menjadi begitu diterima, fenomenal dan mengglobal? Seberapa besar peranan figur Bruder Roger (sang pendiri sekaligus pemimpin pertama komunitas Taizé) yang dikenal sangat berkarisma dan inspiratif? Sebagai klimaks, penulis akan mencoba mengambil kesimpulan atas topik inti artikel ini, yakni: apakah tepat jika spiritualitas ala Taizé ini diadopsi sebagai “booster” bagi spiritulitas injili? Artikel ini tidak akan menyoroti praktik-praktik spiritual Taizé (seperti doa, ibadah dan meditasi) secara detail, namun akan lebih berkonsentrasi pada penyelidikan akan “filosofi” atau makna di balik spiritualitas Taizé dalam konteks pascamodern. Metodologi yang penulis terapkan adalah metode hermeneutika (dengan penekanan pada pendekatan sejarah dan teologis) dengan harapan penulis dapat mengambil suatu kesimpulan yang objektif guna menjawab pertanyaan-pertanyaan penting di atas
Tinjauan terhadap Teologi Trinitarian Mengenai Tujuan Agama S. Mark Heim dari Sudut Pandang Partikularisme Injili dan Implikasinya bagi Diaalog Antariman di Indonesia
Partikularisme injili adalah pandangan yang membedakan dirinya dari teologi pluralisme. Aliran berpikir ini percaya bahwa Allah tidak dapat diketahui apabila Ia tidak menyatakan diri-Nya. Pernyataan diri Allah terbagi dalam dua bentuk, yakni wahyu umum dan khusus. Kaum injili percaya bahwa wahyu khusus Allah adalah Yesus Kristus yang disaksikan oleh Kitab Suci dan inilah yang menjadi sumber teologi definitif kaum injili. Soteriologi penelitian ini mengambil bentuk eksklusivisme injili yang percaya bahwa karya keselamatan Kristus membutuhkan landasan ontologis dan epistemologis dari Yesus Kristus (kontra inklusivisme). Agama lain dipandang sebagai respon yang riil terhadap wahyu umum Allah baik secara internal maupun eksternal. Karena respon itulah maka agama lain memiliki sekelumit kebenaran namun secara sistemik merupakan kesalahan. S. Mark Heim melandaskan teologinya dari Alkitab, tradisi, dan pluralisme orientasional. Pluralisme orientasional menunjukkan bahwa setiap sudut pandang senantiasa dipandu oleh orientasinya masing-masing sambil tetap memegang universalitas dari tiap pandangan. Keselamatan Kristen, menurut Heim, adalah persekutuan dengan Allah Trinitas. Keselamatan seperti ini membedakan kekristenan dengan tujuan agama lainnya. Sekalipun demikian, tujuan agama alternatif tersebut sanggup dipersatukan oleh keselamatan Kristen meskipun tetap berbeda dan penultimate. Hal ini disebabkan agama lain merupakan intensifikasi dan limitasi dari salah satu dimensi Allah Trinitas. Allah Trinitas memiliki tiga dimensi relasi, yakni impersonal, personal, dan persekutuan. Setiap tujuan agama yang berelasi dengan salah satu dimensi ini akan direalisasikan oleh Allah Trinitas. Melalui jalan ini Heim memberikan dorongan bagi kekristenan untuk mempelajari kebenaran di agama lain yang merupakan hasil intensifikasi terhadap Allah Trinitas. Setelah menelusuri tulisan Hein dan meninjaunya dari perspektif injili dapat ditemukan perbedaan dan ketidaksetujuan dalam beberapa aspek. Keberatan yang paling signifikan terletak pada gambaran eskatologis yang disketsakan oleh Heim. Keberatan ini bertumpu pada beberapa kritik terhadap pemikiran mengenai relasi, tujuan agama kosmis, serta cara Heim menyematkan kebenaran agama lain ke dalam sistem pemikiran Kristen. Tinjauan terhadap pemikiran Heim ini memiliki implikasi dalam dialog antariman di Indonesia. Dialog antariman harus mempertimbangkan partikularitas tiap agama dengan serius, termasuk aspek misionernya. Selain itu diharapkan penginjilan bisa berbentuk resiprokal dan dipandang sebagai wadah pembelajaran yang segar
"KASKUS" - Forum Komunitas Dalam Jaringan: Sebuah Refleksi Teologi dan Budaya
Kekristenan sebagai komunitas tubuh Kristus telah diperhadapkan dengan forum komunitas dalam jaringan (daring) yang merebak saat ini, termasuk "Kaskus", forum komunitas daring terbesar di Indonesia. Berkat kemajuan teknologi, kebutuhan dan kehausan manusia untuk bisa terhubung satu dengan yang lain menjadi semakin tidak terbatasi oleh jarak, ruang dan waktu. Di satu sisi, hal ini merupakan sebuah kesempatan bagi kekristenan untuk mengambil bagian dalam memengaruhi dunia komunitas daring dengan nilai-nilai kristiani. Namun, di sisi lain, ini merupakan tantangan bagi kekristenan untuk menghadirkan sebuah relasi yang penuh dengan kehangatan, kasih dan kebenaran di dalam komunitas tubuh Kristus, melampaui apa yang ditawarkan oleh forum komunitas daring
Tinjauan Konsep Keesaan Gereja dalam Gerakan Ekumenikal berdasarkan Eksegesis Yoh. 17:20-23 dan Implikasinya bagi Keesaan Gereja di Indonesia
Dalam skripsi ini, penulis melakukan eksegesis dari Yohanes 17:20-23 tentang doa Yesus meminta kesatuan orang-orang percaya kepada Bapa. Berdasarkan eksegesis perikop ini, penulis mendapatkan makna keesaan yang dirindukan Yesus dalam doa-Nya, yakni keesaan orang-orang percaya dalam iman keselamatan kepada Yesus Kristus (kristo-soteriologis). Keesaan orang-orang percaya (gereja) dirindukan terwujud dengan tujuan supaya dunia tahu dan percaya kepada Yesus Kristus.
PGI adalah salah satu gerakan ekumenikal yang menangkap visi keesaan gereja yang dinyatakan Tuhan Yesus. Selain itu, doa dalam Yohanes 17:21 dipakai sebagai dasar gerakan keesaan PGI. Akan tetapi keesaan yang dimaksudkan oleh PGI berbeda dengan makna keesaan yang dimaksudkan Tuhan Yesus. Pemahaman PGI mengenai keesaan adalah keesaan struktural organisatoris dan diteruskan menjadi keesaan fungsional organisme. Keesaan secara fungsional organisme yang PGI mengerti adalah keesaan berwawasan kebangsaan yang memberi sumbangan bagi kesatuan bangsa Indonesia. PGI mengembangkan kerja sama dengan golongan-golongan lain dalam masyarakat, termasuk golongan agama lain lewat kepedulian sosial dan juga melalui dialog antaragama dengan dasar pemahaman pluralisme.
Penulis meninjau pemahaman keesaan gereja PGI mengalami pergeseran makna teologis dan tujuan keesaan. Keesaan gereja dalam Yohanes 17:20-23 tidak berbicara soal keesaan secara organisasi ataupun secara fungsional organisme. Keesaan yang dirindukan Yesus tersebut adalah keesaan secara rohani dari orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Bahkan keesaan yang Yesus maksudkan itu adalah keesaan hanya di dalam nama-Nya, dan tidak ada indikasi kerja sama atau bersatu dengan golongan kepercayaan yang lain.
Di akhir skripsi ini penulis memberikan implikasi konsep keesaan dalam Yohanes 17:20-23 bagi keesaan gereja di Indonesia. Penulis melihat tiga implikasi, yakni: Pertama, gereja harus menyadari dirinya satu dalam iman (kristo-soteriologis) tehadap gereja-gereja yang lain. Kedua, gereja harus bersatu dalam melaksanakan misi Allah. Ketiga, gereja perlu berdialog dengan agama-agama lain sebagai tindakan untuk menyatakan iman
Konsep Gefuhl dan Implikasinya terhadap Konsep Doktrin menurut Friedrich Schleiermacher
Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834) dapat dikatakan adalah bapak teologi modern (atau, oleh sebagian besar orang, disebut sebagai bapak liberalisme). Nama teolog Jerman ini memang tidak umum dikenal, tetapi konstribusinya terhadap pemikiran kekristenan di zaman modern tidak bisa diremehkan. Pemikitan dan karyanya telah mempengaruhi arus pemikiran Kristen sepanjang abad ke-19 dan 20 -- bahkan di abad ke-21 kini pun, pemikirannya terus menjadi bahan diskusi di ruang-ruang kuliah pendidikan teologi. Yang membuat Schleiermacher unik adalah peranannya di dalam meresponi arus zaman Pencerahan di mana ia hidup, di mana ia menciptakan sebuah metode pendekatan kekristenan yang "sesuai" dengan animo zaman tersebut. Metode pendekatan teologi Schleiermacher ini dimulai dari pemikirannya akan gefuhl ("feeling" atau "perasaan") dan bagaimana kemudian gefuhl ini mempengaruhi makna dan fungsi doktrin/teologi. Makalah ini bertujuan untuk mengamati dan mengevaluasi dari dekat konsep gefuhl Schleiermacher dan pengaruhnya terhadap konsepnya akan doktrin