STT SAAT Institutional Repository
Not a member yet
1252 research outputs found
Sort by
Tinjauan Kritis terhadap Soteriologi Ioanes Rakhmat dari Perspektif Teologi Salib Injili.
Salib adalah pusat dari karya Yesus Kristus dan dengan demikian merupakan pusat dari kekristenan dan pusat dari semua pemikiran Kristen. Kisah salib Yesus adalah suatu peristiwa yang sangat signifikan bagi iman Kristen. Lewat salib, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, Allah mendamaikan kembali manusia yang berdosa dengan diri-Nya. Inilah inti dari teologi salib. Begitu signifikannya teologi salib maka suatu “keberhasilan” dalam menjungkirbalikkan teologi salib tersebut adalah merupakan suatu “keberhasilan” dalam menghancurkan kekristenan itu sendiri.
Sejarah membuktikan bahwa upaya untuk menjungkirbalikkan teologi salib sudah dilakukan oleh banyak sekali orang dari berbagai tempat dan zaman. Cemoohan dan ejekan seakan-akan tidak henti-hentinya ditujukan kepada doktrin ini. Mereka bukan hanya berasal dari luar kekristenan, namun juga orang-orang yang menyandang status “teolog” dan mengaku sebagai “orang dalam.”
Salah seorang teolog Indonesia yang dengan sangat giat menyerang dan ingin menjatuhkan teologi salib adalah Ioanes Rakhmat. Melalui buku-buku serta artikel-artikel yang dimuatnya baik di media cetak maupun internet, Rakhmat, begitu gencar menyerang kekristenan. Tiga hal yang diserang Rakhmat karena dianggap paling bermasalah, adalah: bahwa soteriologi salib menunjukkan kekerasan dan dosa Allah; bahwa ajaran tentang dosa dan dosa asal hanyalah mitos dan merupakan kisah fiktif semata; dan bahwa pada dasarnya Yesus dari Nazaret, hanyalah seorang revolusioner yang memperjuangkan teokrasi Yahudi, yang mencintai kehidupan dan karenanya sebetulnya Ia tidak pernah membayangkan atau bahkan bercita-cita untuk menempuh jalan sengsara salib.
Meski seakan-akan dibombardir dari segala arah, namun kaum injili berhasil membuktikan bahwa apa yang selama ini dipegang oleh pandangan Kristen ortodoks mengenai atonement, dosa dan Yesus Kristus adalah benar dan didukung oleh kesaksian Alkitab. Ketika Rakhmat melihat bahwa salib Kristus mengajarkan dan melegitimasi kekerasan; Alkitab justru menunjukkan bahwa salib adalah bukti kasih Allah kepada dunia. Ketika Rakhmat melihat dosa hanyalah mitos dan imajinasi fiktif semata; Alkitab justru memberitahukan bahwa dosa itu nyata dan dampaknya sangat serius karena merusakkan dunia milik Allah. Ketika Rakhmat melihat bahwa Yesus Kristus hanyalah seorang tokoh revolusioner Yahudi yang begitu berhasrat memperjuangkan kemerdekaan bangsa-Nya, dan merupakan pribadi yang begitu mencintai kehidupan sehingga pasti tidak mau mati konyol; Alkitab justru menyaksikan bahwa Yesus Kristus adalah manusia tetapi Ia juga Allah, yang dengan kesadaran penuh dan kerelaan penuh menapaki via dolorosa demi pendamaian manusia dengan Allah
Analisis terhadap Problematika Kesungguhan Tawaran Injil dalam Hubungannya dengan Doktrin Pilihan
Kemurahan terhadap Pekerja Rumah Tangga: Praktik Spiritualitas bagi Para Majikan Kristen
Di dunia modern saat ini yang mengutamakan dan menekankan kesamaan status di antara manusia, komunitas masyarakat Indonesia ditandai dengan kelas-kelas sosial yang ditentukan oleh etnis dan agama seseorang. Ada banyak keluarga Tionghoa-Indonesia yang mempekerjakan orang-orang dari kelompok “inferior” sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh anak, pengemudi, atau pekerjaan lain yang tidak terlalu menuntut keterampilan. Para pekerja rumah tangga ini tinggal di rumah majikan mereka, namun, ironisnya, mereka tidak “diterima dengan senang hati.” Contohnya, mereka tidak boleh makan semeja dengan majikan, dan bahkan ada sebagian dari mereka yang tidak diizinkan makan makanan yang sama dengan majikan. Kebanyakan dari mereka tinggal di sebuah kamar tidur yang secara menyolok lebih buruk dari ruangan lain di rumah tersebut. Kamar mandi mereka jauh dari standar higienis dan kelayakan. Saya percaya bahwa kita, sebagai para majikan Kristen, harus belajar mempraktikkan keramahtamahan terhadap para pekerja rumah tangga. Hal ini mungkin merupakan sebuah tantangan besar karena kita semua dibesarkan dengan cara demikian dan kita tidak pernah berpikir untuk bertindak ramah terhadap mereka. Namun saya percaya bahwa keramahtamahan kita niscaya akan menjadi saluran anugerah Allah bagi Indonesia. Karena itu, dalam artikel ini saya akan membuktikan bahwa keramahtamahan terhadap para pekerja rumah tangga adalah praktik spiritual yang sangat penting yang harus kita lakukan dan yang untuknya kita dipanggil
Doktrin Allah Tritunggal dari Jurgen Moltman dan Permasalahannya
Artikel ini mengkaji analogi sosial doktrin Allah Tritunggal versi Jurgen Moltmann sebagaimana yang ia jelaskan dalam bukunya The Trinity and the Kingdom. Meskipun Moltmann kuat dalam menggunakan pendekatannya terhadap doktrin tersebut beserta analoginya seperti yang dipresentasikan oleh bapa-bapa gereja Timur, doktrin Tritunggal versinya memiliki permasalahannya sendiri. Meskipun ia menyangkal semua tuduhan bahwa ia triteistik dalam doktrinnya, analisis yang cermat terhadap pandangannya menunjukkan bahwa ia telah meninggalkan doktrin Trinitarian kredo ekumenis yang standar, khususnya kredo Athanasius. Artikel ini mengusulkan bahwa doktrin Tritunggal Moltmann terlalu dekat pada triteisme
Studi Eksegetikal Mengenai Konsep dan Respons terhadap Penderitaan Orang Kristen dalam 1 Petrus dan Implikasinya bagi Gereja-gereja di Indonesia
Penderitaan merupakan konteks umum yang dialami pembaca mula-mula 1 Petrus dan menjadi salah satu tema pokok dalam surat tersebut. Petrus memberikan serangkaian pengajaran kepada pembacanya agar mereka memiliki konsep yang benar menganai penderitaan yang mereka alami serta bagaimana seharusnya mereka berespons sebagai orang-orang Kristen. Rangkaian pengajaran tersebut tersebar di berbagai tempat yaitu 1:6-7; 2:11-12, 13-17, 18-20; 3:1-7, 13-16; 4:1-2, 12-16; 5: 8-10.
Terdapat kemiripan konteks masyarakat dan konteks penderitaan antara pembaca mula-mula 1 Petrus dengan orang-orang Kristen di Indonesia. Kemiripan konteks tersebut antara lain dalam hal kemajemukan suku dan agama masyarakat, jumlah orang Kristen yang menempati status minoritas, masalah kemiskinan yang dialami masyarakat dan adanya kekerasan fisik serta verbal terhadap orang-orang Kristen. Kemiripan-kemiripan tersebut menjadikan konsep dan respons terhadap penderitaan yang diajarkan Petrus dapat diterapkan secara kontekstual kepada orang-orang Kristen di Indonesia.
Konsep penderitaan yang diajarkan Petrus dsimpulkan menjadi: pertama, penderitaan merupakan jalan pemuridan Kristen; kedua, penderitaan terjadi karena kehendak Allah; ketiga, penderitaan merupakan sarana pengudusan orang percaya; keempat, penderitaan merupakan peperangan rohani; serta kelima, penderitaan merupakan sarana memberitakan Kristus. Sedangkan respons terhadap penderitaan dapat dikelompokkan menjadi: pertama, menjauhi perbuatan-perbuatan dosa; kedua, hidup sesuai dengan nilai-nilai di masyarakat; ketiga, ketundukan dan ketaatan kepada figur-figur otoritas; keempat, mewujudkan damai melalui sikap pacifisme; dan kelima, mengkomunikasikan iman dengan cara yang bermakna bagi orang tidak percaya.
Dalam penerapannya di Indonesia secara kontekstual, penulis melihat konsep penderitaan dari 1 Petrus dapat dikelompokkan menjadi dua: sikap terhadap penderitaan dan terhadap pelaku kekerasan. Sedangkan respons terhadap penderitaan dapat dikategorikan menjadi tiga: pertama, dalam kaitanya dengan sikap dan cara hidup orang-orang Kristen di tengah masyarakat; kedua, dalam kaitannya dengan relasi orang-orang Kristen dengan pemerintah dan ketiga, dalam kaitannya dengan tugas panggilan orang-orang Kristen di Indonesia
Sebuah Kritik terhadap Pandangan James D. G. Dunn tentang "Melakukan Hukum Taurat" dalam Galatia 2:16
Frasa “melakukan hukum Taurat” (harfiah: “pekerjaan-pekerjaan hukum,” digunakan delapan kali dalam surat-surat Paulus (Rm. 3:20, 28; Gal. 2:16 [tiga kali]; 3:2, 5, 10). Interpretasi yang tepat terhadap frasa ini sangat penting untuk memahami Paulus dan pemikirannya. Kendati demikian, tidak ada kesepakatan di antara para sarjana Perjanjian Baru mengenai makna dari istilah tersebut. Secara tradisional, para sarjana memahami frasa tersebut sebagai “sebuah kewajiban untuk mematuhi semua tuntutan Hukum Musa guna memperoleh keselamatan.” Bagi para sarjana tersebut, Paulus menggunakan “melakukan hukum Taurat” untuk menyerang orang-orang Yahudi yang menggalakkan pendekatan legalistik pada keselamatan. Menurut pandangan tradisional ini, dengan menggunakan frasa ini Paulus mengajar para pembacanya di Roma dan Galatia bahwa melakukan hukum Taurat tidak akan membenarkan mereka seperti halnya beriman kepada Yesus Kristus. Di sisi lain, Perspektif Baru tentang Paulus (The New Perspective on Paul—selanjutnya disingkat NPP) berpendapat bahwa Yudaisme abad pertama bukanlah agama yang bersifat legalistik. Selanjutnya, para pendukung NPP berpendapat bahwa doktrin pembenaran oleh iman tidak ada hubungannya dengan keselamatan secara individual, tetapi lebih sebagai argumentasi Paulus terhadap orang-orang Kristen Yahudi yang sangat percaya bahwa orang percaya dari bangsa non-Yahudi harus di-Yudais-kan demi menjadi bagian dari umat Allah. Sebagai tambahan, para pengikut NPP tidak setuju bahwa “melakukan hukum Taurat” mengacu pada ketaatan pada hukum sebagai upaya demi memperoleh keselamatan. Sebaliknya, mereka percaya bahwa menurut Paulus, frasa itu merujuk pada pelaksanaan tuntutan-tuntutan hukum guna memelihara keanggotaan orang Yahudi dalam ikatan perjanjian dengan Allah. Dalam Roma dan Galatia, “melakukan hukum Taurat” secara khusus mengacu pada beberapa tuntutan yang berfungsi sebagai tanda-tanda yang membedakan orang Yahudi dan non-Yahudi, yaitu: sunat, Sabat dan hukum-hukum yang berhubungan dengan makanan. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengevaluasi pandangan NPP tentang “melakukan hukum Taurat.” Namun, karena keterbatasan ruang, agaknya tidak mungkin untuk membahas semua isu dan kajian pustaka yang berkaitan dengan pandangan NPP terhadap frasa ini. Karena itu, saya akan memfokuskannya hanya pada pandangan Dunn tentang “melakukan hukum Taurat,” khususnya di Galatia 2:16. Alasan saya memilih Dunn adalah karena ia bukan saja seorang sarjana NPP yang terkemuka, tetapi ia juga adalah sarjana yang diasosiasikan dengan frasa “New Perspective on Paul.” Selain itu, saya akan berkonsentrasi pada Galatia 2:16 karena Dunn sendiri menekankan bahwa Galatia 2:16, yang di dalamnya terdapat tiga kali frasa “melakukan hukum Taurat” adalah “the most obvious place to start any attempt to take a fresh look at Paul from our new perspective.” Di dalam artikel ini saya akan membuktikan bahwa pemahaman Dunn tentang “melakukan hukum Taurat” tidaklah meyakinkan, karena studi yang cermat terhadap konteks langsung, gaya sastra, dan latar belakang historis dari frasa tersebut dalam Galatia 2:16, menunjukkan bahwa frasa tersebut mengacu pada ketaatan terhadap semua tuntutan hukum guna memperoleh keselamatan
Tinjauan Teologis terhadap Konsep Aksesibilisme Monergistik Terrance L. Tiessen
Bagaimana keselamatan orang-orang yang belum pernah berkesempatan mendengar injil (the unevangelized)? Pertanyaan ini menjadi populer di halaman depan beberapa buku teologi setidaknya pada dua puluh tahun terakhir ini. Secara umum, ada empat kalangan yang disinggung lewat buku-buku ini. Pertama, kalangan agnostik yang cenderung memilih aman dan berkata bahwa Alkitab tidak berbicara jelas (silent) mengenai “nasib” orang yang belum pernah mendengar Injil. Kedua, kalangan eksklusivis atau partikularisme yang lebih tegas dan berani mengatakan bahwa mereka yang tidak pernah mendengar berita Injil dan beriman kepada nama Yesus Kristus tidak akan memperoleh keselamatan. Ketiga, bertolak belakang dengan eksklusivisme, kalangan pluralisme mengatakan bahwa orang yang belum pernah mendengar Injil sangat bisa selamat melalui agama dan kepercayaan mereka masing-masing, karena ada The Real yang sama. Keempat, masih ada satu kalangan lagi yang mencoba menjawab pergumulan teologis ini, khususnya dengan menjembatani perbedaan di antara pihak eksklusivis dan pluralis, yaitu inklusivisme. Kalangan ini setuju kepada pihak pluralis yang tidak membatasi keselamatan Allah hanya kepada orang-orang yang mendengarkan berita Injil dan percaya di dalam Yesus Kristus. Di sisi lain, kalangan ini juga setuju dengan para eksklusivis yang mendasari keselamatan Allah di dalam Pribadi Yesus Kristus dan berita Injil. Sebagai seorang eksklusivis, penulis tertarik untuk mengkritisi pandangan inklusivisme ini dibandingkan dengan pandangan yang lain. Alasannya adalah: pertama, pandangan ini berusaha menjembatani perbedaan di antara eksklusivisme dan pluralisme. Karena itu, mungkin saja ada pemikiran-pemikiran menarik yang perlu diperhitungkan; kedua, pandangan ini memiliki titik berangkat yang sama dengan eksklusivisme, yaitu firman Tuhan. Pandangan ini juga sepakat bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Juru Selamat manusia; tidak ada manusia yang bisa membebaskan dirinya sendiri dari dosa tanpa Yesus Kristus. Masalahnya adalah, dengan maksud mengakomodasi kedua belah pihak, tentu saja kita perlu bertanya, seberapa besar kesetiaan mereka memegang inti iman kekristenan ini?; terakhir, pandangan ini bersifat aktif dalam berargumentasi. Karena itu, dialog dapat lebih mudah dilakukan, baik kepada kalangan eksklusivis maupun pluralis. Penulis akan berkonsentrasi mengkritisi salah satu tokoh inklusivis yaitu Terrance L. Tiessen. Ketertarikan penulis kepada Tiessen adalah karena ia mengembangkan konsep inklusivisme yang agak berbeda dengan yang lainnya. Ia mencoba mengaitkan teologi Calvin dengan inklusivisme, sehingga lahirlah aksesibilisme monergistik